Menyalakan Lentera di Kuburan

Oleh: Najmu al-Din Thabasi

Pandangan Wahhabi tentang Menyalakan Lentera di Kuburan

Para Wahhabi mengharamkan penyalaan lentera di kuburan. Dalil mereka adalah beberapa riwayat yang telah dibahas sebelum ini dimana terbukti memiliki problem sanad dan argumentasinya (penyimpulan hukumnya). Riwayatnya seperti berikut ini, “Rasulullah saww melaknati perempuan yang menziarahi kuburan dan siapapun yang membuat masjid serta yang menyalakan lentera (lilin) di atasnya.”[1]

 

Jawaban

Pertama. Hadits ini memiliki sanad perawi yang lemah –dha’iif– sebagaimana yang akan diterangkan kemudian.

Kedua. Laknat Nabi saww ini hanya meliputi perbuatan-perbuatan di atas itu kalau dilakukan di selain kubur para nabi dan wali. Akan tetapi kalau perempuan menziarahi kubur para nabi dan wali, atau membangun masjid di atasnya, atau menyalakan lentera di atasnya, maka tidak termasuk yang dilaknat oleh beliau. Karena memuliakan para nabi dan wali, baik di jaman hidup atau wafat mereka, diperintahkan oleh syariat itu sendiri.

Ketiga. Riwayat di atas itu mencakupi penyalaan lentera di atas Kuburan yang tidak ada keuntungannya sedikitpun. Padahal telah menggunakan uang. Dalam kondisi seperti inilah yang dilarang oleh Nabi sawwdan dilaknatinya.

Akan tetapi, kalau menyalakan lentera di atas kuburan itu dalam rangka membaca al-Quran, doa dan shalat, atau supaya yang datang ke makam tersebut bisa tinggal di malam harinya dimana akan sangat diuntungkan dengan penyalaan lentera tersebut, dalam kondisi seperti ini, bukan hanya tidak haram, bahkan makruhpun tidak. Dan bahkan termasuk perbuatan yang baik.[2]

‘Aziizii, Sanadii, Syaikh Hanafii dan ‘Ali Manshuur, telah menjelaskan masalah riwayat terseut dengan penjelasan seperti di atas ini dimana rinciannya akan disebutkan kemudian.

Salah satu dari bukti kebolehan menyalakan lentera di kuburan itu adalah perbuatan Nabi saww sendiri. Turmudzii telah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas yang berkata, “Suatu malam, Nabi saww pernah mendatangi kuburan dan menyalakan lentera di atasnya.”[3]

Keempat. Cara hidup kaum muslimin, jauh berbeda dengan pandangan para Wahhabi. Karena sebelum kelahiran Ibnu Taimiyyah dan setelahnya, mereka menyalakan lentera di kuburan dan makam-makam mulia. Dan cara hidup kaum muslimin ini, sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya, adalah dalil yang paling kuat bagi kebolehannya.

Contoh-contoh Kehidupan Kaum Muslimin

1. Lampu-lampu dinyalakan di kuburan Abu Ayyuub al-Anshaari

Khathiib al-Baghdaadii meriwayatkan dari Waliid yang berkata, “Seorang tua Palestina menjelaskan kepadaku bahwa ada sebuah bangunan putih di bawah tembok kota Qisthanthaniyyah dimana masyarakat berkata bahwa bangunan itu adalah bangunan kuburan Abu Ayyuub al-Anshaarii, salah satu dari shahabat Nabi saww. Aku mendatangi bangunan itu dan kulihat memang ada kuburan dia di dalamnya. Dan kulihat juga ada Qindiil (lampu pelita)[4] di atasnya yang diikat dengan rantai.”[5]

Khathiib al-Baghdaadii wafat di tahun 462 H (abad ke lima) sementara Ibnu Taimiyyah hidup di abad ke delapan Hijriah dimana jarak waktu keduanya adalah tiga abad.

Cara hidup di atas, adalah cara hidup kaum muslimin sebelum kelahiran Ibnu Taimiyyah, dan tidak ada satu ulama fikihpun sebelum dia yang memfatwakan haramnya perbuatan tersebut. Terlebih menghitungnya sebagai bid’ah dan syirik.

2. Membawa Lentera Untuk Kuburan Zubair

Ibnu Jauzii berkata, “Salah satu dari kejadian tahun 386 Hijriah adalah, bahwasannya masyarakat kota Bashrah (Iraq) telah memutuskan untuk mencari kuburan Zubair bin ‘Awaan dan meletakkan lentara-lentera di atasnya. Begitu pula telah mewakafkan tikar-tikar, karpet-karpet dan penjaga yang berketerusan.”[6]

Pencarian kubur Zubair dan peletakan lentera-lentera di atasnya itu, terjadi pada abad keempat.

Yakni empat abad sebelum lahirnya IbnuTaimiyyah. Dan tak seorangpun yang ingat bahwa ada seorang ulama atau imam fikih sebelum dia yang mengharam meletakkan lentera di kuburan Zubair dan menyalakannya. Begitu pula di kuburan-kuburan lainnya.

3. Lentera-lentera diletakkan di makam Imam Musa as

Khathiib berkata, “Makam Imam Musa as sangat terkenal dan menjadi tempat ziarah. Di atas kuburannya telah dibangun makam yang sangat besar dan di dalamnya telah pula diletakkan lentera-lentera dan emas serta perak. Begitu pula diletakkan macam-macam peralatan, seperti karpet yang banyak sekali jumlahnya.”[7]

Membedah Hadits

Hadits di atas memiliki problem, baik dari sisi sanad atau makna (dalil).

1. Problem Sanad

Haakim meriwayatkan hadits di atas dengan dua jalur/jalan dimana keduanya berakhir pada Ibnu Abbaas. Akan tetapi dalam kedua jalurnya itu terdapat seorang perawi yang bernama Abu Shaalih. Nama Abu Shaalih ini, telah mendapat celaan dan dilemahkan (didha’iifkan) oleh para ulama rijal.

Memang ada orang yang bernama al-Samaan yang juga dijuluki Abu Shaalih. Dia adalah orang yang tsiqah (dipercaya/shahih) dan haditsnya bisa dijadikan dalil atau sandaran –hukum. Akan tetapi, dia tidak ada dalam rentetan perawi hadits ini.

Abu Haatim mengomentari Abu Shaalih (yang pertama) sebagai berikut, “Hadits-haditsnya ditulis, akan tetapi tidak dijadikan dalil dan hujjah.”

Nasaai juga berkata, “Abu Shaalih memiliki cela dan tidak tsiqah/shahiih.”

Ibnu ‘Uddaa berkata, “Semua yang diriwayatkan Abu Shaalih dengan celaan, adalah tafsiran dia sendiri. Sedikitpun ia tidak ada di dalam Musnad. Dan aku tidak mengenal satu orangpun dari para pendahulu, yang rela padanya -menerimanya.”[8]

Dan di dalam riwayat ini, juga ada dua jalur lagi dimana telah kami bahas di pembahasan tentang “Ziarahnya Wanita ke Kuburan”.

2. Problem Implikasi dan Kandungan Hadits

1. Pandangan ‘Aziizii

Ia dalam kitabnya, Syarhu al-Jaami’ dan al-Sarju, berkata, “Yakni, laknat Nabi saww itu mencakup siapa saja yang meletakkan lentara di atas kuburan dan menyalakannya dengan tanpa seorangpun dari manusia yang hidup yang bisa mengambil manfaat darinya. Karena itu, kalau lenteranya dinyalakan dan ada orang yang mengambil manfaat darinya, maka sudah pasti tidak masalah –tidak termasuk yang dilaknati.”[9]

2. Pandangan Sanadii

Ia dalam syarahnya terhadap Sunan Nasaai berkata, “Alasan laknatnya Nabi saww adalah penggunaan uang yang tanpa ada gunanya –mubadzdzir. Karena itu, kalau lenteranya dinyalakan dan ada orang yang mengambil manfaat darinya, maka jelas hal seperti ini tidak masalah –halal.”[10]

3. Syaikh Hanafii

Ia dalam kitab syarahnya (komentar) pada kitab Jaami’u al-Shaghiir, berkata, “Menyalakan lentera di kuburan wali Tuhan, kalau tidak ada satu orangpun yang bisa mengambil manfaat darinya, maka pekerjaan itu adalah haram hukumnya. Karena pemakaian uang di sini, tidak disertai manfaat yang syar’i –mubadzdzir.”[11]

Syaikh ‘Alii Naashif berkata, “Hukum menyalakan lampu di kuburan adalah tidak boleh. Karena dengan perbuatan itu, telah membuang-buang harta tanpa ada gunanya –mubadzdzir. Kecuali kalau ada orang yang bisa mengambil manfaat darinya. Dalam keadaan seperti itu, maka menyalakan lampu di kuburan, tidak bermasalah lagi.”[12]

Dengan semua penjelasan di atas itu, dapat dipahami bahwa hadits tersebut adalah dalam rangka memberikan arahan irsyaadi atau akhlaki (bukan arahan hukum) kepada kita agar tidak menggunakan harta/uang tanpa alasan dan tanpa ada gunanya. Karena itu, kalau penyalaan lampu atau lentera di kuburan itu memiliki manfaat yang masuk akal, maka hadits laknat itu tidak mencakupinya. Dengan demikian, perbuatan ini memiliki hukum yang mubah (halal atau tidak masalah).

Lagi pula, laknat dalam hadits itu, tidak bermakna pengharaman terhadap obyeknya. Karena kadang-kadang, laknat dalam hadits bisa memiliki makna makruh, bukan haram.[13]

Apapun itu, sesuai dengan dalil-dalil yang telah kami kemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hadits pelaknatan pada yang menyalakan lampu di atas kuburan itu, tidak bisa dipercaya dan tidak bisa dijadikan dalil. Karena itu hadits tersebut harus ditolak (marduud).


[1] Sunan Nasaai, jld. 4, hal. 95; Mustadrak al-Haakim, jld. 1, hal. 530, hadits ke: 1384.

[2] Sesuai dengan al-Quran surat: al-Maaidah, ayat ke: 2, “Tolong menolonglah kalian dalam kebajikan dan takwa. Jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan!”

[3] Jaami’u al-Shahiih, jld. 3, hal. 372.

[4] Qindiil adalah lampu pelita atau lentera atau juga tempat lilin. Dan di dalam suatu riwayat telah pula diriwayatkan bahwa, “Seorang lelaki shalat sementara di sampingnya diletakkan lampu lentera.” (Majma’u al-Bahrain, jld. 5, hal. 456, kata dasar: Qindiil).

[5] Taariikhu Baghdaadin, jld. 1, hal. 154.

[6] Al-Muntazham, jld. 14, hal. 383.

[7] Wafiyyaatu al-A’yaan, jld. 5, hal. 310.

[8] Al-Kaamil Fii al-Dhu’afaa’, jld. 2, hal. 71; Mustadrak karya Haakim, hal. 530, hadits ke: 1384.

[9] Syarhu al-Jaami’i al-Shaghiir, jdl. 3, hal. 198.

[10] Sunan sl-Nasaai, jld. 4, hal. 198.

[11] Kasyfu al-Irtiyaab, hal. 339.

[12] Al-Taaju al-Jaami’i Li al-Ushuul, jld. 1, hal. 381.

[13] Memang, menyimpulkan hadits laknat pada kemakruhan dan bukan pada keharaman, adalah lemah dan tidak kuat. Karena laknat, lebih kuat kepada pengharaman.  Karena itu, perubahan (inshiraaf) dari makna haram ke makna makruh, memerlukan dalil (karena itu, kalau penyalaan lampunya tidak memiliki manfaat sedikitpun, maka tetap dihukumi haram, pentj.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s