Argumen Pemikiran Pluralisme

Oleh: Ayatullah Taqi Mishbah Yazdi

Tanya: Argumen apakah yang digunakan oleh pendukung pemikiran pluralisme dalam menetapkan pendapat mereka?

Jawab: Pertama harus kita ketahui bahwa para pemrakarsa pemikiran pluralisme memberikan banyak sekali argumen mulai argumen rasional, historis, sastra, Al-Qur’an,….dst. Tentu, kita tidak bisa sebut satu persatu dalam kesempatan yang terbatas ini, cuma hanya beberapa saja yang akan kita sebutkan.

Para pendukung pluralisme mereka sering menggunakan tiga sarana dibawah ini sebagai alat bantu untuk menguatkan pendapat mereka, tiga hal tadi adalah:

  1. Pluralisme dalam masalah politik, sosial dan ekonomi.
  2. Relativitas semua norma-norma yang ada.
  3. Relativitas ilmu pengetahuan (knowledge).

  Pada kesempatan ini akan kita perjelas satu persatu dari tiga hal diatas secara ringkas:

  1. (a) Pluralisme politik dan sosial: Sekarang ini, dimana adanya berbagai macam negara-negara didunia dan dengan berbagai macam pula bentuk pemerintahannya mulai dari kerajaan, republik, parlementer…dst. Setiap bentuk pemerintahan memiliki cara sendiri-sendiri dalam mengatur jalannya roda pemerintahan.

Dalam pembahasan filsafat politik, sewaktu kita dihadapkan pada pertanyaan; manakah bentuk pemerintahan yang ideal? Tentu, jawaban yang pas tidak akan pernah kita dapati, karena setiap bentuk tadi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Sebagaimana sekarang ini demokrasi merupakan perkara yang bisa diterima oleh banyak kalangan, dan disebutkan bahwa masyarakat bisa turut serta berpartisipasi aktif dalam mengatur jalannya pemerintahan hanya dengan melalui partai-partai yang ada. Jika sebuah partai mendapat suara terbanyak lantas ia terus-menerus dapat memegang kendali pemerintahan maka, tentu hal semacam itu tidak bisa diterima. Akan tetapi partai tersebut harus terlebih dahulu menghadapi pertarungan suara dan adu pendapat sehingga setiap partai bisa berkuasa pada waktu tertentu. Oleh karenanya pluralisme dalam partaipun sekarang ini juga diakui.    

(b) Pluralisme ekonomi: Menilik dari sisi ekonomi, dengan adanya beberapa kutub yang berbeda-beda akan mengakibatkan hilangnya kesewenang-wenangan dari beberapa kelompok tertentu. Sedang dari sisi perkembangan dan perluasan ekonomi harus tetap ada pada beberapa kelompok kekuatan ekonomi yang terdapat dalam masyarakat.

Sebagaimana yang telah disinggung seperti dalam masalah-masalah diatas, para pendukung pluralisme berusaha menyamakan permasalahan agama dengan perkara-perkara politik, ekonomi dan partai. Sehingga dari situ mereka berkesimpulan bahwa dalam segala aspek sosial diperlukan pluralitas, oleh karenanya hal itu harus dimunculkan dan dikembangkan. Sebagaimana yang telah kita singgung dalam tanya-jawab sebelumnya bahwa analogy semacam itu merupakan suatu kesalahan.

  1. Relativitas norma-norma yang ada: Banyak sekali kita dapati beberapa permasalahan dan ilmu pengetahuan dimana dalam sisi penerapannya tidak mungkin bisa berbilang. Tidak mungkin adanya beberapa pandangan yang bisa kita yakini kebenarannya secara bersamaan. Pembahasan kimia, biologi, matematika dan arsitektur adalah termasuk bagian dari hal tadi. Melihat kenyataan semacam itu maka kita akan bertanya kepada pembela pluralisme; kenapa anda menyamakan antara permasalahan agama dengan ekonomi ataupun politik? Kenapa anda tidak menyamakan antara permasalahan agama dengan permasalahan-permasalahan biologi atau matematika dimana tidak ada jawaban yang benar kecuali satu? Sebagaimana hukum yang dihasilkan dari ungkapan semisal; Apakah sudut bisa menerima cahaya atau tidak, sisinya sama atau tidak, dua kali dua apakah empat atau bukan? Sebagaimana semua pertanyaan itu bisa kita dapati pula  dalam kaitannya dengan agama; Apakah Tuhan ada atau tiada? Tentu, hanya satu jawaban yang benar dan tentu tidak bisa kita terima jawaban benar yang plural. Disini para pluralis menjawab dengan poin lain yaitu dengan melontarkan permasalahan berkisar tentang manusia, norma dan budaya dimana masalah agama masuk dalam kategori tersebut yang lebih bersifat abstrak dan tidak memiliki realita dikarenakan tergantung pada kecenderungan manusia itu sendiri. Contoh dari hal tersebut adalah sebagaimana kita tidak bisa menilai bahwa warna hijau atau kuning adalah warna terbaik diantara warna-warna yang ada, atau bau tertentu lebih baik, atau makanan tertentu, fulan lebih menarik dari orang lain, cuaca tertentu lebih bagus ataupun adat istiadat masyarakat Cina atau Jepang lebih bagus dibanding dengan adat istiadat masyarakat negara-negara Afrika umpamanya. Perkara yang menyangkut masalah agama juga memiliki hukum yang sama pula, umpamanya; tidak bisa dikatakan secara pasti apakah sholat menghadap ke Makkah lebih bagus atau menghadap Baitulmaqdis, Islam lebih baik atau Kristen, tauhid dan agama Tuhan lebih bagus atau trinitas ataupun materialis. Semua permasalahan tadi dari ribuan permasalahan lain semacam ini tergantung pada kecenderungan dan kebiasaan masyarakat, dimana realitanya hanya tergantung pada hasrat dan keinginan manusia yang bersangkutan saja oleh karenanya ada kemungkinan berubah. Boleh jadi pada waktu tertentu warna hijau menjadi warna favoritnya, sedang diwaktu lain warna kuning dan kesempatan lain warna merah muda. Pada masyarakat tertentu duduk menjadi bukti penghormatan tapi dikomunitas lain justru berdiri menjadi bukti penghormatan sedang dinegara lain memiliki adat lain pula.
  2. RelatiVitas pengetahuan (knowledge): Asas ketiga yang dijadikan sandaran kaum pluralis adalah masalah relativitas pengetahuan. Dua asas yang telah disinggung diatas tadi bertumpu pada asas ini pula. Oleh karenanya, asas ini dianggap sebagai asas terpenting dari sekian asas-asas yang ada. Mereka berpendapat bahwa bukan hanya pengetahuan tentang norma-norma saja yang relatif, akan tetapi mencakup semua pengetahuan. Dengan bahasa yang lebih gamblang tidak ada pengetahuan tanpa relativitas. Walaupun dalam beberapa permasalahan tampak jelas sekali tapi dalam permasalahan lain masih tampak agak samar. Relativitas bisa ditemui dalam segala pengetahuan yang bersifat obyektif maupun semua yang berhubungan dengan pengetahuan manusia, juga segala ilmu pengetahuan kita yang terdapat hubungan dan saling berkaitan satu dengan yang lain. sebagaimana perubahanpun bisa terjadi pada segala susunan pengetahuan manusia yang berkaitan dengan cabang-cabang semua disiplin ilmu.

Bisa ditambahkan bahwa yang terjadi ditengah masyarakat kita sekarang ini selain yang telah kita sebutkan tadi ada beberapa oknum yang zahirnya nampak sebagai seorang muslim dan berjiwa agamis  mereka berusaha untuk menetapkan keyakinan ini dengan menggunakan pemahaman-pemahaman agama dan teks-teks suci keagamaan. Dalam banyak kesempatan merekapun menggunakan dalil-dalil sastra maupun syair-syair seperti karya Maulawi (Jalaluddin rumi.pen) atau Atthar yang digunakan untuk berdalil pada setiap pandangan mereka. Sedang disitu terdapat poin-poin yang mereka lalaikan dengan tanpa mereka disadari. Padahal jika diteliti lebih lanjut, niscaya banyak sekali peluang-peluang untuk bisa menkritisi pemikiran mereka. Dimana dalam buku inipun ada beberapa poin yang sempat kita singgung.        

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s