Imâmah dan Kualifikasi Imam Menurut Syiah [2]

Oleh: Sayyid Said Akhtar R 

Keharusan Imamah

Menurut pandangan Syiah, imamah adalah sebuah pranata yang mesti ada, sesuai dengan hukum akal. Dengan rahmat Allah Swt yang menjadikan hamba-hamba-Nya taat dan menjaganya dari maksiat, tanpa paksaan. Dalam ilmu kalam Syiah, sifat rahmat adalah wajib bagi Allah Swt. Ketika Allah menghendaki seseorang melakukan sesuatu, Dia mengetahui bahwa manusia tidak dapat melakukannya atau ia akan menemui kesulitan untuk melakukannya tanpa memperoleh bantuan dari-Nya. Kemudian, jika Allah tidak membantunya, maka perbuatan itu bertentangan dengan tujuan Allah sendiri.  Jelasnya, kelalaian ini adalah batil menurut ukuran akal. Oleh karena itu, sifat rahmat adalah wajib bagi Allah Swt.

Imâmah adalah rahmat dari Allah Swt.  Karena sebagaimana yang kita ketahui ketika manusia memiliki seorang pemimpin (rais) dan pembimbing yang mereka taati, yang membela kaum tertindas dari penindasan dan menahan kaum penindas, maka ia akan menarik mereka lebih dekat kepada kebaikan dan menjauh dari kerusakan dan penyimpangan, dan karena lutf, wajib bagi Allah Swt untuk mengangkat seorang imam untuk membimbing dan memimpin umat setelah wafatnya Nabi Saw.[1]

Superioritas

Kaum Syiah meyakini bahwa; sebagaimana Nabi Saw, seorang imam harus lebih unggul dari umat dalam segala keutamaan, seperti ilmu pengetahuan, keprawiraan, ketakwaan dan amal saleh, dan dia harus memiliki ilmu yang sempurna tentang hukum-hukum Allah. Jika tidak; dan kedudukan ini diamanahkan kepada orang yang setingkat di bawah orang yang memiliki kesempurnaan, yaitu inferior lebih diutamakan ketimbang superior, maka perbuatan  ini adalah perbuatan keliru menurut hukum akal dan bertentangan dengan Keadilan Ilahi. Oleh karena itu, tidak ada orang inferior yang akan menerima imamah dari Allah Swt bilamana hadir seorang yang lebih superior daripada dia.[2]

 

Ma’sum

Kualifikasi yang kedua adalah ismah (keterjagaan dari dosa dan salah). Jika imam tidak ma’sum maka ia akan dapat dengan mudah terjebak dalam kesalahan dan juga berpotensi untuk mengelabui orang.[3]

Pertama-tama, dalam kasus seperti ini (bila seorang imam  berbuat salah), kita tidak dapat mempercayai terhadap apa yang dikatakan dan didiktekan kepada kita.

Kedua, seorang imam adalah penguasa dan pemimpin umat, dan umat harus mengikutinya tanpa reserve (tedeng aling-aling) dalam segala hal. Sekarang, jika ia berbuat dosa, orang-orang pasti akan mengikutinya untuk berbuat dosa. Tak tertahankannya kedudukan ini bersifat jelas (badihi); karena ketaatan dalam perbuatan dosa adalah batil, haram dan terlarang. Lagi pula, akan berarti bahwa ia harus mentaati dan mengingkarinya pada saat yang bersamaan; yaitu, ketaatan kepadanya akan menjadi wajib dilarang, yang secara nyata bila diikuti akan tampak konyol (absurd).

Ketiga, jika memungkinkan bagi seorang imam untuk berbuat dosa, akan menjadi kewajiban bagi orang lain untuk mencegahnya (karena wajib bagi setiap muslim untuk melakukan amar ma’ruf). Dalam keadaan demikian, imam akan terhina; wibawanya akan berakhir, jangankan akan menjadi pemimpin umat, ia akan menjadi pengikut imam (ma’mum), dan imamahnya tidak akan berguna.

Keempat, imam adalah pembela hukum Allah dan perkara ini tidak akan diamanahkan kepada tangan-tangan yang penuh dosa juga tidak kepada  orang-orang yang akrab dengan salah. Atas alasan ini, kema’suman menjadi syarat mutlak kenabian; dan pertimbangan-pertimbangan yang membuatnya niscaya dan esensial dalam kasus seorang nabi, juga berlaku pada seorang imam dan khalifah.

Pembahasan ini akan dikaji lebih jeluk pada bagian akhir dari buku ini  (Ulul Amr Harus Ma’sum)

Pengangkatan oleh Allah

Seperti dalam kasus  para nabi, kualifikasi-kualifikasi yang disebutkan tersebut tidak memadai sehingga dapat secara otomatis membuat seseorang menjadi imam. Imamah bukanlah sebuah pekerjaan yang diminta; tapi sebuah penunjukan yang dianugerahkan oleh Allah.[4]

Dengan alasan ini, Syiah Itsna Asyariyah meyakini bahwa Dialah (Allah) yang berhak untuk memilih pengganti Nabi; dan umat tidak memiliki pilihan, intervensi dalam hal ini, dan kewajibannya hanya mengikuti titah Ilahi yang telah menunjuk seorang imam atau khalifah baginya.

Ayat-ayat Qur’an

Ayat-ayat berikut ini menegaskan pandangan-pandangan Syiah.

“Dan Tuhanmu yang menciptakan apa yang dia kehendaki dan memilih-Nya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.” (Qs.al Qasas:68)

Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki hak dalam memilih; pemilihan ini sepenuhnya berada di tangan Allah Swt.

Sebelum menciptakan Adam, Allah memberi kabar kepada para malaikat; “…Sesungguhnya Aku ingin menjadikan seorang khalifah di muka bumi…” (Qs.al-Baqarah:30)

Kemudisn para malaikat menyatakan protes mereka dengan santun, protes mereka ini ditepis dengan firman-Nya, “…Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui…” (Qs. al-Baqarah:30)

Jika para malaikat ma’sum ini tidak diberikan sedikit pun peluang untuk berkata dalam penunjukan seorang khalifah, bagaimana mungkin manusia yang dapat berbuat dosa (fallibel) berharap untuk mengemban seluruh otoritas atas penunjukan ini?

Allah sendiri mengangkat Nabi Daud sebagai khalifah di muka bumi;

“Wahai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah dk muka bumi…” (Qs. Saad:26)

Dalam setiap masalah Allah menisbatkan pengangkatan khalifah atau imam secara eksklusif kepada diri-Nya. “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh umat manusia. Ibrahim berkata: “Dan dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku ini tidak mengenai orang yang zalim.” (Qs. al-Baqarah:124)

Ayat ini membawa kita kepada jawaban yang benar dari banyaknya pertanyaan mengenai imamah.

Pertama, Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku ingin menjadikan engkau sebagai seorang Imam bagi manusia.” Ayat ini menunjukkan bahwa status imamah adalah pegangkatan-Ilahi; di luar urusan umat.

Kedua, “Perjanjianku ini tidak termasuk orang-orang yang zalim.” Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa seorang non-ma’sum tidak dapat menjadi seorang imam. Secara logis, kita dapat membagi manusia ke dalam empat kelompok:

  1. Kelompok yang tetap berlaku tidak adil selama masa hidupnya.
  2. Kelompok yang tidak pernah berlaku zalim.
  3. Kelompok yang awalnya zalim namun kemudian menjadi adil.
  4. Kelompok yang awalnya adil namun kemudian menjadi zalim.

Ibrahim As, terlalu tinggi kedudukannya untuk memohon imamah yang termasuk kelompok yang pertama atau yang keempat. Dan kini tersisa, dua kelompok (kedua dan ketiga) yang dapat dimasukkan dalam doa Ibrahim tersebut. Namun, Allah Swt menolak salah satu dari keduanya yaitu, kelompok yang awalnya tidak adil kemudian menjadi adil. Kini tersisa, hanya satu kelompok yang memenuhi kualifikasi untuk memegang posisi imamah – mereka yang sama sekali tidak pernah berbuat zalim selama hidupnya, yaitu ma’sum.

Ketiga, Terjemahan literal dari akhir ayat tersebut adalah:

Perjanjianku tidak akan mencapai orang-orang zalim. Perhatikan, Allah tidak berkata, “Orang zalim tidak akan mencapai perjanjianku”, karena yang demikian ini bermakna bahwa ia berada di dalam kekuasaan manusia – meskipun ia seorang yang adil – untuk mencapai kedudukan imamah. Kalimat present (mudâre) tidak menyisakan kesalahpahaman, secara jelas menunjukkan bahwa menerima amanat imamah tidak berada dalam pengurusan manusia; urusan ini sepenuhnya berada di tangan Allah secara eksklusif dan Dia memberi kepada siapa yang Dia kehendaki.

Lalu sebagai aturan umum, disebutkan, “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami.” (Qs.al-Anbiya:73)

Ketika Nabi Musa As menghendaki perdana menterinya untuk membantunya, ia tidak menunjuk seseorang dengan menggunakan otoritasnya sebagai nabi. Ia berdoa kepada Allah Swt: “Dan anugerahkan kepadaku seorang pembantu dari keluargaku, Hârun saudaraku. (Qs.Taha:29-30)  Dan Allah berfirman, “Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu , wahai Musa.” (Qs.Taha:36)

Seleksi Ilahia ini diberitakan kepada umat melalui nabi atau imam sebelumnya. Deklarasi ini disebuti nass = spesifikasi; determinasi, pengangkatan pengganti imam oleh nabi atau imam sebelumnya. Seorang Imam sesuai dengan keyakinan Syiah, harus mansus dari Allah, yaitu diangkat oleh Allah untuk kedudukan tersebut.

Mukjizat

Jika seseorang tidak mendengar nass tentang sebuah penuntut imamah, maka satu-satunya jalan untuk memastikan kebenaran klaimnya itu adalah melalui mukjizat.[5]

Secara umum, setiap orang bisa saja mengklaim bahwa ia adalah seorang imam atau khalifah nabi dan ma’sum, namun sebuah mukjizat adalah satu-satunya alat penguji kebenaran dalam hal ini. Jika pengklaim dapat membuktikannya dengan sebuah mukjizat untuk menopang klaimnya, maka tanpa ragu, klaimnya akan mudah diterima oleh umat.  Namun jika ia tidak dapat membuktikannya dengan sebuah mukjizat, maka jelas bahwa ia tidak memenuhi kualifikasi  atas imamah dan khalifah, dan klaimnya ini adalah sebuah klaim palsu.

Dapat Menjadi  Teladan

Praktik yang berlaku secara umum dalam memilih penggantinya (atas perintah Allah) berlaku tanpa intervensi ummat.

Sejarah nabi-nabi tidak menyodorkan satu contoh sebagai pengganti nabi dipilih melalui voting dari pengikutnya. Tidak ada alasan mengapa pengganti Nabi Saw yaitu hukum Allah yang mapan ini harus berubah, Allah berfirman, “…dan kamu sekali-kali tiada akan mendapatkan perubahan pada sunnah Allah.” (Qs. al-Ahzab:62)

Alasan-alasan Logis

Alasan yang sama yang membuktikan pengangkatan seorang nabi adalah hak prerogatif Allah, membuktikan dengan kekuasaan yang sama bahwa pengganti nabi juga harus diangkat oleh Allah. Seorang imam atau khalifah; sebagaimana nabi, ditunjuk untuk melaksanakan tugas dari Allah  Swt. Jika ia diangkat oleh manusia, loyalitasnya yang pertama tentu saja bukan untuk Allah, melainkan untuk orang-orang yang akan “bersandarkan kepada otoritasnya”. Ia akan selalu berupaya untuk mencari keridaan manusia, karena jika mereka menarik kepercayaan mereka dari dirinya, ia akan kehilangan jabatannya. Sehingga ia tidak akan melaksanakan kewajiban agama tanpa ada rasa takut atau selera; pandangannya akan senantiasa dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan politik. Kemudian, tugas dari Allah tentu saja akan terabaikan.

Di samping itu, sejarah Islam menyajikan bukti-bukti melimpah yang menyoroti ajaran-ajaran agama yang ditunjukkan oleh khalifah yang diangkat oleh manusia. Jadi argumen ini tidak hanya bersifat ilmiah, tapi juga sarat dengan bukti-bukti sejarah.

Juga, hanya Allah yang mengetahui keadaan batin (inner feelings) dan pikiran seseorang; tidak ada yang dapat mengetahui tabiat asli seseorang. Boleh jadi seseorang bersikap seolah-olah sebagai orang yang bertakwa dan beriman hanya untuk memberikan kesan kepada kerabat dan koleganya dan bertujuan untuk meraih nikmat duniawi. Contoh-contoh sikap seperti ini banyak ditemukan dalam catatan sejarah. Sebagai misal, kisah Abdul Malik bin Marwan yang meluangkan hampir seluruh waktunya di masjid untuk berdoa dan membaca Al-Qur’an. Ia sedang membaca Al Qur’an ketika kabar tentang kematian ayahnya sampai kepadanya dan orang-orang menantikan untuk berbaiat kepadanya sebagai khalifah baru. Ia kemudian menutup al-Qur’an dan berkata, “Kini saatnya berpisah denganmu!”[6]

Dengan demikian, kualifikasi yang diperlukan untuk menjabat kedudukan sebagai khalifah dan imam hanya dapat diketahui secara hakiki  oleh Allah, dan hanya Allahlah yang memiliki hak prerogatif untuk mengangkat seorang imam atau khalifah.

Kema’suman para Imam

Kini, mari kita amati apa yang dikatakan oleh al-Qur’an tentang Ahl  al-Bait Nabi Saw.

Sesuai dengan al-Qur’an, ‘Ali, Fâtimah, Hasan, Husain adalah orang-orang yang terjaga dari dosa dan ma’sum pada saat Nabi Saw wafat. Ayat Tathir berbunyi sebagai berikut, “…Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa darimu, wahai Ahl al-Bait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.” (Qs. al-Ahzab:33)

Secara umum disepakati bahwa keempat nama yang tersebut di atas adalah Ahl al-Bait dan adalah orang-orang yang terjaga dari dosa dan terbebas dari segala nista.

Kalimat sebelumnya dan sesudah ayat ini dialamatkan kepada para istri Nabi dan kata ganti (dâmir) dalam ayat ini merupakan gender muannats. Tetapi kata ganti yang digunakan dalam ayat ini mengandung gender mudzakkar. Alasan mengapa ayat ini ditempatkan dalam bentuk mudâre’ tidak terlalu sulit untuk ditebak. Almahrum “Allamah Pooya” menulis dalam catatan kaki No. 1857 dengan terjemahan al-Qur’an oleh S.V.Mir Ahmed Ali.

Kandungan ayat ini; berkenaan dengan kesucian Ahl al-Bait yang telah disucikan oleh Allah Swt, memerlukan sebuah penjelasan yang layak untuk dikomentari dalam konteks yang benar. Kandungan ayat ini merupakan sebuah ayat yang terpisah dengan sendirinya. Pewahyuannya juga terpisah pada peristiwa khusus namun ditempatkan di sini karena ia berhubungan dengan para istri Nabi Saw. Letak ayat ini; jika kita kaji secara seksama, menegaskan bahwa ia memiliki tujuan dan alasan yang signifikan dibaliknya. Ketika mengalamatkan pada awal-awal ayat dalam bentuk gender muannats, ada transisi dalam alamat dari mu’annats kepada mudzakkar.  Ketika merujuk secara bersama-sama kepada Rasulullah Saw, pronomina ini juga secara konsisten bercorak muannats. Karena sebuah gabungan antara pria dan wanita, secara umum gender mudzakkar yang digunakan. Transisi seperti ini dalam penggunanaannya didalam  gramatika bahasa, memberikan penjelasan bahwa klausa ini sedikit berbeda dengan yang digunakan untuk kelompok yang lain dari yang pertama, dan telah secara serasi ditempatkan di sini untuk menunjukkan perbandingan kedudukan Ahl al-Bait di hadapan para istri Nabi Saw.

Amr bin Abi Salamah yang dibesarkan oleh Rasulullah Saw, meriwayatkan:

“Ketika ayat ini turun, Nabi Saw berada di kediaman Ummu Salamah. Pada saat pewahyuan surat ini: “Sesungguhnya Allah ingin menjauhkan dosa darimu wahai Ahl al-Bait! Dan mensucikanmu sesuci-sucinya”, Rasulullah Saw mengumpulkan putrinya Fatimah, putra Fatimah, Hasan dan Husain, dan suaminya, ‘Ali, dan menutupi mereka termasuk dirinya, dengan kisa(kain)-nya dan berkata kepada Allah Swt,  Wahai Tuhanku, mereka inilah keturunanku! Jagalah mereka dari setiap bentuk kekotoran, dan sucikan mereka sesuci-sucinya.

Ummu Salamah, istri budiman Rasulullah Saw, menyaksikan peristiwa ini dengan penuh takjub, dengan rendah-hati, ia meminta kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah! Dapatkah aku bergabung dengan mereka?” Kemudiam dijawab oleh Rasulullah, “Tidak. Tetaplah ditempatmu, sesungguhnya engkau adalah orang yang memiliki kemuliaan.”[7]

Di sini bukan tempatnya menyebutkan referensi-referensi mengenai ayat ini; namun, saya ingin menukil Maulana Wahiduz Zaman, seorang ulama Sunni terkemuka, yang terjemahan dan tafsir Qur’annya beserta bukunya Anwârullughah (sebuah kamus al-Qur’an dan Hadits) adalah di antara salah satu referensi yang diakui. Ia menulis tafsir tentang ayat ini: “Beberapa orang berpikir bahwa ayat ini khusus untuk anggota keluarga yang memiliki hubungan darah dengan Nabi Saw, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Penerjemah ini berkata bahwa hadits sahih dan mempunyai sanad yang baik hingga Rasulullah mendukung pendapat ini, karena ketika Rasulullah Saw sendiri mengumumkan bahwa anggota keluarga ini hanya mereka ini (lima orang), maka menerima dan meyakininya menjadi wajib. Satu lagi tanda kebenaran dari pandangan ini adalah bahwa pronomina-pronomina yang digunakan sebelum dan setelah ayat ini adalah mua’annats, sementara dalam ayat ini adalah mudzakkar…’[8]

Kembali ia berkata dalam Anwârul Lughah: ” Pandangan yang benar adalah bahwa hanya lima orang yang termasuk dalam ayat tathir ini (Rasulullah, ‘Ali, Fâtimah, Hasan dan Husain), meskipun dalam penggunaan Bahasa Arab, istilah Ahl al-Bait juga digunakan untuk para istri. Beberapa orang yang membuktikan ayat ini bahwa kelima orang ini adalah ma’sum dan tanpa dosa. Tapi jika tidak ma’sum, maka tentu saja mereka mahfuz (terjaga dari perbuatan dosa dan salah).[9]

Saya telah menukil dua referensi di atas dan ingin menunjukkan bahwa tidak hanya Itsna ‘Asyariyah yang mengklaim pendapat di atas, namun ulama Sunni juga menegaskan klaim ini, sesuai dengan kaidah gramatika bahasa Arab dan hadits-hadits sahih Rasulullah, hanya ‘Ali, Fâtimah, Hasan dan Husain yang dimaksud ayat ini, disamping Rasulullah sendiri. Juga, jelas pandangan yang mengatakan bahwa kelima orang ini adalah tanpa dosa, disuarakan oleh ulama Sunni. Nampaknya akhirnya mereka berkata jika mereka tidak ma’sum (secara teori) mereka pasti terjaga dari salah dan dosa (secara praktik).

Ada banyak ayat dan hadits yang membenarkan ismah Ahl al-Bait, tapi karena masalah ruang dan waktu tidak memberikan banyak tempat untuk saya memaparkannya secara lebih detail, meskipun dalam bentuk yang singkat.


[1] . al-‘Allamah al-Hilli: al-Babu ‘l-hadi ‘asha, Terjemahan Bahasa Inggris oleh W.M. Miller,hal. 50 dan hal-hal. 62-64.

[2] . Ibid. hal. 69.

[3] . Ibid. hal. 64-68.

[4] . Ibid. hal. 68.

[5] . Ibid., hal. 69.

[6] .   Lihat, as-Suyuti: Târi’khu ‘l-Khulafa,  hal.217.

[7] . Lihat, Holy Qur’an,  terjemahan Bahasa Inggris oleh, S. V. Mir Ahmed Ali, fn. 1857, hal. l261 .

[8] . Lihat. Wahidu ‘z-Zaman: Tafsir Wahidi, pada batas terjemahan al-Qur’an oleh penulis yang sama, parag. 22 catatan kaki. 7, hal. 549.

[9] .Lihat,Wahidu’z-Zaman: Anwârul-Lughah, pada.22,hal.51.

22 responses to “Imâmah dan Kualifikasi Imam Menurut Syiah [2]

  1. Ping-balik: Imâmah dan Kualifikasi Imam Menurut Syiah….Keharusan Imamah « http://syiahali.wordpress.com web syi'ah terlengkap·

  2. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  3. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  4. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  5. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  6. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  7. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  8. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  9. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  10. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  11. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  12. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  13. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  14. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  15. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  16. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  17. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  18. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  19. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  20. Ping-balik: Hadis 12 khalifah menghancurkan mazhab sunni dan membongkar kebohongan sunni « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Brunei.. Web ini membantu N.U dan Rakyat Malaysia melawan Salafi Wahabi demi persatuan islam, demi·

  21. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

  22. Ping-balik: Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas ! « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Bru·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s