Sumpah dengan Selain Nama Tuhan

Oleh: Najmu al-Din Thabasi

Pandangan Wahhabi tentang Sumpah dengan Selain Nama Tuhan

Para Wahhabi melarang sumpah dengan selain nama Allah. Sebagian mereka bahkan menganggap sumpah seperti ini sebagai suatu kesyirikan. Akan tetapi sebagian yang lain mengatakan sebagai syirik kecil.

Ibnu Taimiyyah berkata, “Syirik itu ada dua macam:

 

  1. Syirik Besar. Syirik ini memiliki bagian-bagian yang diantaranya adalah meminta syafaat kepada makhluk dan bertawassul.
  2. Syirik Kecil. Seperti riya’ dan sum’ah (riya’ dengan kata-kata). Bagitu pula bersumpah dengan nama selain Tuhan. Karena telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar yang berkata bahwa Rasulullah saww bersabda, “Siapa yang bersumpah dengan nama selain Tuhan, maka ia telah terjerumus dalam kesyirikan.” Syirik kecil ini tidak mengeluarkan seseorang dari agama, akan tetapi harus bertaubat darinya.”[1]

Shan’aanii dalam kitab Tathhiiru al-I’tiqaad, setelah menerangkan tentang “Quburiyyuun” (orang-orang yang beribadah di kuburan) dan menganggap bahwa cara mereka itu sama dengan cara-cara musyrikin dan tradisi mereka, hingga karena itu mereka dihukumi sebagai musyrik, ia berkata, “Mereka itu –Quburiyyuun– biasa melakukan sumpah atas nama selain nama-nama Tuhan. Dan bahkan kalau ada satu orang yang ingin menguatkan posisinya dalam suatu perkara lalu bersumpah dengan nama Allah, maka mereka tidak mempercayainya. Tapi kalau dia bersumpah atas nama salah satu dari wali yang ada diantara mereka, maka mereka langsung mempercayainya. Inilah yang dikatakan menyembah berhala itu.”[2]

 

Mengkritisi Pandangan Wahhabi

Sumpah atas nama selain Tuhan, sudah dilakukan oleh Tuhan, Nabi saww, para shahabat, taabi’iin dan semua kaum muslimin –dari dulu kala sampai hari ini. Penjelasannya sebagai berikut:

 

Sumpah-sumpah Tuhan di dalam al-Quran

Tuhan dalam al-Quran sering bersumpah dengan makhlukNya. Seperti, “Demi masa”; “Demi kuda yang berlari kencang”; “Demi malaikat yang mencabut nyawa mukminin dengan kelembutan”; “Demi malaikat-malaikat yang dikirim dengan terus menerus”; “Demi angin”; “Demi perahu-perahu”; “Demi buah tiin”; “Demi pagi”; “Demi langit yang dipenuhi bintang-bintang”; “Demi fajar dan sepuluh hari”; “Demi pena”; “Demi hari kiamat”; “Demi bintang-bintang yang kembali dan bergerak dan lenyap dari penglihatan”[3]; “Demi dirimu –Muhammad”[4]

Mungkin ada orang yang berkata, “Bolehnya Tuhan bersumpah dengan selain DiriNya, tidak bermakna bahwa selainNya juga boleh melakukannya.”

 

Jawaban

Sumpah Tuhan atas nama makhluk-makhlukNya itu, menandakan bahwa sumpahnya manusia atas nama makhluk, bukan merupakan keburukan sedikitpun. Dan kalaulah Tuhan, ketika bersumpah atas nama makhlukNya, telah menjadikan makhlukNya itu sebagai sekutu bagi DiriNya, dan Ia sendiri telah melakukan syirik kecil (na’udzu billah), namun demikian, manusia yang mengikutiNya melakukan sumpah atas nama makhlukNya itu, sama sekali tidak melakukan keburukan (karena telah mengikuti Tuhan).

Karena itu, kami dengan tegas mengatakan, “Kalau manusia dianggap melakukan keburukan kerena telah menyekutukanNya, yaitu dengan bersumpah atas nama makhlukNya, maka perbuatan itu tetap tidak baik sekalipun dilakukan oleh Tuhan sendiri. Karena, kalau pada hakikatnya bersumpah dengan makhlukNya itu adalah syirik dan merupakan penyerupaan terhadapNya, maka sekalipun hal itu dilakukan oleh Tuhan itu sendiri, tetap merupakan kesyirikan dan penyerupaan.”[5]

 

Sumpah Nabi saww dengan Selain Tuhan

1. Seseorang mendatangi Nabi saww dan berkata, “Pahala sedekah yang mana yang pahalanya lebih besar?” Beliau menjawab: “Aku bersumpah demi ayahmu, sedekah tersebut adalah sedekah yang kamu lakukan dikala kamu dalam keadaan kikir (sangat menyayanginya),  takut miskin dan mendambakan kekalnya kelestarian!”[6]

2. Seseorang dari daerah Najd (daerah asal keluaga Aali Saud yang menjadi pusat Wahhabi di masa mendatang dan menjajah seluruh jazirah Arab, pentj) mendatangi Nabi saww dan bertanya-tanya tentang Islam. Nabi saww bersabda, “Dasar-dasar Islam itu adalah sebagai berikut:

 

a.     Lima kali shalat sehari semalam.” Orang Najd itu bertanya: “Apakah masih ada shalat selainnya?” Beliau menjawab: “Ada, akan tetapi hukumnya sunnah;

b.     Berpuasa di bulan suci Ramadhan.” Orang tadi bertanya: “Apakah masih ada lagi puasa lainnya?” Nabi saww menjawab: “Ada, akan tetapi sunnah;

c.      Membayar zakat.” Orang itu bertanya: “Apakah ada zakat yang lainnya?” Beliau menjawab: “Ada, akan tetapi sunnah.” Orang tadi beranjak dari hadapan Nabi saww sambil berkata: “Aku tidak akan mengurangi dan menambahinya.” Rasulullah saww bersabda: “Demi ayahnya aku bersumpah, bahwa kalau ia melakukannya, maka ia termasuk orang-orang yang shaadiq (jujur/benar).” Atau bersabda, “Demi ayahnya aku bersumpah, bahwa kalau ia melakukannya, maka ia akan memasuki surga.”[7]

 

Pandangan Qastilaanii

Ia menukil dari Ibnu ‘Abdu al-Bir yang berkata, kalimat “Demi ayahnya aku bersumpah bahwa dia akan berhasil” adalah hadits mungkar (harus ditolak) dan tidak bisa dipelihara. Karena hadits ini tidak ada (tertolak) di kitab-kitab hadits shahih.”[8]

 

Jawaban

Hadits ini tidak tertolak (mungkar), karena hadits pertama “Demi ayahmu aku bersumpah” menguatkannya.

Ibnu ‘Abdi al-Bir berkata, “Bisa saja haditsnya berbentuk seperti ini ‘Dia akan berhasil, demi Tuhan ayahmu aku bersumpah’. Kemudian berubah menjadi ‘demi ayahmu aku bersumpah’ dalam periwayatannya.”

Qastilaanii dalam menjawab perkataan Ibnu ‘Abdi al-Bir ini berkata, Perkataan dia ini, walaupun ia bisa merupakan kemungkinan, akan tetapi dengan kemungkinan-kemungkinan saja, tidak bisa membuktikan kebenaran sesuatu. Dalam suatu riwayat dikatakan: Ketika perhiasan anak Abu Bakar dicuri orang, Abu Bakar berkata, “Demi ayahmu aku bersumpah, bahwa orang yang beribadah di tengah malam seperti ini, tidak mungkin seorang pencuri.”[9]

Qatilaanii meneruskan, Paling bagusnya jawaban untuk hal ini adalah jawaban yang diberikan oleh Baihaqii dan Nawawii dan yang lainnya. Yaitu, kata-kata seperti “Demi ayahmu aku bersumpah”, adalah kata-kata kebiasaan Arab yang tidak memiliki maksud sesungguhnya. Atau kalimat itu menyimpan bagian kata yang tidak disebutkan (ditaqdiirkan) dimana asalnya “Demi Tuhan ayahmu aku bersumpah”. Dan ketika sering kali dipakai, maka lama-lama dipendekkan menjadi “Demi ayahmu aku bersumpah”.[10]

Sayyid Muhsin Amiin ra dalam menjawab penjelasan di atas mengatakan, “Setiap saat orang-orang Arab mengatakan kalimat di atas –‘Demi ayahmu aku bersumpah’- memiliki tujuan sumpah. Karena kalau tidak, sungguh tidak berarti seseorang mengatakan suatu kalimat, akan tetapi ia tidak memaksudkan maknanya. Dan yang kalian katakan bahwa ada kemungkinan menyembunyikan suatu kata yang tidak disebutkan, sama sekali tidak didukung oleh sebuah dalil ilmiah sekalipun.”[11]

 

Sumpah Abu Thaalib dan Dukungan Rasulullah saww

Abu Thaalib ra dalam syairnya yang disajikan untuk Rasulullah saww telah memuat sumpah dengan selain nama Tuhan. Sementara Nabi saww tidak menentang sumpahnya (berarti ditaqriir Nabi saww). Ia berkata:

Demi rumah Tuhan aku bersumpah

kalian dusta kala katakan aku

Harus lepaskan dan serahkan Ahmad[12]

Perbuatan Para Shahabat

1. Abdullah bin Ja’far

Ia berkata, “Setiap saat aku meminta sesuatu dari pamanku Ali as dan beliau tidak memberinya, maka aku ucapkan kata-kata ini: ‘Aku bersumpah demi Ja’far.’ Begitu beliau mendengar kata-kata ini, maka beliau langsung mengabulkannya.”

Imam Ali as tidak menegur dan tidak menyalahkan ‘Abdullah sekalipun ia melakukan sumpah atas nama Ja’far. Akan tetapi bahkan mengabulkan permintaannya.[13]

2. Abu Bakar

Ia berkata terhadap seorang yang diduga pencuri, “Aku bersumpah demi ayahmu bahwa orang yang beribadah malam hari seperti ini, tidak mungkin seorang pencuri.”[14]

3. Imam Ali as

Beliau dalam suratnya ke Mu’aawiyah berkata, “Aku bersumpah demi jiwaku, wahai Mu’aawiyyah, bahwasannya kalau kamu menjauhkan diri dari hawa nafsumu dan menggunakan akalmu, maka kamu akan lihat bahwa aku paling bersihnya orang dari dugaan ikut dalam pembunuhan ‘Utsmaan.”[15]

Imam Ali as dalam suratnya yang lain kepada Mu’aawiyyah berkata, “Aku bersumpah demi jiwaku, bahwasannya kalau kamu tidak berhenti dari menyesatkan masyarakat dan membuat perpecahan, maka kamu akan lihat dengan cepat bahwa kamu akan dituntut mereka.”[16]

4. Sumpah Mu’aawiyyah dengan selain Tuhan

Mu’aawiyyah dalam suratnya kepada Imam Ali as menulis, “Kalau kamu wahai Aba al-Hasan membuat peperangan demi mendapatkan pemerintahan dan kekhalifaan, maka aku bersumpah demi jiwaku, bahwa kamu secepatnya akan menghadapi kaum muslimin dalam peperangan.”[17]

5. Imam Husain bin Ali as

Beliau berkata dalam sebuah puisinya:

Aku bersumpah atas kecintaanku pada rumah

Yang Sukainah dan Rubaab tinggal di dalamnya.”[18]

6. Ali Akbar bin Husain as

Beliau di peperangan Karbala berkata dalam syairnya:

Aku adalah ‘Ali bin Husain bin ‘Ali

Aku bersumpah demi rumah Tuhan

Bahwa kami lebih layak pada

Nabiyyullah dari yang lainnya[19]

7. Abdullah bin ‘Umar al-‘Unsaa

Ia salah seorang ahli ibadah pada jamannya. Ketika ia mendengar ‘Umar bin ‘Aash menukil riwayat tentang ‘Ammaar –bahwa dia akan dibunuh kelompok yang lalim- maka di kegelapan malam ia keluar dari tentara rombongan Mu’aawiyyah dan menjadi anggota tentara Imam Ali as dan iapun meriwayatkan hadits itu pada orang-orang.

Ia merangkai apa yang dia dengar itu dalam bentuk puisi:

Aku bersumpah demi penunggang gagah yang maju perang

Telah terbukti apa yang diriwayatkan ‘Umar dari Nabi

Apapun yang disabdakannya tentang seseorang

Tak ada keraguan, sungguh tak perlu bingung[20]

8. Masruuq

Ia bertanya kepada ‘Aaisyah, “Aku bersumpah demi kubur Nabi saww, katakan padaku apa yang kamu dengar tentang golongan Khawaarij (keluar dari pasukan Imam Ali as) dari Rasulullah!”

‘Aaisyah berkata, Aku mendengar Rasulullah saww bersabda, “Khawaarij adalah golongan yang memiliki paling buruknya perangai dan karakter. Mereka akan membunuh orang yang memiliki paling baiknya perangai dan akhlak serta paling dekatnya perantara ke sisi Allah.”[21]

Disini Masruuq bersumpah atas nama kubur Nabi saww dan ‘Aaisyahpun tidak menyalahkannya.

 

Kritikan Terhadap Hadits ‘Abdullah bin ‘Umar

Turmudzii meriwayatkan, Ibnu ‘Umar mendengar suara lelaki yang berkata, “Aku bersumpah demii Ka’bah.” Ibnu ‘Umar berkata kepadanya: “Jangan bersumpah atas nama selain Tuhan! Karena aku mendengar dari Rasulullah saww yang bersabda: ‘Barang siapa yang bersumpah atas nama selain Tuhan, maka ia telah kafir.’”[22]

Dan di dalam sebagian riwayatnya dikatakan: “…, maka ia telah menjadikan sekutu bagiNya dan telah kafir.”

Kalaulah riwayat ini tidak memiliki problem sanad, maka harus diartikan sebagai makruh keras, bukan haram. Atau bisa juga diartikan bahwa kekafiran dari penyumpah itu karena memang ia mengimani yang dikatakannya itu, yakni ketuhanan selain Tuhan yang dijadikan sumpahnya tersebut. Hal seperti ini adalah penyerupaan Khaaliq dengan makhluuq yang menyebabkan kekafiran.

Qastilaani berkata, “Perkataan kafir pada hadits di atas adalah kata-kata hiperbolik. Apakah larangan ini adalah larangan haram atau makruh? Umumnya ulama madzhab Maaliki mengatakan, “Riwayat di atas itu menunjukkan kemakruhan.” Madzhab Hanbali berpendapat “Menunjukkan keharaman.” Sedang ulama-ulama Syaafi’ii memahami dari hadits itu sebagai kemakruhan. Sebagian ulama lainnya memiliki pendapat yang merinci keduanya. Mereka berkata, “Kalau yang bersumpah itu meyakini bahwa makhluk yang dijadikan sumpahnya itu memiliki pengaruh, maka sumpahnya menjadi haram dan, secara tidak langsung ia telah kafir. Akan tetapi kalau ia tidak meyakini seperti itu dan hanya menghormatinya sesuai yang dimiliki makhluk (seperti orang tua yang mesti dihormati anaknya), maka sumpahnya tidak akan membuatnya menjadi kafir.”[23]

 

Problem Sanad

Dalam rentetan perawi haditsnya, tersusun seperti ini: Ahmad dari Sulaimaan bin Hayyan dari Hasan bin ‘Abdullah, dari Sa’d bin ‘Ubaadah dari Ibnu ‘Umar yang berkata, “Aku mendengar seseorang yang … “

Para ulama Rijal berbeda pandangan tentang Sulaimaan bin Hayyaan. Telah dinukilkan pandangan Ibnu Mu’iin dan Ibnu ‘Uddaa yang berkata, “Ibnu Hayyaan adalah seorang yang sangat jujur. Akan tetapi hadits-haditsnya tidak bisa dijadikan dalil. Karena ia memiliki hafalan yang jelek hingga tidak bagus dalam meriwayatkan hadits.”

Di dalam mukaddimah kitab Fathu al-Baarii, telah dinukil dari Bazzaar[24] yang berkata, “Para ulama ilmu telah bersepakat bahwa Sulaimaan bin Hayyaan bukan seorang Haafizh (penghafal hadits).[25]

Dengan demikian, maka kita tidak bisa memakai hadits ini sebagai dalil dalam agama.

 

 


[1] Rasaailu al-Hadiyyati, hal 25. Para penentang sumpah dengan nama selain Tuhan ini menyandarkan pendapatnya kepada dua riwayat dimana salah satunya adalah yang telah dinukilkan di atas (di naskah buku). Dan hadits kedua adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Maajah, jld 1, hal 277; Sunan Turmudzii, jld 4, hal 109; Nasaai, jld 7, hal 4 dan 5; Sunan al-Kubraa, jld 10, hal 29, yang berbunyi, Rasulullah saww mendengar ‘Umar yang berkata: “Demi ayahku.” Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya Allah telah melarang kalian bersumpah dengan ayah-ayah kalian. Karena itu, siapa yang mau bersumpah, maka bersumpahlah atas nama Allah atau diamlah!”

Hadits ini, tidak bisa dijadikan dalil bagi dakwaan mereka. Sebab kekeliruan mereka ini tidak lain kecuali karena mereka itu telah meninggalkan tali kecil Tuhan (al-Tsiqlu al-Ashgar, yakni keluarga Nabi saww) dan tidak mengamalkan wasiat Nabi saww.

Jawaban terhadap dakwa mereka adalah sebagai berikut, Sesungguhnya, Nabi saww melarang mereka dari bersumpah atas nama ayah mereka, karena secara umum ayah mereka itu adalah orang-orang kafir dan penyembah berhala. Oleh sebab itulah maka ayah-ayah mereka, tidak memiliki kedudukan di sisi Tuhan hingga layak dijadikan sumpah.

Selain itu, bagi orang yang mengaku sampai ke makam ijtihad, tidak selayaknya dalam menyimpulkan hukum fikih, hanya mengandalkan satu hadits lalu mengeluarkan fatwa. Akan tetapi sudah semestinya untuk membandingkannya dengan hadits-hadits lain yang seirama, baru kemudian mengeluarkan fatwa. Padahal Ibnu Taimiyyah dan pengikutnya hanya mengandalkan satu hadits ini dan meninggalkan yang lainnya kemudian –sesuai khayal mereka- mengeluarkan fatwa.

Sementara itu terdapat hadits-hadits lain di Sunan Ibnu Maajah (jld 1, hal 278), Sunan Nasaai (jld 7, hal 7), yang menguatkan pendapat kami itu. Misalnya: “Jangan bersumpah atas nama ayah, ibu dan berhala!”; “Jangan bersumpah atas nama ayah-ayah kalian dan atas nama berhala-berhala!”

Dengan memperhatikan hadits-hadits ini, maka maksud Rasulullah saww yang terdapat di hadits yang melarang ‘Umar bersumpah atas nama ayahnya itu, dapat lebih dipahami. Yaitu pelarangan terhadap sumpah atas nama lambang-lambang kemusyrikan. Dengan dalil bahwa pelarangan terhadap sumpah atas nama berhala- berhala itu disertakan dan diseiringkan dengan pelarangan terhadap sumpah atas nama ayah. Artinya, yang dilarang itu adalah sumpah atas nama lambang-lambang kemusyrikan. Karenanya, maksud pelarangan Nabi saww tersebut ditujukan kepada obyek khusus, yaitu penyumpah yang didengar beliau –‘Umar (yakni pelarangannya hanya karena kafirnya ayah Umar). Artinya tidak ada larangan untuk melakukan sumpah atas nama orang-orang suci seperti pada nabi (atau ayah kalau mukmin atau shalih).

[2] Kasyfu al-Irtiyaab, hal 268.

[3] Hijr, ayat ke: 73.

[4] Selain itu, dalam al-Quran terdapat 40 sumpah Tuhan atas nama makhlukNya. Sekarang, bisakah dikatakan bahwa Tuhan kita yang melarang segala macam jenis kesyirikan itu, ternyata DiriNya sendiri jatuh ke dalamnya?!

[5] Pernyataan ini merupakan penolakan terhadap pandangan Qastilaanii dalam kitab Irsyaadu al-Saarii, yang berkata, “Tuhan boleh melakukan sumpah atas nama masing-masing makhlukNya. Akan tetapi tidak boleh dilakukan oleh makhluk itu sendiri. Penyair berkata:

Adalah buruk kalau dilakukan selainMu

Tapi baik kalau dilakukannya olehMu”

Pernyataan Qastilaanii  ini, dan orang-orang yang seperti dia, disebabkan oleh pengingkaran mereka terhadap baik buruknya suatu perbuatan secara substansial atau hakikatnya. Karena itu mereka mengatakan bahwa apapun yang dilakukan Tuhan itu baik. Akan tetapai bukan karena perbuatan tersebut memang baik, melainkan karena Tuhan pelakunya.

[6] Shahiih Muslim, jld 4, hal 419.

(أَمَا وَأَبِيكَ لَتُنَبَّأَنَّهُ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْبَقَاءَ)

[7] Shahiih Muslim, jld 4, hal 224.

Masih banyak contoh lain dalam kitab-kitab yang lainnya, seperti:

(a). (وأبيك لو طعنت في فخذها لأجزأ عنك)

“Demi ayahmu aku bersumpah, seandainya kamu melihat pahanya, maka cukuplah itu bagimu.” (Sunanu al-Kubraa, jld 9, hal 246; Taariikhu Baghdaadin, jld 12, hal 377.)

(b). (لعمري ما نفعناك لتنزل عنه)

“Aku bersumpah demi jiwaku, tidaklah aku memberi manfaat padamu (membeli untamu) agar kamu turun darinya.” (Majma’u al-Zawaahid, jld 9, hal. 12.)

(c). (فلعمري لئن قلتم في إمارته لقد قلتم في إمارة أبيه)

“Demi jiwaku aku bersumpah, kalau kalian mencernya –Utsaamah- dalam kepemimpinannya (karena dengki), maka sesungguhnya kalian telah pula mencerca ayahnya –kepemimpinannya- sebelum ini.” (al-Thabaqaatu al-Kubraa, jld 4, hal 48.)

(d). (فَلَعَمْرِي لَأَنْ تَكَلَّمَ بِمَعْرُوفٍ وَتَنْهَى عَنْ مُنْكَرٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَسْكُتَ)

“Demi jiwaku aku bersumpah, bahwa kalau kalian berkata-kata dalam rangka menganjurkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, maka lebih baik dari pada kalian diam.” (Musnad Ahmad, jld 5, hal 225)

(e). (لعمري اني لاولكم قوما)

“Aku bersumpah demi jiwaku, bahwa aku adalah lebih utama dari kalian dalam kaum.” (Masaaniid, jld 2, hal 619.)

[8] Irsyaadu al-Saarii, jld 9, hal 357.

[9] Maalik dalam kitabnya al-Muwaththa’ meriwayatkan hadits di atas dalam fersi yang berbeda, yaitu:

Seseorang datang ke Madinah untuk mengadukan gubernur Yaman dengan berkata: “Gubernur Yaman telah memotong tangan dan kakiku dengan alasan mencuri.” Ia, pada malam harinya, sibuk melakukan ibadah. Ibadahnyapun telah memancing perhatian khalifah -Abu Bakar- yang berkata kepadanya: “Demi ayahmu aku bersumpah bahwa orang yang beribadah seperti ini tidak mungkin seorang pencuri di malam hari.” (Muwaththa’ Maalik dengan syarahan Zarqaanii, jld 4, hal 159, hadits ke: 580.)

[10] Kasyfu al-Irtiyaab, hal 271.

[11] Ibid.

[12] Iimaanu Abi Thaalib, hal 339, karya Fakhkhaarii bin Mu’id Muusawii; Muniyyatu al-Raaghib Fii Iimaani Abii Thaalib, hal 122, karya almarhum Ayatullah Muhammad Ridhaa Thibbii; Syarhu Nahju al-Balaaghah, jld 14, hal 79, karya Ibnu Abi al-Hadiid.

Kekeliruan dari sebagian ulama Sunni adalah menganggap bahwa ayah imam ‘Ali as, yaitu Abu Thaalib, sebagai seorang kafir dan berkata: “Abu Thaalib ketika mati, mati dalam keadan kafir.”Banyak sekali dalil yang menunjukkan ke-Islaman Abu Thaalib. Sedang dalam pandangan Syi’ah merupakan ijma’ –terhadap Islamnya- sesuai dengan berbagai riwayat yang telah diriwayatkan dari para imam Ahlulbait as yang berkata, “Abu Thaalib tidak pernah menyembah berhala. Bahkan ia termasuk dari salah satu pewaris Khaliilullah –Nabi Ibrahim as”

Begitu pula diriwayatkan, “Ia telah beriman kepada Nabi saww sejak awal kenabian beliau.”

Miir Sayyid ‘Alii Hamadaanii dalam kitab Mawaddatu al-Qurbaa meriwayatkan hadits dari Rasulullah saww yang bersabda, Jibril as turun kepadaku dan berkata: Allah mengirimkan salam untukmu dan berfirman, “Sesungguhnya Aku telah mengharamkan api neraka kepada tulang sulbi yang telah menurunkanmu, perut yang telah mengandungimu dan pengasuh yang telah mengasuhmu.”

Maksud dari sulbi adalah ‘Abdullah, perut adalah Aaminah dan pengasuh adalah ‘Abdu al-Muthallib dan Abu Thaalib as. Yang sangat mengherankan adalah, semestinya kita harus mendengar sendiri dari orangnya tentang keIslaman seseorang, dan sekarang ia berkata: “Aku seorang muslim; Tuhanku satu; Kitabku Qur an.”, dan semacamnya, akan tetapi setelah itu harus dikatakan kepadanya bahwa: “Kamu adalah kafir.”??!

Allah dalam surat al-Nisaa’, ayat: 94, berfirman, “Jangan kalian katakan kepada orang-orang yang mengucap salam kepada kalian: ‘Kamu bukan seorang muslim.’”

Hadhrat Abu Thaalib, dalam berbagai kesempatan telah menjelaskan keislaman dirinya. Ibnu Abi al-Hadiid, pensyarah kitab Nahju al-Balaaghah, di jilid tiganya, menukilkan puisi Abu Thaalib yang berbunyi:

Wahai Allah yang menyaksikanku, saksikanlah

Sesungguhnya aku dalam agama Ahmad

Siapapun beragama sesat, maka aku selamat

Kalian dusta, demi rumah Tuhan aku bersumpah (Maksudnya, para kafir itu berdusta manakala mengatakan bahwa Abu Thaalib ra akan meninggalkan Nabi saww, pentj.)

Sampai Hathim dan Zamzam penuh tengkorak (Maksudnya, Abu Thaalib akan tetap membantu Nabi saww walau ia harus syahid dan memenuhi sumur Zamzam dengan badannya dan badan seluruh keluarganya, pentj.)

Nabi dizhalimi padahal, datang dengan hidayah

Yang berkata “Pemilik ‘Arsy mengirimku”

Dia dibantu Tuhannya segenap manusia

Deklarasikan agama hak tanpa kebatilan

Ibnu Abi al-Hadiid dalam kitab Syarahnya terhadap kitab Nahju al-Balaaghah, menukilkan, bahwa imam ‘Ali as berkata, Ketika Abu Thalib meniggal dunia, aku mengabarkan kepada Rasulullah saww. Beliau menangis tersedu-sedu, lalu bersabda, “Mandikanlah, kafanilah dan kuburkanlah, Tuhan mengampuni dan merahmatinya.”

Apakah Nabi saww memintakan ampunan untuk orang kafir sementara Tuhan berfirman: “Allah tidak mengampuni dosa syirik.”??!

Ibnu Abi al-Hadiid, dalam memuji Abu Thaalib dan anaknya –Imam Ali as- menulis puisi yang isinya:

Kalau bukan karena Abu Thaalib dan anaknya

Islam tak kan dikenali dan tiada penolongnya

Ibnu Atsiir dalam kitab Jaami’u al-Ushuul berkata, “Paman-paman Nabi saww tidak ada yang masuk Islam kecuali Hamzah, ‘Abbaas dan Abu Thaalib, menurut madzhab Ahlulbait as. Lalu mengapa sebagian ulama Ahlussunnah mengatakan bahwa Abu Thaalib meninggal dunia dalam keadaan kafir??! Sandaran mereka-mereka ini pada suatu hadits palsu yang dibuat oleh tipu daya kerajaan Bani Umayyah yang mengatakan: ‘Abu Thaalib terbakar dalam jurang api -neraka.’ Dalam sanad hadits ini terdapat orang yang bernama Mughiirah bin Syu’bah yang dikenal dengan orang faasik (keji), faajir (penzina) dan salah satu dari musuh imam ‘Ali as. Dia adalah orang dekatnya Mu’aawiyah bin Abi Sufyaan.”

Ibnu Abi al-Hadiid dalam kitabnya Syarhu Nahji al-Balaaghati, jld 3, dan Mas’uudii dalam kitabnya Muruuju al-Dzahabi, dan yang lainnya, menuliskan, “Mughiirah berzina di Bashrah. Saksi yang datang kepada Umar, hanya tiga orang. Sementara orang ke empatnya sebegitu rupa bersaksi hingga dari kata-katanya dapat dipahami bahwa ia, sebenarnya, tidak ingin bersaksi. Karena itu Khalifah Umar melepaskan Mughiirah dan menghukum cambuk ketiga saksi itu. Mughiirah terkenal dengan seorang pemabok.”

Orang lain yang ada dalam deretan sanad hadits itu, diantaranya bernama, Sufyaan Tsauri, ‘Abdu al-Malik bin ‘Umair dan ‘Abdu al-‘Aziiz Daraawardii, dimana kebanyakan para ulama ilmu Rijaal Ahlussunah sendiri yang melemahkan mereka (dhaaif) dan mengatakan bahwa kata-kata mereka tidak bisa dipercaya (rujuk, Miizaanu al-I’tidaal, karya Dzahabii). Sufyaan Tsaurii dikenal juga sebagai pembohong dan pengacau hadits (mudlis).

Dengan semua itu, apakah masih bisa kita berpegang kepada hadits buatan (maudhuu’) dan bohong ini lalu menghukumi orang Islam –Abu Thaalib- sebagai orang kafir??!

[13] Syarhu Ibni Abi al-Hadiid, jld 15, hal 73; al-Istii’aab, jld 1, hal 81.

Imam Ali Zainu al-‘Aabidiin as dalam salah satu doanya mengucapkan, “Ya Allah, demi orang yang Engkau pilih dari makhlukMu. Demi yang Engkau pilih untuk DiriMu sendiri. Demi orang yang Engkau pilih di antara manusia-manusia yang lain. Demi yang Engkau pilih untuk mengajarkan ke-AgunganMu. Demi orang yang kewajiban menaatinya diiringkan dengan kewajiban taat kepadaMu. Demi orang yang kalau memusuhinya sama dengan memusuhiMu.” (Shahiifatu Sajjaadiyyah, doa ke: 47.)

Imam Shaadiq as ketika menziarahi kakeknya di Najaf –Imam Ali as- di akhir bacaan ziarahnya mengucapkan, “Ya Allah, terimalah doa dan pujianku. Kumpulkanlah aku dengan tuan-tuanku, demi kebenaran Muhammad, Ali, Faathimah, Hasan dan Husain.” (Mishbaahu al-Mutahajjid, karya Syaikh Thuusii, hal 682.)

[14] Kasyfu al-Irtiyaab, hal 271. ‘Allaamah  Amiinii berkata: “Riwayat ini telah pula diriwayatkan dalam kitab al-Muwaththa’ dan yang lainnya. Akan tetapi aku sendiri tidak mendapatkannya di al-Muwaththa’, baik di bab Huduudnya (hukuman) atau di bab Qasam (sumpah) atau juga di bab Nudzuur (nadzar).

[15] Nahju al-Balaaghah yang disyarahi Muhammad ‘Abduh, jld 6, hal 526; Rabii’u al-Abraar, jld 1, hal 751.

[16] Nahju al-Balaaghah, surat no: 9. Imam Ali as sebagai contoh palin sempurna dari didikan Islam, di tempat yang banyak, telah melakukan sumpah atas nama jiwanya sendiri. Seperti di khuthbah ke: 23, 24, 56 dan 89. Dan di Khuthbah ke: 25, beliau berkata, “Aku bersumpah demi jiwa ayahmu.”

[17] Kasyfu al-Irtiyaab, hal 271 dan 272.

[18] Tadzkiratu al-Khawaash, hal 233; al-Fushuulu al-Muhimmati, hal 182; al-Bidaayatu wa al-Nihaayatu, jld 8, hal 209; al-Aghaanii, jld 16, hal 139; al-Ma’aarifu, Ibnu Qutaibati, hal 213; A’laamu al-Nisaa’ wa al-Mu’minaat, hal 431.

[19] Taariikhu al-Thabarii, jld 3, hal 330.

[20] Waqi’atu Shiffiin, karya Nashr bin Muzaahim, hal 344.

[21] Kasyfu al-Irtiyaab, hal 272; al-Bidaayatu wa al-Nihaayatu, jld 8, hal 315; Syarhu Nahji al-Balaaghati, Ibnu Abi al-Hadiid, jld 2, hal 267; Bihaaru al-Anwaar, jld 23, hal 339, jld 38, hal 19; Kasyfu al-Astaar, haitsamii, jld 2, hal 363; Majma’u al-Zawaahid, jld 6, hal 239; Tathhiiru al-Jinaan, hal 57; Manaaqibu Amiiri al-Mu’miniin, Muhammad bin Sulaimaan Kuufii, jld 2, hal 361.

Dalam Fihrisat Musnad-nya Ahmad bin Hanbal, hadits ini tidak ditemukan. Mungkin ia tidak sengaja tidak menyantumkannya. Akan tetapi bisa saja ia sengaja melakukan itu. Karena, biasanya, mereka menyensor hadits-hadits yang menguntungkan Ahlulbait as.

[22] Irsyaadu al-Saarii, jld 9, hal 358; Musnad Ahmad bin Hanbal, jld 3, hal 125; Mausuu’atu Athraafi al-Hadiitsi al-Nabawii, jld 8, hal 239.

[23] Kasyfu al-Irtiyaab, hal 273. Ketika Nabi saww menguburkan ibu Imam Ali as, Faathimah bintu Asad, beliau bersabda, “Ampunilah ibuku Faathimah bintu Asad dan luaskanlah tempat kembalinya, demi nabiMu dan para nabi sebelum aku.” (al-Fushuulu al-Muhimmati, karya Ibnu Shabaagh al-Maalikii.)

[24] Fathu al-Baarii, jld 2, hal 405. Nama Bazzaar adalah Ahmad bin ‘Umar Bashrii, pengarang kitab Musnad dan salah seorang Muhaddits (penghafal dan sumber hadits) yang terkenal di madzhab Ahlussunnah yang wafat pada tahun 298 H (lihat Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld 13, hal 554).

[25] Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld 9, hal 30.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s