Nadzar untuk Selain Tuhan

Oleh: Najmu al-Din Thabasi

Nadzar untuk Selain Tuhan

Wahhabi meyakini haramnya melakukan nadzar (nadzr) untuk selain Tuhan, karena pekerjaan ini sama dengan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik –di jaman Jaahiliyyah- yang bernadzar untuk berhala-berhala.

Sebenarnya, secara mendasar, nadzar untuk selain Tuhan itu disebabkan oleh kayakinan yang melakukan nadzar terhadap ketinggian derajat yang telah dijadikannya obyek nadzarnya tersebut.

  1. Qashiimii berkata, “Nadzar untuk selain Tuhan merupakan ciri dari syi’ar Syi’ah. Karena mereka meyakini ke-Tuhan-an ‘Ali dan keturunannya.”[1]
  2. Ibnu Taimiyyah berkata, “Ulama meyakini ketidak bolehan nadzar dengan uang, dekorasi, lentera, binatang dan sebagainya, untuk kuburan dan sekitarannya. Karena nadzar seperti ini adalah dosa. Dan telah diriwatkan hadits yang shahih yang mengatakan, “Siapa saja yang malakukan nadzar untuk menaati Tuhan, maka ia harus menaatiNya. Dan barang siapa yang bernadzar untuk melakukan maksiat kepadaNya, maka ia tidak boleh melakukannya.”[2]

Dan begitu pula ia –al-Qashiimii- berkata, “Meminta sesuatu dari orang yang telah mati –walaupun ia itu adalah Nabi sendiri- tidak dibolehkan, karena dikhawatirkan adanya kesyirikan. Karena itu, nadzar untuk kuburan dan orang-orang yang dikuburkan di dalamnya, merupakan nadzar yang haram dan batil. Perbuatan ini, mirip dengan perbuatan orang-orang musyrik –di jaman Jaahiliyyah- yang bernadzar untuk berhala-berhala. Dan siapa saja yang meyakini bahwa nadzar untuk kuburan memiliki manfaat atau pahala, maka ia tergolong orang-orang yang sesat dan bodoh.”[3]

Menolak Pandangan Wahhabi

Jawaban Pertama

Maksud dari nadzar itu –untuk selain Tuhan- adalah bahwa yang bernadzar tersebut melakukan nadzarnya dengan niat malaksanakan sedekah dimana pahalanya diperuntukkan kepada para nabi, wali atau orang shalih. Pelaku nadzar ini, tidak ingin mendekatkan diri kepada mereka, akan tetapi bahkan ingin mendekatkan diri kepada Allah. Bagaimana mungkin pelaku nadzar ini ingin mendekatkan diri kepada mereka, padahal ia tahu bahwa mereka semua telah mati dan tidak mungkin memanfaatkan apa-apa yang dinadzarkannya itu, baik barang atau makanan. Karena itulah maka sudah selayakmya bagi para ulama Wahhabi dimana mereka merasa sebagai ulama dan berilmu agama, untuk tidak menyerbu muslimin dengan fatwa-fatwa yang tidak ilmiah dan mengafirkan mereka. Mereka mestinya mencoba untuk membaca perbuatan kaum muslimin itu dengan menakwil kepada yang benarnya selama masih memungkinkan, bukan malah menyerbu mereka.[4]

 

Jawaban kedua

Nadzar-nadzar ini sama persis dengan nadzarnya seseorang untuk kedua orang tuanya. Atau seseorang yang bersumpah atau berjanji,  untuk melakukan sedekah yang pahalanya akan dihadiahkan untuk kedua orang tuanya. Dalam hadits-hadits, telah dikatakan bahwa memenuhi semua itu (nadzar, sumpah dan janji) adalah wajib hukumnya sebagaimana Nabi saww telah bersabda kepada seorang wanita yang telah melakukan nadzar untuk melakukan penyembelihan di tempat tertentu untuk  ayahnya, dengan sabdanya: “Kamu harus melakukan nadzarmu itu!”

Akan halnya mengapa seseorang melakukan nadzar sehubungan dengan tempat tertentu? Sudah pasti karena tempat itu memiliki kehormatan tertentu dimana diharapkan dengan melaksanakan nadzarnya –sebagai ibadah kepada Tuhan- di tempat tersebut, akan mendapatkan pahala yang berlipat. Persis seperti memilih waktu tertentu –yang lebih mulia seperti bulan suci Ramadhan- untuk melakukan ibadah tertentu –seperti mengkhatamkan al-Quran- dimana hal seperti ini sama sekali tidak memiliki problem sedikitpun, dan bahkan dalam sebagian riwayat telah dengan jelas didukungnya, seperti:

1. Riwayat dari Tsaabit bin Dhahhaak

Ia mengatakan, Seorang lelaki melakukan nadzar untuk menyembelih onta di daerah yang bernama Bawwaanah[5]. Ia mendatangi Nabi saww dan menceritakan tentang nadzarnya itu. Beliau saww bersabda, “Apakah karena di tempat itu ada berhalanya yang disembah di jaman Jaahiliyyah?” Orang-orang menjawab, “Tidak ada ya Rasululah.” Beliau bersabda kepada orang tadi dengan sabdanya, “Kamu harus melakukan nadzarmu itu. Karena nadzar yang tidak boleh dilakukan itu ada dua sebab. Pertama, ketika nadzarnya itu untuk melakukan dosa. Kedua, ketika nadzarnya itu terhadap apa-apa yang tidak dimilikinya.”[6]

 

2. Riwayat dari Maimuunah

Ia yang mengatakan bahwa ayahnya mendatangi Rasulullah saww dan berkata, “Aku bernadzar untuk menyembelih lima puluh kambing di daerah yang bernama Bawwaanah.” Nabi saww bertanya, “Apakah di sana ada berhalanya?” Ia menjawab, “Tidak ada.” Nabi saww bersabda, “Kamu harus memenuhi nadzarmu!” Karena itu ayahku melakukan nadzarnya. Akan tetapi hanya menyembelih empat puluh sembilan kambing. Karena satu kambingnya lepas dan lari. Ayahku sambil mengejar kambing yang lari itu, ia berdoa, “Wahai Tuhan, tolonglah aku memenuhi nadzarku.” Akhirnya, ayahku menangkap kambing yang lari tersebut dan segera menyembelihnya.[7]

Riwayat ini mungkin sama dengan riwayat sebelumnya dari sisi makna dan maksudnya. Akan tetapi, dari sisi lafazh dan kata-katanya, keduanya berbeda.

Akan halnya Nabi saww yang bertanya bahwa apakah di tempat Fulan itu ditempatkan berhala yang disembah di jaman Jaahiliyyah, atau tempat itu adalah tempat diselenggarakannya perayaan agama di jaman Jaahiliyyah, hal itu disebabkan belum jauhnya masa antara masa Jaahiliyyah dan masa Islam, hingga dikhawatirkan perbuatan mereka itu –nadzar di tempat tertentu tersebut- dikarenakan kebiasaan yang mereka lakukan di jaman Jaahiliyyah. Artinya, Nabi saww khawatir, jangan sampai perbuatan nadzar mereka di tempat itu dikarenakan kebiasaan tersebut.

 

Jawaban ketiga

Makna dari nadzar (nadzr) adalah, kalau hajat seseorang menjadi terkabulkan, maka ia memestikan dirinya untuk melakukan sesuatu.

Dari dasar inilah dikatakan, “Aku bernadzar untuk Tuhan, bahwa kalau hajatku tercapai, maka aku akan melakukan sesuatu itu –terntentu.”

Pernyataan di atas inilah yang dikatakan dengan nadzar syar’i (yang ditetapkan oleh agama atau sah menurut agama). Akan tetapi kalau seseorang mengatakan, “Aku bernadzar –menyembelih kambing- untuk si Fulan –nabi- itu.”

Maka sebenarnya, pernyataan ini semacam pernyataan majazi demi meringkas pernyataannya dimana maksud sesungguhnya adalah, “Aku bernadzar kepada Tuhan –kalau hajatku tercapai- untuk melakukan perbuatan itu –menyembelih kambing- dan pahalanya kuhadiahkan kepada si Fulan –nabi- itu.”

Pertanyaan

Bisakah kemiripan perbuatan orang Islam dengan perbuatan kaum kafir itu dijadikan alasan untuk mengafirkan orang Islam?

Dari salah satu paling anehnya pernyataan Ibnu Taimiyyah adalah bahwa seorang muslim yang bernadzar seperti ini adalah kafir, dengan dalil kemiripannya dengan perbuatan orang kafir. Padahal, kalau ia mau konsekuen menilai dan menjadikan lahiriah dari perbuatan itu sebagai ukurannya, maka ibadah haji adalah suatu ibadah yang benar-benar sangat mirip dengan perbuatan orang-orang musyrik Jaahiliyyah. Karena mereka menawafi berhala-berhala mereka sementara kita menawafi Ka’bah –yang bukan Tuhan- dan menciumi Hajar Aswad. Mereka menyembelih kurban mereka di hari-hari ketika ada di Mina untuk berhala-berhala mereka, sementara kita menyembelih kurban kita di hari-hari yang sama untuk Tuhan kita. Sekarang, apakah bisa kita katakan bahwa kedua amalan itu adalah sama karena memiliki kemiripan??!

Kemudian, yang menjadi ukuran itu, sebenarnya adalah niat hati setiap orang, bukan kemiripan lahiriah perbuatannya, sebagaimana disabdakan Nabi saww, “Nilai suatu amal itu tergantung kapada niatnya.”[8]

‘Uzzaami yang bermadzhab Syaafi’ii berkata, “Barang siapa yang mencermati niat dari nadzarnya kaum muslimin yang bernadzar –kurban- untuk para nabi dan orang-orang shalih, maka ia akan sampai kepada kesimpulan ini bahwa tidak ada niat lain dari mereka kecuali menghadiahkan pahala sedekahnya itu kepada mereka (para nabi dan orang-orang shalih). Sudah merupakan ijma’ dalam madzhab Ahlussunnah bahwa sedekah –pahala- orang yang masih hidup itu akan sampai kepada yang telah mati dan akan memberikan manfaat kepadanya –yang mati. Riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang masalah ini, ada dan shahih serta terkenal, diantaranya sebagai berikut:

1. Riwayat yang shahih telah diriwayatkan oleh Sa’d, bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saww, “Ya Rasulullah! Ibuku telah meninggal dunia. Aku tahu kalau dia masih hidup ia akan melakukan sedekah. Sekarang, kalau aku melakukan sedekah –untuknya- apakah bermanfaat baginya?” Nabi saww menjawab, “Iya.” Lalu ia bertanya lagi, “Sedekah yang mana yang lebih bermanfaat –baginya?” Nabi saww menjawab, “Air.” Akhirnya Sa’d menggali sumur dan setelah itu berkata, “Sumur ini untuk ibu Sa’d.”[9]

Ibnu Taimiyyah dan orang-orang yang mengikutinya, telah melakukan kekeliruan yang sangat besar. Karena kalau ada orang yang berkata, “Sedekah ini untuk Nabi sawwatau wali.”, dikatakan sebagai “kafir”. Karena kata “untuk” pada Nabi saww dan wali tersebut disamakan dengan “untuk” yang ada dalam kalimat, “Aku bernadzar untuk Allah.”

Ibnu Taimiyyah, dengan pandangannya itu, mungkin telah melakukan kekeliruan atau bahkan telah mengkelirukan diri. Karena jelas bahwa kata “untuk” pada dua kalimat itu jauh berbeda maksudnya. Karena “untuk” yang ada pada kalimat “untuk Allah”, memiliki makna “tujuan”. Yakni nadzarnya itu dilakukan demi mendekatkan diri kepada Allah. Sedang kata “untuk” pada kalimat “untuk Nabi saww atau wali”, adalah penjelasan terhadap peruntukan pahalanya dan tempat pemanfaatan sedekahnya (misalnya lenteranya yang disedahkan ke makam Nabi saw maka harus dipakai di makam beliau, pentj.)

‘Uzzaamii berkata, “Kalimat yang berbunyi ‘Sumur ini untuk ibu Sa’d’, memberikan keterangan terhadap arah penggunaan sedekahnya. Tidak sama dengan kata ‘untuk’ pada perkataan ‘Aku bernadzar untuk Allah’. Kata ‘untuk’ pada kalimat ‘Sedekah ini untuk Nabi saww atau wali’, sama dengan kata ‘untuk’ yang ada pada ayat al-Quran yang mengatakan ‘Sesungguhnya sedekah itu hanya untuk orang-orang fakir dan miskin’[10] dimana kata ‘untuk’ disini menerangkan arah penggunaannya.”

Sirah Kaum Muslimin tentang Nadzar

Kaum muslimin melakukan nadzar kurban untuk para nabi dan wali. Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang umum dilakukan mereka –dalam sepanjang sejarahnya- tanpa ada perbedaan di antara madzhab-madzhab atau aliran-aliran yang ada. Kalau mereka melakukan nadzarnya itu karena Allah dan ketika menyembelih kurbannya menyebut nama Allah, maka jelas mereka juga akan mendapatkan pahalanya.

Khaalidii mengatakan, “Kalau ada seseorang yang berkata ‘Aku bernadzar kurban untuk Nabi Fulan atau wali Fulan’, maka maksudnya adalah bahwa pahala kurbannya itu dihadiahkan untuk mereka. Karena itu, pada hakiktanya, kurban tersebut dilakukan demi mendekatkan diri kepada Allah. Persis seperti kalau mengatakan, ‘Aku melakukan kurban untuk keluargaku yang telah meninggal’. Yakni memiliki maksud bahwa dia melakukan sedekah kurban itu mewakili keluarganya yang telah meninggal dunia. Atau persis seperti kalau ia berkata ‘Aku menyembelih kambing untuk tamuku’, yakni sebab dari penyembelihannya adalah tamu –bukan untuk mendekatkan diri kepada tamu.”[11]

 

Beberapa Contoh

1. Kubur al-Bastii

Dia adalah Ahmad bin Ja’far al-Khazrajii, terkenal dengan julukan Abu al-‘Abbaas al-Bastii dan tinggal di Maroko. Pada tahun 601 Hijriah ia meninggal dunia di tempat itu. Kuburnya dijadikan makam tempat ziarah. Dan masyarakatpun berjubel menziarahinya. Eksperimen menunjukkan, bahwa berdoa di makamnya bisa mustajab. Akupun kerulang kali menziarahinya dan sekali pernah mendapatkan berkah dari ziarah tersebut. Ibnu al-Khathiib Salmaanii berkata, “Nadzar-nadzar yang tiap harinya dibawa ke makam itu mencapai sekitar 800 mitsqaal emas murni dan di sebagian hari bisa mencapai 1000 Dinaar (kepeng emas). Semua harta benda ini disedakahkan untuk orang-orang fakir miskin yang ada di sekitar makamnya tersebut.[12]

Pengarang kitab Nailu al-Ibtihaaj berkata, “Masyarakat tetap menziarahinya sampai pada hari ini. Penziarahnya berjubelan menziarahinya dan memohon kepada Allah untuk mendapatkan hajat-hajat mereka. Aku sendiri lebih dari 500 kali menziarahinya dan lebih dari tiga puluh malam menginap di makamnya, serta sering melihat keberkahan yang terjadi.”[13]

2. Kubur Syaikh Ahmad bin ‘Ali al-Badwi

Ia meninggal pada tahun 675 Hijriah dan dikuburkan di Thanditaa.[14] Kemudian di atasnya dibangun bangunan makam. Karamat orang ini sangat terkenal di kalangan kaum muslimin Ahlussunnah. Masyarakatpun banyak memberikan nadzarnya pada makam tersebut.”[15]

3. Kubur ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Umar

Dia adalah anak dari ‘Ali bin al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thaalib. Al-Baghdaadii berkata, “Di tempat yang bernama Baabu al-Burdaan terdapat orang-orang yang memiliki keutamaan. Di samping masjid yang biasa dijadikan mereka sebagai tempat shalat ied terdapat sebuah kuburan yang dikenal dengan Kuburan Nudzuur (nadzar). Dikatakan bahwa yang dikubur di dalamnya adalah seorang lelaki dari keturunan Ali bin Abi Thaalib as. dimana masyarakat suka menziarahinya untuk mendapatkan berkah (tabarruk) dan memohon kepada Allah untuk mendapatkan hajat-hajat mereka.

Qaadhii Abu al-Qaasim al-Tanuukhii menukil dari ayahnya yang berkata, Aku duduk di samping ‘Adhadu al-Daulah[16] Dailami. Di dekat tempat kita itu, ada sebuah masjid yang biasa digunakan untuk shalat ied yang di sebelah timurnya terdapat kota al-Salaam. Kami mendirikan kemah tentara –untuk istirahat- di tempat itu (kamp sementara militer). Kami ingin, begitu rombongan pertama pasukan militer memasuki kamp sementara itu dan menempatinya, besoknya kami akan meneruskan perjalanan ke arah Hamadan (Iran). ‘Adhadu al-Daulah memandangi bangunan makam (kubur) yang dikenal dengan Qabru al-Nudzuur (kubur bernadzar) yang ada di sana. Kemudian ia berkata kepadaku, “Bangunan apa ini?” Aku menjawab, “Bangunan makam yang dikenal dengan makam Nudzuur.” Akupun tidak menerangkan kuburan siapa. Karena aku takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan (Seperti dimarahi, dipecat atau bahkan dihukum. Karena biasanya, para penguasa Bani ‘Abbaas, sebagaimana penguasa dari Bani Umayyah, selalu memburu pengikut dan pencinta Keluar Nabi saww, pentj.). Karena itu, ia memujiku. Kemudian ia berkata: “Aku tahu kalau kubur itu adalah Makam Nudzuur. Tapi aku ingin tahu tentang apa yang telah terjadi.” Akupun menjawab, “Di sana telah dikuburkan orang yang bernama ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thaalib. Sebagian orang mengatakan bahwa kuburan itu milik ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin Abi Thaalib. Suatu hari, salah satu Khalifah ingin membunuhnya secara diam-diam. Karena itu dibuat perangkap yang berupa lubang yang dalam (seperti sumur) yang diatasnya ditutupi. Ketika ia –‘Abdullah- melewati tempat itu, seketika ia jatuh ke dalamnya. Mereka langsung menutupinya dengan tanah dan menguburkannya secara hidup-hidup. Kemudian tempat itu dikenal dengan Kuburan Nudzuur. Karena setiap orang yang bernadzar untuknya, pasti dilakukannya. Dan yang bernadzarpun akan mendapatkan hajat-hajatnya. Sementara itu, memang merupakan kewajiban untuk memenuhi nadzar sekalipun untuk orang yang sudah meninggal. Aku adalah salah satu dari orang-orang ini. Karena aku berkali-kali dan bahkan tidak dapat dihitung, telah melakukan nadzar untuknya. Dan pada setiap nadzarku, aku juga mendapatkan hajatku. Karena itu, bagiku memenuhi janji nadzar itu adalah wajib hukumnya.”

‘Adhadu al-Daulah tidak menerima penjelasanku. Ia membantahnya dan berpendapat bahwa apa-apa yang terjadi karena Nadzar itu, adalah kejadian yang jarang dan kebetulan. Akan tetapi, karena hal seperti itu jatuh ke tangan orang-orang awam, kemudian ditambah-tambah dengan bumbu-bumbu, maka menjadi terkenal karena diceritakan dari yang satu kepada yang lainnya –anggapan dia.

Akupun tidak berkomentar apapun terhadap apa-apa yang dikatakannya itu. Dan malam harinya aku tetap di kamp sementara militer itu. Setelah beberapa hari, di suatu pagi, ‘Adhadu al-Daulah memanggilku dan berkata, “Naikilah kudamu dan ayo kita pergi bersama-sama menuju Makam Nudzuur!” Akupun menaiki kuda bersamanya dan beberapa orang pengawalnya, kemudian bersama-sama menuju ke makam Nudzuur. Sesampainya di makam, ‘Adhadu al-Daulah memasukinya dan melakukan ziarah kubur serta shalat dua rakaat di samping kuburnya. Setelah shalat ia melakukan sujud sambil berdoa dengan sangat panjang. Akan tetapi aku tidak tahu apa yang dimintanya –kepada Allah. Setelah itu, kita kembali ke kamp sementara ketentaraan. Kami tinggal di tempat itu untuk beberapa hari, baru kemudian meneruskan perjalanan ke Hamadan. Aku tetap bersama ‘Adhadu al-Daulah dan menetap di Hamadan beberapa bulan.

Tidak terlalu lama berlalu di Hamadan, ‘Adhadu al-Daulah memanggilku dan berkata, “Apakah kamu masih ingat terhadap apa-apa yang kamu katakan padaku tentang Makam Nudzuur itu?” Aku menjawab, “Masih ingat.” Ia berkata, “Karena kamu teman yang baik, maka pada waktu itu aku menjawabmu seperti itu (tidak menghukum). Aku sama sekali tidak percaya terhadap apapun yang kamu katakan. Hatiku mengatakan bahwa yang kamu katakan itu tidak lebih dari kebohongan belaka. Akan tetapi, setelah lewat beberapa waktu, aku teringat terhadap suatu masalah yang menakutkanku. Jangan sampai hal yang kubayangkan itu benar-benar terjadi dan akupun menjadi binasa. Aku berfikir keras untuk mencari jalan keluarnya. Aku bahkan siap menggunakan semua harta, rumah dan tentaraku untuk menghindarinya. Akan tetapi aku tetap tidak punya ide dan tetap mendapatkan kebuntuan. Kemudian aku teringat dengan kata-katamu tentang Makam Nudzuur itu dan aku berkata kepada diriku sendiri, ‘Mengapa aku tidak mencobanya walau hanya sekali?’. Karena itu akupun bernadzar seperti ini: ‘Kalau Tuhan membantuku dalam masalah ini, maka aku bernadzar untuk memberikan pada makam itu sepulu ribu Dirham (kepeng uang perak) tanpa kurang sedikitpun.’ Setelah beberapa waktu berlalu, diberitakan kepadaku bahwa hal yang kutakutkan itu, ternyata tidak terjadi. Akupun menyuruh Abu al-Qaasim (sekretarisnya) untuk menulis surat kepada Abu al-Rayyaan (gubernur ‘Adhadu al-Daulah untuk kota Baghdaad) untuk menyumbangkan sepuluh ribu Dirham ke Makam Nudzuur itu.”

Kemudian, ia –‘Adhadu al-Daulah- di ruang pertemuannya itu, menoleh ke arah ‘Abdu al-‘Aziiz (Abu al-Qaasim), dan iapun berkata kepada ‘Adhadu al-Daulah, “Aku telah menuliskannya dan telah melaksanakan perintahmu.”[17]

Fatwa-fatwa Ulama

1. Khaalidii

Ia setelah meriwayatkan hadits dari Abu Daawud, berkata, “Kaum Khawaarij tidak membolehkan nadzar untuk makam-makam para nabi dan orang-orang shalih. Alasannya adalah karena mereka itu adalah berhala-berhala dan merupakan hari raya bagi hari rayanya orang-orang kafir di jaman Jaahiliyyah. Aku berlindung kepada Allah dari perkataan mereka yang buruk dan mengandung kesyirikan ini. Pikiran Khawaarij ini adalah suatu kekhurafatan dan kesesatan yang diatas namakan agama dan dimasukkan menjadi bagiannya. Mereka telah berani sekali kurang ajar kepada para nabi dan wali-wali Tuhan itu dengan menyamakan mereka dengan berhala-berhala. Mereka benar-benar tidak hormat telah merendahkan para nabi. Sementara itu, kalau ada orang yang berani mengkritiki mereka –Khaawarij- walau dengan bahasa yang halus, maka mereka langsung akan mengafirkannya. Bahkan dalam beberapa kondiri, mereka tidak menerima taubatnya hingga menghalalkan harta, keluarga dan darahnya. Para Khaawarij ini menjadi hina, karena telah menganggap bahwa tawassul dengan para nabi dan para wali –kepada Allah- itu adalah ibadah (menyembah) kepada mereka –para nabi dan wali- dan telah berani pula menyamakan para nabi dan wali dengan berhala-berhala.

Pandangan-pandangan bodoh seperti pandangan Khawaarij ini –yang muncul dari kesesatan mereka sendiri- tidak layak mendapatkan pembelaan hingga ditaujih (dicari takwilan benarnya), dan Tuhan lebih tahu keadaan mereka.”[18]

“Pandangan-pandangan Ibnu Taimiyyah dan siapa saja yang telah mengikuti kesesatannya, tidak memiliki bobot yang perlu diperhatikan.”[19]

2. Raafi’ii

Ia menukil dari pengarang kitab Tahdziib dan yang lainnya, “Kalau seseorang bernadzar untuk memberikan sejumlah harta kepada sejumlah tertentu dari masyarakat, maka wajib baginya untuk memberikannya kepada mereka.”

Ia juga berkata, “Begitu pula –wajib dibagi kepada masyarakat sekitar- kalau ia bernadzar untuk mengirimkan sejumlah harta untuk makam yang terkenal di kota Jurjaan -misalnya.”

Pandangan pengarang kitab Tahdziib dalam melaksanakan nadzar seperti ini –untuk makam- adalah dengan membagi sesuatu yang dinadzarkan itu kepada mereka yang berada atau tingga di sekitar makam. Akan tetapi dengan syarat bahwa kalau masyarakat memang memahaminya seperti itu. Akan tetapi kalau tidak demikian halnya –misalnya bendanya tidak bisa dibagi- maka ada dua pandangan terhadap keabsahan nadzar tersebut:

  1. Nadzarnya itu tidak syah. Dengan alasan tidak ada dalilnya di dalam syari’at. Beda halnya dengan kalau bernadzar untuk Ka’bah dan Makam Nabi saw dimana ada dalilnya;
  2. Nadzar ini adalah shahiih dengan syarat, orang yang dimakamkan di dalamnya itu dikenal dengan keshalihannya. Dalam kondisi seperti ini, maka sesuatu yang dinadzarkannya itu harus digunakan untuk kepentingan makamnya dan tidak boleh dipakai di tempat lain. Sabukii, berpendapat bahwa kalau sesuatu yang dinadzarkan untuk makam itu tidak layak untuk dibagi, maka nadzar seperti ini lebih dekat kepada tidak syahnya.[20]
  3. Khaalidii berkata, “Permasalahan nadzar ini berkisar pada niat dan tujuan pelaku nadzar. Karena nilai dari suatu perbuatan itu tergantung kepada niatnya. Kalau niat pelaku nadzar adalah untuk mendekatkan diri kepada mayat yang dikubur di makam itu, maka nadzar seperti ini tidak boleh. Akan tetapi kalau niatnya adalah mendekatkan diri kepada Allah, akan tetapi manfaat dari sesuatu yang dijadikan nadzar itu untuk kepentingan orang lain dan pahalanya dihadiahkan kepada yang dimakamkan di makam tersebut, maka nadzar seperti bukan hanya tidak dilarang, akan tetapi bahkan wajib dilaksanakan. Dalam kondisi ini, maka baik nadzarnya itu tertentukan (seperti mengatakan “Aku bernadzar dengan sejumlah uang ini untuk dibelikan makanan”) atau mutlak (tidak menyebut penggunaannya), maka secara umum, sesuatu yang dinadzarkan itu harus digunakan untuk kepentingan makam, atau masyarakat yang ada di kota tempat makam itu, atau untuk masyarakat yang tinggal di sekitaran makam, atau untuk fakir miskin, atau untuk keluarga yang dimakamkan tersebut.”

Ia berkata, “Pandangan ini juga merupakan pandangan Adzra’ii, Zarkasyii, Ibnu Hajar Haitsami Makkii, Ramlii Syaafi’ii, Qubbaanii Mishrii, Khairu al-Diin Ramlii Hanafii, Syaikh Muhammad Ghuzzaa dan Syaikh Qaasim Hanafii.[21]

3. ‘Uzzaamii

Ia berkata, “Sebagian ulama masa akhir (belakangan), telah tertipu dengan perkataan Ibnu Taimiyyah dan murid-muridnya. Pada hakikatnya, perkataan Ibnu Taimiyyah dan murid-muridnya, adalah tipuan dalam agama. Mereka menjelaskan agama dengan bahasa dimana tak seorangpun dari kaum muslimin yang bisa mengatakannya.

Kalau seseorang meneliti maksud pelaku nadzar untuk para nabi dan orang-orang shalih, maka ia akan mencapai kesimpulan ini, bahwa selain bersedekah atas nama mereka, tidak punya maksud lain.

Sudah merupakan kesepakatan pandangan madzah Ahlussunnah bahwa sedekahnya orang hidup akan sampai kepada orang yang telah mati –pahalanya- dan akan memberikan manfaat baginya. Riwayat-riwayat yang menerangkan masalah-masalah ini adalah riwayat yang shahih dan terkenal (masyhuur). Karena itu, bernadzar dengan mengorbankan hewan dan apa saja untuk para nabi dan orang-orang shalih, adalah hal dibolehkan agama dan umum dilakukan oleh kaum muslimin dimana bahkan bersumber dari cara hidup mereka dalam sepanjang sejarahnya secara umum, yakni tidak terkhususkan kepada satu madzab tertentu.”[22]


[1] Al-Ghadiir, jld. 5, hal. 180; al-Shiraa’, jld. 1, hal. 45. Penulis kitab al-Shiraa’ adalah  ‘Abdullah al-Qashiimii. Ia dalam kitab-kitabnya telah melakukan fitnahan-fitnahan terhadap Syi’ah dimana tidak layak dilakukan oleh orang yang medakwa dirinya sebagai ulama dan memiliki kehormatan. Sebegitu tingginya permusuhan di hatinya, hingga ia menamakan kitabnya “al-Shiraa’ Baina al-Islaam wa al-Watsaniyyah” (Perang Antara Islam dan Penyembah Berhala). Dan ia menggolongkan orang-orang Syi’ah sebagai penyembah berhala (semoga Tuhan menjauhkan kita semua dari keburukan diri sendiri dan para tangan-tangan Yahudi.)

[2] Kasyfu al-Irtiyaab, hal. 283 atau 355.

[3] Al-Milal wa al-Nihal, hal. 291.

[4] Muhammad ‘Abduh, pensyarah Nahji al-Balaaghah, dalam kitabnya yang berjudul “Al-Islaam wa al-Nashraaniyyah” (Islam dan Nashrani), berkata, “Salah satu dasar dari agama Islam adalah tidak boleh cepat-cepat mengafirkan seseorang. Yang diajarkan oleh agama Islam adalah, kalau kita mendengar pernyataan dari seseorang –terutama seorang muslim- yang terlihat seperti kata-kata kafir, maka kita harus menakwilnya dengan seratus takwilan hingga orang itu tidak mudah dihukumi kafir. Akan tetapi kalau orang tersebut menyatakan sesuatu yang memiliki warna ke-Islam-an, maka kita wajib memaknainya dengan satu makna dan menghukuminya sebagai orang beriman.”

[5] Bawwaanah adalah bukit yang berada di dekat pantai (Mu’jamu al-Buldaan, jld. 2 , hal. 30.)

[6] Sunan Abu Daawud, jdl. 3, hal. 238, hadits ke: 3313.

[7] Mu’jamu al-Buldaan, jld. 1, hal. 505, dan jld. 2, hal. 30.

[8] Shahiih Bukhaarii, jld. 1, hal. 1.

[9] Furqaanu al-Quran, hal. 133. Dalam berbuat baik kepada orang mati –seperti menghadiahi pahala bacaan al-Quran- telah banyak termuat dalam hadits-hadits. Dalam hadits-hadits itu telah dikatakan bahwa kalau seseorang berbuat baik kepada kedua orang tuanya yang telah meninggal, atau untuk keluarga yang ditinggalkan, atau untuk orang lainnya, dengan melakukan ibadah dengan niat bahwa pahalanya untuk mereka, maka pahala tersebut pasti akan sampai kepada mereka. Misalnya riwayat ini:

a. Telah diriwayatkan dari ‘Aisyah, istri Nabi saww yang mengatakan bahwa datang seorang laki-laki kepada Nabi saww dan berkata, “Ibuku telah meniggal dunia dan tidak berwasiat apapun. Aku berfikir seperti ini bahwa kalau ibuku mampu berkata-kata –setelah meniggalnya itu- maka sudah pasti ia akan melakukan sedekah. Kalau aku melakukan sedekah mewakili ibuku, apakah sedekah itu akan bermanfaat untuknya?”

Nabi saww. Menjawab, “Iya.” (lihat Shahiih Muslim, jld. 5, hal. 72; Kasyfu al-Irtiyaab, hal. 280.)

b. Seorang wanita mendatangi Rasulullah saww dan berkata, “Aku membebaskan budak untuk ibuku –yang meninggal.” Nabi saww menjawab: “Kamu juga akan mendapatkan pahalanya.” Lalu ia berkata lagi, “Ibuku memiliki hutang puasa selama sebulan, apakah aku bisa melakukan puasa mewakilinya?” Nabi saww. menjawab: “Berpuasalah –untuknya!” Wanita itu berkata lagi: “Ibuku belum pergi haji, apakah aku bisa melakukan haji untuknya?” Nabi saww. menjawab: “Lakukanlah!” (Shahiih Muslim, jld. 3, hal. 155.)

c. Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnadnya, Abu Daawud dalam kita Sunannya, Turmudzii dalam kitab Jaami’nya, semuanya telah meriwayatkan, Nabi saww dengan tangannya sendiri telah malakukan kurban dengan menyembelih kambing seraya bersabda, “Wahai Tuhan, kurban ini dari aku dan dari siapapun umatku yang tidak melakukan kurban.”

[10] Surat Taubah, ayat ke: 60.

[11] Shulhu al-Ikhwaan, hal. 109; al-Ghadiir, jld. 5,hal. 182.

[12] Nailu al-Ibtihaaj, jld. 2, hal. 62; al-Ghadiir, jld. 5, hal. 204.

[13] Ibid.

[14] Kemungkinan, namanya yang benar adalah Thanbadzah. Kalau ini benar, maka tempat itu adalah suatu desa di Mesir dan bagian dari kota Bahasnaa (sepertinya terjadi salah tulis, dan yang benar adalah al-Bahansaa, pentj.). Atau ia adalah daerah yang ada di Afrika (Mu’jamu al-Buldaan, jld. 4, hal. 364.). Atau kemungkinan yang benarnya adalah bernama Thanthaa. Kalau ini yang benar, maka ia adalah adalah kota yang terkenal di Mesir (Syadzaraatu al-Dzahab, jld. 7, hal. 605).

[15] Al-Mawaahibu al-Laduniyyati, jld. 5, hal. 364; Syadzaraatu al-Dzahab, jld. 7, hal. 605.)

[16] Dia adalah Penguasa di Iraq dan anak dari Sulthaan Hasan bin Bawaih Dailamii (Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld 16, hal 249.). Ia meninggal dunia pada tahun 372 Hijriah dan dikuburkan di Najaf (Iraq).

[17] Taariikhu Baghdaadin, jld 1, hal 123.

[18] Shulhu al-Ikhwaan, hal 109.

[19] Al-Ghadiir, jld 5, hal 183.

[20] Fataawaa al-Sabukii, jld 1, hal 294; al-Ghadiir, jld 5, hal 181.

[21] Shulhu al-Ikhwaan, hal 102; al-Ghadiir, jld 5, hal 181.

[22] Furqaanu al-Quran, hal 133; al-Ghadiir, jld 5, hal 181.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s