Istighaatsah dan Mencari Hajat

Oleh: Najmu al-Din Thabasi

Minta Bantuan (Istighaatsah) dan Mencari Hajat

Ibnu Taimiyyah berkata, “Kalau ada orang yang berkata kepada orang yang sudah mati yang ada di alam barzakh (alam antara dunia dan akhirat, pentj.), “Terimalah aku!” atau “Bantulah aku!” atau “Syafaatilah aku!” atau “Bantulah aku melewan musuh-musuhku!” dan semacamnya –dimana hanya Tuhan yang memiliki kekuatan untuk semua itu- adalah termasuk kesyirikan.”[1]

Ia dalam kitabnya Ziaratu al-Qubuur dan al-Istinjaadu bi al-Qubuur menuliskan, “Siapa saja yang datang ke kubur Nabi atau orang yang saleh dan meminta bantuan darinya, seperti meminta supaya sakitnya disembuhkan, atau hutangnya dilunaskan dan semacam itu dimana hanya Tuhan yang mampu melakukanya, adalah suatu kesyirikan yang nyata dimana ia harus melakukan taubat, dan kalau tidak bertaubat maka harus dibunuh.”

Begitu pula ia menulis: “Kebanyakan orang yang sesat berkata, “Orang ini lebih dekat kepada Tuhan dariku dan aku lebih jauh dari Tuhan darinya, karenanya aku tidak bisa memanggilNya kecuali dengan perantaraan orang ini.”, dan perkataan semacam itu. Semua ini, adalah dari perkataan orang-orang musyrik.”[2]

Muhammad bin ‘Abdu al-Wahhaab juga berkata, “Memohon dan meminta pertolongan kepada selain Tuhan, menyebabkan seseorang keluar dari agamanya dan masuk ke dalam golongan musyrik dan penyembah berhala. Karena itu harta dan nyawa orang seperti itu, adalah halal hukumnya, kecuali kalau bertaubat.”[3]

 

Membedah Pandangan Wahhabi

Memohon dan meminta tolong dari yang lainnya –yang telah mati- memiliki tiga bentuk:

Hanya memanggil namanya. Misalnya, “Ya Muhammad” atau  “Ya Abdulqadir” atau “Ya Ahlalbait”.

Kadang permitaan tolong itu seperti berikut ini: “Ya Fulan, syafaatilah aku” atau “Ya Fulan, mintalah pada Tuhan agar hajatku dikabulkan”.

Kadang kala juga penyeruan itu seperti berikut ini: “Lunasilah hutangku” atau “Sembuhkanlah penyakitku” atau “Ya Muhammad, dengan keutamaanmu, jadikanlah aku tidak perlu kepada orang lain”.

Tak satupun dari ketiga model pernyataan di atas yang dilarang –agama. Karena seorang muslim –yang belum menyimpang- memiliki kayakinan kepada tauhid. Yaitu, selain Tuhan, tak seorangpun secara mandiri dan tanpa ijin-Nya, yang memiliki kemampuan memberikan mamfaat kepada dirinya dan orang lain, atau menghindarkan suatu bencana.

Kalau seseorang –muslim- mengharap dari orang lain –yang sudah mati- untuk memberikannya mamfaat atau menghindarkannya dari suatu bencana, bukan berarti tanpa kehendak dan ijin dari Tuhan. Akan tetapi bahkan dalam keinginannya itu tertera ijin dan kehendak-Nya tersebut. Yakni kalau Tuhan menghendaki untuk menghindarkannya dari petaka atau untuk memberikannya suatu mamfaat, maka akan terjadi, dan kalau tidak, maka sebaliknya.

Kesimpulannya, fokus diri pada orang-orang yang dimintai itu –dimana memang manusia yang diridhai Tuhan dan dipilih-Nya serta dilebihkan dari yang lainnya- adalah dari sisi ini bahwa orang itu (seperti Nabi saww) dijadikannya perantara untuk mendapatkan hajat-hajatnya secara lebih cepat.

Kalau seorang muslim meminta seperti itu, maka sudah semestinya dihukumi benar, dan tidak boleh terburu-buru menfatwainya sebagai murtad dan menghalalkan harta, istri dan nyawanya. Karena fatwa seperti hanya mengikuti prasangka belaka. Sementara Tuhan berfirman, “Sesungguhnya prasangka itu tidak memberikan kebenaran apapun.”

Kalau seseorang berkata, “Ya Muhammad, mintalah pada Tuhan agar mengabulkan hajatku.” maka maksud sebenarnya adalah Tuhan yang memiliki kuasa mutlak dalam segala hal. Kalau seseorang berkata, “Ya Muhammad, lancarkanlah hajatku.” dari bab penyandaran perbuatan pada sebabnya. Persis seperti kalau kita berkata, “Musim semi membuat alam menjadi hijau.”

Banyak sekali ayat-ayat dalam al-Quran yang secara jelas menyandarkan perbuatan pada hamba (makhluk), seperti:

 

1. (وَمَا نَقَمُوا إِلَّا أَنْ أَغْنَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ)

“Dan tidaklah mereka itu mendendam, kecuali karena Allah dan RasulNya telah mengkayakan mereka.”[4]

2. (وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ)

“Dan berikanlah rejeki dan pakaian kepada mereka!”

3. (وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ)

“Dan jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang telah diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata, “Cukuplah Allah bagi kami. Allah akan memberi kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan begitu pula Rasul-Nya. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).”[5]

Pada hakikatnya, yang memberi rejeki itu adalah Allah. Akan tetapi mengapa disini Tuhan menjadikan Rasul-Nya saww.[6] sebagai sekutu dalam hal ini? Pertanyaan ini, ditujukan kepada para Wahhabi yang mensyirikkan dan mengafirkan perkataan “Berilah aku rejeki!” -kepada selain Tuhan- atau mencari hajat kepada selain Tuhan. (Maksudnya, kalau memang meminta rejeki dan kesembuhan kepada selain Allah adalah kemusyrikan dan kekufuran, maka mengapa di ayat itu Allah sendiri yang telah mensekutukan selain-Nya kepada Diri-Nya sendiri dalam memberi rejeki dan rahmat? Jadi, ukuran kemusyrikan itu bukanlah hanya dengan penetapan, akan tetapi kalau penetapan kepada selain-Nya itu dibarengi dengan keyakinan akan kemandirian selain-Nya itu.)

4. Allah swt menisbahkan atau menetapkan ciptaan, penyembuhan penyakit Lepra dan buta sejak lahir, kepada nabi Isa as. sebagaimana dalam firman-Nya,

(أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ)[7]

“Aku –Isa- membuat bentuk burung dari tanah, dan setelah itu aku meniupnya, maka kemudian ia menjadi burung dengan ijin Allah.”

Mengapa para ulama Wahhabi tidak menyirikkan dan mengafirkan hal seperti ini? Mengapa mereka dengan cepat mengatakan syirik dan kafir kepada orang yang meminta kesembuhan dari penyakit atau pelunasan hutang, kepada Nabi saww dan para wali, padahal semuanya itu juga atas ijin Tuhan?![8]

 

Ucapan Samhudi

Syafi’i berkata, “Kadang kala, bertawassul (berperantara) dengan Nabi saww adalah untuk mencapai hajat. Yakni menjadikan beliau sebagai sebab agar memintakan hajatnya kepada Tuhan. Tapi kadang kala untuk memintakan syafaat dari Tuhan. Tawassul seperti ini, sama dengan meminta doa dari beliau saww sekalipun dengan bahasa yang berbeda-beda (seperti: tawassul, syafaat, istighaatsah atau minta tolong, dan semacamnya). Perkataan-perkataan itu seperti mengatakan kepada Nabi saww, “Aku ingin bersamamu masuk ke dalam surga.” Tujuannya adalah agar supaya Nabi saww menjadi sebab dan pemberi syafaat baginya hingga masuk ke dalam surga.”[9]

Mengampuni dosa, menyembuhkan penyakit dan semacamnya, adalah perbuatan yang tidak bisa dilakukan oleh selain Tuhan. Dan kalau dikatakan bahwa maksud dari pendoa (baca: yang bertawassul dan minta tolong, pentj.) adalah bahwa Nabi saww memiliki kemandirian dalam memberikan efek-efeknya dan Tuhan tidak ikut campur di dalamnya, maka untuk menjawab ini, kami akan mengatakan, “Tak seorangpun dari kaum muslimin yang memaksudkan hal itu dalam doanya (tawassulnya).” Karena itu, istighaatsah dan minta tolong adalah mencari syafaat dan doa. Dan yang demikian ini, tidak terlarang oleh akal dan naql (al-Quran-hadits). Sementara itu, mereka para Wahhabi mengakui bahwa meminta dari orang hidup itu adalah boleh hukumnya.

Ibnu Taimiyyah berkata, “Telah diriwayatkan dari Nabi saww bahwa beliau bersbda, “Tak seorangpun yang mendoakan saudaranya, kecuali Tuhan mengirim malaikat untuk membawa doanya itu. Setiap saat ia berdoa untuk saudaranya, maka malaikat itu berkata: Semoga bagimu juga demikian.”[10]

Salah satu dari tanda kebolehan doa dalam agama, adalah istijabahnya untuk orang yang didoakan. Dengan ini, berarti Nabi saww. memerintahnya –kita-  dengan pujiannya itu, agar mencari wasilah atau perantara kepada Tuhan.

Diriwayatkan dalam suatu hadits, bahwa Rasulullah saww bersabda, “Kalau kalian mendengar suara (adzan) seorang muadzdzin (tukang adzan), maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan, lalu ucapkanlah shalawat kepadaku, karena setiap satu ucapan shalawat itu akan dibalas oleh Tuhan dengan sepuluh salawat-Nya. Dan setelah itu mintalah kepada Tuhan untuk menjadikanku wasilah (perantara) kalian. Karena wasilah ini adalah suatu derajat di surga yang hanya dimiliki oleh hamba-hamba yang spesial. Aku mengharap akulah orang yang –termasuk- memiliki keddudukan itu. Karena itulah, barang siapa meminta kepada Allah untuk menjadikanku wasilahnya, maka syafaatku akan kuhalalkan buatnya di akhirat kelak.”[11]

Begitu pula dibolehkan meminta dari orang yang berada di derajat lebih atas atau bahkan lebih bawah. Dalam riwayat yang shahih telah diriwayatkan bahwa  Nabi saww menyebut Uwais dan berkata kepada Umar, “Kalau kamu bisa, suruhlah dia untuk beristighfar[12]. Lakukanlah amal ini.”

Dan dalam riwayat yang lain dikatakan: Masyarakat mengalami masa paceklik. Mereka meminta kepada Rasulullah saww untuk memohon turunnya hujan. Rasulullahpun saww memohon hujan kepada Tuhan, dan akhirnya hujanpun turun.[13]

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Istighaatsah (minta tolong), pada hakikatnya, adalah meminta doa kepada orang lain yang, kepadanya ia meminta pertolongan. Dan perbuatan ini, jelas tidak ada larangannya sedikitpun, baik derajat yang dimintai tolong itu, lebih rendah atau lebih tinggi.

 

Istighaatsah kepada Orang Mati

Wahhabi tidak membolehkan istighaatsah pada orang yang telah mati. Dalil mereka adalah ayat yang berbunyi,

“Janganlah kalian seru –doa- satupun bersama Allah.”[14]

Jawaban terhadap pernyataan mereka ini adalah, doa itu memiliki dua arti, arti bahasa keseharian dan arti bahasa peristilahan (idiom). Arti bahasanya doa adalah memanggil, seperti dalam suatu ayat yang berbunyi,

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا

“Janganlah kalian jadikan doa –panggilan- Nabi diantara kalian, seperti doa sebagian kalian kepada sebagian lainnya.”[15]

Makna lainnya adalah meminta dari Tuhan akan hajat-hajat dunia dan akhirat secara mutlak. Baik mutlak ini dikarenakan dimensi makna bahasanya atau di dalam makna itu telah terbenam pemakaian ‘urf (umum) dan keseharian. Apapun hal itu, doa dalam makna ke duanya ini adalah terhitung ibadah. Ayat al-Quran-pun telah menyinggung masalah ini, “Mintalah –berdoalah- kepadaKu niscaya Aku akan mengabulkan kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepadaku, akan masuk ke dalam jahannam secara hina.”[16]

Yang harus diperhatikan adalah, berdoa –meminta- dan mencari hajat dari selain Tuhan, bukanlah suatu ibadah dan tidak dilarang di dalam agama. Karena itu, kalau seseorang meminta dari orang lain untuk mendatanginya, atau menolongnya, memberikan sesuatu padanya, mewujudkan hajatnya, maka ia tidak menyembahnya atau tidak beribadah kepadanya, dan tidak pula melakukan dosa.

 

Makna Doa Secara Istilah

1. Doa secara khusus, yakni meminta dari selain Tuhan dengan keyakinan seperti meminta kepada-Nya. Artinya, yang meminta itu meyakini bahwa selain Tuhan tersebut memiliki kemampuan, ikhtiar dan mandiri dari Tuhan sebagaimana doa yang dilakukan para Yahudi dan Nashrani di gereja-gereja mereka.

2. Meminta kepada patung, batu dan pohon. Perbuatan ini dilarang oleh Tuhan, sebagaimana yang dilakukan oleh para musyrikin.

3. Meminta kepada malaikat, jin dan siapa saja yang disembah. Yakni diyakini bahwa disamping Tuhan, mereka juga memiliki pengaruh secara mandiri di alam ini. Dalam hal ini, al-Quran mengatakan,

إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ

“Sesungguhnya yang kalian mintai –doa- dari selain Tuhan itu adalah makhluk seperti kalian.[17]

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَكُمْ وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ

“Yang kalian minta –doa- dari selainNya itu, tidaklah mampu menolong kalian, dan tidak pula mereka mampu menolong diri mareka sendiri.”[18]

فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Maka janganlah kalian minta –doa- kepada satupun bersama Allah!”[19]

Karena itu, kalau seseorang meminta –doa- kepada Rasulullah saww dan menyerunya agar menolongnya, maka perbuatannya itu tidak masuk ke dalam tiga golongan di atas. Karena orang yang meminta kepada Rasulullah saww itu, atau meminta syafaat kepadanya, meyakini bahwa semuanya bergantung kepada Kuasa Tuhan. Kalau Ia menghendakinya, maka Ia akan menerimanya dari Rasulullah saww dan kalau tidak, maka sebaliknya. Jadi, Rasulullah saww tidak lain hanyalah sebagai perantaraan anugrah-Nya. Pekerjaan ini, tidak termasuk dari doa yang dilarang itu, karena tidak meyakini kemandirian Nabi saww.

 

Istighaatsah kepada Para Nabi

Para Wahhabi tidak membenarkan wasilah (berperantara) kepada para nabi dan orang-orang saleh. Karena mereka telah mati, dan orang mati tidak mendengar lagi. Karena itu, tidak ada artinya seseorang berkata, “Wahai utusan Tuhan, tolonglah aku.” Atau berkata, “Aku berwasilah denganmu kepada Tuhan hingga kudapatkan hajatku.”

 

Jawaban

Sebagaimana yang telah lalu, para nabi setelah matipun tetap memiliki kehidupan. Karena itulah maka tidak ada rintangan apapun dari sisi akal dan agama, bagi mendengarnya para nabi dan orang-orang saleh yang telah meninggal, terhadap suara tawassul yang ditujukan kepada mereka. Tentu saja karena mereka tetap memiliki kehidupan.

Anas menukil dari Nabi saww yang bersabda, “Para nabi adalah orang-orang yang hidup dalam kubur mereka dan melakukan shalat.”[20]

Bagitu pula beliau bersabda, “Tak seorangpun yang lewat di dekat kuburan saudaranya sesama muslim dan mengucap salam kepadanya kecuali ia mendengar dan menjawab salamnya.”[21]

Baihaqi berkata, “Sa’id ibnu Musayyab meriwayatkan dari Abu Hurairah, “Nabi saww menemui para nabi di Baitu al-Muqaddas dan ketika waktu shalat tiba, semua melakukan shalat dengan bermakmum kepada beliau, kemudian setelah itu mereka melakukan pertemuan.”

Dalam suatu hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar dan Malik bin Sha’sha’ah, tentang peristiwa mi’raj Nabi saww dikatakan, “Nabi saww bertemu dengan para nabi di langit.”

Hadits ini adalah shahih bahwa Nabi saww dalam peristiwa mi’raj melihat nabi Musa as di dalam kuburnya sedang melakukan shalat. Lalu setelah itu, bersama nabi Musa as dan beberapa nabi lainnya, bermi’raj (naik) ke langit. Nabi saww menjumpai para nabi. Semuanya berkumpul di Baitu al-Muaqaddas dan ketika tiba waktu shalat, melakukan shalat dengan bermakmum kepada Nabi saww. Baihaqi berkata, “Shalat para nabi pada tingkatan (maqam) itu, adalah dalam waktu dan tempat yang berbeda yang tidak bisa diingkari oleh akal. Riwayat-riwayatpun membenarkannya. Semua ini, menunjukkan akan hidupnya para nabi itu.”[22]

Dengan demikian maka terbuktilah bahwa mereka itu hidup dan mendengar salamnya orang-orang yang mengucap salam kepada mereka.

Nabi saww bersabda, “Aku mendengar siapa saja yang mengucapkan salam (salawat) kepadaku dari samping kuburku.” Begitu pula, setiap salam yang ditujukan kepada para nabi as itu, disajikan kepada mereka as sebagaimana dikatakan dalam suatu hadits: “Perbanyaklah kiriman salam (shalawat) kalian kepadaku pada hari Jumat, karena kiriman kalian itu disajikan kepadaku.”

Dengan demikian, ketika ternyata mereka itu hidup (setelah mati),  maka tidak ada halangan untuk meminta pertolongan (istighaatsah) dan meminta doa ampunan kepada mereka. Al-Quran berkata, “Wahai ayah kami, mintakanlah ampunan untuk dosa-dosa kami!”[23] Dan juga berkata, “Pergilah dan bawalah bajuku ini, lalu letakkanlah di wajah ayahku, maka ia akan sembuh dari butanya!”

 

Pandangan Ahlussunnah

1. Qasthalaanii

Ia berkata, “Sangat layak bagi penziarah –kepada Nabi saww- untuk memperbanyak doa dan merendahkan diri, begitu pula meminta pertolongan –istighatsah- dan syafaat serta wasilah –tawassul- kepada Nabi saww, karena memintanya dari beliau saww sangat mustajab dan terkabul. Beristighatsah, bertawassul dan meminta syafaat kepada Nabi saww sama sekali tidak memiliki problem, baik sebelum beliau diciptakan atau setelahnya -selagi beliau hidup- atau dalam keadaan wafat dan berada di alam barzakh atau nanti di hari kebangkitan.”[24]

2. Maraaghii (wafat 816 H)

Ia berkata, “Bertawassul, meminta tolong dan meminta syafaat pada Nabi saww tidak memiliki masalah sedikitpun, baik sebelum penciptaannya atau sesudahnya, baik di dunia ini atau di alam barzakh. dan bahkan di akhirat pada hari kebangkitan kelak.”[25]

Istighaatsah Orang Buta kepada Rasulullah saww

Salah satu yang menjadi bukti nyata dan jelas bahwa meminta tolong (istighaatsah) pada kubur Rasulullah saww dan juga pada diri beliau,  adalah sesuatu yang umum di kalangan kaum muslimin, khususnya diantara para shahabat, adalah kisah ‘Utsman bin Haniif.

Thabraani meriwayatkan dari Abu Imamah bin Sahl bin Haniif dan Abu Imamah dari pamannya ‘Utsmaan bin Haniif, berkata, “Ada satu orang yang selalu mendatangi ‘Utsman bin ‘Affaan, akan tetapi tidak mendapatkan hajatnya. Ia bertemu dengan ‘Utsmaan bin Haniif dan mengatakan masalahnya itu. ‘Utsmaan berkata kepadanya, “Ambillah wudhu dan pergilah ke masjid untuk melakukan shalat dua rakaat. Setelah itu bacalah ini, “Ya Tuhan, aku memohon dan menghadap kepada-Mu, melalui nabiku Muhammad –nabi rahmat. Ya Muammad dengan perantaraanmu aku menghadap Tuhanku agar aku bisa mendapatkan hajatku.” Setelah itu sebutkanlah hajat-hajatmu dan tenanglah (baca: dijamin dapat, pentj.). Orang itu melaksanakan apa-apa yang disuruhkan oleh ‘Utsmaan bin Haniif, dan setelah itu ia mendatangi rumah ‘Utsman bin ‘Affaan. Penjaga pintu –‘Utsman- menyambutnya dan membawanya kepada ‘Utsmaan. ‘Utsman mendudukkannya di atas permadani yang empuk dan iapun duduk di sisinya seraya berkata, “Apa hajatmu?” Orang itu menjelaskan hajatnya dan ‘Utsmanpun memenuhinya. Orang itu pergi dari rumah ‘Utsmaan bin ‘Affaan dan menjumpai ‘Utsmaan bin Haniif sembari berkata: Semoga Tuhan membalas jasa baikmu. Tadinya ‘Utsmaan bin ‘Affaan tidak memperhatikan hajatku dan bahkan tidak memperhatikanku sama sekali sampai aku bertemu denganmu dan kamu mengatakannya (tawassul dengan Rasulullah saww). ‘Utsmaan bin Haniif berkata, “Demi Allah aku tidak mengatakannya, akan tetapi aku telah menyaksikan sendiri kejadian yang telah terjadi pada Rasulullah saww. Yaitu, suatu hari datang seorang yang buta kepada Rasulullah saww.[26] dan ia mengeluhkan kebutaan matanya. Rasulullah saww berkata kepadanya, “Sabarlah!” Orang itu berkata lagi, “Ya Rasulullah, aku tidak punya penuntun, karena itulah hidup bagiku menjadi sangat sulit.” Rasulullah saww bersabda, “Ambillah wudhu dan shalatlah dua rakaat, kemudian bacalah doa ini (doa yang diajarkan ‘Utsmaan bin Haniif di atas itu).” ‘Utsmaan bin Haniif berkata, “Demi Allah tidak lama kemudian –setelah orang itu pergi melakukan perintah Nabi saww- masuklah orang itu lagi dalam keadaan seperti tidak pernah buta sebelumnya.”[27]

Ada seorang yang bermadzhab Salafi[28] yang dalam keadaan ia mengakui keshahihan hadits ini dengan perkataannya “Tidak ada keraguan dalam keshahihan hadits ini”, namun demikian -karena ia tidak bisa mempermasalahkan dari sisi sanadnya itu- ia tetap berusaha meragukannya melalui matannya (makna) yang membuktikan tawassul itu.

Orang ini terpengaruh oleh pemikiran al-Baani[29] pengarang kitab Tawassul  dan oleh pemikiran-pemikiran Wahhabiah yang mengharamkan tawassul kepada mayit dan menganggapnya sebagai syirik. Ia tidak mampu melihat hadits seperti itu –untuk tidak mempermasalahkannya- dan sudah tentu menjadi sangat sulit untuk menerimanya. Sekalipun para ahli hadits seperti Thabraani menshahihkannya dan para shahabat besar memerintahkannya, seperti ‘Utsmaan bin Haniif yang merupakan kepercayaan imam Ali as. dan Umar[30]. Riwayat di atas itu juga diriwayatkan oleh Turmudzi, Nasai dan Ibnu Maajah[31]. Yang sangat mengherankan adalah bahwa mereka mengaku-ngaku sebagai orang yang memiliki sifat-sifat orang salaf (orang terdahulu), padahal mereka menolak apa-apa yang telah diriwayatkan dari mereka secara benar (shahih) seperti tentang peristiwa ‘Utsmaan bin Haniif ini.

Apakah masuk akal kalau seseorang membangun akidahnya sendiri terlebih dahulu, lalu setelah itu baru mencari hadits-hadits sebagai penguatnya? Atau yang masuk akal justru sebaliknya, yakni akidahnya –seperti tentang tawassul dan selainnya- dibangun dari ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi saww yang telah diriwayatkan sampai kepada kita dari para salaf dan pendahulu kita?

 

Istighaatsah kepada Kuburan

Budaya umat Islam dari sejak dulu sampai dengan sekarang adalah melakukan istighaatsah kepada kuburan. Dan para ulamapun –dari sejak dulu- memberikan fatwa tentang kebolehannya yang, beberapa contohnya akan disebutkan di bawah ini:

 

1. Istighaatsah Kepada Kuburan Nabi

Telah diriwayatkan dalam Sunan al-Daarimi: Penduduk Madinah mengalami paceklik yang sangat parah dan mereka mengeluh kepada ‘Aisyah. Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke kubur Nabi saww dan ambillah posisi di bawah atap kubur yang berlubang hingga tidak ada atap yang menghalangi dengan langit.” Perawi berkata, “Mereka melakukan yang disuruh ‘Aisyah itu dan akhirnya hujan lebat turun hingga rumput-rumput pada tumbuh dan membuat onta-onta menjadi gemuk. Sebegitu gemuknya biri-biri yang ada hingga buntutnyapun terbelah karena besarnya yang diistilahkan dengan al-Fatqu (kemekaran badan karena gemuk, pentj.). Dan tahun itu dikenal dengan Tahun-Subur (al-fatqu yang salah maknanya adalah subur, pentj.).”[32]

Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih meriwayatkan dari Abu Shaalih Samaan dan dia dari Maaliku al-Daar (penjaga gudang Umar) yang berkata:  Pada jaman Umar, masyarakat pernah mengalami paceklik yang panjang. Salah satu orang datang ke kubur Nabi saww. dan berkata, “Ya Rasulullah saww mintakanlah hujan untuk umatmu ini, karena mereka sudah hampir binasa. Lalu dalam tidurnya ia melihat seseorang yang berkata kepadanya untuk datang kepada Umar…..

Saif dalam kitab al-Futuuh meriwayatkan, “Orang yang ketiduran –setelah bertawassul kepada Nabi saww tersebut- dan melihat ada orang yang datang itu, adalah Bilaal bin Haarits, salah satu shahabat Nabi saww.”[33]

2. Istighaatsah kepada kuburan imam Husain as di Qaahirah (Mesir)

Hamzaawii al-‘Adwii (wafat tahun 1303 H) setelah panjang lebar menjelaskan kuburan kepala Imam Husain as. (yang salah satunya adalah di Mesir, pentj.), ia berkata, Ketahuilah, bahwa sangatlah dianjurkan untuk memperbanyak ziarah ke kubur agung itu, untuk memjadikannya wasilah (perantara) kepada Allah swt dan meminta hajat-hajatnya dari imam itu (baca: tawassul, pentj.) dalam sepanjang hidupnya. Karena beliau adalah pemecah masalah (baca: penolong atau pensyafaat yang baik dan mujarab, pentj.). Dan juga, dengan menziarahinya dapat menolak bala dan bencana. Begitu pula, dengan bertawassul dengannya, dapat membuat hati yang sedang gelap terhijabi, menjadi terang tersingkap dan dekat dengan Tuhanya.

Salah satu contoh dari hal itu, adalah kejadian yang menimpa guruku, seorang arif billah, Muhammad Syalbii yang terkenal dengan julukan “Alastu”, yang juga pensyarah kitab al-‘Aziyyah. Kejadiannya adalah, semua kitab-kitab yang ada di rumahnya dicuri orang hingga membuatnya sangat gelisah dan stres berat. Karena itu, ia pergi ke kuburan agung itu dan bertawassul dengan membaca beberapa bait syair untuk imam Husain as.. Setelah membaca bait-bait syairnya itu ia diam beberapa saat disana dan kemudian kembali ke rumahnya. Sesampai di rumah, secara serta merta, kitab-kitab yang tercuri itu, semuanya ada di tempatnya kembali.[34]

3. Istighaatsahnya orang buta kepada Kuburan Imam Husain as

Syabzewaari yang bermadzhab Syaafi’i (w. 1172 H), dalam kitab Al-Ittihaaf Bihubbi al-Asyraaf menuliskan sebuah Pasal tentang kubur mulia yang di dalamnya telah dikuburkan kepala Imam Husain as. Dalam pasal itu ia menulis tentang ziarah kepada Imam Husaian as. dan menuliskan beberapa karamatnya. Salah satu dari karamat-karamat itu adalah: di sekitar kuburan kepala Imam Husain as itu hidup seorang yang bernama Syamsu al-Din al-Qu’uwaini. Profesi dan kemahirannya adalah menjahit kain penutup Ka’bah[35] yang biasa disebut dengan al-Kuswatu al-Syariifah.[36]

Suatu saat ia sakit mata yang menyebabkan kedua matanya menjadi buta. Setiap hari ia shalat subuh di makam imam Husain as dan selalu berdiri di depan pintu kubur imam dan berkata, “Wahai tuan, aku adalah tetangga anda yang telah menjadi buta. Aku bermohon kepada Tuhan dengan berwasilah kepadamu supaya Ia mengembalikan penglihatanku, walau hanya satu mata saja.”

Suatu malam ia bermimpi melihat suatu rombongan yang datang menziarahi makam kepala Imam Husain as. Ia menanyakan rombongan yang datang itu, dan dijawab, “Orang yang ini adalah Rasulullah saww dan yang lainnya adalah para sahabat beliau yang datang untuk menziarahi Imam Husain as. Iapun mengikuti rombongan itu masuk ke makam Imam Husain as dan mengulang permintaan yang ia minta di siang harinya.  Imam Husain as meminta kakeknya Rasulullah saww untuk mensyafaatinya. Nabi saww berkata kepada Imam Ali as, “Wahai Ali, celakalah matanya!” Imam Alipun menurutinya dan segera mengeluarkan celak mata dan berkata kepada orang itu, “Kesinilah hingga aku mencelakimu.” Orang itupun maju ke depan. Imam Ali as mengambil tangkai kecil dan mengoleskannya ke celak mata lalu mengoleskannya ke matanya.”

Orang tersebut merasakan panas yang tidak terhingga, lalu ia berteriak dengan sekencang-kencangnya hingga ia terbangun dari tidurnya. Akhirnya, dengan karamat itu ia bisa melihat dengan satu matanya, sampai ia meninggal dunia.[37]

4. Ibnu Habbaan meminta syafaat keada kuburan Imam Ridha as

Ibnu Habbaan berkata, Imam ‘Ali bin Musa al-Ridha as syahid di kota Thuus (Iran) karena minumannya dibubuhi racun oleh Makmun bin Haarun al-Rasyiid. Beliaupun dimakamkan di Sanaabaad di luar daerah Nuuqaan dan menjadi tempat ziarah yang terkenal. Akupun sering kali menziarahinya. Ketika aku tinggal di Thuus, setiap ada problem yang menimpaku, aku selalu menziarahi kubur ‘Ali bin Musa al-Ridha as dan aku berdoa untuk terselesaikannya problemku. Dan doaku selalu mustajab hingga problemku selalu bisa diselesaikan. Selama aku di Thuus, hal seperti sering kali aku alami. Semoga Tuhan mematikanku dalam keadaan mencintai Rasululaah saww dan Ahlulbaitnya as.[38]

Telah diriwayatkan tentang Ibnu Habbaan, Ia adalah imam, allaamah, haafizh dan indah membaca al-Quran. Ia adalah ulama besar di kota Khuraasaan (Iran) dan pengarang kitab-kitab yang terkenal. Ia dilahirkan pada tahun 270 H di masa Qoodhi Samarkand. Ia termasuk ulama ahli fikih dan menghafal banyak kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu. Ia menulis kitab tentang sanad-sanad shahih yang diberi nama al-Anwaa’u al-Taqaasiim dan al-Taariikh serta al-Dhu’afaa’. Orang-orang Samarkand berguru kepadanya. Abu Bakar Khathiib mentsiqahkannya dan berkata, “Dia adalah orang yang tsiqah, menonjol dan sangat teliti.” Al-Hakim al-Niisyaabuurii (pengarang kitab Sunan) juga memujinya dengan mengatakan, “Dia ahli dalam fikih, bahasa, hadits dan nasihat akhlak.” Di antara para ulama besar, ia lebih dikenal. Dia tinggal di daerah kami di Niisyaabuur. Hakim pernah menunjukkan kepadanya beberapa kitab[39]. (Biasanya yang menunjukkan kitab itu kedudukannya lebih rendah dilihat dari posisi ilmu dan keseniorannya, jadi orang ini lebih besar dari Hakim di jaman itu, pentj.).

Dengan semua sifat mulia yang dimilikinya inipun, Ibnu Habbaan sering kali menziarahi kubur Imam Ali al-Ridha as dan beristighaatsah kepadanya. Lalu apakah bisa dan mampu Ibnu Taimiyyah menjulukinya sebagai syirik dan kafir?

5. Penghormatan Ibnu  Khaziimah kepada kuburan Imam Ali Al-Ridha as

Muhammad bin Muammal[40] berkata, “Saya pergi berziarah kepada kubur Ali al-Ridhaa as bersama-sama dengan imam ahlu al-hadits Abu Bakar bin Khaziimah dan temannya Ibnu ‘Ali al-Tsaqafi dan begitu pula bersama-sama dengan orang-orang besar lainnya.

Muhammad bin Muammal berkata, “Aku sangat terheran-heran melihat bagaimana Ibnu Khaziimah sangat menghormati dan merendahkan diri di hadapan kuburannya.”

Dzahabi berkata, “Ibnu Khaziimah adalah Saikhu al-Islam. Yakni marja’, Imamnya para Imam, haafizh, hujjah dan pengarang kitab. Dilahirkan di tahun 223 H, dalam ilmu hadits dan fikih, sebegitu hebat dan mahirnya ia, sampai-sampai menjadi buah bibir masyarakat. Bukhari dan Muslim di selain kitab Shahihnya, juga meriwayatkan hadits darinya.”[41]

Tentang dirinya telah dikatakan, Allah mengangkat bencana dari kota ini (Niisyaabuur) karena ketinggian derajat Abu Bakar bin Khaziimah. Daaru al-Quthnii berkata, “Ia adalah imam, sangat teliti[42] dan tanpa tanding.” Ia adalah penghidup sunnaturrasul saww dan bisa memecahkan kesulitan-kesulitan hadits dengan metodologi khususnya. Ia adalah ulama terpelajar yang ahli dalam membedah dan mengkritisi –masalah-  hingga mengetahui dengan mahir tentang rijal dan sanad-sanad hadits. Karena ilmu dan akhlaknya yang mengikuti sunnaturrasul saww itu, ia menjadi agung dan dicintai masyarakat.[43] Tentang Ibnu Khaziimah ini, Ibnu Abu Haatim berkata, “Ia adalah imam yang diikuti.”

Dengan semua sifat-sifat mulia itu, apakah Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya, dengan alasan bahwa dia beristighaatsah kepada Imam Ali al-Ridha as dan merendahkan diri di hadapan kuburnya, berani mensyirikkan dan mengkafirkannya? Apakah Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya punya kemampuan untuk memberikan nilai negatif terhadap Ibnu Khaziimah dan orang-orang sepertinya?

 

Contoh-contoh Itstighaatsah Kaum sunni kepada Kuburan

1. Kuburan Abu Ayyub al-Anshaari (lahir di Roma tahun 52 H)

Hakim berkata, “Masyarakat mendatangi dan menziarahi kuburannya. Kalau datang masa paceklik, mereka meminta (bertawassul) hujan dari kuburannya itu.”[44]

2. Kuburan Musa bin Ja’far as

Pemimpin madzhab Hanbali, Abu ‘Ali Khilaal, berkata, “Setiap kali aku menghadapi masalah, maka aku segera bertawassul dengan kubur Musa bin Ja’far as, dan biasanya Tuhan selalu memudahkannya.”[45]

3. Kuburan Abu Haniifah

Imam Syafi’i ketika masih di Baghdaad, bertawassul kepada Abu Hanifah dengan mendatangi kuburannya dan menziarahinya. Ia mengucap salam padanya dan untuk mendapatkan hajatnya ia bertawassul dengannya kepada Allah.

Dikatakan bahwa imam Ahmad bin Hanbal bertawassul kepada Imam Syafi’i hingga membuat anaknya keheranan. Ia berkata kepada anaknya,“Syaafi’i seperti matahari bagi masyarakat dan seperti kesihatan bagi badan.”

Dan ketika Syaafi’i melihat orang-orang Maghrib bertawassul kepada Imam Maalik, ia tidak menyalahkan perbuatan mereka itu. Syaafi’i sendiri berkata, “Aku bertabarruk dengan kuburan Abu Haniifah, dan tiap hari datang ke kuburannya. Dan kalau terbesit hajat di hatiku, aku melakukan shalat dua rakaat dan pergi ke kuburannya untuk memohon kepada Allah.[46]

4. Kuburan Ahmad bin Hanbal

Ibnu Jauzi dalam kitab Manaaqibu Ahmad, meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Musa, yang berkata, “Aku dan ayahku di malam yang gelap keluar rumah untuk menziarahi kuburan Ahmad. Kala itu langit menjadi semakin bertambah gelap. Ayahku berkata kepadaku, “Anakku, mari kita bertawassul dengan hamba saleh itu (Ahmad bin Hanbal) kepada Allah, agar Dia menerangi jalan kita. Karena aku selama tiga puluh tahun ini, setiap bertawassul dengannya, selalu mendapatkan hajatku.”[47]

5. Kuburan Ibnu Faurak di Ishfahaan

Ia wafat tahun 406 H dan dikuburkan di Hairah (bagian kota Niisyaabuur, Iran). Kuburannya menonjol dan menjadi tempat ziarah. Masyarakat juga memohon hujan –kepada Allah- di kuburannya. Doa di kuburannya menjadi mustajab.[48]

Ibnu Faurak, Muhammad bin Hasan,  adalah seorang ustadz ilmu Kalam dari madzhab Kalamnya Asy’ari. Akan tetapi Dzahabi dan Ibnu Hazm, mensifatinya dengan suatu sifat yang tidak mungkin keluar dari seorang muslim kecuali kalau murtad.[49]

6. Kuburan Syaikh Ahmad bin ‘Alwaan (w. 750 H)

Yaaf’i berkata, “Salah satu dari karamat orang ini adalah, ulama ahli fikih yang berbeda dengannyapun, kalau sedang menghadapi kesulitan hidup, bertawassul di kuburannya, dan bagitu pula kalau ingin terlepas dari kejaran penguasa.”[50]

7. Meminta hujan di kuburan Bukhaari

Masyarakat Samarkand, meminta hujan dan meminta pertolongan di kuburan Bukhari. Bukhaari wafat 300 tahun sebelum lahirnya Ibnu Taimiyya (664 H).

Sabki berkata, “Ketika kami masih tinggal di Samarkand, kadang-kadang mengalami kekeringan. Masyarakat berkali-kali berdoa meminta hujan, akan tetapi hujan tidak kunjung datang. Ada seorang yang saleh yang dikenal dengan julukan “Orang Saleh” mendatangi hakim (qaadhi) kota Samarkand dan berkata, “Aku punya pembicaraan. Menurutku, anda bersama masyarakat datang ke kuburan Muhammad bin Ismaa’il Bukhaari dan bersama-sama memohon hujan –kepada Allah- di sana. Dengan harapan semoga Tuhan segera menurunkan hujan.” Qaadhi berkata, “Pendapatmu bagus.” Akhirnya mereka bersama-sama pergi ke kuburan Bukhaari dan berdoa meminta hujan di sana. Masyarakatpun menangis di tepian kuburannya dan bertawassul dengan yang dikubur di dalamnya. Tuhanpun mengabulkan doa mereka dan menurunkan hujan dari langit. Sebegitu lebatnya hujan turun hingga masyarakat selama tujuh hari harus menetap di Khartank[51] dan tidak bisa masuk ke kota Samarkand.[52]

Mungkin Ibnu Taimiyyah tidak pernah mendengar peristiwa istighaatsah dan permintaan syafaat mereka itu. Karena, sudah seharusnyalah ia mensyirikan dan mengafirkan mereka semua. Atau ia belum mempercayai peristiwa itu?

8. Istighaatsah Hamzah bin Qaasim (w. 330 H)

Khatiib mengatakan, “Dia adalah orang yang tsiqah dan terkenal sebagai orang saleh. Ia meminta hujan dan berkata, “Wahai Tuhan, Umar telah meminta hujan kepadaMu dengan ketuaan ‘Abbas dan hujanpun turun. Sementara ‘Abbas adalah kakekku. Karena itu, aku memohon hujan padamu demi dia.” Khathiib berkata, “Hujanpun turun, sementara dia masih belum turun dari mimbarnya itu.”[53]

 

Kata-kata Qairawaanii al-Maaliki (wafat 737 H)

Dia dalam salah satu sub judul kitabnya, menulis tentang ziarah kubur sebagai berikut: Menghormati para nabi dan rasul –salam dan shalawat untuk mereka semua- adalah dengan mendatangi kubur mereka.

Yakni keluar dari rumahnya yang jauh itu, dengan niat untuk pergi ziarah. Ketika sudah berada di kuburan mereka, hendaknya dalam keadaan merendahkan diri, patah hati, papa dan sendiri, gundah dan tawadhu’. Hati dan pikirannya, hendaknya difokuskan kepada mereka dan hendaknya melihat mereka dengan mata hati –bukan mata lahiriah- karena mereka tidak akan hancur dan berubah.

Setelah itu, hendaknya memuja Tuhan sesuai dengan yang layak, dan melakukan shalat. Selepas itu, memohon hajat-hajat dan ampunan atas dosa-dosanya kepada Allah, dengan bertawassul kepada mereka. Bagitu pula, hendaknya meminta tolong kepada mereka as. untuk mendapatkan hajat-hajatnya itu. Hendaknya pula ia yakin dan menyimpan baik sangka bahwa doa-doanya akan mendapatkan istijabah. Karena mereka adalah pintu-pintu Tuhan yang selalu terbuka. Dan sudah merupakan sunnah atau hukum alamiah Tuhan, bahwa hajat-hajat manusia bisa didapat melalui mereka.

Barang siapa yang tidak bisa menziarahi mereka, hendaknya dari rumah masing-masing mengucap salam kepada mereka, lalu setelah itu hendaknya mengingat hajat-hajat dan dosa-dosanya. Karena mereka as. adalah orang-orang besar yang tidak akan menolak orang-orang yang meminta tolong, tawassul dan perlindungan kepada mereka.

Sedang untuk menziarahi paling afdhalnya manusia, nabi besar Muhamaad saww, maka harus melipat gandakan apa-apa yang sudah diterangkan caranya –ziarah dan tawassul- untuk pada nabi dan rasul di atas itu. Yakni dari keharusan merendahkan diri, patah hati dan semacamnya itu. Karena beliau adalah paling afdhalnya pemberi syafaat yang syafaatnya tidak akan ditolak Tuhan. Beliau saww tidak menolak orang-orang yang datang kepadanya dan meminta pertolongan –tawassul dan istighatsah. Dengan demikian maka bertawassul dengan beliau bisa menyebabkan berkurangnya dosa dan kesalahan.[54]

 

Kesimpulan

Dengan semua dalil dan bukti sejarah di atas itu, dapat diketahui bahwa istighaatsah, tawassul dan berdoa di kuburan Nabi Mulia saww dan orang-orang saleh lainnya, adalah sesuatu yang biasa dan umum dilakukan oleh segenap kaum muslimin. Untuk mendapatkan hajatnya, mereka bertawassul kepada Abu Hanifah, sementara pembesar madzhab Hanbali, kalau punya problema, bertawassul di kuburan imam Musa bin Ja’far as, dan Ahmad bin Hanbal sendiri bertawassul kepada Syafi’i.

Ibnu Khaziimah dan Ibnu Habbaan bertawassul di kuburan Imam Ali al-Ridha as dan beristighaatsah padanya untuk mendapatkan hajat-hajatnya. Orang-orang Samarkand meminta hujan di kuburan Bukhari. ‘Aisyah sendiri menyuruh umat muslim untuk meminta hujan dengan bertawassul di kuburan Rasulullah saww dan beristighaatsah (minta tolong pada kuburan Nabi saww).

Para tokoh dari golongan shahabat dan para tokoh Ahlussunnah, baik dari golongan ulama ahli fikih atau selainnya, untuk meminta tolong (istighaatsah), datang ke kuburan-kuburan para nabi, shahabat dan orang-orang saleh. Dengan semua ini, apakah Ibnu Taimiyyah masih berani mengatakan bahwa semua tokoh-tokoh itu adalah musyrik dan kafir?

Syaikh Salaamatu al-‘Izaami dengan indah berkata tentang Ibnu Taimiyyah yang bahkan berani tidak sopan kepada Rasulullah saww ini, dengan berkata, “Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa orang yang bepergian –keluar rumah- untuk menziarahi Nabi saww telah melakukan dosa. Siapa saja yang memanggil Nabi saww setelah wafatnya, dan meminta tolong kepadanya, telah melakukan kesyirikan. Ibnu Taimiyyah, di suatu tempat mengatakan bahwa hal itu adalah syirik kecil, dan di tempat yang lain mengatakan sebagai syirik besar. Padahal, hati peminta tolong dan istighaatsah, meyakini bahwa pemberi hakiki adalah Sang Pencipta (Allah), sementara Nabi saww hanyalah wasilah dan perantara untuk mendapatkan hajat-hajat tersebut. Hal itu, karena Allah telah menjadikan beliau sebagai sumber rahmat yang unifersal yang, syafaat dan doanya diterima. Ini adalah akidah semua muslimin sekalipun orang awamnya.”[55]

Qastilaanii berkata, “Sudah seyogyanya bagi penziarah –kubur Nabi saww dan para orang saleh- untuk memperbanyak doa, merendahkan diri dan beristighaatsah serta bertawassul kepada Rasulullah saww. Begitu pula, sudah selayaknyalah Tuhan menerima permohonan Nabi saww untuk memberikan syafaatnya kepada yang memintanya. Ketahuilah, bahwa istighaatsah adalah mencari penolong, dimana yang beristighaatsah menginginkan dari yang dimintai istighaatsah, untuk menolongnya. Dan tidak ada bedanya, dalam beristighaatsah ini, apakah diucapkan dalam bentuk pengucapan istighaatsah, tawassul, syafaat, tajawwuh atau tawajjuh. Karena tajawwuh dan tawajjuh, dari kata dasar Jaahun dan Wijaahatun yang maknanya adalah “maqam yang tinggi”. Jadi, orang yang berada di bawah orang yang memiliki derajat tinggi itu, berperantara dengannya. Inilah tawassul, minta tolong (istighaatsah), minta syafaat dan bermuwajahah, sebagaimana yang diterangkan oleh pengarang kitab Tahqiiqu al-Nadhrati wa Mishbaahu al-Zhulaam.

Semua itu, bisa dilakukan kapan saja, baik sebelum penciptaan Nabi saww atau setelahnya; baik ketika masih hidup atau setelah wafatnya (yakni ketika berada di alam Barzakh) atau bahkan setelah kiamat tiba nantinya.

Sedang bertawassul dengan Nabi saww setelah wafatnya, yang dilakukan oleh kaum muslimin, tidak bisa dihitung jumlahnya. Atau dapat dimengerti dengan merenungi apa yang telah diterangkan di dalam kitab Mishbaahu al-Zhulaam Fi al-Mustaghiitsiina Bikhairi al-Anaam, karya Syaikh Abu ‘Abdillah bin Nu’maan, yang dalam bagian kitabnya itu telah menjelaskan hal tersebut.”

 

Pengakuan Qasthilaani

Qastilaani berkata, “Aku pernah mengalami sakit yang semua dokter sudah tidak sanggup mengobatinya. Selama dua tahun aku dalam keadaan seperti itu. Pada tanggal 28 Jumaadi al-Awwal tahun 893 H, di Makkah –semoga Tuhan melipatkan kesuciannya- aku beristighaatsah pada Rasulullah saww dan, akupun mendapatkan kesembuhan.

Dalam mimpiku, aku bemimpi melihat seseorang datang kepadaku dengan membwa secarik kertas yang di atasnya tertulis, ‘Ini adalah obat dari penyakit Ahmad Qastilaani.’ Ketika aku terbangun dari tidurku, demi Allah, aku tidak lagi melihat bekas-bekas penyakitku. Yakni aku mendapat kesembuhan dengan berkah Rasulullah saww.”[56]

Sungguh mengherankan bagi para Wahhabi, karena dengan semua pernyataan Ahmad Qastilaani ini, mengapa mereka tidak berani mensyirikkan dan mengafirkannya? Padahal mereka meyakini kesyirikan dan kemurtadan orang-orang yang datang ke kuburan para nabi dan/atau orang-orang saleh, dan meminta hajat dan kesembuhan dari penyakit. Mereka selalu berkata, “Orang-orang seperti itu, harus bertaubat dari perbuatannya itu, dan kalau tidak, maka harus dibunuh.”

 

Contoh-contoh Istighaatsah kepada Kubur Rasulullah saww

Samhuudi dalam bagian akhir kitabnya, secara khusus membahas orang-orang yang telah meminta tolong (istighaatsah) pada kubur Rasulullah saww, atau yang meminta sesuatu dari beliau dan telah pula mendapatkannya. Dalam hal ini, ia menukil rwayat-riwayat yang telah diriwayatkan dalam buku Misbaahu al-Zhulaam Fi al-Mustaghiitsiina Bikhairi al-Anaam,[57] karya seorang haafizh, Sulaiman bin Musa bin Saalim Balansi[58] (wafat 632 H).[59]

1. Kejadian al-Munkadir Taimii

Muhammad bin al-Munkadir berkata, “Satu orang datang kepada ayahku dan menyerahkan 80 Dinar (kepeng uang mas) sebagai amanat dan berkata, “Kalau kamu memerlukan uang, maka pakailah uang ini!” Kemudian, ia pergi ke medan jihad. Setelah itu, masyarakat mengalami tekanan hidup karena mahalnya barang-barang. Karena itu ayahku menggunakan uang amanat itu. Setelah beberapa lama, pemilik uang datang dan meminta uangnya. Ayahku berkata kepadanya, “Datanglah kembali besok pagi.”  Ayahkupun pergi ke masjid (Madinah). Kadang ia meminta perlindungan di kuburan Nabi saww dan kadang di mimbarnya. Ayahku tetap dalam keadaan beristighaatsh itu sampai menjelang fajar. Lalu datang seseorang dari kegelapan dan berkata, “Wahai ayah Muhammad, terimalah ini!” Ayahkupun mengulurkan tangannya dan mengambil barang yang diberikan itu –sebuah kantongan. Setelah dilihat, ternyata di dalamnya ada uang Dinarnya sebanyak 80 Dinar. Ketika sudah pagi, orang yang menitipkan uangnya itu datang lagi dan meminta uangnya. Ayahkupun menyerahkan uang yang tadi malam diterimanya itu.”[60]

2. Menyediakan makan untuk Thabari

Imam Abu Bakar bin Muqirri berkata[61], Aku, Thabrani dan Abu al-Syaikh pergi ke makam Rasulullah saww, dan selagi kami berada di makam beliau saww (masjid Nabawi) rasa lapar sangat menyengat perut kami. Karena itu, aku mendekat ke kubur Nabi saww dan berkata, “Ya Rasulullah aku lapar sekali.” Lalu aku kembali ke tempatku. Abu al-Qaasim berkata kepadaku, “Duduk sajalah di sini. Hanya dua pilihan, ada rizki yang datang atau mati.”

Abu bakar berkata, “Aku, Abu al-Qaasim dan Thabrani dalam keadaan duduk dan melamun, tahu-tahu ada seorang sayyid (‘Alawi) yang mengetuk pintu masjid. Kamipun membuka pintu masjid. Kami lihat orang itu bersama dua orang muda yang masing-masingnya membawa keranjang yang penuh dengan makanan. Kami duduk dan makan bersama-sama. Kami mengira, sisa makanannya akan dibawa mereka, akan tetapi justru mereka meninggalkannya untuk kami. Ketika kami sudah selesai makan, Sayyid tadi berkata, “Apakah kalian mengeluhkan rasa lapar kalian kepada Rasulullah saww? Karena aku bermimpi Rasulullah saww dan menyuruhku untuk membawa makanan untuk kalian.”[62]

3. Separuh Roti di Tangan Seorang Yang Lapar

Ibnu Jallaad berkata, “Aku datang ke kota Madinah dalam keadaan tidak punya uang. Aku mendatangi kubur Nabi saww dan berkata, “Ya Rasulullah, aku adalah tamumu.” Dalam keadaan seperti itu, aku mengantuk yang teramat sangat. Dalam tidur, aku melihat Rasulullah yang memberiku sepotong roti. Akupun memakan separuhnya. Ketika aku bangun, ternyata yang separuhnya lagi ada di tanganku.”[63]

4. Dirham-dirham yang Penuh Berkah

Abu Abdillah Muhammad bin Abi Zar’ah, seorang Shufi, berkata, “Aku pergi ke Makkah bersama dengan ayah dan Abu Abdillah bin Haniif. Di perjalanan, aku benar-benar telah kehabisan uang. Ketika masuk ke kota Madinah, aku benar-benar merasa sangat lapar. Aku, yang pada waktu belum baligh, mendekati ayahku dan berkata, “Aku lapar.” Abu al-Hazhiirah menghadap ke arah kubur Nabi saww dan berkata, “Ya Rasulullah, malam ini aku adalah tamumu.” Lalu ia duduk menunggu. Tidak lama kemudian kulihat dia mengangkat kepalanya dan mengatakan sesuatu sambil tersenyum. Aku menanyakan apa yang terjadi. Ia berkata, “Aku melihat Nabi saww dan meletakkan Dirham (mata uang perak) di tanganku.” Iapun membuka genggaman tangannya dan ternyata memang ada. Sebegitu besarnya berkah yang diberikan Allah kepada Dirham-dirham itu, hingga bisa dibuat biaya pulang sampai ke Syiraz (Iran).[64]

5. Mangkok Susu untuk Orang Lapar

Syaikh bin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abi al-Amaan berkata, “Aku sedang duduk di belakang mihrab Fathimah as di kota Madinah, dan Syarif Mukatstsar al-Qaasimi berdiri di belakang mihrab itu juga. Kemudian ia pergi ke arah kubur Nabi saww, lalu ia kembali sembari tersenyum. Pengurus Masjidu al-Nabi bertanya kepadanya, “Mengapa kamu tersenyum?” Ia menjawab, “Sebenarnya aku sedang mengalami kesulitan keuangan. Karena itu aku keluar dari rumah menuju rumah Fathimah –almarhumah- dan setelah itu ke kubur Nabi saww untuk minta tolong (istighaatsah). Aku berkata –pada Nabi saww, “Aku lapar.” Setelah itu aku ketiduran. Dalam tidur kulihat Nabi saww memberikan mangkok yang berisi susu. Aku minum susu itu dan akhirnya aku merasa kenyang.”[65]

6. Kurma yang Lezat

Abu Ishaaq Ibrahim bin Sa’iid berkata, “Aku pernah tinggal di kota Nabi saww (Madinah). Bersamaku tiga orang fakir, dan kami semua waktu itu, benar-benar dalam keadaan miskin. Aku pergi ke kubur Nabi saww dan berkata, “Ya Rasulullah, kami tidak punya apa-apa. Tiga mud (Mud, adalah tempat yang dijadikan ukuran kulakan barang seperti beras, gandum dan semacamnya. Besarnya seukuran satu liter, pentj.)

kurma yang manis sudah cukup untuk kami bertiga.”[66]

7. Mengharapkan Makanan Daging

Syariif Abu Ishaaq Muhammad ‘Abdu al-Salaam bin ‘Abdu al-Rahmaan al-Husainii al-Faasii berkata, “Aku pernah tinggal tiga hari di kota Rasulullah saww (Madinah). Dan dalam tiga hari itu, aku tidak makan apapun. Akhirnya aku pergi ke mimbar Nabi saww dan melakukan shalat dua rakaat. Setelah itu aku berkata -kepada Rasulullah saww, “Kakekku, aku lapar sekali, aku mengharap makanan daging darimu.” Setelah itu aku merasakan kantuk yang teramat sangat dan ketiduran. Lalu aku dibangunkan oleh seseorang. Akupun terbangun. Kulihat orang itu sedang membawa mangkok kayu yang di dalamnya berisi roti yang telah dipotong-potong, gajih, daging dan lalapan serta rempah. Ia berkata kepadaku, “Makanlah!” Aku bertanya kepadanya, “Dari mana makanan ini?”

Ia menjawab, “Sudah tiga hari anak-anakku di rumah menginginkan makanan seperti ini. Sesampainya di hari ke tiga, berkat amalan-amalan yang kulakukan, Tuhan membuka rahmatnya dan memberiku rejeki makanan seperti ini. Setelah itu, dalam tidur kulihat Nabi saww berkata, “Salah satu dari saudaramu juga menginginkan makanan seperti ini, karena itu, berikan juga kepadanya!”[67]

8. Harapan Orang Lapar

‘Abdullah bin Hasan Dimyathii berkata, “Syaikh Shaalih ‘Abdu al-Qaadir Tunisii sewaktu berada di kota Dimyaath, bercerita kepadaku, “Aku pernah datang di kota Madinah. Aku mengucap salam pada Nabi saww dan mengeluhkan rasa laparku. Aku meminta kepada beliau saww. makanan dari gandum, daging dan kurma. Setelah aku melakukan ziarah kepada beliau saww aku melangkah menuju Raudhah (ruangan yang terdapat di sekitaran kubur Nabi saww, pentj.) dan melakukan shalat. Malam itu aku menginap di sana. Tahu-tahu ada orang yang membangunkanku dari tidur. Akupun mengikutinya pergi. Ia adalah pemuda yang sangat baik akhlaknya. Setelah itu, ia menyodorkan makanan di hadapanku yang terdiri dari sop daging, sate, kurma dan roti dimana sebagian rotinya dibuat dari sagu pohon kurma.[68] Akupun memakannya. Setelah makan, orang tersebut memenuhi kantongan dengan daging, roti dan kurma seraya berkata, “Setelah shalat subuh aku ketiduran dan melihat Nabi saww, dalam mimpiku. Beliau memerintahkanku untuk melakukan yang kulakukan padamu ini dengan menunjukkan tempatmu di Raudhah itu. Bukankah kamu adalah orang yang menginginkan makanan seperti ini?”[69]

 

Satu Poin Penting

Pengarang kitab Mishbaahu al-Zhulaam setelah meriwayatkan peristiwa di atas, berkata, “Kebanyakan dari orang-orang yang disuruh oleh Nabi saww untuk memenuhi peminta hajat itu, adalah dari keturunan beliau sendiri. Terkhusus kalau yang mau diberikan itu berupa makanan. Karena keindahan akhlak orang-orang besar itu adalah, kalau mereka dimintai makanan, maka mereka melayani tamu terlebih dahulu, baru kemudian keluarga mereka sendiri. Dengan ini, dapat diketahui bahwa akhlak Rasulullah saww adalah melayani tamu. Dan setelah beliau wafat, sudah tentu merupakan tugas dari anak-anaknya.”[70]

Sekarang, setelah semua peristiwa itu dijelaskan dimana datang dari orang-orang seperti Thabrani, Ibnu al-Muqirri dan Ibnu al-Munkadir, apakah masih tersisa bagi Ibnu Taimiyyah untuk menyerukan pendapatnya bahwa tawassul dan istighaatsah itu adalah syirik? Apakah pengarang kitab Mishbaahu al-Zhulaam adalah musyrik? Dan kitabnya dipenuhinya dengan kekufuran dan kemusyrikan? Apakah Ibnu Taimiyyah dan pengikutnya berani mensyirikkan Balansi? Sementara Ibnu ‘Imaad mengomentarinya dengan berkata, “Dia seorang haafizh (setidaknya hafal seratus ribu hadits lengkap dengan perawinya) yang besar dan tsiqah.”?  Dan Aabaar berkata tentangnya, “Dia ahli dalam hadits dan mendahului ulama-ulama sejamannya.”? Ibnu Musdii-pun berkata, “Dia adalah imam, dan di dalam ilmu ma’quul dan manquul (akli dan nakli) dia adalah seorang alim yang sangat menonjol.”? Dan begitu pula Dzahabi berkata tentang dirinya, “Dia adalah imam, ‘allaamah, haafizh dan seorang ustadz dalam memahami hadist.”?

Dengan semua bukti dan dalil ini, apakah masih ada tempat untuk mendengarkan dakwaan dan pandangan Ibnu Taimiyyah?

 

Pengakuan Samhuudii

Setelah Samhuudii meriwayatkan dari kitab Mishbaahu al-Zhulaam tentang para fakih (mujtahid dalam fikih) dan para perawi hadits yang bertawassul dengan kubur Nabi saww., ia berkata: Kejadian-kejadian seperti ini sangat banyak.

Di sini aku hanya mau mencukupkan dengan pengalaman yang terjadi pada diriku sendiri. Yaitu, Suatu hari aku berada di masjid Nabi saww dimana kulihat jemaah haji dari Mesir sedang datang untuk berziarah. Kunci ruang untuk berkhalwat, yang di dalamnya kuletakkan beberapa kitabku, ada di tanganku. Pada waktu itu, satu ulama dari rombongan Mesir melewatiku. Dan iapun mengenali aku. Karenanya ia mengucap salam kepadaku. Karena ia mengenalku, dia mengajakku untuk menemaninya pergi ke Raudhatu al-Syariif (ruang sekitar kubur Nabi saww) dan mengajak berdiri di sebelah kubur beliau. Akupun menerima ajakannya dan pergi bersamanya. Aku mencari kunci yang ada padaku, akan tetapi tidak kutemukan. Karena waktunya sangat mendesak, sementara aku sangat memerlukan kunci itu, maka hilangnya kunci itu sangat membuatku kerepotan. Akhirnya aku mendatangi kubur Nabi saww dan berkata, “Wahai tuanku Rasulullah, kunciku hilang. Padahal aku sekarang sangat memerlukannya. Karena itu aku menginginkannya darimu.” Setelah itu aku kembali, dan kulihat ada orang di dekat kamar khalwat itu. Aku mengira bahwa aku mengenalnya. Setelah aku menghampirinya, ternyata dia adalah seorang anak yang tidak terlalu berumur dan memegang kunciku di tangannya. Aku berkata kepadanya, “Dari mana kunci ini?” Ia menjawab, “Kutemukan di dekat kubur mulia Nabi saww.” Akhirnya kudapatkan kunci itu darinya.

Masih ada terusan ceritanya yang, kalau diceritakan semuanya, bisa membuat cerita ini berkepanjangan.[71]

 

Permohonan Muhibbu al-Diin Thabarii

Taqiyyu al-Diin Faasii berkata, “Cerita tentang kejadian ini kudapatkan dari catatan-catatan kakekku Abu ‘Abdillah. Ia berkata, “Aku mendengar Muhibbu al-Diin Thabarii yang berkata, “Kami dalam suatu rombongan yang pergi ke Madinah untuk berziarah. Di perjalanan, aku mengarang puisi untuk memujii Nabi saww. Dan ketika kami telah memasuki kota, aku baca puisiku. Sebelum aku selesai membacanya, aku berkata, “Ya Rasulullah, aku ingin hadiah darimu. Yaitu dihilangkannya julukan yang ada padaku di masyarakat, julukan Muhyi al-Diin (Penghidup Agama). Karena aku tidak suka julukan ini.” Aku juga meminta julukan lain, yaitu Muhibbu al-Diian (Pencinta Agama). Sungguh, setelah itu, julukan pertama hilang dariku seperti tidak pernah ada. Dan akupun terkenal dengan julukan baru itu –Muhibbu al-Diin.[72]

Telah diriwayatkan tentang Muhibbu al-Diin: Dia adalah Muhaddits (perawi hadits), mufti dan terhormat.[73]


[1] Al-Hidaayatu al-Saniyyatu, hlm. 40.

Salah satu yang sangat mengherankan dari pernyataan Ibnu Taimiyyah ini adalah “Meminta pertolongan tidak disebutkan dalam al-Quran dan hadits, dan msulimin tidak bersepakat tentangnya. Perbuatan seperti ini adalah kesyirikan yang besar dimana Nabi saww memeranginya.”

[2] Kasyfu al-Irtiyaab, hlm. 214.

Salah satu dalil mereka adalah, telah dinukil dari Watsiimah dan yang lainnya: ”Wad, Suwaa’, Yaghuuts, Ya’uuq dan Nasr adalah nama-nama orang saleh dari umat Nabi Nuh as. dimana masyarakat selalu datang ke kubur mereka. Perbuatan mereka itu, lama kelamaan, menyebabkan mereka membuat patung-patung serupa mereka –yang di dalam kubur.” Karena itu menyeru kubur adalah haram.

[3] Kasyfu al-Irtiyaab, hlm. 214.

Untuk mengetahui dalil-dalil lainya mereka, dan penolakannya, rujuklah kitab yang sama hlm. 214-220!

 

[4] QS. Al-Nisaa’: 5.

[5] QS. Al-Taubah: 59.

[6] Telah diriwayatkan dari Imam Ja’far al-Shadiq as, Abu Hanifah makan bersama Imam Ja’far as. Setelah Imam Ja’far selesai makannya, beliau berkata, “Segala puji bagi Allah swt Tuhan semesta alam. Makanan ini dari-Mu dan Rasul-Mu.” Abu Hanifah berkata, “Wahai Aba ‘Abdillah (julukan Imam Ja’far as) apakah engkau menjadikan sekutu bagi Tuhan?” Imam menjawab, “Diam kamu, Tuhan telah berfirman dalam al-Quran: ‘Tidaklah mereka mendendam kecuali karena telah dikayakan Allah dan RasulNya dari sebagian berkahNya.” (QS. 9: 74). Dan di tempat lain mengatakan: “Dan jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang telah diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata, “Cukuplah Allah bagi kami. Allah akan memberi kepada kami sebagian dari karuniaNya dan begitu pula RasulNya.” (QS. 9: 59)” Abu Hanifah berkata, “Aku bersumpah demi Tuhan, bahwa aku seakan tidak pernah membaca ayat ini.” (Kanzu al-Fawaa-id, hlm. 196; Wasaailu al-Syi’ah, jld. 24, hlm. 351; Bihaaru al-Anwaar, jld. 47, hlm. 240.

 

[7] QS. Aali ‘Imraan: 49.

[8] Fatwa-fatwa kontradiktif mereka –Wahhabi- yang bertentangan dengan al-Quran itu, disebabkan tidak adanya perenungan terhadap al-Quran itu sendiri, sebagaimana telah kami contohkan sebelum ini. Ibnu Taimiyyah berkata, “Sama sekali tidak ada dalam al-Quran yang menerangkan masalah istighaatsah –minta tolong- dan akupun akan membuktikan kebatilannya.”

[9] Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 2, hlm. 421.

Para Wahhabi berkata, bahwa kalau hajat yang dicari seorang hamba itu hanya dapat dipenuhi oleh Tuhan, sementara ia mencari dari selain-Nya, maka hal ini adalah syirik. Akan tetapi kalau hajat yang dicarinya itu dapat dipenuhi oleh selain Tuhan juga, maka meminta kepada selain-Nya adalah boleh. Jadi, kondisi yang pertama tidak boleh, dan pada kondisi ke dua dibolehkan.

Begitu pula, boleh dan tidaknya tergantung pada yang dimintai tolong. Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Ziyaaratu al-Qubuur berkata, “Kalau hajatnya itu bisa diwujudkan oleh makhluk, maka boleh meminta darinya dalam satu keadaan dan tidak boleh pada kedaan yang lain. Karena meminta kepada makhluk, bisa dibolehkan dan bisa terlarang.”

Yang membuat mereka mengeluarkan fatwa syirik kepada perbuatan seperti itu –istighaatsah-  adalah perkataan mereka yang mengatakan, “Dengan melaksanakan perbuatan seperti ini –istighaatsah- sama dengan beribadah kepada selain Allah. Padahal ibadah itu hanyalah untuk-Nya semata. Dan Tuhan, dalam al-Quran, mengatakan bahwa doa itu adalah ibadah.”

Fatwa seperti ini, disebabkan kesalahan mereka dalam memahami arti ibadah. Andaikata mereka memahaminya dengan benar, maka mereka tidak akan mengeluarkan fatwa yang lucu itu dan tidak perlu menjadi ejekan orang-orang alim dan awam.

[10] Risaalatu Ziyaarati al-Qubuur, hlm. 2; Kasyfu al-Irtiyaab, hlm. 223.

[11] Kasyfu al-Irtiyaab, hal 223.

[12] Musnad Ahmad, hal 3, 245, 261 dan 381.

[13] Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 4, hlm. 26.

[14] Qs. al-Jin: 18.

[15] Qs. al-Nur: 63.

[16] QS. al-Ghaafir (al-Mukminun): 60.

[17] QS. Al-A’raaf: 414.

[18] Ibid, ayat: 197.

[19] QS. Jin: 18.

[20] Baihaqi menshahihkan hadits ini. Ibnu Hajarpun dalam kitab Fathu al-Baari mentsabitkannya (menshahihkan). Karena dasar penilaiannya adalah menshahihkan hadits-hadits yang ada di dalam kitab Fathu a-Baari, sebagai syarahan dari kitab Shahih Bukhari. Dan semua riwayat yang dibawakan adalah hadits-hadits Shahih dan Hasan (baik). Lihat al-Maqaalaatu al-Sunniyyatu, hlm. 114.

[21] Manawi juga meriwayatkan hadits ini dari Ibnu ‘Asaakir dalam kitab Syarhu al-Jaami’i al-Shaghiiri. Haafizh al-Iraaqi berkata, “Ibnu ‘Abdu al-Bir meriwayatkan hadits tersebut dalam kitab al-Tamhiid dan kitab al-Istidzkaar, dengan sanad yang shahih dari Ibnu ‘Abbas. Dan Ibnu ‘Abdu al-Haq juga menshahihkan hadits itu.” Lihat al-Maqaalaatu al-Sunniyyatu, hlm. 114.

[22] Al-Maqaalaatu al-Sunniyyatu Fi Kasyfi Dhalaalaati Ibni Taimiyyah, hlm. 114. Lebih dari itu, Wahhabi membolehkan meminta tolong (istighaatsah) kepada orang yang masih hidup dan mensyirikkannya kalau kepada yang telah mati. Padahal, kalau perbuatan itu memang syirik, maka tidak akan ada bedanya antara meminta tolong kepada yang hidup atau yang mati. Yang juga mengherankan dari mereka adalah, mereka mensyirikkan tawassul dan semacamnya, padahal kalau melihat kitab-kitab hadits mereka sendiri, sebegitu banyaknya riwayat-riwayat tentang hal tersebut hingga hampir mencapai Mutawatir dan bahkan sebagiannya memang Mutawatir.

[23] QS. Yusuf: 93-97.

[24] ‘Ubaadah bin Shaamit menukil dari Abu Bakar yang berkata, “Ayo kita berdiri untuk meminta pertolongan kepada Nabi saww dari kejahatan orang-orang munafik itu. Beliau bersabda, “Janganlah kalian berdiri untuk aku, karena berdiri itu hanya untuk Tuhan.” (Musnad Ahmad bin Hanbal, jld 5, hlm. 317; al-Mawaahibu al-Laduniyyah, jld. 3, hlm. 417.)

Muhyiddin Nawawi menulis:

Hendaknya para penziarah menghadap kepada Rasul saww dan bertawassul padanya dan meminta syafaat Tuhan melaluinya. Dari yang paling indahnya sesuatu, adalah yang ditulis oleh al-Maawardi Qaadhii Abu Thaalib dan guru-guru lain kami yang lainnya yang telah memuji apa-apa yang telah dikatakan ‘Utbaa, “Saya duduk di dekat kubur Nabi saww. lalu datang seseorang dari arah sahara dan berkata, “Salam padamu ya Rasulullah, aku pernah mendengar bahwa Allah berfirman, “(Dan kalau mereka yang menganiaya diri mereka itu –berdosa- datang kepadamu –Muhammad- dan meminta ampun kepada Allah, dan Rasul juga memintakan ampun untuk mereka, maka mereka akan mendapatkan Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Pengasih).” Dan kini aku datang kepadamu dalam keadaan meminta ampun atas dosa-dosaku dan meminta syafaatmu kepada Tuhanku.’” (Syarhu al-Madzaahib al-Syiraazii, jld. 8, hlm. 256.

Ibnu Quddaamah al-Hanbali dalam kitab al-Mughnii, jld. 3, hlm. 588, seiring dengan Syarhu al-Kabiir, berkata, “Menziarahi kubur Nabi saww adalah sunnah. Samhudi menukil dari kitab al-Mustau’ib karya Muhammad bin Abdullah al-Saamir al-Hanbali, tentang tata cara ziarah. Lihatlah Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 4, hlm. 1376; Ihyaa-u al-‘Uluum, jld. 1, hlm. 259.

[25] Qasthilaani dalam kitabnya Tahqiiqu al-Nazhrati wa Mishbaahu al-Zhulaam, hlm. 113. Sebagai contoh, ia menulis tentang Imam Malik: Selagi ada Imam Malik, tidak ada orang lain yang berani memberi fatwa. Dan dengan kesyaksian Syafi’i, ia adalah Hujjah (dalil) Tuhan untuk makhluk-Nya. Ketika Manshur bertanya padanya, “Apakah aku harus menghadap ke kiblat atau kepada Nabi saww? Malik menjawab, “Mengapa kamu harus memalingkan wajah dari Nabi saww sementara beliau adalah perantaraanmu dan Nabi Adam as hari kiamat kelak? Karena itulah menghadaplah ke beliau saww dan jadikanlah sebagai pensyafaatmu!” (Kasyfu al-Irtiyaab, hlm. 230).

[26] Hadits ini mengisyaratkan (baca: rincian dari hadits itu, pentj.) kepada hadits yang diriwayatkan dalam kitab Musnad bin Hanbal, jld. 4, hlm. 138, dengan sanad yang shahih: Seorang buta menjadi sembuh dengan perantaraan doa yang diajarkan Nabi saww (lihat juga, Sunan Turmudzi, jld. 5, hlm. 569, hadits ke: 3578; Sunan Ibnu Maajah, jld. 1, hlm. 441; Hakim, jld. 1, hlm. 363.)

[27] Al-Mu’jamu al-Kabiir, jld. 9, hlm. 30, hadits ke: 8311; al-Mu’jamu al-Shaghiir, jld. 1, hlm. 183, dan dinyatakannya sebagai hadits yang shahih.

[28] Lihatlah: Haasyiah Sairu A’laami al-Nubalaa’ karya Dzahabi.

[29] Orang ini adalah pengarang kitab al-Tawassulu ilaa Haqiiqati al-Tawassuli. Ia memiliki pemikiran yang ekstrim dan tidak masuk akal tentang hadits-hadits tabarruk yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Ia tanpa malu-malu dan tanpa merasa berat berkata, “Hadits-hadits seperti ini tidak mamfaatnya lagi di jaman kita ini.”

Kita melihat bagaimana para pengaku Salafi (pengikut orang terdahulu) itu menghancurkan jembatan-jembatan yang ada di belakang mereka (jembatan ke masa lalu, shahabat dan Nabi saww) dan telah membuat jembatan baru untuk tujuan-tujuan para Yahudi dan Zionist.

Pengarang kitab Fiqhu al-Siirati, Doktor Muhammad Said al-Buuthi, di halaman 188-189, telah menukilkan kata-kata Syaikh Nashir Rifaa’i ini dan berkata, “Perkataan yang diucapkan oleh Rifaa’i ini, adalah perkataan yang sangat besar –berani- yang tak seorang muslimpun berani mengucapkannya.” Setelah itu ia juga berkata, “Bagaimana mungkin ia berkata, “Hadits ini tidak bermanfaat pada jaman ini. Sementara semua ucapan, perbuatan dan taqrirnya (Taqrir adalah persetujuan Nabi saww atas perbuatan orang yang dilakukan di hadapannya. Taqrir ini termasuk hadits sebagaimana ucapan dan perbuatan Nabi saww, pentj.) Nabi saww adalah syariat, dan syariat tetap sampai hari kiamat, selama tidak dinasakh (dihapus) di dalam kitabullah dan hadits yang shahih. Hadits-hadits di atas itu adalah hadits yang shahih yang tidak pernah dinasakh oleh kitab dan hadits shahih lainnya.  Dengan demikian maka seluruh isi hadits-hadits itu adalah syariat dan akan tetap sampai hari kiamat. Karenanya, tidak ada masalah sedikitpun untuk bertabarruk dengan bekas-bekas Nabi saww, apalagi mereka mau melarang tawassul.

[30] Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 2, hlm. 320.

[31] Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang dishahihkan oleh Ibnu Taimiyyah. Ia berkata, “Yang dimaksudkan dengan Abu Ja’far dalam sanad hadits itu adalah Abu Ja’far Khathmi. Dan dia adalah orang yang tsiqah.”

Ibnu Maajah dalam Sunannya, jld. 1, hlm. 441, meriwayatkan dari Abu Ishaaq yang berkata, “Hadits ini adalah shahih.” Setelah itu ia berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Turmudzi dalam kitabnya Abwaabu al-Ad’iyyah dan berkata: ‘Hadits ini adalah haq dan gharib.”

Rifaa’i dalam kitabnya al-Tawashshul Ila Haqiiqati al-Tawassul, hlm. 158, berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa hadits ini adalah shahih, terkenal (masyhuur) dan telah ditetapkan (dibenarkan) tanpa keraguan.”

 

[32] Sunan al-Daarimi, jld. 1, hlm. 56; Subulu al-Hudaa wa al-Rasyaad, jld. 12,  hlm. 347; Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 4, hlm. 1374; Kasyfu al-Irtiyaab, hlm. 313.

[33] Daf’u Syibhin min Syubbihin wa Tamarrudin, hlm. 94; al-Ishaabah, jld. 3, hlm. 484; Kasyfu al-Irtiyaab, hlm. 280 (yang diriwayatkan dari Baihaqi dan Ibnu Maajah.)

[34] Sebagian orang meyakini bahwa kepala penghulu para syahid, Imam Husain as. dikubur di Mesir. Karena itu, di Qaahirah, ada maqam (kubur mulia) yang bernama “Kepala Imam Husain as.” yang menjadi tempat bertawafnya para penziarah, dimana pengantinpun di malam pertamanya mengitari masjid Imam Husain as. yang ada kuburan kepada Imam Husainnya itu.

Ibnu Jarir al-Thabari berkata, “Saya pernah menyaksikan para penziarah kepala Imam Husain as. Mereka sebegitu berjubelnya dengan penuh antusias, mentabarrukkan matanya dan mengusap-ngusapkan kainnya, serta melakukan doa. Air mata mereka mengalir sebegitu derasnya hingga bisa membelah hati yang telah membatu sekalipun.” (Wahhabiat Mabaanii Fikrii wa Koornomehe ‘Amali, hlm. 170-171.)

[35] Masyaariqu al-Anwaar karya Hamzaawii, jdl. 1, hlm. 197; al-Ghadiir, jld. 5, hlm. 191.

Al-Marhuum Sayyid Muhsin Amiin dalam kitabnya Kasyfu al-Irtiyaab, hlm. 255, mengatakan: Ibnu Hajar dalam kitabnya al-Shawaa’iqu al-Muhriqah menulis: Imam Syafi’i bertawassul dengan Ahlulbait Nabi saww dalam betuk syair: “Keluarga Rasul adalah perantaraku menuju Tuhan. Dengan mereka kuberharap buku amalku diterima tangan kananku”.

Al-Marhuum Amiin dalam kitabnya itu juga menulis suatu peristiwa yang Umar bin Khaththaab sekalipun, bertawassul dengan ‘Abbaas paman Nabi saww. Samhudi dalam kitabnya Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 3,  hlm. 375, berkata: Ibnu Nu’maan al-Maalikii dalam kitabnya Mishbaahu al-Zhulaam Fi al-Mustaghiitsiin Bi Khairi al-Anaam meriwayatkan kisah berikut ini: Ketika masyakat mengalami masa peceklik, Umar bertawassul dengan ‘Abbaas paman Nabi saww untuk mendapatkan hujan dengan doanya, “Ya Allah, dulu kalau kami mengalami paceklik, bertawassul dengan Nabi-Mu dan Engkaupun menurunkan hujan untuk kami. Dan sekarang kami bertawassul dengan paman Nabi kami, karena itu, turunkanlah hujan untuk kami.” Dan dalam riwayat yang lain Umar berdoa, “Ya Allah kami meminta hujan kepada-Mu dengan berwasilah pada paman Nabi-Mu. dan meminta syafaat dia kepada-Mu demi ketuaannya.” Setelah itu Allah menurunkan hujan.

Ibnu ‘Abbaas bin ‘Uqbah bin Abu Lahab yang hidup pada masa itu mengucapkan syair: “Demi pamanku Tuhan Hijaz telah memberi minum masyarakatnya. Hidangan malam, minuman yang diminta Umar demi ketuaannya.” Ibnu Atsirr al-Jauzii dalam kitab Usdu al-Ghaabati Fi Ma’rifati al-Shahaabah, setelah meriwayatkan hadits ini berkata, Setelah hujan turun, masyarakat mengusap-ngusap ‘Abbaas dan berkata, “Kamu hebat wahai pemberi minum Haramain (Makkah dan Madinah).”

Ibnu Hajar ‘Asqalaanii (w. 852 H) dalam bukunya Fathu al-Baari, jld. 2, hlm. 399, menulis: Dari sejarah kehidupan ‘Abbaas ini menjadi jelas bagi kita bahwa hukum bertawassul dengan orang saleh dan keluarga Nabi saww untuk meminta hujan, adalah sunnah.

[36] Al-Kuswatu al-Syariifati adalah kain hitam yang dijahit dengan benang kuning yang digunakan untuk membungkus Ka’bah. Kain penututp Ka’bah itu, setiap tahunnya dibuat di Mesir yang kemudian dibawa oleh para jemaah haji (pada masa-masa itu, pentj.).

[37] Al-Ittihaafu Bihubbi al-Asraaf, hlm. 75-110; al-Ghadiir, jld. 5, hlm. 187.

[38] Kitaabu al-Tsiqaat, jld. 3, hlm. 402; al-Ansaab karya Sam’aanii, jld. 1, hlm. 517.

[39] Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 16, hlm. 92; Miizaanu al-I’tidaal, jld. 3, hlm. 506; al-Nujuumu al-Zaahiratu, jld. 3, hlm. 342; Thabaqaatu Sabkii, jld. 3, hlm. 131; al-Ansaab, jld. 3, hlm. 209; al-Waafii bi al-Wafiyyaat, jld. 2, hlm. 317.

[40] Dia adalah Abu Bakar al-Maasrijsii (w. 350 H.). Dia adalah Imam, pemimpin Niisyaabuur dan salah satu dari sastrawan. Dia membangun bangunan sebagai tempat pusat kajian Hadits dan menanggung biayanya. Sulamii, Haakim dan Sa’id bin Muhammad bin ‘Abdaan, meriwayatkan hadits darinya. (Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 16, hlm. 23.).

[41] Tahdziibu al-Tahdziib, jld. 7, hlm. 339.

[42] Ibid, jld. 14, hlm. 365.

[43] Ibid, hlm. 374-377. Dalam pandangan kami, ia tidak jelas; Mustadrakaatu ‘Ilmi al-Rijaal, jld. 6, hlm. 450; al-Kun-ya wa al-Alqaab, jld. 1, hlm. 276.

[44] Mustadrak al-Haakim, jld. 3, hlm. 518, hadits ke: 5929; Shifatu al-Shafwati, jld. 1, hlm. 470.

[45] Taariikh Baghdaad, jld. 1, hlm. 120.

[46] Khulaashatu al-Kalaam, hlm. 252, karya Zaini Dahlaan; Taariikh Baghdaad, jld. 1, hlm. 123; Manaaqib Abi Haniifah, karya Khuurazmi, jld. 2, hlm. 199; al-Ghadiir, jld. 5, hlm. 194.

[47] Manaaqib Ahmad (Ibnu Jauzi), hlm. 297.

[48] Wafiyaatu al-A’yaan, jld. 4, hlm. 272; Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 17, hlm. 216.

[49] Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 17, hlm. 215; Thabaqaatu al-Syaafi’iyyati, jld. 4, hlm. 130.

[50] Mir aatu al-Jinaan, jld. 4, hlm. 357.

[51] Khartank adalah tepian kota Samarkand (Mu’jamu al-Buldaan, jld. 2, hlm. 356.

[52] Thabaqaatu al-Syaafi’iyyah, jld.2, hlm. 234; Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 12, hlm. 469.

Catatan: Ketika Makkah mengalami kekeringan, Abu Thaalib ra mengambil tangan keponakannya (Nabi saww) dan berdoa kepada Allah untuk menurunkan hujan. Ada syair yang menerangkan hal ini:

Wajah putih, dengannya hujan t’lah diminta

Pelindung para yatim dan penolong janda-janda

Yang menarik adalah Bukhaari sendiri dalam kitab Shahihnya meriwayatkan: Setiap turun hujan, Nabi saww bersabda, “Kalau Abu Thaalib masih hidup, maka ia akan berkata kepada kita: ‘Siapa yang telah memintanya?’” Ali bin Abi Thaalib berkata, “Mungkin maksud anda adalah syair ini:

Wajah putih, dengannya hujan t’lah diminta

Pelindung para yatim dan penolong janda-janda.?”

Bait lainnya adalah:

Bani Hasyim yang kesusahan, bertawaf mengitarinya.

Mereka di sisinya, dalam nikmat dan kemurahan. (Yang dimaksud dengan wajah putih dan yang ditawafi, adalah Nabi saww, pentj)

Bait kedua ini tidak ada di Shahih Bukhari. Kejadian itu telah diriwayatkan dengan berbagai fersi. Untuk melihat lebih jauh peristiwa di atas, bisa dilihat di Fathu al-Baari, jld. 2, hlm. 39; Dalaailu al-Nubuwwati, karya Baihaqi, jld. 2, hlm. 126; ‘Umdatu al-Qaari Fi Syarhi Shahiihi al-Bukhaari, jld. 7; Syarhu Nahji al-Balaaghati, karya Ibnu Abi al-Hadiid, jld. 14; Siiratu Halabi, jld. 3; al-Hujjatu ‘Alaa al-Dzaahibi ila Takfiiri Abi Thaalibi, karya Syamsu al-Diin ‘Ali Fakhkhaari bin Mu’ad, hlm. 79; Siiratu Zaini Dahlaan wa Maniyyatu al-Raaghib Fi iimaani Abi Thaalib, karya Thabasi, hlm. 140; Haasyiatu Siirati Halabi, jld. 1.

[53] Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 15, hlm. 375; Taariikh Baghdaad, jld. 8, hlm. 182.

[54] Al-Madkhal Fi Risaalati al-Qubuuri, jld. 1, hlm. 257; al-Ghadiir, jld. 5, hlm. 111.

[55] Furqaanu al-Quraan, hlm. 133; al-Ghadiir, jld. 5, hlm. 155.

[56] Al-Mawaahibu al-Laduniyyati wa al-Manahu al-Muhammadiyyati, jld. 3, hlm. 405

[57] Kitab ini terhindar dari penulis catatan kaki dari kitab Sairu A’laami al-Nubalaa’. Karena di dalamnya dibahas tentang meminta syafaat dan istrighaatsah pada kuburan Nabi saww. Hal itu karena penulis catatan kaki tersebut sangat peka terhadap hal ini. Karena itu, setiap saat ia menjumpai hal-hal yang tidak sesuai dengan keyakinan Wahhabiah, maka serta merta akan menolaknya, sebagaimana ia telah lakukan dalam keterangannya (syarah) terhadap penjelasan jati diri Karakhii, hadhrat Nasiisah, Abu ‘Awaanah dan lain-lainnya.  Mungkin juga sang penulis catatan kaki tidak terlalu mengetahui isi dari kitab Misbaahu al-Zhulaam itu. Sebab kalau tidak, maka tidak mungkin kitab dan pengarangnya itu akan luput dari serangan orang ini (yang merasa takwa dan benar). Karena itu, kami bersyukur kepada Tuhan karena ia tidak mengetahui isi kitab tersebut. Karena kalau dia menyadari kandungannya, ia tidak akan mungkin sebegitu rupa memuji penulisnya. Ia berkata: “Ia adalah ulama dan ahli hadits. Ia adalah pejuang yang membela kota-kota Islam dan menjaga jati diri Islam hingga sampai masa kesyahidannya (Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 23, hlm. 134).

[58] Samhuudi, meyakini bahwa penulis kitab ini adalah Muhammad bin Nu’maan Balansi. Mungkin saja dua kitab dari dua penulis yang muncul dengan nama tersebut (sama). Halabi meyakini bahwa kitab itu, karya dari Sulaimaan bin Musa bin Saalim al-Balansi, dan satu kitab lagi dengan judul yang sama, sebagai karya dari Muhammad bin Musa Tilmasaanii: Kasyfu al-Zhunuun, jld. 2, hlm. 1706.

[59] Ibnu ‘Imaad berkata, “Abu al-Rabii’ al-Kalaa’ii Sulaiman bin Musa bin Saalim al-Balansi, seorang hafitzh besar, tsiqah dan pengarang kitab serta termasuk dari golongan para pengarang Andalusia yang masih dikenali. Dia dilahirkan tahun 565 H dan murid dari Ibnu Zarquun.” Aabaar berkata, “Dia adalah seorang alim dalam hadits. Seorang alim yang mengerti tentang Jarh dan Ta’diil (cacat dan tidaknya sanad hadits, pentj.). Kelahiran dan wafatnya selalu ada dalam ingatan. Dia melebihi ulama yang sejaman dengannya. Setelah jamannya, tidak ada lagi ulama yang bisa mencapai ketinggiannya. Tulisannya bagus dan rapi yang, tidak ada seorangpun yang bisa menulis seperti dia: Syadzaraatu al-Dzahab, jld. 5, hlm. 164. Dzahabi berkata, “Ia di Andalus adalah seorang imam, allaamah, haafizh dan bagus membaca al-Quran. Seorang sastrawan dan mahir dalam memahami hadits dan sastra. Ia bahkan termasuk dari pembesar hadits (perawi, haafizh dan penjabar hadits, pentj.). Telah diriwayatkan dari Abu ‘Abdillah bin Aabaar yang berkata bahwa “Ia adalah imam dalam keahlian hadits dan memiliki banyak karangan kitab dalam berbagai ilmu. Seperti Misbaahu al-Zhulaam. Saya secara sempurna telah memanfaatkan buku tersebut, dan berulang kali saya telah menukil topik-topik yang ada di dalamnya. Telah diriwayatkan dari seorang haafizh, Ibnu Masdi yang berkata, “Saya tidak pernah melihat orang seperti Balansii dalam kebesaran, kemuliaan, kepemimpinan dan fadhilah. Dia pandai dalam ilmu-ilmu aqli, naqli, prosa dan syair. Bagitu pula mahir dalam ilmu al-Quran dan tajwid dan semacamnya. Ia juga merupakan penghulu para haafizh”, Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 23, hlm. 134; al-Nujuumu al-Zaahiratu, jld. 6, hlm. 298.

[60] Wafaa’u al-Wafaa’, jld. 4, hlm. 1380.

[61] Telah dikatakan mengenainya bahwa dia adalah orang yang luas ilmunya dan ahli. Bagitu pula jujur dan taat. Dia lebih menonjol dari yang lain dan wafat pada tahun 324 H, Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 15, hlm. 273; Thabaqaatu al-Syaafi’iyyati, jld. 3, hlm. 58.

[62] Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 4, hlm. 1380.

[63] Ibid

[64] Ibid, hlm. 1381

[65] Ibid, hlm. 1383

[66] Ibid.

[67] Ibid.

Catatan: Samhuudii, seorang yang bermadzhab al-Syaafi’ii, dan merupakan ulama Madinah, dalam kitabnya Wafaa-u al-Wafaa’ Bi-ikhbaari Daari al-Mushthafaa, ia meriwayatkan hadits dari Haakim, setelah menjelaskan bahwa istighaatsah (minta tolong) dan meminta syafaat kepada Nabi saww adalah perbuatan para nabi, dan merupakan budaya kaum muslimin dan orang-orang saleh. Apakah permintaan itu, terjadi sebelum penciptaan Nabi saww atau setelahnya di dunia ini, atau setelah wafatnya di barzakh, dan bahkan di hari kebangkitan kelak. Riwayat itu adalah, Umar bin Khaththaab berkata, “Nabi saww bersabda, “Ketika Nabi Adam as melakukan kesalahan, ia berkata, “Ya Allah ampunilah kesalahanku demi kebenaran Muhammad.” Allah bertanya, “Wahai Adam, bagaimana kamu tahu tentang Muhammad, padahal dia belum Aku ciptakan?” Nabi Adam as. menjawab, “Ya Allah, ketika Engkau menciptakanku dengan Tangan-Mu sendiri lalu meniupkan kepadaku Ruh-Mu sendiri, aku mengangkat kepalaku dan akupun melihat di ‘Arsy ada tulisan ‘Tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.’ Aku memahami bahwa nama yang Engkau letakkan di samping Nama-Mu adalah makhluk yang paling Engkau cintai.” Allah menjawab, “Wahai Adam, benar demikian. Karena Muhammad memang makhluk yang paling kucintai. Dan karena engkau memohon demi kebenaran Muhammad, maka Aku menerima doamu. Ketahuilah, bahwa kalau bukan karena Muhammad, maka Aku tidak mencipta dirimu.” Samhuudii meriwayatkan dari Sabki yang berkata, “Ketika manusia bisa bertawassul dengan amalannya sendiri seperti hadits Ghaar (goa) (Yang terjebak dalam goa karena mulut goa tersumbat batu besar. Lalu ia bertawassul dengan amal-amal baiknya kepada Allah, agar Ia menggeser batu yang menutupi pintu goa itu, pentj.) sebagaimana diriwayatkan di Shahih Bukhari, jld. 4, hlm. 173; Nuuru al-Tsaqalain, jld. 3, maka sudah tentu secara lebih utama, bisa bertawassul dengan Nabi saww: Kasyfu al-Irtiyaab, hlm. 246-247.

[68] Mungkin yang ia maksudkan dengan roti dari sagu pohon kurma adalah kue yang di jaman ini di negeri Suriah, dibuat dari tepung, kurma dan kacang almon.

[69] Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 4, hlm. 1383.

[70] Ibid, hlm. 1385.

[71] Ibid, hlm. 1385.

[72] Al-‘Aqdu al-Tsamiin, jld. 3, hlm. 68.

[73] Tadzkiratu al-Huffaazh, jld. 4, hlm. 1474. Salah satu dari tawassul-tawassul itu, adalah tawassulnya Imam Husaian as di hari ‘Arafah, “Ya Allah, aku menghadap-Mu di petang ini yang, Engkau muliakan dan agunkan dengan Muhammad, Nabi-Mu, rasul-Mu dan pilihan-Mu diantara ciptaan-Mu.” Tawassul Imam Zainu al-‘Abidiin as ketika bulan Ramadhan telah tiba, “Ya Allah, aku memohon padaMu, demi kebenaran bulan ini, dan demi kebenaran siapapun yang mengabdi padaMu di bulan ini, dari awalnya hingga akhirnya. Demi malaikat yang Engkau dekatkan padaMu, atau nabi yang Engkau kirimkan, atau hamba saleh yang Engkau perhatikan.” Begitu pula doa beliau sewaktu menziarahi imam orang-orang beriman, yaitu Imam Ali bin Abi Thalib as: “Ya Allah, kabulkanlah doaku, terimalah pujianku, dan kumpulkanlah aku dengan para aulia’Mu, demi kebenaran Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, serta para Imam Maksum dari keturunan Husain.” Imam Ali Zainu al-‘Abidiin dalam doa ke tiga puluh, di kitab doa Shahiifah ke lima, “Ya Allah, sesungguhnya perantaraanku padaMu adalah Muhammad dan keluarga sucinya, setelah itu ketauhidan.” Begitu juga pada doa ke empat puluh berbunyi: “Aku menghadap pada-Mu, bertawassul pada-Mu dan meminta syafaat pada-Mu dengan nab-iMu -Nabi rahmat- Muhammad saww, dan Amirulmukminin Ali bin Abi Thaalib, Faathimatu al-Zahraa’, Hasan dan Husain, hamba dan kepercayaan-Mu.” (Kasyfu al-Irtiyaab, hlm. 259-260).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s