Agama dan Kebebasan, Antara Prodeksi dan Paradoksi

Oleh: Ayatullah Taqi Mishbah Yazdi

Tanya: Apakah antara agama dan kebebasan terdapat persesuaian?

Jawab: Terkadang dari pertanyaan diatas terjadi tumpang tindih (fallacy/mughalathah) pemakaian, dimana bentuk pelontaran dari pertanyaan tersebut berbeda –beda, akan tetapi secara umum bisa kita bagi menjadi dua hal:

a)    Bentuk soalan internal agama.

b)   Bentuk soalan eksternal agama.

Dalam melontarkan soalan melalui internal agama pemakaian ayat-ayat al-Qur’an sering kita dapati dan dengan menafsirkannya sedemikian rupa yang bertujuan untuk menghilangkan batasan-batasan kebebasan dan untuk membuktikan bahwa segala macam batasan atas suatu kebebasan bertentangan dengan ajaran agama.

Adapun dalam melontarkan soalan yang berlandaskan atas argumen eksternal agama, ada tiga pondasi utama sebagai pijakan pemikiran tersebut:

1-   Kebebasan manusia (liberalisme).

2-   Humanisme.

3-   Penghapusan akan tanggung jawab dan penekanan atas hak-hak asasi manusia di zaman modernitas.

Dari tiga hal diatas tadi mereka beranggapan bahwa agama tidak berhak untuk membatasi kebebasan manusia dan bahkan mereka berupaya menafsirkan agama sedemikian rupa sehingga tidak bertentangan dengan konsep kebebasan.

Disini terlebih dahulu kita akan menjawab soalan-soalan yang berlandaskan argumen internal agama, setelah itu kita akan beranjak pada jawaban atas bentuk soalan kedua yang berlandaskan argumen eksternal agama sekaligus mengkritisi ketiga hal yang menjadi batu pijakannya tadi.

A-Bentuk soalan internal agama.

Soalan ini sering terlontar dari manusia agamis terkhusus yang beragama islam dimana landasan pemikirannya adalah jika agama memiliki campur tangan atas segala perkara politik ataupun sosial hal ini berarti manusia diharuskan untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu atau ia harus tunduk dan patuh terhadap satu figur dimana hal tersebut akan bertentangan dengan teori kebebasan manusia, padahal manusia adalah makhluk yang tercipta dengan memiliki  berbagai kebebasan, hak memilih, dan bebas melakukan apa yang ia kehendaki.

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan. Berdasarkan banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yng menyebutkan bahwa manusia tidak boleh taat kepada siapapun. Sebagai contoh:

1)   Dalam surat al-Ghasyiah ayat:22, Allah (swt) berfirman yang ditunjukkankepada Rasul (saww):

”Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka”

Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi tidak layak dalam campur tangan urusan orang lain. sewaktu Nabi (saww) yang memiliki derajat kesempurnaan yang tiada tandingannya dari sekian banyak makhluk yang ada beliau tidak memiliki hak dalam mencampuri perkara dan urusan orang lain apalagi para imam maksum (as) ataupun para ahli fiqih   (fuqaha) (hf), oleh karena itu tidak ada seorangpun yang memiliki otoritas semacam itu.

2)   Dalam surat al-An’am ayat:107, Allah (swt) berfirman:

“…Dan kami tidak menjadikan kamu penjaga bagi mereka dan kamu sekali-kali bukanlah wakil buat mereka”.

3)   Dalam surat al-Insan ayat:3, disebutkan:

“Sesungguhnya kami telah menunjukinya jalan yang lurus ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur”.

Ataupun surat al-Kahfi ayat: 29, disebutkan:

“Maka barang siapa yang ingin (beriman ) hendaklah ia beriman dan barang siapa ingin (kafir) biarlah ia kafir”.

4)   dalam surat al-Maidah ayat: 99, disebutkan:

“Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan …”.

Jawaban dari soalan diatas adalah:

Pertama: perlu diketahui bahwa soalan ini sengaja dilontarkan dengan maksud untuk melemahkan teori wilayah al-faqih (kepemimpinan seorang ahli fiqih.Pen) sehingga dengan cara tersebutlah bisa ditetapkan bahwa ketaatan terhadap pemimpin agama (wali amr) berarti bertentangan dengan kebebasan manusia atau bahkan terhadap agama itu sendiri.

Kedua: Ayat-ayat yang disebutkan diatas dengan penjelasannya yang bersumber dari beberapa kalangan tadi jelas sangat bertentangan dengan sebagian ayat-ayat yang lain, karena dalam surat al-Ahzab ayat:36 disebutkan:

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak ( pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasulnya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)tentang urusan mereka…”.

Atau sebagaimana yang disebutkan dalam surat al-Ahzab ayat:6 disebutkan:

“Nabi lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri…”

kata lebih utama (‘aula) disini bisa diartikan lebih layak atau berarti memiliki kekuasaan (wilayah). Para ahli tafsir sepakat bahwa ayat diatas menunjukkan bahwa Nabi (saww) dalam menentukan suatu urusan lebih memiliki prioritas dibanding masyarakat itu sendiri. Tidak selayaknya bagi orang lain selain Nabi untuk menentukan suatu perkara yang bertentangan dengan pendapat Nabi.

Atau dalam surat an-Nisaa’ ayat:65 disebutkan:

“Maka demi Tuhan-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka tidak menerima dengan sepenuhnya”

jika mereka mengimani bahwa setiap hukum yang engkau (Nabi.Pen) keluarkan adalah hukum Tuhan, dan Tuhan yang telah menganugerahkan kepadamu kedudukan tersebut, dan engkau harus beramal sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan dan merekapun menerima ketetapan hukum tersebut maka niscaya tidak akan muncul rasa gusar pada diri mereka kecuali jika mereka tidak memiliki keimanan dihati.

Maka dari sini ada dua alternatif; kita akan menyatakan adanya dua hal yang paradoks dalam ayat-yat Tuhan –padahal Qur’an disucikan dari sangkaan tersebut- atau kita akan mengartikan ayat tersebut dengan pengertian lain yang sesuai dengan ayat-ayat Qur’an lainnya dan hadits-hadits Nabi (saww) dan para imam maksum (as).

Menilik dari ungkapan dan susunan kalimat ayat-ayat yang tercantum pada bagian pertama diatas maka dapat diketahui bahwa obyek ayat-ayat tersebut adalah para manusia kafir. Allah dalam ayat-ayat tersebut dalam rangka menghibur Rasulullah (saww) untuk tidak terlalu mengambil hati atas segala perbuatan mereka. Seakan Allah berfirman: “sebagian besar mereka adalah calon penghuni neraka, oleh karenanya janganlah engkau (Muhammad.pen) bersedih, karena tugasmu hanyalah menyampaikan dan menjelaskan kebenaran, membuat masyarakat beriman bukanlah tugasmu, oleh karenanya Kami jadikan manusia memiliki ikhtiar sehingga pada satu hari kelak segala perbuatan mereka akan dimintai pertanggungjawabannya.

Dari dua kumpulan ayat diatas dapat diambil suatu pelajaran bahwa tugas nabi Muhammad (saww) adalah hanya menyampaikan agama dimana mau tidak mau sebagian orang menerimanya dan sebagian yang lain menolak. Adapun orang yang menerima agamanya maka mau tidak mau ia harus konsisten terhadap ajaran-ajaran agama yang dibawanya.

Mungkin sebagian orang berpikiran bahwa sebagaimana orang dapat bebas dalam memilih agama maka ketika sudah memeluk agama ia dapat bebas dalam menjalankan ajaran agama ataupun tidak menjalankannya. Pemikiran semacam ini adalah merupakan pemikiran yang salah, karena ketika seseorang telah menerima islam sebagai agamanya, artinya ia telah meyakini agama islam beserta ajaran-ajarannya dan meyakini keharusan untuk menjalankan ajaran-ajarannya. Karena kalau diyakini bahwa ia dapat bebas dalam menjalankan hukum-hukum hal itu berarti sama artinya dengan tidak meyakini keharusan untuk menjalankan berbagai hukum-hukumnya, sehingga hal tersebut tidak lain merupakan sesuatu yang kontradiksi antara keyakinan dan praktek. Hal seperti itu sama halnya seperti sebuah masyarakat yang memberikan suaranya dalam menentukan jenis pemerintahan ataupun perundang-undangan tapi kemudian setelah pemilu mereka mengatakan bahwa kita bebas melaksanakannya ataupun  tidak,  jelas sekali bahwa kebijakan semacam ini tidak mungkin bisa diterima oleh siapapun dan dimanapun.

Oleh karena asas penerimaan agama Islam bukanlah merupakan hal yang didalamnya terdapat sistem pemaksaan –laa ikroha fiddiin- sehingga keimanan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan terhadap Tuhan, kenabian dan adanya hari kiamat tidak mungkin bisa dipaksakan pada individu lain, akan tetapi setelah Islam diterima sebagai agamanya maka ia harus mengamalkan segala ajarannya seperti kewajiban melaksanakan sholat, puasa, mengikuti dan melaksanakan segala perintah-perintah Nabi (saww) serta para imam suci (as) sebagaimana mencakup segala ajaran yang terdapat dalam agama tanpa terkecuali. Karena penerimaan atas sebuah agama ataupun sebuah bentuk perundang-undangan memberikan konsekwensi atas penerimaan segala komponen dan kandungan-kandungan yang terdapat dalam agama tersebut. tanpa adanya konsekwensi semacam itu maka tidak akan terwujud segala bentuk pemerintahan atau tatanan sosial apapun, sehingga akan terjadi dimana setiap individu akan melaksanakan perbuatan apapun sekehendak hatinya.

Dalam hal ini –keharusan melaksanakan segala ajaran agama- al-Qur’an dalam surat an-Nisaa’ ayat 150 dan 151 dengan jelas menyatakan:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain), serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) diantara yang demikian (iman atau kafir)”. Merekalah orang-orang yang kafir yang sebenar-benarnya, kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan”

yaitu pribadi yang ingin memecah belah agama dan berkata bahwa “sebagian saya terima sedang sebagian lagi saya tolak”, pribadi semacam ini pada hakikatnya telah menolak agama tersebut dan termasuk kategori orang kafir. Dikarenakan semua hukum bersumber dari Tuhan oleh karenanya tidak ada perbedaan diantara hukum-hukum yang ada, jadi mengingkari salah satu bagian dari ajaran-ajaran agama yang ada sama halnya mengingkari semua ajaran yang terkandung dalam agama tersebut yang berakibat kekafiran dan azab Ilahi.

Tentu, pemerintahan Islam tidak akan campur tangan dalam masalah yang bersifat individual ataupun yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, adapun dalam hal-hal yang berkaitan dengan masalah sosial dan menjaga nama baik agama serta sakralitas agama tersebut maka pemerintahan Islam memiliki wewenang dalam turut campur tangan dan dapat memaksa masyarakat untuk melaksanakan, maka dalam keadaan semacam inilah akan terwujud jelas kuasa (wilayah) Nabi, Imam atau seorang ahli fqih (faqih).

Tidak dapat dipungkiri bahwa sekarang ini sebagian –sebagaimana yang nampak pada orang-orang terdahulu- berusaha dalam mewujudkan penyelewengan dan menampakkan permusuhan atas agama dengan cara berargumen dengan ayat-ayat yang samar (mutasyaabih)  atau memberikan permisalan-permisalan melalui ayat-ayat tersebut juga dengan mengada-ada dengan menunjukkan bahwa seakan-akan terdapat pertentangan dalam ayat-ayat yang ada. Sehingga dari situ mereka akhirnya terjerumus kedalam jurang kesesatan.

B- bentuk soalan eksternal agama.

Terkadang persoalan dilontarkan dengan bentuk lain dimana soalan itu bertumpu pada diferensi penopang (fashl muqowwim) yang sebagai pembeda antara menusia dengan selainnya. Pembeda tersebut adalah kebebasan berkehendak (ikhtiyar /freewill) manusia. Perbedaan antara manusia dengan segala macam hewan adalah pada kebebasan berkehendak, dimana hewan memiliki keterpaksaan dalam bertindak dimana mereka berbuat sesuai dengan insting yang mereka miliki. Adapun manusia adalah satu eksistensi yang memiliki kebebasan berkehendak dan bertindak sesuai dengan hasil pilihannya. Jika agama yang memiliki susunan hukum dan undang-undang yang darinya masyarakat diharuskan untuk mengamalkan beberapa ketentuan yang ada atau menjauhi beberapa hal yang dilarang oleh agama tersebut, ataupun masyarakat diharuskan untuk mentaati Nabi (saww), imam (as) dan wakil imam (hf) itu semua bertentangan dengan esensi kemanusiaan. Dengan kata lain bahwa hukum dan perundang-undangan agama berkonsekwensi kepada terhapusnya nilai kemanusiaan dan kebebasan manusia.

Sebelum menjawab soalan diatas pertama harus kita jelaskan terlebih dahulu tentang satu problem filsafat yang berkaitan dengan soalan diatas- dimana jawaban dari problem tersebutlan yang nantinya akan menjadi pembuka dari jawaban asli dari soalan diatas. Kita menghadapi dua posisi yang berbeda pertama posisi penciptaan (takwin) yang berkaitan dengan eksistensi dan realita, dan kedua posisi keharusan dan normatif. Problem utama terletak pada pendeteksian hal-hal yang berkaitan dengan eksistensial adalah akal teoritis (akal nazari) sedang yang berfungsi untuk mendeteksi hal-hal yang berkaitan dengan keharusan adalah akal praktis (akal amali) dimana kedua jenis akal tadi masing-masing memiliki independensi. Dari hal-hal yang berhubungan dengan eksistensial dan pengetahuan tidak dapat dilalui tanpa terlebih dahulu melalui hal-hal yang berkaitan dengan keharusan dan normatif karena jalan menuju kesitu secara logika memang benar-benar tertutup. Bisa kita contohkan bahwa sewaktu kita katakan bahwa; “karena manusia secara eksistensi alami (takwini) adalah hasil ciptaan Tuhan, maka ia harus mengikuti segala hukum-hukum Tuhan”.

Problem filsafat ini pertama kali dilontarkan oleh David Hume –filsuf Inggris terkenal- pada abad 18. Setelah kemenangan revolusi Islam dinegeri kita (Iran.pen) terdapat pula beberapa individu yang berusaha menyebarkan pemikiran semacam ini .

Jawaban singkat terhadap problem ini ialah pertama bahwa problem filsafat ini bertentangan dengan asas-asas pemikiran mereka sendiri, karena anda memulai dari realita dan eksistensi untuk sampai ke keharusan dan normatif. Anda  mengatakan bahwa; “manusia adalah eksistensi yang mempunyai pilihan (mukhtar) maka ia harus dibiarkan bebas dan tidak boleh diharuskan untuk ta’at”.

Kedua: sebagaimana anda berpendapat bahwa dimanapun, kapanpun dan pemerintahan apapun tidak berhak memaksa seseorang , dan setiap orang harus dapat melakukan apa yang ia inginkan karena undang-undang dan keharusan akan merampas kebebasan manusia dan merampas kebebasan manusia adalah sama artinya dengan merampas esensi kemanusiaan. Dan kesimpulan dari pendapat ini tidak lain hanyalah keberingasan kaum Barbar dan hukum hutan rimba dimana tidak seorangpun yang dapat menerima hal semacam ini.

Kalau setiap individu anggota masyarakat melakukan setiap apa yang ia inginkan , memukul setiap orang yang ia inginkan dan mengatakan- meskipun menghina orang lain- apa yang ia inginkan dan lain-lain, apakah akan ada lagi kehidupan yang bersandarkan pada akal dan rasional? Padahal diferensi penopang  (fashl muqawwim) dan pembeda antara manusia dengan selainnya adalah akal dan rasionya, dan konsekwensi dari berakal adalah mempunyai tanggung-jawab dan menerima undang-undang. Kalau tidak ada undang-undang maka tidak akan ada madani dan kalau tidak ada tanggung-jawab maka tidak akan ada esensi manusia.

Adapun penyelesaian problem diatas dalam masalah ini ialah harus diperdetail dan dibedakan bahwa kalau seluruh komponen eksistensi dan realita sampai kepada derajat kausa sempurna (illat-taamah) maka disaat itu  akan menjadi keharusan terwujud eksitensi suatu akibat (efek) dari kausa tersebut. Keniscayaan analogis diatas harus diterangkan dengan menggunakan kata “HARUS”. Maka secara berurutan bisa dijelaskan  bahwa adanya perpindahan dari hal-hal eksistensial dan realita menuju kepada hal-hal keharusan dan normatif. Tanpa melalui fase semacam ini maka tidak akan bisa terwujud proses perpindahan. Dalam pembahasan kitapun, kebebasan alamiah (ikhtiar takwini) hanyalah bagian dari sebab (juz’ul-illah) untuk terwujudnya suatu ketaatan dan taklif, bukan merupakan sebab yang sempurna.

Oleh karenanya jawaban utama atas problem diatas adalah: arti kebebasan manusia yang merupakan diferensi pembeda (fashl-mumayyiz), adalah kepemilikan manusia atas  kemampuan alami dalam kebebasan berkehendak dan memilih. Adapun jika kita tilik dari sudut pandang yuridis (tasyri’i) maka manusia harus memiliki potensi dalam menerima berbagai undang-undang dan tanggungjawab, dimana semua batasan tersebut berfungsi sebagai pembatas atas segenap prilaku dan ucapannya. Jika hal itu tidak terwujud maka ia bakal keluar dari esensi kemanusiannya. Jelas, bahwa pembahasn tentang undang-ungang dan tata cara yang berkaitan dengannya merupakan pembahasan lain yang harus dibahas tersendiri.

Pelontaran problem dengan bentuk lain:

Bentuk lain dari problem yang ada adalah, dikatakan bahwa zaman perbudakan telah berlalu. Hubungan antara penghambaan dan penuhanan yang terwujud dalam hubungan antara Tuhan dengan manusia merupakan hal yang berkaitan dengan zaman Rasul (saww). Pada zaman modernity seperti sekarang ini, pembahasan tentang hamba, ketaatan dan taklif sudah tidak berlaku lagi. Akan tetapi yang perlu dibahas sekarang adalah pembahasan tentang “tuan” yang dalam bahasa al-Qur’an disebut dengan Khalifatullah. Kita sebagai pengganti Tuhan dimuka bumi maka kita harus mengatur bumi selayaknya Tuhan memiliki kemampuan tersebut. Pembicaraan tentang tanggungjawab telah berakhir zamannya, adapun ayat-ayat yang membahas tentang penghambaan dan penuhanan atau yang berbicara tentang ketaatan, semua itu hanya berkaitan dengan zaman diturunkannya al-Qur’an, bukan untuk zaman modernity seperti sekarang ini.

Jawaban ringkas dari penjelasan tadi dimana mereka ingin menampakkan adanya pertentangan antara agama dan kebebasan, adalah:

Pertama: Topik tentang khalifatullah yang tercantum dalam beberapa ayat al-Qur’an hanya berkaitan dengan nabi Adam (as) dan tidak mencakup segenap manusia. Menurut pandangan Islam, tidak semua yang memiliki anatomi tubuh manusia dapat dianggap sebagai khalifatullah. Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menjelaskan bahwa beberapa anak cucu Adam dimasukkan kategori setan berbentuk manusia, sebagaimana bunyi ayat berikut:

“ dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiapa nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin” (Qs al-An’am: 112)

dalam ayat lain disebutkan bahwa sebagian manusia juga dianggap sebagai makhluk yang lebih hina dari binatang ternak[1], dan sebagian ayat lagi menjelaskan bahwa sebagaian mereka masuk kategori paling buruknya binatang melata[2]. Tentu, pribadi-pribadi semacam itu tidak mungkin bisa dikategorikan khalifah Allah dimuka bumi.

Khalifah Allah dimuka bumi adalah pribadi yang memiliki pengetahuan atas semua asma’ al-husna Ilahi dan memiliki kecakapan dalam menentukan maslahat pelaksanaan keadilan Ilahi dimuka bumi. Khalifah Allah adalah pribadi yang menjadi obyek pengejawantahan sifat-sifat Ilahi dalam kehidupan sehari-harinya baik yang berkaitan dengan individu maupun sosial, bukan setiap pribadi yang berjalan diatas dua kaki.

Kedua: Pada pembahasan lalu, dimana perlu pembahasan lebih lanjut berkaitan dengan ayat-ayat al-Qur’an, perlu diperjelas bahwa: ungkapan yang mengatakan “keutamaan manusia terletak pada kebebasan yang ia miliki. Zaman sekarang adalah zaman kebebasan dari segala pembatasan, sedang tanggungjawab tidak lebih hanya sekedar syiar saja”, dimana syiar tersebut pertama kali terlontar didunia barat. Kemudian ungkapan tersebut ditiru oleh beberapa individu dibeberapa negara seperti Iran dimana mereka tanpa memperhatikan konsekwensi dari ungkapan tadi.

Permasalahan ini, walaupun memerlukan pembahasan yang lebih terperinci, akan tetapi dapat secara ringkas kita katakan: apakah yang dimaksud dengan ungkapan “manusia harus bebas dari segala tanggungjawab, taklif dan pembatas-pembatas lainnya” adakah bahwa tidak boleh adanya satu bentuk undang-undang sekalipun? Jika itu yang mereka maksud maka ketahuilah tiada seorangpun yang memiliki akal sehat menerima ungkapan semacam itu. Setiap masyarakat yang menerima hal tersebut mustahil kehidupannya akan belangsung terus. Semua itu memiliki konsekwensi bahwa setiap orang memiliki hak untuk membunuh, mencela dan merampas hak orang lain yang berarti keamanan, harta dan harga diri orang lain akan hilang…dst. konsekwensi-konsekwensi negatif semacam itu pertama kali akan mengenai terlebih dahulu pada sipemilik pandangan tersebut sehingga merekalah yang pertama kali akan mengalami kebinasaan.

Maka dengan terpaksa ungkapan tadi harus diartikan dengan makna yang lain. Kebebasan memiliki batasan dan bersyarat. Jika hal itu diterima maka akan muncul pertanyaan; siapakah yang memiliki otoritas dalam menentukan batas kebebasan? Jika setiap pribadi memiliki otoritas dalam menentukan batasan kebebasan maka kendala yang telah kita sebutkan sebelumnyapun akan muncul kembali. Oleh karenanya harus ditentukan terlebih dahulu  pemilik otoritas penentu undang-undang dan pemilik maslahat dalam menentukan batasan undang-undang.

Siapakah pemilik otoritas tersebut? Akan kita lihat perbedaan yang mencolok dari jawaban seorang muslim yang agamis dan jawaban seorang liberalis yang kebarat-baratan.

Jawaban seorang muslim yang mengenal dengan baik tentang keberadaan Tuhan Yang menguasai dan Pencipta alam semesta dimana Yang lebih mengetahui segala maslahat dan mafsadah berkaitan dengan makhluk-Nya. Tiada yang Ia inginkan selain kesempurnaan dan kebaikan bagi makhluk-Nya. Tiada yang lebih berhak menentukan batas-batas kebebasan selain-Nya. Penjelasan semacam ini tidak akan bertentangan dengan segala teori yang dimiliki oleh segenap kaum muslimin.

Adapun seorang liberalis pengingkar monoteis beranggapan bahwa penentuan batas-batas kebebasan ada ditangan masyarakat. Tentu jawaban semacam itu akan memiliki banyak sekali problem yang bisa dimunculkan, salah satunya adalah; mustahil terwujudnya kesepakatan dalam sebuah suara oleh seluruh lapisan masyarakat. Kalaupun pendapat mayoritas yang akan dijadikan tolok ukur maka bagaimana pihak minoritas –yang mungkin bisa berjumlah 49%- dapat mendapatkan hak-hak kemanusiaan mereka? Sebagaimana dalam sejarah umat manusia  dapat kita lihat bahwa manusia tidak memiliki kemampuan dalam menentukan semua maslahat dan mafsadah yang berkaitan diri mereka secara sempurna baik yang berhubungan dengan meterial dan spiritual. Oleh sebab itu mereka selalu mengadakan revisi atas segala ketentuan yang telah mereka tetapkan.


[1] Lihat Qs al-A’raaf:179

[2] Lihat Qs al-Anfaal:22

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s