Rangkaian Konspirasi di Balik Perkembangan Politik

Oleh: Ayatullah Taqi Mishbah Yazdi  

Soal: Adakah maksud terselubung dan konspirasi sebagian pihak dibalik isu perkembangan politik ataupun isu-isu semacamnya di masa sekarang?

Jawab: Untuk memperjelas hakikat upaya-upaya  di atas, begitupula siasat-siasat untuk mencapai tujuan-tujuan dibalik semua itu, mula-mula  saya akan menngingatkan sedikit latar belakang dari transformasi dan perjalanan Barat setelah revolusi industri.

Semangat penjajahan Barat pada dasarnya bisa diusut dari jaman revolusi industri di sana, kendati sebelum itu,  di Eropa ataupun di antara bangsa-bangsa di dunia terdapat kecondongan upaya penaklukan dan penguasaan atas  bangsa lain. Yaitu, jaman di mana mereka telah mampu menciptakan perangkat, sarana dan alat-alat modern di bawah hubungan segitiga; ilmu, industri dan teknologi.

Pada jaman itu, mereka mampu memproduksi aneka ragam barang perlengkapan dan peralatan yang begitu murah dari segi pembiayaan produksi. Dan dengan menjual barang-barang itu dengan harga mahal, mereka mampu meraup keuntungan dan kekayaan yang melimpah. Dengan meningkatnya laba dan pada gilirannya modal, sektor investasi untuk kegiatan produksi pun semakin marak. Dan ini menjadi sebuah factor untuk mendapatkan laba dan modal lebih banyak lagi. Dengan begitu, lewat perputaran  modal dan produksi, gudang kekayaan mereka semakin sesak dari hari ke hari.

tetapi dari sisi lain, dengan meningkatnya produksi (penawaran barang) muncul masalah besar; kekurangan bahan-bahan mentah untuk produksi, dan kurangnya tingkat permintaan dibandingkan dengan penawaran produk.

Dua faktor ini membuat negara-negara Barat berfikir untuk melakukan ekspansi dan penjajahan atas negara lain, sehingga dengan demikian mereka bisa mendapatkan bahan-bahan mentah dan membuka pasar-pasar baru.

Watak  penjarahan dn penjajahan ini berlangsung sejak abad  ke delapan belas sampai abad ke sembilan belas. Pada masa itu, orang-orang Barat mulai dibenturkan lagi dengan  persoalan lain, yaitu kurangnya sumber-sumber alam dan lemahnya daya beli negara-negara jajahan mereka. Dari sisi lain, tehnologi dan alat canggih yang diimport memerlukan ahli-ahli untuk tehnik pengggunaan tehnologi dan alat tersebut.

Untuk  itu, mereka memutuskan untuk meningkatkan daya beli juga taraf pengetahuan dan keahlian  negara-negera jajahan. Dalam rangka itu, mereka melakukan dua langkah: pertama; mereka memberikan utang, fasilitas, dan  kemudahan ekonomi kepada negara jajahan itu dan mendirikan IMF, kedua: merekrut putra-putra bangsa negara jajahan dan membeasiswakan mereka ke pusat-pusat pendidikan Barat seperti Inggris, Jerman, dan Prancis.

Langkah kedua ini dilakukan dengan motif membina teknisin-teknisin yang mampu menggunakan jenis-jenis peralatan dan perlengkapan importir. Sebagaimana langkah pertama dimaksudkan untuk meningkatkan daya beli masyarakat di negara-negara jajahan, sehingga produk-produk mereka bisa diimport dan dipasarkan lebih banyak lagi di negara-negara itu. Dengan begitu, pasar-pasar Barat pun bisa tetap bertahan marak sebagaimana sebelumnya.

Tetapi, siasat ini tidak selalunya menguntungkan penjajahan. Karena, sebagian dari pelajar-pelajar jebolan Barat yang kembali ke negaranya malah memikirkan kemerdekaan dan perjuangkan. Mereka menuntut penjajahan asing secepatnya hengkang, dan inilah sebagai babak baru perlawanan yang mulai menggelinding sejak akhir abad sembilan belas dan memuncak pada abad ke dua puluh.

Berbagai macam perjuangan semangat kemerdekan itu telah dilakukan dan, pada akhirnya, Barat  sampai pada kesadaran bahwa sebaiknya bersikap agak realistis. Lalu, mereka menyodorkan ide hubungan ketimbang penjajahan. Dengan cara itu, mereka mampu mencuri kesempatan dan peluang dari Negara-negara jajahan itu di masa-masa kemudian.

Di antara intrik-intrik muslihat  itu ialah rencana pembentukan Negara-negara persemakmuran (Common Wealth) yang ditawarkan oleh Inggris, sehingga negara-negara jajahan inggris itu yang sekarang mendapatkan kemerdekaannya menjadi ‘kawan’ Inggris di bawah nama tersebut. Dengan demikian, penjajahan tetap berlangsung meski dengan modus lain.

Walhasil, semangat perjuangan kemerdekaan semakin memanas dan bergejolak dari hari ke hari. Tentunya,  keadaan ini menuntut Imperialisme merumuskan strategi yang lebih cerdas lagi guna mempertahankan hegemoninya. Di sinilah tampak jelas bagaimana penjajahan terbuka mengganti jubahnya dengan penjajahan terselubung.

Salah satu dari rangkaian strategi mutakhir mereka ialah menciptakan unsur-unsur dan partai-partai politik di dalam negara-negara jajahan yang telah merdeka, atau sedemikian rupa mereka turut andil dalam proses pembentukkan sebagian ormas dan partai, sehingga bahkan orang-orang partai itu sendiri tidak merasa adanya campur tangan-tangan asing  dan upaya mengendalikan mereka.

Dengan mengangkat slogan-slogan anti Imperialisme dan kepenjajahan, mereka berusaha mengumpulkan masa di sekitar mereka. Dengan slogan itu pula,  partai pun menjadi eksis kokoh. Berikutnya,  orang-orang partai itu sendiri yang memulai mengulurkan tangan kepada tuan-tuan asing mereka. Dengan demikian, kepentingan-kepentingan pihak-pihak asing dipenuhi oleh putra-putra bangsa itu sendiri.

Dengan berlalunya masa dan bertambahnya pengalaman, orang-orang Barat sampai pada kesimpulan bahwa kelanggengan dan pengakaran kepenjajahan serta penyalahgunaan hubungan-hubungan dengan negar-negara lain bergantung pada dinamika budaya dan ideologi negara-negara tersebut; dimana tidak hanya pola pikir dan cara pandang individu itu berubah, yang diikuti dengan merebaknya gaya hidup individualis, konsumeris, dan kapitalis sebagaimana yang berlaku di Eropa dan Amerika, juga bahkan sistem pemerintahan yang berkuasa di negara-negara tersebut diusahakan untuk  bergantung penuh pada penggunaan dan pengandalan peralatan-peralatan dan tehnologi-tehnologi dunia Barat, belum lagi mentalitas rakyatnya dibuat lminder dan kerdil di hadapan perkembangan dan kemajuan mereka.

Jika dua tujuan di atas ini bisa dicapai, kekuasaan mereka niscaya terjamin kelanggengannya. Namun, salah satu dari faktor penghambat pencapaian tujuan itu di dunia Timur adalah budaya Timur yang berlandaskan kecenderungan zuhud dan semangat kebersamaan. Untuk ini, mereka menyiapkan senjata penyerangan budaya yang sedemikian rumit.

Dalam hal ini, diangkatlah isu ‘korelasi budaya dan tehnologi’. Yakni, isu yang berusaha menciptakan opini bahwa setiap tehnologi itu menyimpan budaya yang khas. Dan, dimana saja tehnologi itu masuk ke suatu negara, secara otomatis budayanyapun turut masuk ke dalamnya. Maka itu, kita hanya mempunyai dua pilihan; menerima tehnologi dengan segenap budaya yang dikandungnya, atau sama sekali menolak secara mutlak tehnologi berikut budayanya. Dan, karena tehnologi itu diperoleh  dari dunia Barat, maka mau tidak mau budaya pun harus datang dari sana pula.

Kenyataannya isu ini telah menunjukkan kegagalannya di Jepang. Mengapa? Karena orang-orang Jepang kendati secara terbuka masih menerima serangan-serangan budaya Barat, mereka  tetap menjaga dan mempertahankan adat istiadat, nilai-nilai ketimuran, serta budaya bangsanya. Dengan begitu, mereka telah mampu mencapai kemajuan yang luar biasa pesatnya, bahkan mampu melampaui pencapaian orang-orang Barat sendiri.

Sebelum kemenangan Revolusi Islam Di Iran pun, isu ‘Pertentangan Islam dan perkembangan’ sudah digulirkan dalam peta siasat  politik Barat tersebut. Para perancang konspirasi ini mengklaim bahwa Islam adalah agama qona’ah dan penghematan, sementara perkembangan adalah cermin  kemajuan dan pemanfaatan kekayaan sebanyak mungkin. Oleh karena ini, Islam tidak bisa kompromi dengan perkembangan. Islam tidak akan mampu menampung ide perkembangan dan kemajuan. Dan, karena kita mau tidak mau harus berkembang dan maju, maka Islam atau setidaknya bagian-bagian tertentu dari Islam yang bertentangan dengan ide dan proses perkembangan harus kita bekukan.

Pada hari-hari ini pun, suara-suara parau senada ini kerap kita dengar dalam forum ceramah ataupun dalam media cetak. Suara-suara yang menekankan pola pikir dan pemikiran demikian ini yakni upaya menampilkan Islam sebagai penentang ide dan proses perkembangan. Upaya-upaya yang mengangkat isu-isu seperti; pertentangan antara tradisi dan modernitas, keniscayaan kritik atas tradisi, dan semacamnya, semua itu digelindingkan dalam rangka pengusungan pemikiran itu.

Kendati kajian terperinci atas hubungan Islam dan perkembangan membutuhkan ruang yang khusus, tetapi perlu ditegaskan di sini bahwa Islam tidak hanya menyambut perkembangan dan kemajuan, tetapi juga menuntut hari-hari umatnya lebih baik dari hari sebelumnya. Hanya permasalahannya, perkembangan dan kemajuan yang diinginkan oleh Islam itu yaitu kemajuan dan perkembangan yang berjalan di dalam batas-batas nilai dan hukum cemerlang Islam, sehingga dapat menjamin kesejahteraan dunia dan akherat manusia.

Maka, sama sekali tidak ada konsekuensi logis antara perkembangan dan kemajuan dengan menerima budaya Barat. Sebagai contoh, di masa barbarisme Barat yang buas, umat Islam ketika itu tampil sebagai pelopor ilmu pengetahuan dan pembangunan di dunia. Bahkan, sebagaimana yang diakui oleh orang Barat sendiri, jika Islam tidak meninggilkan warisan peradabannya di sana, sebagiamana yang dijumpai di Spanyol, mereka sekarang ini hidup  setengah buas dan liar. Mereka sama sekali tidak akan mencapai kejayaan dan kemajuan  teknologi seperti sekarang ini.

Kini, terdapat kalangan-kalangan yang mendukung pemikiran yang berusaha menampilkan sikap anti Islam terhadap perkembangan. Meraka  berusaha dengan cara yang sangat terselubung menebarkan pemikiran ini di tengah masyarakat Islam, bahwa perkembangan dan kemajuan ekonomi selalunya disertai dengan perkembangan politik dan budaya.

Di sini, kami menemukan persepsi yang khas dari isu perkembangan politik dan budaya di atas, yang berdasarkan persepsi ini, fungsi isu ini sejalan dengan haluan dan tujuan sistem sosial Islam. Tetapi, apa yang dimaksudkan oleh sebagian dari penulis dan penceramah dari istilah-istilah tersebut ialah memaksakan dan menunggangkan budaya Barat atas budaya Islam. Pembombardiran media-media massa atas opini dan mentalitas publik muslim, serta buku-buku dan teori-teori ilmiah di pusat-pusat pendidikan tinggi dari satu sisi, dan  kanalisasi pemikiran siswa-siswa jebolan luar negeri yang telah menamatkan pendidikannya di berbagai bidang seperti; Ekonomi, Sosiologi, Hukum dan ilmu-ilmu politik, untuk kemudian kembali ke negaranya dengan mentabligkan pemikiran-pemikiran Barat dengan bahasa ibunya dari sisi lain, semua itu adalah bagian dari penyerangan budaya Barat dan upaya menggiring negara mereka kembali pangkuan penjajahan.

Begitu juga, dengan berbagai metode dan cara telah disosialisasikan dua pilihan; yakni tertinggal dari perkembangan dan kemajuan peradaban atau mengesampingkan sentimen dan fanatisme agama, dan bersikap lunak dan toleran, acuh tak acuh dalam permasalahan ekonomi, politik yang kadangkala agama menjadi pengganjal dalam permasalahan-permasalahan itu, sebagaimana yang selalu di tekankan dan diyakinkan oleh mereka.

Dalam pada itu, Negara-negara bekas jajahan itu mendapatkan pinjaman uang sedemikian besar dari IMF dan Bank Dunia. Dan, dengan menyediakan peluang untuk penanaman modal luar negeri dan membuka sektor-sektor bebas, mereka mendapatkan modal yang cukup untuk kegiatan produksi. Karena lembaga-lembaga keuangan dan ekonomi dunia itu tidak siap untuk meminjamkan ataupun menanamkan modal di suatu Negara begitu saja, tanpa ada syarat-syarat tertentu, mereka harus mengendorkan semangat revolusioner dan mendodorkan komitmen pada sebagian prinsip-prinsip dan nilai, untuk kemudian bisa mendapatkan fasilitas dan kemudahan-kemudahan ekonomi dari pihak-pihak asing.

Dalam persoalan-persoalan budaya pun, disosialisasikan sikap toleran dan lapang dada. Karena, dengan cara inilah kita bisa berintegritas dan masuk dalam pergaulan masyarakat internasional, dan mendapatkan kedudukan di tengah mereka. Jika tidak demikian, maka sesungguhnya sikap bersikeras, mempertahankan prinsip dan nilai mutlak kita di dunia ini, malah  akan mengasingkan dan mengucilkan diri  kita sendiri di dunia ini.

Oleh karena itu, dogmatisme harus dikesampingkan dengan mengedepankan sikap moderat, lunak dan liberal, serta berusaha menghindar dari cara berfikir absolutistik, sehingga jika ada segolongan orang yang melecehkan hal-hal yang kita percayai sebagai kebenaran, tidak seharusnya kita menunjukkan reaksi sebegitu gusar dan keras. Padahal dalam Islam, yakin menempati posisi yang tinggi. Dalam ayat dan riwayat, para peyakin diangkat sampai pada kedudukan yang paling luhur. Sebaliknya, ragu dan skeptisme yang merupakan salah satu dari nilai-nilai dunia Barat sekarang adalah hal yang tercela dan terlarang dalam padangan islam. Konsekuensinya, komitmen pada prinsip-prinsip dan asas-asas Islam merupakan salah satu nilai tertinggi manusia muslim. Maka itu, isu-isu seperti perkembangan politik  telah menjadi salah satu senjata penyerangan budaya musuh-musuh untuk pemecahbelahan, dan sebuah celah untuk membabat habis nilai-nilai Islam dan revolusi serta mengikis rata sentimen dan kepekaan religius dan revolusioner rakyat, sehingga seiring dengan hancurnya akherat mereka, dunia merekapun kembali di bawah kepenjajahan Imperialisme Barat.

Di sini, tepat sekali untuk diusahakan  secermat mungkin mengetangahkan isu dan istilah ini demi mencapaian tujuan-tujuan sistem pemerintahan Islam oleh pihak-pihak yang tulus, dan oleh mereka pula dijelaskan dengan motif pencapaian tujuan-tujuan tersebut, tanpa meneledorkan langkah-langkah preventif atas penyalahgunaan isu dan istilah semacam ini lewat kajian-kajian  khusus dan mendalam.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s