Syi‘ah Pada Abad Ketiga Hijriah

Oleh: Allamah Thabathabai

Di permulaan abad ketiga, Syi‘ah mulai bisa menarik napas lega. Hal itu disebabkan oleh hal-hal berikut:

Pertama, buku-buku filsafat dan ilmiah dari bahasa Yunani, Suryani, dan lain sebagainya banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan banyak masyarakat umum yang gemar untuk mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan rasional dan argumentatif. Lebih dari itu, Ma’mun—seorang khalifah dinasti Bani Abasiyah yang bermazhab Mu‘tazilah—sangat gemar terhadap argumentasi rasional dalam memahami mazhab. Dengan demikian, ia memberikan kebebasan penuh kepada setiap dialog argumentatif-rasional tentang agama dan mazhab. Para ulama dan teolog Syi‘ah menggunakan kebebasan ini (sebaik-baiknya) dan mereka tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk mengadakan kegiatan ilmiah dan menyebarkan mazhab Ahlulbait as.[1]

Kedua, sesuai dengan perhitungan catur politiknya, Ma’mun mengangkat Imam Kedelapan Syi‘ah untuk mejadi putra mahkota. Sebagai akibatnya, para keturunan Ali as dan pengikut Ahlulbait as—minimal—terjaga dari gangguan para penguasa pemerintahan dan—sedikit banyak—memiliki kebebasan.

Akan tetapi, tidak lama berselang, pedang tajam kembali menebas Syi‘ah dan cara lama para khalifah diaktifkan kembali. Khususnya, pada masa pemerintahan Mutawakkil al-‘Abasi (232-247 H.) yang memiliki permusuhan khusus terhadap Ali as dan atas perintahnya, makam suci Imam Ketiga Syi‘ah Imamiah di Karbala diratakan dengan tanah.[2]

Syi‘ah Pada Abad Keempat Hijriah

Pada abad keempat Hijriah, muncul beberapa faktor yang memiliki peran besar dalam menyebarkan dan memperkuat mazhab Syi‘ah. Di antaranya adalah lemahnya pondasi kerajaan dinasti Bani Abasiyah dan berkuasanya raja-raja dari dinasti keluarga Bûyeh.

Para raja dinasti keluarga Bûyeh yang bermazhab Syi‘ah itu memiliki pengaruh besar di dalam pusat kekhalifahan, Baghdad dan dalam diri Khalifah sendiri.[3] Kekuatan yang cukup mumpuni ini memberikan kesempatan kepada Syi‘ah untuk unjuk diri di hadapan para penentangnya yang selama ini selalu menghambat kekhalifahannya dan untuk menampakkan jati diri mazhabnya dengan leluasa.

Para sejarawan menegaskan bahwa pada abad ini, seluruh penduduk jazirah Arabia atau mayoritas mereka telah menjadi pengikut mazhab Syi‘ah, kecuali (mereka yang hidup di) kota-kota besar. Meskipun demikian, penduduk sebagian kota-kota besar, seperti kota Hajar, Oman, dan Sha‘dah telah memeluk mazhab Syi‘ah. Antara kota Bashrah sebagai pusat mazhab Ahlusunah dan kota Kufah sebagai pusat mazhab Syi‘ah selalu terjadi kompetisi mazhab, dan jumlah penduduk yang bermazhab Syi‘ah (di kota tersebut) layak untuk diperhitungkan. Di kota Tharablus, Nablus, Thabariyah, Halab, dan Harat banyak ditemukan pengikut mazhab Syi‘ah. Dan di kota Ahvaz dan tepian pantai Teluk Persia pun mazhab Syi‘ah telah tersebar dengan pesat.[4]

Di permulaan abad ini juga Nashir Athrusy—setelah bertahun-tahun melakukan tablig di daerah Iran bagian utara—berhasil menguasai Thabaristan dan ia mendirikan sebuah kerajaan di sana yang bisa bertahan hingga beberapa generasi. Sebelum Athrusy, Hasan bin Zaid al-‘Alawi juga pernah berkuasa di daerah Thabaristan tersebut.[5]

Pada abad ini juga dinasti Fatimiyah yang bermazhab Syi‘ah Isma‘iliyah berhasil menguasai Mesir dan mendirikan sebuah kerajaan yang bertahan cukup lama (296-527 H.)[6]

Sangat sering terjadi percekcokan, baku-hantam, dan penyerangan-penyerangan antara Syi‘ah dan Ahlusunah di kota-kota besar, seperti Baghdad, Bashrah, dan Nisyabur, dan di sebagian percekcokan dan baku-hantam itu Syi‘ah berhasil keluar sebagai pemenang.

Syi‘ah Pada Abad Kesembilan Hijriah

Dari abad kelima hingga penghujung abad kesembilan Hijriah, Syi‘ah terus mengalami perkembangan sebagaimana yang pernah terjadi pada abad keempat Hijriah. Banyak raja bermazhab Syi‘ah yang muncul dan selalu menyebarkan mazhab yang satu ini.

Di penghujung abad kelima Hijriah, dakwah Syi‘ah Isma‘iliyah menghujamkan akarnya di benteng-benteng Alamût. Mazhab ini hidup di jantung negara Iran dengan penuh kebebasan dan keleluasaan selama hampir satu setengah abad.[7] Para sayid yang bermarga al-Mar‘asyî di Mazandaran berhasil memerintah selama bertahun-tahun.[8]

Syah Khudâ Bandeh—salah seorang raja Mongol—adalah seorang pemeluk mazhab Syi‘ah. Para keturunannya dari dinasti kerajaan Mongol pernah berkuasa di Iran selama bertahun-tahun dan menyebarkan mazhab Syi‘ah. Tidak ketinggalan juga para raja dari dinasti Aq Quyunlu dan Qarah Quyunlu yang pernah berkuasa di Tabriz[9] dan daerah kekuasaan mereka menyebar hingga ke daerah Fars dan Kerman. Begitu juga dinasti Fatimiyah yang pernah berkuasa di Mesir selama bertahun-tahun.

Bagaimanapun, kekuatan mazhab sebuah golongan tergantung pada para raja yang berkuasa. Setelah dinasti Fatimiyah tergulingkan dan para raja dinasti keluarga Ayub berkuasa, lembaran sejarah berbalik dan Syi‘ah di daerah Mesir dan Syâmât kembali kehilangan kebebasan untuk mempraktikkan mazhabnya, serta tidak sedikit leher para pengikut Syi‘ah yang harus terpenggal.[10] Di antaranya adalah Syahid Awal, Muhammad bin Muhammad al-Makkî, salah seorang pelopor fiqih Syi‘ah yang jenius. Ia dibunuh pada tahun 786 Hijriah di Damaskus karena tuduhan memeluk mazhab Syi‘ah.[11] Begitu juga Syaikh al-Isyrâq, Syihabuddin Sahruwardi yang dibunuh di Halab karena tuduhan mengajarkan filsafat.[12]

Secara keseluruhan, selama lima abad tersebut, mazhab Syi‘ah mengalami peningkatan dari sisi kuantitas, dan dari sisi kekuatan dan kebebasan untuk mengamalkan ajaran-ajaran mazhab, ia mengikuti kesepakatan dan penentangan para raja yang berkuasa pada waktu itu. Dan selama periode tersebut mazhab Syi‘ah tidak pernah dinobatkan sebagai sebuah mazhab resmi di negara Islam mana pun yang pernah muncul kala itu.

Syi‘ah Pada Abad Kesepuluh dan Kesebelas Hijriah

Pada tahun 906 Hijriah, seorang pemuda berusia tiga belas tahun yang berasal dari keturunan Syaikh Shafî Ardebîlî (wafat 735 H.)—seorang syaikh tharîqah di dalam mazhab Syi‘ah—bangkit melakukan perjuangan di daerah Ardebil bersama tiga ratus orang pengikut setia nenek moyangnya demi mendirikan sebuah negara Syi‘ah yang independen dan kokoh. Ia taklukkan seluruh negara-negara tetangganya dan meruntuhkan sistem kerajaan dinasti Ashkani dan dinasti Suluki (Mulûk ath-Thawâ’ifî) yang berkuasa kala itu. Setelah melakukan peperangan berdarah dengan raja-raja tetangga, khususnya dengan para raja dari dinasti keluarga Utsman yang memegang kendali imperialisme Utsmaniyah, ia berhasil menyatukan Iran yang telah terpecah-belah menjadi sebuah negara yang bersatu dan memproklamasikan mazhab Syi‘ah sebagai mazhab resmi negara.[13] Setelah Syah Isma‘il Shafawî meninggal dunia, para raja dari dinasti Shafawiyah memerintah hingga pertengahan abad kedua belas Hijriah dan mereka, satu per satu, memperkuat dan memperkokoh keresmian mazhab Syi‘ah Imamiyah. Sehingga pada waktu mereka berada di atas puncak kekuasaan (pada masa Syah Abbas Yang Agung), mereka berhasil memperluas daerah kekuasaan negara dan menambah jumlah penduduk sebanyak dua kali lipat jumlah penduduk Iran sekarang (tahun 1384 H.).[14] Mazhab Syi‘ah—selama dua setengah abad ini—di seluruh negara Islam tidak jauh berbeda dengan kondisi sebelumnya dan para pengikutnya tetap bertambah secara normal.

Syi‘ah Pada Abad Kedua Belas hingga Keempat Belas Hijriah

Selama tiga abad terakhir ini, perkembangan mazhab Syi‘ah tetap berjalan secara normal sebagaimana abad-abad sebelumnya. Sekarang, di penghujung abad keempat belas ini, Syi‘ah adalah sebuah mazhab resmi di Iran. Di Yaman dan Irak, para pengikut mazhab Syi‘ah membentuk komunitas penduduk terbesar. Di seluruh negara dunia yang berpenduduk muslim, sedikit-banyak akan ditemukan para pengikut mazhab Syi‘ah. Secara keseluruhan, terdapat sekitar seratus juta pengikut mazhab Syi‘ah yang hidup di berbagai negara di dunia ini.[15]


[1] Silakan rujuk buku-buku sejarah.

[2] Târîkh Abil Fida’ dan buku-buku sejarah lainnya.

[3] Silakan rujuk buku-buku sejarah.

[4] Al-Hadhârah al-Islamiyah, jilid 1, hal. 97.

[5] Murûj adz-Dzahab, jilid 4, hal. 373; al-Milal wa an-Nihal, jilid 1, hal. 254.

[6] Târîkh Abil Fida’, jilid 2, hal. 63 dan jilid 3, hal. 50.

[7] Silakan rujuk buku-buku sejarah, seperti al-Kâmil, ash-Shafâ, dan Habîb as-Sair.

[8] Târîkh Abil Fida’, jilid 3; al-Kâmil fî at-Târîkh.

[9] Habîb as-Sair.

[10] Habîb as-Sair; Târîkh Abil Fida’.

[11] Raudhât al-Jannât dan Riyâdh al-‘Ulamâ’, menukil dari kitab Raihânah al-Adab, jilid 2, hal. 365.

[12] Raudhât al-Jannât; al-Majâlis; Wafayât al-A‘yân.

[13] Raudhah ash-Shafâ; Habîb as-Sair.

[14] Ibid.

[15] Data statistik ini berhubungan dengan masa lima puluh tahun yang lalu. Jumlah komunitas Syi‘ah di seluruh dunia sekarang lebih dari tiga ratus juta orang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s