Perang dan Bentuk-bentuknya

Oleh: Ayatullah Misbah Yazdi

Perang dalam perjalanan sejarah umat manusia memiliki latar belakang yang sangat panjang. Ia dapat disebut sebagai kembaran kehidupan sosial umat manusia dan pasangan yang senantiasa mendampingi.

Bilamana kita membuka lembaran sejarah umat manusia pada dimensi yang berbeda, kita tidak menemukan satu masa pun yang tidak terdapat satu perang di dalamnya.  Kita menemukan berbagai peperangan yang berkecamuk sepanjang sejarah perjalanan umat manusia.

Kendati perang senantiasa disertai dengan pelbagai kerugian, musibah, petaka, kegetiran dan peristiwa-peristiwa yang mengharu-biru dan oleh karena itu juga umat manusia secara original dan esensial menghindar dari peperangan tersebut; akan tetapi perkara ini tidak dapat mencegah meletusnya ribuan perang yang berkecamuk dalam sejarah umat manusia.

Baik pada masa itu berlaku hukum konvensional tempatan (hukum kabilah) yang berlaku atas masyarakat tersebut, baik setelah terbentuknya negara dan sistem negara – negeri dan negara – kemudian tercipta sebuah bangsa, senantaisa terdapat perang sebagai satu realitas sosial pada tataran hidup umat manusia.

Barangkali berdasarkan pandangan-pandangan ini dimana sebagian para pemikir yang memiliki otoritas percaya pada keyakinan bahwa pada dasarnya perang merupakan satu hal yang tidak terpisahkan dan mesti adanya dalam kehidupan sosial manusia. Dan umat manusia sekali-kali tidak dapat dipisahkan dari perang ini.

Pemikiran-pemikiran filosofis seperti yang dilontarkan oleh Hobbes bahwa manusia merupakan srigala atas manusia lainnya. Dan Nietzsche berpandangan bahwa tertindasnya orang-orang lemah oleh orang-orang kuat merupakan aturan alam kehidupan sosial umat manusia juga merupakan sumber inspirasi keyakinan ini dan melangkah di atas keyakinan ini.

Bagaimanapun, apa yang dinukil oleh sejarah adalah kehadiran dawam perang pada panggung kehidupan sosial umat manusia. Oleh karena itu, sikap antipati mereka tidak lain adalah ceriman sikap menutup mata terhadap realitas. Akan tetapi ucapan ini tidak bermakna propaganda dan penyebaran dan sedang menabuh genderang perang, melainkan pengakuan terhadap realitas sosiologi dan fenomena penting yang terjadi pada masyarakat sosial.

Apabila kita hendak melihat secara obyektif, alih-alih menutup mata dan mengesampingkan realitas ini, kita harus menganalisa dan mengkaji fenomena tersebut. Dan pertanyaan serta problema penting yang berkenaan dengan fenomena perang kita jelaskan dan carikan jawabannya.

Oleh karena itu, Islam yang merupakan sebuah maktab sosial dan realistis, dalam seluruh ajarannya, dengan menjelaskan pelajaran-pelajaran dan matlab-matlab yang beragam ihwal perang, kita dapat menunjukkan bimbingan dan panduan penting dan sangat produktif dalam menjawab realitas sosial ini.

Tema-tema dan masalah-masalah yang membahas masalah perang, pada satu pembagian universal dapat dibagi menjadi dua bagian: Pertama masalah yang berkaitan dengan dimensi-dimensi “ontologikal” dan “realitas” perang. Dan yang kedua berkaitan dengan tema-tema “aturan” dan “harus” serta “tidak harus” dan “tatanan hukum perang”.

Perang dan Bentuk-bentuknya

Pembahasan utama yang dikaji pada buku ini adalah fenomena “perang” dalam perspektif al-Quran. Kita akan mempelajari ayat-ayat yang berkenaan dengan perang dan hal-hal yang tertalian dengannya.

Perang dari sudut pandang yang beragam telah menarik perhatian para ilmuan. Dan perang ini dapat ditengarai dari disiplin yang beragam dari humaniora. Dalam ilmu sejarah terdapat pembahasan yang mengulas tentang peperangan yang terjadi sepanjang perjalanan sejarah. Tentu saja jelas bagi kita bahwa tujuan ilmu sejarah semata  memberikan warta kepada kita tentang peristiwa dan kejadian yang berlaku atas orang-orang terdahulu.

Dalam filsafat sejarah, masalah yang diulas dan dibahas adalah perang dari sudut pandang sebab-sebab dan faktor-faktor terjadinya serta berlakunya sejarah pada suatu kaum atau komunitas. Dari perspektif ini, tatkala kita berbicara tentang perang, kita mengejar sesuatu untuk kita ketahui bahwa ditemukannya perang-perang dalam sejarah masyarakat manusia termasuk aturan-aturan apa yang mereka gunakan dan faktor-faktor kemenangan atau kekalahan apa yang dialami oleh sebuah bangsa dalam perang-perang yang mereka ikuti.

Adapun dalam filsafat hukum, apabila pembahasan perang mengemuka, bahan yang menjadi pembicaraan adalah bagaimana dan atas dasar apa kita memberikan justifikasi dan pembenaran atas perang. Dari sisi lain, hukum internasional, mengulas tentang hak-hak dan kewajiban setiap bangsa dan setiap prajurit dalam suasana perang yang mereka lalui. Sementara pada fakultas-fakultas militer dan perang, ditunjukkan metode perencanaan dan petunjuk pelaksanaan militer.

Oleh karena itu, jurusan-jurusan yang beragam dari ilmu humaniora, mengkaji, meriset dan menganalisa sedemikian sehinga masing-masing menemukan hubungannya dengan perang dan khususnya dengan fenomena sosial  dan sejarah ini.

Dalam riset yang ada sekarang kita harus memperhatikan poin ini bahwa al-Quran al-Karim bukanlah kitab yang membahas ilmu sejarah, filsafat sejarah, sosiologi agama, filsafat hukum atau hukum internasional dan atau karya-karya yang berkenaan dengan taktik-taktik militer dan seni tempur; melainkan tujuan asli dari penurunan kitab suci ini adalah membimbing dan mengarahkan manusia ke arah kesempurnaan mental dan maknawi.

Berangkat dari sini, apabila kitab suci membahas masalah ini, ia membahasnya pada lintasan dan arah tersebut dan untuk meraih dan mencapai tujuan tersebut. Dengan kata lain, ayat-ayat ini adalah untuk orang yang mencari kesempurnaan dan menghendaki untuk meraup ketinggian derajat kemanusiaan, ia membimbing pada bidang perang, perdamaian, dan hubungan internasional sehingga manusia mengetahui dengan siapa ia berperang dan dalam keadaan dan suasana apa ia harus berperang. Demikian juga, pada saat dan bilamana ia harus menarik diri dari peperangan dan memilih jalan damai dan aman dengan musuh.

Al-Quran menjelaskan dengan baik tujuan utamanya kepada para pengikutnya tentang masalah perang; masalah yang terhitung paling klasik dan paling antikuasi dalam kehidupan sosial umat manusia. Dan masalah ini tidak boleh dianggap sebagai masalah yang tidak wajar dan sepintas.

Akan tetapi tanpa ragu bahwa banyak nuktah-nuktah yang patut diadopsi dari kitab samawi ini. Nuktah-nuktah yang tersebut dalam al-Quran bertalian dengan ilmu sejarah, filsafat sejarah, sosiologi, filsafat hukum, hukum internasional, moral dan bahkan filsafat – dimana kita akan menyinggung beberapa bagian yang terpenting dari disiplin ilmu ini – akan tetapi kita harus ketahui bahwa tujuan utama kitab suci ini adalah seperti yang telah kami singgung sebelumnya. Kendati jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan ini telah disinggung pada matlab-matlab dispilin ilmu yang disebutkan di atas dan atau bahkan pada matlab ilmu biologi dan fisika.

Mengevaluasi beberapa kata kunci

Sebelum kita mulai, dalam mengkaji ayat-ayat perang dan penjelasannya dari sisi lahir ayat-ayat ini, kita akan membahas kata-kata yang paling penting yang bermakna perang dalam al-Quran. Sebagian dari terminologi yang disinggung dalam al-Quran lebih pelik, lebih sarat dengan muatan dan lebih kaya dibandingkan padananannya dalam bahasa Persia. Dan sebagian lain dari terma-terma tersebut memiliki makna yang sama dengan mafhum perang. Di sini kita akan menelusuri dan menjelaskan terma-terma ini satu per satu.

Perang (Harb) dan Orang yang Berperang (Muhârib)

Dapat dikatakan bahwa: dua terma “harb” (perang) dan “muhârib” (pelaku perang) kurang-lebih ekuivalen dengan pengertian “jang” dalam bahasa Persia. Dan antara “harb” dan “jang” sinonim satu dengan yang lainnya.

Dalam al-Quran, terma “harb” digunakan sebanyak empat kali, sementara derivat (mashdar) muhârib dan juga dalam bentuk verba (fi’il) digunakan sebanyak dua kali. Dalam salah satu ayat yang membahas ihwal kaum Yahudi, disebutkan:

“…Setiap mereka mencetuskan harb (menyalakan api peperangan dengan kaum Muslimin), Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. (QS. al-Maidah [5]:64)

Dalam ayat yang lain disebutkan:

(Wahai Rasul) Jika engkau menemui mereka dalam harb (peperangan), dengan menumpas mereka, maka cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka, supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. al-‘Anfal [8]:57)

Dan dalam ayat yang lain ditegaskan:

Apabila engkau bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila engkau telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan selepas itu engkau boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai harb (perang) berhenti…” (QS. Muhammad [47]:4)

Dalam tiga ayat ini, terma “harb” (perang) digunakan sama dengan padanan makna teknisnya “jang” (perang) dalam bahasa Persia.

Akan tetapi pada satu ayat, terma “harb” (perang) digunakan selain pada makna teknisnya “jang” (perang) dalam bahasa Persia.

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu adalah orang-orang yang beriman. Maka apabila kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu (bi harbin)…” (QS. al-Baqarah [2]:278 & 279)

Pada ayat ini terma “harb” tidak termasuk makna perang sebenarnya dan tidak bernuansa militeristik, melainkan bermakna bahwa memakan makanan riba seolah-olah mengumumkan perang dengan Allah dan dihukumi berperang dengan Allah.

Dari akar terma “harb” ini dalam al-Qur’an digunakan dalam bentuk verba (fi’il) dari bab “mufa’âla” dalam dua hal; pertama “hârib” digunakan dalam bentuk lampau (past tense, mâdhi) dan kedua “yuhâribuna” digunakan dalam bentuk present (mudhâre’). Dalam dua hal ini juga digunakan terma yang bermakna “jang” (perang).

Salah satu dari ayat ini diturunkan berkenaan dengan “masjid adh-Dhirâr”. Para pendiri masjid ini adalah adalah orang-orang munafik meskipun secara lahir menampakkan diri sebagai muslim. Mereka memiliki niat untuk mendirikan masjid yang sebenarnya adalah sebuah posko untuk mengadakan konspirasi menentang Islam. Berangkat dari sini, Allah Swt sembari mencirikan orang-orang munafik dan masjid mereka, Dia  berfirman:

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan kepada (orang-orang mukmin) dan lantaran kekafiran(nya), dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang  yang telah memerangi (hârib) Allah dan Rasul-Nya semenjak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).” (QS. at-Taubah [9]:107)

Allah Swt dalam ayat ini menyebutkan orang-orang kafir dan musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin sebagai “man haraba Allâh wa Rasulah” orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasulnya.

Pada ayat yang lain, balasan, hukuman (penalti) dan retribusi bagi orang-orang yang menyatakan perang dengan Allah Swt dan Rasul-Nya saw adalah salah satu dari empat sebagaimana yang tertuang pada ayat di bawah ini:

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka memperoleh siksaan yang besar.” (QS. al-Maidah [5]:33)

Qitâl

Klausul (mâddah) lain yang bermakna perang yang digunakan dalam al-Qur’an adalah qa ta la. Klausul ini secara keseluruhan digunakan sebanyak 170 kali dalam al-Qur’an. Dari keseluruhan jumlah ini, digunakan sebanyak 94 kali dalam bentuk trikotomi (tsulatsi mujarrad, qatala yaqtulu), 67 kali dalam model bab mufâ’ala, 5 kali dalam model bab taf’il, dan 4 kali dalam model bab ifti’âl.

Di antara penggunaan ini, harus diperhatikan bahwa qatl dan taqtil bermakna perbuatan membunuh seseorang yang dilakukan oleh seseorang yang lain. Dan tentu saja, bercorak satu arah. Oleh karena itu, pada makna perang yang berarti qitâl dan bentrokan bersifat dua arah (mutual) tidak dipergunakan. Akan tetapi, terma-terma qitâl dan iqtitâl bersifat dua arah dan masing-masing digunakan dimana masing-masing dari satu pihak memutuskan dan mencoba untuk membunuh pihak lainnya. Dan bercorak dua arah lantaran masing-masing menyerang satu dengan yang lainnya.

Dari sini, terma yang bermakna perang (dua arah) hanya berasal dari bab mufâ’ala dan ifti’âl. Kedua bab ini sesuai dan selaras dengan tema pembahasan kita nantinya.

Jihad

Terma jihad dan derivatnya digunakan sebanyak 35 kali dalam al-Qur’an. Jihad secara leksikal bermakna usaha dan memberdayakan serta mengerahkan kekuatan dan kemampuannya untuk mewujudkan satu tujuan; akan tetapi, karena derivasinya berasal dari bab mufa’ala, biasanya digunakan dalam hal-hal yang di dalamnya terdapat semacam korporasi, kerja sama, persyarikatan dan pertemanan.

Oleh karena itu, dalam terma jihad biasanya pihak lainnya juga digunakan. Dan kedua belah pihak masing-masing berdiri pada barisannya dan berupaya untuk mengerahkan kemampuannya semaksimal mungkin sehingga dapat menaklukan salah satu pihak yang ada.

Akan tetapi, tentu saja, harus diperhatikan bahwa jihad tidak hanya berbentuk militer dan setiap jenis perlawanan dan pertempuran. Selain bercorak militer jihad juga bernuansa ekonomi atau budaya atau politik semuanya termasuk di dalam makna jihad ini.

Demikian juga harus diketahui bahwa terma jihad tidak selamanya bermakna positif. Terkadang terma jihad digunakan dalam makna negatif. Contohnya ayat 8 surah Ankabut (29). Dalam ayat ini, Allah Swt setelah memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada orang tua mereka, berfirman:

“…Dan jika keduanya memaksamu (hadâ-ka) untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau mengikuti keduanya. Hanya kepadaKulah kembalimu, lalu Aku wartakan kepadamu apa yang telah engkau kerjakan.”

Pada ayat yang lain disebutkan bahwa Allah Swt berfirman “’ala an tusyrika bi” (untuk menjadikanmu sekutu dengan-Ku) sebagai ganti firman “litusyrika bi” (untuk mempersekutukan-Ku):

“Dan jika keduanya memaksamu untuk menjadikanmu sekutu dengan-Ku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau mengikuti keduanya, dan pergauilah keduanya di dunia dengan baik…” (QS. Luqman [31]:15)

Bagian dari dua ayat suci ini dimana jihad di dalamnya bermakna usaha dan upaya ibu dan bapak untuk membuat anaknya musyrik – dimana secara natural tidak memiliki satupun makna positif – terma jihad dan mujahadah yang digunakan, pada ayat yang lain, dimana manusia mengerahkan usaha-usaha untuk mewujudkan tujuan-tujuan sehat dan diridai oleh Allah Swt dan memiliki makna positif.

Usaha dan upaya positif semacam ini terkadang hanya memanfaatkan media-media finansial dan ekonomi, yang disebut sebagai jihad finansial; misalnya, menyediakan biaya perang untuk melawan kaum kafir dan musyrikin serta kaum munafik. Membantu kaum fakir dan miskin dalam lingkungan sosial, menolong tersedianya biaya orang-orang sakit dan orang-orang luka, membangun rumah sakit, madrasah dan masjid. Dan atau membangun jalan-jalan dan fasilitas sosial lainnya.

Juga terkadang usaha-usaha ini memiliki sisi militerisik, yang tentu saja di dalamnya, terdapat ancaman dan resiko bagi keselamatan jiwa manusia. Dan bahkan mungkin hingga batas mengorbankan jiwa dan syahadah (martyrdom). Adalah jelas bahwa jihad semacam ini adalah jihad yang sinonim dengan kata perang dan akan menjadi tema pembahasan kita kali ini.

Juga terkadang yang dimaksud dengan jihad adalah menentang nafs ammarah yang disebut sebagai “jihad melawan nafsu” atau “jihad akbar”.  Kebanyakan dari ayat-ayat al-Quran, terma jihad bermakna demikian. Di sini kita akan menyinggung ayat yang berkenaan dengan masalah ini.

Allah Swt berfirman:

Dan barangsiapa berjihad (jâhadah), maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. al-Ankabut [29]:6)

Dan pada ayat yang lain disebutkan:

Dan orang-orang yang berjihad (jâhadû) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Ankabut [29]:69)

Bagaimanapun contoh jelas dan makna yang paling gamblang dari terma jihad adalah berperang di jalan Allah Swt dimana orang yang berjihad menempatkan diri mereka untuk mencapai syahid. Jihad semacam ini juga akan memiliki korelasi dengan jihad melawan hawa nafsu.

Orang yang berjihad (mujahid) di jalan Allah harus mengenyahkan dan mengeliminasi kebanyakan dari keinginan-keinginan pribadi dan egonya, ia harus meninggalkan dunia, ia harus menepikan istri, anak dan hubungan-hubungannya serta harta bendanya sehingga ia dapat pergi ke medan laga untuk bertempur melawan musuh. Ia meletakkan hidup dan ketentramannya dalam ancaman dan kesirnaan. Adalah gamblang bahwa pekerjaan ini akan bermuara pada jihad besar dan perang luar biasa melawan hawa nafsu.

Pertumpahan Darah

Ungkapan lain yang dekat pada makna perang adalah pertumpahan darah. Safk dam yang berarti pertumpahan darah disebutkan sebanyak dua kali dalam al-Quran.

Dalam satu ayat Allah Swt berfirman:

Ingatlah tatkala Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah (yusfiku ad-dima), padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” (QS. al-Baqarah [2]:30)

Masalah yang kedua, ayat 84 surah al-Baqarah (2) yang di dalamnya Allah Swt mengalamatkan firmannya kepada Bani Israil:

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (tasfikuna dima), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (sauramu sebangsa) dari kampung halamanmu,..”

Harus diperhatikan bahwa “safk dima” (pertumpahan darah) lebih umum sifatnya dari qitâl (membunuh) dan tidak semata berurusan dengan masalah perang, melainkan termasuk juga membunuh; artinya baik berkaitan dengan seseorang yang membunuh seseorang lainnya dan juga bertalian dengan kedua belah pihak yang bermaksud untuk menumpahkan darah dimana masalah yang kedua ini sinonim dengan terma perang.

Di ujung bagian dari pembahasan ini kami memandang perlu untuk mengingatkan bahwa dalam al-Quran terdapat terma-terma dan ungkapan-ungkapan yang bermakna perang, akan tetapi kami tidak melihatnya begitu signifikan untuk menyebut dan mengkajinya di sini.

Istilah-istilah Valuable dan non-Valuable perang

Di antara terma-terma dan ungkapan-ungkapan yang bermakna perang yang tersebut dalam al-Quran. Sebagian dari terma tersebut seperti “harb”, “muhârabah”, “qitâl”, “muqâtala”, “iqtitâl”,  tidak memuat tatanan nilai (non-valuable) yang begitu determinan; artinya secara otomatis tidak mengindikasikan bahwa perang dari terma-terma ini – dari sudut pandang orang-orang yang menggunakannya – benar atau salah, mencerminkan keadilan atau mencerminkan tirani, legal atau tidak legal. Berangkat dari sini, masing-masing dari masalah ini dapat diterapkan. Oleh karena itu, “harb” dan “qitâl” dan terma-terma yang serumpun dengannya dapat bercorak baik atau buruk, dan terma ini sendiri tidak dapat dipahami dalam pandangan dan judgment pembicara.

Akan tetapi di antara terma-terma dan istilah-istilah, kita juga memiliki terma yang secara otomatis memuat tatanan nilai (valuable), lebih umum dari positif atau negatif; misalnya “jihâd” dan “safk dam”.

Dalam praktik dan kamus Islam, kalimat jihad memiliki muatan positif. Dan sebaliknya safk dam memiliki muatan negatif. Benar bahwa jihad secara leksikal bermakna segala jenis usaha dan upaya untuk mewujudkan dan mengejewantahkan segala bentuk tujuan; akan tetapi dalam praktik al-Qur’an dan dalam urf kaum Muslimin yang menjadi pengikut al-Quran, hanya dan hanya, perang antara kaum Muslimin melawan kaum kafir dan musyrikin disebut sebagai jihad. Dan tidak disebut atas kegiatan-kegiatan tempur dan militer kaum kafir dan musyrikin – baik di antara mereka atau melawan kaum muslimin.

Demikian juga “safk dam” kendati secara leksikal bermakna pertumpahan darah dan pertumpahan darah secara otomatis, selaras dengan keadaan dan kondisi serta syarat-syarat dan motivasi-motivasi beragam, dapat menjadi sesuatu hal yang terpuji atau tercela, akan tetapi dalam budaya al-Quran ungkapan ini memiliki muatan negatif. Dan digunakan dalam masalah yang tercela dan bersifat ilegal.

Oleh karena itu, dalam kamus al-Quran dan Islam dan dalam budaya kaum Muslimin, jihad disebut sebagai perang yang memiliki tujuan mencari kebenaran dan keadilan. Berangkat dari sini, sebagaian penerjemah mengalihbahasakan jihad sebagai perang suci. Sebaliknya, terma “safk dam” dalam kamus al-Quran dan Islam bertalian dengan perang yang bercorak tiranikal dan tidak memiliki tujuan untuk mencari kebenaran.

Demikian juga harus diperhatikan bahwa di mana saja pasca perang, dengan segala sebutan, disertakan kait “fii sabilLlâh”. Hal ini adalah mengindikasikan kebenaran dan adanya keridhaan Tuhan di balik perang tersebut; – baik kait (stipulasi) ini disebutkan selepas terma jihad dan terma-terma yang serumpun – yang secara otomatis memiliki muatan positif –  dan baik selepas terma qitâl dan kalimat-kalimat yang serumpun dengannya – yang secara otomatis, yang tidak memikul satu pun tatanan nilai. Dengan ungkapan lain, dengan menyertakan kait “fii sabilLlah” di samping “jihad” terma-terma kelompok kedua akan memikul muatan nilai positif.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s