Bani Umaiyah Berkuasa

Oleh: Allamah Thabathabai

Mu‘awiyah meninggal dunia pada tahun 61 Hijriah dan anaknya, Yazid sesuai dengan bai‘at yang yang telah diambil oleh ayahnya dari masyarakat Islam untuk dirinya waktu itu memegang tampuk pemerintahan Islam.

Berdasarkan kesaksian sejarah, Yazid tidak memiliki sedikit pun kepribadian religius. Ia adalah seorang pemuda yang—pada masa ayahnya hidup sekalipun—tidak pernah mengindahkan hukum dan undang-undang Islam. Yang terbersit di kepalanya hanyalah hidup berfoya-foya, arogansi, dan mengumbar nafsu. Pada tiga tahun pertama pemerintahannya, ia telah mewujudkan bencana dan kekejian yang—dalam sejarah kemunculan Islam dengan segala fitnah yang pernah terjadi itu—tidak ada tandingannya.

Pada tahun pertama pemerintahannya, ia telah membantai Imam Husain bin Ali as, cucu Rasulullah saw berserta seluruh putra, keluarga, dan para sahabatnya dengan cara yang paling keji. Ia mengarak keluarga Rasulullah saw beserta kepala-kepala para syuhada yang sudah terpisah dari badannya berkeliling kota.[1] Pada tahun kedua, ia telah mengadakan pembantain massal di Madinah dan memperbolehkan bala tentaranya untuk menumpahkan darah, merampas harta, dan menodai kehormatan masyarakat Islam selama tiga hari.[2] Dan pada tahun ketiga, ia telah merusak Ka‘bah yang suci dan membakarnya.[3]

Setelah Yazid, Bani Marwan (yang masih keturunan) dari Bani Umaiyah berhasil—sebagaimana telah disebutkan secara rinci dalam buku-buku sejarah—memegang tampuk pemerintahan Islam. Dinasti Marwaniyah yang memiliki penguasa sebanyak sebelas orang dan berkuasa selama tujuh puluh tahun ini telah meninggalkan masa silam yang kelam dan menjijikkan bagi Islam dan Muslimin. Selama periode ini, yang berkuasa tidak lain adalah imperialisme Arab yang diktator dengan mengenakan topeng kekhalifahan Islami.[4] Pada masa pemerintahan mereka ini, salah seorang Khalifah yang berkuasa waktu itu, yaitu Walid bin Yazid yang dikenal sebagai pengganti Rasulullah saw dan satu-satunya pelindung agama, malah—tanpa malu—mengambil keputusan untuk membangun sebuah kamar di atas Ka‘bah untuk melakukan pesta-pora di situ pada musim haji.[5]

Khalifah yang berkuasa pada waktu itu, yaitu Walid bin Yazid pernah memanah Al-Qur’an dengan seujung anak panah dan menghardiknya seraya melantunkan syair:[6]

Engkau mengancamku dengan Dzat Penguasa nan Penyiksa, inilah aku penguasa dan penyiksa itu.

Jika kau berjumpa dengan Tuhamu di hari Mahsyar, katakanlah, “Walid telah merobek-robekku.”

Selama periode ini, Syi‘ah yang memang memiliki perbedaan pendapat yang fundamental dengan mayoritas Ahlusunah dalam masalah kekhalifahan Islami dan marja‘iyah agama menjalani sebuah masa yang sangat pahit dan sulit. Akan tetapi, kelaliman serta arogansi para penguasa waktu itu dan keteraniayaan, ketakwaan, serta kesucian para imam Ahlulbait as telah membentuk mereka—hari demi hari—semakin teguh dalam memegang keyakinan mereka. Khususnya, syahadah Imam Husain as, Imam Ketiga Syi‘ah sangat memiliki peran yang positif dalam menyebarkan mazhab Syi‘ah di daerah-daerah yang berada jauh dari pusat pemerintahan Islam, seperti Irak, Yaman, dan Iran.

Bukti atas klaim di atas, pada masa imâmah Imam Kelima Syi‘ah di mana abad pertama Hijriah belum usai dan belum berlalu empat puluh tahun dari syahadah Imam Ketiga, dikarenakan kegoncangan dan kelemahan (managemen) yang terjadi di dalam tubuh pemerintahan dinasti Umaiyah, para pengikut Syi‘ah datang mengelilingi Imam Kelima dari segala penjuru negara Islam waktu itu bagaikan banjir untuk mempelajari hadis dan pengetahuan-pengetahuan Islam.[7] Abad pertama Hijriah belum usai ketika beberapa pembesar pemerintahan (waktu itu) membangun kota Qom di Iran dan menjadikannya sebagai kota pusat para pengikut Syi’ah.[8] Meskipun demikian, berdasarkan perintah dari para imam mereka, mereka menjalani kehidupan ini dengan dasar taqiyah dan tidak menampakkan mazhab Syi’ah (di hadapan khalayak ramai).

Dikarenakan banyaknya tekanan, beberapa kali para keturunan Imam Ali as (‘alawî) bangkit menentang kezaliman-kezaliman pemerintah yang berkuasa. Akan tetapi, mereka selalu kalah dan mereka telah mengorbankan jiwa mereka di jalan (perjuangan) ini, dan penguasa yang tak tahu malu itu pun menginjak-injak (harga diri) mereka (tanpa sedikit ampunan). Mereka mengeluarkan jenazah Zaid—pemimpin Syi‘ah Zaidiyah—dari dalam kuburnya dan menggantungnya selama tiga tahun. Setelah itu, mereka menurunkannya (dari tiang gantungan), lalu membakarnya dan menaburkan abu bakarnya di udara.[9] Hal ini menyebabkan mayoritas (sejarawan) berkeyakinan bahwa Imam Keempat dan Kelima (Syi‘ah) juga meninggal dunia dengan racun oleh tangan Bani Umaiyah, sebagaimana Imam Kedua dan Ketiga juga meninggal oleh tangan mereka.

Kejahatan-kejahatan Bani Umaiyah—pada waktu itu—sangat kentara dan tanpa tedeng aling-aling sehingga mayoritas Ahlusunah—padahal mereka meyakini bahwa para sahabat secara umum wajib untuk ditaati—terpaksa harus mengklasifikasi para khalifah ke dalam dua klasifikasi: Khulafâ’ur Râsyidîn yang berjumlah empat orang setelah Rasulullah saw wafat (Abu Bakar, Umar, ‘Utsman, dan Ali) dan para khalifah yang bukan Râsyidîn yang (periode mereka) dimulai dari masa kekhalifahan Mu‘awiyah.

Pada masa kekuasaannya, dikarenakan kelaliman dan arogansi (yang melebihi batas), para penguasa Bani Umaiyah telah menciptakan kebencian kolektif di kalangan masyarakat luas sehingga setelah kekalahan mereka pasti dan khalifah terakhir dinasti Bani Umaiyah terbunuh, dua anaknya dan sebagian keluarga kekhalifahan melarikan diri dari Dârul Khilâfah. Ke mana pun mereka berlindung, masyarakat enggan memberikan perlindungan kepada mereka. Pada akhirnya, setelah mengalami keterlantaran panjang di padang-padang sahara Noubeh, Habasyah, dan Bejaveh dan sebagian besar dari mereka mati karena kehausan dan kelaparan, mereka berhasil memasuki Yaman bagian selatan. Mereka memperoleh seluruh ongkos perjalanan dari mengemis kepada masyarakat dan memasuki kota Makkah dengan mengenakan pakaian para buruh kasar pengangkut barang. Di sana mereka menyembunyikan identitas dirinya dari masyarakat luas.[10]

Syi‘ah pada Abad Kedua Hijriah

Di penghujung sepertiga pertama abad kedua Hijriah, sebagai imbas dari revolusi dan peperangan-peperangan berdarah yang meletus akibat kelaliman dan kejahatan-kejahatan Bani Umaiyah yang masih berlangsung di seluruh penjuru kekhalifahan Islam, muncul sebuah ajakan atas nama Ahlulbait as dari daerah Khurasan, Iran (untuk menuntut balas terhadap mereka). Pelopor ajakan itu adalah Abu Muslim al-Marwazi, seorang komandan berkebangsaan Iran. Ia bangkit menentang kekhalifahan Bani Umaiyah dan mengalami kemajuan yang sangat pesat sehingga akhirnya ia berhasil menggulingkan kekuasaan Bani Umaiyah.[11] Kebangkitan dan revolusi ini meskipun bersumber dari propaganda (untuk memunculkan) Syi‘ah dan—sedikit banyak—mengatasnamakan penuntutan darah para syahid Ahlulbait as, serta bahkan mereka telah mengambil bai‘at dari masyarakat umum secara ambigu (tanpa penjelasan lebih detail) untuk (menerima kepemimpinan) “seseorang yang terpuji” (ar-Ridhâ) dari Ahlulbait as, tetapi kebangkitan itu tidak bergerak di bawah perintah langsung atau dukungan para imam Syi‘ah as. Buktinya, ketika Abu Muslim menawarkan bai‘at kepada Imam Keenam Syi‘ah di Madinah untuk menjadi khalifah, ia menolak mentah-mentah seraya berkata, “Kamu bukanlah orangku dan masa ini bukanlah masaku.”[12]

Pada akhirnya Bani Abasiyah berhasil merampas kursi kekhalifahan dengan menggunakan nama Ahlulbait as.[13] Pada mulanya, mereka memperlakukan masyarakat dan para keturunan Ali as dengan baik dan ramah. Bahkan dengan dalil membalas dendam atas nama para syahid dari keturunan Ali as, mereka membunuh seluruh keturunan Bani Umaiyah dan membongkar kuburan para khalifah mereka, lalu membakar segala yang mereka temukan.[14] Akan tetapi, tidak lama setelah itu, mereka juga menggunakan metode kelaliman yang pernah dilakukan oleh Bani Umaiyah; mereka tidak pernah bertoleransi dalam mempraktikkan kelaliman dan arogansi.

Abu Hanifah—seorang tokoh salah satu empat mazhab Ahlusunah—pernah masuk penjara Khalifah Manshur[15] dan mengalami siksaan. Ahmad bin Hanbal—juga seorang tokoh salah satu dari empat mazhab Ahlusunah—pernah menerima hukuman cambuk.[16] Dan Imam Keenam Syi‘ah Imamiah—setelah menerima siksaan—meninggal dunia dengan diracun.[17] Mereka memenggal kepala para keturunan Ali as secara kolektif, mengubur mereka hidup-hidup, atau menghimpit mereka di antara dua tembok atau di bawah bangunan pemerintahan.

Pada masa Harun—salah seorang khalifah Bani Abasiyah, imperialisme Islam mencapai puncak kekuatan dan perluasannya. Kadang-kadang Khalifah memandang matahari dan mengajaknya berbicara seraya berkata, “Sinarilah tempat yang kau sukai. Engkau tidak akan pernah menyinari tempat yang keluar dari kerajaanku.” Bala tentaranya telah berhasil menguasai seluruh penjuru dunia. Di tepi jembatan Baghdad yang terletak beberapa langkah dari istana Khalifah, tanpa sepengetahuannya, mereka pernah meletakkan petugas untuk menarik ongkos dari setiap orang yang ingin menyeberangi jembatan itu. Sampai-sampai Khalifah sendiri pernah dicegah ketika ingin menyeberangi jembatan tersebut dan mereka meminta ongkos penyeberangan.[18]

Salah seorang penyanyi—dengan melantunkan dua bait syair pembangkit birahi—berhasil membangkitkan birahi Amin, salah seorang khalifah Bani Abasiyah. Amin spontan menghadiahkan tiga juta Dirham perak kepadanya. Karena sangat bahagia, penyanyi itu melemparkan dirinya di kaki Khalifah seraya berkata, “Hai Amirul Mukminin, apakah Anda menghadiahkan seluruh uang ini kepadaku?” “Hal itu tidak penting. Kami mendapatkan semua uang ini dari satu pojok yang misterius dari negara ini”, jawabnya pendek.[19]

Kekayaan melimpah yang setiap tahun mengalir ke Dârul Khilâfah dari seluruh penjuru negara Islam sebagai Baitul Mâl hanya digunakan untuk pelampiasan birahi para khalifah dan pembasmian kebenaran. Jumlah sahaya-sahaya cantik bak peri, wanita dan pria tampan di istana para khalifah Bani Abasiyah mencapai ribuan orang.

Kondisi Syi‘ah setelah runtuhnya kerajaan Bani Umaiyah dan berkuasanya dinasti Bani Abasiyah[20] tidak berubah sedikit pun; hanyalah para musuh zalim yang berubah nama.


[1] Târîkh al-Ya‘qubi, jilid 2, hal. 216; Târîkh Abil Fida’, jilid 1, hal. 190; Murûj adz-Dzahab, jilid 3, hal. 64, dan buku-buku sejarah lainnya.

[2] Târîkh al-Ya‘qubi, jilid 2, hal. 243; Târîkh Abil Fida’, jilid 1, hal. 192; Murûj adz-Dzahab, jilid 3, hal. 78.

[3] Târîkh al-Ya‘qubi, jilid 2, hal. 224; Târîkh Abil Fida’, jilid 1, hal. 192; Murûj adz-Dzahab, jilid 3, hal. 81.

[4] [Jumlah seluruh khalifah Bani Umaiyah dan Bani Marwan adalah empat belas orang dan mereka berkuasa selama sembilan puluh satu tahun dari tahun 41-132 Hijriah. Nama-nama mereka sesuai dengan tahun masa pemerintahannya adalah sebagai berikut:

a. Mu‘awiyah bin Abu Sufyan (41 Hijriah).

b. Yazid Pertama (60 Hijriah).

c. Mu‘awiyah Kedua (64 Hijriah).

d. Marwan bin Hakam (64 Hijriah).

e. Abdul Malik bin Marwan (65 Hijriah).

f. Walid Pertama (86 Hijriah).

g. Sulaiman (96 Hijriah).

h. Umar bin Abdul Aziz (99 Hijriah).

i. Yazid Kedua (101 Hijriah).

j. Hisyam (105 Hijriah).

k. Walid Kedua (125 Hijriah).

l. Yazid Ketiga (126 Hijriah).

m. Ibrahim (126 Hijriah).

n. Marwan Kedua yang dijuluki dengan al-Himâr (127-132 Hijriah)].

[5] Târîkh al-Ya‘qubi, jilid 3, hal. 73.

[6] Al-Kâmil fî at-Târîkh, karya Ibn Atsir, jilid 5, hal. 290; Tatimmah al-Muntahâ, hal. 129.

[7] Silakan rujuk pembahasan Imâmah dalam buku ini.

[8] Mu‘jam al-Buldân, kosa kata “Qom”.

[9] Murûj adz-Dzahab, jilid 3, hal. 217-219; Târîkh al-Ya‘qubi, jilid 3, hal. 66.

[10] Târîkh al-Ya‘qubi, jilid 3, hal. 84.

[11] Târîkh al-Ya‘qubi, jilid 3, hal. 79; Târîkh Abil Fida’, jilid 1, hal. 208; buku-buku sejarah yang lain.

[12] Murûj adz-Dzahab, jilid 3, hal. 268; Târîkh al-Ya‘qubi, jilid 3, hal. 86.

[13] Ibid.

[14] Ibid., hal. 270; ibid.

[15] Târîkh Abil Fida’, jilid 2, hal. 6.

[16] Târîkh al-Ya‘qubi, jilid 3, hal. 198; Târîkh Abil Fida’, jilid 2, hal. 33.

[17] Bihâr al-Anwâr, jilid 12, bab tentang biografi Imam ash-Shadiq as.

[18] Kisah Jembatan Baghdad.

[19] Al-Aghânî, karya Abul Faraj, kisah Amin.

[20] [Jumlah para penguasa dinasti Bani Abasiyah adalah tiga puluh delapan orang dan mereka berkuasa selama lima ratus dua puluh empat tahun dari tahun 132 hingga 656 Hijriah. Nama-nama mereka sesuai dengan masa berkuasanya adalah sebagai berikut:

1. Saffâh (132 H.).

2. Manshûr (136 H.).

3. Mahdi (158 H.).

4. Hadi (169 H.).

5. Harun (170 H.).

6. Amin (193 H.).

7. Ma’mun (198 H.).

8. Ibrahim bin Mahdi (201-203 H.).

9. Mu‘tashim (218 H.).

10. Wâtsiq (227 H.).

11. Mutawakkil (232 H.).

12. Muntashir (247 H.).

13. Musta‘în (248 H.)

14. Mu‘taz (252 H.).

15. Muhtadî (255 H.).

16. Mu‘tamid (256 H.).

17. Mu‘tadhid (279 H.).

18. Muktafî (289 H.).

19. Muqtadir (295 H.).

20. Qâhir (320 H.).

21. Râdhî (322 H.).

22. Muttaqî (329 H.).

23. Mustakfî (333 H.).

24. Muthî‘ (334 H.).

25. Thâ’i‘ (363 H.).

26. Qâdir (381 H.).

27. Qâ’im (422 H.).

28. Muqtadî (467 H.).

29. Mustazhhir (487 H.).

30. Mustarsyid (512 H.).

31. Râsyid (529 H.).

32. Muqtafî (530 H.).

33. Mustanjid (555 H.).

34. Mustadhî’ (556 H.).

35. Nâshir (575 H.).

36. Zhâhir (622 H.).

37. Mustanshir (623 H.).

38. Musta‘shim (640-656 H.).

Untuk penjelasan lebih rinci, silakan rujuk buku Selseleh-hâ-ye Islami (Silsilah Kerajaan Islam), karya Cliford Edmond Bosorth, terjemahan Fridun Badrei, terbitan Yayasan Telaah dan Penelitian Budaya, tahun 1371 Syamsiah (1413 H./1992 M.).

One response to “Bani Umaiyah Berkuasa

  1. Ping-balik: Ahlul Bait Yang Merupakan Dwi Tunggal AL QURAN di kudeta, di kejar kejar, dizalimi dan dibantai… Apa Nggak Ingat Wasiat Nabi Agar Berpedoman Pada Ahlul Bait ??? « http://syiahali.wordpress.com web syi'ah terlengkap·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s