Pluralisme Agama Dari Sudut Teoritis

Oleh: Ayatullah Taqi Mishbah Yazdi

Tanya: Apa yang dimaksud dengan pluralisme agama ditinjau dari sisi teoritis, apakah mungkin teori tersebut bisa kita terima?

Jawab: Bisa dijelaskan secara global bahwa yang dimaksud dengan pluralisme agama adalah pengakuan kebenaran agama–agama yang ada. Adapun penjelasan ucapan diatas bisa dijabarkan melalaui tiga versi penjelasan yang berbeda-beda:

Pertama: Tidak ada satupun agama yang memiliki muatan benar ataupun salah secara mutlak. Akan tetapi, setiap agama memiliki ajaran-ajaran yang benar sebagaimana memiliki ajaran-ajaran yang salah pula.

Kedua: Realita dan kebenaran merupakan suatu yang tunggal. Sehingga setiap agama merupakan perwujudan dari jalan-jalan yang ada, dimana yang mampu menghantarkan kita kepada kebenaran yang tunggal tadi.

Ketiga: Perkara-perkara yang terdapat dalam agama -seperti masalah-masalah supranatural yang bersifat non inderawi- ada kemungkinan adalah ajaran yang tidak mempunyai arti sama sekali, dan kalaulah memiliki arti ia tidak bisa ditetapkan dengan argumen oleh karena itu setiap agama mempunyai hubungan yang horizontal dan sejajar. Dimana hal tadi berarti setiap orang berhak hidup dengan agama pilihannya.

Penjelasan makna pertama:

Pemiliki pendapat ini beranggapan bahwa kebenaran tersusun dari beberapa unsur dan bagian, dimana setiap bagian yang ada dapat kita temukan pada setiap agama. Bukan berarti suatu agama bisa disifati dengan tidak benar ataupun benar secara mutlak, karena tidak ada satu ajaranpun yang memiliki muatan baik dan benar secara mutlak. Sebagaimana tidak ada satu agamapun yang memiliki ajaran yang salah secara mutlak dan begitu pula sebaliknya. Berapa banyak ajaran Kristen yang kita temukan pula didalam ajaran Islam, oleh karena itu tidak bisa kita katakan bahwa Kristen secara mutlak batil. Begitu pula Islam, banyak pula ajarannya yang sesuai dengan ajaran Yahudi oleh karenanya tidak bisa dikatakan bahwa Yahudi ataupun Islam secara mutlak salah.

Sewaktu segala kebaikan dan kebenaran tersebar pada setiap agama maka tidak bisa kita katakan bahwa suatu agama secara mutlak salah dan agama lain secara mutlak benar. Kita harus menghormati setiap agama dan mazhab yang ada secara sama. Atas dasar itulah kitapun bisa mencomot semua ajaran-ajaran dari setiap agama, dengan arti setiap ajaran yang benar yang terdapat pada setiap agama dapat kita ambil dan kita terima. Sebagian kita bisa mengambilnya dari Yahudi sedang sebagian yang lain dari Islam dan lainnya dari agama yang lain pula.

*Menimbang kebenaran pendapat pertama:

Pada prinsipnya, pendapat tentang adanya unsur kebenaran pada setiap agama ataupun madzhab –lepas dari sisi kuantitasnya- bisa diterima karena kebatilan mutlak dialam ini tidak akan bisa kita temukan. Ungkapan semacam ini tidak mungkin bisa diterima oleh siapapun yang berakal sehat.

Dari sisi lain, jika yang dimaksud adalah semua agama yang sekarang ini berada didunia dimana masing-masing memiliki keyakinan dan hukum-hukum yang batil serta tidak ada satu agamapun yang sempurna. Tentu, ungkapan semacam inipun tidak bisa kita terima, karena Islam berpendapat bahwa agama Ilahi dan syariat Muhammad (saww) sudah sempurna kebenarannya dan dengan turunnya Islam maka sempurna sudahlah agama dan tuntaslah nikmat yang ada. Adapun segala apapun yang ada pada agama-agama lain jika sesuai dengan Islam maka bisa dihukumi benar dan jika tidak maka dihukumi batil. Dikarenakan tidak mungkin penyembahan terhadap berhala, hewan dan sebagainya yang semua itu bertentangan dengan ruh ajaran Islam juga agama-agama monoteis yang masih orisinil dan bertentangan juga dengan kejelasan esensial jiwa (conscience/wujdan)  setiap manusia bijak dan berakal pada individu-individu pengikut agama-agama dan ajaran tersebut.

Disamping itu, Islam adalah agama yang dengan jelas menentang akan adanya keimanan terhadap sebagian ayat dan mengingkari terhadap sebagian yang lain. Islam berpendapat bahwa dengan mencomot-comot ajaran beberapa agama sama halnya dengan mengingkari seluruh ajaran agama tersebut. Ringkasnya, bahwa Islam –sebagaimana yang tercantum dalam hadits Tsaqolain– semua ajarannya mengandung kebenaran dan sama sekali tiada kebatilan didalamnya.  

Penjelasan makna kedua:

Pendapat ini berdasar pada bahwa agama yang benar ibarat puncak tunggal suatu gunung, dimana semua agama yang ada didunia merupakan berbagai bentuk sarana untuk menuju fokus yang satu. Setiap agama bertujuan untuk menghantarkan kita pada kebenaran yang tunggal tadi dan pada kenyataannya semuanya berhasil sampai juga pada tujuannya. Terkadang dengan melalui jalan yang panjang dan ada juga yang hanya menempuh jalan yang sangat ringkas sekali ataupun ada juga yang sama. Seorang yang berangkat menuju masjid, gereja ataupun tempat-tempat ibadah lainnya mereka bertujuan sama yaitu menyembah Tuhan Yang Maha Esa.

*Menimbang kebenaran pendapat kedua:

Penjelasan diatas hanya bisa diidekan pada tahapan imajinasi saja. Tetapi jika dihubungkan pada kenyataan agama-agama yang ada tidak akan bisa diterapkan. Sewaktu Islam mengutarakan pendapat awalnya yaitu tentang ke-Esa-an Tuhan dan jalan keberuntungan adalah dengan menerima ajaran tauhid maka bagaimana mungkin hal tersebut disamakan dengan ajaran Kristen yang mengajak pada keyakinan trinitas? Bagaimana mungkin semua kita akan menuju pada titik yang satu? Apakah mungkin dua garis yang berseberangan dan sejajar akan bertemu pada titik yang satu? Dimana Al-Qur’an dalam menyikapi keyakinan trinitas mengatakan:

”karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak * dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak” (QS Maryam;90-91)

Apakah hal tersebut dari sisi tujuannya lantas bisa disamakan dengan ajaran trinitas? Apakah mungkin bisa disamakan dan menuju jalan yang satu antara agama yang melarang untuk memakan babi dan meminum minuman yang beralkohol dengan agama yang melarangnya?

Penjelasan pandangan ketiga: 

Disini sebagian para positivis berpandangan ekstrim (ifrath) terhadap segala proposisi tersebut. Sedang sebagian lagi memberikan kemungkinan akan adanya makna dari hal tersebut, tapi mereka beranggapan hal itu tidak bisa ditetapkan secara argumentatif karena untuk sebagian orang hal tersebut boleh jadi akan menjadi baik dan benar akan tetapi untuk sebagian yang lain hal tadi buruk dan salah, atau pada waktu tertentu baik tetapi diwaktu yang lain menjadi buruk. Kita tidak memiliki pengenalan yang pasti dimana seratus persen sesuai dengan kenyataan. Keyakinan akan kebenaran dengan derajat seratus persen pada suatu proposisi menunjukkan adanya ketidaktelitian akan masalah tersebut, dan masih ada beberapa pendapat lainnya.

Singkat kata, pandangan diatas tidak jauh dari hanya sekedar bermain dengan kata-kata saja dan hanya mengikuti selera sosial dan individual belaka. Hal itu menjadi salah satu akar pemikiran toleransi dan penyederhanaan masalah (tasahul) didunia sekarang ini.

Atas dasar pemikiran filsafat tadi sebagian orang akhirnya berpendapat tentang adanya pluralisme dalam agama dengan mengatakan bahwa dalam kamus kita sama sekali tidak ada yang namanya agama yang benar atau agama yang salah karena pemakaian kata benar dan salah dalam permasalahan tersebut sudah merupakan suatu kesalahan. Pemahaman semacam ini ada kemungkinan tidak memiliki arti sama sekali atau tidak bisa dipertimbangkan dari sisi penetapan maupun penafiannya. Dengan kata lain, bahwa dengan sedikit adanya toleransi maka dapat dikatakan bahwa seluruh agama merupakan jalan-jalan menuju satu kebenaran.

Sebagian dari ajaran-ajaran ritual keagamaan aliran-aliran terdahulu berpendapat bahwa segala yang menjelaskan tentang realita ataupun eksistensi sesuatu maka hal itu memiliki arti dan memiliki muatan benar dan salah, seperti proposisi bahwa  “Tuhan Esa” hal itu sama sebagaimana masalah keharusan dan pelarangan (dalam pembahasan filsafat etika. Pen) dimana hal tersebut tidak memiliki muatan benar-salah selayaknya ucapan “keadilan harus ditegakkan” dan “dilarang berbuat zalim”.

*Menimbang kebenaran pandangan ketiga:

Pembahasan tentang filsafat positivisme dalam kaitannya dengan pembahasan tentang muatan arti ungkapan-ungkapan (propositions), baik yang berhubungan dengan yang non-inderawi dan pemberian kepercayaan penuh pada indera (sensial) ataupun rasionalitas dalam masalah pengetahuan (knowledge), dimana semua itu tidak ada hubungannya langsung dengan pembahasan ini dan telah dibahas secara terperinci dalam pokok-pokok bahasan filsafat dan ephystemologi (bisa dirujuk dalam buku karya penulis tentang filsafat. pen). Oleh karenanya disini yang hanya bisa kita singgung adalah bahwa segala hal yang berhubungan dengan keilmuan manusia jika seratus persen hanya bertumpu pada hal-hal yang bersifat inderawi (empiric) saja tanpa bersandar pada sisi rasionalitas, maka tentu kita tidak dapat menerimanya. Dikarenakan untuk membuktikan benar-salah suatu permasalahan tidak cukup hanya dengan penginderaan dan eksperimen saja -akan tetapi melalui pendekatan rasiopun kebenaran bisa diketahui – kesalahan suatu proposisi bisa dilihat sebagaimana dalam berbagai pokok bahasan yang berhubungan dengan matematika ataupun filsafat- tentu pendapat diatas tidak bisa kita terima. Selain itu dengan bersandar pada kejelasan esensial jiwa (conscience/wujdan) kita bisa dengan jelas membedakan antara proposisi-proposisi seperti “Tuhan ada” , “dilarang berlaku zalim” , “harus sholat” dan “cahaya lampu asam rasanya”. Jika proposisi pertama, kedua dan ketiga tidak memiliki arti sama sekali maka, tentu dengan yang terkandung dalam proposisi keempat dilihat dari sisi artinyapun tidak terdapat perbedaan dengan yang sebelumnya.

Sewaktu ajaran-ajaran agama dikatakan logis dan bisa dipertimbangkan dari sisi pembenaran dan penafiannya maka soalan semulapun kembali bisa dimunculkan yaitu diantara tiga ajaran; “Tuhan tiada” dan “Tuhan Esa” dan “Tuhan tiga (berbilang)”. Bagaimana mungkin semua itu bisa digabung dan ditemukan serta dihukumi benar? Dan apakah benar bahwa sesuai dengan asas-asas pluralisme ketiga proposisi tentang keyakinan tadi semuanya bisa dihukumi benar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s