Toleransi dalam Agama

Oleh: Ayatullah Taqi Mishbah Yazdi

Tanya: Apa yang dimaksud dengan toleransi dalam agama? Apakah hadis-hadis, seperti “Aku diutus dengan membawa agama yang penuh toleran dan mudah” mengindikaskan bahwa masyarakat dan para penguasa memiliki toleransi dan keleluasaan dalam menjalankan (atau meliburkan) hukum-hukum agama?

Jawab: Salah satu poin penting yang harus diperhatikan dalam dialog antar kultur dan pemikiran adalah menjelaskan kosa kata yang kita pergunakan sehingga kosa kata itu terhindar dari kerancauan arti dan kita tidak menggunakan kosa kata-kosa kata yang memiliki lebih dari satu arti. Karena, jika arti dan maksud dari kosa kata yang kita pergunakan belum jelas betul, dikawatirkan akan terjadi salah pengertian yang efekknya, ucapan dan tulisan kita akan menyesatkan orang lain. Melihat realita di dunia bahwa sebagian orang menggunakan kosa kata-kosa kata yang memiliki lebih dari satu arti secara sengaja dengan tujuan supaya kepentingan-kepentingan pribadi dan golongannya tercapai – menurut kata pepatah, “memancing di air keruh” –, solusi paling tepat untuk mencegah kesalahpengertian tersebut adalah menjelaskan arti kosa kata-kosa kata yang akan kita pergunakan sejelas mungkin. Kosa kata “toleransi” juga demikian.

Secara lunguistik, “toleransi” adalah berlemah-lembut (terhadap orang lain), bertindak sesuai dengan kehendaknya, dan bersikap acuh tak acuh (dalam melakukan sesuatu). Sekarang, harus kita lihat apakah arti-arti di atas sesuai dengan misi agama atau tidak. Jika tidak, apa yang harus kita lakukan berkenaan dengan hadis di atas dan yang semisalnya?

Sepertinya, arti lenguistik di atas jika dihubungkan dengan agama, tidak dapat diterima. Karean, hukum-hukum agama dibuat untuk menjamin kemaslahatan umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat, dan antara mengamalkan hukum-hukum agama tersebut dan terwujudnya kemaslahatan di atas, terdapat korelasi kausalitas dan hakiki (yang perealisasian kemaslahatan tersebut bergantung kepada mengamalkan hukum-hukum di atas). Sebagaimana hasil-hasil produksi yang perealisasiannya bergantung kepada bahan-bahan mentah (yang harus dikelola dengan teliti), perealisasian kemaslahatan individu, sosial, ukrawi, dan duniawi manusia juga bergantung kepada pengamalan terhadap hukum-hukum tersebut dengan benar dan tanpa kenal kompromi.

Islam adalah agama sempurna dan universal yang telah menjelaskan secara detail setiap muslimin dalam segala bidang, baik bidang ibadah, politik, sosial, maupun budaya.

Sebagai contohm Islam telah menentukan cara dan metode bagaimana muslimin berinteraksi dengan para pengikut agama lain, orang-orang kafir, dan musyrikin. Dalam rangka berinteraksi tersebut, ia mewajibkan kepada mereka supaya tetap menjaga batas-batas yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Islam tidak hanya melarang (para pengikutnya) untuk bersikap toleran dalam menjaga batas-batas tersebut, bahkan ia melarang mereka untuk bersikap acuh tak acuh dan mengalah dalam menjaga dan mengamalkan hukum dan undang-undang Ilahi. Sebagai contoh, berkenaan dengan hukum zina, al-Qur’an berfirman, “Orang-orang yang berzina, baik laki-laki maupun wanita, cambuklah masing-masing dari mereka sebanyak seratus kali. Janganlah kalian merasa iba terhadap mereka sehubungan dengan agama Allah, dan sekelompok mukminin hendaknya menyaksikan hukuman mereka itu”.

Berdasarkan ayat di atas, dalam menjalankan ketentuan-ketentuan Allah, kita tidak boleh terpengaruh oleh perasaan (iba), dan dengan bersikap acuh tak acuh berkenaan dengan hal itu, kita sebenarnya telah mempersiapkan lahan menebarnya benih-benih kerusakan (di muka bumi ini). Jika hal yang demikian itu terjadi, masyarakat agama dan insani akan hancur.

Berkenaan dengan golongan penentang Islam dan musyrikin, Islam telah menentukan hukum tertentuyang tidak dapat ditoleransi. Dalam hal ini al-Qur’an berfirman, “Dan binasakanlah mereka di manapun kalian menjumpai mereka”.

Atas dasar ini, jika maksud dari toleransi adalah sikap acuh tak acuh dalam menjalankan hukum-hukum Islam dan membiarkan setiap orang yang berani menginjak-injak kehormatannya (berkeliaran bebas), baik yang berkaitan dengan Usûluddîn maupun Furû’uddin, arti tersebut tidak dapat diterima, dan Islam memeranginya. Begitu juga toleransi dan bersikap lemah-lembut terhadap para musuh Islam dan negara Islam yang sedang berusaha menelanjangi masyarakat dari keyakinan agamanya adalah satu hal yang tidak dapat diterima oleh agama dan segenap lapisan masyarakat. Baik aparat pemerintah maupun rakyat secara keseluruhan tidak berhak untuk mempraktekkan toleransi semacam ini.

Adapun hadi yang disebutkan di atas, ia mengindikasikan sebuah kemurahan dan anugerah Allah SWT atas umat Islam. Dengan kata lain, ketika Allah membuat hukum dan undang-undang, Ia membuatnya semudah mungkin sehingga hamba-hamba-Nya tidka merasa kesulitan dan menghadapi problema yang sulit dipikul ketika mengerjakannya. Misal, jika berwudhu – karena satu dan lain sebab – dapat mendatangkan bahaya bagi mereka, Ia mewajibkan tayammum sebagai gantinya sehingga bahaya tersebut dapat dihindari. Begitu juga berkenaan dengan setiap hukum yang dapat mendatangkan kesulitan bagi mereka, hukum tersebut dakan dihapus (untuk sementara). “Dan Allah enggan menjadikan kesulitan bagi kalian dalam agama”.

Secara global, selirih hukum dan aturan-aturan adalah hukum dan aturan yang mudah. Dan hanya dengan arti inilah toleransi dalam agama dapat diterima.

Kesimpulannya, toleransi yang diindikaskan oleh hadis di atas dan hadis-hadis serupa hanya terbatas pada tahap legislasi hukum yang hanya dimiuliki oleh Allah SWT dan tidak seorang pun berhak kuntuk ikut campur tangan dalam tahap ini. Pada tahap ini, Toleransi (baca : bertindak toleran) adalah hak prerogatif dan absolut Allah. Adapun toleransi yang berarti tidak peduli dalam menjalankan hukum dan undang-undang agama, bersikap acyh tak acuh terhadap segala bentuk pelecehan terhadap Ushûluddîn dan Furû’uddîn atau bertindak sesuai dengan keinginan para musuh yang semua itu berhubungan dengan perealisasian dan pengamalan terhadap hukum-hukum tersebut, tidak memiliki tempat dalam agama.

Sati poin penting perlu kita camkan bersama. Bertindak toleran terhadap orang-oran gyang tidak memusuhi Islam dan muslimin bukan hanya satu perilaku yang layak dipuji, bahkan Islam menganjurkan mereka untuk melakukan itu sehingga hati para musuh tersebut tertarik untuk membela Islam melihat keramahannya dalam memperlaukan mereka.

Allah berfirman, “Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan bertindak adil terhadap orang-orang kafir yang tidak memerangi dan m engeluarkan kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertindak adil”.

Atas dasar ini, bertindak toleran dapat dibenarkan jika mereka tidak memusuhi Islam, muslimin, dan negara Islam.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s