Fâtimah Az- Zahrâ, Penghulu Perempuan

Oleh: Sayyid Mahdi Ayatullahi

Dahulu masyarakat memandang perempuan bagaikan hewan atau bagian dari kekayaan yang dimiliki oleh seorang laki-laki.

Masyarakat Arab pada masa jahiliyah senantiasa memandang wanita seperti  sesuatu hal yang cela dan sebagian diantara mereka ada yang menguburkan putri mereka hidup-hidup.

Ketika fajar mentari Islam terbit, Islam  memberikan hak kepada kaum hawa dan telah menentukan pula batas-batasnya  seperti: hak sebagai ibu, sebagai istri dan sebagai pemudi. Kita semua sering mendengar hadits Nabi Saw yang menyatakan:

الجنة تحت اقدام الامها

“Surga itu terletak di bawah kaki ibu.”

رضاالله فی رضا الولدين

Kerelaan dan keridloan Allah terletak pada keridloan orang tua” (dan perempuan termasuk salah satu daripada orang tua).

Islam telah memberikan batasan kemanusiaan kepada wanita dan  memberikan aturan, dustur (undang-undang) yang memberikan perlindungan, penjagaan terhadap kemuliaan wanita dan kehormatannya.

Sebagai contoh hijab/jilbab. Ia bukanlah penjara bagi wanita tapi ia merupakan kebanggaan baginya sebagaimana kita lihat intan permata yang dibungkus di antara kotak-kotaknya dan buah-buahan di dalam kulitnya.

Sedang bagi wanita muslimah, Allâh telah memberikan aturan yang dapat melindunginya dan menjaganya yaitu hijab. Bahkan ia tidak hanya sekedar penjaga,  melainkan pula dapat menambah ketenangan dan kecantikan pada diri wanita tersebut.

Wanita dalam pandangan Islam berbanding terbalik dengan apa yang menggejala di Barat. Dunia barat memandang wanita laksana benda atau materi yang layak untuk diiklankan, diperdagangkan dan bisa diambil keuntungan materinya dengan dalih memelihara etika  dan kemuliaan wanita sebagai manusia.

Pandangan ini benar-benar telah membuat nilai wanita terpuruk  dan terpisah dari naluri dan nilai-nilai kemanusiaan. Kita juga menyaksikan keretakan keluarga, perceraian yang terjadi di dalam masyarakat barat telah sedemikian gawat. Wanita dalam pandangan dunia barat telah berubah menjadi seonggok barang yang tidak berharga, baik dalam dunia perfilman,  iklan,  promosi atau  dalam dunia kontes kecantikan.

Teman-teman, marilah kita menengok dan mengenal sosok teladan seorang wanita dalam Islam yang terermin dalam kehidupan putri Rasulullah, Fâtimah Az-Zahra As.

Fâtimah Az-Zahra putri Muhammad Saw

Fâtimah Az-Zahra istri tercinta Ali As

Fâtimah Az-Zahra Bunda Hasan, Husain, dan Zainab As.

Wiladah

timah As dilahirkan pada tahun ke lima setelah pengangkatan Muhammad Saw menjadi Nabi (bi’tsat) dan bertepatan dengan tiga tahun setelah peristiwa Isrâ’ Mi’râj Rasulullah Saw. Sebelumnya Jibril As telah memberi kabar gembira kepada Rasulullah akan kelahirannya. Fâtimah lahir pada hari Jumat,  20 Jumâdil Akhir di kota suci Mekkah.

Fatimah As Di Rumah Wahyu

timah As hidup dan tumbuh dalam haribaan  wahyu dan nubuwwah. Beliau dibesarkan dalam rumah yang penuh dengan kalimat-kalimat kudus Allah ‘Azza wa Jalla dan ayat-ayat suci al-Qur’ân.

Rasulullah Saw apabila melihat Fâtimah masuk ke dalam rumahnya beliau langsung menyambut dan berdiri kemudian mencium kepala dan tangannya.

Suatu saat ‘Âisyah  bertanya pada Rasulullah Saw tentang sebab kecintaan beliau yang sedemikian besar pada Fâtimah As. Nabi Saw berkata kepada ‘Âisyah.  “Wahai ‘Âisyah, jika engkau tahu apa yang aku ketahui tentang Fâtimah niscaya engkau akan mencintainya sebagaimana aku mencintainya. Fâtimah adalah darah dagingku. Ia tumpah darahku. Barang siapa yang membencinya berarti telah membenciku dan barang siapa membahagiakannya berarti telah membahagiakanku”.

Kaum Muslimin telah mendengar sabda  Rasulullah yang menyatakan bahwa sesungguhnya Fâtimah diberi nama Fâtimah karena dengan nama itu Allâh Swt telah memelihara setiap pecintanya dari azab api neraka.

timah Az-Zahrâ menyerupai ayahnya Muhammad Saw di dalam rupa dan  akhlaknya.

Ummu Salamah Ra istri Rasulullah menyatakan bahwa Fâtimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah. Demikian juga ‘Âisyah, ia berkata bahwa Fâtimah As adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah dalam ucapan dan fikirnya.

timah As mencintai ayahandanya melebihi cintanya kepada siapa pun.

Setelah ibunda kinasihnya Khadijah As wafat, beliau yang merawat ayahnya pada usia ketika beliau masih berusia enam tahun. Beliau senantiasa berusaha untuk menggantikan peranan ibundanya bagi ayahnya.

Pada usianya yang masih belia itu, ia menyertai ayahnya dalam berbagai cobaan dan ujian yang dilancarkan oleh orang-orang musyrikin Mekkah kepadanya. Dialah yang membalut luka-luka ayahnya dan yang mencuci kotoran-kotoran yang dilemparkan ke arah ayahanda beliau yang dilakukan oleh orang-orang bodoh Quraisy.

Beliau senantiasa mengajak bicara dengan ayahnya dengan pembicaraan yang dapat menggembirakan dan menyenangkan hati ayahnya. Untuk itu Rasulullah Saw menyebutnya dengan julukan “Ummu Abîha” yaitu ibu bagi ayahnya, karena kasih sayangnya yang sedemikian tercurah kepada ayahandanya.

Perkawinan Fatimah Az-Zahra As

Setelah Fâtimah mencapai usia dewasa dan tiba pula saatnya untuk beranjak pindah ke rumah suaminya (menikah, red-), maka banyak para sahabat yang berupaya untuk meminangnya. Di antara mereka adalah Abû Bakar dan ‘Umar. Rasulullah menolak semua pinangan mereka. Rasulullah Saw berkata kepada mereka: “Saya menunggu keputusan wahyu dalam urusannya (Fâtimah As).”

Kemudian Jibril datang untuk  mengkhabarkan kepada Rasulullah Saw bahwa Allah telah menikahkannya dengan ‘Ali As. Kemudian ‘Ali As datang menghadap Rasulullah dengan perasaan malu menyelimuti wajahnya untuk meminang Fâtimah As. Rasulullah pun menghampiri Fâtimah As untuk diminta pendapatnya seraya menyatakan:

“Wahai Fâtimah, ‘Ali bin Abî Tâlîb adalah orang yang telah kau kenali kekerabatannya, keutamaan dan ke-Islamannya. Dan sesungguhnya aku (Rasulullah) telah memohonkan pada Tuhanku agar menjodohkan engkau dengan sebaik-baik mahkluk-Nya dan seorang pecinta sejati-Nya. Ia telah menyampaikan pinangannya atasmu, bagaimana pendapatmu atas pinangan ini? Fâtimah As diam dan kemudian Rasulullah mengangkat suaranya seraya bertakbir: “Allâhu Akbâr…! Diamnya adalah tanda kerelaannya.”

Acara Perkawinan

Rasulullah Saw mendatangi ‘Ali As sambil mengangkat tangan ‘Ali As seraya berkata: “Bangunlah! Bismillâh Barakatillâh, ‘Mâsyâ Allâh lâ quwwata îllâ billâh, ‘tawakkaltu ‘alâ Allâh.” Kemudian Nabi Saw menuntun ‘Ali As dan mendudukkannya di samping Fâtimah As. Beliau berdoa: “Ya Allâh, sesungguhnya keduanya adalah makhluk-Mu yang paling aku cintai, maka cintailah keduanya dan berkahilah keturunannya dan peliharalah keduanya. Sesungguhnya aku menjaga keduanya dan keturunannya dari syaitan yang terkutuk. Kemudian Rasulullah mencium keduanya sebagai tanda ungkapan selamat berbahagia, beliau berkata : “Wahai ‘Ali, sebaik-baik istri adalah istrimu”. Kepada Fâtimah As beliau menyatakan: “Wahai Fâtimah, sebaik-baik suami adalah suamimu.”

Di tengah-tengah keramaian dan kerumunan wanita yang berasal dari kalangan kaum Ansâr, Muhâjirîn dan Banî Hâsyîm telah lahir sesuci-suci dan seutama-utamanya keluarga dalam sejarah Islam yang kelak menjadi benih bagi Ahli Baît Nabi yang telah Allâh hilangkan kotoran dari mereka dan telah Allah sucikan dengan sesuci-sucinya.

Acara pernikahan kudus itu berlangsung dengan kesederhanaan. Saat itu ‘Ali As tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan sebagai mahar kepada istrinya selain pedang dan perisainya. Untuk menutupi keperluan mahar perkawinan kudus itu, ia  bermaksud  menjual pedangnya. Tetapi Rasulullah Saw mencegahnya karena Islam memerlukan pedangnya dan setuju apabila yang dijual hanya perisainya . Lantas ‘Ali As menjualnya dan uangnya diberikan kepada Nabi. Dengan uang tersebut Rasulullah Saw memerintahkan ‘Ali untuk membeli minyak wangi dan perabot rumah tangga yang  sederhana untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang baru ini. Kehidupan mereka sangat bersahaja. Rumah mereka  hanya memiliki satu kamar, letaknya di samping masjid Nabi Saw.

Hanya Allâh Swt saja yang mengetahui kecintaan yang terpatri dan terjalin diantara dua hati, ‘Ali As dan Fâtimah As. Kecintaan mereka hanyalah  untuk Allâh dan di jalan Allah.

timah As senantiasa mendukung perjuangan ‘Ali As dan pembelaannya terhadap risalah Islam sebagai risalah ayahnya yang agung nan mulia. Dan suaminya dalam setiap peperangan senantiasa berada pada barisan utama dan terdepan. Dialah yang membawa panji Islam dalam setiap peperangan yang dilancarkan kaum muslimin. Dan ‘Ali As senantiasa berada di samping ayah mertuanya, Rasulullah Saw.

timah As senantiasa berusaha untuk berkhidmat dan membantu suaminya. Juga  berupaya untuk  meringankan kepedihan dan kesedihan suaminya. Beliau adalah sebaik-baik istri yang taat. Beliau bangkit untuk memikul tugas-tugas sebagai ibu rumah tangga, setiap kali  suaminya pulang ke rumah, ia mendapatkan ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan di sisi sang istri tercinta.

timah As merupakan pohon yang baik yang akarnya menghujam kokoh ke bumi dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Fâtimah dibesarkan dengan cahaya wahyu dan beranjak dewasa dengan  cakrawala Al-Qur’ân.

Keluarga Teladan

Kehidupan suami istri adalah gabungan yang sempurna bagi dua kehidupan manusia untuk menjalin kehidupan yang satu-padu dan bersama.

Kehidupan keluarga dibangun atas dasar kerjasama, tolong menolong, cinta, dan saling menghormati.

Kehidupan ‘Ali As dan Fâtimah As merupakan contoh dan teladan bagi kehidupan suami istri yang bahagia. ‘Ali As senantiasa membantu Fâtimah As dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya dan sebaliknya, Fâtimah As selalu berupaya untuk mencari keridhaan dan kerelaan ‘Ali As serta senantiasa memberikan rasa gembira pada suaminya.

Pembicaraan mereka penuh dengan adab dan sopan santun. Apabila ‘Ali As memanggil Fâtimah As, beliau memanggilnya dengan  “Yâ Binta Rasulillah”,  Wahai putri Rasulillâh, dan apabila Fâtimah As memanggil ‘Ali As, ia memanggilnya dengan panggilan “Yâ Amirul Mu’minin.” Demikianlah, keduanya adalah contoh dan teladan bagi kedua pasangan suami-istri dan bagi orang tua terhadap anak-anaknya.

Buah Hati

Pada tahun kedua Hijriah Fâtimah as melahirkan putra pertamanya yang oleh Rasulullah Saw diberi nama  “Al-Hasan”. Rasul Saw sangat gembira atas kelahiran al-Hasan. Beliau  pun menyuarakan adzân pada telinga kanan Al-Hasan dan iqamah pada telinga kirinya, kemudian dihiburnya pula dengan ayat-ayat Al-Qur’ân.

Setahun kemudian lahirlah “Al-Husain”. Rupanya Allâh Swt berkehendak menjadikan keturunan Rasulullah Saw dari Fâtimah Zahra As. Rasul Saw mengasuh kedua cucunya denga penuh perhatian, beliau senantiasa menyatakan tentang keduanya sebagai buah hatinya di dunia.

Rasulullah selalu membawa mereka bersamanya. Bila beliau Saw keluar rumah, beliau Saw selalu mendudukkan mereka berdua di  haribaannya dengan penuh kehangatan.

Suatu hari Rasul Saw lewat di depan rumah Fâtimah As. Tiba-tiba beliau mendengar tangisan Al-Husain As. Kemudian Nabi dengan hati yang pilu dan sedih mengatakan: “Tidakkah kalian tahu bahwa tangisnya menyedihkanku dan menyakiti hatiku.”

Setelah setahun berselang, Fâtimah As  melahirkan Zaînab As. Setelah itu Ummu Kultsûm. Sepertinya Rasul Saw teringat akan kedua putrinya Zaînab dan Ummu Kultsûm ketika menamai kedua putri Fâtimah As dengan nama-nama tersebut.

Dan begitulah Allâh swt menghendaki keturunan Rasul Saw berasal dari putrinya Fâtimah Zahrâ As secara turun temurun.

Kedudukan Fatimah Az-Zahra As

Meskipun kehidupan beliau sangat singkat  tetapi beliau telah membawa kebaikan dan berkah bagi semesta.  Beliau adalah panutan dan cermin bagi wanita-wanita lain. Beliau adalah pemudi teladan, istri panutan dan figur yang paripurna bagi seorang wanita. Dengan keutamaan dan kesempurnaan yang dimiliki ini, beliau  disebut sebagai “Sayyidatun Nisâ’ Al-‘Âlamîn “,  Penghulu Wanita Alam Semesta.

Bila Maryâm binti Imrân sebagai penghulu wanita pada zamannya, demikian juga Asiah istri Fir’aun dan Khâdijah binti Khâwalid mereka semua adalah penghulu kaum wanita pada zamannya, tetapi Sayyidah Fâtimah As beliau adalah penghulu kaum wanita di sepanjang zaman semenjak dari wanita pertama hingga akhir zaman nanti. Beliau  adalah panutan dan suri teladan dalam segala hal.

Di kala masih gadis, ia senantiasa menyertai ayahnya dan ikut serta merasakan kepedihan ayahnya. Dan pada saat menjadi istri ‘Ali As, beliau  selalu merawat dan menjaga suaminya dan menyelesaikan segala urusan rumah tangganya hingga suaminya merasa tenteram bahagia.

Demikian pula ketika beliau menjadi seorang ibu. Beliau telah mendidik anak-anaknya sedemikian rupa atas dasar cinta, kebaikan, keutamaan, dan akhlak yang luhur dan mulia. Hasan, Husain dan Zaînab As kesemuanya adalah teladan yang tinggi dalam dunia akhlak dan kemanusiaan.

Kepergian Sang Ayah

Setelah Rasulullah Saw kembali dari Haji al-Wadâ’, beliau Saw menderita sakit bahkan Rasul pun sempat pingsan akibat panas dan demam keras yang menimpanya. Fâtimah As bergegas menghampiri Rasulullah Saw dan berusaha untuk menyelamatkannya dari kematian. Dengan air mata yang luruh berderai, Sayyidah Fâtimah As berharap agar sang maut memilih dirinya dan merenggut nyawanya sebagai ganti dan tebusan jiwa ayahandanya.

Tidak lama kemudian Rasul Saw membuka kedua matanya dan mulai memandang putri satu-satunya itu dengan penuh perhatian. Lantas meminta padanya untuk membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’ân. Fâtimah As pun  dengan segera membacakan Al-Qur’ân dengan suara yang khusyu’. Sedang sang ayah tenggelam dalam kekhusu’an mendengarkan kalimat-kalimat suci Al-Qur’ân dan lantunan bacaan Al-Qur’ân itu, Fâtimah pun memenuhi suasana rumah Nabi.

Beliau ingin menghabiskan detik-detik akhir hayatnya dalam keadaan mendengarkan suara putrinya yang telah menjaganya di waktu masih kecil dan berada di samping ayahnya di saat dewasa.

Rasul Saw meninggalkan dunia  dan ruhnya yang suci mi’râj ke langit.

Kepergian Rasul Saw merupakan musibah yang sangat besar bagi putrinya sampai hatinya tidak kuat memikul musibah besar tersebut hingga siang dan malam, beliau selalu menangis.

Belum habis penderitaan yang satu ini ia mendapat pukulan yang lebih berat lagi dari para sahabat yang bermain politik dan rakus akan kedudukan. Setelah mereka merampas tanah “Fadak” dan berpura-pura bodoh terhadap hak suaminya dalam masalah kekhalîfahan (kepemimpinan).

timah Al-Zahra As berupaya untuk mengambil dan mempertahankan haknya dengan penuh keberanian yang tinggi.

Imam ‘Ali As melihat bahwa perlawanan terhadap khalifah yang dilakukan Sayyidah Fâtimah As secara terus menerus bisa menyebabkan negara terjerumus ke dalam fitnah dan bahaya. Hingga dengan demikian seluruh perjuangan Rasul Saw akan sirna dan manusia akan kembali ke dalam masa jahiliyah.

Maka ‘Ali As memohon kepada istrinya yang mulia untuk menahan diri dan bersabar demi menjaga risalah Islam yang suci ini.

Akhirnya Sayyidah Fâtimah as pun berdiam diri, tetapi dengan penuh kemarahan dan mengingatkan kaum muslimin bahwa “kemarahannya adalah kemarahan Rasulullah Saw dan kemarahan Rasulullah Saw adalah kemarahan Allâh Swt.”

Sayyidah Fâtimah As diam dan bersabar diri hingga beliau wafat. Bahkan beliau  berwasiat agar supaya dikuburkan di tengah malam secara rahasia.

Kepergian Fatimah Az-Zahra As

timah Al-Zahra As bagaikan cahaya lilin yang menyala-nyala kemudian perlahan-lahan redup. Ia tidak bisa tinggal lama setelah kepergian ayahnya. Kesedihan senantiasa muncul setiap kali adzan dikumandangkan, terlebih ketika sampai pada kalimat: “Asyhadu anna Muhammad ar-Rasulullah “. Kerinduannya untuk segera bertemu dengan ayahnya semakin bertambah. Bahkan kian lama kesedihannya pun makin  bertambah. Badannya terasa lemah tidak sanggup menahan renjana jiwanya kepada ayahnya.

Demikianlah keadaan Sayyidah Fâtimah As saat meninggalkan dunia. Beliau  tinggalkan Al-Hasan As yang masih 7 tahun, Al-Husain As 6 tahun, Zaînab As yang masih 5 tahun dan Ummi Kultsûm dalam usianya yang memasuki umur 3 tahun.

Dan yang paling berat dalam perpisahan ini adalah ia harus meninggalkan ‘Ali As, suami sekaligus pelindung ayahnya dalam jihad dan teman hidupnya di segala medan.

Sayyidah Fâtimah As memejamkan mata untuk selamanya setelah berwasiat pada suaminya akan anak-anaknya yang masih kecil agar hendaknya ia dikuburkan secara rahasia. Hingga sekarang pun marqad suci (kubur) Sayyidah Fâtimah As masih misterius. Dengan demikian terukirlah tanda tanya besar dalam sejarah tentang dirinya.

Fâtimah Al-Zahra As senantiasa memberikan pemahaman kepada sejarah akan penuntutan beliau atas hak-haknya yang telah terampas. Sehingga umat Islam pun kian bertanya-tanya terhadap rahasia kemisteriusan kuburan beliau.

Imam ‘Ali As dengan penuh kesedihan duduk di tepi kuburannya diiringi kegelapan yang menyelimuti malam ketika itu. Kemudian Imam As mengucapkan salam:

“Salam sejahtera bagimu duhai Rasulullah… dariku dan dari putrimu yang kini berada di sampingmu dan yang paling cepat datang menjumpaimu. Duhai Rasulullah telah berkurang kesabaranku atas kepergian putrimu dan telah berkurang pula kekuatanku… Putrimu akan mengkhabarkan padamu tentang umatmu yang telah menghancurkan hidupnya. Pertanyaan yang meliputinya dan keadaan yang akan menjawab. Salam sejahtera untuk kalian berdua!”.

Biodata Sayyidah Fatimah Za-ZAhra

Nama               : Fâtimah As

Julukan           : Az-Zahrâ, Al-Batul, At-Tâhirah

Nama Ayah    : Muhammad Saw

Ibu                    : Khâdijah binti Khâwailid As

Tanggal Lahir: Jumat 20 Jummadil Akhir

Tempat             : Makkah Al-Mukarramah

Wafat  : Madinah, Tahun 11 H

Haram (kuburan) : Misteri (rahasia)

One response to “Fâtimah Az- Zahrâ, Penghulu Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s