Syi’ah dan Hadis Nabi [5]

Oleh: Syaikh Muhammad Mar’i al-Amin al-Antaki

Hadis Kota IImu

Hadis ini merupakan sabda Nabi Saw, “Aku adalah kota ilmu. Sedangkan ‘Ali pintunya.”

Sesungguhnya hadis yang mulia ini (hadis kota ilmu) termasuk hadis sahih yang disepakati oleh seluruh ulama Islam, yaitu: para hafizh (penghafal Qur’an), sejarawan, dan imam hadis. Hadis ini telah dinukil secara mutawatir dari para sahabat Nabi Saw dan tabiin dari kalangan ulama Islam dari berbagai aliran.

Adapun dari kalangan sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut sangatlah banyak, di antara mereka adalah:

Al-Imam Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib As;

Al-Imam al-Hasan bin ‘Ali As;

‘Abdullah bin’ Abbas, Jabir bin’ Abdillah al-Anshari;

‘Abdulliih bin Mas’ud, Hudzaifah bin al-Yaman, ‘Abdullah bin ‘Umar, Anas bin Malik, dan’ Amru bin Ash.

Sedangkan dari kalangan tabiin yang meriwayatkan hadis tersebut di antara mereka adalah:

Al-Imam Zainal ‘Abidin ‘Ali bin al-Husain As dan anaknya (al-Imam Muhammad al-Baqir As), Asbagh bin Nubatah, Jarir, al-­Harits bin’ Abdillah al-Hamdani al-Kufi, Sa’ad bin Tharif al-Hanzhali al-Kufi, Sa’ad Ibnu Zubair al-Asadi al-Kufi, Salamah bin Kuhail al-­Hadhrami al-Kufi, Sulaiman bin Mihran al-Asadi al-A’masy al-Kufi, ‘Ashim bin Hamzah as-Saluli al-Kufi, ‘Abdullah bin ‘Utsman Ibnu Khainam al-Qari’ al-Makki, ‘Abdurrahman bin ‘Utsman, ‘Abdullah bin Husailah al-Muradi Abu ‘Abdillah ash-Shunabihi, dan Mujahid bin Jubair Abul Hajja al-Makhzumi al-Makki.

Adapun dari kalangan ulama yang mensahihkan hadis tersebut atau menghasankannya sangatlah banyak, di antara mereka adalah:

Ath-Thabari dalam Tahdzibul Atsâr, al-Hakim dalam al-­Mustadrak, as-Suyuthi dalam Jam’ul Jawami, al-Bairuni dalam Asnal Mathâlib, al-Muttaqi dalam Kanzul  ‘Ummâl, Fadhlullah bin Rauzabahan asy-Syirazi dalam kitabnya Ibthâul  Bâthil, al-Fairuzi Abadi  dalam Naqdush Shahîh, Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam sebagian fatwanya, sebagaimana disebutkan oleh as-Suyuthi dalam al-La’âli al-Mashnû’ah dan Jam ‘ul Jawâmi’, as-Sakhawi dalam al-­Maqâshid al-Hasanah, Muhammad bin Yusuf asy-Syami dalam Subulul Hudâ war Rasyâd fi Asmâ’il Khairil ‘Ibâd, Ibnu Hajar dalam ash-Shawâ’iqul Muhriqah dan al-Munahil Makkiyyah fi Syarhil Qashidah al-Kamziyyah, al-Manawi dalam Faidhul Qadir Syarhul Jâmi ‘ush Shaghîr, ‘Abdul Haqq ad-Dahlawi dalam al-Luma ‘ât, dan ash-Shabban al-Mishri dalam Is’âfur Râghibin.

Sumber-sumber ini yang dapat kami sebutkan, sedangkan yang tidak kami sebutkan masih lebih banyak lagi, dimana semuanya merupakan para ulama terkemuka.

Hadis safinah ini diriwayatkan oleh para ulama terkemuka di dalam kitab-kitab sahih dan musnad mereka, di antaranya:

Al-Hakim menyebutkan dalam al-Mustadrak, ia berkata, “Abul ‘Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Muhammad bin ‘Abdur Rahim al-Harawi menceritakan kepada kami di Ramlah, Abush Shalt Abdus Salam bin Shalih menceritakan kepada kami, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari al-A’masy, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas Ra yang berkata, “Rasulullah Saw, bersabda, “Aku adalah kota ilmu, sedangkan ‘Ali adalah pintunya, Barangsiapa yang ingin masuk ke sebuah kota, hendaklah dia mendatangi pintunya.”[1]

Hadis ini sahih sanadnya, tetapi al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.

Al-Khathib al-Baghdadi menyebutkan dalam Târikh Baghdâdi, ia berkata, “Yahya bin ‘Ali ad-Daskuri menceritakan kepada kami, Abu Bakar Muhammad bin al-Muqri menceritakan kepada kami di Isfahan, Abu ath-Thayyib Muhammad bin’ Abdush Shamad ad-Daqqaq aI-Baghdadi menceritakan kepada kami, Ahmad bin ‘Abdillah Abu Ja’far al-Maktab menceritakan kepada kami, ‘Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Sutyan Ats- Tsauri menceritakan kepada kami dari ‘Abdullah bin ‘Utsman bin Khaitsam, dari ‘Abdurrahman bin ‘Utsman yang berkata, “Aku mendengar Jabir bin’ Abdillah Ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw, sambil memegang tangan ‘Ali bin Abi Thalib As, bersabda, “Ini adalah pemimpin orang-orang yang saleh, yang memerangi orang­-orang yang durhaka. Allah akan menolong orang yang menolongnya dan menelantarkan orang yang menelantarkannya. Aku adalah kota ilmu sedangkan ‘Ali adalah pintunya, barangsiapa hendak memasuki suatu kota, hendaklah ia mendatangi (melewati) pintunya.”[2]

Al-Qunduzi menyebutkan dalam Yanâbi’ul Mawaddah, ia berkata, “Ibnu ‘Adi dan al-Hakim meriwayatkan dari Jabir yang berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Aku adalah kota ilmu, sedangkan ‘Ali pintunya. Barangsiapa yang menghendaki ilmu, hendaklah dia mendatangi pintunya.”[3]

Ibnu Hajar menyebutkan dalam Shawâ’iq-nya, ia berkata, “Diriwayatkan dari al-‘Uqaili dan Ibnu ‘Adi dari Ibnu ‘Umar yang berkata, “Rasulullah Saw bersabda, Aku adalah kota ilmu, sedangkan ‘Ali adalah pintunya.” Dan dalam riwayat yang lain disebutkan, “Barangsiapa yang menghendaki ilmu, hendaklah ia mendatangi pintunya.”[4]

Ibn Katsir menyebutkan dalam al-Bidâyah wan Nihâyah, ia berkata, “Suwaid bin Sa’id meriwayatkan dari Syarik, dari Salamah, dari ash-Shunabihi, dari ‘Ali secara marfu’, “Aku adalah kota ilmu, sedangkan ‘Ali adalah pintunya. Barangsiapa yang menghendaki ilmu, hendaklah ia mendatangi pintu kota. “[5]

AI-Muttaqi menyebutkan di dalam Kanzul ‘Ummâl yang dicetak pada catatan kaki al-Musnad, ia berkata, “Diriwayatkan hadis dari ‘Ali sama seperti yang tercantum dalam al-Bidâyah wan Nihâyah.[6]

Ibnu ‘Abdil Barr menyebutkan dalam al-Isti’âb, ia berkata, “Diriwayatlkan dari Nabi Saw sesungguhnya ia bersabda, “Aku adalah kota ilmu, sedangkan ‘Ali adalah pintunya. Barangsiapa yang menghendaki ilmu, hendaklah ia mendatangi pintunya.”[7]

Al-Muhibb ath-Thabari menyebutkannya dalam ar­-Riyâdhun Nadhrah.[8]

Ia juga meriwayatkan hadis tersebut dari jalur Ibnu ‘Umar seperti yang telah disebutkan  dalam al-Isti’âb.

Ia juga menyebutkan hadis  tersebut dalam Dzakhâ’irul Uqbâ.[9]

Ibnu Abil Hadid al-Mu’tazili menyebutkannya dalam Syarh Nahjul Balâghah.[10]

Masih banyak lagi para ulama Ahlus Sunnah yang meriwayatkan hadis yang mulia tersebut di dalam kitab-kitab karangan mereka dan kitab-kitab sahih dan musnad, seperti Ibnu al-Atsir dalam Asadul Ghâbah, jil. 4, halaman 22.

Al-Kanji asy-Syafi’i dalam Kifâyatuth Thâlib, halaman 99.

Al-Hamuyini dalam Farâ’idus Simthain, manuskrip.

Adz-Dzahabi dalam Talkhishul Mustadrak. jil. 3, halaman 126.

Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Lisânul Mizân, jil. 1, halaman 432, dan dalam Tahdzib at-Tahdzib, jil. 6, halaman 320.

As-Sakhawi dalam al-Maqâshidul Hasanah, halaman 97.

An-Nabhani dalam al-Fathul Kabir, jil. 1, halaman 276.

As-Suyuthi dalam Târikhul Khulafâ’, halaman 170, dan dalam al-Jâmi’ush Shaghîr, jil. 1, halaman 364.

Ibnu al-Jauzi dalam Tadzkiratul Khawâsh, halaman 53.

Dan masih banyak lagi selain mereka yang tidak mungkin disebutkan semuanya dalam buku ini.

Singkat kata, hadis dalam topik kita ini (hadis kota ilmu) secara nyata menunjukkan kekhalifahan Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib As sepeninggal Rasulullah Saw secara langsung, yaitu sabda Nabi Saw, “Aku adalah kota ilmu, sedangkan ‘Ali pintunya.” Sebab, Rasulullah Saw telah menjadikan ‘Ali As sebagai pintu kota yang didatangi oleh para pencari ilmu dari semua penjuru.

Ia tidak memberikan mandat yang mulia ini kepada seorang pun dari sahabatnya, keeuali kepada ‘Ali As karena tidak adanya kemampuan seorang pun dari mereka dalam menjalankan tugas yang berat ini.

Al-Imamul Akbar, al-Mujadid al-A’zham, Sayyidu ath-Tha’ifah, as-Sayyid Mir Hamid Husain an-Naisaburi al-Hindi menyebutkan dalam kitabnya ‘Aqabâtul Anwâr hadis Nabi Saw, “Aku adalah kota ilmu, sedangkan ‘Ali pintunya.” Kemudian ia menjadikan hadis tersebut sebagai dalil kekhalifahan Amirul Mukminin ‘Ali As sepeninggal Nabi Saw secara langsung.

Ia mengemukakan delapan puluh dalil yang kuat dan hujjah yang kukuh serta keterangan yang sangat jelas tentang hal tersebut. Silakan Anda rujuk kitab Aqabâtul Anwâr.[11]

Kesimpulan

Sesungguhnya kelima hadis yang telah kami sebutkan adalah hadis-hadis sahih yang diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis Ahlus Sunnah, yang semuanya membuktikan kebenaran apa yang menjadi keyakinan kami perihal kekhalifahan Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib sepeninggal Rasulullah Saw secara langsung, yaitu:

1.   Hadis Peringatan

2.   Hadis Tsaqalain

3.   Hadis Manzilah

4.   Hadis Safinah Niill (Bahtera Nuh)

5.   Hadis Kota IImu

Kelima hadis tersebut kami persembahkan kepadamu wahai pembaca budiman setelah sebelumnya kami sampaikan lima ayat al-­Quran, maka kesemuanya menjadi bilangan sepuluh yang sempurna.

Dengan sepuluh dalil yang sempurna ini, yang ditetapkan dan disahihkan oleh oleh para ulama Islam, baik dari golongan Ahlus Sunnah apalagi Syi’ah, dengan demikian menjadi nyata dan tidak ada dasarnya lagi mengingkari kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib as sepeninggal Rasulullah Saw secara langsung.

Oleh karena itu, besar sekali harapan kami agar saudara-saudara kami dari kalangan Ahlus Sunnah mau mengikuti kebenaran ini dan meninggalkan cacian terhadap saudara-saudara mereka dari kalangan Syi’ah. Sebab, mereka itu (Syi’ah) mengikuti jalan Ahlulbait Nabi Saw sepenuhnya. Mereka tidak akan pernah sekali-kali meninggalkan Ahlulbait dan berpaling kepada selain mereka atau berpaling dari mereka. Mereka berlepas tangan dari tuduhan-tuduhan dusta dan keji yang dialamatkan kepada mereka oleh musuh-musuh mereka, seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnu Hazm, Ibnu Hajar, Ahmad Amin al-Mishri, Musa Jarullah, Muhammad Tsabit al-Mishri, al-Hafnawi, al-Jabhan, dan Syaikh Nuh yang mengeluarkan fatwa dengan mengafirkan Syi’ah, memerangi mereka, menawan istri-istri mereka, dan memperbudak anak keturunan mereka serta merampas harta benda mereka, baik mereka itu bertobat maupun tidak bertobat, dan juga orang-orang yang mengikuti jalan mereka yang batil dari kalangan pengikut Bani Umayyah dan Bani Marwan.

Kami berlindung kepada Tuhan Pemilik ‘Arsy yang agung dari golongan yang berlaku zalim terhadap kami, pengikut mazhab Ahlulbait Nabi Saw.

Kami juga berharap dari saudara-saudara kami Ahlus Sunnah untuk mengemukakan fakta-fakta tentang Syi’ah serta meninggalkan cacian dan semua hal yang tidak mendatangkan keridhaan Allah Swt, dan hendaknya mereka juga tidak menuliskan tentang Syi’ah hal-hal yang tidak ada dalam kitab-kitab mereka (menyebar fitnah), atau yang bukan merupakan prinsip-prinsip mazhab mereka. Sebab, pada faktanya, sekarang ini banyak orang dari berbagai agama dan aliran yang mengikuti mazhab Ahlulbait secara berbondong-bondong setelah mereka menemukan kebenaran mazhab ini.

Sesungguhnya aku menyampaikan nasihatku yang berharga ini karena aku mengetahui bahwa banyak penulis dari kalangan Ahlus Sunnah, yang sangat disayangkan, yang tulisan mereka penuh dengan cacian dan tuduhan keji yang tidak berdasar terhadap saudara-saudara mereka dari kalangan Syi’ah, para pengikut mazhab Ahlulbait Nabi Saw., yang tulisan mereka ini sarna sekali tidak dapat diterima oleh jiwa yang bersih dan akal yang sehat.

Demi Allah, sesungguhnya mereka, para pengikut mazhab Ahlulbait, adalah kelompok Muslim dan golongan yang beriman pada setiap yang datang (bersumber) dari Allah dan Rasul-Nya. Mereka tetap dalam keadaan yang demikian dari awal kenabian sampai hari kiamat. Aku tidak mendapatkan dosa dan kesalahan pada mereka, kecuali mereka ini tidak mau mendahulukan orang lain atas Ahlulbait Nabi Saw.

Apakah hal itu merupakan dosa wahai kaum Muslim, sedangkan dalil-dalil Al-Quran dan Sunnah menguatkan keyakinan mereka itu?

Setelah aku menyampaikan nasihat-nasihatku ini, sebagian di antara mereka ada yang merasa puas dan mau menerima. dan sebagian lain di antara mereka ada yang berkata kepadaku, “Engkau telah menyimpang dari mazhabmu dan condong pada mazhab Syi’ah.”

Maka, aku jawab sebagaimana jawaban Imam asy-Syafi’i,

Jika mencintai keluarga Nabi dikatakan Syi ‘ah,

Maka saksikanlah jin dan manusia bahwa aku adalah Syi ‘ah.[]


[1] . Lihat, Al-Hakim, al-Mustadrak, jil. 3, hal. 126.

[2] . Lihat, Al-Khathib al-Baghdadi, Târikh Baghdâdi, jil. 2, hal. 377.

[3].  Lihat, Al-Qunduzi, Yanâbi’ul Mawaddah, hal. 183, cetakan Istanbul.

[4]. Lihat, Ibnu Hajar,  Shawâ’iq, hal.37.

[5] . Lihat, Ibn Katsir, al-Bidâyah wan Nihâyah, jil. 7, hal. 358.

[6] . Lihat,  AI-Muttaqi, Kanzul ‘Ummâl, jil. 5, hal. 30.

[7] . Lihat, Ibnu ‘Abdil Barr, al-Isti’âb, jil. 2, hal. 461.

[8] . Lihat, Al-Muhibb ath-Thabari, ar­-Riyâdhun Nadhrah, jil. 2, hal. 193.

[9]. Lihat, Al-Muhibb ath-Thabari Dzakhâ’irul Uqbâ, hal. 77.

[10] . Lihat, Ibnu Abil Hadid al-Mu’tazili,  Syarh Nahjul Balâghah, jil. 2, hal. 236.

[11]. Sesungguhnya kitab ‘Aqabâtul Anwâr adalah termasuk kitab yang paling agung dan paling penting. Ia merupakan mutiara dari mutiara-mutiara zaman dan merupakan barang berharga yang langka serta kebanggaan masanya. Belum pemah seorang penulis pun yang mengarang kitab sebagus itu. Demi Allah, pena ini tidak sanggup menyifatkan mutiara yang berharga ini, yang dengannya Allah Swt memberikan petunjuk-Nya kepada kepada manusia dan golongan-­golongan dalam jumlah yang sangat besar, di India dan negeri-negeri lainnya. Mereka menerima dan menjadi pengikut mazhab Ahlulbait, yang tidak ada sedikit pun keraguan tentang kebenarannya. Kitab ini pada permulaannya ditulis oleh al-Imamul Akbar dan seorang marji’ tertinggi pada masanya, yaitu Ayatullah al-‘Uzhma as-Sayyid Mir Hamid Husain an­Naisaburi al-Hindi, yang nasabnya bersambung kepada Imam Musa al-Kazhim As. Ia menulis beberapa jilid di antaranya, lalu ia menghadap Tuhannya (wafat) sebelum sempat menyelesaikan kitabnya tersebut. Kemudian penulisan buku tersebut dilanjutkan oleh anaknya yang tertua, yaitu al-Imam al-Mujahid al-Marji’ al-‘Azhim Ayatullah al-Hujjah as-Sayyid Nashir Husain, ia menulis beberapa jilid di antaranya, lalu ia pun memenuhi panggilan Tuhannya sebelum sempat menyelesaikan tulisannya itu. Kemudian datang giliran cucunya, yaitu Samahatul ‘Allamah al-Hujjah al-Mujahid Maulana as-Sayyid Muhammad Sa’id, ia menyempumakan pusaka yang agung ini sehingga jumlahnya mencapai seratus jilid.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s