Pluralisme dan Aspek-aspeknya

Oleh: Ayatullah Taqi Mishbah Yazdi

Tanya: Apakah yang dimaksud dengan pluralisme, dan dalam aspek apa saja hal tersebut bisa diterapkan?

Jawab: Plural berarti beragam oleh karenanya pluralisme bisa diartikan sebagai kecenderungan untuk menerima keberagaman. Kecenderungan tersebut merupakan lawan dari kecenderungan monois yang hanya menerima hal yang tunggal. Didalam banyak aspek sosial sering kita dapati ada pekerjaan yang ditangani oleh satu orang saja ataupun satu kelompok, dan ada pula yang ditangani oleh beberapa orang atau beberapa kelompok. Jika kita menerima bahwa suatu pekerjaan bisa dilaksanakan oleh beberapa orang ataupun beberapa kelompok maka hal inipun disebut sebagai pluralisme. Begitu pula sebaliknya, jika kita menerima bahwa suatu pekerjaan hanya bisa dilaksanakan oleh satu orang atau satu kelompok saja maka hal itu disebut dengan monoisme.

Istilah tadi berasal dari barat dimana saat itu setiap orang yang memiliki beberapa kedudukan disuatu gereja ataupun orang yang meyakini bahwa disatu gereja boleh memiliki beberapa kedudukan maka orang tadi disebut dengan pluralis. Pemikiran tersebut lawan dari keyakinan atas pembatasan yang biasa disebut eksklusifisme atau faham tentang pembatasan kebenaran yang hanya ada pada satu metode atau satu aliran saja dari sekian metode atau aliran yang ada.

Pluralisme dalam berbagai aspek bisa diterapka. Pada beberapa  aspek yang ada terkadang pluralisme diartikan sebagai menerima atas keberagaman dan berbagai pandangan yang berbeda dari sisi pengamalan. Dengan kata lain, bisa hidup bersama dengan rukun dan saling menghormati satu dengan yang lain juga memberikan kesempatan bagi yang lain untuk mengungkapkan pandangannya. Hal seperti itu biasa disebut dengan pluralisme praktis (amali). Pluralisme terkadang pula dipakai untuk hal-hal teoritis (nazari) dan praktis sekaligus, dimana dengan munculnya anggapan atas kebenaran semua pendapat yang berbeda-beda dalam bidang politik, ekonomi, budaya, dan agama, ataupun anggapan bahwa semua pendapat yang ada memiliki bagian dari kebenaran sehingga tidak ada kebenaran yang besifat absolut.

Pada zaman dahulu dimana masyarakat belum memiliki kemajuan seperti sekarang ini dimana hubungan antar mereka satu dengan yang lain sangat minim sehingga masalah khusus tentang pluralisme belum sempat terlontarkan. Akan tetapi sekarang ini dikarenakan perkembangan dan kemajuan pesat yang telah dapat diraih oleh masyarakat dan adanya hubungan erat satu dengan yang lain, oleh karenanya perlu adanya permasalahan ini dilontarkan terkhusus setelah terjadinya peperangan yang dahsyat antar kelompok dan sekte-sekte yang berakhir dengan kehancuran dan yang menjadikan pemikiran ini menjadi lebih menguat. Dimana setiap sekte-sekte dan keyakinan-keyakinan yang ada harus diakui keberadaannya sehingga terwujud rasa damai diantara mereka karena kesesuian antar mazhab akan membawa manfaat yang besar bagi komunitas manusia.

Asas praktis pluralisme adalah hidup secara rukun dan damai. Oleh karenanya amanat yang selalu didengung-dengungkan adalah adanya kemajmukan yang terdapat dalam masyarakat hendaknya tidak menyebabkan adanya pertikaian, dan seharusnya potensi yang ada sebaiknya dimanfaatkan dan dikonsentrasikan untuk membangun pribadi dan jiwa spiritual sehingga bisa hidup rukun dan damai dengan sesama. Ungkapan semacam ini tidak memiliki konsekwensi bahwa semua kelompok memiliki muatan kebenaran, akan tetapi kita diharuskan menerima kenyataan tentang adanya kemajmukan dan hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan pengakuan setiap kelompok bahwa dirinya dalam kebenaran sedang kelompok lain dianggap dalam kebatilan.

Baik dari sisi praktis maupun teoritis tuntutan pluralisme adalah penekanan atas pelarangan manusia untuk berfikir absolitis dan mempersulit orang lain dengan berlandaskan pada fanatisme terhadap pandangannya dan menganggapnya sebagai kebenaran yang mutlak, dimana pendapat semacam ini pada hakikatnya kembali pada skeptisisme dalam epistemologi.

One response to “Pluralisme dan Aspek-aspeknya

  1. Ping-balik: Berbahasa Daerah, Pluralisme dan Sumpah Pemuda « Brahmacarya·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s