Manusia Antara Determinasi dan Kebebasan Berkehendak

Oleh: Ayatullah Taqi Mishbah Yazdi

Tanya: Dengan adanya berbagai undang-undang yang diletakkan untuk manusia dan untuk alam semesta ini, lantas dimanakah letak kebebasan manusia? Apakah perbedaan antara ikhtiar dari sisi penciptaan (takwini) dan dari sisi yuridis (tasyri’i)? Apakah manusia pada dasarnya telah memiliki ikhtiar?

Jawab: Salah satu permasalahan penting dalam kaitannya dengan pembahasan filsafat anthropologi adanya pembahasan berkisar tentang kebebasan berkehendak (ikhtiar/freewill) dan keterpaksaan (jabr/determina). Dimana pembahasan tersebut adalah salah satu pembahasan klasik sebagai sumber kebingungan banyak pihak sehingga muncullah banyak sekali berbagai pendapat yang berbeda-beda dari para pemikir. Hingga sampai sekarangpun menjadi topik yang tetap hangat dibicarakan dalam rubrik-rubrik filsafat penciptaan alam.

Tentu, dalam menanggapi permasalahan tersebut secara luas dan terperinci akan banyak menyita waktu, akan tetapi  karena pembahasan itu memiliki hubungan erat dengan pembahasan “kebebasan”,maka terpaksa harus kita singgung secara ringkas dalam pembahasan kita kali ini.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, para theolog (mutakallimin) islam sehubungan dengan permasalahan determinasi (jabr) dan kebebasan (ikhtiyar) terbagi menjadi tiga golongan pemikiran :

a-  Mazhab Asy’ari berpendapat bahwa manusia mahluk yang memiliki keterpaksaan (determinan/majbur) dalam segala prilakunya, karena berdasarkan konsekwensi peng-Esa-an prilaku (Tauhid af’ali) Tuhan, maka mereka mengambil kesimpulan untuk menafikan ikhtiar manusia (fatalisme).

b- Mazhab Mu’tazilah berkeyakinan bahwa manusia diberi wewenang mutlak (entrusting/tafwid) dalam berkehendak dan berprilaku, dan Tuhan tidak turut campur atas segala prilaku manusia. Sehingga semua prilaku buruk yang dilakukan oleh manusia tidak mungkin bisa disandarkan   kepada  Dzat-Nya Yang Maha Suci.

c-   Mazhab Syi’ah Imamiah berkeyakinan adanya jalan tengah (al’amru bainal amrain) diantara dua pemikiran diatas tadi dengan mengikuti jalan yang ditempuh oleh para Imam suci (as). Mereka berkeyakinan bahwa manusia tidak terpaksa (jabr) secara penuh dan juga tidak ada pelimpahan wewenang (tafwid) secara penuh pula”, atau dengan ungkapan yang lebih sederhana dan sangat toleran lagi adalah “dari satu sisi manusia memiliki ikhtiar sedang disisi lain memiliki keterpaksaan”.

Akhir –akhir inipun ada beberapa kalangan yang memunculkan pemikiran anti sosialitas dan bahkan mendukung kebebasan mutlak manusia. Mereka beranggapan bahwa segala apa yang dikehendaki oleh manusia ia bebas melakukannya. Salah satu seorang tokoh pendukung pemikiran tersebut adalah Jhon Paul Sarter dimana ia pernah berkata: “Jika saya kehendaki maka perang vietnam pasti akan berakhir”. Ungkapan tadi menunjukkan bahwa manusia memiliki kamampuan berdasarkan kehendak yang dimilikinya ia mampu memberhentikan perang yang melibatkan jutaan umat manusia. Pendapat semacam itu betul-betul bertentangan dengan pendapat para filsuf yang beranggapan bahwa kebebasan manusia hanya sebuah khayalan belaka. Manusia terpenjara pada tatanan undang-undang yang bersifat memaksanya untuk terbawa kearus tertentu.

Pemikiran yang benar dari pandangan tersebut dan yang sesuai dengan ajaran agama adalah bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak akan tetapi hal itu ia miliki secara terbatas. Pada beberapa hal yang berkaitan dengan pertentangan pelaksanaan beberapa hukum berbeda yang bisa terlaksana di alam materi ini manusia memiliki luang untuk memilih. Luang lingkup prilaku manusia dapat dilihat dari pelaksanaan undang-undang yang dipakai untuk mewujudkan apa yang diangan-angankannya. Segala kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh manusia untuk menyingkap atau mengganti suatu hukum alami ke hukum alami yang lain merupakan kelebihan yang dimiliki oleh komunitas manusia atas alam ini. Makna dari kata penghambaan secara alami (ubudiah takwini) oleh manusia, adalah setiap manusia tidak akan lepas dari ribuan hukum alam dan kausalitas dimana iapun memiliki luang-lingkup yang terbatas secara alami atas semua itu.

Namun, apakah luang lingkup kebebasan memilih yang bersifat alami tersebut lantas manusia bisa melakukan segala hal yang dikehendaki hatinya? Atau terdapat batasan dan undang-undang yuridis (tasyri’i) tertentu yang membatasi prilakunya? Jawabannya adalah manusia dengan berbagai batasan yang ada, selain memiliki undang-undang yang bukan masuk pada undang-undang alami melainkan undang-undang yuridis yang bersifat abstrak dan normatif. Istilah yang sering dipakai semenjak ribuan tahun yang lalu adalah batasan akal budi (akal-amali), lawan dari undang-undang eksternal yang sering disebut sebagai batasan akal teoritis (akal-nazari). Menjaga pelaksanaan undang-undang yuridis terletak pada pundak manusia dimana disini istilah determinasi manusia tidak diberlakukan. Jika seseorang ingin mencari kesempurnaan ataupun kebahagiaan maka hendaknya ia melaksanakan segala yang tercantum dalam undang-undang tersebut. Namun, jika semua hal itu tidak ia kehendaki maka ia dapat meninggalkannya. Manusia memiliki berbagai potensi yang sangat luar biasa, jika potensi-potensi itu dipakai untuk melaksanakan segala undang-undang Ilahi maka ia akan sampai pada derajat kedekatan pada Tuhan. Namun jika ia tidak melaksanakannya bahkan berlaku maksiat maka ia akan terjerumus kelembah yang dalam dan masuk derajat yang lebih rendah dari binatang ternak. Segala amaran syariat mirip dengan amaran-amaran kesehatan dari seorang dokter, jika pasien melaksanakan semua amaran tersebut niscaya ia akan mendapat kesehatan, namun jika ia melanggar amaran tersebut maka penyakitnya akan bisa bertambah parah. Melaksanakan amaran kesehatan oleh pasien tadi merupakan hal yang bersifat bebas dan bukan ada unsur pemaksaan dari siapapun. Jika pasien menginginkan kesehatan maka ia harus mengamalkan semua amaran kesehatan tersebut, inilah makna dari kebebasan berkehendak itu.

Oleh karenanya untuk mencapai kepada kebahagiaan material, spiritual, individual maupun sosial, hendaknya melaksanakan segala hukum syariat yang mengatur semua itu. Tanpa mengamalkan hukum tersebut maka mustahil kebahagiaan abadi akan dapat diraih. Walaupun manusia bisa mengatakan bahwa; “saya bebas memilih, saya tidak mau melaksanakan hukum tersebut, saya lebih baik masuk neraka”. Ungkapan semacam itu bisa kita dapati di alam realita, banyak orang yang melakukan hal tersebut dalam prilaku kesehariannya.

Tidak ada salahnya disini kita akan sampaikan pula tentang argumen kepemilikan manusia akan ikhtiyar. Selain kejelasan esensial jiwa (conscience/wujdan) dan perasaan internal yang dimiliki setiap manusia sebagai argumen akan keberadaan ikhtiyar tersebut. Fenomena tentang adanya agama, berbagai macam undang-undang yang mencakup; perdata, pidana dan etika adat yang mencakup hukuman dan ganjaran bagi seorang oknum merupakan bukti tentang keberadaan ikhtiyar manusia. Asas utama kelebihan dan keutamaan yang dimiliki manusia adalah ia mampu menentukan jalan yang akan ia tempuh berdasarkan kebebasan berkehendak yang dimilikinya. Jika kebebasan berkehendak tersebut tidak terdapat dalam dirinya niscaya tidak ada bedanya ia dengan makhluk-makhluk selainnya. Dimanapun juga sewaktu kita membahas tentang hukuman dan ganjaran berkaitan dengan setiap prilaku, ucapan dan tujuan manusia, hal itu sebagai bukti bahwa setiap individu memiliki kebebasan dalam memilih perbuatan yang dia lakukan. Jika suatu perbuatan, baik itu dilakukan oleh kanak-kanak maupun orang dewasa atas dasar keterpaksaan (determinitas) lantas mungkinkah anda bisa menanyainya dengan kata-kata seperti; kenapa anda lakukan hal tersebut? atau anda akan dapat menghukumi dengan baik ataupun buruk perbuatan yang ia lakukan tersebut?

Ada satu pijakan utama yang dipakai tumpuan atas semua agama dalam perundang-undangan yang berkaitan dengan etika maupun syariatnya. Tumpuan itu adalah “manusia memiliki kebebasan”. Jika manusia determinan dalam segala aktifitasnya maka perintah maupun larangan yang tertuju pada dirinya tidak akan berguna baginya. Hal tersebut terkhusus buat agama yang memiliki hukum berkaitan dengan segala aktifitas manusia yang mencakup; bicara, mendengar, melihat, membaca dan prilaku manusia yang lain. Maka dari sini kita dapat ketahui bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak (ikhtiyar). Tanpa dasar tersebut maka Tuhan Yang Maha Adil dan Bijaksana tidak akan mungkin menurunkan bermacam-macam hukum semacam itu bagi manusia. Sebagaimana sebagian ilmu psikologi dan kelompok pemikiran behavioris (kajian tentang prilaku manusia.pen) yang beranggapan bahwa prilaku manusia murni berasal dari hubungan genetik atau lingkungan alami maupun sosial yang bersangkutan. Mereka tidak memberikan banyak peluang buat luang lingkup ikhtiyar. Banyak agama -terkhusus agama Islam- yang menjadikan setiap prilaku manusia sebagai obyek hukum dan terkait dengan berbagai macam hukum. Sehingga dari situlah maka agama tadi melihat bahwa manusia dalam berbagai aspek kehidupannya memiliki ikhtiyar dan tanggungjawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s