Pandangan Sunni Tentang Khalifah [7]

Oleh: Sayyid Said Akhtar R

Mayoritas pandangan madzhab Sunni (dalam masalah teologi) dewasa ini adalah mengikuti pandangan Asy’ariyyah. Mereka, sebagaimana Mu’tazilah, meyakini bahwa institusi imamah/khilafah adalah perlu dan menjadi kewajiban seorang manusia untuk menunjuk seorang khalifah.

Kaum Mu’tazilah berpandangan bahwa penunjukan ini wajib sesuai dengan akal. Kaum Asy’ariyah meyakini bahwa penunjukan ini bersifat wajib karena sesuai dengan hadits.

An-Nasafi menulis dalam kitab al-‘Aqâid-nya:

“Kaum Muslimin tidak dapat hidup tanpa seorang imam yang akan menempatkan diri dengan menjalankan keputusan-keputusan mereka, dan dalam pelaksanaan hudud-nya dan menjaga batasan-batasannya, menyediakan lasykar-lasykar, menerima sedekah mereka, memberikan hukuman kepada para pencuri dan perampok, mengimami salat Jum’at dan Ied, menghilangkan sengketa yang ada di tengah-tengah masyarakat, menerima bukti-bukti terhadap klaim-klaim hukum, dan menikahkan orang-orang miskin yang tidak memiliki wali dan membagikan harta rampasan perang.”[1]

Sunni menghendaki seorang penguasa semesta…, sementara Syiah mencari seseorang yang dapat membangun kerajaan surga di muka bumi dan mengakhiri segala bentuk kejahatan yang merajalela di muka bumi.”[2]

Oleh karena itu, Madzhab Sunni  mengakui empat prinsip utama dalam memilih seorang khalifah:

  1. Ijma’ yaitu konsensus tentang orang yang memegang kekuasaan dan kedudukan pada sebuah titik tertentu. Mufakat seluruh pengikut Nabi Saw tidak menjadi keharusan, juga tidak terlalu penting untuk mengamankan kedudukan dan kekuasaan orang yang berkuasa di tengah-tengah umat.
  2. Pencalonan oleh khalifah sebelumnya.
  3. Syuraa yaitu pemilihan oleh sebuah komite
  4. Kekuatan Militer, yaitu jika seseorang meraih kekuasaan dengan kekerasan ia akan menjadi khalifah.

Pengarang Kitab Syarhil Maqâsid menjelaskan bahwa bilamana seorang imam wafat dan seorang yang memiliki kualifikasi yang diinginkan untuk kedudukan tersebut (tanpa bai’at) kekhalifaannya akan tetap diakui sepanjang kekuasaannya dapat menundukkan masyarakat; dan bilamana seorang khalifah baru kebetulan seorang yang jahil dan bodoh, nampaknya akan mendapatkan perlakuan yang sama.

Demikian juga, bilamana seorang khalifah telah membangun dirinya dengan kekuatan tapi kemudian ditaklukkan oleh orang lain, ia akan disingkirkan dan orang yang menaklukkanya akan dianggap sebagai imam atau khalifah.[3]

Kualifikasi Seorang Khalifah

Madzhab Sunni menganggap sepuluh syarat seseorang untuk dapat menjadi khalifah:

  1. Muslim
  2. Dewasa
  3. Laki-laki
  4. Berakal sehat
  5. Berani
  6. Merdeka, bukan seorang sahaya
  7. Dapat dihubungi dan tidak tersembunyi
    1. Mampu mengadakan perang dan tahu taktik berperang
    2. Adil
    3. Mampu mengeluarkan fatwa dalam bidang hukum dan agama , yaitu, ia harus seorang mujtahid.[4]

Namun dua yang terakhir hanya bersifat teoritis belaka, sebagaimana disinggung pada bagian sebelumnya. Bahkan, seorang awam dan bermoral buruk dapat menjadi seorang khalifah. Oleh karena itu, syarat-syarat ‘adil dan fakih (mumpuni) dalam bidang agama tidak memiliki landasan sama sekali.

Mereka berpandangan bahwa ismah (infallible) tidak menjadi keharusan bagi seorang khalifah. Kalimat yang dilontarkan oleh Abu Bakar dari mimbar di hadapan para sahabat, dinukil untuk menguatkan pandangan ini. Abu Bakar berkata: “Ayyuhannas!”, “Aku telah dijadikan penguasa atas kalian meskipun aku tidak lebih baik dari kalian; jadi, dalam menunaikan tugasku, aku meminta pertolongan kalian; dan jika aku berbuat salah, kalian harus meluruskanku. Kalian harus tahu bahwa setan senantiasa dapat datang kepadaku. Jadi jika aku marah, menjauhlah dariku.”[5]

At-Taftazani berkata dalam Syarhul ‘Aqâidin Nafisah, “Seorang imam  tidak dapat dijatuhkan dari imamah karena alasan immoral atau kezaliman.”[6]


[1] . Lihat, at-Taftazani: Syarh ‘Aqa’idi’n-Nasafi, hal.185.

[2] . Lihat, Miller,W.M.: terjemahan, al-Babu ‘l-hadi ‘asyar.

[3] . Lihat, at-Taftazani: Syarhu ‘l-Maqâsidi’ t-Tâlibi’n, vol. 2, hal. 272. Lihat juga, al-Hafiz ‘Ali’ Muhammad and Amiru ‘d-Din: Fulku ‘n-Najat fi ‘l-Imâmah wa ‘s-salat, vol. 1, hal. 203.

[4] . Lihat, at-Taftazani, op. cit.

[5] . Lihat, as-Suyuti, Târikhu ‘l-Khulafa‘, hal.71.

[6] . Lihat, at-Taftazani: op. cit.

11 responses to “Pandangan Sunni Tentang Khalifah [7]

  1. Ping-balik: Pandangan Sunni Tentang Khalifah ada 4 : Ijma’ atau Pencalonan oleh khalifah sebelumnya atau Syuraa yaitu pemilihan oleh sebuah komite atau Kekuatan Militer, yaitu jika seseorang meraih kekuasaan dengan kekerasan ia akan menjadi khalifah. « ht·

  2. Ping-balik: Pandangan Sunni Tentang Khalifah ada 4 : Ijma’ atau Pencalonan oleh khalifah sebelumnya atau Syuraa yaitu pemilihan oleh sebuah komite atau Kekuatan Militer, yaitu jika seseorang meraih kekuasaan dengan kekerasan ia akan menjadi khalifah. « ht·

  3. Ping-balik: Pandangan Sunni Tentang Khalifah ada 4 : Ijma’ atau Pencalonan oleh khalifah sebelumnya atau Syuraa yaitu pemilihan oleh sebuah komite atau Kekuatan Militer, yaitu jika seseorang meraih kekuasaan dengan kekerasan ia akan menjadi khalifah. « ht·

  4. Ping-balik: Pandangan Sunni Tentang Khalifah ada 4 : Ijma’ atau Pencalonan oleh khalifah sebelumnya atau Syuraa yaitu pemilihan oleh sebuah komite atau Kekuatan Militer, yaitu jika seseorang meraih kekuasaan dengan kekerasan ia akan menjadi khalifah. « ht·

  5. Ping-balik: Pandangan Sunni Tentang Khalifah ada 4 : Ijma’ atau Pencalonan oleh khalifah sebelumnya atau Syuraa yaitu pemilihan oleh sebuah komite atau Kekuatan Militer, yaitu jika seseorang meraih kekuasaan dengan kekerasan ia akan menjadi khalifah. « ht·

  6. Ping-balik: Pandangan Sunni Tentang Khalifah ada 4 : Ijma’ atau Pencalonan oleh khalifah sebelumnya atau Syuraa yaitu pemilihan oleh sebuah komite atau Kekuatan Militer, yaitu jika seseorang meraih kekuasaan dengan kekerasan ia akan menjadi khalifah. « ht·

  7. Ping-balik: Pandangan Sunni Tentang Khalifah ada 4 : Ijma’ atau Pencalonan oleh khalifah sebelumnya atau Syuraa yaitu pemilihan oleh sebuah komite atau Kekuatan Militer, yaitu jika seseorang meraih kekuasaan dengan kekerasan ia akan menjadi khalifah. « ht·

  8. Ping-balik: Pandangan Sunni Tentang Khalifah ada 4 : Ijma’ atau Pencalonan oleh khalifah sebelumnya atau Syuraa yaitu pemilihan oleh sebuah komite atau Kekuatan Militer, yaitu jika seseorang meraih kekuasaan dengan kekerasan ia akan menjadi khalifah. « ht·

  9. Ping-balik: Pandangan Sunni Tentang Khalifah ada 4 : Ijma’ atau Pencalonan oleh khalifah sebelumnya atau Syuraa yaitu pemilihan oleh sebuah komite atau Kekuatan Militer, yaitu jika seseorang meraih kekuasaan dengan kekerasan ia akan menjadi khalifah. « ht·

  10. Ping-balik: Pandangan Sunni Tentang Khalifah ada 4 : Ijma’ atau Pencalonan oleh khalifah sebelumnya atau Syuraa yaitu pemilihan oleh sebuah komite atau Kekuatan Militer, yaitu jika seseorang meraih kekuasaan dengan kekerasan ia akan menjadi khalifah. « ht·

  11. Ping-balik: Mayoritas Sahabat Pasca Nabi wafat tidak mau menerima wasiat tentang seluruh 12 Imam berasal dari satu keluarga bani hasyim (ahlulbait) « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Brunei.. Web ini membantu N.U dan Rakya·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s