Pluralisme Dari Sudut Pandang Praktis

Oleh: Ayatullah Taqi Mishbah Yazdi

Tanya: Apakah sudut pandang praktis pluralisme agama pernah ada dalam sepanjang sejarah dunia Islam?

Jawab: Tentang pluralisme agama antar dua kelompok dari satu mazhab atau antara dua mazhab dari satu agama ataupun antara dua agama pernah terlontarkan. Umpamanya, hidup berdampingan yang pernah terjadi antara pemeluk Islam dengan Kristen dan Yahudi dalam satu blok ataupun satu wilayah dan satu kota dimana antar pengikut agama-agama tersebut bisa hidup rukun berdampingan tanpa ada pertikaian fisik satu dengan yang lain. Padahal masing-masing pemeluk agama tersebut menilai ajaran diri mereka dalam kebenaran sedang orang lain dianggap dalam kesesatan, malah terkadang terjadi perdebatan antara mereka. Dalam Islam pemandangan semacam itu pernah terjadi. Al-Qur’an, sirah nabi Muhammad (saww) dan para imam suci (as) memang sangat menekankan pada setiap kaum muslimin tentang adanya hubungan semacam itu.

Persatuan yang akhir-akhir ini selalu kita dengungkan, dimana  antara syiah dan sunni pun telah sepakat tentang hal itu, sebenarnya sudah pernah terlontar semenjak zaman imam Ja’far Shodiq (as). Imam Shodiq (as) selalu menekankan untuk mengikuti sholat dan menghantar (tasyi’) jenazah saudara-saudara kita dari ahli sunnah, menengok para orang sakit dari mereka dan siap membantu dalam setiap pertolongan apapun yang mereka inginkan selama tidak menyulitkan. Lebih dari itu, dizaman awal-awal munculnya Islam hubungan antara kaum muslimin dengan ahli dzimah (non muslim yang hidup dilingkungan negara Islam dan patuh pada segala peraturan yang ada. Pen) sangat erat sekali, dimana satu dengan yang lain saling terjadi hubungan relasi kerja, hutang-piutang dan saling jenguk walaupun pada prinsipnya dari sisi pandangan dan pemikiran, setiap individu dari mereka meyakini kebenaran agama masing-masing. Bagaimanapun juga, topik ini merupakan salah satu dari permasalahan prinsip Islam dimana tidak ada keraguan sedikitpun didalamnya. Sedang para pemikir Islam baik dari kalangan syiah maupun sunni dalam melihat permasalahan diatas, mereka sama sekali tidak meragukan apalagi memungkiri bahwa pernah ada dizaman itu kehidupan rukun dan damai dengan pengikut agama ahli kitab. Walaupun antara kedua kelompok tadi terdapat perbedaan dari sisi tatacara dan adat istiadatnya, akan tetapi jalan keluar untuk menyelesaikan setiap perbedaan yang ada selalu didapat dari kesamaan-kesamaan dan berbagai pendekatan yang ada. Lantas hubungan semacam itu tidak berkonsekwensi bahwa kita harus mengakui kebenaran jalan yang mereka tempuh. Kita bisa lihat, bagaimana pandangan Islam sewaktu diadakannya perjanjian damai dengan kaum musyrik. Semua itu dikarenakan adanya hukum eksidentil yang menuntut agar kita hidup damai dengan mereka. Hal itu sebagaimana yang pernah terjadi dizaman Rasulullah (saww), dimana beliau mengadakan perjanjian damai dengan kaum musyrik untuk tidak saling mengganggu baik jiwa maupun harta benda kedua belah pihak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s