Konsep Beragama, Antara Hak dan Kewajiban

Oleh: Ayatullah Taqi Mishbah Yazdi

Tanya: Apakah konsep beragama merupakan hak individual manusia ataukah merupakan kewajiban?

Jawab: Terkadang pertanyaan diatas diungkapkan dengan bentuk lain seperti hal sebagai berikut; dahulu manusia menerima hal-hal yang berkaitan dengan perbudakan dan kesewenang-wenangan dengan menerima berbagai kewajiban dan tanggungjawab yang harus ia pikul. Tetapi berbeda dengan manusia dizaman modernis dan peradapan baru, dimana manusia dizaman tersebut selalu mencari dan menelusuri akan hak-hak individualnya. Manusia moderen akan selalu mencari dan menuntutnya baik dari alam, Tuhan, agama ataupun dari ilmu pengetahuan. Hal inilah yang menjadi kunci penyebab kemajuan umat manusia. Oleh karena itu, jika suatu agama ingin mendapatkan suatu masa kejayaan hendaknya agama tersebut tidak berbicara tentang tanggungjawab (taklif) ataupun ketaatan kepada Tuhan, nabi ataupun pemimpin pemerintahan agama (hakim syar’i).

Akan tetapi, hendaknya agama berbicara tentang berbagai macam hak-hak manusia. Sudah bukan zamannya lagi sekarang ini untuk membicarakan tentang ketaatan, taklif, batasan-batasan ataupun halal-haram, tapi justru harus lebih dikonsentrasikan pada pembahasan tentang keinginan dan kehendak manusia.

Dalam rangka menjawab pertanyaan diatas, terlebih dahulu harus diperjelas bahwa apakah mungkin hak akan terwujud tanpa adanya kewajiban? Para ahli filsafat hukum dan perundang-undangan akan menjawab bahwa tidak mungkin hak akan terwujud tanpa adanya kewajiban. Sebagai contoh ungkapan tadi adalah sewaktu kita katakan “setiap individu memiliki hak untuk menghirup udara bersih” hal itu berarti “individu-individu lain tidak berhak untuk mengotori udara yang ada”. Tetapi jika kita katakan bahwa “setiap individu berhak untuk mengotori udara” maka ungkapan bahwa adanya hak untuk menghirup udara bersih tidak akan ada artinya. Begitu pula jika dikatakan bahwa “saya berhak untuk menumpuk harta kekayaan” maka berarti “orang lain berkewajiban untuk tidak merampas harta kekayaan saya, sehingga hak saya terlindungi”. Sebagaimana disaat orang lain memiliki hak untuk membelanjakan harta kekayaan mereka sendiri, maka sayapun berkewajiban untuk tidak mengusik kekayaan mereka. Dari sini dapat disimpulkan bahwa antara hak dan kewajiban saling berkaitan erat satu dengan yang lain, dan penetapan terhadap seseorang berarti penetapan kewajiban bagi orang lain.

Hal kedua yang harus ditekankan adalah bahwa setiap hak yang ditetapkan pada seseorang disaat itu secara otomatis berarti ditetapkan pula kewajiban atasnya. Sebagai contoh seseorang yang memiliki hak untuk memakai anggaran sosial maka berarti ia berkewajiban untuk berkhidmat terhadap masyarakat. Dari sini diketahui bahwa dengan ditetapkannya hak untuk satu individu maka ditetapkan pula kewajiban bagi individu tersebut.

Perlu dicatat bahwa tujuan utama pengungkapan soalan diatas adalah untuk mengutarakan bahwa Tuhan tidak berhak untuk memberikan kewajiban, perintah maupun larangan. Kalaupun ada sesuatu yang disebut dengan hak dan kewajiban, itu semua yang menentukannya adalah masyarakat itu sendiri, sehingga tidak ada lagi hubungan antara Tuhan yang harus ditaati dengan hamba yang harus taat kepada Tuhannya. Semua itu dikarenakan bahwa sekarang ini adalah zaman kebebasan dan kemuliaan manusia.

Jelas, penentangan atas kewajiban dan keengganan manusia dalam melaksanakan segala perintah dan larangan Tuhan bukan hanya ada pada zaman manusia moderen saja akan tetapi semenjak awal penciptaan manusiapun sudah ada kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang baik maupun yang buruk. Atas dasar itulah maka Qabil membunuh Habil, karena salah satu anak Adam tersebut tidak mau terikat dengan undang-undang dan ingin hidup bebas dari segala macam taklif. Segala kisah tentang umat terdahulu atas ajaran para nabi yang sering dinukil dalam al-Qur’an dipenuhi oleh manusia yang memiliki sifat hewani dan penyembah setan dimana mereka dengan jelas menolak, bahkan menyatakan perang melawan kebenaran melalui jalan melarikan diri dari taklif Ilahi.

Singkat kata, kesempurnaan dan kemadanian manusia yang didasari atas tanggung jawab taklif dan hukum/undang-undang yang dibebankan kepada pundaknya. Oleh karena itu asas islam dan semua agama, ialah ketaatan atas setiap taklif dan undang-undang ilahi. Oleh sebab itu syi’ar semua nabi ialah mendakwahkan kalimah tauhid “lailaha illallah”, karena dari situ berarti pengakuan atas eksistensi pencipta kita dan bahwa kita ialah hambaNya. Semua itu menyebabkan segala apa yang dikehendaki-Nya atas diri kita harus kita laksanakan, baik berupa perintah maupun larangan. Dapat diambil kesimpulan bahwa ruh agama ialah kebebasan atas setiap batasan dan penghambaan selain penghambaan terhadap Dzat Yang Maha Agung.

Setiap manusia secara alami (takwini) memiliki kebebasan berkehendak (ikhtiyar).  Walaupun asli penciptaan manusia dan alam semesta ini ialah atas kehendak Ilahi, baik secara kualitas maupun kuantitas dan diluar alam bawah sadar manusia mereka  telah bertasbih kepadaNya. Dari sisi yuridis (tasri’i) kehendak Ilahi telah berhubungan dengan penunjukkan jalan baik dan buruk yang harus dilalui oleh manusia. Manusia dari sisi kepemilikannya atas ikhtiyar tersebut mampu memilih jalan menuju kesempurnaan dengan cara melaksanakan taklif  ilahi, yang dengannya tujuan agung yaitu mendekatkan diri kepada-Nya (taqarrub ilallah) akan terwujud.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s