Tujuan Pemikiran Pluralisme

Oleh: Ayatullah Taqi Mishbah Yazdi

Tanya: Secara global tujuan apakah yang ingin dicapai sehingga pemikiran tentang pluralisme tersebut sengaja dilontarkan?

Jawab: Ada dua tujuan rasional yang menyebabkan munculnya kecenderungan untuk berpikir sesui konsep pluralisme:

  1. Tujuan yang menjurus langsung pada perasaan manusia: Sebagian orang berpendapat bahwa jika kita hanya mengakui satu agama atau satu sekte saja yang benar maka hal tersebut tidak akan mungkin terjadi, karena setiap individu pada setiap bangsa sejak kecil memiliki kecenderungan masing-masing sehingga memiliki tampilan dan gaya tersendiri. Mereka meyakini bahwa keyakinan dan jalan yang selama ini mereka tempuh merupakan satu kebenaran, dimana selain hal tersebut mereka anggap suatu kesesatan. Pemikiran seperti ini tidak hanya dapat kita jumpai dikomunitas muslim ataupun syiah imamiah saja akan tetapi dibanyak kelompokpun kita akan menjumpai hal semacam itu. Sebagaimana kita menganggap bahwa selain golongan kita mereka dalam kesesatan merekapun melihat dengan kaca mata mereka bahwa kita juga dalam kesesatan. Jika kita terlahir dari bangsa dan agama selain yang kita peluk sekarang ini ataupun terlahir dari ibu-bapak lain selain ibu-bapak kita niscaya kita akan memiliki penilaian yang lain pula. Begitu pula jika seorang Masihi ataupun Yahudi berkebangsaan Eropa ataupun Amerika, jika ia terlahir diTehran ataupun di Qom niscaya ia akan memiliki keyakinan yang lain. Sebagaimana mereka harus memberikan kemungkinan-kemungkinan akan kebenaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad (saww), mereka juga diharuskan meneliti terlebih dahulu sebelum menghukuminya. Maka kitapun juga sebaliknya harus memberikan segala kemungkinan yang menunjukkan bahwa jalan yang ditempuh orang lain memuat suatu kebenaran dan kita harus menelitinya terlebih dahulu. Sehingga dari sini muncul pertanyaan; Kenapa hanya  dikarenakan kita terlahir secara terpaksa dari ibu-bapak dan dibelahan bumi tertentu sehingga hal itu menyebabkan dari satu sisi kita harus mengakui kebenaran apa yang kita yakini dan disisi lain kita harus mengatakan kesesatan kelompok lain?

Dari sisi lain apakah mungkin kita akan menerima bahwa dari jumlah seluruh penghuni bumi yang mencapai 6 milyar jiwa tersebut hanya 100 sampai dengan 200 juta jiwa saja –itupun hanya bagi orang yang konsekwen menjaga halal-haram dalam sari’at dan yang tidak menutup pintu sorga buat dirinya- yang ada dalam kebenaran dan termasuk calon penghuni sorga. Sedang selain penganut agama Islam –yang mencakup Yahudi, Nasrani, Zoroaster, Hindu, Budha…dst- ataupun selain pengikut Syiah –semua kelompok ahlussunnah- atau lebih khusus lagi selain Syiah imamiah itsna asyariah –selain ahlussunnah juga mencakup sekte-sekte syiah yang lain- mereka adalah dalam kebatilan dan akan menjadi penghuni neraka?!

Analisa semacam ini memiliki tujuan yang titik beratnya pada sisi kejiwaan saja, sehingga walaupun keberadaan agama dan sekte dengan jumlah yang berbilang dan yang muncul tapi semua itu diyakini tetap dalam kebenaran. Sebagaimana kita dalam kebenaran maka merekapun termasuk orang-orang yang selamat dan bakal menjadi penghuni sorga. Mereka menganggap kelompok lain dalam kebenaran dengan dalih bahwa berapa banyak dari mereka yang lebih baik, bersih dan konsisten terhadap agamanya.

  1. Tujuan yang bersifat sosial: Ada poin lain yang menyebabkan kecenderungan banyak orang menjadi pengikut pandangan ini yaitu adanya pertikaian, peperangan dan kecamuk yang sering terjadi sepanjang sejarah manusia yang hingga kini terus berlangsung. Berapa banyak jiwa yang mati, perusakan, penghancuran dan pertumpahan darah diakibatkan dari penentuan sekte manakah yang ada dalam kebenaran. Munculnya fanatisme dan bersikerasnya sebagian oknum dalam menerapkan keyakinan khusus yang tedapat pada sektenya.

Peristiwa-peristiwa seperti perang salib perang antara Islam dan Kristen, perang antar madzhab antara sunni dan syiah, perang antar sekte antara katolik dan protestan, dan banyak lagi contoh-contoh semacam itu. Dimana akar dari semua kejadian itu adalah fanatisme dan bersikeras atas pandangan pribadi.

Untuk menyelesaikan segala kecamuk semacam itu harus diadakan suatu teori yang memuat pemberian toleransi dan penyederhanaan masalah (tasahul). Jika itu disepakati dan dilaksanakan oleh semua kelompok dimana jika masing-masing mereka serentak meneriakkan; “kita dalam kebenaran sebagaimana kalianpun juga dalam kebenaran”. Sebagaimana Islam dalam kebenaran begitu pula Kristen kristen dalam kebenaran, sebagaimana syiah dalam kebenaran begitu pula sunni, sebagaimana katolik dalam kebenaran begitu pula ortodoks ataupun protestan…. Hal tersebut mengakibatkan hilangnya akar permusuhan yang berakhir pada terwujudnya perdamaian dan kerukunan antar umat beragama.

Dari sini kita telah membicarakan tentang dua tujuan dan alasan  dimunculkannya teori pluralisme. Adapun apakah kita sekarang akan menerima dua alasan tadi? Kalaupun kita menerimanya adakah cara lain sebagai jalan keluar selain konsep pluralisme atau tidak? Kalaupun ada jalan lain yang bisa ditempuh jalan manakah yang logis dan benar?

Untuk menjawab alasan kejiwaan yang telah disebutkan tadi ada beberapa premis yang harus disinggung terlebih dahulu:

1-   Mustadh’af  (lemah/oppressed) dalam istilah kita ada dua pengertian:

a-    Lemah dari sisi sosial dan ekonomi yang bisa dikategorikan sebagai golongan minus.

b-    Lemah dari sisi intelektual yang dalam pembahasan theology (ilmu kalam) sering dipredikatkan buat individu yang tidak mampu berfikir dan berargumen dengan baik sehingga tidak bisa menentukan kebenaran yang ada seperti; sulit memahami tentang argumen eksistensi Tuhan atau kebenaran Islam ataupun dikarenakan ia tidak pernah mendapati pemasalahan-permasalahan semacan itu. Dan kalaupun pernah ia dapati dan ia dengar hal-hal semacam itu, ia tidak mampu memberikan kemungkinan akan kebenarannya sama sekali. Dengan kata lain ia tidak menindaklanjutinya, perkara semacam ini bisa diakibatkan dari lingkungan keluarga, sosial atau tidak adanya propaganda ataupun karena adanya propaganda yang bertentangan. Walhasil...ia telah menempuh arah lain.

 2- Ada dua istilah yang sering dipakai untuk kebodohan (jahl):

     A- Jahil muqoshir yaitu orang yang memiliki kemampuan   

         untuk mendapat suatu ilmu ataupun orang yang memberikan    

         kemungkinan salah pada akidah yang dimilikinya tapi ia tidak   

         berusaha untuk mencari jalan yang benar. Orang semacam ini

         tentu dari kaca mata sosial maupun syariat sangat tercela.

B-  Jahil qoshir yaitu orang yang ada kemungkinan dia lalai ataupun yang tidak memberikan kemungkinan salah atas prilakunya. Dan kalaupun ia memberikan kemungkinan salah pada prilakunya maka ia bersedia mendengarkan ucapan orang lain, tapi sayangnya ia tidak punya sarana yang cukup untuk menggapai kebenaran yang ada. Orang semacam ini baik sosial maupun syariat tidak mungkin bisa untuk disalahkan ataupun mencelanya.

Setelah kita mengetahui dua poin diatas maka dapat kita sebutkan bahwa orang yang lemah dari sisi pemikiran (mustadhaf fikri) dan jahil qoshir yaitu bagi orang yang belum sampai kepadanya kebenaran islam dan ajaran ahlul-bait (tasyayyu’) maka ia tidak bisa dihukumi salah (ma’dzur) sehingga kalaupun ia terjerumus pada kesalahan dalam berkeyakinan –hal itu dikarenakan tidak adanya dualisme dalam kebenaran seperti apakah Tuhan ada atau tiada? Muhammad (saww) sebagai nabi Allah dan nabi terakhir atau bukan? Maka mustahil bertemunya dua hal tersebut yang saling paradox- tetapi kita tidak bisa menghukuminya sebagai penghuni neraka karena kesalahan yang ia lakukan. Sementara kita tahu bahwa mayoritas penduduk dunia tergolong dari kelompok tersebut. Akan tetapi jika ia menganggap remeh kebenaran ataupun ia telah melihat kebenaran tapi dengan terang-terangan ia menentangnya tentu disaat itu baik syariat maupun logika akan menghukumi orang semacam itu karena hukuman disesuikan dengan pelanggaran yang diperbuat oleh suatu oknum. Hal tersebut sesuai dengan potongan dari doa’ kumail, doa’ yang diajarkan Ali bin abi tholib (as) kepada sahabat beliau Kumail bin ziad (ra):

“…wahai Tuhan, Engkau telah berjanji bahwa neraka akan dipenuhi dengan orang-orang kafir baik dari golongan jin maupun manusia, dan akan Kau kekalkan bagi mereka yang menentang (kebenaran)…”

Maka bagi setiap orang kafir yang ia tidak meniti jalan yang benar maka ia akan dimasukkan neraka sesuai dengan kesalahan yang ia perbuat. Adapun jika ia menentang kebenaran yang telah ada dihadapannya maka ia akan dikekalkan dalam siksaan neraka. Singkat kata bahwa dizaman kita sekarang ini yang termasuk kategori orang-orang yang selamat tidak hanya terbatas pada seratus juta jiwa atau hanya pengikut imamiah saja.

Poin lain dalam pembahasan pluralisme yang harus diperhatikan adalah kita tidak perlu mengungkit-ungkit tentang dikota atau dinegara mana atau dari orang tua yang mana kita terlahir, atau didaerah mana kita tumbuh dan berkembang. Akan tetapi yang perlu kita angkat adalah dari sekian banyak pendapat ataupun statemen yang ada dari sisi ephystemologi maupun realitanya tidak mungkin ada dualisme kebenara. Adapun perbuatan apapun yang akan diperbuat oleh orang yang menentangnya itu permasalahan lain yang sudah pernah kita singgung dalam pembahasan yang lalu.

Adapun tentang tujuan sosial yang pernah disinggung seperti untuk menghindari peperangan dan pertumpahan darah, bisa kita katakan bahwa pendapat semacam itu bukan lantas menjadikan kita lantas membenarkan dakwahan pendapat tentang adanya dualisme kebenaran, karena kategori kebenaran ataupun kesalahan dalam pemikiran berbeda dengan kategori tentang dua hal tersebut dalam hal prilaku dan diantara keduanya tidak ada media penghubung sehingga untuk menghindari berbagai peperangan maupun pertumpahan darah yang tidak dikehendaki ada jalan alternatif yang benar dimana Islam telah melampaui jalan-jalan itu dengan bai. Bisa kita perjelas semisal ada beberapa kelompok yang bukan pengikut imamiah itsna asyariah dimana diantara mereka sendiri terdapat perbedaan dari sisi hukum sehingga terbagi pada beberapa kelompok

A-    Beberapa madzhab yang ada baik dari kelompok syiah maupun sunni kecuali kelompok minoritas saja –dari para nashibi yaitu kelompok yang menentang dan mencela para manusia suci dari ahlul-bait (as)- mereke sama-sama memiliki kesamaan dengan imamiah baik dari sisi ketuhanan, agama, kitab suci dan kejelasan-kejelasan agama lainnya dimana semua mazhab-mazhab itu sama-sama dibawah naungan pemerintahan Islam sebagai manusia muslim yang memiliki hak masing-masing dan dimana antara mazhab tersebut meyakini bahwa agama tidak mengajarkan terjadinya peperangan diantara mereka.

B-    Bagi non muslim atau setiap individu pemeluk agama Yahudi, Nasrani maupun Zoroaster yang biasa disebut dengan ahli kitab, jika mereka hidup dibawah naungan pemerintah Islam dan taat atas setiap undang-undang yang diberlakukan, maka merekapun mendapat perlindungan yang sama seperti anggota masyarakat yang lain. Dimana jiwa, harta dan kepemilikan mereka aman dan terjaga, sebagaimana orang-orang Islam diharuskan membayar khumus, zakat dan pajak maka merekapun berkewajiban membayar semisal pajak yang biasa disebut jizyah sebagai tanda ketaatan. Oleh karena itu Islam tidak akan memerintahkan untuk menyerang terlebih dahulu buat pengikut agama-agama semacam ini.

C–    Bagi pengikut agama non samawi yang telah mengadakan perjanjian dengan sebuah pemerintahan Islam, orang tersebut berdasarkan perjanjian itu pula ia dapat hidup bertetangga dengan kaum muslimin dan didalam wilayah teritorial negara Islam. Dimana keduabelah pihak harus berprilaku sesuai dengan perjanjian yang ada –yang boleh jadi berbeda-beda buat tiap person- dan sesuai dengan perjanjian bahwa sehubungan dengan kelompok tersebut maka hak dan kebebasan dalam berseteru antar dua kelompok yang ada ditiadakan.

D-   Setiap individu yang sama sekali tidak terikat dengan perjanjian apapun ataupun yang memiliki perjanjian tapi ia mengingkari perjanjian yang ada, maka orang tersebut dikategorikan sebagai orang yang sewenang-wenang dan orang semacam ini tidak akan bisa diterima oleh jenis pemerintahan manapun. Sehingga dalam berinteraksi dengan merekapun harus dengan ketegasan atau kalau perlu dengan peperangan sampai mereka menyerah atau menjadi tawanan. Aturan semacam ini ada pada pemerintahan manapun didunia, dimana tiada satu pemerintahan yang sehat manapun yang memberi izin seseorang untuk mencuri ataupun melanggar hak-hak orang lain. Tentu, pemerintahan semacam itu akan berbenturan dengan kelompok semacam itu.

Dari segala yang telah kita bahas dapat kita ketahui bahwa agama yang logis dan rasional adalah agama Islam. Dimana ia selalu menyerukan dialog kepada selainnya dan selalu menyerukan bahwa ia adalah agama dialog dan menjunjung tinggi hal tersebut. Sehingga Islam berpendapat jika anda dapat memuaskan kita dengan menunjukkan dan menetapkan kebenaran jalan yang telah anda tempuh niscaya kita akan mengikutinya, akan tetapi jika terbukti bahwa kita dalam kebenaran maka kita akan menyerukan hal itu pada anda agar andapun mengikuti kami. Ada prinsip lain yang lebih tinggi lagi yaitu jika anda tidak mau menyerah atas logika dan kebenaran yang kami bawa maka mari kita adakan perjanjian sehingga kita bisa hidup bersama-sama dan sehingga pertumpahan darah diantara kita bisa dihindari, walaupun anda boleh tidak mau menerima ucapan kita. Alakullihal…jika seseorang tidak mau menerima ucapan logis dan kebenaran kita juga tidak mau mengadakan perjanjian agar bisa hidup berdampingan secara rukun dan damai, melihat hal seperti ini maka setiap pengamat yang berjiwa bijak pasti tidak akan bisa menerima hal tersebut dan akan berpendapat bahwa tiada jalan lain yang layak ditempuh kecuali harus diadakan tindakan keras atas mereka. Untuk menghentikan pertikaian dan tindakan keras jelas tidak cukup dengan larangan yang ditujukan pada salah satu pihak saja untuk menghentikan pertikaian, akan tetapi harus kedua belah pihak harus memiliki perhatian atas perdamaian diantara mereka. Maka jalan yang benar untuk ditempuh bukan berarti lantas mengatakan kedua-duanya dalam kebenaran, tetapi bisa saja dengan mengatakan bahwa salah satu benar dan realitasnya memang hanya satu yang benar. Akan tetapi bisa saja disarankan agar segala macam jenis pertikaian dengan pihak lain selayaknya dihindari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s