Metode Politik Konsep Khilafah Dan Berbedanya Dengan Pandangan Syi‘ah

Oleh: Allamah Thabathabai

Syi‘ah meyakini bahwa syariat samawi agama Islam yang bahan dasarnya tercantum di dalam Al-Qur’an dan hadis Rasulullah saw adalah kekal hingga Hari Kiamat tiba[1] dan ia tidak akan mengalami perubahan (dan perombakan), serta negara Islam—dengan alasan apapun—tidak boleh menon-aktifkan pengaktualisasiannya. Satu-satunya tugas negara Islam adalah—sesuai dengan kemalahatan masanya—mengambil keputusan sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariat melalui sebuah badan permusyawaratan. Akan tetapi, dalam hal ini, disebabkan oleh kesediaan Syi‘ah untuk berbai’at meskipun secara politis dan dari peristiwa “pena dan kertas” yang terjadi di masa-masa Rasulullah saw sakit, dapat dipahami bahwa para sutradara dan penganut konsep khilafah meyakini, Kitab Allah harus terperlihara sebagai sebuah undang-undang dasar.

Akan tetapi, mereka tidak memberikan nilai sedikit pun kepada sunah dan penjelasan-penjelasan Rasulullah saw (dalam hal ini). Bahkan, mereka meyakini, pemerintahan Islam—sesuai dengan tuntutan kemaslahatan—dapat menon-aktifkan sunah dan penjelasan-penjelasan tersebut. Prinsip ini telah dikuatkan dengan hadis-hadis yang—setelah periode itu—dinukil untuk keutamaan para sahabat, seperti hadis “para sahabat adalah mujtahid, jika mereka benar dalam ijtihadnya, maka mereka akan mendapatkan pahala dan jika salah, maka mereka akan dimaafkan.” Contoh yang sangat jelas untuk itu terjadi ketika Khalid bin Walid, salah seorang komandan tentara Khalifah, bertamu ke rumah salah seorang Muslim yang terkenal bernama Malik bin Nuwairah di malam hari. Khalid menyerangnya secara tiba-tiba dan membunuhnya. Ia meletakkan kepalanya di dalam tungku api dan membakarnya. Di malam itu juga Khalid memperkosa istrinya. Setelah kejahatan-kejahatan yang sangat  memalukan ini terjadi, Khalifah—dengan alasan pemerintahan Islam masih memerlukan seorang komandan sepertinya—enggan melaksanakan hukum Islam atas Khalid bin Walid.[2]

Begitu juga, mereka telah melarang pembagian saham khumus kepada Ahlulbait as dan keturunan Rasulullah saw.[3] Penulisan hadis pun—secara mutlak—dilarang. Jika ditemukan sebuah hadis tertulis di suatu tempat atau hadis itu dirampas dari seseorang, mereka mengumpulkannya, lalu membakarnya.[4] Pelarangan penulisan hadis ini berlanjut dari masa Khulafa’ur Rasyidin hingga periode pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, salah seorang khalifah dari dinasti Bani Umaiyah (99-102 H.).[5] Pada masa Khalifah Kedua (13-25 H.), politik ini dipraktikkan secara lebih terang-terangan dan tegas, dan dengan memanfaatkan fungsi kekhalifahannya, ia telah melakukan pelarangan terhadap pengamalan beberapa syariat Islam, seperti haji Tamattu’, nikah Mut’ah, dan pengucapan “hayya ‘alâ khoiril ‘amal” di dalam azan,[6] dan mengesahkan pelaksanaan tiga kali talak (dalam satu mejelis) dan lain sebagainya.[7]

Pada masa kekhalifahan Umar juga Baitul Mal—untuk pertama kalinya—dibagikan di antara masyarakat dengan tidak rata.[8] Hal ini—pada masa-masa berikutnya—telah menimbulkan perbedaan kasta yang sangat parah dan peristiwa-peristiwa berdarah yang sangat mengerikan di tengah-tengah umat Islam. Pada masa kekhalifahannya, Mu‘awiyah memerintah di negeri Syam (Syiria) dengan cara kerajaan, kekisraan, dan kekaisaran. Khalifah memberikan julukan “Kisra Arab” kepadanya, dan ia tidak pernah memprotes tindakannya itu.

Khalifah Kedua dibunuh oleh seorang budak berkebangsaan Iran pada tahun 23 H. dan sesuai dengan pendapat mayoritas “Badan Syura” yang beranggotakan enam orang yang dibentuk atas perintahnya, Khalifah Ketiga berhasil menduduki kursi kekhalifahan. Pada masa kekhalifahannya, ia telah mendudukkan seluruh familinya dari keturunan Bani Umaiyah di kursi-kursi pemerintahan. Di Hijaz, Irak, Mesir, dan seluruh kawasan pemerintahan Islam, seluruh tampuk kepemimpinan diserahkan kepada mereka.[9] Mereka telah meletakkan bangunan cara hidup tak terikat (dengan hukum Islam). Mereka secara terang-terangan telah melakukan kelaliman, kefasikan, kriminalitas, dan pelanggaran terhadap seluruh hukum-hukum Islam yang masih berlaku. Banjir pengaduan telah datang melanda Dârul Khilâfah dari setiap penjuru pemerintahan Islam. Akan tetapi, Khalifah yang telah dikuasai oleh para budak-budak Umaiyah, khususnya Marwan bin Hakam,[10] itu tidak pernah menggubris seluruh pengaduan tersebut. Bahkan, kadang-kadang ia mengeluarkan perintah untuk mempersulit dan menangkap para pengadu.[11] Akhirnya, pada tahun 35 H., masyarakat memberontak kepadanya dan setelah beberapa hari pengepungan dan baku hantam, mereka berhasil membunuhnya.

Pada masa kekhalifahannya, Khalifah Ketiga telah memperkuat daerah Syam yang dikuasai oleh salah seorang familinya dari Bani Umaiyah, yaitu Mu‘awiyah, melebihi masa-masa sebelumnya. Pada hakikatnya, kekuatan kekhalifahan Islam terfokus di Syam dan pemerintahan Madinah sebagai Dârul Khilâfah hanya dipoles dengan Islam secara lahiriah.[12]

Kekhalifahan Khalifah Pertama terbentuk dengan pemilihan “mayoritas” sahabat[13], kekhalifahan Khalifah Kedua terlaksana atas dasar wasiat Khalifah Pertama, dan kekhalifahan Khalifah Ketiga terwujud atas dasar pemilihan “Badan Syura” yang beranggotakan enam orang yang seluruh anggota dan aturan permainannya telah ditentukan dan diatur oleh Khalifah Kedua. Atas dasar ini, politik ketiga khalifah yang telah berkuasa selama dua puluh lima tahun itu dalam menjalankan pemerintahan adalah, bahwa hukum-hukum Islam dijalankan sesuai dengan ijtihad dan kemaslahatan yang telah didenotasi (tasykhîsh) oleh Khalifah. Dan politik mereka dalam pengetahuan Islam adalah, bahwa Al-Qur’an hanya dibaca tanpa boleh ditafsirkan atau dikaji terlebih dahulu dan hadis-hadis Rasulullah saw diriwayatkan tanpa tertulis di atas kertas dan periwayatannya tidak melebihi batas mulut dan telinga.

Penulisan hanya terbatas pada penulisan Al-Qur’an dan penulisan hadis dilarang.[14] Setelah peperangan Yamamah berakhir pada tahun 12 H. dan sekelompok sahabat yang dikenal sebagai qârî Al-Qur’an terbunuh dalam peperangan itu, Umar bin Khattab mengusulkan kepada Khalifah Pertama untuk mengumpulkan Al-Qur’an dalam sebuah mushaf. Dalam usulannya itu ia berpendapat, “Jika sebuah peperangan meletus dan sisa-sisa para pemikul Al-Qur’an terbunuh, niscaya Al-Qur’an akan musnah dari tengah-tengah kita. Atas dasar ini, selayaknya kita memngumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an dalam sebuah mushaf dan menulisnya (dengan rapi).”[15] Mereka mengambil keputusan semacam ini berkenaan dengan Al-Qur’an, padahal hadis-hadis Rasulullah saw sebagai sabda (nomor dua) setelah Al-Qur’an juga menghadapi bahaya yang sama dan tidak dijamin dari (bahaya) penukilan dengan arti, pengurangan, penambahan, pemalsuan, dan kelupaan. Meskipun demikian, pemeliharaan hadis tidak mendapat perhatian yang selayaknya. Bahkan, penulisannya dilarang dan seluruh hadis yang berhasil dikumpulkan dibakar. Dalam waktu yang tidak lama, tindakan ini menyebabkan munculnya hadis-hadis yang saling kontradiktif berkenaan dengan hal-hal yang sudah pasti dalam agama Islam, seperti shalat dan tidak adanya usaha untuk pengembangan jurusan-jurusan ilmu yang lain selama itu. Seluruh pengkultusan dan pujian berkenaan dengan ilmu pengetahuan, penekanan, anjuran, dan amplifikasi (tausi‘ah) ilmu pengetahuan yang ditegaskan di dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah saw tidak lagi berpengaruh. (Malahan), mayoritas umat Islam lebih mementingkan perluasan kawasan Islam yang mereka lakukan silih berganti dan merasa bahagia dengan pampasan perang melimpah yang mengalir ke jazirah Arab dari berbagai penjuru dunia. Ilmu Ahlubait as yang dipegang oleh Ali as dan Rasulullah saw memperkenalkannya sebagai orang yang paling mengenal ilmu pengetahuan Islam dan maksud-maksud Al-Qur’an sudah tidak mendapatkan perhatian lagi. Dalam mengumpulkan Al-Qur’an, mereka enggan mengajaknya, dan bahkan, menyebut namanya sekalipun, padahal mereka mengetahui bahwa setelah Rasulullah saw wafat, ia duduk di rumahnya dan sibuk mengumpulkan Al-Qur’an.[16]

Seluruh peristiwa di atas dan kejadian lainnya membuat para pengikut Ali as semakin teguh dalam keyakinan mereka dan menjadikan mereka semakin berhati-hati dalam menghadapi segala problema yang sedang menimpa masyarakat. Hari demi hari mereka selalu menambah (kualitas) kegiatan mereka. Ali as yang tangannya tidak mampu untuk mendidik masyarakat secara umum, juga giat mendidik para sahabat khususnya.

Selama masa dua puluh lima tahun itu, tiga orang dari empat sahabat Ali as yang selalu setia menaatinya dalam segala kondisi, yaitu Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, dan Miqdad, meninggal dunia. Akan tetapi, sekelompok sahabat dan banyak Tabi’in di Hijaz, Yaman, Irak, dan daerah-daerah lainnya rela menjadi pengikut Ali. Akhirnya, setelah Khalifah Ketiga terbunuh, seluruh masyarakat dari segala penjuru membela Ali. Dengan segala cara mereka rela membai’atnya dan memilihnya menjadi khalifah.


[1] Di dalam Kitab-Nya Allah SWT berfirman, “… dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kita mulia yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya ….” (QS. Fushshilat [41]: 41-42)

Ia berfirman, “… [keputusan] hukum hanyalah hak Allah ….” (QS. Yusuf [12]: 67) Artinya, syariat hanyalah syariat Allah yang sampai kepada umat manusia melalui konsep kenabian.

Ia berfirman, “… akan tetapi, ia adalah utusan Allah dan pamungkas seluruh nabi ….” (QS. al-Ahzab [33]: 40) Dengan ayat ini, Ia telah mengumumkan penutupan periode kenabian dan syariat dengan pengutusan Rasulullah saw.

Ia berfirman, “… barangsiapa tidak [memutuskan] hukum sesuai dengan apa yang telah diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. al-Ma’idah [5]: 44)

[2] Târîkh al-Ya’qubi, jilid 2, hal. 110; Târîkh Abil Fida’, jilid 1, hal. 158.

[3] Ad-Durr an-Matsûr, jilid 3, hal. 186; Târîkh al-Ya’qubi, jilid 3, hal. 48. Hal itu padahal kewajiban (memberikan) khumus (kepada mereka) telah disebutkan di dalam Al-Qur’an dengan tegas. Al-Qur’an berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang kamu peroleh sebagai ghanîmah, maka sesungguhnya seperlimanya untuk Allah, Rasul, kerabat [Rasul], ….” (QS. an-Anfal [8]: 41)

[4] Selama memegang tampuk kekhalifahan, Abu Bakar telah berhasil mengumpulkan lima ratus hadis. ‘Aisyah bercerita, “Pada suatu malam, aku melihat ayahku tidak tenang hingga pagi hari. Ketika pagi tiba, ia berkata kepadaku, ‘Bawalah semua hadis itu kemari.’ Lalu, ia membakar seluruh hadis itu.” Silakan rujuk Kanz al-‘Ummâl, jilid 5, hal. 237.

Khalifah Umar menulis surat (perintah) kepada seluruh penjuru negara, “Barangsiapa memiliki hadis, ia harus membakarnya.” Silakan rujuk Kanz al-‘Ummâl, jilid 5, hal. 237.

Muhammad bin Abu Bakar bercerita, “Pada zaman Umar (berkuasa), banyak sekali hadis (yang terkumpulkan). Ketika hadis-hadis itu dibawa ke hadapannya, ia memerintahkan supaya hadis-hadis itu dibakar.” Silakan rujuk Thabaqât Ibn Sa’d, jilid 5, hal. 140.

[5] Târîkh Abil Fida’, jilid 1, hal. 151.

[6] Pada peristiwa Hajjatul Wada’, Rasulullah saw—sesuai dengan ayat Al-Qur’an “fa man tamatta’a bil ‘umrah …”—telah menentukan cara khusus pelaksanaan haji (haji Tamattu’) bagi jamaah haji yang datang dari luar Makkah, dan Umar telah melarangnya pada masa kekhalifahannya. Begitu juga, nikah Mut’ah masih berlaku pada masa Rasulullah saw. Akan tetapi, Umar telah melarangnya pada masa ia menjadi khalifah dan menetapkan hukuman rajam bagi pelanggarnya. Di samping itu, pada masa Rasulullah saw, bacaan “hayya ‘alâ khoiril ‘amal” (marilah bergegas menuju amalan terbaik, yaitu shalat) masih dibaca dalam azan. Tetapi, Umar malah berpendapat, “Bacaan ini akan mencegah masyarakat untuk berjihad.” Dengan demikian, ia melarangnya untuk dibaca. Atas dasar perintah Rasulullah saw, dalam satu majelis hanya jatuh talak sekali. Akan tetapi, Umar mengizinkan tiga kali talak dalam satu majelis. Semua tindakan tersebut telah disebutkan dalam buku-buku referensi hadis, fiqih, dan teologi Ahlusunah dan Syi‘ah.

[7] Târîkh al-Ya’qubi, jilid 2, hal. 131; Târîkh Abil Fida’, jilid 1, hal. 160.

[8] Usud al-Ghâbah, jilid 4, hal. 386; al-Ishâbah, jilid 3.

[9] Târîkh al-Ya’qubi, jilid 2, hal. 150; Târîkh Abil Fida’, jilid 1, hal. 168; Târîkh ath-Thabari, jilid 3, hal. 377.

[10] Târîkh al-Ya’qubi, jilid 2, hal. 150; Târîkh ath-Thabari, jilid 3, hal. 397.

[11] Sekelompok orang dari penduduk Mesir memberontak kepada Utsman. Ia merasakan bahaya sedang mengancam dirinya. Ia memohon bantuan kepada Ali bin Abi Thalib dan menampakkan penyesalannya. Ali as berkata kepada mereka, “Kamu semua telah bangkit untuk menegakkan kebenaran. Utsman telah bertaubat. Ia berkata, ‘Aku akan mengakhiri tindakan-tindakanku yang lalu. Dalam waktu tiga hari, aku akan mengabulkan tuntutan-tuntutanmu semua dan memberhentikan komandan-komandan pasukanku yang telah berbuat kelaliman.’” Setelah itu, Ali as menulis sebuah surat kesepakatan dengan mereka dan mereka pun rela pergi.

Di pertengahan jalan, mereka melihat pembantu dekat Utsman sedang menunggangi untanya dan bergerak menuju Mesir. Mereka curiga dan memeriksanya. Mereka menemukan sepucuk surat bersamanya yang ditujukan kepada penguasa Mesir. Isi surat adalah “Dengan nama Allah. Ketika Abdurrahman bin ‘Udais datang menghadapmu, cambuklah ia sebanyak seratus kali, gundulilah kepala dan janggutnya, dan jatuhkanlah ia ke dalam penjara untuk waktu yang sangat panjang. Dan lakukanlah seperti itu juga atas ‘Amr bin al-Hamq, Saudan bin Harran, dan ‘Urwah bin Nabba’.”

Mereka merampas surat tersebut dan kembali menemui Utsman dengan penuh amarah. Mereka berkata, “Engkau telah berkhianat kepada kami!” Utsman tidak mengakui surat tersebut. Mereka berkata, “Pembawa surat itu adalah pembantu dekatmu!” “Ia telah menulisnya tanpa sepengetahuanku”, jawabnya. “Kendaraannya adalah untamu”, kata mereka lagi. “Untaku dicuri”, jawabnya pendek. “Surat itu ditulis oleh sekretarismu”, sanggah mereka. “Ia telah menulisnya tanpa sepengetahuanku”, jawabnya pendek. Akhhirnya, mereka berkata, “Bagaimanapun juga, engkau tidak layak untuk menjadi khalifah dan engkau harus mengundurkan diri. Karena, jika tindakan itu terlaksana atas izinmu, maka engkau adalah seorang pengkhianat, dan jika tindakan penting itu terlaksana tanpa izin dan sepengetahuanmu, maka hal itu membuktikan ketidakbecusan dan ketidaklayakanmu. Bagaimanapun juga, engkau harus mengundurkan diri atau sekarang juga engkau harus memberhentikan para pegawaimu yang zalim itu.” “Jika aku harus bertindak sesuai dengan kehendakmu, maka sebenarnya kamulah yang sedang berkuasa. Di sini kedudukanku sebagai apa?”, itulah jawaban yang mereka dengar. Akhirnya mereka keluar dari ruang pertemuan itu dengan amarah yang membara. Silakan rujuk Târîkh al-Ya’qubi, jilid 2, hal. 150-151; Târîkh ath-Thabari, jilid 3, hal. 402-409.

[12] Târîkh ath-Thabari, jilid 3, hal. 377.

[13] [Ungkapan “mayoritas sahabat” tidak lebih hanya sekedar ungkapan kuntatif (musâmahah). Karena, pertama kali, Khalifah Pertama hanya dibai’at oleh Umar dan Abu ‘Ubaidah al-Jarrah. Setelah itu, hanya sekelompok kecil masyarakat Islam yang mengabulkan permintaan Umar (untuk membai’at Khalifah Pertama)].

[14] Shahih Bukhari, jilid 6, hal. 89; Târîkh al-Ya’qubi, jilid 2, hal. 113.

[15] Târîkh al-Ya’qubi, jilid 2, hal. 111; Târîkh ath-Thabari, jilid 3, hal. 129-132.

[16] Târîkh al-Ya’qubi, jilid 2, hal. 113; Syarah Ibn Abil hadid, jilid 1, hal. 9. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa setelah Abu Bakar dibai’at, ia mengutus seseorang kepada Ali untuk meminta bai’atnya. Ali menjawab, “Saya telah berjanji tidak akan keluar dari rumah kecuali untuk mengerjakan shalat hingga aku selesai mengumpulkan Al-Qur’an.” Dalam sebuah riwayat juga disebutkan bahwa Ali membai’at Abu Bakar setelah enam bulan berlalu. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an telah selesai dikumpulkan. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa setelah mengumpulkan Al-Qur’an, ia memuatnya di atas punggung unta dan ia membawanya di hadapan khalayak untuk menunjukkannya kepada mereka. Dan dalam sebuah riwayat yang lain disebutkan bahwa perang Yamamah di mana Al-Qur’an dikumpulkan setelah perang itu usai, terjadi pada tahun kedua kekhalifahan Abu Bakar. Semua pembahasan ini dapat ditemukan di kebanyakan buku-buku sejarah dan hadis yang mengetengahkan pembahasan pengumpulan Al-Qur’an.

One response to “Metode Politik Konsep Khilafah Dan Berbedanya Dengan Pandangan Syi‘ah

  1. Ping-balik: Metode Politik Konsep Khilafah Dan Berbedanya Dengan Pandangan Syi‘ah « http://syiahali.wordpress.com web syi'ah terlengkap·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s