Ziarah Kubur Para Wanita

Oleh: Najmu al-Din Thabasi 

Apakah Boleh Seorang Wanita Menziarahi Kubur?

Telah diriwayatkan tentang Hadhrat Faathimah as. bahwa beliau as selalu menziarahi kubur Sayyiduna Hamzah ra dan para syahid Uhud setiap hari Jumat atau dua kali dalam seminggu. Perbuatan beliau as ini dilakukan pada jaman Nabi saww dan setelahnya sampai beliau sendiri wafat. Tidak pernah ada larangan dari Nabi saww, Imam Ali as dan para shahabat yang lain terhadap perbuatan beliau itu.

Di lain pihak, beliau adalah hasil didikan ayahnya, Rasulullah saww yang mana sudah tentu ilmu beliau lebih banyak ketimbang shahabat lainnya. Karena itu, maka kalau perbuatan beliau itu –ziarah kubur- mengandung kesalahan, maka sudah pasti beliau as sendiri tidak akan melakukannya tanpa harus ada larangan dari ayah dan suaminya. Riwayat-riwayat itu adalah sebagai berikut:

 

  1. Hadhrat Faathimah as selalu menziarahi kubur pamannya, Sayyiduna Hamzah ra pada hari Jumat. Disana beliau melakukan shalat dan menangis.[1]
  2. Hadhrat Faathimah as selalu menziarahi kuburan para syahid Uhud setiap hari atau setiap tiga hari sekali. Dan disana beliau melakukan shalat, doa dan menangis.[2]
  3. Tentang ‘Aisyah juga telah diriwayatkan bahwa ia menziarahi kubur saudaranya yang bernama ‘Abdu al-Rahmaan yang dikuburkan di Makkah.[3]

 

Contoh-contoh Ziarah Kubur

1. Ibnu Abi Maliikah berkata, “Aku melihat ‘Aisyah pergi menziarahi kubur saudaranya, ‘Abdu al-Rahmaan yang meninggal di Habsya[4] dan dikuburkan di Makkah.”[5]

Begitu pula ia berkata, suatu hari aku melihat ‘Aisyah pergi menziarahi kuburan. Aku berkata kepadanya: “Bukankah Nabi saww telah melarang ziarah kubur?” Ia menjawab: “Memang beliau pernah melarangnya. Akan tetapi setelah itu menyuruhnya.”[6]

 

Membedah Hadits

Pertama. Bahwa hadits yang diriwayatkan dari Nabi saww yang bersabda, “Laknat Allah bagi para wanita yang menziarahi kuburan.”[7]

ini, telah dinasakh (diganti hukumnya) dengan hadits yang diriwayatkan oleh Buraidah, Haakim dan Dzahabii. Begitu pula, hadits ini, bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah yang berkata, “Memang beliau -Nabi saww- pernah melarangnya, akan tetapi setelah itu menyuruhnya.”[8] Karena Dzahabii dalam catatan kaki riwayat ini yang ada di al-Mustadrak, mengatakan sebagai hadits shahih.[9]

Kedua. Bahwa riwayat di atas itu –yang melaknat wanita penziarah- bertentangan dengan perbuatan ‘Aisyah. Karena ia menziarahi kuburan saudaranya ‘Abdu al-Rahmaan. Apakah ‘Aisyah dengan perbuatannya itu, ingin melawan dan menentang Rasulullah saww hingga berhak mendapat laknat Nabi saww?

Ketiga. Hadits di atas itu –yang melaknat wanita penziarah- bertentangan dengan perbuatan Hadhrat Faathimah as yang menziarahi kubur ayahandanya Rasulullah saww, Sayyiduna Hamzah dan para syahid Uhud, pada setiap hari Jumat atau dua kali dalam seminggu. Apakah Hadhrat Faathimah as berniat menentang ajaran Nabi saww? Atau –na’udzubillah- beliau tidak tahu ajaran ayahandanya Rasulullah saww? Padahal beliau lebih tahu dari yang lainnya akan ajaran ayahandanya. Karena pemilik rumah sudah tentu lebih tahu tentang apa yang terjadi di dalamnya ketimbang orang lain yang berada di luar rumah.

Begitu pula, Hadhrat Faatimah as juga menziarahi pekuburan para syahid Uhud di jaman Rasulullah saww sendiri. Perbuatan ini, dilakukannya berturut-turut selama tujuh tahun di jaman hidup Nabi saww. Karena itu, bagaimana mungkin Rasulullah saww tidak melarang beliau dalam kurun waktu tujuh tahun itu?

Begitu pula, Hadhrat Faathimah as menziarahi kuburan ayahandanya setelah wafatnya beliau. Sebagaimana telah diriwayatkan oleh Imam Ali as yang berkata, “Ketika Rasulullah saww sudah dimakamkan, Faathimah as berdiri di samping kubur ayahandanya dan mengambil segenggam tanah dan meletakkannya di matanya sambil menangis dan membaca syair ini: ….”[10]

Kalau hukum ziarah kubur bagi wanita itu memang tidak boleh, maka bagaimana mungkin Imam Ali as dan tak satupun dari para shahabat, tidak ada yang melarang –atau menyalahkan- Hadhrat Faathimah as?

 

Fatwa-fatwa Ulama Ahlussunnah

Keempat. Ulama-ulama Ahlussunnah, berfatwa terhadap kebolehan wanita menziarahi kuburan. Dan laknat yang ada dalam hadits di atas itu, dilihat dari sisi ketidak sabarannya wanita dalam menerima musibah kematian. Karena itu, kalau seorang wanita sabar terhadap musibah tersebut, maka baginya ziarah kubur adalah boleh.

 

1. Pendapat pengarang kitab al-Taaju al-Jaami’ Li al-Ushuul

Sebagaimana telah dijelaskan oleh pengarang kitab al-Taaju al-Jaami’ Li al-Ushuul, yang berkata, “Laknat dalam hadits itu menunjukkan keharaman ziarah kubur bagi wanita. Karena pada umumnya, mereka tidak sabar dan sering menunjukkan ketidak tenangan diri (seperti teriak-teriak, histeris dan semacamnya, pentj.). Oleh sebab itu, setiap hadits yang terlihat melarang para wanita untuk mengikuti jenazah (tasyyii’)[11], harus dimaknai seperti ini. Karena itu, kalau seorang wanita sabar terhadap musibah yang menimpanya, dan tidak histeris serta tidak menunjukkan kecantikannya kepada lelaki bukan muhrim, dan begitu pula ia ditemani suaminya atau lelaki muhrimnya yang lain, hingga tidak terjadi fitnah (maksiat), maka tidak masalah baginya untuk melakukan ziarah (dan tasyyii’). Dalil dari kebolehan ini adalah:

 

  1. Keumuman hadits pertama[12].
  2. Perkataan ‘Aisyah yang bertanya kepada Rasulullah saww: “Bagaimana aku harus melakukan ziarah kubur?” Rasulullah saww menjawab: “Ucapkanlah seperti ucapanku ini: ‘Assalaaamu ‘alaa ahli al-Diyaar mina al-mu’miniin wa al-muslimiin, yarhamullah[13].”
  3. Perbuatan ‘Aisyah yang menziarahi saudaranya yang mana ketika ‘Abdullah bin Abi Maliikah memprotesnya, ‘Aisyah berkata: “Memang beliau –Rasulullah saww- pernah melarangnya. Akan tetapi setelah itu menyuruhnya.”[14]

 

 

 

2. Mulla ‘Alii Qaarii

Ia berkata, “Secara lahiriah dari hadits yang berbunyi: ‘Aku pernah melarang kalian untuk menziarahi kubur, tapi sekarang aku menyuruh kalian untuk menziarahi kubur…’, memahamkan predikat yang bersifat universal. Karena kata yang berbunyi ‘Aku pernah melarang kalian’, meliputi lelaki dan perempuan. Sedang dhamir atau kata ganti di kata-kata itu adalah kata ganti lelaki (kum, bukan kunna yang untuk perempuan), karena lelaki lebih banyak dari perempuan (ghaalib dalam istilah ilmu Nahu atau tata bahasa Arab). Atau bisa saja karena dasar audien pengajaran Nabi saww adalah lelaki. Karena itu tidak bertentangan dengan peliputan atau pencakupannya terhadap wanita. Oleh karenanya, hukum ziarah bagi wanita, sama dengan hukum ziarah bagi lelaki. Yakni bahwasannya wanita juga boleh menziarahi kuburan. Sudah tentu kalau dengan syarat-syaratnya (seperti pakai hijab, tidak histeris dan semacamnya, pentj.). Penafsiran seperti ini, sangat selaras dengan hadits yang meriwayatkan bahwa Nabi saww melewati seorang wanita yang sedang menangis di samping kuburan dan beliau memerintahkannya untuk bersabar, akan tetapi tidak melarangnya untuk melakukan ziarah kubur.”[15]

 

3. Ibnu ‘Abdu al-Bir

Ia berkata, dalil orang-orang yang membolehkan ziarah kubur bagi seorang wanita, adalah sebuah riwayat dari ‘Abdullah bin Muhammad yang telah kami nukilkan. Ia berkata, ‘Abdu al-Hamiid meriwayatkan hadits kepadaku ….. -sampai kepada- Ibnu Abi Maliikah yang berkata, suatu hari ‘Aisyah pergi menziarahi kubur. Aku berkata kepadanya, “Bukankah Rasulullah saww telah melarang ziarah kubur?” Ia menjawab, “Benar, beliau pernah melarangnya. Akan tetapi setelah itu menyuruhnya.”[16]

Begitu pula telah diriwayatkan dari Ibnu Abi Maliikah yang berkata, “’Aisyah menziarahi kuburan saudaranya dari dalam haudaj (sekedup atau pelana onta).”

Abu Bakar berkata, Musarrid meriwayatkan hadits kepadaku. Ia mendapatkannya dari Nuh bin Darraaj, dan Nuh dari Aabaan bin Taghlib, dan Aabaan dari Ja’far bin Muhammad, yang berkata, “Faathimah bintu Nabi saww selalu menziarahi kubur Hamzah setiap hari Jumat. Ia meletakkan batu di atasnya.”[17]

 

4. Perkataan Qathilaanii dalam menjelaskan riwayat dari Anas

Anas berkata, Rasulullah saww melewati seorang wanita yang sedang menangis di tepi sebuah kuburan. Beliau bersabda kepadanya: “Bertahanlah. Sabarlah dalam menghadapi musibah ditinggal keluarga!” Wanita itu tidak mengenali Rasulullah saww, karenanya ia berkata, “Jangan urusi aku! Apakah kamu belum mengalami musibah yang kualami ini?”

Kalau seseorang mempermasalahkan kebolehan ziarah kubur bagi wanita dengan mengatakan: “Apa hubungan hadits ini dengan bolehnya seorang wanita menziarahi kuburan?”

Kami akan menjawab, “Karena Nabi saww tidak melarang wanita itu dalam melakukan ziarah kubur tersebut. Oleh sebab itu, dapat dipahami bahwa baik penziarah itu lelaki atau wanita, atau yang diziarahi kuburannya itu adalah orang kafir atau muslim, sama sekali tidak memilki masalah (baca: boleh), karena Rasulullah saww tidak merinci hal tersebut.”

Nawawii (pensyarah kitab Shahih Muslim) berkata, “Semua ulama meyakini kebolehan ziarah kubur bagi seorang wanita.”

Dan juga berkata, “Ringkasnya adalah, ziarah kubur muslimin, bagi seorang lelaki adalah sunnah hukumnya, karena riwayat dari Muslim dalam shahihnya yang berbunyi bahwa Rasulullah saww bersabda, ‘Kalian pernah kularang menziarahi kubur. Akan tetapi dari sekarang ke depan, maka ziarahilah kuburan itu, karena kalian akan mengingat akhirat!’ Akan tetapi, karena wanita biasanya tidak tenang dalam melakukan ziarah kubur, maka bagi mereka hukumnya adalah makruh.”

Sedang hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Turmudzi, dimana Rasulullah saww bersabda, “Laknat Allah bagi wanita yang menziarahi kuburan –zuwwaaraatu al-qubuur.”, memang hasan dan shahih. Akan tetapi riwayat ini, terkhususkan untuk para wanita yang kalau melakukan ziarah kubur, berteriak-teriak histeris, meraung dalam tangisnya, dan menyebut nama-nama yang mati dan sifat-sifatnya sambil menangisi sebagaimana biasa dilakukan mereka.

Qurthubi berakata, “Hadits ini –laknat- berhubungan dengan wanita yang kebanyakan waktunya dijalaninya di kuburan. Dengan dalil bahwa kata yang dipakai dalam hadits itu berbunyi “zuwwaaraat”. Zuwaaraatu adalah kata hiperbolik (mubaalaghah).”[18]

Kesimpulannya: ziarah kubur bagi wanita, dalam pandangan Qastilaani adalah boleh, akan tetapi makruh. Karena itu, riwayat laknat bagi seorang wanita yang menziarahi kuburan itu, dimaksudkan untuk para wanita yang kalau menziarahi kuburan, menjerit histeris dan semacamnya itu.

 

4. Ibnu ‘Abdi al-Bir

Ia -setelah meriwayatkan hadits Ibnu Abi Mliikah yang dari ‘Aisyah itu- berkata, Abu Bakar berkata: Aku mendengar dari orang yang menukil perkataan Abu ‘Abdillah (Ahmad bin Hanbal) yang ditanya mengenai ziarah kubur bagi seorang wanita, dimana ia menjawab: “InsyaAllah tidak memiliki masalah dalam perbuatan yang ia lakukan itu.”

Setelah itu ia ditanya lagi: “’Aisyah menziarahi kuburan saudaranya.”

Ia menjawab, “Akan tetapi riwayat dari Ibnu ‘Abbaas meriwayatkan dari Nabi saww yang melaknat wanita yang menziarahi kuburan.”

Setelah itu ia berkata lagi, “Dalam deretan nama-nama perawi yang ada pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbaas[19], terdapat orang yang bernama Abu Shaalih, bagaimana ini? (sepertinya ia ingin melemahkan perawi yang disebutnya itu).

Lalu ia berkata lagi: “Aku mengharap bahwa ‘Aisyah benar-benar menziarahi kuburan saudaranya.”[20]

 

5. Haafizh al-Baanii

Ia –setelah menukil hadits “Rasulullah saww melaknat para wanita yang berziarah kubur”- berkata, “Kami tidak menemukan di antara hadits-hadits yang ada, hadits yang menguatkan dan menyaksikan kebenaran hadits ini. Hadits ini, sama dengan hadits yang berbunyi, ‘Laknat Allah bagi siapa saja yang meletakkan lentara di atas kuburan.’[21], yaitu tergolong hadits lemah, walaupun sebagian dari saudara-saudara salaf kita terkadang berdalil dengan hadits tersebut. Akan tetapi aku sendiri menasihati mereka untuk tidak menisbahkan (menghubungkan) hadist itu kepada Nabi saww karena hal itu tidak shahih!”[22]

 

6. Ibnu ‘Aabidain (wafat 1253 H)

Ia berkata, “Apakah sunnah hukumnya bagi wanita untuk menziarahi kuburan Rasulullah saww? Sesuai dengan qaul dan pendapat yang benar adalah: Ziarah kubur Nabi saww adalah sunnah dan tidak memiliki kemakruhan sedikirpun. Sudah tentu, ketidakmakruhannya itu memiliki syarat-syarat sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama. Akan tetapi qaul (perkataan) yang lebih benar (dalam madzhab kita) adalah –penggabungan- qaulnya Karakhii dan selain Karakhii. Qaulnya Karakhii adalah, ziarah kubur itu, baik bagi lelaki atau wanita, adalah boleh dan tidak memiliki masalah sedikitpun. Dan menurut qaul selain Karakhii mengatakan, ziarah kubur itu adalah sunnah juga bagi wanita, karena para ulama kita secara mutlak berkata, “Ziarah kubur adalah sunnah.” Dan hal ini, juga meliputi wanita. Bahkan ada yang mengatakan, “Ziarah kubur itu adalah wajib.” Seperti yang dinukilkan oleh pengarang kitab Natsru al-Lubaab.”[23]

 

7. Turmudzi

Ia berkata, “Hadits yang berbunyi ‘Laknat Allah bagi wanita yang menziarahi kuburan.’, adalah hadits hasan dan shahih. Akan tetapi menurut pandangan para ulama, ketika Nabi saww mengijinkan ziarah kubur, maka sudah tentu saja meliputi semua lelaki dan wanita.”

Ia juga berkata, “Sebagian ulama memakruhkan wanita untuk pergi ziarah kubur, dengan alasan bahwa para wanita itu tidak sabaran dan hiruk-pikuk di waktu melakukan ziarah kubur.”[24]

 

8. Qastilaanii

Ia berkata, “Tidak dimakruhkan bagi wanita untuk menziarahi kubur Nabi saww, akan tetapi bahkan disunnahkan. Ibnu al-Raf’ati dan al-Qamuuli berkata, “Sudah selayaknya, ziarah kuburan yang lainnya –seperti kuburan para nabi dan wali- adalah sunnah juga bagi wanita.””[25]

 

Pembahasan dalam Sanad Hadits

Riwayat yang berbunyi, “Laknat Allah bagi wanita yang menziarahi kuburan.”, diriwayatkan melalui tiga thariiq[26] (jalur):

 

  1. Hisaan bin Tsaabit;
  2. Ibnu ‘Abbaas;
  3. Abu Hurairah.

 

a. Ibnu Maajah meriwayatkan keseluruhan dari tiga jalur hadits tersebut.[27]

b. Ahmad bin Hanbal hanya meriwayatkan dua jalur dari ketiga jalur  tersebut. Yaitu yang melalui Hisaan bin Tsaabit[28] dan Abu Hurairah.[29]

d. Turmudzi meriwayatkan hadits di atas hanya yang melalui Abu Hurairah[30] saja. Sedang Abu Daawud meriwayatkan hanya dari Ibnu ‘Abbaas.[31]

Sedang Bukhari dan Muslim, tidak ada yang meriwayatkan satupun dari ketiga jalur hadits tersebut. Kitab-kitab Sunan, tidak ada yang bersepakat walaupun dalam satu jalur haditsnya saja. Karena itu, Ibnu Maajah, Ahmad bin Hanbal dan Turmudzi, hanya bersepakat di hadits yang melalui jalur Abu Hurairah. Sedangkan jalur yang pertama, yaitu yang melalui Hisaan bin Tsaabit, hanya disepakati Ibnu Maajah dan Ahmad bin Hanbal. Kemudian jalur yang ke dua, yaitu yang dari Ibnu ‘Abbaas, hanya disepakati oleh Abu Daaud dan Ibnu Maajah.

 

Perdebatan Seputar Jalurnya Hadits

Dalam jalur/thariiq pertama, yaitu yang dari Ibnu Maajah dan Ahmad bin Hanbal dan dari jalurnya Hisaan, terdapat perawi yang bernama ‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khatsiim. Dan hadits yang diriwayatkan melaluinya adalah tidak kuat. Sebagaimana telah dikatakan oleh Ibnu al-Dauraqii yang diriwayatkan oleh Ibnu Mu’iin.

Ibnu Abi Haatim dalam menerangkan pandangannya tentang ‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khatsiim ini, berkata, “Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh ‘Utsmaan, tidak bisa dijadikan dalil (sandaran hukum).”

Nasaai juga berkata tentang ‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khatsiim ini, “Haditsnya adalah lemah.”[32] Yakni haditsnya bermasalah.

Begitu pula, dalam jalur/thariiq itu, terdapat perawi yang bernama ‘Abdu al-Rahmaan bin Bahbaan, dimana selain ‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khatsiim, tidak ada yang meriwayatkan hadits darinya.

Ibnu al-Madanii berkata tentangnya, “Aku tidak mengenalnya.”[33] (baca: tidak bisa dilacak dalam kitab Rijalulhadits, penj.) Sedang dalam jalur/thariiq ke dua, yaitu yang dari Ibnu ‘Abbaas, terdapat perawi berjulukan Abu Shaalih dimana nama aslinya adalah Baadzaan. Abu Haatim berkata tentangnya, “Hadits-hadits dia –Baadzaan- tidak bisa dijadikan dalil.”

Nasaai juga berkata mengenainya, “Dia –Baadzaan- bukanlah orang yang tsiqah.”

Ibnu ‘Uddaa juga berkata, “Aku tidak mengenal satupun dari orang-orang terdahulu yang meridhainya.”[34]

Dan untuk jalur ke tiga, yakni yang dari Abu Hurairah, terdapat perawi bernama ‘Umar bin Abi Salamah.

Nasaai berkata tentangnya, “Ia orang yang tidak kuat.”

Ibnu Khaziimah berkata mengenainya, “Haditsnya tidak bisa dibuat dalil.”

Ibnu Mu’iin berkata tentangnya, “Dia adalah lemah.”

Abu Haatim berkata mengenainya, “Haditsnya tidak bisa dibuat dalil.”[35]

Dengan uraian di atas, dapat dipahami bahwa hadits di atas, dengan ketiga jalurnya, memiliki masalah. Mungkin dengan alasan itulah mengapa Bukhaari dan Muslim tidak meriwayatkannya dalam kitab shahih keduanya. Di samping semua itu, hadits ini bertentangan dengan semua fatwa-fatwa ulama sehubungan dengan syaharan mereka terhadapnya dimana sebagian mereka telah berfatwa dengan bolehnya ziarah kubur dan bahkan sunnahnya bagi lelaki dan wanita (artinya, para ahli fikih tidak ada yang mengamalkannya karena adanya hadits lain yang shahih telah menentangnya, karena itu berfatwa dengan lawannya, pentj.).


[1] Mushannaf ‘Abdu al-Razzaaq, jld. 3, hal. 572 dan 574; Sunanu al-Kubraa, jld. 4, hal. 131.

[2] Al-Sunanu al-Kubraa, jld. 4, hal. 131; Mustadrak Haakim, jld. 1, hal. 533.

[3] Ibid.

[4] Habsyaa adalah sebuah gunung yang berada di daerah yang berjarak 6 mil dari Makkah (Mu’jamu al-Buldaan, jld. 2, hal. 214.)

[5] Mushannaf ‘Abdu al-Razzaaq, jld. 3, hal. 57.

[6] Al-Sunanu al-Kubraa, jld. 4, hal. 131.

[7] Riwayat ini diriwayatkan dalam semua kitab shahih kecuali Bukhari dan Muslim. Lihat Mushannaf ‘Abdu al-Razzaaq, jld. 3, hal. 569.

[8] Al-Sunanu al-Kubraa, jld. 4, hal. 131; Mustadrak Haakim, jld. 1, hal. 374.

[9] Dia berkata: “Hadits ini adalah shahih.”

[10] Irsyaadu al-Saarii, jld. 3, hal. 352. Riwayat ini sudah dibahas di kitab sebelumnya (jld. 1), yaitu dalam pembahasan Tabarruk. Sedang syair atau puisi hadhrat Faathimah as adalah sebagai berikut:

Apa kan terjadi pada pencium tanah Ahmad

S’lama hidup tak perlu lagi wewangian hebat

Sungguh t’lah dituang padaku mala petaka

Kalau dituang pada siang kan jadi gulita

[11] Isyarat terhadap hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Maajah, dari Imam Ali as yang berkata:

Nabi saww keluar dari rumahnya dan melihat beberapa wanita sedang duduk-duduk. Beliau bertanya kepada mereka: “Mengapa kalian duduk-duduk disini?” Mereka menjawab: “Kami sedang menunggu jenazah.” Beliau bertanya: “Apakah kalian akan memandikannya?” Mereka menjawab: “Tidak.” Beliau bertanya: “Apakah kalian akan mengafaninya?” Mereka menjawab: “Tidak.” Beliau bertanya: “Apakah kalian akan memikulnya?” Mereka menjawab: “Tidak.” Beliau bertanya: “Apakah kalian yang akan memasukkannya dalam liang lahat?” Mereka menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Pulanglah kalian! Kalian pelaku dosa, bukan penerima pahala.”

Tentu saja, hadits ini memiliki problem dari dasarnya. Karena dalam deretan sanadnya ada yang bernama Dinaar bin ‘Amru yang menurut para ahli rijal, ia kadang disebut dengan Majhuul (tidak diketahui orangnya), dan kadang disebut dengan Pembohong, ditinggalkan (matruuk) dan pelaku kesalahan.

Selain itu, kalau kita perhatikan makna haditsnya, maka dapat dipahami bahwa sabda Rasulullah saww itu adalah untuk para wanita yang hanya ingin menonton jenazah tanpa aktifitas apapun, seperti menguburkan, memandikan dan semcamnya. Karena itu tidak bisa mencakup semua keadaan. Lihat Fathu al-Baari Fi syarhi al-Bukhaarii, jld. 3, hal. 148.

[12] Telah diriwayatkan dari Rasulullah saww yang bersabda, “Aku pernah melarang kalian menziarahi kuburan. Telah diijinkan untuk Muhammad menziarahi kubur ibunya. Karena itu, maka ziarahilah kubur, karena ia mengingatkan kepada akhirat!”

Lima orang dari pengumpul hadits shahih –yang enam- meriwayatkan hadits ini dan hanya Bukhaarii yang tidak meriwayatkannya. Kata-kata dari hadits di atas, diambil dari matan yang ditulis oleh Turmudzii.

[13] Mushannaf ‘Abdu al-Razzaaq, jld. 3, hal. 571. Hadits semacam ini diriwayatkan juga oleh Muslim dalam kitab Shahihnya, jld. 3, hal. 64. Rasulullah saww dalam riyawatnya ini bersabda:

“Jibriil as telah turun kepadaku dan berkata, ‘Allah memerintahkanmu untuk menziarahi pekuburan Baqii’ dan memintakan ampunan untuk mereka!’” Lalu setelah Rasulullah saww bangun dari tidurnya, pergi ke pekuburan Baqii’. ‘Aisyahpun mengikuti beliau dan mengerti bahwa hal itu adalah perintah Allah. Kala itu, ‘Aisyah berkata kepada Rasulullah saww, “Bagaimana caranya aku menziarahi orang-orang yang telah dikuburkan di Baqii’?” Nabi saww menjawab, “Katakanlah: Keselamatan atas orang-orang yang telah dikuburkan di Baqii’ dari kaum mukminin dan muslimin. Semoga Tuhan merahmati orang-orang yang telah meninggal dan yang akan menyusulnya.”

Pertanyaannya, mengapa Rasulullah saww tidak melarang ‘Aisyah yang menyertai beliau melakukan ziarah kubur, dan bahkan mengajarinya cara berziarah kubur?

[14] Al-Taaju al-Jaami’ Li al-Ushuul, jld. 2, hal. 381.

[15] Mirqaatu al-Mafaatiih, jld. 4, hal. 248.

[16] Dzahabi menshahihkan hadits ini. Lihat, Mustadrak Haakim, jld. 1, hal. 376.

[17] Tamhiidu Syarhi al-Muwaththa’, jld. 3, hal. 224.

[18] Irsyaadu al-Saarii, jld. 3, hal. 400.

[19] Dalam rentetan nama-nama perawi dari hadits laknat terhadap wanita yang menziarahi kuburan itu, terdapat orang yang bernama Abu Shaalih.  Ia diragukan anatara Miizaanu al-Bashrii atau Baadzaam Maulaa Ummi Haani bintu Abu Thaalib. Dimana nama yang ke dua itu, mereka memiliki masalah (problem). Dalam biografi Abu Shaalih, mereka berkata: “Ahmad berkata bahwa Ibnu Mahdii, tidak memperdulikan hadits Abu Shaalih dan dia menganggapnya sebagai matruuk (ditinggalkan).” Abu Haatim berkata: “Hadits dia –Abu Shaalih- tetap dituliskan, akan tetapi tidak dijadikan dalil.” Nasaai berkata: “Dia –Abu Shaalih- orang yang tidak tsiqah (tidak dipercaya).” Ibnu al-Madanii  mengambil dari Qaththaan dan dia dari Tsawrii yang berkata: Kalbi telah berkata kepadaku: “Setiap hadits yang diriwayatkan oleh Abu Shaalih kepadamu, adalah dusta.” ‘Aqiilii berkata: “Mughiirah merasa heran kepada orang yang meriwayatkan hadits dari Abu Shaalih.” Abdu al-Haq dalam kitab Al-Ahkaam berkata: “Sungguh-sungguh Abu Shaalih itu adalah orang yang lemah (dha’iif).” Al-Jauzqaanii berkata: “Hadits dia –Abu Shaalih- adalah matruk (ditinggalkan).” Ibnu Jauzii menukil dari Azdii yang telah berkata: “Ia –Abu Shaalih- adalah pendusta.” Jauzqaanii berkata: “Ia –Abu Shaalih- adalah pemikir yang tidak ada pemujinya.” Abu Ahmad Haakim berkata: “Dia –Abu Shaalih- orangnya tidak kuat.”

Dengan semua cacat yang datang dari para ulama ahli rijal (ahli dalam biografi perawi-perawi hadits), maka perkataan Ibnu Hajar tidak lagi menjadi berarti. Yaitu yang dalam kitab Tahdziibu al-Tahdziib berkata, “’Ajali telah mentsiqahkan dia –Abu Shaalih.” Hal itu karena pencacatan harus dilebihkan dari pentsiqahan (apalagi satu orang melawan jumhur ahlulrijaal, penj.). Lihat, Kasyfu al-Irtiyaab, hal. 331.

Dengan dasar ini, dapat dipahami bahwa cara kerja orang-orang Wahhabi adalah dengan merumuskan terlebih dahulu apa-apa yang diyakininya, lalu setelah itu baru mencari haditsnya untuk menguatkan pandangannya tersebut. Karena itu, maka kalau mereka mendapatkan satu hadits saja yang menguatkan pandangannya (tanpa memperdulikan hadits-hadits lain yang lebih kuat dan menentangnya, penj.), maka mereka langsung saja menghalalkan harga diri, kehormatan dan darah kaum muslimin lainnya. Mereka juga sebegitu kuatnya memegangi hal tersebut dan sedikitpun tidak bersedia menakwil hadits yang dipahaminya itu. Akan tetapi sebaliknya, kalau mereka menjumpai puluhan hadits yang bertentangan dengan pandangan mereka, maka mereka mendustakan semuanya dan menganggapnya sebagai hadits palsu dan buatan. Apakah cara beragama itu, seperti yang mereka lakukan ini???!!!

[20] Al-Tamhiidu Fii al-Syarhi al-Muwaththa’, jld. 3, hal. 234.

[21] Sebenarnya hadits “Laknat Allah bagi wanita yang menziarahi kuburan.” adalah bagian dari hadits ini. Jadi hadits itu, secara lengkapnya berbunyi: “Laknat Allah bagi wanita yang menziarahi kuburan dan siapa saja yang meletakkan lentera di atasnya.”

[22] Silsilatu al-Ahaadiitsi al-Dha’iifati wa Atsaruha al-Salbii Fi al-Ummati, hal. 260. (arti judul kitab itu adalah: “Mata Rantai Hadits-hadits Yang Lemah dan Efek Buruknya Dalam Masyarakat”, pentj.)

[23] Raddu al-Mukhtaar ‘Alaa al-Durri al-Mukhtaar, jld. 2, hal. 263; al-Ghadiir, jld. 5, hal. 121.

[24] Al-Jaami’u al-Shahiih, jld. 3, hal. 372, hadits ke: 1056.

[25] Irsyaadu al-Saarii, jld. 3, hal. 400.

[26] Thariiq (jalur), yang juga disebut dengan “wajhun” adalah sama dengan “sanad”. Maknanya adalah “Silsilah perawi hadits yang mana melalui merekalah hadits itu diriwayatkan atau dinukilkan dari seorang maksum –atau Nabi saww”. Misalnya, dikatakan: “Syaikh ini menukil atau meriwayatkan melalui thariiq/jalur ini.” Atau dikatakan juga: “Hadits ini tidak diketahui kecuali dari thariiq/jalur ini.” Lihat, Ilmu al-Hadiits, hal. 241.

[27] Sunan Ibnu Maajah, jld. 1, hal. 502.

[28] Musnad Ahmad bin Hanbal, jld. 3, hal. 442.

[29] Ibid, hal. 337 dan 356.

[30] Al-Jaami’u al-Shahiih, jld. 2, hal. 370.

[31] Sunan Abi Daawud, jld. 3, hal. 318.

[32] Rujuk: Mizaanu al-I’tidaal, jld. 2, hal. 459.

[33] Ibid, hal. 551.

[34] Tahdziibu al-Kamaal, jld. 4, hal. 6.

[35] Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 6, hal. 133.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s