Adakah Kebebasan Alami Bagi Manusia?

Oleh: Ayatullah Taqi Mishbah Yazdi

Tanya: Apakah makna dari ungkapan; “kebebasan merupakan salah satu hak manusia, sehingga tidak seorangpun berhak untuk menghalangi hak alami tersebut”?

Jawab: Sebagaimana yang telah kita singgung sebelumnya, banyak istilah yang dipakai oleh disiplin ilmu-ilmu sosial yang tidak memiliki definisi dan pengertian yang jelas serta mendetail sehingga mampu dipahami oleh semua kalangan, kata “hak alami merupakan salah satu dari istilah tersebut”.

Barang siapa yang mengenal tentang filsafat perundang-undangan pasti mengetahui bahwa disitu terdapat satu pemikiran tentang hak-hak alami. Sejarah filsafat telah menunjukan bahwa sejak zaman dahulu kala hal tersebut telah dibahas. Sejak zaman Yunani klasik, sebagian orang telah memiliki anggapan bahwa manusia memiliki hak-hak alami yang tidak seorangpun berhak untuk merampasnya. Dikarenakan tabiat manusia itu sendiri yang telah menetapkan hak-hak tersebut, sehingga atas dasar inilah muncul banyak sekali hasil yang didapat yang terkadang satu dengan yang lain saling bertentangan sehingga menyebabkan munculnya banyak perdebatan. Salah satu hal yang muncul akibat dari perdebatan tersebut ialah berupa metode pemutarbalikan (fallacy) yang dalam filsafat perundang-undangan maupun filsafat etika dikenal dengan sebutan “fallacy naturalism”.

Sebagian orang seperti Aristoteles beranggapan bahwa manusia memiliki berbagai sifat alamiah. Mereka beranggapan bahwa sifat alamiah manusia berkulit putih berbeda dengan manusia berkulit hitam, manusia berkulit hitam karena dari sisi fisik mereka lebih kuat tetapi dari sisi intelektual sangat lemah jika dibanding dengan manusia kulit putih, maka diambilah satu kesimpulan yang salah yaitu; karena manusia kulit hitam dari sisi fisik lebih kuat maka ia harus melakukan pekerjaan-pekerjaan yang mengandalkan kekuatan fisik saja. Sementara manusia kulit putih karena dari sisi intelektual lebih menonjol maka pekerjaan yang perlu dengan kekuatan intelektual saja yang harus ia kerjakan, seperti hal-hal yang berhubungan dengan pemerintahan. Dengan kata lain, sebagian manusia diciptakan hanya untuk sebagai budak manusia yang lain. Hal ini merupakan penghinaan atas satu perundang-undangan (baca: hukum) alami.

Kita sekarang ini tidak dalam rangka menjawab ataupun mengfkritik metode pemikiran tadi (fallacy naturalism), karena hal tersebut memerlukan pembahasan tersendiri yang bersifat terperinci dan akan menyita waktu, oleh karena itu untuk sementara kita tinggalkan topik itu terlebih dahulu.

Adapun pandangan yang lebih rasional dalam pembahasan hak-hak alami manusia yang terlontar sepanjang sejarah ialah pemikiran yang bersumber dari ucapan; “jika sesuatu sesuai dengan tuntutan alami manusia maka hal itu harus terlaksana, hal itu dikarenakan manusia tidak boleh memiliki jarak dengan segala apapun yang sesuai dengan tuntutan alamiah kemanusiaannya”.

Kitapun meyakini, setiap hal yang berkaitan dengan tuntutan alamiah manusia -dimana itu semua setiap manusia memiliki kesetaraan hak- harus dipenuhi. Dalam pembuktian ungkapan tersebut, kita bisa kemukakan berbagai macam argumen rasional sebagai pendukungnya. Akan tetapi, mungkin bisa dilontarkan pertanyaan tentang ekstensi hak-hak alamiah manusia tersebut, manakah yang termasuk dari hak-hak alamiah itu? Untuk menjawabnya bisa dikatakan, salah satu dari hak-hak alami manusia adalah hak pangan, sandang, papan, melihat, mendengar…dst. Setiap individu tidak berhak untuk menahan hak pangan orang lain, memotong pendapat dan pembicaraan orang lain, ataupun menutup pengelihatan orang lain sehingga tidak leluasa melihat dirinya. Namun, apakah tujuan pelontaran pembahasan tersebut? Dan bagaimana hak-hak semacam ini melalui berbagai propaganda internasional hak-hak asasi manusia dapat dikenal secara resmi? Apakah hak-hak seperti ini terletak di atas undang-undang, sehingga tidak mungkin dibatasi? ataukah setiap negara atau komunitas tertentu memiliki wewenang dalam memberi kebijakan tentang batasan-batasannya? Dalam bentuk semacam itu, lantas siapakah yang memiliki otoritas sebagai penentu batasan-batasan tadi? Dari sekian banyak pertanyaan dan berbagai pertanyaan-pertanyaan lain yang sering dilontarkan, sebagian dari jawaban pertanyaan tersebut masih samar dan belum bisa diterima oleh banyak kalangan.

Intisari dari pernyataan tadi adalah bahwa teori dasar pemikiran tersebut benar adanya, dimana semua tuntutan alami dan insting manusia harus terpenuhi. Adapun dari sekian banyak pernyataan berkaitan dengan batasan-batasan kebebasan tersebut dimana setiap bangsa, kaum, agama dan      sekte masing-masing memiliki pendapat tentang batasan tersebut. Kita sendiri memiliki ketentuan dari batasan-batasan tadi dimana batasan kebebasan itu adalah “memenuhi kemaslahatan material dan spiritual setiap elemen masyarakat dengan dilandasai atas dasar undang-undang hukum Islam”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s