Batasan Kebebasan

Oleh: Ayatullah Taqi Mishbah Yazdi

Tanya: Apakah kebebasan yang ada bersifat absolut atau terbatas?, Apakah batasan kebebasan?, Siapakah yang memiliki otoritas menentukan batas kebebasan?.

Jawab: Sebagimana yang telah disinggung dalam pembahasan sebelumnya bahwa kata kebebasan ialah salah satu hal yang menarik dan sakral bagi umat manusia dimana kata tersebut memiliki pengertian yang samar dan tidak jelas, sebagian mengartikan kebebasan sebagai satu hal yang lebih dibanding dalam menjawab persoalan tersebut pertama harus kita tanyakan terlebih dahulu tentang maksud dari kebebasan disini ialah kebebasan mutlak ataukah terbatas? Jika yang dimaksud ialah kebebasan absolut maka tidak ada seorangpun yang akan menerimanya, akan tetapi jika yang dimaksud ialah kebebasan yang terbatas maka akan muncul pertanyaan sebagai berikut lantas siapa yang berhak menentukan batas kebebasan itu?

Jika jawabannya ialah masyarakat atau perundang-undangan manusia yang menentukan batasan tersebut, hal ini jelas tidak bisa diterima oleh kaum muslimin karena sebagaimana kaum muslimin menerima perundang-undangan islam masyarakat lainpun menerima bentuk perudang-undangan lain pula. jika jawabannya ialah bahwa Tuhan dan agama yang berhak menentukan batasan itu, dimana atas dasar tersebut kebebasan hanya bertumpu atas landasan undang-undang keagamaan dan ketuhanan yang benar. Bisa dijelaskan lebih terperinci lagi bahwa kebebasan absolut dan tanpa batas dimana setiap individu sewaktu menginginkan untuk melakukan sesuatu dia bebas melakukannya ataupun mengutarakan sesuatu ucapan dan berbagai bentuk prilaku manusia lain. Kebebasan semacam ini akan dinafikan oleh setiap bentuk agama ataupun undang-undang, karena setiap hukum selalu berfungsi sebagai pembatas atas setiap prilaku manusia. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa kebebasan mutlak berarti ketiadaan hukum dan perundang-undangan yang berakibat kekacauan dan kebrutalan. Oleh karena itu tidak satu orang yang berakal sehatpun menerima hal semacam itu. Maka jelas bahwa setiap kebebasan musti dibatasi oleh berbagai batasan.

Kita beranjak pada pembahasan tentang batasan kebebasan dimana yang menjadi masalah adalah, apa yang dimaksud dengan batasan-batasan itu? Lantas siapakah yang berhak menentukanya? Nanti akan disinggung bahwa yang diakui hanya kebebasan yang legal saja. Lantas apa yang dimaksud dari kebebasan legal tersebut? jika yang dimaksud adalah legal menurut syariat atau ajaran agama sebagaimana penggunaan kata masyru’ untuk kata legal, maka hal itulah yang menjadi topik pembahasan kita kali ini dimana segala bentuk kebebasan -baik individual maupun sosial –yang diakui dalam agama ialah yang telah ditentukan sesuai dengan ridho Tuhan. Dari sini maka tidak berfungsi lagi ucapan “kebebasan terletak diatas ajaran” ataupun “agama tidak berhak membatasi segala bentuk kebebasan manusia”. Tapi jika yang dimaksud dengan legal –sebagaimana yang umum dipakai dalam hukum perpolitikan- yaitu segala kebebasan yang telah ditentukan dalam undang-undang maka disini pembahasan akan terkonsentrasikan kepada, siapakah yang memiliki otoritas dalam menentukan undang-undang tersebut? Dari sini akan kita ketahui bahwa kebebasan bukan bermakna lepas dari undang-undang tetapi kebebasan dengan tetap menerima undang-undang. Kebebasan dengan pengertian pertama tadi sama sekali tidak bertentangan dengan agama, sedangkan dengan pengertian kedua kebebasan bukan berarti penafian akan undang-undang. Adapun menurut kita kaum mislimin dan orang-orang yang berjiwa agamis, undang-undang berfungsi sebagai pembatas kebebasan harus diletakan dan ditetapkan oleh Dzat pemilik semua eksistensi yang ada termasuk manusia, Ia adalah Tuhan alam semesta, karena yang memiliki prioritas utama dalam berlegislasi ialah Tuhan dimana setiap undang-undang apapun yang ditentukan manusia harus mengikuti dan mentaati-Nya. Dan kalaupun peletakan undang-undang diserahkan kepada manusia, maka undang-undang tersebut harus sesuai dengan apa yang ditentukan oleh Tuhan. Dengan kata lain, kita dapat menentukan undang-undang untuk diri kita sendiri dengan dibatasi oleh ketentuan-ketentuan-Nya. Dari sini jelaslah bahwa kebebasan dalam penentuan undang-undangpun berakhir pada kebebasan yang agamis dan legal, legal dalam arti syar’i. Kesimpulan dari pokok bahasan ini ialah bahwa setiap kebebasan yang ada –tidak lebih dan tidak kurang- harus selalu bersandarkan atas undang-undang Tuhan dan islami.

Seseorang yang berpikiran liberal dan kebarat-baratan selau beranggapan bahwa tolak ukur undang-undang dan pencetusnya ialah masyarakat dan pendapat mayoritas. Jadi, jika masyarakat sepakat memilih satu bentuk kebebasan maka hal tersebutlah yang disebut legal. Akan tapi jika tidak, maka hal tersebut masuk kategori ilegal. Jika disatu waktu mereka sepakat maka hal tersebut legal, dan jika dikemudian hari mereka sepakat untuk menolaknya maka hal tersebut menjadi ilegal. Misalnya hubungan sesama jenis, dahulu dikatakan ilegal karena masyarakat tidak menginginkannya akan tetapi karena sekarang mereka menghendakinya, maka menjadi legal.

Adapun dalam pemikiran islami dan agamis hanya Tuhanlah sebagai legislator perundang-undangan. Batas kebebasan didunia barat ialah adanya benturan dengan kebebasan dan kemaslahatan material orang lain. Adapun batas kebebasan dalam Islam terdapat pada kemaslahatan riil -mencakup materi dan maknawi- umat manusia.

Jika kita praktekkan alur pemikiran demokrasi dan barat pada negara republik islam Iran maka bisa kita katakan bahwa dikarenakan mayoritas penduduknya ialah muslim maka pemikiran mayoritas penduduknyapun sesuai dengan pemikiran islam, sementara itu batasan kebebasan dalam islam telah ditentukan. Seseorang yang berikrar bahwa kita telah menerima keberadaan Tuhan dan kita ialah muslim akan tetapi di sisi lain ia beranggapan bahwa kebebasan tidak boleh dibatasi karena kebebasan terletak diatas agama. Anggapan semacam itu kalau tidak dikarenakan kelalaian atas ucapannya yang kontradiksi, atau kemungkinan adalah ungkapan yang didasari atas asas kemunafikan. Masyarakat semacam inilah yang menjadi biang kerusakan yang ada sekarang ini.

Setiap kebebasan manusia tidak terlepas dari dua hal:

1-Kebebasan individual dan moral .

2-Kebebasan sosial dan yurisprudensi.

Dalam kedua bentuk kebebasan diatas hal yang membatasi kebebasan ialah maslahat material dan spiritual, baik hal itu bersifat individual maupun sosial yang telah dijelaskan dalam hukum agama. Logika agama menyatakan bahwa siapa yang menolak agama tadi maka ia tidak bisa menerimanya, tetapi jika ia telah menerima agama maka konsekwensinya adalah segala undang-undang dan batasan Ilahi harus ia terima pula. Oleh karena itu, keyakinan tentang islam tidak mungkin dapat bertemu dengan pengamalan yang sesuai dengan matrealisme dan liberalisme.

Jika semua umat manusia dimuka bumi ini mengingkari Tuhan beserta agama-Nya, hal itu tidak akan memberi dampak negatif sedikitpun pada Tuhan[1], akan tetapi dampak negatif tersebut akan kembali pada diri manusia itu sendiri, karena kita tidak akan mungkin bisa memberi karunia kepada Tuhan dan agama-Nya, tapi justru Tuhanlah yang telah memberi karunia kepada kita dengan memberikan petunjuk yang berupa agama islam.[2]

Karena kita telah menerima islam maka konsekwensinya ialah hanya kebebasan dalam ruang lingkup agama saja yang bisa kita terima. Adapun diluar hal tersebut, kita sama sekali tidak bisa menganggapnya sebagai kebebasan, bahkan kita anggap sebagai kehidupan hewani.

Diakhir pembahasan dapat kita tambahkan bahwa jawaban dari soalan-soalan semacam apa yang dimaksud dengan maslahat? sampai dimana cakupannya? Siapa yang berhak menentukan semua maslahat yang ada? Semua itu disesuaikan dengan berbagai kultur yang berbeda-beda, pola budaya islam tentu tidak sama dengan budaya atheis ataupun barat. Dalam perundang-undangan islam, disamping ketetapan tentang keteraturan, keamanan dan maslahat material individu ataupun sosial, telah ditekankan pula maslahat maknawi dan spritual setiap individu. Yang semua itu berfungsi sebagai pembatas kebebasan, dengan adanya batasan kedua tadi maka semakin sempit pula wilayah kebebasan dalam pandangan agama. Dari sini dapat diketahui bahwa realitas wilayah kebebasan dalam aturan islam lebih sempit jika dibanding dengan wilayah kebebasan yang dijanjikan oleh aturan-aturan non agamis.


[1]Qs Ibrahim:8

[2] Qs al-Hujurat:17

One response to “Batasan Kebebasan

  1. Ping-balik: Kebebasan Manusia Dalam Pandangan Syi’ah … Nabi SAW ingin Imam Ali Menjadi Khalifah, Tetapi Takdir Berkata LAin « http://syiahali.wordpress.com web syi'ah terlengkap·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s