Imamah, Sebuah Kekuasaan Dinasti? [Terakhir]

Oleh: Sayyid Said Akhtar R

Beberapa orang berkata bahwa madzhab Syi’ah berpegang bahwa Rasulullah Saw hendak membangun sebuah dinasti monarkis bagi keluarganya (yang tampaknya ia gagal melakukan hal ini). Hal ini menandakan bahwa sebagaimana Rasulullah Saw jauh dari segala tujuan mementingkan diri sendiri, madzhab Syi’ah pasti keliru dalam hal ini. Akan tetapi orang-orang ini juga berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Imam berasal dari suku Quraisy.” Akankah mereka berkata bahwa hadits ini bermaka bahwa Rasulullah Saw hendak membangun sebuah kerajaan bagi sukunya sendiri? Akankah mereka berkata bahwa Rasulullah Saw mengatakan kata-kata ini karena “tujuan mementingkan diri-sendiri.”

Telah dijelaskan bahwa Abu Bakar mendiamkan kaum Ansar Madinah dengan berkata bahwa karena Rasulullah Saw berasal dari suku Quraisy, bangsa Arab tidak akan menerima setiap orang non-Quraisy menjadi khalifah. Argumen inilah yang berhasil mendiamkan orang-orang Ansar.

Dengan argumen yang sama, jika seorang anggota keluarga Rasulullah (Ahl al-Bait) dijadikan khalifah, seluruhnya akan mentaatinya dan tidak akan ada kesulitan atau perseteruan yang muncul kemudian. Aspek ini dari pengangkatan ‘Ali As, telah diakui juga oleh beberapa penulis non-Muslim. Tuan Sedilot menulis: ” Jika prinsip hereditas suksesi (hak ‘Ali As) diakui sejak pertama, hal ini akan mencegah timbulnya kekacauan yang menenggelamkan Islam dalam pertumpahan darah….Suami Fatimah tergabung dalam kepribadiannya hak mengganti sebagaimana warisan sah Nabi, demikian juga dengan hak eleksi.[1]

Kenyataannya adalah bahwa orang-orang yang keberatan ini telah melalaikan poin ini sama sekali. Madzhab Syi’ah tidak pernah mengklaim bahwa “warisan” ada hubungannya dengan imamah. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, seorang Imam haruslah ma’sum, lebih unggul atas umat dalam kebaikan dan mansus min Allah (diangkat oleh Allah).

Namun perkara ini adalah salah satu anugerah dari Allah, dianugerahkan kepada Nabi Ibrahim As dan Rasulullah Saw bahwa, dalam kenyataan dan praktiknya, seluruh Imam yang mengikuti mereka berasal dari keluarganya sendiri; mereka semua memiliki kualifikasi yang diperlukan untuk imamah adalah keturunan mereka (Nabi Ibrahim dan Rasulullah Saw).[]


[1] . Lihat, Sedillot, L.P.E.A.,  Histoire des Arabes, terjemahan Arab, hal.126-127.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s