Ulul Amr, Bukan Penguasa-Penguasa Muslim [5]

Oleh: Sayyid Said Akhtar R

Banyak saudara-saudara kita dari madzhab Sunni cenderung menafsirkan Ulil Amr sebagai “penguasa di antara kalian”, yaitu penguasa kaum Muslimin. Penafsiran ini tidak bersandar kepada logika akal-sehat; mereka semata bersandar kepada daur sejarah.

Mayoritas kaum Muslimin masih berkutat sebagai sebuah budak  kaum monarki dan penguasa, menafsirkan dan menafsirkan ulang Islam dan al-Qur’an sesuai dengan selera penguasa.

Sejarah kaum Muslimin (seperti sejarah-sejarah bangsa lain) dipenuhi dengan nama penguasa yang nota-bene zalim, pelaku maksiat, dan tiranik yang telah menodai citra kudus Islam. Pembahasan ini  akan dipaparkan lebih jauh  pada akhir bagian tulisan ini.

Penguasa-penguasa ini senantiasa dan akan selalu, berkata kepada kita bahwa mereka adalah Ulul Amr yang disebutkan dalam ayat ini.

Jika Allah Swt memerintahkan kita untuk mentaati raja-raja dan penguasa-penguasa seperti ini, keadaan yang mustahil akan tercipta bagi kaum Muslimin. Pengikut-pengikut sial ini akan dikecam karena telah mencari kemurkaan Allah, terlepas dari apa yang mereka lakukan. Jika mereka mentaati penguasa-penguasa ini, mereka telah membangkang perintah Allah, “Janganlah kalian mentaati seorang pendosa”, dan jika mereka membantah kepada penguasa-penguasa tersebut, mereka tetap membantah perintah Allah untuk taat kepada penguasa Muslim.”

Jadi jika kita terima penafsiran ini, kaum Muslimin dilaknat dengan kemurkaan abadi baik mereka mentaati atau membantah penguasa yang bukan ma’sum tersebut.

Juga, ada penguasa Muslim yang berbeda akidah dan madzhabnya. Ada madzhab Syafi’i, Wahabi, Maliki, Hanafi, serta Syi’ah dan Ibadis. Sekarang, sesuai dengan penafsiran Ahli Sunnah yang berada di bawah seorang Ibadi Sultan (seperti di Oman) harus mengikuti ajaran madzhab Ibadi; dan mereka yang berada di bawah kekuasaan seorang Syiah (seperti di Iran) harus mengikuti ajaran madzhab Syiah.

Apakah orang-orang ini memiliki keberanian untuk mengikuti interpretasi ini hingga akhir penalaran logisnya?

Mufassir populer Sunni, Fakhruddin Razi, menyimpulkan dalam Tafsir Kabir-nya[1] bahwa ayat ini membuktikan bahwa Ulil Amr itu harus ma’sum. Ia berargumen bahwa Allah memerintahkan manusia untuk mentaati Ulil Amr secara mutlak; oleh karena itu, ma’sum bagi Ulul Amr adalah suatu hal yang niscaya. Karena jika ada kemungkinan bagi Ulul Amr melakukan kesalahan atau dosa, hal ini berarti bahwa seseorang harus mentaatinya dan juga membantahnya dalam perbuatannya., dan hal ini tentu saja mustahil terjadi. Lalu, untuk membujuk para pembacanya dari kalangan Ahl al-Bait, ia menciptakan teori bahwa kaum Muslimin secara keseluruhan adalah ma’sum. Penafsiran ini termasuk penafsiran unik, karena tidak ada satu pun ulama yang menganut teori ini dan tidak ada dasarnya sama sekali dalam hadits-hadits. Yang mengejutkan adalah bahwa al-Razi menerimam bahwa setiap Muslim bukan orang ma’sum, namun ia masih saja mengklaim bahwa mereka secara keseluruhan adalah ma’sum. Bahkan anak sekolah dasar sekali pun tahu bahwa 200 ekor sapi ditambah 200 ekor sapi hasilnya adalah 400 ekor sapi bukan seekor kuda.

Namun, al-Razi mengatakan bahwa 70 juta non-ma’sum ditambah 70 juta non-ma’sum akan menghasilkan seorang ma’sum. Tidakkah ia ingin kita percaya bahwa jika seluruh pasien rumah sakit jiwa bergabung bersama menghasilkan seorang yang waras?[2]

Pujangga bangsa Timur, Iqbal Lahore bersajak,

“Otak dua ratus keledai tidak akan

menuai pikiran seorang manusia.”

Jelasnya, dengan ilmunya yang hebat ia mampu menyimpulkan bahwa Ulul Amradalah harus seorang yang ma’sum; namun karena prasangkanya, yang memaksanya untuk berkata bahwa kaum muslimin secara kesulurahan adalah ma’sum.

Juga, ia tidak jeda sejenak untuk melihat bahwa ayat ini memuat kata “minkum” (dari kalian) yang menunjukkan bahwa Ulul Amr yang dimaksud seharusnya berasal dari bagian umat Muslimin, bukan secara kesuluruhan, dan jika sekiranya seluruh kaum Muslimin harus ditaati, maka siapa lagi yang tersisa untuk ditaati?

Arti Sesungguhnya Ulul Amr

Kini kita kembali kepada penafsiran yang benar berkenaan dengan ayat di atas.

Imam Ja’far Sâdiq As berkata bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan ‘Ali bin Abi Tâlib, Hasan dan Husain As.

Setelah mendengar hadits dari Imam Ja’far ini, seseorang bertanya kepada Imam: “Orang-orang berkata, “Mengapa Allah tidak menyebutkan nama ‘Ali dan keluarganya dalam kitab-Nya?”.

Imam menjawab: “Katakan kepada mereka bahwa di dalam al-Qur’an terdapat perintah salat, namun Allah Swt tidak menyebutkan berapa rakaa’t  yang harus dikerjakan; Rasulullahlah yang menjelaskan seluruh permasalahan yang ada dengan seksama, dan perintah zakat diturunkan, akan tetapi Allah tidak menyebutkan zakat dalam setiap empat puluh dirham; Nabilah yang menjelaskan semua ini; dan ketika haji diperintahkan, Allah tidak menyebutkan perintah untuk mengerjakan tawaf tujuh kali – Nabilah yang menjelaskan semua ini. Demikian juga, ayat – taati Allah, dan taati Rasulullah dan Ulil Amri di antara kalian,” berkenaan dengan Ali, Hasan dan Husain As.[3]

Dalam Kitab Kifayatul Athar, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdilah al-Ansari, yang berisikan penjelasan ayat ini.

Ketika ayat ini diwahyukan, Jabir berkata kepada Nabi Saw: Kami tahu bahwa Allah dan Rasul yang dimaksud dalam ayat ini, tapi siapakah Ulil Amri yang ketaatan kepadanya telah digabungkan bersama ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya?” Nabi Saw berkata: “Mereka adalah khalifahku dan imam setelahku. Pertama adalah ‘Ali, kemudian Hasan, kemudian Husain, kemudian ‘Ali putra Husain, kemudian Muhammad bin ‘Ali, yang  telah disebutkan sebagai al-Baqir dalam Kitab Taurat. Wahai Jabir! Engkau akan bersua dengannya. Bilamana engkau berjumpa dengannya, sampaikan salamku untuknya. Ia akan digantikan oleh putranya Ja’far Sadiq, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian ‘Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin ‘Ali, kemudian ‘Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin ‘Ali. Ia akan digantikan oleh anaknya yang namanya dan gelarnya (laqab) sama denganku. Ia akan menjadi Hujjatullah di muka bumi, dan Baqiyatullah di antara manusia. Ia akan menaklukkan dunia yang terbentang dari timur ke barat. Sekian lama  ia akan gaib dari pandangan mata para pengikutnya yang  keimanan kepadanya akan tinggal hanya dalam kalbu orang yang telah diuji oleh Allah dengan keimanan.

Jabir berkata: “Wahai Rasulullah!” Akankah para pengikutnya akan mendapat manfaat dari masa gaibnya?”

Nabi Saw berkata: “Iya. Demi Dia yang mengutusku dengan kenabian, mereka akan dibimbing dengan cahayanya, dan manfaat dari wilayah semasa masa gaibnya, sebagaimana orang-orang mendapatkan manfaat dari sinar matahari ketika berada dibalik mega-mega. Wahai Jabir! Hal ini adalah rahasia dari Allah dan khazanah ilmunya.

Jadi jagalah berita ini selain dari orang-orang yang layak mengatahuinya.”[4]

Hadits ini telah dikutip oleh kitab-kitab Syi’ah. Hadits-hadits Sunni tidak mengutip hadits ini secara detail; namun banyak muhaddits (ahli hadits) Sunni yang merujuk kepada Itsna Asyarah Imam. Sebagaimana akan dijelaskan pada bagian selanjutnya dari buku ini.

Kini kita ketahui siapa “Ulil Amri”, jelas bahwa pertanyaan tentang mentaati para tiran dan penguasa-penguasa zalim tidak relevan sama sekali. Kaum Muslimin tidak diminta oleh ayat ini untuk mentaati penguasa-penguasa zalim, tiranik, jahil, ananiyah, dan yang tenggelam dalam maksiat. Ayat ini hakikatnya  memerintahkan mereka untuk mentaati kedua belas Imam yang telah dijelaskan, mereka semuanya adalah insan-insan suci dari dosa dan salah serta terbebas dari amal dan pikiran jahat.

Mentaati mereka tidak memiliki resiko, potensi azab sama sekali. Tidak, bahkan ketaataan kepada mereka melindungi dari segala macam resiko, karena mereka tidak akan pernah memerintahkan manusia untuk menentang kehendak Allah dan para Imam tersebut memperlakukan manusia dengan cinta, keadilan dan kesetaraan.

Dua Belas Khalifah atau Dua Belas Imam?

Kini, ada baiknya kita merujuk kepada beberapa bagian dari bagian ke 77 Yanabi’ul Mawaddah milik al-Hafid Sulaiman bin Ibrahim al-Qunduzi al-Hanafi.

Sebuah hadits yang populer telah dinukil dalam kitab ini bahwa: “Akan ada dua belas khalifah, seluruhnya berasal dari bangsa Quraisy,” hadits ini dimuat dalam banyak kitab-kitab termasuk al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan al-Tirmidzi.

Penyusun kitab Yanabi’ul Mawaddah menukil banyak hadits yang berisikan sabda Nabi yang menyatakan bahwa: “Aku, Ali, Hasan, Husain dan sembilan keturunan dari Husain adalah insan yang suci dan ma’sum.

Ia juga mengutip bahwa Nabi Saw berkata kepada Imam Husain: “Engkau adalah seorang pemimpin, saudaramu adalah seorang pemimpin. Engkau adalah Imam, anak Imam, saudara Imam. Engkau adalah hujjatullah, anak dari hujjatullah, saudara hujjatullah, dan ayah dari sembilan hujjat. Yang kesembilan adalah al-Mahdi.”

Setelah mengutip banyak hadits yang serupa, ia menulis: “Beberapa ulama berkata bahwa hadits-hadits ini (yang menunjukkan bahwa khalifah sepeninggal Nabi berjumlah dua belas) adalah termasuk hadits masyhur, bersumber dari berbagai sanad (asnad). Kini, dengan berlalunya waktu dan peristiwa-peristiwa bersejarah, kita ketahui bahwa dalam hadits ini Nabi Saw telah merujuk kepada kedua belas Imam dari Ahl al-Baitnya dan keturunannya, karena:

  • Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah dari sahabat-sahabatnya, karena jumlah mereka kurang dari dua belas.
  • Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada para khalifah dari Dinasti Bani Umayyah, karena (a) jumlah mereka lebih dari dua belas; (b) seluruh khalifah dari Bani Umayyah adalah orang-orang zalim dan tiran (kecuali ‘Umar bin Abdul ‘Aziz); dan (c) mereka tidak berasal dari keturunan Bani Hasyim dan Nabi Saw bersabda dalam sebuah hadits bahwa: “Seluruh khalifah berasal dari Bani Hasyim…”
  • Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada para khalifah Dinasti Abbasiyah karena; (a) jumlah mereka lebih dari dua belas; dan (b) mereka tidak memenuhi (tuntutan) ayat: “Katakanlah: Aku tidak memintah upah dari kalian kecuali kecintaan (mawaddah) kepada keluargaku (qurba).” (Qs. 42:23) Juga tidak sesuai dengan hadits al-Kisaa; keturunan Nabi Saw memenuhi tuntutan hadits dan ayat ini.

Oleh karena itu, satu-satunya jalan untuk menafsirkan hadits ini adalah menerima bahwa hadits ini merujuk kepada kedua belas Imam dari keluarga Nabi (Ahl al-Bait), karena mereka, pada masanya, adalah orang-orang yang paling berilmu, paling illustrious, paling bertakwa, paling beriman, paling tinggi dalam garis keturunan nabi, paling mulia dalam kepribadian, paling terhormat di hadapan Allah; dan ilmu mereka bersumber dari datuk mereka (Nabi Saw melalui ayah-ayah mereka, dan warisan dan pengajaran langsung dari Allah Swt.”[5]


[1] . ar-Razi : at-Tafsiru ‘l-kabir, vol.10, hal. l44.

[2] . Meskipun kita tetap memberi hormat kepada pendapat-pendapat yang lain, dan khususnya kepada keyakinan saudara-saudara kita dari Ahlus Sunnah, pada saat yang sama, penulis tidak memiliki alternatif lain kecuali mengkritisi pendapat ar-Razi dengan contoh-contoh tersebut. Tentu saja, kita tidak menganggap bahwa pendapat ar-Razi ini merupakan manifesto seluruh saudara Ahlus Sunnah, (Penerbit).

[3] . Lihat,  al-‘Ayyashi: at-Tafsir, vol. 1, hal-hal.249-250; Fayd al-Kashani: at-Tafsir ) as-Safi), vol.1, hal.364.

[4] . al-Khazzaz: Kifayatu ‘l-Athar, hal. 53

[5] . al-Qunduzi’ Yanabi ‘u ‘l-mawaddah, hal-hal  444-447

30 responses to “Ulul Amr, Bukan Penguasa-Penguasa Muslim [5]

  1. Ping-balik: Banyak saudara-saudara kita dari madzhab Sunni cenderung menafsirkan Ulil Amr sebagai “penguasa di antara kalian”, yaitu penguasa kaum Muslimin. Penafsiran ini tidak bersandar kepada logika akal-sehat; mereka semata bersandar kepada daur sejarah. &laq·

  2. Ping-balik: Banyak saudara-saudara kita dari madzhab Sunni cenderung menafsirkan Ulil Amr sebagai “penguasa di antara kalian”, yaitu penguasa kaum Muslimin. Penafsiran ini tidak bersandar kepada logika akal-sehat; mereka semata bersandar kepada daur sejarah. &laq·

  3. Ping-balik: Banyak saudara-saudara kita dari madzhab Sunni cenderung menafsirkan Ulil Amr sebagai “penguasa di antara kalian”, yaitu penguasa kaum Muslimin. Penafsiran ini tidak bersandar kepada logika akal-sehat; mereka semata bersandar kepada daur sejarah. &laq·

  4. Ping-balik: Banyak saudara-saudara kita dari madzhab Sunni cenderung menafsirkan Ulil Amr sebagai “penguasa di antara kalian”, yaitu penguasa kaum Muslimin. Penafsiran ini tidak bersandar kepada logika akal-sehat; mereka semata bersandar kepada daur sejarah. &laq·

  5. Ping-balik: Banyak saudara-saudara kita dari madzhab Sunni cenderung menafsirkan Ulil Amr sebagai “penguasa di antara kalian”, yaitu penguasa kaum Muslimin. Penafsiran ini tidak bersandar kepada logika akal-sehat; mereka semata bersandar kepada daur sejarah. &laq·

  6. Ping-balik: Banyak saudara-saudara kita dari madzhab Sunni cenderung menafsirkan Ulil Amr sebagai “penguasa di antara kalian”, yaitu penguasa kaum Muslimin. Penafsiran ini tidak bersandar kepada logika akal-sehat; mereka semata bersandar kepada daur sejarah. &laq·

  7. Ping-balik: Banyak saudara-saudara kita dari madzhab Sunni cenderung menafsirkan Ulil Amr sebagai “penguasa di antara kalian”, yaitu penguasa kaum Muslimin. Penafsiran ini tidak bersandar kepada logika akal-sehat; mereka semata bersandar kepada daur sejarah. &laq·

  8. Ping-balik: Banyak saudara-saudara kita dari madzhab Sunni cenderung menafsirkan Ulil Amr sebagai “penguasa di antara kalian”, yaitu penguasa kaum Muslimin. Penafsiran ini tidak bersandar kepada logika akal-sehat; mereka semata bersandar kepada daur sejarah. &laq·

  9. Ping-balik: Banyak saudara-saudara kita dari madzhab Sunni cenderung menafsirkan Ulil Amr sebagai “penguasa di antara kalian”, yaitu penguasa kaum Muslimin. Penafsiran ini tidak bersandar kepada logika akal-sehat; mereka semata bersandar kepada daur sejarah. &laq·

  10. Ping-balik: Banyak saudara-saudara kita dari madzhab Sunni cenderung menafsirkan Ulil Amr sebagai “penguasa di antara kalian”, yaitu penguasa kaum Muslimin. Penafsiran ini tidak bersandar kepada logika akal-sehat; mereka semata bersandar kepada daur sejarah. &laq·

  11. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  12. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  13. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  14. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  15. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  16. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  17. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  18. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  19. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  20. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  21. Ping-balik: Hadis 12 khalifah menghancurkan mazhab sunni dan membongkar kebohongan sunni « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Brunei.. Web ini membantu N.U dan Rakyat Malaysia melawan Salafi Wahabi demi persatuan islam, demi·

  22. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  23. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  24. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  25. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  26. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  27. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  28. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  29. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s