Syi’ah dan Hadis Nabi [4]

Oleh: Syaikh Muhammad Mar’i al-Amin al-Antaki

Hadis Safinah Nuh

Hadis ini merupakan sabda Nabi Saw, “Perumpamaan Ahlulbaitku seperti bahtera Nub, barang siapa yang menaikinya, niscaya ia akan selamat; dan barang siapa tertinggal darinya, niscaya ia akan tenggelam dan binasa.”

Seluruh ulama Islam sepakat akan kesahihan hadis di atas (hadis safinah) dan termasuk hadis yang sangat terkenal, dimana riwayatnya hampir mencapai batas mutawatir. Hadis safinah tersebut diriwayatkan oleh tokoh-tokoh ulama dari dua golongan Islam, Ahlus Sunnah dan Syi’ah, yang jumlahnya melampaui seratus hafizh (penghafal Qur’an), imam hadis, dan ahli sejarah dalam kitab-kitab sahih dan musnad mereka. Mereka mengakui kesahihan hadis tersebut dan menerimanya dengan penerimaan yang baik.

AI-Hakim meriwayatkan dalam al-Mustadrak dengan sanad dari Hanasy al-Kinani, ia berkata, “Aku mendengar Abu Dzar berkata, sedangkan ia memegang pintu Ka’bah, “Barangsiapa mengenalku, maka aku sebagaimana yang kalian kenali; dan barang siapa yang tidak mengenalku, maka perkenalkanlah aku adalah Abu Dzarr. Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Perumpamaan Ahlulbaitku seperti bahtera Nuh barangsiapa yang menaikinya, niscaya ia akan selamat; dan barangsiapa yang tertinggal darinya, niscaya ia akan tenggelam dan binasa.”[1] Al-Hakim berkata, “Hadis ini sahih sesuai syarat Muslim.”

Ath-Thabrani meriwayatkan di dalam Al-Ausath dari Abu Sa’id dari Nabi Saw, ia bersabda, “Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbaitku di tengah-tengah kalian seperti bahtera Nuh barangsiapa yang menaikinya, niscaya ia akan selamat, sedangkan orang yang tertinggal darinya, niscaya ia akan tenggelam.”

Ibnu Hajar meriwayatkan di dalam Shawâ’iq-nya, yang bersumber dari jalur yang berbeda-beda, dimana satu sama lainnya saling menguatkan, sabda Nabi Saw, “Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbaitku di tengah-tengah kalian seperti bahtera Nuh barangsiapa yang menaikinya, niscaya ia akan selamat.”[2]

Di dalam riwayat Muslim disebutkan, “… dan barangsiapa yang tertinggal darinya, niscaya ia akan tenggelam. ” Dan dalam riwayat yang lain disebutkan, “… binasa.”

Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbaitku di tengah-tengah kalian seperti pintu pengampunan bagi Bani Israil, barangsiapa yang memasukinya, niscaya ia akan diampuni. ” Dan dalam riwayat yang lain disebutkan, “… diampuni dosa-dosanya.” Nabi Saw bersabda di tempat yang lain dengan jalur yang banyak, dimana sebagiannya menguatkan yang lain, “Perumpamaan Ahlulbaitku…,” dalam riwayat yang lain disebutkan, “Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbaitku…,” dalam riwayat yang lain disebutkan, “Bahwa perumpamaan Ahlulbaitku…,” dan dalam riwayat yang lain disebutkan, “Ketahuilah, sesungguhnya perumpamaan Ahli Bailku di tengah-tengah kalian seperti bahtera Nuh di tengah-tengah kaumnya; barangsiapa yang menaikinya, niscaya ia akan selamat; dan barangsiapa yang tertinggal darinya, niscaya ia akan tenggelam.”

Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Barangsiapa yang menaikinya, niscaya ia akan selamat, sedangkan barangsiapa yang meninggalkannya, niscaya ia akan tenggelam. Dan sesungguhnya perumpaman Ahlulbaitku di tengah-tengah kalian seperti pintu pengampunan Bani Israil, barangsiapa yang memasukinya, niscaya ia akan diampuni.”

Kemudian Ibnu Hajar berkata, sesudah menyebutkan hadis safinah tersebut dan hadis lainnya yang semisalnya, “Sisi perumpamaan mereka (Ahlulbait) dengan bahtera Nuh adalah bahwa barangsiapa yang mencintai mereka dan mengagungkan mereka, sebagai bentuk pengungkapan terima kasih karena nikmat yang Dia karuniakan kepadanya, serta mengikuti petunjuk ulama mereka (Ahlulbait), niscaya ia akan selamat dari kegelapan pembangkangan. Dan barangsiapa yang tertinggal dari mereka, niscaya ia akan tenggelam dalam laut kekufuran terhadap nikmat (yang dikaruniakan kepadanya) dan binasa dalam kesesatan…”[3]

Al-Hamuyini meriwayatkan dalam Farâ’idush Shimthain dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas yang berkata, “Rasulullah Saw bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib, ‘Wahai ‘Ali, aku adalah kota hikmah. sedangkan engkau adalah pintunya, dan kota tidaklah didatangi kecuali dari pintunya. Bohonglah orang yang mengaku, bahwa ia mencintaiku, namun ia membencimu. Sebab, sesungguhnya engkau dariku dan aku darimu. Dagingmu dari dagingku, darahmu dari darahku, ruhmu dari ruhku, rahasiamu dari rahasiaku, dan hal-hal yang jelas darimu adalah dariku. Engkau adalah imam umatku dan khalifahku sepeninggalku. Berbahagialah orang yang menaatimu, celakalah orang yang menentangmu, beruntunglah orang yang menjadikanmu sebagai walinya (pemimpinnya), merugilah orang yang memusuhimu, beruntunglah orang yang mengikutimu, dan binasalah orang yang meninggalkanmu. Perumpamaanmu dan perumpamaan para imam dari keturunanmu sepeninggalku, seperti bahtera Nuh. Barangsiapa yang naik dalamnya, ia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya, ia akan tenggelam. Dan perumpamaan kalian seperti bintang-bintang, setiap kali ada bintang yang terbenam, muncul bintang lain sampai hari kiamat.”

Ibnu al-Maghazali asy-Syafi’i meriwayatkan dalam Fadhâ’il­-nya dengan sanad dari Harun ar-Rasyid, dari al-Mahdi, dari al-­Manshur, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Ibnu ‘Abbas Ra, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Perumpamaan Ahlulbaitku seperti Nuh, barangsiapa yang menaikinya, niscaya ia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya, niscaya ia akan binasa.”

Asy-Syablanji meriwayatkan dalam Nurul Abshâr dari sekelompok para imam hadis dari beberapa sahabat Nabi Saw sesungguhnya Nabi Saw. bersabda, “Perumpamaan Ahlulbaitku di tengah-tengah kalian seperti bahtera Nub, barangsiapa yang menaikinya, niscaya ia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya, niscaya ia akan binasa.”

Hadis yang mulia ini juga telah sampai pada derajat mutawatir di kalangan Syi’ah.

Aku katakan, ini merupakan ringkasan hadis dari topik kita ini yang kami persembahkan kepada pembaca budiman, dan sebenamya masih banyak lagi yang sengaja kami tinggalkan untuk menghemat tempat dan waktu. Kami akan menyebutkan kepadamu wahai pembaca yang mulia, sebagian nama yang meriwayatkan hadis yang mulia tersebut (hadis safinah) dari kalangan ulama Ahlus Sunnah, yaitu Muslim dalam Shahîh-nya, Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya, Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Târikh-nya, al-Hakim an-­Naisaburi dalam Mustadrak-nya, al-Hamuyini dalam Dzakhâ’irul ‘Uqbâ, Abu Na’im al-Ishfahani dalam Hilyah-nya dan dalam Dalâ’ilun Nubuwwah, al-Khathib al-Baghdadi dalam Târikh Baghdâd, Ibnu al-Atsir dalam Asadul Ghâbah, al-Fakhrurazi dalam Tafsir-nya, Ibnu Thalhah asy-Syafi’i dalam Mathâlibus Sa’ul, Muhibb ath-Thabari asy-Syafi’i dalam ar-Riyâdhun Nadhrah, Ibnu al-Jauzi dalam at-Tadzkirah, Ibnu ashShibagh al-Maliki dalam al-Fushulul Muhimmah, as-Suyuthi dalam al-Jâmi’ush Shaghir, Ibnu Hajar dalam Shawâ’iq-nya, asy-Syablanji dalam Nurul Abshâr, ash-Shabban al-Mishri dalam al-Is’âf dalam catatan kaki Nurul Abshâr, al-Qunduzi al-Hanafi dalam Yanâbi’ul Mawaddah, al-­Kanji asy-Syafi’i dalam Kifâyatuth Thâlib, as-Samhudi, Abu al-­Muzhaffar as-Sam’ani, as-Sakhawi, dan masih banyak lagi dari ulama-­ulama terkemuka Ahlus Sunnah.

Dan yang termasuk mengakui kesabihan hadis tersebut adalah Imam asy-Syafi’i, al-‘Ujaili telah menisbatkan kepadanya di dalam Dzakhîratul Ma’âli bait-bait syair berikut ini,

Ketika aku telah menyaksikan manusia

Telah terbawa oleh mazhab-mazhab mereka

Dalam lautan kesesatan dan kebodohan

Aku naik dengan nama Allah bahtera keselamatan

Mereka adalah Ahlulbait  Bail al-Musthafa penutup para rasul.

Kemudian ketahuilah wahai pembaca yang budiman, sesungguhnya hadis yang mulia ini yang diriwayatkan dari pengemban risalah Saw. telah menutup jalan-jalan yang bercabang-cabang serta tidak meninggalkan kecuali satu jalan, yaitu jalan Ahlulbait yang terang benderang.

Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbait dengan bahtera Nuh oleh Nabi Saw merupakan kewajiban yang nyata dalam mengikuti mereka, baik dalam perkataan maupun perbuatan mereka, dan diharamkannya mengikuti siapa saja yang menentang mereka.  Sesungguhnya selamatnya orang yang menaiki sebuah bahtera dari musibahg karam disebabkan oleh bahtera itu bebas dari cacat, seandainya bahtera itu terdapat cacat (kerusakan) di dalamnya, niscaya akan binasalah orang yang menaikinya, tanpa sedikit pun ada keraguan tentang hal itu. Sebab, gelombang dan badai di lautan sangatlah besar, saling berbenturan laksana gunung, sebagaimana dihikayatkan oleh al-­Qur’an.

Allah Swt berfirman, “Dan bahtera itu itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, “Hai anakku, naiklah (ke bahtera) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” (Qs. Hud [11]: 42)

Akan tetapi, anaknya itumenolak menaiki kapal itu karena durhaka. Allah Swt berfirman, “Anaknya menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah. .. (Nuh menjawab perkataan anaknya itu dengan ucapannya), “Tidak ada (sesuatu pun) yang melindungi hari ini dari azab Allah (sarna sekali) selain Allah saja, Yang Maha Penyayang (dengan menaiki bahtera). (Akan tetapi, orang kafir itu terus-menerus menentang karena kesombongan yang melampaui batas).

“Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (Qs. Hud [11];43)  Yaitu, orang-orang yang tetap dalam kekafiran mereka, mereka dibinasakan oleh gelombang badai dan Allah memusnahkan mereka. Segala puji bagi Allah atas binasanya orang-orang kafir.

Demikian juga dengan keadaan para Imam Ahlulbait ‘alaihimus salam (semoga salam kesejahteraan senantiasa dilimpahkan kepada mereka) bersama umat ini. Yaitu, barangsiapa yang kembali kepada mereka (para Imam Ahlulbait), mengikuti jalan mereka yang lurus, dan berpegang teguh pada tali mereka yang kukuh, yang tidak akan pernah putus, serta mengambil dari mereka pokok-pokok agama ini (ushuluddin) dan cabang-cabangnya (furu’uddin), berperilaku dengan akhlak mereka yang agung, beradab dengan adab mereka yang mulia, dan tetap kukuh dalam ber-wilâyah kepada mereka (menjadikan mereka sebagai imam dan pemimpin) serta tulus dalam kecintaan kepada mereka, dengan tidak mendahulukan orang lain atas mereka, niscaya ia akan selamat dari petaka karam (dari lautan kesesatan) dan mendapatkan keberuntungan yang paling besar serta memperoleh keamanan dari azab Allah dan di hari kiamat kelak, sesuai janji Allah dan Rasul-Nya.

Akan tetapi, barang siapa yang tertinggal dari mereka (para Imam Ahlulbait, yakni tidak mau mengikuti mereka) adalah seperti orang yang mencari perlindungan pada hari terjadinya banjir yang hebat ke gunung untuk melindunginya dari azab Allah, maka ia disambar oleh gelombang badai sehingga ia tenggelam dan binasa. Demikianlah keadaannya orang yang tidak mengikuti para Imam Ahlulbait, ia akan dibinasakan oleh gelombang-gelombang fitnah yang berlapis-lapis, yang sebagiannya mengikuti yang lain, seperti gelombang air bah yang terjadi pada zaman Nuh As, sarna persis tidak ada perbedaan, sesuai nash hadis.

Al-Imamul Akbar, al-Mujtahid ash-Shalih, al-Mujahid, as-­Sayyid al-Muhsin al-Amin al-‘Amili Rah berkata dalam kitabnya A ‘yânusy Syi’ah, jil. 3, halaman 265, ketika ia menyebutkan hadis yang mulia tersebut (hadis safinah), “Ungkapan mana lagi yang lebih mengandung makna yang jelas daripada sabda Nabi Saw, “Barangsiapa yang menaikinya, niscaya ia akan selamat, dun barangsiapa yang terlinggal darinya, niscaya ia akan hinasa atau tenggelam?”  Oleh karena itu, sebagaimana setiap orang yang naik bersama Nuh ke dalam bahteranya akan selamat dari tenggelam, sedangkan orang yang tidak mau naik bersamanya akan tenggelam dan binasa, demikian juga setiap orang yang mengikuti Ahlulbait, sesungguhnya ia telah menempuh di atas jalan kebenaran dan selamat dari kemarahan Allah serta beruntung dengan mendapatkan keridhaan-Nya.

Adapun orang yang menentang Ahlulbait, pasti ia akan binasa dan jatuh dalam kemurkaan Allah dan azab-Nya. Ini merupakan bukti kemaksuman mereka (para Imam Ahlulbait). Sebab, jika tidak demikian halnya, maka tidaklah setiap orang yang mengikuti mereka pasti akan selamat, sedangkan orang yang menentang mereka pasti akan binasa.

Dan ini adalah hal umum yang bersifat khusus, sebagaimana yang telah lalu di dalam hadis tsaqalain, dan yang dimaksudkan hanyalah para Imam Ahlulbait yang telah disepakati keutamaan mereka. Mereka terkenal dengan ilmu, keutamaan, kezuhudan, ke­wara ‘-an, dan ibadah. Demikian juga telah disepakati bahwa selain mereka (para Imam Ahlulbait) tidak ada yang maksum, sedangkan orang yang tidak maksum tidaklah dijamin bahwa pengikutnya akan selamat dan penentangnya akan binasa…”

Aku katakan, sesungguhnya hadis yang mulia ini merupakan hujjah yang tidak terbantahkan dan dalil yang kuat atas keyakinan Syi’ah dan pengikut Ahlulbait bahwa khalifah sepeninggal Rasulullah Saw adalah ‘Ali bin Abi Thalib As dan sesudahnya adalah keturunannya yang terpilih, dan ini sesuai dengan nash hadis bahwa siapa saja yang berpegang teguh dengan Ahlulbait akan selamat, sedangkan yang menentang mereka pasti akan binasa.

Oleh karena itu, tidaklah benar bagi seseorang untuk menyanggah hujah Ahlulbait dan mengikuti selain mereka, lalu ia mengaku mendapatkan keselamatan.  Aku memohon kepada Allah Swt  agar memberikan petunjuk kepada kaum Muslimin pada jalan yang lurus dan menyatukan mereka untuk mengikuti kebenaran serta mengilhamkan kepada mereka pendapat yang benar. Sesungguhnya Dia adalah Zat Yang Memberi petunjuk pada jalan yang lurus.


[1] . Lihat, Al-Hakim, al-Mustadrak, jil. 2, hal. 343.

[2] . Lihat, Ibnu Hajar, Shawâ’iqul Muhriqa, hal. 151.

[3] . Imam Syarafuddin berkata dalam al-Murâja ‘ât (Dialog Sunnah Syi’ah), halaman 25, ketika menyebutkan hadis yang mulia ini (hadis safmah), ia menukilkan hadis tersebut dari Ibnu Hajar, kemudian ia mengomentari ucapan pendusta dan an-nashibi ini (yaitu Ibnu Hajar), “Perhatikanlah ucapannya, kemudian katakanlah kepadaku, mengapa ia (Ibnu Hajar) sedikit pun tidak mengikuti petunjuk ulama mereka (ulama Ahlulbait) dalam furu‘uddin (cabang­cabaang agama) dan akidah-akidahnya, tidak sedikit pun dalam masalah Ushul Fiqih dan kaidah-­kaidahnya,  tidak sedikit pun dalam hal ilmu-ilmu Sunnah dan Kitab, dan juga tidak sedikit pun mengikuti ulama Ahlulbait dalam hal akhlak, perilaku, dan adab. Dan mengapa ia (Ibnu Hajar) tertinggal dari mereka (ulama Ahlulbait) serta menenggelamkan dirinya dalam lautan kekufuran nikmat dan membinasakan dirinya dalam kebinasaan kesesatan? Semoga Allah memaatkannya atas setiap kebohongan-kebohongannya yang dituduhkan kepada kami.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s