Asas-asas Kebebasan Berpendapat dan Pers

Oleh: Ayatullah Taqi Mishbah Yazdi

Tanya: Bagaimana menurut pandangan Islam tentang dasar-dasar kebebasan berpendapat dan media cetak?

Jawab: Pembahasan tentang kebebasan karya tulis dan media cetak merupakan salah satu pembahasan penting yang berkaitan dengan hak-hak asasi manusia bagi individu yang hidup dizaman sekarang ini. Dimana pada era perkembangan teknologi telekomunikasi memiliki peran yang sangat penting sehingga harus lebih diperhatikan. Sebagaimana yang telah disinggung pada pembahasan yang lalu, kebebasan merupakan satu hal yang sakral dan didambakan oleh setiap individu. Tentu, tidak seorangpun yang memiliki akal sehat yang menerima adanya kebebasan mutlak karena hal itu berkosekwensi munculnya berbagai kekacauan. Jelas, bahwa kata kebebasan memiliki berbagai bentuk syarat dan batasan, oleh karenanya yang harus kita bahas adalah berdasarkan tumpuan apakah kebebasan harus berdiri? Jawaban singkat dari pertanyaan tersebut adalah bahwa perundang-undangan harus kita perjelas terlebih dahulu. Setelah itu mungkin akan dimunculkan pertanyaan lain yaitu; atas dasar apakah penentu undang-undang dalam membatasi kebebasan tersebut?

Di sini secara singkat bisa dikatakan, undang-undang harus berdiri diatas batasan maslahat umum masyarakat. Ungkapan semacam itu merupakan jawaban yang sangat simple, sehingga akan muncul pertanyaan lain yaitu; manakah dari maslahat umum masyarakat yang harus dijadikan pembatas atas kebebasan?

Sewaktu kita perhatikan secara teliti atas segala perbedaan yang terdapat dalam masalah tersebut maka, akan kita dapati bahwa penantian yang berbeda-beda oleh masyarakat akan kebebasan, itu menunjukkan bahwa segala batasan dan berbagai maslahat riil bagi setiap pribadi dan masyarakat. Perbedaan tersebut kembali pada dua hal prinsip:

1-   Perbedaan pondasi bangunan; dimana perbedaan tersebut bermula dari perbedaan budaya dan pandangan dunia. Sebagian individu menyangka bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk mendapat banyak hal yang berhubungan dengan kenikmatan duniawi belaka. Mereka yang beranggapan bahwa setelah kehidupan duniawi tidak ada pertanggungjawaban akherat, maka mereka tidak akan mengatakan tentang batasan kebebasan kecuali dengan batasan tidak mengganggu pencapaian kenikmatan individu atau masyarakat lain. Dengan kata lain batasan kebebasan adalah mencegah kebebasan individu dan masyarakat lain.

Adapun bagi orang-orang yang meyakini tentang adanya kiamat dan kenikmatan maknawi (spiritual) disamping kenikmatan duniawi, ada satu keyakinan transtendental yang mereka yakini yaitu segala perbuatan manusia memberi kesan akan kebahagiaan atau kesengsaraan abadi. Dari situ merekapun akhirnya menerima bahwa hanya kebebasan legal (syar’i) yang mampu menghantarkan pada kesenangan abadi yang bisa dan harus diraih.

 Selama segala perbedaan prinsip (pondasi) yang bermula dari masalah ketuhanan, kiamat dan kesenangan riil manusia ataupun eksistensialis beberapa alam tidak terselesaikan maka tidak akan mungkin ada hasil atau didapat kata sepakat. Sedang cara yang kita tempuh dengan apa yang ditempuh lawan bicara kita akan terus berbeda,  sehingga terdapat dualisme pemikiran.

2-   Perbedaan kerangka bangunan; suatu perbedaan yang terletak setelah terdapat kesapakatan atas keberadaan Tuhan, kiamat, agama dan seterusnya. Perbedaan itu terletak pada apakah yang menjamin maslahat masyarakat? Dan apakah yang menjadi penyebab kemunculan segala mafsadah dikalangan masyarakat?

Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa kita telah meyakini atas segala keyakinan Islam yang telah jelas. Adapun pada zaman modernis dan post-modernis, jika kebebasan karya tulis tidak didapat maka manusia tidak akan mampu berkembang. Segala masalah politik, sosial ataupun keyakinan tanpa adanya kebebasan maka tidak akan dapat diteliti dengan baik. Segala titik kelemahan ataupun kekuatan suatu pandangan tidak akan bisa nampak dengan jelas. Oleh karena itu, kebebasan berpendapat dan media cetak harus diperluas dan dikurangi berbagai batasan yang mengikat sehingga manusia mampu sampai pada titik kemajuan yang lebih baik.

 Disisi lain, ada sebagian orang yang meyakini bahwa anggota masyarakat terbagi pada dua golongan; sebagian dari anggota masyarakat yang tidak mudah untuk terpengaruh dengan segala permasalahan dan ajaran yang menyimpang dari agama dimana mereka itulah yang telah mampu menjaga maslahat sejati manusia. Bagi kalangan semacam ini, mendengar atau membaca segala ungkapan yang menyimpang merupakan hal yang tidak ada masalah. Bahkan bagi sebagian orang (khusus) melakukan hal tersebut merupakan keharusan.

 Kelompok lain yang masuk kategori mayoritas masyarakat, adalah orang-orang yang jika mendengar berbagai masalah menyimpang yang keluar dari lisan orang-orang khusus yang mana terkadang mengakibatkan kekafiran, mereka dengan mudah akan terpengaruh dengan ungkapan tersebut. Terkhusus jika permasalahan tersebut dengan sangat mudah dicerna oleh mereka, sedang jawaban dari permasalahan yang terlontar lewat ceramah, artikel, buku atau media lainnya tidak mudah untuk didapat. Oleh karenanya, maslahat masyarakat mengharuskan untuk membatasi kebebasan berpendapat dan berbagai bentuk karya tulis sehingga dapat mencegah segala bentuk penyimpangan pola pikir dan etika. Perbedaan yang ada tersebut terletak pada bangunan, ekstensi dan penentuan masalah persyaratan suatu masyarakat dan individu.

Segala perbedaan yang terletak pada pondasi bangunan berpikir tidak akan bisa dituntaskan tanpa terlebih dahulu menyelesaikan segala yang berkaitan dengan masalah-masalah prinsip pandangan dunia dan agama. Adapun perbedaan yang terletak pada kerangka bangunan dengan bertumpu pada pembahasan, pemahaman dan ekstra teliti dalam menerapkan pondasi bangunan berpikir sebagai pijakan pasti akan terwujud dan terselesaikan dengan baik.

 Adapun yang pandangan yang benar berdasarkan pengalaman yang telah teruji adalah bahwa menyebutkan segala pandangan menyimpang, meragukan ataupun yang menyebabkan kekufuran dengan berbagai bentuk dan pada komunitas manapun merupakan sesuatu yang tidak memiliki maslahat sama sekali. Kita dapat melihat dari dulu sampai kini adanya beberapa individu yang terseret kepada kemunkaran dan penyimpangan akibat hal semacam itu. Sebagian permasalahan dan soalan yang dikemas sedemikian rupa secara rasional yang terkadang dibubuhi didalamnya sastra, syair dan kisah-kisah menarik sehingga lebih dapat berkesan dihati banyak orang.  Al-Qur’an dalam salah satu ayatnya telah menyinggung hal semacam ini dan mengistilahkan individu-individu semacam itu sebagai setan berwujud manusia (syaithon al-ins):

“Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia…”

 (Qs al-An’aam:112)

oleh karena itu berdasarkan atas pengalaman para umat terdahulu dengan memperhatikan atas potensi kejiwaan manusia juga psikologi sosial yang ada dimana jika itu semua didasarkan atas ajaran-ajaran Islam maka bisa dikatakan bahwa setiap ucapan dan tulisan –lebih umum dari ceramah, artikel, koran, buku, film..dst- yang membahayakan umat manusia sehingga mereka bisa terjerumus kepada kesesatan, itu semua dalam pandangan Islam tidak memiliki kebebasan.

Ada poin lain yang harus diisyaratkan dalam kesempatan ini yaitu dibalik hak yang dimiliki oleh para pemilik media massa dan para penulis, mereka memiliki taklif berhubungan dengan maslahat material dan spiritual masyarakat, yaitu segala topik yang diperlukan dan yang berhubungan dengan keyakinan, dimana segala jenis maslahat sosial bersandar atasnya maka harus diungkapkan dan dijelaskan dengan baik sehingga dapat meminimilir penyimpangan yang mungkin akan dihadapi atau bahkan bisa dihilangkan sama sekali. Usaha meningkatan kualitas pengetahuan masyarakat dan pengasuransian diri masyarakat atas setiap persoalan-persoalan agama yang disertai dengan kritik, gugatan serta jawaban yang diperlukan itu semua merupakan tugas dari para penulis pada setiap zaman.

Kesimpulan yang dapat kita ambil dalam kaitannya dengan pembahasan kebebasan berpendapat dan menulis adalah; segala yang dapat menjamin maslahat utama masyarakat baik berupa ungkapan ataupun tulisan maka sudah menjadi keharusan. Sedang yang membahayakan dan merusak maslahat umum masyarakat maka dilarang. Selain dari dua kemungkinan diatas maka hukumnya mubah (boleh) dan terdapat kebebasan dalam melaksanakannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s