Imam Husain As Perspektif Ahlussunnah

Oleh: Ali Ashghar Ridhwani

Mukadimah

Maktab Tasyayyu’ atau Mazhab Ahlulbait memiliki faktor-faktor dan peran-peran penting yang mampu menggiringnya untuk meraih dan mendulang kemenangan, dengan faktor-faktor inilah sehingga maktab ini tidak saja mampu menjaga dan mempertahankan dirinya dari cengkeraman dan ancaman tangan-tangan musuhnya, bahkan hal-hal tersebut jualah yang telah menjadikannya semakin hari semakin dewasa, berkembang dan mampu menyadarkan masyarakat Islam lainnya dari tidur mereka yang lelap. Dan salah satu dari faktor penting tersebut adalah ritual Asyura.

Kebangkitan Imam Husain As dan ritual Asyura merupakan sepercik semangat yang mampu memantik dan membangunkan bangsa-bangsa untuk melakukan revolusi dan memberikan perlawanan mereka di hadapan kekuatan-kekuatan tirani dan arogan, karena dengan memperhatikan slogan-slogan Husain As yang sarat dengan semangat, keberanian, antusiasme, sekaligus diiringi dengan kelembutan seperti “Sesungguhnya kehinaan sangat jauh dari kami”, “Sesungguhnya aku ingin melakukan amar makruf dan nahi munkar” dan sebagainya telah mampu memicu munculnya kekuatan di dalam diri manusia untuk berontak di hadapan pelanggaran hak-hak asasi manusia dan memberanguskan segala penyimpangan yang terjadi di dalam agama Islam yang suci.

Kita bisa menyaksikan contoh dari hal ini dengan baik pada revolusi Islam yang terjadi di negara Iran dalam perlawanannya versus Irak, bahkan pada perlawanan-perlawanan dan revolusi-revolusi yang terjadi di Negara-negara Islam dan non Islam lainnya.

Pada bulan Desember tahun 1984 Fakultas Sejarah Universitas Tel Aviv bekerjasama dengan Lembaga Observasi Syiluhah -sebuah Lembaga Penelitian Swasta yang memiliki hubungan dengan rezim Yahudi- menyelenggarakan sebuah konferensi yang dihadiri oleh sekitar tiga ratus pengamat Syiah Dunia tingkat pertama, dimana dalam waktu yang relatif singkat, yaitu selama tiga hari, mereka mampu menyajikan tiga puluh buah makalah. Berdasarkan perkataan Martin Cramer, salah satu dari Pengamat Syiah Dunia yang adalah juga ketua panitia penyelenggara konferensi ini, tujuan utama diselenggarakannya konferensi ini tak lain adalah untuk mengenal pemahaman-pemahaman asasi yang berlaku dalam kultur dan kebudayaan Syiah Itsna Asyara (Syiah Dua Belas Imam atau Syiah Imamiyah), kemudian mengidentifikasi revolusi Islam yang terjadi di Negara Iran. Orang-orang penting yang hadir di dalam konferensi ini bisa disebutkan antara lain seperti Daniel Brumberg, Marvin Zunis, Michael M. J. Fisher, Bernard Lewis, Martin Cramer sendiri, serta para pengamat Syiah dan para pengamat Orientalis lainnya.

Makalah yang mereka sajikan pada konferensi ini seratus persen merupakan makalah yang detail, observatif, bersandar pada teks-teks penelitian yang paling rumit, dan berisi tentang metode-metode paling mendalam dalam menganalisa agama, aliran, mazhab, kultur dan peradaban. Pada ceramah pembukaannya, Martin Cramer sebagai ketua panitia menyebutkan bahwa tujuan pokok dari pengidentifikasian pemahaman-pemahaman mendasar dalam kultur Syiah adalah untuk mengenal revolusi Islam.

Setelah melakukan berbagai pembahasan dan analisa, konferensi ini menyimpulkan adanya dua pemahaman penting dan fundamen yang menjadi titik poin parameter wacana, analis, serta indikasi. Dalam pandangan para pengamat Syiah ini, wacana yang memegang parameter pertama adalah pandangan yang dimiliki oleh para penganut Syiah terhadap tragedi padang Karbala dan hubungan langsung serta terilhaminya revolusi-revolusi berdarah yang terjadi di kalangan para Syiah dengan tragedi padang Karbala yang terjadi pada tahun 61 Hijriah ini.

Dalam konferensi ini diketengahan pula persoalan-persoalan yang berkaitan dengan Imam Husain As, dimana salah satunya berupa sebuah makalah yang bertajuk “Tasyayyu’ Dalam Riwayat Imam Khomeini”. Makalah ini ditulis oleh Marvin Zunis dan Daniel Brumberg. Pada sebagian dari makalah ini dituliskan, “Penegasan syahadah dalam akidah dan keyakinan Imam Khomeini menunjukkan bahwa syahadah memegang peran yang penting dan istimewa dalam tasyayyu’. Meskipun pemahaman syahadah merupakan suatu hal yang tidak asing pula dalam pemikiran para penganut Sunni, akan tetapi di dalam aliran ini pemahaman syahadah tidak mempunyai posisi yang fundamental dan asasi, karena Islam Sunni tidak terilhami oleh seorang sosok mazhabi semacam al-Husain (As) yang rela mengorbankan dirinya di jalan akidah dan keyakinannya. Akan tetapi tidak demikian halnya dengan yang terjadi dalam pemikiran Tasyayyu’ Itsna Asyara, tema kesyahidan al-Husain (As) hingga kesyahidan seluruh Aimmah (As) merupakan sebuah persoalan yang sangat prinsip. Husain (As) dengan pengorbanan yang dipersembahkannya di jalan Islam telah mampu menempatkan dan menentukan kewajiban-kewajiban yang harus diemban dalam pundak-pundak generasi-generasi Syiah selanjutnya, sedemikian sehingga mereka memiliki slogan terkenal yang berbunyi, “Seluruh tahun adalah Muharram, seluruh hari adalah Asyura, dan seluruh bumi adalah Karbala”, dengan artian bahwa peringatan syahidnya al-Husain (As) akan senantiasa diingat dan dikenang oleh mereka dengan prosesi dan ritual-ritual yang menggelora dan sarat dengan kandungan-kandungan hakiki Karbala untuk mengagungkan kesyahidan beliau. Dan tema inilah yang telah memberikan warna, kandungan dan sensasi yang luar biasa dalam pemahaman Tasyayyu’.”

Dalam seminar lain yang dihadiri oleh orang-orang penting seperti Michael Voco, Clear Barier, Pir Blansh –dua orang terakhir adalah wartawan ternama dari surat kabar Perancis- mengemukakan persoalan-persoalan yang sangat sensitif dalam kaitannya dengan kebangkitan dan revolusi Imam Husain As serta peran beliau dalam kultur dan peradaban Syiah Imamiah, Clear Barier dalam seminar tersebut mengatakan, “Di Negara Iran, demonstrasi terjadi dalam makna yang hakiki dan riil, oleh karena itu akan lebih tepat apabila kita mengatakannya dengan kata ‘Penyaksi’. Di Negara Iran, seluruh masyarakat berbicara tentang Husain, dan siapakah Husain ini sebenarnya?”[1]

Sebagaimana yang telah dikatakan, ketika para musuh ini menyadari akan penting dan urgensinya tragedi Karbala, tradisi Asyura dan pengaruh-pengaruh yang ditimbulkannya pada diri para pengikut Syiah Imamiah, mereka lantas bergerak untuk mengantisipasi dan menggagalkan segala aspek-aspek yang ditimbulkannya dalam bentuk dan ukuran sekecil apapun. Salah satu dari tindakan yang mereka lakukan adalah mencuatkan keraguan-keraguan dalam kaitannya dengan tragedi Karbala dan persoalan-persoalan yang berhubungan dengannya. Oleh karena itu ada baiknya jika keraguan-keraguan ini kita letakkan sebagai view poin pembahasan dan analis, lalu kita berikan jawaban yang kuat untuknya. Keistimewaan yang dimiliki oleh kitab yang berada di hadapan para pembaca ini adalah karena ia ditulis berdasarkan hal-hal di atas dan memberikan analisa terhadap persoalan-persoalan yang berkaitan dengannya dari pandangan kalam dan sejarah, kitab ini juga mengungkapkan dan menyajikan pembahasannya dalam bentuk yang jelas dengan tetap menjaga prinsip asasi dari titik poin pembahasan, dan analisa bahasannya disertai dengan berbagai argumentasi dari al-Quran, hadis dan argumentasi rasional, dengan demikian akan raib dan hilang-lah media-media serta lahan-lahan yang memunculkan dan menciptakan keraguan-keraguan, dimana salah satunya berkaitan dengan tragedi agung ini.

Kami berharap gerak dan tindakan ini akan mendapatkan setitik perhatian dari Aba Abdillah al-Husain As dan akan memberikan manfaat dalam langkah untuk mencari kebenaran dan hakikat.

Penulis mengharapkan dari seluruh pembaca, terutama para ulama dan para cendekiawan untuk memaafkan segala kekurangan dan memberikan saran-saran konstruktif untuk memperbaikinya.

Dan pada akhirnya penulis menghaturkan segala rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu tersusunnya kitab ini, semoga segalanya mendapatkan balasan dan pahala dari sisi Tuhan Yang Maha Tinggi.

Imam Husain As Perspektif Ahlussunnah

Dengan merujuk pada kitab-kitab hadis dan kitab-kitab terjemahan Ahlu Sunnah, kita akan memahami bahwa di mata mereka, Imam Husain As memiliki kedudukan yang terhormat dan memiliki keagungan yang istimewa.

Dan di bawah ini kami akan mengetengahkan sebagian dari biografi beliau:

Kelahiran Imam Husain As

  1. Ibnu Abdul Barra menuliskan: “Husain bin Ali bin Abi Thalib dengan kuniyah Aba Abdillah, lahir pada tanggal 5 Sya’ban tahun ketiga atau keempat Hijriyah dari seorang ibunda bernama Fatimah az-Zahra yang adalah putri Rasulullah saw. Dan ini merupakan pendapat dari kalangan pengikutnya.”[2]
  2. Pada kitab Akhbar ad-Duwal dituliskan, “Ketika berita tentang kelahiran Husain As sampai kepada Rasulullah saw, beliau segera mendatangi rumah putri kinasihnya Fatimah az-Zahra As, dan mengangkat bayi mungil yang baru lahir tersebut lalu mengucapkan azan di telinga kanan dan membacakan iqamah di telinga kirinya. Pada saat itu malaikat Jibrail turun dan memerintahkan kepada Rasul saw untuk memberikan nama Husain kepadanya, sebagaimana hal ini terjadi pula pada saat kelahiran Hasan.”[3]
  3. Sabath bin al-Jauzi mengatakan, “Kuniyahnya adalah Aba Abdillah, dan laqab serta julukannya adalah Sayyid Wafa, Wali, Sabth dan Syahid Karbala.”[4]

Ibadah Imam Husain As

  1. Ibnu Abdarabbah meriwayatkan bahwa seseorang telah berkata kepada Ali bin al-Husain As dengan mengatakan, “Kenapa keturunan ayahmu hanya sedikit?” Beliau menjawab, “Yang membuatku kagum justru bagaimana dia bisa memiliki keturunan sedangkan dalam sehari semalam dia melakukan shalat sebanyak seribu rekaat, dengan kondisi seperti ini bagaimana dia bisa meluangkan waktu untuk para perempuan?”[5]
  2. Ibnu Shabaqh Maliki meriwayatkan, “Wajah Imam Husain As akan berubah menjadi pucat pasi ketika berdiri untuk melakukan shalat. Seseorang bertanya, “Keadaan macam apa ini yang engkau perlihatkan ketika melakukan shalat?” Imam As bersabda, “Kalian tidak mengetahui di hadapan siapa aku berdiri.”[6]
  3. Zamakhsyari meriwayatkan bahwa suatu kali dia menyaksikan Husain bin Ali As tengah melakukan thawaf di rumah Ka’bah. Beliau bergerak melangkah ke arah maqam Ismail dan melakukan shalat di sana. Setelah selesai shalat beliau meletakkan wajahnya di atas maqam dan mulai menangis terisak-isak sambil berkata, “Duhai, lihatlah, hamba kecil-Mu tengah berdiri di depan pintu-Mu, lihatlah pelayan kecil-Mu tengah berdiri di depan pintu-Mu, dan seorang pengemis tengah berdiri di depan pintu-Mu.” dan beliau mengulang kalimat ini terus menerus. Setelah itu Imam As keluar dari tempat tersebut dan menujukan pandangannya pada sekelompok orang yang tengah menyantap sepotong roti. Imam As mengucapkan salam dan mereka membalasnya lalu mengundang beliau untuk duduk bersama mereka menyantap makanan. Imam As duduk di dekat mereka dan bersabda, “Jika makanan kalian ini bukan merupakan sedekah, maka aku akan menyantapnya bersama kalian”. Setelah menyantap makanan, kepada mereka beliau bersabda, “Sekarang bangkit dan datanglah ke rumahku”. Dan Imam As pun menjamu serta memberikan baju kepada mereka.[7]
  4. Dari Abdullah bin Ubaid bin Umair meriwayatkan dimana ia berkata, “Husain bin Ali As melakukan 25 kali ibadah haji dengan berjalan kaki, sementara kuda tunggangannya yang luar biasa itu berada bersamanya.”[8]
  5. Ibnu Abdul Barra mengatakan, “Husain As adalah seorang lelaki yang mulia dan religius. Dia begitu banyak melakukan shalat, puasa dan haji.”[9]
  6. Thabarri dengan sanadnya dari Dhihak bin Abdullah Masyriqi menukilkan bahwa ia berkata, “Ketika berada di padang Karbala, begitu malam tiba, Husain As dan para sahabatnya akan mengisi keseluruhan malam tersebut dengan shalat, istighfar, doa dan tadharru’.”[10]

Kesabaran Imam Husain As

  1. Dari Imam Ali bin Husain As diriwayatkan bahwa beliau bersabda, “Aku mendengar dari Husian As yang bersabda, “Jika seseorang mencemoohku di telinga kananku dan meminta maaf di telinga kiriku, niscaya aku tetap akan menerima permintaan maafnya, karena Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As bersabda kepadaku bahwa beliau mendengar dari kakekku yang mulia Rasulullah saw yang bersabda, “Seseorang yang tidak menerima permintaan maaf dari selainnya, maka kelak ia tidak akan memasuki kolam -kautsar- ku, baik dia berhak maupun tidak.”[11]
  2. Salah satu dari budak Imam Husain As melakukan suatu perbuatan maksiat yang hal ini mengakibatkannya berhak untuk mendapatkan hukuman, Imam As memberikan perintah untuk menghukumnya. Namun si budak memohon belas kasih dari Imam As dengan mengatakan, “Wahai maula dan junjunganku! Allah Swt dalam salah satu ayat-Nya berfirman, dan orang-orang yang menahan amarahnya … “,[12] mendengar perkataan budaknya tersebut, Imam As lantas bersabda, “Lepaskanlah dia, aku telah meredam kemarahanku”, kembali si budak berkata, ” … dan memaafkan (kesalahan) orang ... ,[13] Imam As bersabda, “Aku telah memaafkannya”, lalu si budak melanjutkan dengan berkata, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan,[14] dan Imam As pun bersabda, “Engkau bebas di jalan Allah Swt”, setelah itu beliau memerintahkan supaya memberikan hadiah yang layak untuk si budak.[15]

[1] . Tahajum ya Tafawut Farhanggi, Hasan Bulkhari.

[2] . Al-Isti’ab, jilid 1, hal. 143.

[3].   Akhbar ad-Duwal wa Atsar al-Awwal, hal. 107.

[4] . Tadzkiratul Khawash, hal. 232.

[5] . Al-‘Iqdu al-Farid, jilid 2, hal. 220.

[6] . Al-Fushul al-Muhimmah, hal. 183.

[7] . Rabi’ al-Abrar, hal. 210.

[8] . Shifat ash-Shufwah, jilid 1, hal. 321; Asad al-Ghayah, jilid 3, hal. 20.

[9] . Al-Isti’ab, jilid 1, hal. 393.

[10] .Tarikh Tabarri, jilid 5, hal. 421.

[11] . Nazhm Durari as-Simthain, Zarandi, hal. 209.

[12] . Qs. Ali Imran: 134.

[13] . Ibid.

[14] . Ibid.

[15] . Wasilah al-Maal, Hadhrami, hal. 183.

One response to “Imam Husain As Perspektif Ahlussunnah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s