Penjelasan Filosofis Terjadinya Perang

Oleh: Ayatullah Misbah Yazdi

Perang dalam Perspektif Sistem Penciptaan

Setelah mengulas beberapa kalimat penting dan terma kunci pembahasan, kini tiba saatnya untuk membahas dan mengkaji tinjauan al-Quran ihwal perang beserta seluruh dimensi yang berkaitan dengannya.

Pekerjaan ini dapat dilaksanakan berdasarkan sistematika sejarah dan sistematika pewahyuan dan penurunan ayat-ayat suci al-Quran; artinya kita memulai dari ayat pertama yang turun berkenaan dengan perang dan mengkaji satu dengan yang lainnya sesuai sistematika sejarah, ayat-ayat yang turun bertalian dengan masalah ini.

Demikian juga metode-metode beragam yang lain yang dapat diaplikasikan dalam pekerjaan penting ini. Di tengah pembahasan ini, kita akan menggunakan metode logis tipikal dimana di dalamnya permasalahan dan problematika asasi dan fundamental yang menurut pemahaman orang lain masalah-masalah perang memiliki peran sentral, secara sistematis kita akan prioritaskan signifikansi dan perannya.

Kita tidak memiliki keraguan bahwa dalam hal pemahaman dan penetapan (itsbât) sebagaian masalah-masalah perang berbeda dan bergantung kepada pemahaman dan penetapan penggalan lain dari masalah-masalah perang. Oleh karena itu, kita harus mematuhi sistematika natural dan logis untuk memahami dengan mudah masalah-masalah perang.

Dengan ungkapan lain, di antara selaksa problematika dan permasalahan ihwal perang, terdapat prioritas dan posterioritas logis. Dan apabila aturan natural dan logis ini tidak diindahkan dalam menelaah, meriset atau dalam pembelajaran, maka pekerjaan ini tidak akan menuai kesuksesan. Dan sebagai hasilnya, upaya untuk meraup natijah dan konklusi tidak akan terpenuhi.

Berbicara ihwal perang terdapat banyak masalah asasi yang apabila tidak dijelaskan sebelumnya, maka tidak akan mampu atau sukar untuk menjawab masalah-masalah yang lain. Oleh karena itu, untuk sampai pada konklusi maka prioritas dan posterioritas, sistematika logis pembahasan harus diindahkan dan diterapkan.

Sebagai contoh, pertanyaan dapat diajukan bahwa apakah perang itu baik atau buruk? Apabila perang itu buruk, bagaimana dapat mengantisipasi supaya perang tidak berkecamuk? Apabila perang itu baik, apakah limit dan batasannya, hingga kapan dan ke mana harus berlanjut? Kanun dan dustur apa yang berlaku dalam peperangan sehingga hak-hak asasi manusia terpenuhi dengan baik?

Namun sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita harus menjawab pertanyaan yang lebih asasi terlebih dahulu. Dan pertanyaan yang lebih asasi itu adalah mengapa perang itu ada? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang bercorak filosofis (ontologis) dan secara natural lebih prioritas dari pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan masalah-masalah nilai dan hukum-hukum perang.  Dan apabila jawaban atas pertanyaan ini belum dikemukakan, pertanyaan-pertanyaan yang mengemuka di atas tidak akan terjawab dengan patut dan layak.

Oleh karena itu, kita dalam tulisan ini akan memulai menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Lalu secara runut kita kedepankan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang lebih asasi. Demikian seterusnya, jawaban terhadap satu pertanyaan dan solusi atas setiap masalah, dengan sendirinya akan menjadi jawaban atas permasalah-permasalahan lain. Dan solusi untuk menemani dalam menjawab soal-soal berikutnya.

Penjelasan Filosofis Terjadinya Perang

Pada pembahasan yang lalu, kami telah menyinggung bahwa pertanyaan-pertanyaan paling asasi yang jawabannya adalah sebagai pra-mukaddimah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan lainnya yang berhubungan dengan perang. Pertanyaan itu adalah: Mengapa perang itu terjadi? Mengapa Allah Swt sedemikian mencipta manusia sehingga kerjanya berujung pada peperangan dan pertumpahan darah, seluruh pembunuhan terjadi dan seluruh kerusakan, kehancuran dan kerugian menghantui kehidupan manusia? Apakah terjadinya perang dalam tatanan penciptaan dan pada iradâh takwini (keinginan penciptaan) semesta telah dipertimbangkan. Dan Allah Swt menghendaki demikian dan ridha atasnya. Para makhluk-Nya mendapatkan diri mereka sebagai makhluk yang berseteru dan suka berperang, dan oleh karena itu, menyesal menciptakan manusia? Kita membaca dalam Taurat ihwal masalah ini, “Allah melihat kejahatan manusia di muka bumi sangat banyak dan konsepsi apa saja yang diimaginasikan atas diri manusia tidak lain kecuali kejahatan. Dan Tuhan berkata bahwa penciptaan manusia dan hewan-hewan dan serangga dan burung-burung aku gagalkan, karena aku menyesal menciptakan mereka. Adapun Nuh mendapatkan perhatian dari Tuhan.[1]

Iya. Berdasarkan Taurat yang ada – yang tentu saja telah mengalami distorsi – perangai manusia yang suka berperang belum dipertimbangkan oleh Tuhan dalam tatanan penciptaan. Dan tatkala Tuhan melihat bahwa manusia suka berbuat angkara murka, Tuhan menyesali penciptaan manusia dan merasa bersedih atas penciptaan tersebut. Tentu saja ucapan tidak berdasar ini tidak memerlukan penjelasan dan ulasan.

Bagaimanapun, kini harus dilihat bahwa dalam perspektif Islam, jawaban apa yang dapat ditemukan untuk pertanyaan asasi semacam ini? Jawaban apa yang ditawarkan Islam untuk pertanyaan filosofis seperti ini? Apa yang diperkenalkan Islam sebagai tujuah penciptaan? Dan mengapa Tuhan menciptakan manusia yang suka berbuat onar, angkara murka, menumpahkan darah? Bagaimanakah kedudukan segala kerusakan, pertumpahan darah, angkara murka manusia ini dalam tatanan yang lebih baik (nizham ahsan)? Setelah menjawab permasalahan-permasalahan asasi ini, kita mampu memberikan perhatian terhadap dimensi kanun, hukum dan nilai perang. Al-Quranul Karim bercerita ihwal sifat angkara murka dan keonaran yang ditimbulkan oleh manusia:

Ingatlah tatkala Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah (yusfiku ad-dima), padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” (QS. al-Baqarah [2]:30)

Dari ayat di atas ini, dapat dijumpai dengan jelas bahwa bahkan para malaikat mengenal identitas dan esensi manusia sebelum penciptaannya. Mereka mengetahui bahwa manusia adalah pembuat angkara murka dan penumpah darah.[2]

Oleh karena itu, dalam mengemukakan dan merancang sebuah pertanyaan, para malaikat dengan santun menyampaikan protes atas terpilihnya manusia sebagai khalifah di muka bumi. Mereka bertanya kepada Allah Swt bahwa mengapa Engkau ingin menciptakan makhluk tukang berbuat onar dan penumpah darah sebagai khalifah-Mu di muka bumi, sementara kami lebih layak untuk kedudukan tersebut; lantaran kami senantiasa sibuk memuji dan bertasbih kepada-Mu. Serta taat dan setia kepada perintahMu?!

Allah Swt dalam menjawab pertanyaan para malaikat ini, berfirman dalam bentuk global: Aku lebih tahu apa yang kalian tidak ketahui. Jawaban ini merupakan sebuah singgungan terhadap hakikat ini bahwa di kalangan umat manusia yang dianggap oleh para malaikat sebagai pembangkang dan ahli maksiat, terdapat orang-orang yang lebih unggul dan mulia dari para malaikat dan lebih patut menjadi khalifah Tuhan di muka bumi.

Dengan memperhatikan ayat ini dapat dikatakan bahwa dari sudut pandang al-Quran bahwa perang dan pertumpahan darah merupakan keniscayaan wujud manusia bumi dan kehidupan sosialnya. Dan Allah Swt berserta para malaikat-Nya telah menimbang dan mengetahui tipologi dan karakteristik manusia ini sebelum penciptaan. Dengan demikian, tidak dapat dikatakan bahwa Tuhan tidak mengenal makhluk ini dan tidak mengetahui fenomena perang yang bakal terjadi pada kehidupan sosial manusia. Apatah lagi untuk mengatakan bahwa Tuhan menyesali penciptaan manusia setelah memahami hakikat getir ini.

Kini menjadi maklum bahwa Allah Swt dan para malaikat mengetahui ihwal tipologi dan karakteristik manusia sebagai “perusak” dan “penumpah darah”. Pertanyaan ini – yang merupakan sebuah pertanyaan penting filosofis – mengemuka, mengapa Allah Swt sedemikian menciptakan manusia sehingga ia menjadi seorang pembuat angkara murka dan gemar terhadap peperangan? Secara asasi, apakah maksud dengan adanya kejahatan – baik kejahatan manusiawi atau kejahatan alami –  di alam ini?

Para filosof dan teolog, masing-masing sesuai dengan disiplin ilmu mereka, memberikan jawaban atas pertanyaan ini dan jawaban detil dari pertanyaan ini harus ditemukan pada bidangnya dan ruang lingkupnya masing-masing. Yang dapat disebutkan secara global di sini adalah kehadiran kejahatan dan mafsadah yang bersifat manusiawi dan alami semacam ini, sejatinya sebagai inherensi dan keniscayaan eksistensi alam natural dan paradoksialnya alam materi.

Allah Swt berdasarkan hikmat-Nya menciptakan alam natural, mau atau tidak mau, disertai dengan kejahatan dan keburukan seperti perang, kemiskinan, penyakit, banjir, gempa bumi, taufan.

Eksistensi alam natural dan alam material tidak mungkin tanpa eksistensi kejahatan dan keburukan semacam ini. Lantaran tiadanya penciptaan alam ini tidak sesuai dan selaras dengan “fayadhat ‘ala al-Ithlaq” Ilahi (emanasi-emanasi mutlak Tuhan). Allah Swt, tatkala menciptakan alam semacam ini dan mau tidak mau, ketika sudah diciptakan, kejahatan dan keburukan semacam ini juga akan menyertainya. Akan tetapi keikutsertaan alam ini dengan kejahatan dan keburukan  tidak dapat menjadi penghalang terwujud-Nya kehendak Ilahi yaitu terciptanya semesta ini; karena dengan adanya seluruh keburukan ini, secara keseluruhan, kebaikan dan kemaslahatan semesta ini akan mengalahkan segala keburukan dan kejahatannya.

Jawaban ini adalah jawaban yang bersifat global. Sedikit banyaknya dapat menjelaskan adanya dan eksisnya perang dan pertumpahan darah dalam strata kehidupan manusia.

Perang dan Irâdah Takwini Tuhan

Sebagaimana yang telah kami singgung sebelumnya, ayat-ayat al-Quran dengan jelas menunjukkan bahwa terjadinya perang bukan lantaran tidak diperhatikan dalam tatanan penciptaan Ilahi dan bertolak belakang dengan kehendak Tuhan serta lepas dari pengaturan-Nya. Salah satu contoh ayat dari ayat-ayat yang memberikan kesaksian dengan jelas atas klaim ini adalah:

“(Di antara) Utusan-utusan itu (dan Rasul-rasul Kami) lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada orang yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannnya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada ‘Isa putra Maryam beberap mukjizat serta Kami perkuat da dengan Ruhul Qudus. Dan Kalau Allah menghendaki niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang yang datang sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendakinya.” (QS. al-Baqarah [2]:253)

Ayat ini menunjukkan bahwa apabila Allah Swt menghendaki sedemikian Dia mencipta umat manusia dan sistem kehidupannya menjadi teratur sehingga mereka tidak berperang dan menumpahkan darah; akan tetap Dia tidak menghendaki manusia terpaksa meninggalkan perang dan mengatur mereka untuk senantiasa hidup dalam kedamaian dan ketenteraman.

Allah Swt tidak menginginkan membimbing dan memberi petunjuk kepada manusia dengan paksa (jabr); yang apabila Dia menghendaki demikian, niscaya hal itu terlaksana, “Apabila Tuhan menghendaki tentulah terbimbinglah dan terhidayailah seluruh manusia.” (QS. ar-Ra’d [13]:31)

Sebagaimana pada ujung ayat yang menjadi pembahasan kita di atas khususnya ihwal pembunuhan (qitâl) disebutkan: Apabila Tuhan menghendaki manusia saling bunuh-membunuh sesama mereka, yang apabila Dia menghendaki maka keinginan tersebut  terlaksana.

Ayat-ayat semacam ini dengan jelas menunjukkan bahwa Allah Swt menciptakan manusia pada langkah awal dalam keadaan bebas (freewill) dan merdeka. Dan Dia tidak menghendaki manusia tercegah dan tertahan dari pertumpahan darah dan bunuh-membunuh secara paksa (determinated) dan koersif. Melainkan Allah Swt membekali mereka dengan kecendrungan dan keinginan yang terkadang bermuara pada pertikaian, percekcokan dan bentrokan.

Jelasnya bahwa Allah Swt menciptakan manusia sehingga manusia mengemban tugas sebagai khalifah-Nya. Adapun kekhalifaan Tuhan merupakan derajat yang tinggi dimana untuk dapat sampai ke derajat tersebut, diperlukan kelayakan dan syarat-syarat yang cukup banyak. Dan manusia untuk dapat mencapai kelayakan ini ia harus melalui usaha dan ikhtiarnya sendiri.

Oleh karena itu, untuk dapat meraup keutamaan dan kesempurnaan ini manusia harus diciptakan dalam keadaan merdeka dan bebas. Apabila manusia memiliki beragam kecendrungan dan motivasi yang tidak bertentangan dan hasratnya pada maksiat dan keburukan tidak terdapat pada dirinya, seluruh pekerjaannya tidak bernilai dan untuk mencapai kesempurnaan tertinggi insani menjadi mustahil baginya.

Para malaikat yang nota-bene tidak melakukan dosa, dan bahkan tidak memiliki pikiran untuk berbuat dosa dan terlintas sedikit pun dalam benak mereka untuk membangkang, sekali-kali mereka tidak memiliki kelayakan untuk mencapai derajat dan kedudukan ini. Hal ini dikarenakan mereka tidak menikmati dan memiliki ikhtiar dan keinginan bebas.

Oleh karena itu, makam para wali Allah lebih tinggi dan utama dari kedudukan para malaikat. Ketaatan antara para malaikat dan ketaatan para wali Allah tidak dapat dibandingkan satu dengan yang lainnya, ketaatan para malaikat tidak memiliki nilai dan kadar di hadapan ketaatan para wali Allah.

Para insan Ilahi, berseberangan dengan para malaikat, adalah orang-orang merdeka dan memiliki ikhtiar; kendati memiliki motivasi untuk bermaksiat dan kecendrungan untuk berbuat dosa, tetapi mereka tidak melakukan hal itu. Dan mereka tunduk dan patuh pada seluruh hukum Ilahi.

Manusia, apabila ia mencapai makam dan derajat khalifah Ilahi, maka ia mencapainya dengan usaha dan ikhtiarnya sendiri. Ia tidak menjatuhkan dirinya pada lubang maksiat dan mengerjakan perbuatan-perbuatan tercela.

Kehendak Ilahi juga menegaskan bahwa manusia dengan ikhtiar dan usahanya memilih kehidupannya sendiri bukan dengan terpaksa dan koersif melintasi jalur penciptaan yang telah ditetapkan baginya.

Ikhtiar dan kehendak bebas inilah yang menyediakan ruang dan peluang untuk manusia sehingga dapat mencapai kesempurnaan.

Oleh karena itu, gerakan menuju kesempurnaan insani dapat terwujud dimana ia bebas memilih apa yang ia inginkan untuk dikerjakan. Dari sisi lain, kebebasan manusia pada saat ia menyediakan ruang dan peluang untuk kesempurnaannya, kekuatan atau kezaliman dan kemungkinan untuk berbuat aniaya dan melanggar batas juga tersedia.

Dengan demikian kebebasan manusia dari satu sisi bergantung kepada dan keniscayaan kesempurnaannya. Dan dari sisi lain, meniscayakan adanya ketidakadilan, kezaliman, pertumpahan darah, peperangan.

Kebanyakan hewan yang jauh dari setiap bentuk kezaliman, perang dan pertikaian, kehidupan yang mereka lalui adalah kehidupan yang sederhana dan bersahaja. Akan tetapi dalam halnya dengan manusia tidaklah demikian; karena apabila Allah Swt mengambil secara paksa kemungkinan pelanggaran, bentrokan dan peperangan dari manusia, kendati dalam keadaan seperti ini manusia tidak memiliki stress dan kerisauan terhadap perang dan lebih mudah serta lebih rehat ia akan lalui hidupnya, namun ia tidak akan sampai pada kesempurnaan yang layak.

Memperhatikan poin ini sifatnya urgen dimana tentu saja perang dan pertikaian ini sepanjang menjadi penyebab kebaikan dan kemaslahatan manusia, secara original (baca: dzati atau essensial, AK) mengikut kehendak Tuhan, akan tetapi yang berkaitan dengan keburukan dan kejahatan secara ikutan (bittaba’) (baca: ‘aradhi, aksidensial, AK) akan mengikut kehendak Tuhan.

Secara asasi, dalam seluruh permasalahan penciptaan, kehendak yang penuh kebijaksanaan Tuhan, pertama dan utama menyangkut masalah kesempurnaan dan kebaikan. Akan tetapi terwujudnya kebaikan dan kemaslahatan, dalam hal yang senantiasa dengan ditemukannya penggalan kejahatan dan keburukan, mafsadah semacam ini secara ikutan (bittaba’) berpulang kepada kehendak takwini Tuhan.

Matlab ini dalam riwayat-riwayat, dengan metode khusus, dan dengan bahasa yang tipikal telah dijelaskan; misalnya pada sebagian doa-doa: “Yaa man sabaqat rahmatuhu ghadabahu” (Wahai yang rahmat-Nya mendahului murka-Nya).

Yang dapat dipahami dari redaksi hadits ini adalah tujuan Allah Swt sejatinya adalah manusia mencapai rahmat Ilahi, mendulang kebaikan dan menggapai kesempurnaan, akan tetapi untuk mewujudan tujuan ini tidak ada pilihan kecuali kemurkaan Ilahi juga harus terjelma. Rahasia dari masalah ini juga kembali kepada pembahasan yang telah kami singgung sebelumnya.

Dari satu sisi, kebaikan dan kesempurnaan manusia harus dicapai melalui usaha dan kegiatan merdeka dan kehendak bebas manusia. Dan inherensi (kemestian) tercapainya manusia kepada kesempurnaan adalah manusia harus bebas dan dalam kerangka ikhtiar.  Akan tetapi pada sisi lain, manusia yang bebas terkadang menyalahgunakan kebebasan yang dimilikinya, dan penyelewengan dari kebebasan akan mendapatkan kemurkaan Tuhan.

Dengan demikian, kebebasan manusia di samping memiliki peran determinan untuk meraih kesempurnaan, juga meniscayakan satu silsilah keburukan dan kejahatan. Dari sisi lain, secara universal, alam natural merupakan alam paradoks dan tazâhum. Dan di samping berbagai kebaikan dan nikmatnya, ia juga sarat dengan keburukan, luka dan kesusahan.

Allah Swt  juga tatkala mencipta, mengetahui dengan sempurna seluruh akibat ikutan dan partikular ini. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa keburukan dan kejahatan yang merupakan keniscayaan alam natural ini, bittaba’ telah ditimbang dan dipikirkan oleh pencipta alam semesta ini. Dan memiliki tempat khusus dalam bentuk disain universal penciptaan; dan maksud dari kehendak ikutan Tuhan dalam hubungannya dengan perang dan seluruh kejahatan yang lain adalah bahwa kendati mereka adalah buruk, akan tetapi berbagai nikmat dan kebaikan yang terdapat dalam alam tabiat memenuhinya.

Kesimpulannya dalam kaitannya dengan pertanyaan “Apakah terjadinya perang dalam tatanan penciptaan telah dipertimbangkan dan apakah kehendak Tuhan terpenuhi atau tidak di dalamnya?” Jawaban kami atas pertanyaan ini bersifat afirmatif dan positif (iya); dan memangnya mungkin sebuah peristiwa terjadi di dunia ini tanpa adanya kehendak dari Tuhan? Tentu saja harus diperhatikan bahwa hasil-hasil baik dan bermanfaat perang dan anugerah dan keberkahannya, ashalatan dan awwalan. Dan keburukan dan kejahatannya bersifat ikutan kehendak Ilahi.

Ucapan ini berarti bahwa Tuhan semenjak hari pertama mengetahui tabiat penumpah darah dan sifat destruktif yang dimiliki manusia. Dan Tuhan mengetahui bahwa manusia ini akan mewarnai  medan kehidupan sosialnya berwarna dengan perang dan angkara murka; akan tetapi mengikut tuntutan hikmah paripurna-Nya, Dia memilih manusia untuk mengemban tugas khalifah di muka bumi dan memberikan kepadanya kebebasan sempurna sehingga dengan kebebasan yang ia miliki ia dapat meraih kesempurnaan dan melebihi kedudukan para malaikat. Dan atau dengan keburukan dan kejahatan serta maksiat ia terpuruk dan lebih buruk dari binatang.

Faktor-faktor Pengontrol Perang

Pertanyaan lain yang mengemuka dalam masalah ini dan harus dijawab adalah batasan atau ketak-terbatasan kebebasan manusia dalam menumpahkan darah, berperang dan melakukan perbuatan destruktif.

Apakah Tuhan yang menghendaki bahwa perang dan pertikaian manusia sampai manapun dan akibat getir apapun – bahkan apabila menyebabkan punahnya seluruh orang-orang saleh dan tertutupnya gerbang keadilan dan kebenaran – tetap berlanjut? Ataukah kebebasan dan kemampuan yang dimiliki oleh manusia membatasinya pada kerusakan dan penumpahan darah dan manusia tidak memiliki kekuatan untuk melewati batasan tersebut dan tatkala ia mencapai batasan tersebut yang menonjol adalah kejahatan dan penumpah darahnya.

Dalam menjawab pertanyaan ini harus dikatakan bahwa: Al-Quran menyebutkan bahwa Allah Swt menempatkan manusia di muka bumi dengan merdeka dan bebas sehingga ia melalui kehidupannya dalam lintasan menuju kesempurnaan dan atau memilih terjerembab dan terpuruk dalam kubangan dosa dan maksiat; akan tetapi cakupan kebebasan ini tidaklah begitu luas sehingga ia dapat melanggar tujuan dan maksud utama Tuhan dan hikmah-Nya dalam penciptaan.

Sejatinya, pemberian kebebasan takwini kepada manusia adalah untuk manusia dapat menggapai kesempurnaan insaninya; dan dalam lintasan ini apabila kebebasan manusia menjadi sebab seluruh manusia, alih-alih menuju kesempurnaan, ia memilih terjerembab dalam kubangan keburukan dan menjadi syirik serta kufur, tujuan penciptaan menjadi tidak tercapai.

Dengan demikian, hikmat Ilahi tidak menuntut kebebasan tanpa batas dan unlimited yang berujung pada penguasaan seutuhnya kaum perusak dan penjahat atas komunitas umat manusia. Sedemikian di bawah dominasinya, mereka membuat suasana satu arah (one way) menutup rapat jalan-jalan keadilan, kebenaran dan memusnahkan ajaran-ajaran hak Ilahi sehingga tidak seorang pun berjalan di atas rel keadilan dan kebenaran serta lubang yang ada disangka sebuah jalan.

Hikmat Ilahi menuntut adanya kebebasan sehingga jalan bagi pengikut kebenaran tetap terbuka lebar. Oleh karena itu, manakala keburukan dalam masyarakat berkuasa dan orang-orang shaleh jatuh dalam kelemahan secara keseluruhan dan orang-orang baik berada di ambang kepunahan, Allah Swt dengan berbagai cara, akan mencegah penguasaan kufur dan syirik atas masyarakat dan dominasi para penjahat atas orang-orang baik sehingga bumi dan masa tidak dipenuhi dan diserang dengan ketidakadiilan dan kemaksiatan.

Pertanyaan utama di sini adalah bagaimana Tuhan mengontrol perang dan kerusakan dalam kerangka batasan yang disebutkan di atas? Jawaban kita atas pertanyaan ini adalah bahwa Allah Swt menindak mereka dengan tiga jalan. Media pencegah keadaan sosial semacam ini, dan mengontrol perang dan kerusakan, terkadang menggunakan unsur-unsur supra natural -seperti bencana-bencana langit- dimana sebuah kaum secara keseluruhan musnah dari pelataran dan panggung sejarah.

Yang kedua, terkadang Tuhan melakukan pekerjaan ini dengan menggunakan unsur-unsur natural. Dan yang ketiga menggunakan unsur-unsur insani. Terkadang pula Tuhan  menugaskan insan-insan mukmin, orang-orang saleh, dan orang-orang yang taat untuk menjungkalkan kaum perusak, kafir dan munafik sehingga berperang dengan mereka dan mencegah kerusakan yang ditimbulkan sebelum mencapai batasannya.

Akan tetapi, bagaimanapun, penggunaan unsur-unsur ini sedemikian sehingga pada akhirnya  kemaslahatan umat manusia tersedia. Dan pada majemuknya, kehidupan manusia dilalui dengan sebaiknya-baiknya kehidupan dan berkelanjutan dan keberkahan serta kebaikan yang lebih banyak.

Kami menggangap demikian bahwa, sebagai perumpamaan, apabila pada sebuah peperangan di antara nabi Allah dengan kaum musyrik dan kafir, Allah Swt menjungkalkan musuh-musuhnya melalui tangan-tangan nabi-Nya dan memenangkan mereka. Maka alam semesta menjadi taman yang indah dan kesempurnaan yang lebih banyak dapat terwujud.

Anggapan sedemikian ini merupakan anggapan sederhana, melihat satu sisi, dan kurang akurat. Dalam perhitungan seperti ini, kita sejatinya tidak mengetahui hakikat yang sebenarnya bahwa adanya dan tinggalnya orang-orang seperti ini boleh jadi memiliki ribuan efek positif.

Terkadang generasi-generasi  suci dan manusia-manusia layak lahir dari mereka. Demikian juga orang-orang mukmin, orang-orang saleh dengan perantara kaum kafir dan musyrik mereka diuji dan dicoba dan sebagai hasilnya kesabaran dan istiqamah berhadapan dengan kesusahan dan kepayahan yang mereka pikul mereka meraih kesempurnaan. Mereka lalui tingkatan-tingkatan tertinggi kemanusiaan dan kedudukan qurb (kedekatan) di sisi Allah.

Oleh karena itu, apabila kaum perusak, penjahat dan ahli mungkar tidak ada, maka kebanyakan medan ujian dan jalan untuk meraih kesempurnaan dan derajat-derajat tertinggi bagi orang-orang shaleh dan yang mencari kebaikan menjadi tertutup. Masalah ini tidak boleh dipandang sebelah mata dan ditilik dari kejauhan.

Kesimpulannya adalah bahwa hikmah Ilahi menuntut bahwa kejahatan dan kemungkaran sepanjang menyisakan akibat baik dan positif bagi orang-orang saleh, dan sepanjang jalan kebenaran dan keadilan, kebaikan dan perbaikan tidak tertutup, kurang-lebihnya harus ada.

Akan tetapi apabila kezaliman dan kerusakan sedemikian menyeluruh sehingga orang-orang pencari kebenaran dan kesempurnaan, orang-orang baik tidak dapat menemukan jalan lurus kehidupan dan jalan kebenaran tidak dapat dikenali secara total, dalam keaadaan seperti ini, Tuhan akan mencegahnya melalui tiga jalan yang disebutkan di atas dan membatasi kebebasan tirani dan kerusakan.

Perang adalah Fenomena Aksidental atau Sistemis?

Pertanyaan yang lain yang patut dikaji dan dikemukakan di sini adalah apakah terdapat fenomena peperangan sepanjangan perjalanan sejarah manusia  dan hingga kini terdapat pada setiap sudut dunia, mengikut pada sebuah aturan khusus dan sepanjang sejarah umat manusia hingga kini, fenomena ini berada dalam kerangka aturan khusus tersebut dan setelah itu juga akan terjadi berdasarkan aturan tersebut? Ataukah peperangan yang beragam ini merupakan fenomena sporadis dan tidak ada kaitannya sama sekali antara satu dengan yang lain dan setiap perang yang berkecamuk terjadi secara aksidental, tidak mengikut satu aturan manapun dan tidak ada sangkut pautnya dengan perang-perang sebelumnya?

Pertanyaan ini pada hakikatnya berhubungan dengan pembahasan filsafat sejarah dan sosiologi. Secara umum, pembahasan ini mengetengahkan bahwa apakah fenomena-fenomena fisikal dan natural mengikut pada satu aturan dan kanun khusus atau tidak, merupakan fokus pemikiran para filosof humaniora dan sosial. Kami juga telah membahas masalah keteraturan dan ketertataan fenomena-fenomena kemanusiaan dan sosial dalam buku “Jâmi’e wa Târikh az Didgâh-e Qur’ân” yang tidak perlu lagi untuk kita ulang di sini. Akan tetapi masalah yang khususnya berkaitan dengan masalah perang kami menyebutkan tiga pandangan.

1. Jawaban Sosiologi Darwinisme

Perspektif pertama merupakan pandangan yang bersandar pada teori biologi yang terkenal milik Darwin  (1809-1882) seorang naturalis berkebangsaan Inggris. Menurut teori ini setiap tumbuhan atau hewan dari segala jenis tumbuh-tumbuhan dan hewan, mereka berlomba dan berjajal untuk menyediakan makanan dan kebutuhannya yang lain dan harus bersusah payah  dan bertarung dengan mempertaruhkan nyawa berhadapan dengan medan terjal habitatnya untuk dapat bertahan hidup.

Usaha dan upaya terus-menerus ini dalam istilahnya sering disebut sebagai “survival of the fittest” (tanâzu’ baqa) dimana hasilnya adalah terpilihnya dan tinggalnya yang lebih baik. Sosiologi Darwin membekali teori Darwin yang berkaitan dengan ekologi dan biologi makhluk hidup. Dan teori ini mempengaruhi hubungan dan interaksi sosial manusia.

Dalam menjawab teori ini, orang-orang dan kelompok-kelompok manusia, dengan segala tipologi yang beragam, suku bangsa, ras, nasionalitas, kabilah, bahasa dan budaya berperang dan beradu  dan hal ini merupakan perkara natural dan alami.

Dalam pertempuran yang senantiasa ini, sebagian orang dan kelompok yang keluar sebagai pemenang yang lebih maju dan lebih lengkap dan lebih layak untuk melanjutkan kehidupan sosialnya.

Kelompok ini, apakah mengeliminasi secara keseluruhan atau mendudukkan orang-orang atau kelompok-kelompok yang lemah dan cacat dalam dominasi dan koloni mereka.

Menurut pandangan ini, sebagaimana dalam biologi, binatang yang lebih lemah dan tidak memiliki kekuatan untuk membela diri mereka dianggap dan dihukumi punah dan tiada.

Pada ranah sosiologi dan sejarah juga berlaku bahwa kelompok dan masyarakat serta orang-orang yang tidak memiliki kekuatan dan kedigjayaan tidak memiliki kelayakan untuk bertahan. Orang-orang lemah dihukumi punah dan sirna, kecuali mereka tunduk dan menyerah kepada dominasi dan koloni kelompok dan masyarakat yang lebih digjaya.

2. Perspektif Marx

Pandangan kedua dibangun di atas fondasi pendapat filosof Karl Marx. Marx mengklaim bahwa ia telah menemukan kanun filosofis yang bersifat inklusif dan global. Secara asasi ditemukannya setiap fenomena merupakan hasil kontra (tadhâd) antara thesis dan anti-thesis. Pada setiap batin fenomena antara thesis dan anti-thesis berperang  dan dengan berperangnya kedua kontra ini. Dan dari pertempuran ini muncul sebuah fenomena baru yang disebut synthesis yang merupakan gabungan antara thesis dan anti-thesis dan lebih sempurna dari keduanya.

Maktab ini berpandangan bahwa prinsip ini, yaitu prinsip dialektika merupakan sebuah prinsip filsafat yang luas dan berlaku di seluruh penjuru semesta dan fenomena manusia dan sosial juga termasuk di dalamnya.

Oleh karena itu, sosiologi Marxis juga menekankan prinsip dialektika dan menegaskan bahwa pada batin setiap masyarakat terdapat thesis dan anti-thesis. Kontra (tadhâd) yang berlaku di antara kedua fenomena ini, yang tak terhindarkan (undeniable), berujung pada munculnya synthesis yang lebih sempurna dari keduanya. Dan melalui jalan ini, masyarakat memasuki etape sejarah yang baru dan menemukan tatanan yang baru. Oleh karena itu, sejarah bukanlah sesuatu melainkan perang strata sosial. Dan perang adalah sebuah fenomena alami, mengikut aturan dan dalam satu bentuk yang natural, pada setiap tingkatan berdasarkan sebab-sebab dan unsur-unsurnya dan dalam kerangka aturan universal yang akan segera berlaku.

3. Perspektif Islam

Di sini sembari memberikan kritis terhadap dua pandangan di atas, kita memajukan dan mengusulkan pandangan Islam. Tampaknya, kedua pandangan yang disebutkan di atas tertolak baik dari sisi ilmiah atau dari sisi filsafatnya. Dan tidak selaras dengan fondasi pemikiran filsafat Islam. Kanun yang dijelaskan dalam pandangan Islam ihwal fenomena perang  memiliki perbedaan mendasar dengan kedua pandangan yang disebutkan di atas. D sini kami akan menyinggung sebagian dari perbedaan tersebut:

Pertama, Islam di samping menganggap fenomena perang sebagai fenomena yang memiliki aturan, sekali-kali ia tidak pernah mengingkari tanggung jawab dan usaha orang-orang dan anggota komunitas dalam hubungannya dengan perang dan sejarah. Perkara ini sangat berbeda secara fundamental dari dua pandangan di atas. Keharusan keteraturan yang menjadi klaim dua pandangan di atas adalah determinasi sejarah dan penafian ikhtiar manusia dan penegasian tanggung jawabnya dalam hubungannya dengan perang dan kejadian-kejadian serta urusan-urusan sosial lainnya.

Islam tidak memandang bahwa terjadinya perang bukanlah karena faktor determinasi dan keluar dari ranah kebebasan manusia. Akan tetapi Islam beranggapan bahwa manusia dapat mencegah terjadinya perang dan atau menghentikan perang yang kadung meletus dan berkecamuk. Demikian juga Islam memandang manusia bertanggung jawab di hadapan fenomena dan mengancam orang-orang  yang bertindak berdasarkan motivasi penindasan dan melanggar hak-hak orang lain dengan menyulut api peperangan atau orang-orang yang ikut serta dalam peperangan dalam barisan musuh dan orang-orang tiran. Dan demikian juga orang-orang yang tertindas yang tidak membela diri dan tidak  bergerak untuk menuntut hak-haknya. Orang-orang seperti ini kelak akan ditanya dan disoal di hadapan mahkamah Ilahi.

Pendek kata, masing-masing dari kedua belah pihak yang berperang, berangkat dari kehendak bebas dan memiliki ikhtiar dan juga pada pekerjaannya ia bebasapakah motivasi ini baik atau buruk, tertindas atau menindas, pada kubu hak atau batil – akan memuat nilai-nilai etika yang positif atau negatif.

Kedua, masalah ketaatan kepada aturan, pada setiap urusan dan secara umum, dari sudut pandang Islam memiliki tujuan dan bersumber dari hikmat Ilahi. Tidak bermakna semata, hubungan yang tak jelas dan tanpa tujuan antara dua fenomena natural, yang menjadi obyek pemikiran maktab lain.

Aturan alam, sebagai contoh, tidak berkata lebih dari ini bahwa oksigen dan hidrogen adalah dua keadaan dan situasi khusus dan dengan hubungan tertentu yang kemudian menjadi satu komposisi atau mixture. Dan dari komposisi oksigen dan hydrogen ini kemudian muncullah air. Dan atau pada keadaan panas tertentu berubah menjadi uap dan atau uap air pada keadaan, atmosfer dan suasana khusus berubah menjadi air.

Aturan alam ini tidak mengandung makna bahwa seluruh aksi dan reaksi beragam memiliki tujuan tertentu atau tidak. Akan tetapi dalam pemikiran Islam di samping aturan alam tidak ternafikan, ia menegaskan pandangan ini bahwa seluruh aksi dan reaksi ini dan efek dan pengaruh adalah pendahuluan dalam rangka terwujudnya sebuah tujuan yang telah diatur dalam tatanan penciptaan; artinya Allah Swt sedemikian mengatur dan menata fenomena-fenomena yang beragam sehingga pada majemuknya tujuan penciptaan semesta terimplementasi.


[1] . Taurat, Perjalanan yang ditemukan, bab keenam, ayat-ayat 5 hingga 8.

[2] . Para mufassir memberikan penjelasan yang beragam tentang bagaimana para malaikat tahu bahwa manusia adalah pembuat angkara murka dan penumpah darah. Untuk mengetahui lebih jauh, silahkan Anda merujuk kepada kitab-kitab tafsir yang menafsirkan ayat di atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s