Kebebasan Berpendapat

Oleh: Ayatullah Taqi Mishbah Yazdi

Tanya: Apakah kebebasan berpendapat bersifat mutlak ataukah terbatas? Apakah diperbolehkan memutus ucapan seseorang? Apakah boleh kita mendengar setiap ungkapan yang ada, membeli atau membaca setiap buku dan tulisan yang tersebar?

Jawab: Dari sejak dulu ungkapan tersebut telah dilontarkan oleh individu-individu yang hidup ditengah-tengah demokrasi hak dan kebebasan, dimana tiada satu undang-undang pun yang berhak untuk menghalangi kebebasan tersebut. Pandangan semacam inilah yang kemudian direkam dalam konstitusi hak-hak asasi manusia (HAM). Kebebasan-kebebasan semacam inilah  yang dianggap sebagai sesuatu yang terletak diatas perundang-undangan, dimana melanggarnya berarti sama dengan melanggar HAM.

Dari sisi lain, salah satu kekhususan negara-negara demokratik adalah negara yang memberikan kebebasan berpendapat kepada setiap penduduknya. Setiap penduduk negara tersebut berhak untuk mengkritik pemerintah, partai yang berkuasa, eksekutif, legislatif atau siapapun. Apapun yang mereka setujui dan mereka anggap benar, mereka juga berhak untuk menampakkannya secara terang-terangan. Sebagian masyarakat dinegeri kita memiliki anggapan semacam itu pula, mereka menggap bahwa negara kita adalah negara yang berlandaskan kebebasan dan diatur sesuai dengan norma-norma demokratik. Oleh karena itu, semua kebebasan yang ada juga harus tetap terjaga untuk kita, maka masyarakat berhak untuk menyampaikan apa yang mereka inginkan dan mengkritik apa yang mereka tidak setujui dari kebijakan yang ada.

Adapun menurut persepsi Islam dan pemerintahan Islam, apakah pandangan semacam itu juga diterima, setiap yang diinginkan oleh setiap orang ia dengan bebas menyampaikannya dengan cara apapun? Apakah setiap ungkapan  pada tiap komunitas bisa dilontarkan? Apakah setiap karya tulis bisa dicetak bebas sehingga pihak lain bisa menelaahnya? Ataukah tidak, hanya sebagian ungkapan saja yang dilarang?

Semua orang tahu bahwa kebebasan mutlak tanpa batas merupakan sesuatu yang mustahil terwujud. Setiap kebebasan apapun seperti kebebasan bertindak, berpendapat, berekonomi dan berpolitik memiliki batasan-batasan tertentu. Kita meyakini bahwa batas kebebasan adalah maslahat umum yang riil –mencakup material dan spiritual- jika didapat suatu tindakan yang bertentangan dengan undang-undang Islam maka kebebasan tidak diberlakukan disitu. DiBarat, kebebasan setiap individu dibatasi oleh kebebasan yang dimiliki pihak lain. setiap orang berhak untuk melakukan tindakan apapun dengan syarat tidak berbenturan dengan kebebasan orang lain. Jelas sekali bahwa disini ada dua pondasi pemikiran yang berbeda yang mustahil digabungkan satu dengan yang lain.

Dalam pandangan Islam, setiap ungkapan, prilaku dan segala aktifitas manusia yang ada memiliki hukum-hukum tertentu. Tidak semua layak untuk diungkapkan atau didengar, sebagai contoh mengungkapkan kebohongan, mengumpat, menuduh atau menyebarkan rahasia pribadi seseorang sebagaimana dilarangnya mencetak, mendistribusikan, menjual dan membeli karya yang memuat tulisan penyebab kesesatan. Dalam pembahasan fiqih yang terdapat dalam kitab  al-makaasib al-muharramah dijelaskan bahwa jual-beli “buku sesat” merupakan hal yang terlarang (baca:haram). Yaitu, karya-karya tulis yang jika para pembaca menyimaknya akan menyebabkan terjerumus kedalam jurang kesesatan pemikiran maka dilarang untuk membelinya apalagi menukil tulisan tersebut untuk pihak lain.

Yang lebih memprihatinkan adalah didapatinya oknum-oknum yang hidup dinegara Islam yang melecehkan dan menghina hukum-hukum Ilahi dan sakralitas agama melalui tulisan-tulisan mereka yang dimuat dalam buku-buku, makalah, buletin ataupun surat kabar. Jelas bahwa semua itu merupakan perbuatan munkar yang harus dicegah, dimana setiap pribadi dari masyarakat muslim berkewajiban menghadapinya dengan melalui beberapa tahapan; pertama diadakan pengingatan secara lisan jika mereka terus melakukan hal tersebut maka, sampai pada kedua yaitu dengan melaporkannya kepihak yang berwajib dan kejaksaan sehingga pihak tersebutlah yang akan menindak tegas perbuatan mereka.

Salah satu dari tugas utama pemerintahan Islam adalah melaksanakan tugas semacam itu. Itu semua demi untuk menjaga maslahat material dan spiritual juga etika masyarakat terkhusus masyarakat muslim, dan mencegah mereka dari segala gerakan penyimpangan dari jalur Islam dan semua kemunkaran dari aspek-aspek kehidupan mencakup budaya, media cetak, sosial, politik, dan ekonomi. Al-Qur’an sebagai sumber utama hukum Islam dalam menjelaskan tentang tugas dan kewajiban setiap muslim dalam menghadapi segala ungkapan yang bertentangan dengan Islam serta ajarannya, disebutkan:

 “dan sesungguhnya Allah telah menurunkan kepada kamu didalam al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam“ (Qs an-Nisaa’:140)

 Al-Qur’an memberikan peringatan; wahai kaum muslimin, jika kalian siap untuk mendengar ucapan-ucapan orang-orang kafir dan para peleceh ayat-ayat Qur’an  dan hukum-hukum Ilahi niscaya, sedikit demi sedikit iman kalian akan terkikis sehingga kalian akan mengikuti jejak langkah mereka. Sebagaimana kalian ketahui kenapa manusia-manusia seperti Salman al-Farisi (ra) dan Abu dzar al-Ghifari (ra) yang memiliki iman yang kuat sangatlah sedikit, sedang manusia-manusia yang memiliki lemah iman ataupun yang telah sirna keimanannya sebegitu banyaknya.

Dari ayat diatas kita dapat ambil kesimpulan, adanya kewajiban untuk bangkit dan pelarangan untuk berpangkutangan atas segala ungkapan semacam itu sebagaimana tidak boleh berpangkutangan atas siapapun. Tidak semua ungkapan bisa dilontarkan sebagaimana tidak disemua tempat untuk bisa dikemukakan. Tidak setiap topik pembahasan –terkhusus bagi peringkat umum seperti koran, majalah dan media massa lain- dibolehkan untuk ditulis dan dibaca.

Mungkin akan dipertanyakan disini, bukankah al-Qur’an sendiri telah menukilkan, sehingga anda pun bisa mendengar tentang berbagai ungkapan yang bermacam-macam dan yang menyimpang sekalipun, dan anda disuruh untuk mengikuti jalan yang terbaik?[1] Apakah segala ungkapan berbeda-beda dari orang-orang tidak boleh didengar lantas diteliti dan kemudian dijawab atau dipilah-pilah antara poin positif dan negatifnya? Apakah dizaman awal kemunculan Islam dan zaman para imam suci (as) para penentang Islam tidak menyatakan ungkapan-ungkapan yang menyimpang?

Untuk menjawabnya harus dikatakan bahwa Islam dan al-Qur’an secara umum tidak mencegah setiap ungkapan yang menyimpang dan salah. Sebagian ungkapan dan dengan syarat-syarat tertentu Islam membolehkan untuk pengungkapannya. Adapun kita, dalam beberapa kesempatan kita diperbolehkan untuk mendengar dan membaca segala ungkapan yang sesuai atau yang tidak sesuai, juga problem-problem yang menggugat agama, hukum-hukum dan ajaran-ajaran prinsip agama, hal itu jika kita memiliki kemampuan untuk memilah mana ungkapan yang lebih baik yang kemudian bisa diikuti. Dengan kata lain, dengan pengetahuan yang memadai tentang berbagai sisi keagamaan, metodologi pembahasan, kualitas argumentasi dan mengenal segala jenis fallacy yang mungkin mereka pakai dalam berargumen maka, kemampuan untuk memilih yang terbaik dari sekian ungkapan dan pandangan akan kita miliki. Dari situ maka harus diberikan kesempatan untuk pengungkapan problem-problem yang bertentangan dengan agama kepada pribadi-pribadi yang memiliki kemampuan yang cukup dalam menganalisa dan menkritisi segala problema tersebut sehingga nantinya akan dijawab dan dikritisi oleh mereka.

Pribadi Rasulallah (saww) dan para imam suci (as) serta para ulama yang memiliki senjata pengetahuan agama yang mumpuni, dalam masalah ini tidak memiliki batasan. Bahkan mereka berkewajiban untuk mendengar atau membaca ungkapan para penentang ajaran agama beserta argumen mereka sehingga mereka dapat menelaah dan kemudian mengkritisinya. Namun, jika hal tersebut terjadi pada orang yang tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk semua itu, atau yang sampai sekarang belum memilikinya maka al-Qur’an seakan mengatakan bahwa “setiap yang ringan bobotnya maka ia tidak boleh memasuki arena gulat kelas berat taraf internasional”. Walaupun pada prinsipnya mengikuti gulat diperbolehkan namun, setiap orang yang berakal akan mengatakan bahwa setiap kejuaraan gulat antara dua pemain harus memiliki bobot dan kemampuan yang sama. Pergulatan yang terjadi antara kelas ringan dan berat harus dihindarkan, karena hal itu akan menyebabkan hancur dan babak belur pihak yang lemah saja.

Islam mengatakan, jika anda menghendaki membahas wacana pemikiran, agama dan ideologis maka anda harus perkuat terlebih dahulu iman anda. Anda harus perkuat landasan ideologi dan amal perbuatan anda terlebih dahulu. Setelah terpenuhinya segala persyaratan yang diperlukan maka masuklah kearena pertandingan sebagai ajang pengujian. Pada kesempatan itu, anda bukan hanya dituntut sekedar untuk bertanding gulat namun juga dituntut kemahiran dan ajakan untuk berdiskusi dan berpikir.

Bagi pihak yang tidak memiliki kematangan dalam kemampuan berwacana maka ia akan terbawa dengan ungkapan-ungkapan yang bermuatan sastra dan menyudutkan, dan yang akhirnya menganggapnya sebagai suatu hal yang benar. Terkadang ungkapan yang jelas-jelas paradoks bisa saja ia terima, dikarenakan tidak memiliki kemampuan yang cukup maka ia akan melihat persesuaian antara semua jenis pondasi dan bangunan pemikiran. Adapun jika semua ungkapan yang ada ditangani oleh orang yang memiliki kematangan dalam berwacana dan sisi keilmuan maka ia akan menganalisa satu persatu dan mengkritisinya kemudian memilah-milah mana yang sesuai dan mana yang tidak. Secara umum, semua teori dan pandangan yang terkait dengan disiplin ilmu tertentu jika diutarakan dihadapan para pakar dan pemikir disiplin ilmu tersebut maka akan mampu untuk dikritisi dan dianalisa oleh mereka, dari situlah akan nampak nilai riil dari ungkapan tersebut. Bisa kita contohkan berkaitan dengan teori tentang Fisika atau Kimia yang diutarakan didepan para pakar Fisika atau Kimia, atau teori filsafat dan logika yang diutarakan dihadapan para filsuf dan ahli logika, atau pandangan berkaitan dengan problema agama dan teologi yang diutarakan dihadapan para ulama. Jika hal itu terlaksana maka essensi dan nilai riil wacana tersebut akan nampak dan posisi dalam cakupan wacana tersebut akan terbuka pula.


[1] Lihat Qs az-Zumar:18

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s