Perayaan-perayaan Hari Kelahiran (Maulid)

Oleh: Najmu al-Din Thabasi

Wahhabiyah dan Perayaan-perayaan

Para pengikut Wahhabi menyangka bahwa salah satu yang tergolong sebagai kemungkaran adalah mengadakan perayaan maulud Nabi saww sekalipun di dalam perayaan itu melakukan pembacaan al-Quran, puisi-puisi pujian untuk beliau dan juga membagi-bagi makanan.

 

Pandangan dan Dalil-dalil Wahhabi

1. Ibnu Taimiyyah berkata, “Mengadakan peringatan Maulud Nabi saww, sebagai hari raya dan bahagia, adalah suatu bid’ah yang tidak ada dasarnya dalam agama Islam. Dan para salaf (baik Ahlulbait atau yang lainnya), tidak pernah menjadikan hari ini sebagai hari raya yang dilakukan secara bersama dan berbahagia bersama-sama. Perbuatan seperti ini datang dari agama Nasrani ketika memperingati lahirnya nabi Isa as atau datang dari agama Yahudi.

Karena itu apa saja yang dilakukan masyarakat muslim pada hari Maulud itu, memiliki dua kemungkinan, karena meniru perbuatan orang-orang Masehi yang memperingati Nabi Isa as atau karena kecintaannya kepada Nabi saww. Keduanya ini, tidak pernah dilakukan oleh satu orangpun dari para salah. Padahal, kalau perayaan ini memang memiliki kebaikan murni –dalam syariat- atau kecenderungan pada kebaikan syar’i, maka sudah tentu para salaf itu lebih layak untuk mengadakannya dari pada kita.”[1]

2. ‘Abdu al-Rahmaan bin Hasan Aalu Syaikh berkata, “Musyrikin (di jaman Jaahiliyyah) mendirikan perayaan di atas kuburan mereka dimana di hari itu mereka menyembah selain Tuhan dan menamakannya sebagai Hari Raya, sebagaimana perayaan maulud yang dilakukan orang-orang Badui di Mesir. Peringatan-peringatan ini bahkan sudah ada sejak jauh-jauh sebelum itu dan diberi nama Hari Raya (ied), karena pada hari perayaan itu dilakukan kesyirikan dan dosa-dosa besar.”[2]

3. Muhammad Haamid al-Faqii berkata, “Peringatan-peringatan yang dilakukan di hari kelahiran (Ulang Tahun atau Maulud) atau hari wafat para wali (Haul), sama dengan mengagungkan, menyembah dan beribadah kepada mereka.”[3]

Para Wahhabi dalam membuktikan kebenaran pandangan mereka ini, menyandarkannya kepada dua hadits:

  1. Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi saww yang bersabda, “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan. Ucapkanlah salam dan shalawat kepadaku, karena dari manapun kalian mengucapkannya, akan sampai kepadaku!”[4]
  2. Telah diriwayatkan dari Nabi saww yang melarang menjadikan kuburan sebagai Hari Raya (ied).

 

Kritikan Terhadap Dalil Wahhabi

Pertama. Sangat berbeda antara penghomatan yang dilakukan di saat peringatan Maulud Nabi saww atau peringatan lainnya dengan peribadatan. Suatu perbuatan itu digolongkan ibadah –seperti peringatan- kalau memiliki satu diantara tiga ciri berikut ini:

  1. Meyakini ke-Tuhan-an yang diperingati (Uluhiyyah);
  2. Meyakini ke-Pengaturan-nya (Rububiyyah);
  3. Meyakini bahwa Tuhan telah memberikan kuasa kepadanya (tafwiidh).

Pertanyaannya, apakah orang yang memperingati Maulud Nabi saww atau wali yang lainnya, meyakini bahwa Nabi saww dan para wali itu sebagai Tuhan? Atau meyakini bahwa mereka itu sebagai Rabb atau Pengatur? Atau meyakini bahwa Tuhan telah memberikan kekuasaan kapda mereka? (sama sekali tidak).

Arti dari peringatan Maulud adalah, masyarakat pada hari lahirnya kanjeng Nabi saww itu, menampakkan kebahagiaan dalam suatu peringatan sebagai aplikasi dari cinta dan kasih sayang mereka kepada beliau. Hal seperti ini sudah tentu diperintahkan oleh al-Quran dan telah ditekankan pula dalam hadits-hadits.

Sebenarnya, pada hari peringatan Maulud itu, masyarakat muslim hanya ingin menampakkan cinta mereka kepada Nabi saww. Dan al-Quran sendiri memerintahkan umat ini untuk menampakkan cintanya kepada beliau. Karena cinta kepada beliau artinya mendahulukan beliau dari dirinya sendiri. Allah berfirman,

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah: ‘Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri dan keluargamu, atau harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”[5]

Dan begitu pula telah diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Nabi saww pernah bersabda, “Tak satupun dari kalian yang bisa dikatakan beriman, kecuali menjadikanku dan Ahlulbaitku sebagai orang yang paling dicintainya[6] dan menjadikan kami lebih dicintai dari anak-anaknya dan siapapun juga –di dunia ini.”[7]

Dengan semua ini, maka sudah seharusnya Haamid Faqhii dan para ulama Wahhabi lainnya, membedakan terlebih dahulu apa arti peringatan Maulud dan apa arti ibadah, sebelum mereka menyerangnya.

 

Kedua. Ada kaidah yang mengatakan: Asal -hukum- dari semua hal adalah kebolehannya, kecuali kalau ada larangannya dengan jelas –dari agama. Ibnu Taimiyyah, juga mempercayai dasar ini (ushuulu al-fiqh) dengan mengatakan, “Asal -hukum- dari semua kebiasaan –budaya- adalah kebolehannya kecuali kalau ada larangannya dari syariat.”[8]

Karena itu, tidak ada larangan dari syariat terhadap perayaan-perayaan dan ulang tahun. Sementara hadits yang dijadikan sandaran Wahhabi, memiliki problem sanad dan dalaalah (pendalilan).

 

Ketiga. Anggap saja bahwa pembolehan terhadap pelaksaan perayaan-perayaan itu tidak ada dalam agama, akan tetapi kita tetap bisa membuktikan kebolehan syariatnya. Yaitu, salah satu dari ajaran Islam, adalah menyintai Nabi saww dan keluarganya as dimana telah dicantumkan dalam al-Quran dan hadits-hadits. Bahkan terhitung sebagai ajaran yang sangat mendasar.

Sementara itu, mencegah cinta berarti menentang penampakannya. Artinya, sama dengan menampakkan lawannya, yaitu iri dan permusuhan (dengan demikian, maka menampakkan cinta –seperti mengadakan Maulud- dianjurkan agama.).

 

Keempat. Ibnu Taimiyyah, menjadikan perbuatan orang-orang salaf sebagai dasar bagi pembolehan dan pengharamannya terhadap sesuatu. Pertanyaannya, apakah perbuatan salaf itu yang merupakan dasar agama atau al-Quran dan hadits?!

Kalaulah kita menerima bahwa perbuatan salaf itu bisa dijadikan dasar hukum, maka salaf sendiri, dalam waktu yang berbeda-beda, telah mengadakan berbagai perayaan. Contoh di bawah ini, adalah bukti bagi kebohongan Ibnu Taimiyyah:

1. Ahmad bin ‘Umar, yang juga terkenal dengan nama Qastilaanii (wafat 923 H) berkata, “Kaum muslimin secara turun temurun merayakan peringatan Maulud Nabi saww dan membagi-bagikan makanan. Semoga rahmat Tuhan bagi orang-orang yang menjadikan malam-malam bulan Maulud itu sebagai hari ied (raya atau perayaan) dan semoga menambah sakit hati orang-oarng yang memang berpenyakit hati.”[9]

2. Husain bin Muhammad, yang juga dikenal dengan Diyaar Bakrii (wafat 960 H), dan salah satu dari Qaadhii (hakim agama) di Makkah, menulis dalam kitab sejarahnya, “Kaum muslimin turun temurun selalu mengadakan perayaan Maulud Nabi saww di hari kelahiran beliau dan membagi-bagikan makanan. Pada malam harinya mereka memberikan sedekah dan menampakkan kebahagiaan. Mereka bersemangat membantu yang fakir dan juga membaca puisi-puisi pujian hingga terlihat bahwa karamat beliau selalu nampak dalam setiap jamannya.”[10]

Dengan contoh-contoh ini dapat disimpulkan bahwa kaum muslimin, dalam setiap jamannya, telah berijma’ terhadap peringatan-peringatan tersebut. Wahhabi yang biasa membolehkan kesepakatan satu jaman saja sebagai ijma’, bagaimana bisa tidak memperhatikan dan bahkan menolak kesepakatan yang terjadi pada setiap jaman ini? Dengan semua data sejarah itu, masih bisakah Ibnu Taimiyyah berkata, “Semua salaf tidak ada yang melaksanakan perayaan Maulud?”

 

Sirah Kehidupan Para Ulama

1. Pengakuan Ibnu ‘Ibaad

Ia berkata, “Bagiku, mengadakan peringatan Maulud Nabi saww di hari kelahiran beliau, adalah jelas dan tidak ada keraguan di dalamnya, bahwasannya ia adalah termasuk hari ied dan perayaan yang ada di antara kaum muslimin. Dan perbuatan-perbuatan yang biasa dilakukan di hari-hari besar ini, seperti bergembira dan membuat orang lain bergembira, adalah perbuatan yang mubah dan tidak memiliki larangan sedikitpun.”[11]

2. Pengakuan Qathilaanii

Ia berkata, “Semoga rahmat Tuhan bagi orang-orang yang menjadikan malam-malam bulan Maulud Nabi saww –Rabii’u al-Awwal- sebagai hari ied (raya) dan semoga bisa menambah rasa sakit hati pada orang-orang yang memang berpenyakit hati.”[12]

3. Orang pertama yang mengadakan peringatan Maulud ini adalah Abu Sa’iid Arbilii (wafat th 630 H)

Sebagian yang mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakannya adalah para Khalifah Faathimiyyah di Qaahirah Mesir, di jaman pemerintahan Al-Mu’jizu Li Diinillah yang dilakukannya –untuk pertama kalinya- di tahun 361 H.[13]

Semua saksi sejarah dan pernyataan para ulama ini, menunjukkan bahwa kaum muslimin telah mengadakan peringatan maulud ini sejak berabad-abad tahun yang lalu. Dan tidak pernah ada penentangan dari umat Islam dan ulama manapun, baik secara terang-terangan atau secara inplisit.

 

Mengkritisi Hadits

Para Wahhabi menukil hadits dari Nabi saww yang bersabda,

لا تجعلوا قبري عيدا

“Janganlah jadikan kuburku sebagai ied (hari raya)!”

 

Problem pertama. Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits di atas dalam bentuk lain. Dia menukil dari Suhail bin Abi Shaalih yang berkata bahwa Rasulullah saww bersabda,

لا تجعل قبري وثنا

“Jangan jadikan kuburku sebagai berhala!”[14]

Karena itu sangat mungkin telah terjadi kekeliruan pada periwayatan pertama (“Jangan jadikan kuburku sebagai ied!”) tersebut dimana pada hakikatnya adalah “berhala”. Dengan dasar ini, maka sebenarnya Nabi saww memperingatkan umat Islam supaya tidak menjadikan kuburan beliau sebagai masjid untuk melakukan sujud kepada beliau atau sebagai kiblat dalam shalat mereka.

 

Problem kedua. Secara bahasa, ied artinya hari dirayakannya suatu peringatan atau perayaan. Berarti jaman, memiliki peran penting dalam difenisi dan pengertiannya. Dengan demikian, maka tidak benar kalau dikatakan “Jangan jadikan kuburku sebagai ied!”. Karena kubur tidak mengandungi makna waktu atau musim, sementara ied mengandunginya. Misalnya dikatakan –dalam bahasa Arab: “Musim haji adalah ied.” Atau “Hari Jum ‘at adalah ied.”

 

Problem ketiga. Kedua hadits di atas, memiliki sanad yang dhaif/lemah.

Dalam rentetan nama-nama perawi hadits pertama (Jangan jadikan kuburku sebagai ied) terdapat nama ‘Abdullah bin Naafi’. Sementara pada riwayat ke dua (Jangan jadikan kuburku sebagai berhala), terdapat nama Suhail bin Abi Shaalih. Kedua orang ini, termasuk orang-orang yang riwayatnya tidak bisa dijadikan dalil.

Abu Haatim berkata tentang Suhail bin Abi Shaalih, “Haditsnya hanya dituliskan akan tetapi tidak dijadikan dalil.”

Ibnu al-Madiinii berkata, “Suhail memiliki saudara yang meninggal. Ia menjadi sangat sedih karenanya. Akhirnya, banyak sekali hafalan hadits yang ia miliki, menjadi hilang.”

Ibnu Mu’iin berkata, “Ia –Suhail- adalah seorang yang dhaif.”

Bukhaarii berkata tentang ‘Abdullah bin Naafi’, “Sebagian hadits-hadits yang diriwayakannya tergolong hadits yang terkenal, dan sebagian yang lainnya tergolong mungkar (harus ditolak).”[15]

Ahmad bin Hanbal berkata, “Dia –‘Abdullah bin Naafi’- adalah seorang yang lemah/dhaif. Dia bukan seorang yang ahli dan bisa berpendapat tentang hadits.”[16]

Raazii berkata, “’Abdullah bin Naafi’ bukan seorang haafizh hadits (penghafal). Dia adalah seorang yang kalau mendengar sebuah hadits menunjukkan kelemahannya. Hadits-hadits yang ia hafal dan ia riwayatkan bercampur antara hadits-hadits yang terkenal dan mungkar.”[17]

 

Penafsiran Hadits dan Penjelasannya

Beberapa ulama telah menjelaskan makna hadits yang berbunyi, “Jangan jadikan kuburku sebagai ied!” sebagai berikut:

1. Mundzirii berkata, “Riwayat ini membuat orang bahkan ingin memperbanyak melakukan ziarah Nabi saww. Yakni tidak hanya di waktu ied (hari raya) yang hanya terjadi sekali dua kali dalam setahun. Tidak hanya di hari –raya- dimana masyarakat berbahagia dan mengadakan perayaan. Akan tetapi bahkan di setiap saat yang memungkinkan.”[18][19]

2. Sabukii berkata, “Mungkin maksud Nabi saww dalam riwayat ini adalah: ‘Janganlah menziarahiku hanya di waktu-waktu tertentu sabagaimana menziarahi kubur orang lain yang biasa dilakukan hanya di hari-hari tertentu, seperti ied –hari raya.!’”[20]

3. Pengarang Syarhu al-Syifaa’ berkata, “Mungkin maksud Nabi saww adalah, ‘Jangan lakukan ziarah kepada kuburku seperti merayakan ied yang dilakukan dengan penuh kebahagiaan dan perayaan serta meletakkan lampu-lampu keceriaan yang banyak. Akan tetapi lakukanlah ziarah itu dengan mengucap salam kepadaku dan penuh dengan kekhusyukan doa.’ Yang dapat dipahami dari kata-kata Khaffaaji al-Hanafii adalah bahwasannya ia juga memungkinkan makna ini.”[21]

4. Pengarang kitab al-Mawaasim wa al-Maraasim berkata, “Mungkin makna hadits itu adalah: Ketika seseorang atau masyarakat berada di dekat kubur Nabi saww, sudah seharusnya dalam keadaan penuh dengan ketawadhuan, kekhusyukan dan renungan, dimana hal seperti itu sangat sesuai dengan kehormatan Nabi saww. Karena menghormati beliau itu adalah kewajiban, baik di masa hidup atau setelah wafat beliau. Oleh sebab itu, tidak selayaknya ziarah tersebut dilakukan dengan penuh pesta pora yang diiringi dengan perbuatan-perbuatan haram seperti musik, dansa, dosa dan senda gurau yang tidak pantas.”[22]

5. Khaffaajii al-Hanafii berkata, “Nabi saww bersabda, “Jangan jadikan kuburku sebagai ied!.” Sebagian orang memahami hadits tersebut seperti ini, bahwa berkumpul di kubur Nabi saww di hari-hari tertentu –itupun dalam bentuk tertentu pula- adalah makruh. Sebagian orang lainnya memahami, bahwa melakukan ziarah Nabi saww itu harus dalam sepanjang tahun dan tidak hanya sekali dua kali di hari-hari tertentu saja.

Akan halnya hadits yang melarang menjadikan kubur Nabi saww itu sebagai tempat ied, bisa saja pelarangan itu terhadap situasinya -bukan ziarahnya. Yakni situasi ied yang biasanya dibarengi dengan kumpul-kumpul bahagia dengan memakai baju-baju yang indah. Dengan demikian maka seakan-akan Nabi saww bersabda, ‘Ketika kalian menziarahi kuburku, maka hendaknya jangan bersenang-senang. Lakukanlah dengan hikmat dengan mengucap salam kepadaku dan berdoa, baru setelah itu pulanglah!’

Jangan jadikan kuburku sebagai ied!’, yakni jangan jadikan kuburku seperti di waktu ied dimana masyarakat berkumpul dengan penuh bahagia.

Takwil dan makna hadits ini telah kami jelaskan. Kandungannya tidak mungkin sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya. Karena ijma’ muslimin bertentangan dengannya. Dengan demikian maka hadits tersebut harus dimaknai dengan yang selain mereka pahami, sebab yang mereka pahami itu adalah bisikan syaitan.”[23]


[1] Iqtidhaau al-Shiraathi al-Mustaqiimi, hal 293.

[2] Kasyfu al-Irtiyaab, hal 48.

[3] Al-Milalu wa al-Nihalu, ayatullah Subhaanii, “Yang menganggap suatu peringatan itu sebagai ibadah, disebabkan oleh ketidak mengertiannya terhadap makna ibadah itu sendiri.

[4] Musnad Ahmad bin Hanbal, jld 3, hal 428.

[5] Surat Taubah: 24.

[6] Al-Durru al-Mantsuur, jld 3, hal 223; Bihaaru al-Anwaar, jld 27, sesuai nukilan Firdausu al-Akhbaar.

[7] Muntahaa al-Aamaal, jld 2, hal 647; Bihaaru al-Anwaar yang dinukil dari Aamaali-nya Syaikh Shaduuq, majelis ke: 54, hadits ke: 9. Diriwayatkan dari ‘Abdu al-Rahmaan, bahwa Nabi saww bersabda, “Seorang hamba tidak akan memasuki iman kecuali menyintaiku melebihi dirinya sendiri. Menjadikan diriku dan keluargaku lebih dicintainya dari dirinya sendiri dan keluarganya.”

Ketika itu satu orang bangkit dari tempat duduknya dan berkata, “Wahai ‘Abda al-Rahmaan, kamu selalu meriwayatkan hadits yang dapat menghidupkan hati.” (Bihaaru al-Anwaar, jld 27, hal 75 dan 76; Musnad Ahmad bin Hanbal, jld 3, hal 207, dan jld 4, hal 236; Mausuu’atu Athraafi al-Hadiits al-Nabawii, jld 7, hal 312; al-Mu’jamu al-Kabiir, jld 7, hal 75; Tartiibu al-Aamaalii, jld 2, hal 252.

Menyintai keluarga Nabi saww bukan merupakan ciri khusus dari madzhab Syi’ah. Ibnu Hajar al-Makkii dalam kitabnya, Shawaa’iqu al-Muhriqah, menukil puisi imam Syaafi’ii yang berkata:

Wahai Ahlu Baiti al-Rasuul, cinta kalian

Diwajibkan Allah dalam al-Quran yang diturunkan

Cukuplah keagungan bagi maqam kalian

Bukan shalat bila, tiada shalawat atas kalian

Maksud dari puisi ini adalah shalat yang tidak ada shalawatnya atas Nabi saww dan Ahlulbainya as (keluarganya), maka shalat tersebut tidak diterima. Yakni batal manakala menyengaja diri tidak menyertakan shalawat dalam tasyahhud atau tahiyyatnya.

Imam Syaafi’ii meneruskan:

Andai cinta washi –‘Ali- adalah Raafidhii (menolak)

Maka aku menolak semua manusia

Andai cinta keluarga Muhammad adalah Raafidhii

Wahai jin dan manusia saksikan, aku Raafidhii

(lihat: Maqtalu al-Husain, karya Khathiib al-Baghdaadi; Nuuru al-Abshaar, karya Syablanjii; dll)

[8] Al-Majmuu’, jld 4, hal 195.

[9] Al-Mawaahibu al-Laduniyyati, jld 1, hal 27.

[10] Taariikhu al-Khamiis, jld 1, hal 323.

[11] Al-Mawaasimu wa al-Maraasimu, hal 20, menukil dari kitab Al-Qaulu al-Fashlu bi Mauluudi Khairi al-Rusuli,  hal 175.

[12] Al-Mawaahibu al-Laduniyyatu, jld 1, hal 27.

[13] Al-Milal wa al-Nihal, Ayatullah Subhaanii, “Dengan berfikir tentang al-Quran dan merenunginya, maka kita akan sampai kepada kesimpulan ini, bahwa al-Quran sendiri telah memerintahkan peringatan Maulud itu untuk memuliakan Nabi saww, sebagaimana terukir dalam ayat:

Orang-orang yang beriman kepadanya –Nabi saww- dan menghormatinya, dan menolongnya, dan mengikuti cahaya yang diturunkan kepadanya, maka merekalah orang-orang yang menang.” (QS: 7: 157)

Karena itu, memperingati Maulud Nabi saww di hari kelahirannya, berarti telah melaksanakan perintah al-Quran. Karena ia merupakan penghormatan untuk beliau.

[14] Musnad Ahmad bin Hanbal, jld 2, hal 246.

[15] Hadits terkenal (ma’ruuf) adalah hadits yang terkenal di antara para perawi hadits. Dan hadits mungkar (harus ditolak) adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu orang dan tidak tsiqah (tidak jujur atau dhaif). Kadang kala, hadits mungkar juga dikatakan sebagai hadits Marduud (tertolak).

[16] Mizaanu al-I’tidaal, jld 2, hal 243; Tahdziibu al-Kamaal, jld 12, hal 223.

[17] Al-Jarhu wa al-Ta’diil, jld 5, hal 184; Syafaau al-Saqaam, hal 80.

[18] Syifaau al-Saqaam, hal 80, sesuai nukilan Mundzirii.

[19] Ibid.

[20] Ibid.

[21] Syarhu al-Syifaa’, jld 3, hal 566.

[22] Al-Mawaasim wa al-Maraasim, hal 71.

[23] Nasiimu al-Riyaadh Fii Syarhi al-Syifaai, jld 3, hal 514, 523 dan 577; al-Ghadiir, jld 5, hal 119.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s