Menangisi Orang Mati dan Mendirikan Majelis Duka

Oleh: Najmu al-Din Thabasi

Menangisi Mayat dan Mengadakan Majelis Duka

Sesuai dengan saksi kitab-kitab sejarah dan hadits-hadits, dapat diketahui bahwa Nabi saww, shahabat dan taabi’iin, menangisi orang yang mati dan orang yang syahid. Mereka memberikan peluang kepada orang lain untuk melakukan tangisan duka ketika salah satu keluarganya ada yang meninggal dunia. Dan bahkan merangsangnya untuk itu sebagaimana ‘Aisyah yang memukuli wajahnya karena duka ketika Rasulullah saww wafat. Begitu pula mereka biasa mendirikan majelis duka yang sangat besar ketika kehilangan tokoh-tokohnya, seperti Muhaddits (perawi dan ahli tentang hadits) dan semacamnya. Sejarah telah menjadi saksi terhadap semua itu dengan rekaman-rekamannya:

 

1. Usaamah bin Zaid meriwayatkan, Salah satu dari putri Rasulullah saww mengutus satu orang kepada Rasulullah saww untuk memberitakan tentang kematian anaknya dan mengundang beliau untuk datang. Orang tersebut mendatangi Rasulullah saww dan mengabarkan apa yang telah terjadi dan menyampaikan pesannya. Setelah itu ia kembali dan berkata kepada putri beliau, “Rasulullah saww menyampaikan salam dan bersabda, ”Adalah merupakan hak Tuhan untuk memberi kepada siapapun, dan mengambil dari siapapun yang Ia kehendaki. Semua hal disisiNya sangat jelas dan memiliki batasan serta sudah diketahui –seluk beluknya. Karena itu sabarlah dan mintalah balasan pahala dariNya.””

Putri Nabi saww berkata kepadanya, “Kembalilah ke Rasulullah dan bertawassullah dengan diri beliau untuk datang!”

Dengan kedatangan ke dua kalinya utusan tersebut, Rasulullah saww bersama dengan beberapa orang shahabat, seperti Sa’d bin ‘Ubaadah, Mu’aadz bin Jabal, Ubai bin Ka’b, Zain bin Tsaabit dan yang lainnya, pergi mendatangi rumah putrinya itu. Rasulullah saww mengambil anak putrinya tersebut dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Beliau melakukan itu sambil berdoa dan menangis. Sa’d menanyakan mengapa beliau menangis. Beliau menjawab, “Tangisku bersumber dari fitrah kasih dan rahmatku dimana Tuhan meletakkannya dalam semua hati manusia. Tentu saja, Dia hanya akan merahmati orang yang memiliki perasaan kasih kepada orang lain.”[1]

2. Ahmad meriwayatkan, Ketika Rasulullah saww pulang dari perang Uhud, beliau melihat para wanita Anshaar yang menangisi suaminya yang telah syahid di perang itu. Beliau bersabda, “Kasihan Hamzah yang tidak memiliki orang yang berduka dan menangisinya.”

Setelah itu beliau beristirahat –sejenak. Dan ketika bangun, beliau melihat para wanita sedang menangisi Hamzah –di dekat jenazahnya.

Ibnu ‘Abdu al-Bir sesuai dengan riwayat Waaqidii, berkata, “Seremoni ini –menangisi orang mati yang didahului dengan menangisi Hamzah- diteruskan sampai sekarang. Tak seorangpun orang mati yang ditangisi kecuali terlebih dahulu menangisi Hamzah.”[2]

4. Balaadzurii berkata, Ketika Ja’far bin Abi Thaalib telah syahid, Rasulullah saww mendatangi istrinya, Asmaa’ bintu ‘Umais. Beliau mengucapkan duka atas kesyahidan suaminya. Ketika beliau keluar dari rumah Ja’far, bersabda, “Wahai para penangis, kalian wajib menangisi orang seperti Ja’far!”[3]

4. Haakim meriwayatkan, “Suatu hari Rasulullah saww mendatangi orang yang telah meninggal dan ‘Umar bin Khaththaab menyertainya. Saat itu terdengar suara tangisan wanita-wanita yang sedang menangis. ‘Umar menghardik mereka karena tangisannya itu. Rasulullah saww bersabda, “Hai ‘Umar, jangan ganggu mereka, karena menangis itu fitrah mata, sedih itu fitrahnya jiwa, sementara kematian itu sangatlah dekat!””[4]

Yang bisa dipahami dari hadits ini adalah, bahwa keharaman manangis untuk orang mati itu bersumber dari perbuatan ‘Umar ini. Akan tetapi Rasulullah saww sendiri tidak mengharamkannya. ‘Umarlah yang tanpa memperhatikan perintah Rasulullah saww, tetap melarang orang yang menangisi keluarganya yang meninggal dunia!!!

 

Sirah Praktis Rasulullah saww

Sejarah telah pula menjadi saksi terhadap tangisan Rasulullah saww untuk orang yang telah meninggal. Seperti tangisan beliau untuk putranya Ibrahiim, atau untuk ‘Abdu al-Muthallib, Abu Thaalib, Hamzah, Faathimah bintu Asad, Aaminah bintu Wahab (ibu beliau), ‘Utsmaan bin Mazh’uun, Sa’d bin Rabii’ dan lain-lainnya:

 

1. Tangisan Nabi saww ketika putranya Ibrahiim meninggal dunia

Ketika Nabi saww ditanya tentang kematian anaknya, beliau menjawab:

“Semua mata manangis dan hatipun terbakar duka. Akan tetapi kami tidak mengatakan apapun yang bisa membuat Tuhan murka -mengeluh.”[5]

2. Tangisan Nabi saww ketika ‘Abdu al-Muthallib meninggal dunia

Ummu Aiman berkata, “Aku melihat Rasulullah saww menangis sambil berjalan di bawah tabut yang diusung untuk membawa jenazah ‘Abdu al-Muthallib.”[6]

3. Tangisan Nabi saww ketika Abu Thaalib meninggal dunia

Imam Ali as berkata, “Ketika aku mengabarkan meninggalnya Abu Thaalib –ayahku- kepada Rasulullah saww, beliau menangis dan bersabda, “Mandikanlah dia, lalu kafani dan kuburkanlah. Semoga Allah mengampuni dan merahmatinya.””[7]

4. Tangisan Nabi saww ketika syahidnya Hamzah

“Rasulullah saww menangis ketika melihat Hamzah terbunuh –di medan perang. Begitu pula beliau menangis keras, ketika melihat jasadnya terpotong-potong.”[8]

5. Tangisan Nabi saww ketika Faathimah bintu Asad (ibu Imam Ali as) meninggal dunia

“Rasulullah saww menyolati jenazahnya dan melaburi tubuh beliau sendiri dengan tanah kuburnya sambil menangis.”[9]

6. Tangisan Nabi saww ketika mengenang ibunda beliau di kuburnya

“Rasulullah saww menziarahi kubur ibundanya, Aaminah bintu Wahab, sambil menangis.”[10]

7. Tangisan Nabi saww ketika ‘Utsmaan bin Mazh’uun meninggal dunia

“Ketika ‘Utsmaan bin Mazh’uun meninggal dunia, Rasulullah saww menciumnya sambil menangis.”[11]

8. Tangisan Nabi saww untuk Sa’d bin Rabii’

Jabir bin ‘Abdullah berkata, “Ketika Sa’d bin Rabii’ terbunuh di perang Uhud dan setelah Nabi saww kembali ke Madinah, beliau pergi ke Hamraau al-Asad. Istri Sa’d, seorang wanita yang berpikiran jauh, pada hari itu pergi ke Aswaaf, suatu tempat di pinggiran Baqii’, dan membuat makanan dari roti dan daging. Setelah itu ia mengundang Rasulullah saww. Sejak pagi hari kami selalu memperhatikan Nabi saww dan duduk di sebelah beliau. Kami waktu itu saling bercerita tentang perang Uhud satu sama lainnya dan menyebutkan masing-masing orang yang telah syahid di peperangan itu. Diantara yang kami sebut adalah Sa’d bin Rabii’. Nabi saww bersabda, “Ayo pergi bersamaku!’ Kamipun bangkit dan pergi ke Aswaaf bersama beliau. Ketika kami sampai di sana, beliau masuk dan kamipun ikut serta. Saat itu kami sedang melihat istri Sa’d bin Rabii’ yang sedang membersihkan tempat itu dengan menyapu dan menyiraminya dengan air. Ia juga meletakkan pelepah-pelepah di atas tanah sebagai tempat duduk. Demi Tuhan aku tidak melihat satu karpet dan bantalanpun. Kami semua duduk. Kemudian Nabi saww mengenang tentang Sa’d bin Rabii’ dan mendoakannya kepada Allah untuk merahmatinya. Kemudian beliau besabda, “Aku melihat panah-panah yang silih berganti menancap di tubuh Sa’d hingga ia syahid.” Para wanita menangis begitu mendengar sabda beliau tersebut. Beliaupun ikut menangis dan tidak melarang para wanita yang menangis itu untuk berhenti.”[12]

 

Sirah Shahabat dan Taabi’iin

1. Tangisan Imam Ali as mendengar berita syahidnya Maalik Asytar ra

Beliau bersabda, “Wahai para penangis, menangislah untuk Maalik karena ia layak untuk ditangisi!”[13]

2. Tangisan ‘Aisyah ketika Nabi saw wafat

‘Ibaad berkata, “Aku mendengar ‘Aisyah yang berkata: ‘Ketika Rasulullah saww wafat, aku meletakkan kepala beliau di atas bantal lalu setelah itu aku dan wanita-wanita yang ada di sekitarku memukuli dada dan wajah kami.’”[14]

3. Tangisan Ibnu Mas’uud

“Ibnu Mas’uud bediri di kubur Umar, ia menghampar baju jubahnya lalu duduk di atasnya sambil menangis.”[15]

4. Tangisan ‘Abdullah bin Rawwaah

Ibnu Hisyaam berkata, “’Abdullah bin Rawwaah berkata: ‘Aku menangis atas jasadnya Hamzah bin ‘Abdu al-Muthallib.’”[16]

5. Tangisan Uman bin Khaththaab

‘Utsmaan berkata, “Sesampai berita kematian Nu’maan bin Muqrin, aku melihat kepada ‘Umar. Ia meletakkan tangannya di atas kepadanya sambil menangis.”[17]

6. Tangisan wanita-wanita Bani Sufyaan

Hasan Bashrii berkata, “Husain bin ‘Ali berserta enam belas keluarganya terbunuh dalam peristiwa Karbala. Orang-orang Syaam (tentara Yaziid) telah menjadikan keluarga wanita Nabi saww-pun sebagai tawanan. Mereka dibawa di atas onta. Sesampainya di istana Yaziid, putri imam Husain yang bernama Faathimah bekata, “Hai Yaziid, berani-beraninya kamu lancang dengan menyandra keluarga Rasulullah saww?” Yaziid menjawab, “Aku tidak berani. Mereka ini adalah orang-orang merdeka dan terhormat. Masuklah kalian ke dalam dan bertemulah dengan putri-putri paman kalian (karena Bani Hasyim atau keluarga Nabi saww masih sepupuan dengan Bani Umayyah). Mereka juga melakukan apa-apa yang kalian lakukan (manangis duka).” Faathimah berkata, “Ketika aku masuk ke dalam, aku melihat semua keluarga wanita Bani Sufyaan memukuli dada mereka sambil menangis.””[18]

7. Tangisan masyarakat Mekkah ketika Rasulullah saww wafat

Sa’iid bin Musayyab berkata, “Ketika berita wafatnya Nabi saww sampai ke kota Makkah, masyarakat secara serempak menangis histeris. Abu Qahaafah ketika mendengar goncangan suara itu bertanya, “Suara apa ini?” Dijawab, “Rasulullah saww telah wafat.’ Kemudian ia berkata, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un.””[19]

8. Tangisan masyarakat Madinah ketika mendengar syahidnya Imam Husain bin ‘Ali as

Thabarii menulis dalam Taariikhnya, ketika ‘Ubaidullah bin Ziyaad –semoga laknat Allah untuknya- telah membunuh Husain bin ‘Ali dan kepala Husain diletakkan di hadapannya, ia memanggil ‘Abdu al-Malik bin Abii al-Haarits al-Sulamii dan berkata kepadanya, “Pergilan ke Madinah dan kabarkan berita bahagia ini, tentang terbunuhnya Husain ini, kepada gubernur Madinah, ‘Amru bin Sa’iid!” ‘Abdu al-Malik berkata, “Ketika aku memasuki kota Madinah, aku berpapasan dengan seorang dari Quraisy yang bertanya kepadaku, “Ada berita apa?” Aku menjawab, “Aku harus menyampaikan berita ini pada gubernur.” Ia berkata, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Berarti Husain bin ‘Ali telah terbunuh.” Aku masuk ke gubernuran ‘Amru bin Sa’iid. Ia bertanya kepadaku, “Apa yang telah terjadi?” Aku menjawab, ‘Semoga amiir –gubernur- bahagia dengan berita ini, Husain bin ‘Ali telah terbunuh.’ ‘Amru bin Sa’iid berkata, “Sampaikanlah berita ini kepada semua masyarakat Madinah dengan suara nyaring!” Akupun menyampaikan berita itu di seluruh kota Madinah. Demi Allah aku tidak pernah melihat kumpulan tangisan duka seperti yang dilakukan oleh keluarga Banii Haasyim untuk Husain bin ‘Ali kala itu.”[20]

Ketika berita tentang syahidnya imam Husain as sampai ke kota Madinah, putri ‘Aqiil bin Abii Thaalib dengan memakai baju khususnya ia menyantunkan syair duka:

Kalau Nabi bertanya: Setelah aku

Apa yang kalian lakukan atas keluargaku

Kalian menyandra sebagian mereka

Kalian membantai sebagian lainnya

Padahal kalian umat nabi akhir jaman??!

9. Tangisan ‘Abdullah bin ‘Umar

Ketika ‘Aisyah meninggal dunia, ‘Abdullah bin ‘Umar manangisinya. Dikala berita tangisannya ini sampai ke Mu’aawiyah, ia diperoloknya dan berkata, “Kamu menangisi seorang perempuan?” Ia menjawab, “Seorang anak sudah selayaknya menangisi ibunya. Yang tidak menangisinya berarti ia bukan anaknya.”[21] (Maksudnya ‘Aisyah itu adalah ibu semua muslimin karena ia istri Nabi sawwKarena itu, yang tidak menangisinya berarti ia bukan muslim karena tidak merasa kehilangan ibunya)

10. Tangisan Mu’aawiyyah

Ketika berita tentang terbunuhnya banyak tentara Mu’aawiyyah di peperangan melawan Romawi sampai ke kota Damaskus, maka para penyair membacakan puisi-puisi duka. Mu’aawiyyah dan masyarakat menangis mendengarnya.[22]

11. Impian pengidung duka

Ketika berita tentang maninggalnya Ahmad bin Hanbal sampai ke pendengaran Muhammad bin Yahya Dzihlii Niysaaburii, ia berkata, “Sudah selayaknya seandainya semua masyarakat kota Baghdaad mengadakan majelis duka di rumah masing-masing.”[23]

 

Perayaan Duka di Jalanan dengan Menabuh Genderang

1. Perayaan duka ‘Abdu al-Mu’min (wafat 346 H)

Nasfii berkata tentang meninggalnya ‘Abdu al-Mu’min (meninggal th 346 H), “Aku hadir di dekat jenazah syaikh Abi Ya’laa –‘Abdu al-Mu’min bin Khalaf- yang diletakkan di sebuah mushalla. Aku mendengar tabuhan genderang seperti yang ditabuh di kala perang. Suara itu bergemuruh dan telah meliputi daerah itu. Sebegitu bergemuruhnya hingga diantara kami mengira bahwa kota sedang diserbu musuh. Ketika masyarakat sudah berkumpul dan ingin melakukan shalat jenazah, suara-suara genderang itu berhenti. Sebegitu heningnya setelah itu hingga seakan tak pernah terdengar suara apapun.”[24]

‘Abdu al-Mu’min adalah seorang imam, haadizh, teladan dan salah satu ulama ahli fikih di Baghdaad yang mempromosikan fikihnya Muhammad bin Daawud dan menentang ulama-ulama yang menggunakan qiyaas. Ia seoarng yang pandai, ahli ibadah dan memiliki ilmu yang sangat luas.[25]

2. Perayaan duka Juwainii (wafat 478 H)

Dzahabii berkata, “Juwainii meninggal dunia pada tanggal 25 Rabii’u al-Tsaanii dan dikuburkan di rumahnya. Setelah beberapa tahun, jasadnya dipindah ke pekuburan al-Husain dan dikuburkan di dekat orang tuanya.

Ketika ia meninggal dunia, masyarakat berebut memotongi mimbarnya untuk tabarruk, dan mereka meliburkan pasar selama setahun. Mareka hanya mengadakan majelis duka dan membacakan puisi-puisi duka –selama setahun. Ia memiliki sekitar 400 orang murid dimana ketika ustadznya itu meninggal dunia, mereka meliburkan diri demi mengadakan majelis duka. Mereka membuka serban selama setahun, sebegitu serempaknya hingga seakan-akan tidak ada orang yang berani memakainya. Para santrinya berkeliling kota dan membacakan puisi-puisi duka dengan suara keras sambil menangis.”[26]

Dzahabii setelah menuliskan sejarah di atas ini, ia menulis dengan datar, “Perbuatan seperti ini hanya dilakukan oleh orang-orang ‘Ajam (bukan Arab). Sementara para ulama sebagai pembimbing agama tidak pernah melakukan hal tersebut.”

Di lain tempat Dzahabii menuliskan tentang peringatan duka untuk Imam Husain as di kota Baghdaad pada masa pemerintahan Mu’izzu al-Daulah (Bani ‘Abbaas) dengan tulisannya, “Masyarakat meliburkan pasar, mengibarkan bendera hitam, turun ke jalan-jalan, memukuli kepala dan muka demi mengadakan peringatan dan majelis-majelis duka untuk Imam Husain as.”

Terakhir Dzahabi, dengan tanpa malu dan penuh kecongkakan, menulis, “Ya Allah, sempurnakanlah akal kami.”[27]

Penentangan Dzahabi ini terhadap peringatan duka –yang diiringi juga dengan pemukulan kepala atau dada- untuk Imam Husain as sebagai penghulu pemuda surga ini, merupakan suatu yang sangat mengherankan. Tak ada satu ulamapun yang menentang perkataannya itu dan mereka memilih diam. Akan tetapi ketika Dzahabi menentang peringatan duka untuk Juwainii dan mengatakan bahwa apa-apa yang dilakukan murid-murid Juwainii itu sebagai perbuatan yang berasal dari orang-orang ‘Ajam (bukan Arab), dan juga mengatakan bahwa tak satupun dari ulama melakukan peringatan seperti itu, maka para ulama –Sunni- angkat bicara menentangnya.

Sabkii dalam menjawab Dzahabi itu berkata, “Orang ini –Dzahabi- telah mengatakan sesuatu yang membuat almarhum imam Juwainii marah. Karena bukanlah ia sendiri yang melakukannya dan bukan pula ia yang meminta dalam wasiatnya untuk diperingati seperti itu, hingga kita dikatakan diam –oleh Dzahabi- karena mengecualikannya sebagai orang besar. Para penukil peristiwa peringatan itu, menukilkan peringatan tersebut hanya demi ingin menunjukkan makamnya sebagai ulama terbesar di jamannya. Terutama karena ia memiliki 400 orang murid. Murid-murid itu, karena tidak kuasa menahan sedih ditinggal maha guru mereka, maka mereka melakukan semua penghormatan tersebut.

Ketahuilah, kalau bukan karena musibah yang sangat besar ini, maka para murid itu tidak akan pernah melakukan peringatan duka yang berkepanjangan tersebut. Dan kalau seseorang tahu akan kebesaran taufik yang telah didapat oleh imam Juwainii, maka ia akan dapat memahami dan menerimanya. Apapun itu, posisi dan kebesarannya di antara para ulama besar di jamannya, tidak bisa ditutupi.”[28]

3. Peringatan duka untuk Ibnu Jauzii (wafat 597 H)

Dzahabi berkata, “Ibnu Jauzii meninggal pada hari Jumat tanggal 23 bulan Ramadhan, antara maghrib dan ‘isya’. Pada hari itu pasar kota diliburkan dan masyarakat berkumpul secara besar-besaran. Masyarakat setelah melakukan buka puasa, entah karena kehausan akibat panas matahari pada siang harinya, atau karena rasa sedih yang sangat dalam, maka mereka menceburkan diri ke dalam air. Kafan Ibnu Jauzii robek-robek sebelum sampai ke kuburan. Karena dirobeki dan diambil oleh masyarakat sebagai tabarruk. Ia dimakamkan dengan teriakan takbir seorang mu’adzdzin.

Masyarakat sangat berduka atas kepergiannya hingga sampai akhir bulan Ramadhan, mereka menginap di kuburannya. Mereka melakukan khataman al-Quran dengan penerangan lampu-lampu lilin dan lentera. Kami sampai hari Sabtu tetap berada di kuburannya untuk mendirikan majelis duka dan melakukan ceramah tentang fadhilahnya. Gelombang masyarakat yang datang sangat besar dan mengikuti majelis duka tersebut.”

Layak untuk disebutkan disini bahwa: Mereka mengatakan bahwa ketika Ibnu ‘Asaakir dan Ibnu ‘Abdu al-‘Aziiz meninggal dunia, langitpun ikut berduka dan menangis. Kata-kata ini saling dinukilkan diantara mereka dan tidak ada yang perduli terhadap kebenaran atau kesalahannya. Akan tetapi, ketika mereka mendengar bahwa langit bersedih dan menangis dikala imam Husain bin ‘Ali –sebagai penghulu pemuda surga,[29] mereka seperti tersengat serangga dan langsung maragu-ragukannya.

4. Tangisan untuk Ibnu ‘Asaakir (wafat 571 H)

Anak Ibnu ‘Asaakir berkata, “Di tahun yang ayahku meninggal dunia, adalah tahun kekeringan karena tidak turun hujan. Akan tetapi ketika ayahku meninggal dan masyarakat sedang membawa jenazahnya, hujan mulai turun. Sepertinya langit sedang menangisi ayahku dengan tangisan yang lebat.”[30]

5. Tangisan langit untuk ‘Umar bin ‘Abdu al-‘Aziiz

Telah diriwayatkan dari Khaalid Rabu’ii yang berkata, “Telah ditulis dalam Tauraat bahwa langit menangisi kematian ‘Umar bin ‘Abdu al-‘Aziiz selama empat puluh hari.”[31]

 

Majelis Duka untuk Imam Husain as oleh Sibthu ibnu al-Jauzii

Ibnu Katsiir berkata, “Di jaman pemerintahannya Malik Naashir, penguasa Halb, telah meminta –kepada Ibnu Jauzii- untuk menjabarkan musibah yang terjadi di Karbala pada hari duka sepuluh Muharram (‘Aasyuuraa). Ibnu Jauziipun pada hari itu naik mimbar. Akan tetapi sesampainya di atas mimbar, dalam waktu yang lama, ia hanya menangis dan menangis, tanpa bisa berkata-kata. Dalam keadaan mangis itu ia sempat mengucapkan beberapa bait puisi:

 

Celakalah musuh pemberi syafaatnya

Di hari kebangkitan, di hari terguncangnya ciptaan

Faathimah kan masuki gelanggang sidang

Baju Husain yang berdarah kan jadi tuntunan

Kemudian ia turun dari mimbar dalam keadaan masih menangis, dan langsung menuju ke rumahnya yang berada di Shaahiliyyah dalam keadaan terus menangis –semoga Tuhan merahmatinya.”

Dari semua bukti kitab-kitab sejarah ini dapat disimpulkan bahwa mendirikan majelis duka, memukuli badan karena duka, membaca puisi-puisi duka, membaca kidungan dan lagu duka, menangis dan memukuli kepada dan dada, menabuh genderang duka, meliburkan pasar dan semacamnya yang biasa ditunjukkan di masa duka, adalah sesuatu yang biasa terjadi di kalangan kaum muslimin[32] –sejak jaman shahabat seperti yang dilakukan ‘Aisyah- dan tak satupun yang berani mencela mereka dengan tidak berakal atau mengatainya: “Kamu adalah pembuat bid’ah dan telah melakukan yang diharamkan Tuhan.”

Memang, ketika masalah majelis duka ini berhubungan dengan Imam Husain as –penghulu pemuda surga- dimana telah syahid di tangan Bani Umayyah, maka pengikut Ibnu Taimiyyah tidak lagi mampu manahan dirinya, hingga dengan tanpa malu-malu dan tidak menjaga akhlak, menumpahkan apapun yang ada di hatinya dan membabi buta dalam kritikannya. Disinilah akal kita berpikir, apakah mereka itu memang penerus kerajaan Bani Umayyah?! Semoga mereka dibangkitkan bersamanya.

 

Dalil-dalil Pengharaman Menangisi Orang Mati

Dalil pertama. Adalah hadits yang berkata, “Orang mati mendapat siksa kalau ditangisi keluarganya.”

Hadits ini telah diriwayatkan oleh ‘Umar bin Khaththaab. Intinya adalah:

 

  1. Orang mati akan mendapat siksa kalau diratapi;
  2. Orang mati akan mendapat siksa kalau ditangisi keluarganya;
  3. Orang mati akan mendapat siksa karena tangisan sebagian keluarganya.[33]

Dari sebagian riwayat dapat dipahami bahwa sang perawi –‘Umar- ketika meriwayatkan haditsnya telah melakukan kekeliruan, atau mungkin ia kelupaan matan haditsnya. Karena itu ‘Aisyah menolak keras hadits ini.

Ibnu ‘Abbaas berkata, Ketika ‘Umar meninggal dunia, aku menukilkan hadits itu –yang dari ‘Umar- kepada ‘Aisyah.

Ia menjawab, “Semoga Tuhan merahmati ‘Umar. Demi Tuhan Nabi saww tidak pernah bersabda yang demikian itu. Yang disabdakan beliau adalah seperti ini: “Sesungguhnya Allah akan menambah siksa bagi orang-orang kafir disebabkan tangisan keluarganya.’ Dan untuk kalian cukuplah al-Quran yang berfirman, “Dan orang-orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”[34]” Di majelis itu juga ada anak ‘Umar, akan tetapi ia tidak berkomentar apapun.[35]

Begitu pula telah diriwayatkan dari ‘Aisyah, ketika dikatakan kepadanya bahwa Ibnu ‘Umar telah meriwayatkan dari Nabi saww yang bersabda, “Orang mati akan mendapat siksa karena tangisan keluarganya.”, ia berkata, “Semoga Tuhan mengampuni Abu ‘Abdu al-Rahmaan, Ibnu ‘Umar. Ia tidak berdusta, akan tetapi mungkin ia sedang lupa atau salah meriwayatkan hadits. Ketika Nabi saww sedang melewati kuburan seorang perempuan Yahudi, beliau melihat keluarganya sedang menangisinya. Beliau bersada: ‘Mereka menangisi mayat yang dikubur, padahal yang di dalam kuburan sedang menderita adzab.’”

 

Penafsiran Hadits

Sebagian ulama telah memparhatikan hadits ini dan berusaha memaknainya:

 

  1. Mereka menangisi dan meratapi orang yang telah meninggal itu sambil menghitung-hitung kebaikannya. Mereka mengira bahwa yang disebutkannya itu adalah kebaikan dari yang mati, padahal syariat Islam tidak melihat semuanya itu kecuali keburukan dan membuatnya tersiksa di dalam kubur. Misalnya mereka berkata, “Wahai yang membuat wanita menjadi janda; Wahai yang membuat anak-anak menjadi berduka; Wahai yang membuat desa-desa menjadi runtuh; Wahai yang memporak porandakan persahabatan.”, dan semacamnya dimana mereka mengira, bahwa semua itu merupakan keutamaan bagi yang meninggal. Padahal dalam Islam diharamkan.
  2. Sebagian yang lain memaknai hadits seperti berikut ini:

“Mayat menjadi sedih ketika mendengar tangisan keluarganya.”

Pandangan ini juga diikuti oleh Ibnu Jariir dan yang lainnya. Sedang al-Qaadhii berkata, “Pendapat ini lebih kuat dari pendapat lainnya.”

  1. Telah diriwayatkan dari ‘Aisyah yang memaknai hadits seperti ini:

“Orang kafir atau muslim yang melakukan dosa, ketika ditangisi oleh keluarganya, ia menjadi tersiksa. Akan tetapi bukan karena tangisan mereka, melainkan karena dosa-dosanya tersebut.”[36]

  1. ‘Allaamah al-Majliisii dalam kitabnya, Bihaaru al-Anwaar, berkata, “Huruf baa’ yang ada pada hadits, ‘Inna al-mayyit yu’adzdzabu bi bukaa-i ahlihii.’, memiliki makna ma’a (bersama, seiring), bukan bermakna sebab. Jadi arti hadits tersebut, “Sesungguhnya si mayat tersiksa –karena kekufuran dan dosanya- seiring dengan tangisan keluarganya.””[37]

 

Dalil kedua. Adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muttaqii al-Hindii dari ‘Aisyah yang berkata, “Ketika berita tentang syahidnya Ja’far bin Abi Thaalib disampaikan oleh Zaid bin Haaritsah dan ‘Abdullah bin Rawwaahah, maka terlihat di wajah Rasulullah saww bahwa beliau sangat sedih. Aku melihat beliau dari balik pintu yang tidak tertutup rapat. Tahu-tahu ada seorang laki-laki masuk dan berkata, ‘Ya Rasulullah, para wanita sedang menangisi kesyahidan Ja’far.’ Rasulullah saww bersabda, “Kembalilah kepada mereka dan hentikan mereka dari tangisannya. Dan kalau mereka tidak mau berhenti maka lemparilah muka mereka dengan debu!””

 

Beberapa Permasalahan

Hadits ini memiliki problem dan masalah dalam beberapa hal:

 

Pertama. Hadits ini bertentangan dengan hadits-hadits lain yang diriwayatkan dari Rasulullah saww bahwa beliau sendiri menangisi orang yang mati dan bahkan menyuruh orang lain untuk menangisi yang telah mati, seperti mayat Hamzah, Ja’far dan lain-lainnya –sudah dibahas sebelum ini. Atau dengan hadits dimana beliau menegur ‘Umar ketika ia sedang menghardik wanita-wanita yang menangis dengan sabdanya, “Hai ‘Umar, jangan ganggu mereka, karena menangis itu fitrah mata, sedih itu fitrahnya jiwa, sementara kematian itu sangatlah dekat!”[38]

Kedua. Dalam salah satu nama perawinya terdapat orang yang bernama Muhammad bin Ishaaq bin Yasaar bin Khiyaar. Telah terjadi perbedaan pendapat tentang dirinya.

Ibnu Numair berkata, “Muhammad bin Ishaaq termasuk orang yang tidak diketahui (majhuul) dan suka meriwayatkan hadits-hadits yang batil.”

Ahmad bin Hanbal berkata, “Ia suka sekali kepada hadits. Ia suka mengambil catatan hadits orang lain dan memasukkannya ke dalam catatannya sendiri.”

Di tempat lain ia berkata, “Ibnu Ishaaq melakukan tadliis (kesalahan-kesalahan) dalam hadits. Ia menampakkan hadits-hadits yang lemah sebagai hadits yang kuat/shahih.”

Ia juga berkata, “Di dalam kitab-kitab Sunan, tidak ada yang menjadikan hadits Ibnu Ishaaq sebagai dalil.”

Abu ‘Abdillah berkata, “Dia –Ibnu Ishaaq- tidak memilah-milah dari mana ia meriwayatkan hadits. Hadits-haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah –dalil.”

Yahya bin Mu’iin berkata, “Telah dinukilkan tentang hal ini –bahwa hadits Ibnu Ishaaq tidak dijadikan dalil.” Iapun meneruskan, “Dia adalah orang yang lemah.”

Di tempat lain ia berkata, “Dia adalah orang yang lemah dan tidak kuat.”

Nasaai berkata, “Ibnu Ishaaq bukan orang yang kuat.”[39]

Ketiga. Nashr bin ‘Aashim berkata, “Suatu malam di Madinah, ‘Umar mendengar suara tangisan dan ratapan para wanita. Karena itu ia menyerang rumah sumber tempat tangisan itu dan memporak porandakan mereka. Ia menangkap satu wanita di antara mereka dan mencambuknya. Sebegitu rupa ia mencambuknya hingga hijabnya terbuka. Masyarakat berkata kepada ‘Umar: ‘Hai amiralmukminin –khalifah- rambutnya terlihat.’ ‘Umar menjawab, “Memang, akan tetapi tidak ada keharaman dan penghormatan.””[40]

 

Riwayat ini memiliki masalah dari beberapa sisi:

 

1. Sanadnya lemah. Karena di dalam rentetan nama-nama perawinya terdapat orang yang bernama Ibraahiim bin Muhammad bin Abi Yahyaa.

Yahya bin Sa’iid Qahthaan berkata, “Aku pernah bertanya kepada Maalik apakah Ibraahiim bin Muhammad itu adalah orang yang tsiqah (shahih). Ia menjawab: ‘Tidak. Dia bahkan dalam beragamanya sendiri tidak tsiqah.’”

Ahmad bin Hanbal berkata, “Semua problem –hadits- ada pada Ibraahiim bin Muhammad.” Ia juga berkata, “Hadits-haditsnya tidak dituliskan. Orang-orang menjauhi hadits-haditsnya. Karena ia meriwayatkan hadits-hadits mungkar dan yang tidak punya dasar kuat. Dan selalunya, haditsnya orang lain, diletakkan di sela-sela kitabnya sendiri.”

Basyar bin Mufadhdhal berkata, “Aku bertanya kepada ulama-ulama ahli fikih Madinah tentang Ibraahiim bin Muhammad. Mereka semua mengatakan dua hal, bahwa ia adalah pembohong atau mirip dengan pembohong.”

Yahyaa bin Sa’iid berkata, “Dia adalah pendusta.”

Ibnu Mu’iin berkata, “Ia adalah orang yang tidak tsiqah.”

Nasaai berkata, “Dia tidak tsiqah dan haditsnya bahkan tidak bisa dituliskan.”[41]

2. Sulit untuk diterima bahwa ‘Umar menyerbu sebuah rumah yang dipernuhi oleh para wanita yang bukan muhrim[42]. Dan apalagi ketika rambut salah satu diantara mereka terlihat karena dicambuk, ia berkata bahwa hal itu tidak haram dan tidak perlu dihormati. Karena makna dari semua ini adalah bahwa mereka itu bukan lagi golongan muslim. Apappun adanya, sulit menerima penyerbuan ‘Umar ke rumah –wahyu- yang disebabkan adanya tangisan para wanita itu.

2. Katakanlah sejarah di atas itu benar adanya, dan ‘Umar memang benar-benar menyerbu rumah wahyu karena adanya suara tangisan para wanita, akan tetapi ‘Umar bukanlah orang maksum (suci dari segala bentuk dosa dan kesalahan) hingga perbuatannya bisa dijadikan hujjah dan dalil??! Tak seorangpun yang megatakan bahwa ‘Umar itu memiliki sifat maksum.

Imam Ghazaalii menganggap bahwa yang menjadikan perbuatan Abu Bakar dan ‘Umar itu sebagai hujjah adalah dasar yang tidak disertai dalil. Ia berkata, “Dasar ke dua dari dasar-dasar tanpa dalil, adalah menjadikan perkataan/perbuatan shahabat sebagai hujjah/dalil. Ada yang mengatakan bahwa perkataan shahabat itu secara mutlak adalah hujjah. Sebagian yang lain mengatakan bahwa perkataan shahabat itu adalah hujjah kalau tidak bertentangan dengan qiyaas. Ada juga yang mengatakan bahwa yang hujjah itu hanyalah perkataan Abu Bakar dan ‘Umar saja, karena Rasulullah saww bersabda tentang keduanya itu dengan sabdanya: ‘Ikutilah dua orang itu karena mereka pemimpin setelah aku!’[43]. Sedang yang lainnya lagi mengatakan bahwa yang hujjah itu adalah ijma’nya –kesepakatan- Khulafaa-u al-Raasyidiin.

Semua pendapat ini batil, karena mereka tidak memiliki sifat maksum hingga mereka bisa saja keliru, baik sengaja atau tidak. Tidak ada satupun dari perkataan shahabat itu yang bisa dijadikan hujjah. Dengan demikian, bagaimana mungkin kita menjadikan perkataan mereka sebagai hujjah?”[44]

4. Salah satu dalil yang menguatkan pandangan yang mengatakan bahwa perkataan khalifah itu bukanlah hujjah, adalah bertentangannya perbuatan mereka sendiri dengan Rasulullah saww sebagaimana terdapat dalam hadits di atas, yaitu ketika beliau bersabda kepada ‘Umar, “Hai ‘Umar, jangan ganggu mereka –para wanita yang menangisi orang mati!.”[45]

Begitu juga perkataan ‘Aisyah yang mengatakan, “Semoga Tuhan merahmati ‘Umar yang melakukan kekeliruan atau lupa dalam meriwayatkan hadits.”[46]

Kami mencukupkan diskusi ini sampai disini saja, karena kalau seseorang memang ingin mencari tahu kebenaran, maka semua ini sudah lebih dari cukup.


[1] Sunan Nasaai, jld 4, hal 22.

[2] Al-Istii’aab, jld 1, hal 426, no 559.

[3] Ansaabu al-Asyraaf, jld 1, hal 488; al-Istii’aab, jld 1, hal 312.

[4] Al-Mustadrak ‘Alaa al-Shahiihain, jld 1, hal 381; Sunan Nasaai, jld 4, hal 19; Musnad Ahmad bin Hanbal, jld 3, hal 323.

[5] Al-‘Aqdu al-Fariid, jld 3, hal 19.

[6] Tadzkiratu al-Khawaash, hal 7.

[7] Al-Thabaqaatu al-Kubraa, jld 1, hal 105.

[8] Al-Siiratu al-Halabiyyatu, jld 3, hal 247.

[9] Dzakhaairu al-‘Uqbaa, hal 56.

[10] Al-Mustadraku ‘Alaa al-Shahiihain, jld 1, hal 357; Taariikhu al-Madaniyyati, jld 1, hal 118.

[11] Al-Mustadrak ‘Alaa al-Shahihain, jld 1, hal 361; al-Sunanu al-Kubraa, jld 3, hal 407; Rabii’u al-Abraar, jld 4, hal 187.

[12] Al-Mustadraku ‘Alaa al-Shahiihain, jld 1, hal 261; al-Sunanu al-Kubraa, jld 3, hal 407. Secara dasar, menangisi orang dekat yang meninggal dunia adalah fitrah manusia dimana ilmu modern –psikologi- pada jaman inipun mendukungnya. Karena dengan menangis beban duka yang mendalam karena kamatian orang dekatnya itu, dapat terkurangi dan menjadi lebih ringan. Al-Quran dalam surat Yusuf, ayat 84, berkata, “Matanya menjadi putih –buta- karena menangis.” Yakni sebegitu lamanya (bertahun-tahun) Nabi Ya’quub as menangisi anaknya, Nabi Yusuf as, sampai kedua matanya menjadi buta.

Nabi Muhammadpun saww manangisi putranya yang bernama Thaahir ketika ia meninggal dunia. Haitsamii dalam kitabnya, Majma’u al-Zawaaid, jld 2, meriwayatkan dari Rasulullah saww yang bersabda, “Mata  ini menangis. Air matapun berderai. Hati juga terbakar kesedihan. Namun, kami tak kan melakukan dosa padaNya (baca: menggerutuiNya).”

[13] Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld 4, hal 34; Taariikhu Ibni ‘Asaakiri, jld 59, hal 288.

[14] Al-Siiratu al-Nabawiyyatu, jld 3, hal 171. Abu Bakar, khalifah pertama, menangisi wafatnya Nabi saww dan menyusun puisi atas rasa dukanya itu:

Wahai mata menagislah dan jangan pernah lelah

Karena manangis untuk junjungan adalah layak (al-Ghadiir, jld 6, hal 164 – 167)

[15] Al-‘Aqdu al-Fariid, jld 3, hal 195.

[16] Al-Siiratu al-Nabawiyyatu, jld 3, hal 171.

Abu Bakar –khalifah pertama- menangisi kepergian Nabi saww dan menyusun puisi duka:

Wahai mata menagislah dan jangan pernah lelah

Karena manangis untuk junjungan adalah layak  (al-Ghadiir, jld 6, hal 164 – 167)

[17] Al-Sunanu al-Kubraa, jld 3, hal 407.

[18] Al-‘Aqdu al-Fariid, jld 4, hal 383.

[19] Akhbaaru Makkati, karya Faakihii, jld 3, hal 80.

[20] Taariikhu Thabarii, jld 3, hal 342; al-Aghaanii, jld 24, hal 163.

[21] Wafiyaatu al-A’yaan, jld 3, hal 16.

[22] Al-Aghaanii, jld 24, hal 163.

[23] Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld 11, hal 203.

[24] Ibid, jld 15, hal 480; Taariikhu Ibni ‘Asaakir, jld 10, hal 272; Tadzkiratu al-Huffaazh, jld 3, hal 866; al-‘Ibar, jld 2, hal 274; Mir-aatu al-Jinaan, jld 2, hal 340; Thabaqaatu al-Huffaazh, hal 354; Syadzaraatu al-Dzahab, hal 373. Masyarakat Syaam –Suriah- selama satu tahun mengadakan majelis duka dan tangisan untuk kematian ‘Utsmaan bin ‘Affaan (lihat Taariikhu al-Islam, jld 3, hal 452).

[25] Ibid.

[26] Sairu A’laami al-Nubalaa’. Jld 18, hal 468; al-Muntazhim, jld 6, hal 20; Taariikhu Baghdaadin, hal 93; Thabaqaatu al-Asnawii, jld1, hal 411; Tabyiinu Kidzbi al-Muftaraa, hal 284; Wafiyaatu al-A’yaan, jld 3, hal 149.

[27] Al-‘Ibar, jld 3, hal 89; Taariikhu al-Islaami (kejadian tahun 351 H), hal 11.

[28] Thabaqaatu al-Syaafi’iyyah, jld 5, hal 184. Di saat maninggalnya ‘Alaa-u al-Diin, para syair membacakan puisi-puisi dukanya (Taariikhu al-Islaam, hal 443, kejadian tahun 641).

[29] Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld 18, hal 379. Riwayat yang mengatakan: “Al-Hasan dan al-Husain adalah penghulu pemuda surga.” Banyak diriwayatkan di hadits-hadits Sunni. Seperti di kitab: Manaaqib, karya Khathiib Khurazmii; Khashaaishu al-‘Alawii, karya Nasaai; Sunanu al-Turmudzi; Sunanu Ibnu Maajah; Musnad Ahmad bin Hanbal; Tadzkirah-nya Sibtu bin Jauzii; dan lain-lainnya.

[30] Mu’jamu al-Udabaa’, jld 13,hal 75. Tangisan langit itu terjadi di sekitaran kota Balakh –Afghanistan. (lihat Taariikhu al-Islaam, kejadian tahun 246, hal 17.)

[31] Al-Raudhu al-Faaiq, hal 255; al-Ghadiir, jld 11, hal 120.

[32] al-Bidaayatu wa al-Nihaayatu, jld 13, hal 207. Dalam konteks ini banyak sekali point-point yang telah diriwayatkan. Bahkan sebelum meninggalnya para ulama ahli hadits (muhaddits) –mejelang meninggalnya- para shahabatnya berkumpul di dekatnya dan menangisinya. Misalnya yang terjadi pada Furaawii (wafat 530 H). Ibnu Sam’aanii berkata, “Aku masih ingat, pada bulan Ramadhan tahun 530 H, ketika aku keluar rumah sedang membawa sesuatu menuju kuburan Muslim bin Hajjaaj –di Nashr Aabaad- untuk mengkhatamkan kitab shahiihnya (Shahiih Muslim bin Hajjaaj). Setelah pembaca hadits itu selesai mengkhatamkan kitab Shahiih Muslim, ia menangis dan berdoa hingga para hadirin juga ikut menangis. Ia berkata, “Mungkin setelah ini, aku tidak akan ada lagi di tengah-tengah kalian untuk membacakan kitab ini.” (Thabaqaatu al-Syaafi’iyyati, jld 6, hal 169.)

[33] Shahiih Bukhaarii, bab: al-Janaaiz; Shahiih Musliam, bab: al-Janaaiz; Jaami’u al-Ushuul, jld 11, hal 99, hadits ke: 857; al-Siiratu al-Halabiyyatu, jld 3, hal 310; Sunan Ibnu Maajah, jld 1, hal 506, hadits ke: 1589.

[34] Surat Faathir, ayat ke: 18.

[35] Al-Majmuu’, jld 5, hal 308.

[36] Ibid.

[37] Bihaaru al-Anwaar, jld 79, hal 409.

[38] Sunanu Nasaai, jld 4, hal 19; Musnad Ahmad bin Hanbal, jld 3, hal 333; al-Mustadraku ‘Alaa al-Shahiihain, jld 2, hal 381.

[39] Tahdziibu al-Kamaal, jld 16, hal 70 – 80.

[40] Kanzu al-‘Ummaal, jld 15, hal 731; al-Mushannaf ‘Abdu al-Razzaaq, jld 3, hal 557, hadits ke: 6682.

[41] Tahdziibu al-Kamaal, jld 1, hal 420.

[42] Penyerbuan ‘Umar ke rumah wahyu itu, Faathimah as, dicatat oleh sejarah. ‘Abdu al-Rahmaan bin ‘Auf meriwayatkan, “Ketika Abu Bakar sakit, aku mengunjunginya di rumahnya. Setelah aku dan dia berbincang-bincang lama sekali, ia berkata kepadaku sebanyak tiga kali: ‘Aku mengharap sekali tidak pernah mengerjakan tiga hal yang pernah kulakukan.’

Aku bertanya kepadanya tentang tiga hal itu. Iapun menjawab, “Duhai seandainya aku tidak pernah menyerbu rumah Faathimah, dan tidak mengganggunya sekalipun menyiapkan untuk perang -apalagi hanya sekedar tidak melakukan baiat.””

Rujuk:

1. Al-Mushannaf, karya Abi Syaibah, jld 8, hal 572.

2. Ansaabu al-Asyraaf, karya al-Balaadzurii, jld 1, hal 586, cetakan Qaahirah.

3. Al-Imaamah wa al-Siyaasah, karya Ibnu Qutaibah, hal 12, cetakan Mesir.

4. Taariikhu al-Thabarii, jld 2, hal 443, cetakan Bairut.

5. Al-‘Aqdu al-Fariid, karya Ibnu ‘Abdi Rabbihi, jld 4, hal 260, cetakan penerbit Hilaal.

6. Al-Istii’aab, karya Ibnu ‘Abdu al-Bir, jld 3, hal 975, cetakan Qaahirah.

7. Al-Mukhtashar fii Akhbaari al-Basyar, karya Abu al-Fidaa’, jld 1, hal 156, cetakan al-Ma’rifah, Bairut.

8. Nihaaayatu al-Arbi fii Funuuni al-Adabi, karya Nuwairii, jld 19, hal 40, cetakan Qaahirah.

9. Musnad Faathimah, karya Suuyuthii, hal 36, cetakan Muassasatu Kutub Tsaqaafiyyatin, Bairut.

10. Kanzu al-‘Ummaal, karya al-Muttaqii al-Hindii, jld 5, hal 651, hadits ke: 14138, cetakan al-Risaalatu, Bairut.

11. Izaalatu al-Khafaa’, karya Dihlawii, jld 2, hal 29, cetakan Lahor.

12. Qashiidatu ‘Umariyyati, karya Muhammad Haafizh Ibraahiim, jld 1, hal 82.

13. A’laamu al-Nisaa’, karya Muhammad Ridhaa Kahhaalah, jld 4, hal 114.

14. Al-Amwaal, karya Abu ‘Ubaid, hal 174 – 195.

15. Al-Thabaqaatu al-Kubraa, karya Ibnu Sa’d, jld 8, hal 27.

16. Al-Mu’jamu al-Kubraa, karya Thabraanii, jld 1, hal 62, hadits ke: 43.

17. Al-‘Uqdatu al-Fariid, karya Ibnu ‘Abdu Rabbihi, jld 4, hal 268.

18. Al-Waafii bi al-Waadiyaati, karya al-Nizhaam, jld 6, hal 17, hadits ke: 2444.

19. Al-Kaamil, Syarhu Nahji al-Balaaghati, karya al-Mubarrid, jld 2, hal 47.

20. Muruuju al-Dzahab, karya Mas’uudii, jld 2, hal 301.

21. Miizaanu al-I’tidaal, karya Ibnu Abi Daarim, jld 1, hal 129; Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld 15, hal 577.

22. Mukhtasharu Taariikhi Demesyq, karya Muhammad bin Mukarram, jld 12, hal 122.

23. Syarhu Nahji al-Balaaghati, karya Ibnu Abi al-Hadiid, jld 16, hal 272.

24. Faraaidu al-Simthain, karya Juwainii, jld 2, hal 34.

25. Taariikhu al-Islaam, karya Syamsu al-Diin Dzahabi, jld 3, hal 117 – 118.

26. Majma’u al-Zawaaid, karya ‘Ali bin Abi Bakr Haitsamii, jld 5, hal 202 – 203.

27. Lisaanu al-Miizaan, karya Ibnu Hajar ‘Asqalaanii, jld 4, hal 189.

28. Kanzu al-‘Ummaal, karya Muttaqii al-Hindii, jld 5, hal 631, hadits ke: 14113.

29. Al-Imaam ‘Alii, karya ‘Abdu al-Fattaah ‘Abdu al-Maqshuud, jld 1, hal 193, dan jld 4, hal 274 – 277.

30. Al-Amwaal, karya Ibnu Salaam, hal 174.

[43] Hadits ini telah kami tolak dari sisi sanad dan maknanya di kitab “Diraasaatu Fiqhiyyatin Fii Masaaili Khilaafiyyatin”, hal 130.

[44] Al-Mustashfaa, jld 1, hal 260; Diraasaatu Fiqhiyyatin Fii Masaaili Khilaafiyyatin, hal 138.

[45] Musnad Ahmad bin Hanbal, jld 3, hal 323.

[46] Al-Majmuu’, karya Nawawii, jld 5, hal 308.

2 responses to “Menangisi Orang Mati dan Mendirikan Majelis Duka

  1. Bagaimana tentang muslim shia yg menyakiti diri sendiri pada saat kmatian Hz Husain di bulan muharam,,apakah it dicntohkan ada landasanx?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s