Memperbaiki Kuburan dan Membangun Kubah

Oleh: Najmu al-Din Thabasi

Pandangan Wahhabiah

Para Wahhabi melarang memperbaiki kuburan, begitu pula membangunnya, memberi kubah dan meninggikannya. Mereka menganggap perkerjaan itu adalah syirik dan kufur. Mereka juga mewajibkan pembongkaran terhadap bangunan, kubah dan sekitarannya. Berikut ini adalah sebagian dari contoh-contoh fatwa mereka:

 

1. Shan’aanii

Ia berkata, “Bangunan kuburan seperti –hukumnya- sebuah berhala. Karena perbuatan semua orang musyrik terhadap berhala-berhala di jaman Jahiliyyah, dikerjakan oleh Quburiyyun (orang-orang yang suka berziarah dan berdoa di kuburan) terhadap kuburan-kuburan wali atau tempat-tempat ziarah lainnya. Apapun itu, pekerjaan mereka adalah sama, sekalipun dengan nama yang lainnya. Dan merubah nama, tidak mengeluarkannya dari hakikat berhala.”[1]

 

2. Ibnu Qayyim (Murid Ibnu Taimiyyah)

Ia berkata, “Bangunan-bangunan kuburan dibuat sebagai barhala-berhala dan Thaghut-thaghut (keterlaluan atau penguasa lalim) yang disembah. Menghancurkan semua itu adalah wajib hukumnya. Ketika kita memiliki kemampuan (kekuasaan) untuk menghancurkannya, maka hukumnya adalah tidak boleh (haram) untuk membiarkannya seperti itu walau satu hari. Karena semua itu sama dengan Laata dan ‘Uzzaa (nama-nama berhala Jahiliyyah) atau merupakan paling besarnya kemusyrikan.”[2]

Orang-orang Wahhabi pernah menulis surat kepada Syaikh al-Rakbu al-Maghribi dengan berkata, “Dengan adanya penghormatan kepada kuburan para nabi dan lain-lainnya dalam bentuk membangunnya dan meletakkan kubah di atasnya, adalah merupakan hal-hal yang sudah diberitakan oleh Nabi sawwdimana beliau bersabda, kiamat tidak akan datang kecuali setelah umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sebagian mereka telah menyembah berhala.’”[3]

 

3. Abdullah bin Sulaiman bin Balyahd

Ia penghulu para hakim Wahhabi (Qaadhiyyu al-Qudhaat), berkata di surat kabar Ummu al-Quran, “Sebelum abad ke lima, membuat kubah dan bangunan di kuburan adalah sesuatu yang tidak pernah dilakukan –oleh siapapun. Dengan demikian maka pekerjaan tersebut adalah bid’ah yang dimulai dari abad ke lima tersebut.”

Suatu jawaban yang dikeluarkan oleh ulama –Wahhabi- di Madinah, “Terlarangnya membuat bangunan di kuburan, adalah ijma’ –ulama- (kesepakatan). Ada hadits-hadits shahih yang telah diriwayatkan menganainya. Karena itu, telah dikeluarkan fatwa untuk menghancurannya.”

Para Wahhabi, dalam hal ini –penghancurannya- menyandarkan fatwanya pada riwayat yang datang dari Abu al-Hayyaj yang diriwayatkan dari imam Ali bin Abi Thaalib ra yang berkata kepadanya –Abu al-Hayyaj, “Ketahuilah, bahwa aku mengutusmu kepada suatu urusan dimana Nabi saww pernah mengutusku. Karena itu, jangan biarkan ada satu gambarpun kecuali kamu lenyapkan ia, dan jangan biarkan satupun kuburan lebih tinggi dari yang lainnya, kecuali kamu samakan ia!”[4]

 

Kritikan Terhadap Fatwa Wahhabi

1. Pernyataan mereka bahwa keharamannya itu adalah ijma’ (kesepakatan), merupakan dusta yang nyata dan tertolak. Bahkan yang berlawanan dengan fatwa merekalah yang merupakan ijma’. Yakni, kebolehannya. Semua muslimin, dari seluruh madzhabnya dan dalam seluruh masanya (baik alim atau awam, baik terkemuka atau biasa, baik pemimpin atau yang dipimpin, baik lelaki atau wanitanya), sebelum munculnya Wahhabi, mereka semua secara jelas memiliki budaya keagamaan tersebut –membangun kuburan dan semacamnya- dimana hal seperti ini termasuk katagori Ijma’ ‘Amali (kesepakatan dalam perbuatan). Dan secara jelas pula bahwa perbuatan itu telah diambil dari orang-orang alim (seperti yang sudah dijelaskan di dua jilid sebelum ini, penj.).

Shan’aani sendiri mengakui adanya budaya kaum muslimin tersebut. Ketika ia menjawab pertanyaan berikut ini, “Masalah ini –membangun kuburan- telah meliputi timur dan barat hingga tidak ada satu kota/negarapun yang tidak memiliki kuburan yang dibangun (tempat ziarah atau masyhad). Dan bahkan masjid-majidpun tidak luput dari kuburan. Dan akal manapun tidak bisa menerima kenyataan akan adanya suatu budaya yang salah di masyarakat Islam, akan tetapi tidak satupun dari ulama yang melarangnya (semuanya diam saja)?”

Ia berkata –dalam menjawabnya, “Kalau kamu ingin tahu apa yang sejujurnya dalam masalah ini dimana kamu mesti terlebih dahulu melepaskan taklid dari para pendahulu, serta berusaha melihat dengan sadar apa yang hak dan benar dalam masalah ini dimana dikuatkan dengan dalil, dan tidak menjadikan kesepakatan masyarakat Islam turun menurun itu sebagai ukuran kebenaran, maka ketahuilah bahwa apa-apa yang dilakukan oleh semua kaum awam dari umat Islam ini dimana diambil dari ayah-ayah mereka –turun temurun- adalah sesuatu yang tanpa dalil. Dan tidak satupun dari mereka yang meprotesnya sekalipun ianya tergolong dari orang-orang alim dan memiliki keutamaan (fadhilah) serta menempati posisi sebagai hakim agama, mufti dan pengajar atau guru, atau bahkan sebagai imam dalam makrifah (wali), atau sebagai pemimpin suatu negara (khalifah). Karena itu maka semua mereka-mereka ini, sekalipun dihormati masyarakatnya, tetap saja melakukan perbuatan orang-orang awam. Sudah tentu, umumnya sesuatu di masyarakat dan diamnya para ulama, bukan menjadi dalil bagi kebolehannya.”

Shan’aanii dalam jawabannya ini mengakui adanya budaya temurun kaum muslimin secara jelas dan sempurna. Yakni, mengakui bahwa perbuatan tersebut ada di masyarakat –muslim- dalam semua tingkatannya, baik ulama, pemuka, hakim agama, mufti, guru, wali, arif dan pemimpin negara (khalifah). Dan dalam semua negara Islam dimana tidak ada pengecualian sedikitpun. Karena itu, budaya Islam mana yang bisa didapat secara lebih sempurna dan lebih kuat dari budaya ini?!

Dari sisi yang lain, ia juga berkata: “Hak itu adalah yang ada dalilnya.”

Kami akan berkata: “Ijma’-nya masyarakat muslim -terlebih yang diwariskan secara turun temurun- adalah dalil yang qath’i (pasti) –terhadap kebenaran dan keIslamannya. Dan sulit mencari dalil yang lebih kuat dari hal tersebut (Sebagai contoh yang lain dari dalil budaya Islam turun menurun ini adalah pewarisan al-Qur an yang asli. Keaslian al-Quran ini, yang diwariskan secara turun temurun ini, jauh lebih kuat ketimbang kalau diyakini keasliannya secara perawian mutawatir. Karena pewarisan turun temurun yang tidak ada satu protespun terhadapnya, baik dari kalangan awam, ulama, mufti, penguasa dan semacamanya itu, merupakan nilai lebih dari penurunan turun temurun ini dimana tidak bisa dibandingkan dengan mutawatir yang hanya diriwayatkan oleh setidaknya sembilan orang tsiqah. Inilah yang dimaksud dengan dalil budaya turun temurun yang sangat kuat bagi kebenaran agama Islam).

2. Keshahihan, kegamblangan matan (teks) dan ketidak adaan hadits lain yang menentangnya (mu’aaridh), bagi mereka –Wahhabi- tidak menunjukkan bahwa hadits tersebut bagi orang lain memang shahih, gamblang dan tidak bertentangan dengan hadits lain. Karena itu, bagaimana mungkin, hanya dengan hadits yang dianggap shahih oleh mereka sendiri –Wahhabi- sementara ulama-ulama hadits lainnya menentangnya, lalu masih saja mereka katakan sebagai ijma’?!

3. Dalam menjawab ulama Madinah itu –kita akan berkata- bahwa jelas terdapat kontradiksi pada perkataan mereka itu. Karena terkadang mereka mengatakan bahwa banyak ulama yang berfatwa tentang wajibnya menghancurkan kuburan, tapi di lain waktu mereka mengatakan bahwa keshahihan hadits yang mengharamkan itu –membangun kuburan- adalah ijma’.

Yang menjadi pertanyaan disini: Kalau keshahihan haditsnya -penghancuran kuburan- merupakan ijma’, lalu mengapa tidak semua ulama memfatwakan kewajibannya??! Padahal kamu sendiri sangat memaksakan bahwa kebanyakan ulama memfatwakan wajibnya penghancuran itu?!!

4. Hadits yang dimaksud itu, memiliki masalah dalam sanad dan sekaligus dalalat matannya (penyimpulan maknanya). Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya, memiliki sanad (perawi) seperti berikut ini:

Telah diriwayatkan kepada kami oleh Yahya bin Yahya dan Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, ketiganya meriwayatkan dari Wakii’, dan Wakii’ dari Sufyaan al-Tsaurii, dan Sufyaan dari Habiib bin Abi Tsaabit, dan Habiib dari Abu Waail, dan Abu Waail dari Abu al-Hayyaaj Asadi yang berkata, “Ali as bersabda kepadaku, ‘Ketahuilah, bahwa aku mengutusmu kepada suatu urusan dimana Nabi sawwpernah mengutusku. Karena itu, jangan biarkan ada satu gambarpun kecuali kamu lenyapkan ia, dan jangan biarkan satupun kuburan lebih tinggi dari yang lainnya, kecuali kamu samakan ia!’”[5]

 

Kritikan Terhadap Sanad Hadits

Dalam rentetan perawi hadits ini terdapat nama-nama yang didhaifkan (dilemahkan) oleh para ulama rijal (ahli dalam orang-orang yang meriwatkan hadits –rijal.) dimana orang pertamanya adalah Wakii’ bin al-Jarraah al-Rawaasii.

1. ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku mendengar dari ayahku yang berkata, ‘Tashhiif-nya[6] Ibnu Mahdi lebih banyak dari Wakii’, tapi kekeliruan Wakii’ lebih banyak dari Ibnu Mahdi.’”

2. Dia juga berkata di tempat lain, “Aku mendengar dari ayahku yang berkata, ‘Wakii’ melakukan kekeliruan pada 500 hadits.’”[7]

3. Ibnu al-Madiini berkata, “Wakii’ tidak menguasai bahasa Arab dengan baik. Dan kalau ia meriwayatkan haditsnya secara leterlek, bisa membuat orang terperangah karenanya –aneh. Ia selalu mengatakan, ‘Telah diriwayatkan kepada kami dari al-Sya’abii dari ‘Aisyah.’”[8]

4. Muhammad bin Nashr al-Maruuzii berkata, “Kalau Wakii’ meriwayatkan sebuah hadits, dia meriwayatkannya melaui hafalannya. Karena itu telah merubah lafazh (kata-kata) hadits hingga terasa ia tidak meriwayatkan hadits secara lahiriahnya, tapi hanya maknanya.

Dan dia juga bukan orang yang ahli dalam bahasa –Arab.”[9]

Telah diriwayatkan dari Na’iim bin Hamaad yang berkata, saya bersama Wakii’ ketika mau makan malam. Ia berkata, “Apa yang kamu suka supaya aku menyiapkannya untukmu? Apakah kamu suka sup gandum yang disukai orang muda atau yang disukai orang-orang tua?” Aku menjawab, “Kamu bicara apa ini?” (kata sindiran, yang berarti bahwa membicarakan hal itu juga merupakan dosa). Wakii’ menjawab, “Perbuatan itu lebih halal bagiku dari air sungai Furaat.”

Telah pula dinukil dari Ahmad yang berkata, “Wakii’ suka mengumpat orang-orang yang telah terdahulu, suka minum minuman yang memabokkan dan berfatwa dengan hal-hal yang batil.”

Orang lain yang ada di rentetan sanad hadits itu adalah Sufyaan al-Tsaurii.

1. Dzahabii dalam mengomentarinya berkata, “Dia dengan tipuan dan kelicikan, suka mentsiqahkan (memberi nilai jujur/tsiqah) orang-orang yang telah dilemahkan oleh para ulama rijal (ahli dalam orang-orang yang meriwayatkan hadits).”[10]

2. Ibnu al-Mubaarak berkata, “Sufyaan al-Tsaurii sedang meriwayatkan hadits. Ketika aku sampai padanya, aku lihat dia melakukan Tadliis (penyembunyian kebenaran) dan juga pemalsuan (baca: merubah dari yang benar kepada yang tidak benar). Katika ia melihatku, ia merasa malu akan perbuatannya itu dan berkata kepadaku, “Aku mau meriwayatkan hadits dari kamu.””[11]

3. Abu Bakar bin Abi Syaibah berkata, “Aku pernah mendengar Yahya yang berkata, “Sufyaan al-Tsauri pernah berusaha menipuku untuk menshahihkan perawi yang lemah (dhaiif). Akan tetapi ia tidak berhasil menipuku.”[12]

4. Yahya bin Mu’iin berkata, “Tak seorangpun yang lebih tahu tentang hadits-hadits Abu Ishaaq dari Sufyaan Tsaurii, dan dia –Sufyaan Tsaurii- menggunanakannya dengan Tadliis (menyembunyikan kebenarannya) dan penipuan.

Orang ketiga yang ada dalam sanad hadits tersebut adalah Habiib bin Abii Tsaabit.[13]

1. Ibnu Habbaan berkata, “Ia –Habiib bin Abii Tsaabit- melakukan Tadliis dalam hadits dan penipuan.”[14]

2. ‘Aqiilii berkata, “Ia –Habiib- menukil[15] hadits-hadits dari ‘Athaa’ yang ia sendiri tidak mengamalkannya.”

3. Ia –‘Aqiilii- juga berkata, “Ibnu ‘Aun menilainya –Habiib- memiliki cela.”

4. Qaththaan berkata, “Ia –Habiib- selain hadits, juga menukil kata-kata (pandangan) ‘Athaa’ yang ia -Habiib- sendiri tidak mengamalkannya dan kata-kata itu juga tidak tercatat (dimanapun).”

5. Ibnu Khaziimah berkata, “Habiib bin Abii Tsaabit melakukan Tadliis dalam hadits.”[16]

Orang ke empat yang ada dalam deretan sanad hadits di atas itu, adalah Abuu Waail. Ia sangat membenci Imam Ali as. Karena itu, bagaimana mungkin bisa mempercayainya, sementara Nabi saww bersabda, “Wahai Ali, tidak ada orang yang menyukaimu kecuali ia seorang mukmin. Dan tidak ada orang yang membencimu kecuali ia seorang munafik.”[17]

 

Membedah Implikasi (Dilalat) Hadits

Pertama. Hadits ini adalah Syaadz[18]. Hanya Abu al-Hayyaaj yang meriwayatkannya. Suyuuthii di dalam kitab Syarhu Nasaai berkata, “Dalam kitab-kitab hadits, hanya satu riwayat ini yang dinukil dari Abu al-Hayyaaj.”

Kedua. Hadits di atas itu tidak memiliki makna (dalalah atau dalil) terhadap yang didakwakan mereka –Wahhabi. Karena hadits itu memerintahkan penyamaan kuburan supaya tidak ada perbedaan diantara mereka. Jadi, melarang adanya perbedaan. Perhatikan kata-kata hadits tersebut: “لا قبرا مشرفا” Yakni: “Tidak boleh ada kuburan yang lebih tinggi!” Maksud dari Musyarraf disini adalah kuburannya lebih tinggi dari yang lainnya. Ketidak samaan itu jelas adalah karena ketinggiannya. Dan Syaraf dikatakan kepada Ketinggian dan Punuk Onta, sebagaimana dikatakan oleh Fiiruuz Aabadii[19]. Karena itu Syaraf (mulia), kalau dikatakan secara umum, maka ia memiliki makna Tinggi, baik ketinggian itu berbentuk seperti punuk onta atau punggung ikan, atau tempat yang tinggi (baca: mulia) seperti istana dan semacamnya. Akan tetapi[20] kata “Hendaknya kamu ratakan!” merupakan kontek yang bisa menjadi petunjuk dari makna dari syaraf disini, yaitu meratakan bagian atas semua kuburan yang berbentuk seperti punuk onta atau punggung ikan.

Dengan kata lain, hadits tersebut memiliki tiga makna yang bisa dimungkinkan:

 

  1. Menghancurkan bangunan kuburan yang tinggi;
  2. Meratakan semua kuburan dengan tanah;
  3. Meratakan bagian atas kuburan yang memiliki model seperti punuk onta.

Dari ketiga makna yang dimungkinkan itu, kemungkinan pertamanya tidak bisa diterima. Karena budaya kaum muslimin, baik yang dilakukan para shahabat Nabi saww dan yang selainnya, melakukan yang berbeda dari makna tersebut, sebagaimana sebagian contohnya akan disebutkan kemudian.

Kemungkinan makna ke duanya juga tidak bisa diterima. Karena dalam banyak riwayat dapat dipahami bahwa meninggikan kuburan seukuran satu jengkal adalah sunnah. Karena itu, tinggal kemungkinan ke tiganya yang memerintahkan supaya kuburan yang memiliki ketinggian dan bermodel punuk onta atau punggung ikan itu, diratakan bagian atasnya (baca: tidak dihancurkan). Sebagian ulama Ahussunnah –seperti Qastilaani- mensyarahi atau menerangkan hadits tersebut dengan kemungkinan ke tiga ini:[21]

 

1. Pandangan Nawawi (Pensyarah kitab Shahih Muslim)

Ia berkata, “Kuburan tidak boleh ditinggikan dengan bentuk menyamai berhala seperti punuk onta atau punggung ikan. Karena itu kuburan harus lebih tinggi satu jengkal dari tanah akan tetapi bagian atasnya harus dibuat rata.”[22]

2. Pandangan Qatilaanii.

Setelah ia berfatwa bahwa meratakan bagian atas kuburan yang menonjol itu adalah sunnah, dan tidak boleh meninggalkannya dengan dalil bahwa orang-orang Raafidah[23] membuat kuburan mereka rata dengan tanah, dan setelah ia tidak melihat perbedaan antara pemerataan bagian atas yang menonjol dari kuburan itu dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu al-Hayyaaj tersebut, ia berkata, “Tidak ada riwayat yang menyuruh kita meratakan kuburan dengan tanah. Bahkan yang ada adalah meratakan bagian atasnya (supaya tidak membentuk seperti berhala). Dan cara memadukan riwayat-riwayat yang berbeda-beda itu hanya dengan ini (meratakan bagian atasnya saja dan tidak meratakannya dengan tanah, penj.).

 

Sirah Kehidupan Para Shahabat dan Umumnya Kaum Muslimin

Ketiga. Kehidupan para shahabat dan umumnya kaum muslimin

1. Kuburan para nabi yang ada di sekitar Baitu al-Muqaddas (Palestina). Seperti kuburan Nabi Dawud as, Ibrahim as, Ishak as, Ya’qub as, Yusuf as (yang dipindahkannya oleh Nabi Musa as dari Mesir) yang berada di kota al-Khaliil dan lain-lainnya. Kuburan-kuburan itu memiliki bangunan yang tinggi. Dan sebelum Islam di atas kuburan-kuburan itu hanya diletakkan batu besar sampai pada masa Islam menguasai daerah tersebut.[24]

Ibnu Taimiyyah sendiri menyatakannya dengan jelas, dengan mengatakan, “Bangunan yang ada di kuburan nabi Ibrahim as. ada sejak jaman kemenangan Islam di daerah itu dan pada jaman shahabat. Akan tetapi bangunan itu tertutup –pintunya- sampai tahu 400 H. Tidak diragukan lagi, bahwa ketika Umar menguasai daerah itu, tidak memerintahkan pembongkaran kuburan tersebut.”[25]

Balyahd mendakwa bahwa adanya bangunan di atas kuburan itu dimulai dari abad ke lima Hijriah ke setelahnya. Padahal, dengan memperhatikan sejarah, dapat diketahui dengan jelas, bahwa kenyataannya jauh berbeda dari yang ia katakan itu. Karena banyak sekali bangunan kuburan yang dibuat sebelum abad ke lima Hijriah. Dan bahkan, sebagian bangunan kuburan dibuat di abad-abad pertama dan ke dua Hijriah[26] dimana sebagian contohnya akan disebut dibawah ini:

 

  1. Bangunan kuburan Nabi saww.

(Bangunan ini dibangun di jaman shahabat dan dirawat oleh ‘Aisyah, lihat jilid-jilid sebelumnya, penj.)

  1. Bangunan masjid di atas kuburan Hamzah as.[27]
  2. Bangunan kuburan Ibrahim bin Muhammad saww.

Bangunan yang berada di rumah Muhammad bin Zaid bin Ali as.

  1. Bangunan kuburan Sa’dun bin Mu’aadz.

Bangunan yang berada di rumah Ibnu Aflah dimana di atas kuburannya dibangun kubah di jaman Umar bin ‘Abdu al-‘Aziiz.[28]

  1. Bangunan kuburan Zubair.

Bangunan dibangun di tahun 386 Hijriah.

  1. Bangunan kuburan Nudzuur.

Bangunan dimana terdapat bangunan kuburan ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Umar bin Ali as yang dibangun di abad ke empat.

  1. Bangunan kuburan Ghulaam Khaliil al-Baahilii Abu ‘Abdillah (wafat 257 H).

Dzahabi berkata, “Ia meninggal di tahun 275 H. Waktu itu pasar diliburkan karenanya, dan semua orang, baik lelaki atau perempuan datang menyolatinya. Setelah itu diletakkan di sebuah tabut dan dibawa ke kota Bashrah. Dia dimakamkan di sana dan diatasnya dibangun sebuah kubah.”[29]

  1. Bangunan kuburan Imam Ali bin Abi Thaalib as.

Bangunan yang dibuat di tahun 372 Hijriah. Dzahabii berkata, “Sulthan ‘Adhadu al-Daulah adalah seorang Syi’ah yang teguh. Ia menampakkan kuburan Imam Ali as di Najaf. Dan setelah itu, ia membangunnya.[30]

 

Bangunan-bangunan Di Atas Kuburan dan Renovasinya

A. Renovasi Bangunan Kuburan Nabi

1. Bangunan kuburan Nabi saww

Setalah Nabi saww wafat, beliau dimakamkan di kamarnya. Kalau membuat bangunan kuburan itu haram, maka sudah seharusnya para shahabat itu menghancurkan dulu kamar tersebut sebelum melakukan pemakaman. Sebab, sesuai dengan fatwa para Wahhabi, bangunan kuburan itu seperti berhala. Karena itu, tidak ada bedanya antara menguburkan mayat di dalam bangunan atau membangun bangunannya setelah penguburan. Bangunan kuburan Nabi saww sudah dibuat sejak awal pemakaman beliau dan sampai sekarang bangunan itu tetap ada. Bagitu pula kubah yang ada di atasnya.

2. Pertama kalinya, ketika Nabi saww wafat dan dimakamkan di rumah beliau, di kuburannya itu tidak memiliki tembok. Lalu pertama kali orang yang membuatkan temboknya adalah Umar bin Khaththab.[31]

3. ‘Aisyah membuat tembok penjarak antara dirinya dan kuburan Nabi saww dimana ia tinggal di ruangan itu, baik sebelum atau sesudah pembuatan tembok kuburan Nabi saww.

Masyarakat, ketika menziarahi makam Nabi saww selalu membawa tanah kubur beliau –sebagai tabarruk. Akhirnya, ‘Aisyah memerintahkan untuk membangun tembok mengelilingi kubur Nabi saww supaya tanah kubur beliau tidak bisa diambil. Akan tetapi di tembok yang dibuat mereka itu, terdapat sebuah lubang. Dan masyarakatpun, mengambil tanah kubur Nabi saw melalui lubang tersebut. Karena itu, ‘Aisyah memerintahkan untuk menutup lubang tersebut.[32]

4. ‘Ubaidullah bin Zubair membuat bangunan di atas sebuah kuburan, lalu setelah beberapa waktu bangunan yang dia buat itu roboh.

5. ‘Umar bin ‘Abdu al-‘Aziiz merobohkan rumah pertamanya. Kemudian ia membangun rumah yang baru dengan dilapisi mermer dan meletakkan seorang wanita di dalamnya. Ketika rumah pertamanya itu dibongkar terdapat tiga kuburan di dalamnya.[33]

6. Di masa pemerintahan al-Mutawakkil, khalifah Bani ‘Abbasiah, dibangun lagi rumah di atas tanah itu (yang ada tiga kuburannya tersebut) dengan dilapisi mermer.

7. Pada masa pemerintahan al-Muqtafaa (khalifah Bani ‘Abbaas), dilakukan renovasi pada bangunan di atas. Pada waktu itu dibuat tempat duduk dan pemanggangan yang menyambung yang dipasang pada tembok yang dibuat oleh ‘Umar bin ‘Abdu al-‘Aziiz tersebut.

8. Ketika bangunan itu roboh di jaman pemerintahan al-Mustadhii’ (khalifah Banii ‘Abbaas), dibangun lagi rumah di atas tanah tersebut (yang ada tiga kuburannya itu).

Begitu pula, haram Rasulullah saww (makam Nabi saww) pernah terbakar pada tahun 654 Hijriah, dan pada jaman pemerintahan al-Mu’tashim (khalifah Bani ‘Abbaas) makam Nabi sawwtersebut direnovasi. Dalam merenovasi makam Nabi sawwitu, telah dilakukan dengan memakai alat-alat yang didatangkan dari Mesir (yang rajanya bernama Manshuur Aibak al-Shaalihii), dan pemerintahan Yaman (raja Mudhaffar) melapisi atap dan tiang-tiangnya dengan kayu.

9. Dan penyempurnaan pembangunan makam Nabi sawwitu, terjadi pada jaman pemerintahan Manshuur Qalaawuun al-Shaalihi (raja Mesir) dimana ia yang membangun kubahnya. Kubah makam Nabi sawwitu berwarna biru tua yang dibuat oleh Ahmad bin ‘Abdu al-Qawii di tahun 678 Hijriah.[34]

 

B. Kuburan Shahabat dan Yang Selainnya

1. Ketika ‘Aqiil menggali sumur di rumahnya, dia mendapatkan sebuah batu nisan yang bertuliskan “Ini adalah kuburan Ummu Habiibah”.[35] Karena itu ia tidak jadi membuat sumur, tapi membuat rumah di atasnya.

2. Haaruun al-Rasyiid membangun makam Imam Ali as dan membuat kubah di atasnya pada abad ke dua Hijriah.[36]

3. Khathiib al-Baghdaadi berkata, “Imam Musa as dikuburkan di pekuburan Syuniiz dan makamnya sangat terkenal dan menjadi tempat ziarah. Di atasnya dibangun bangunan yang besar dan di dalam bangunannya diletakkan banyak tempat lilin dan dialasi dengan hambal (karpet) dan dilengkapi dengan berbagai hal.”[37] Dan Khathiib ini, dilahirkan pada tahun 392 Hijriah (abad empat).

4. Haaruun al-Rasyiid dikubur di samping imam Ridha as yang dibangun megah dan berkubah. Dan pertama kali bangunan itu dibuat oleh Makmuun putra Haaruun al-Rasyiid pada tahun 200 Hijriah.

5. Nahsyal bin Hamiid Thuusii membangun kuburan Abu Tamaam Habiib bin Aus al-Thaai -seorang penyair terkenal yang dikuburkan di Mushil- pada tahun 230 Hijriah.

6. Kuburan Buuraan bintu Hasan bin Sahl, dibangun dengan diberi kubah, pada tahun 271 Hijriah.

7. Dzahabi berkata, “Al-Mutawakkil (salah satu khalifah ‘Abbaasiah), pada tahun 236 Hijriah memerintahkan penghancuran bangunan kuburan Imam Husain bin ‘Ali as dan begitu pula sekitarannya –di Karbala. Masyarakat Baghdad marah dan tidak dapat menerima perbuatannya itu. Mereka menulis celaan-celaan kepada al-Mutawakkil pada tembok-tembok masjid. Para penyair juga menulis protesnya itu dalam bentuk syair yang, diantara sebagai berikut, “Demi Tuhan, kalau Umayyah dan keturunannya, membunuh dengan kejam putra putri Rasulullah saww, maka orang-orang yang dari keluarganyapun (Khalifah Bani ‘Abbaas) melakukan seperti yang dilakukan Bani Umayyah.

Demi Tuhan, kubur Husain ini telah dihancurkan oleh Bani ‘Abbaas. Bani ‘Abbaas kecewa karena tidak ikut andil dalam pembunuhan Husain as. Dan sekarang lihatlah, bagaimana mereka menghancurkan kuburannya dan menodai ruh dan tulang-tulangnya?”

Kalau membuat bangunan kuburan, dengan dalil riwayat, dikatakan sebagai syirik dan haram, khususnya pada jaman itu adalah jaman kekuasaan Haaruun al-Rasyiid dan al-Makmuun dimana juga banyak sekali ulama yang hidup di kala itu, maka sudah semestinya mereka melarang dan mengharamkan pembuatan bangunan kuburan (yang dilakukan olah khalifah Haaruun al-Rasyiid dan Makmuun bin Haaruun al-Rasyiid serta masyarakat umum pada jaman itu, penj.)

Padahal, tak satupun ulama yang berpendapat bahwa perbuatan tersebut (membangun kuburan) adalah perbuatan yang jelek dan salah. Padahal ketika para ulama itu mendengar pendapat khalifah Makmuun yang mengatakan bahwa al-Quran itu adalah makhluk[38], mereka menentangnya dan bahkan bersedia dipenjara dan menahan siksaannya.

8. Salmaan al-Faasiri wafat pada tahun 36 Hijriah. Baghdaadii berkata, “Kuburannya –Salmaan- sampai sekarang menonjol dan terkenal. Letaknya di teras bangunan istana. Di kuburannya dibangun sebuah makam (bangunan) yang dijaga dan dirawat oleh seorang khadim (penjaga kuburan) yang juga tinggal di dalamnya.”[39]

9. Thalhah, terbunuh pada perang Jamal di tahun 36 Hijriah[40]. Ibnu Bathuuthah, tentang kuburannya, berkata kepada ‘Abdullah, “Kuburannya –Thalhah- berada di tengah-tengah kota. Di kuburannya, dibangun bangunan berkubah dan masjid. Di sudut bangunan kuburannya disediakan tempat untuk membagi-bagikan makanan kepada masyarakat.”

Ibnu Bathuuthah juga menyebutkan adanya beberapa kuburan yang menjadi tempat ziarah di Bashrah dimana kuburan-kuburan itu milik beberapa shahabat Nabi saww dan taabi’iin. Ia berkata, “Di setiap kuburan itu dibangun sebuah bangunan yang berkubah yang dihiasi dengan nama dari pemiliknya.”[41]

10. Ibnu Jauzi berkata, “Atsiir Abu al-Misk ‘Anbari, telah membangun kuburan Zubair bin ‘Awaam yang juga dijadikan masjid. Di dalamnya dilengkapinya dengan tikar, carpet  dan tempat-tempat lilin serta dilengkapi pula dengan penjaga yang telah juga diwakafkan untuk kuburan tersebut.”[42]

11. Abu Ayyuub al-Anshaari, meninggal di Roma pada tahun 52 Hijriah. Waliid berkata: Seorang Palestina yang sudah tua berkata kepadaku, “Ada sebuah bangunan putih di bawah kota Qisthanthaniah yang masyarakat mengatakannya sebagai kubur Abu Ayyub al-Anshari, salah satu shahabat Nabi saww. Aku juga menziarahi bangunan itu dan kulihat kuburannya ada di dalam bangunan tersebut dimana di atas kuburannya ditelakkan sebuah tempat lilin yang diikat dengan sebuah rantai.”[43]

Ibnu Katsiir berkata, “Kuburan Abu Ayyub al-Anshari berupa masjid dan menjadi tempat ziarah.”[44]

12. Dzahabii berkata, “Di atas kuburan Imam Musa bin Ja’far as di Baghdad, dibangun sebuah bangunan yang sangat besar dan terkenal. Bagitu pula di atas kuburan anaknya Ali bin Musa as yang dikubur di kota Thuus.”[45]

Ibnu Jauzii berkata, “Di hari-hari ini (459 Hijriah), Abu Sa’iid al-Mustaufaa (yang dijuluki dengan Syarafu al-Mulk) mebangun kuburan Abu Haniifah dengan batu bata dan meletakkan kubah di atasnya.”[46]

13. Ma’ruuf Karakhii, meninggal tahun 200 Hijriah. Ibnu Jauzii berkata, “Di bulan Rabii’u al-Awwal tahun 460 Hijriah, kuburan Ma’ruuf dibangun dangan batu bata dan kapur –semen masa itu.”[47]

14. Muhammad bin Idriis (Imam Syaafi’ii) wafat pada tahun 204 Hijriah. Dzahabii berkata, “Raja Kaamil telah mambangun kuburan Imam Syaafi’ii dan meletakkan kubah di atasnya.”[48]

15. Abu ‘Awwaanah meninggal pada tahun 316 Hijriah. Dzahabii berkata, “Kuburan Abu ‘Awwaanah ada di tengah kota Isfaraayin dan di atasnya dibangun makam yang menjadi tempat ziarah.”

16. Abu ‘Ali al-Hubaisy meninggal pada tahun 420 Hijriah. Ibnu Jauzii berkata, “Kuburannya ada di kota Kufah, sangat menonjol dan ada bangunan makamnya.”[49]

Semua penjelasan di atas itu, adalah hakikat sejarah yang terjadi di antara kaum muslimin yang mana jelas bertentangan dengan pernyataan dan keyakinan para Wahhabi (Yang mengatakan bahwa membuat bangunan kuburan itu adalah haram, dihukumi membuat berhala dan merupakan bid’ah dari abad ke lima ke belakang, pentj.).

Dalam keadaan yang demikian ini, masih saja salah satu pensyarah (penjelas atau pengomentar) dari kitab Dzahabi, Sairu A’laami al-Nubalaa’, yang bernama Akram al-Buusyii, mengomentari bukti-bukti sejarah di atas dengan mengatakan, “Semua bangunan itu dibuat oleh orang-orang awam dari kaum muslimin dimana dalam hal ini tidak mengerti hukumnya sama sekali. Dan perbuatan mereka itu adalah bid’ah.”

Kepada Tuhan kami memanjatkan puji syukur, karena pengomentar di atas, setidaknya, tidak melemparkan fitnahnya pada orang-orang Syi’ah (karena mereka membenci Syi’ah melebihi kebencian mereka pada golongan lainnya) dengan berkata, misalnya,  “Perbuatan-perbuatan itu adalah bid’ahnya orang-orang Syi’ah.”

Tapi bahkan ia berkata, “Perbuatan-perbuatan itu (membangun kuburan) adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang muslim yang awam.”

 

Menolak Argumentasi dengan Riwayat Abu al-Zubair

Para Wahhabi untuk membuktikan keyakinan mereka –pengharaman membangun kuburan- berdalil dengan riwayat Abu al-Zubair -yang diriwayatkan oleh Muslim[50], Turmudzii[51], Ibnu Maajah[52], Nasaai[53], Abu Daawud[54] dan Ahmad bin Hanbal[55] dalam kitab Musnadnya- dan benar-benar menggenggam erat riwayat ini. Sesuai dengan bunyi riwayat tersebut, Nabi saw telah melarang muslimin untuk membangun kuburan dan duduk-duduk di atasnya. Riwayat ini telah diriwayatkan melalui beberapa thariq (jalur).

Jalur pertama: Abu Bakar bin Abi Syaibah berkata: Hafsh bin Ghiyaats, dari Juraij, dari Abu al-Zubair, dari Jaabir telah meriwayatkan dari Nabi sawwyang bersabda: “…. [56]

Jalur kedua: Haaruun bin ‘Abdullah berkata: Hajjaaj bin Muhammad  meriwayatkan hadits kepada kami dari Muhammad bin Raafi’, dan ‘Abdu al-Razzaaq dari Ibnu Juraij dari Abu al-Zubair yang meriwayatkan hadits dari Nabi sawwyang bersabda: “….[57]

Jalur ketiga: ‘Abdu al-Rahmaan bin Aswad berkata: Telah diriwayatkan kepada kami dari Muhammad bin Rabii’ah, dari Ibnu Juraij, dari Abu al-Zubair, yang mengatakan bahwa Nabi sawwbersanda: “….[58]

Jalur keempat: Telah diriwayatkan dari Azhar bin Marwaan, dari Muhammad bin Ziyaad, dari ‘Abdu al-Waarits, dari Ayyuub, dari Abu al-Zubair, yang mengatakan bahwa Nabi sawwbersabda: “….[59]

Jalur kelima: Telah diriwayatkan dari Yuusuf bin Sa’iid, dari Hajjaaj, dari Ibnu Juraij, dari Abu al-Zubair, yang mengatakan bahwa Nabi saw bersabda.“….. [60]

 

Problem-problem Hadits

Hadits ini memiliki problem baik dari sisi sanad –perawi- atau matannya –kalimatnya:

 

1. Problem Sanad Hadits

Dari sisi sanad hadits di atas, kita dapat melihat orang-orang seperti Ibnu Juraij, Abu al-Zubair, Hafsh bin Ghiyaats, Muhammad bin Rabii’ah, ‘Abdu al-Razzaaq dan ‘Abdu al-Waarits, dimana sebagian orang-orang ini diragukan oleh Ahlussunnah sendiri.

1. Ibnu Juraij

Dia adalah ‘Abdu al-Malik bin ‘Abdu al-‘Aziiz bin Juraij al-Umawi. Telah banyak pernyataan tentang dia, seperti:

 

1.1. Telah ditanyakan kepada Yahya bin Sa’iid tentang hadits Ibnu Juraij. Ia dalam jawabannya berkata, “Hadits dia adalah dha’iif –lemah.”

Telah pula ditanyakan pada Yahya bin Sa’iid tentang kalimat yang dipakai Ibnu Juraij “Akhbarani” (telah dikabarkan padaku) dalam meriwayatkan hadits. Dan Yahya bin Sa’iid menjawab, “Itu tidak penting. Semua haditsnya adalah lemah –dha’iif.”

1.2. Ahmad bin Hanbal berkata, “Kalau Ibnu Juraij berkata: ‘Fulan dan Fulan berkata demikian’, maka ia telah meriwayatkan hadits mungkar –harus ditolak.”

1.3. Maalik bin Anas berkata, “Ibnu Juraij, dalam mengumpulkan hadits, seperti orang yang mengumpulkan kayu bakar di malam hari.” (kata-kata ini adalah sindiran bagi orang yang tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar).

1.4. Daaru al-Quthnii berkata, “Jauhilah tadliis (kekeliruan) dan penukilan tidak benarnya Ibnu Juraij. Karena ia benar-benar dengan sangat buruk telah melakukan tadliis (kesalahan terhadap hadits atau perawinya). Dan setiap ia meriwayatkan hadits dari seorang yang lemah –dha’iif- sebegitu rupa ia riwayatkan hingga nampak bagi orang lain seakan ia meriwayatkan dari orang yang tsiqah –shahiih.”

1.5. Ibnu Habbaan berkata, “Ibnu Juraid melakukan tadliss dalam hadits.”

1.6. Yahya bin Sa’iid berkata, “Kalau Ibnu Juraij berkata: ‘Fulan dan Fulan’, maka pernyataannya itu sama dengan angin –ngawur.”

1.7. Yaziid bin Zarii’ berkata, “Ibnu Juraij adalah pemilik keranjang sampah. Yakni dalam haditsnya terdapat ketidak murnian dan lemah –dha’iif.”

1.8. Dzhabii berkata, “Ibnu Juraij melakukan tadliis dalam hadits-haditsnya. Dalam ke-tsiqahan dirinya sendiri (ada dua penafsiran yang dimungkin menjadi maksud dari kata-kata Dzahabi ini: Pertama, Ibnu Juraid ini sendiri adalah seorang yang tsiqah –jujur. Akan tetapi, ketidak tahuannya itu, telah banyak menyebabkannya melakukan kesalahan (tadliis) dalam sanad dan matan secara tidak sengaja hingga haditsnya menjadi hadits mungkar –tertolak- atau dha’iif –lemah. Kedua, walaupun ia dianggap tsiqah bagi orang lain (bukan semua orang walaupun dikatakan ijma’ karena sesuai nukilan di atas banyak yang melemahkannya), akan tetapi bagi Dzahabi dia tidak tsiqah karena sering melakukan mut’ah, pentj.), merupakan ijma’. Padahal ia, kira-kira telah melakukan mut’ah sebanyak tujuh puluh kali.”

1.9. ‘Abdullah bin Ahmad menukil dari ayahnya yang berkata, “Sebagian hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Juraij secara mursal (tidak menyebut sebagian nama perawinya) adalah hadits-hadits maudhu’ (buatan sendiri), dan dia sendiri tidak mengambil perduli dari mana ia menukil hadits-hadits tersebut.”

1.10. Daaru al-Quthnii berkata, “Jauhilah tadliisnya Ibnu Juraij. Karena ia dengan sangat buruk telah melakukan tadliis. Setiap saat ia mengambil hadits dari seorang yang lemah –dha’iif- sebegitu rupa ia tutupi hingga nampak bagi orang lain seakan mengambil dari seorang yang tsiqah –shahiih.”[61]

 

2. Abu al-Zubair

Nama dia adalah Muhammad bin Muslim bin Tadris Aamadii. Para ulama rijaal telah mendha’iifkannya –melemahkannya- sebagaimana berikut ini:

 

2.1. Telah dinukil dari Ahmad bin Hanbal yang mengatakan bahwa Abu al-Zubair adalah seorang yang dha’iif.

2.2. Na’iim bin Hamaad berkata, “Aku mendengar dari Ibnu ‘Iyyiinah (‘Uyainah) bahwa sepertinya Abu al-Zubair itu adalah seorang yang lemah –dha’iif.”

2.3. Telah dinukilkan dari Suwaid bin ‘Abdu al-‘Aziiz yang mengatakan, “Syu’bah telah berkata kepadaku: ‘Kamu mengambil hadits dari Abu al-Zubair, padahal dia sendiri tidak bisa shalat?!”

2.4. Na’iim berkata, “Aku mendengar dari Hasyim yang berkata bahwa ia -di suatu hari- pernah meriwayatkan hadits dari Abu al-Zubair, lalu Syu’bah mengambil kitabnya dan merobeknya.”

2.5. ‘Abdu al-Rahmaan bin Abi Khaatim berkata, aku pernah bertanya kepada ayahku tentang Abu al-Zubair. Ayahku dalam menjawab pertanyaanku berkata, “Hadits-hadits yang dirwayatkan melalui dia memang ditulis (dinukilkan) akan tetapi tidak dapat dijadikan dalil –sandaran.”[62]

2.6. Turmudzii berkata, “Syu’bah melemahkan –mendha’iifkan- Abu al-Zubair al-Makkii.”[63]

2.7. Abu Zar’ah dan Abu Haatim sama-sama berkata, “Tidak bisa menjadikan hadits-hadits Abu al-Zubair sebagai dalil.”

2.8. Ibnu Abi Haatim berkata, Aku bertanya kepada Abu Zar’ah tentang Abu al-Zubair. Abu Zar’ah dalam menjawabku berkata, “Apakah orang-orang telah meriwayatkan hadits-haditsnya?”

Aku menjawab, “Apakah bisa hadits-haditsnya dijadikan dalil?”

Ia menjawab, “Orang itu hanya bisa berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang tsiqah –jujur.” (sindiran bahwa hadits-hadits Abu al-Zubair bukanlah hadits tsiqah yang bisa dijadikan dalil)

2.9. Syu’bah berkata, “Tidak ada yang lebih membahagiaanku kecuali bisa bertemu dengan orang Makkah dan menanyakan tentang Abu al-Zubair. Karena itu, aku sendiri akhirnya pergi ke kota Makkah untuk mendengarkan hadits darinya. Suatu hari aku duduk di dekatnya dimana seseorang sedang mendatangi Abu al-Zubair dan bertanya tentang beberapa masalah kepadanya. Abu al-Zubair membantah semua perkataan orang itu dan mengejeknya sebagai pengada-ngada. Aku berkata kepadanya –Abu al-Zubair: ‘Kamu berani memfitnah seorang muslim?’ Ia menjawab: ‘Dia telah membuat aku marah.’ Aku menjawabnya: ‘Apakah pada setiap orang yang membuatmu marah, kamu fitnah ia dengan pengada-ngada? Dari sekarang aku tidak lagi akan meriwayatkan hadits darimu.’”[64]

Dengan semua penjelasan di atas itu dapat disimpulkan bahwa Abu al-Zubair adalah: dha’iif/lemah; tidak bisa shalat dengan baik; haditsnya tidak bisa dijadikan dalil; orang yang suka mengarang-ngarang; pemfitnah; Syu’bah merobek kitab hadits yang diriwayatkan darinya; dan seterusnya.

Dengan semua ini, apakah masih ada kebolehan untuk mempercayai kata-kata dan riwayatnya?!

 

3. Hafsh bin Ghiyaats

Para ulama ahli rijaal telah berkata tentang dia sebagai berikut:

 

3.1. Ya’quub bin Syu’bah berkata tentang dia, “Tidak boleh mempercayai hafalannya.” (Maksudnya jangan ambil haditsnya kalau dalam meriwayatkannya tidak memakai kitab (baca: menggunakan hafalannya, pentj.)

3.2. Abu Zar’ah berkata, “Ketika seseorang bertanya tentang sebuah hadits, dalam menjelaskannya, ia tidak memiliki hafalan yang bagus.”[65]

3.3. Daawud bin Rasyiid berkata, “Hafsh, banyak melakukan kesalahan –dalam mariwayatkan hadits.”[66]

3.4. Ahmad bin Hanbal berkata, “Dia –Hafsh- banyak melakukan kerancuan dalam hadits-haditsnya.”[67]

3-5- Telah diriwayatkan dari Ahmad yang berkata, “Hafsh banyak melakukan tadliis –kesalahan- dalam hadits-haditsnya.”[68]

 

4. Muhammad bin Rabii’ah

Dia juga terkenal dengan julukan Abu ‘Abdillah al-Kuufii al-Rawaasii.[69] Para ulama rijaal mengkritiknya sebagai berikut:

 

4.1. Saajii berkata, “Dalam dirinya terlihat ada kelenturan dan kelembutan pada setiap haditsnya (semacam komromi, penj.).”[70]

4.2. Azdii berkata, “Semestinya kita harus beriman pada setiap hadits, akan tetapi dia, dalam hadits-hadits yang diriwayatkannya, terlihat ada masalah.”[71]

4.3. Utsmaan bin Abi Syaibah berkata, “Muhammad bin Rabii’ah meminta kami untuk menuliskan hadits-hadits yang kami riwayatkan dari dia –Hafsh. Kami dalam menjawabnya berkata: ‘Kami tidak pernah memasukkan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang pendusta.’”[72]

 

5. ‘Abdu al-Waarits

Dia adalah anak dari Sa’iid bin Dzakwaan al-Tamiimii. Dan tentang dia telah diriwayatkan bahwa:

 

5.1. Bukhaarii meriwayatkan dari ‘Abdu al-Shamad yang berkata, “’Abdu al-Waarits sering melakukan kebohongan terhadap ayahku.”[73]

5.2. Daaru al-Quthni setelah mendha’iifkan dia –‘Abdu al-Waarits- dan menukilkan haditsnya, ia berkata, “Hadits ini tidak shahih.”

5.3. Ibnu Mu’iin berkata, “’Abdu al-Waarits adalah seoarang yang majhul (tidak dikenal).”[74]

5.4. Turmudzi meriwayatkan dari Bukhaarii yang berkata, “’Abdu al-Waarits meriwayatkan hadits-hadits mungkar (yang harus ditolak).”

 

6. ‘Abdu al-Razzaaq Shan’aanii

Dia juga didha’iifkan dalam kitab-kitab rijal. Dan sebab pendha’iifannya adalah kalau bukan karena ia dicap sebagai Syi’ah -karena dalam pandangan Ahlussunnah ke-Syi’ahan termasuk penyebab kedha’iifan seorang perawi hadits- bisa juga karena riwayat-riwayatnya dan apa-apa yang dia dengar itu telah dianggapnya sebagai dha’iif, sebagaimana dikatakan oleh Ahmad bin Hanbal, atau bisa karena dalil-dalil yang lain.[75]

Kesimpulannya adalah, dari sisi sanad atau perawi haditsnya, hadits di atas memiliki masalah –hingga menjadi lemah/dha’iif. Karena itu, bagaimana bisa para Wahhabi berpedoman dengan hadits tersebut dan menyandarkan fatwa fikihnya serta berani mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah mereka karenanya??!

 

2. Problem Implikasi (Dilaalat) Hadits

A. Hadits ini berkata, “Nabi saww telah melarang meninggikan kuburan, duduk di atasnya dan membangun bangunan di atasnya.”

Melarang, tidak selalu memberikan indikasi keharaman, tapi bisa juga kemakruhan.

Dan banyak sekali hadits yang secara harfiahnya mengandung palarangan –melarang- akan tetapi telah diartikan –dimaksudkan- sebagai makruh[76]. Banyaknya hadits yang seperti ini, dapat melemahkan pandangan yang mengatakan bahwa hadits di atas –pelarang membangun kuburan- itu pasti bermaksud pengharaman. Karena itu, makna pemahaman haramnya itu ber-inshiraaf [(berubah, Inshiraaf adalah istilah yang dipakai dalam Ilmu Ushuul fiqih. Maknanya adalah perpindahan pemahaman dari makna pertama yang mutlak kepada makna kedua yang tidak mutlak. Inshiraaf ini memiliki dua bagian: pertama, adalah yang tergambar pada pemahaman seseorang begitu mendengar kata-katanya. Misalnya, begitu mendengar kata-kata larangan, akalnya menggambarkan makna ke duanya (makruh), disamping makna pertamanya yang mutlak (haram). Perpindahan pahaman semacam ini, tidak boleh dijadikan dalil hingga makna pertama dan mutlaknya itu dimaknai dengan makna yang kedua. Karena perpindahan ini hanya berupa gambaran akal yang bisa kesana-kemari tanpa bisa dikendalikan. Kedua, adalah yang tergambarnya makna ke dua yang tidak mutlak itu (makruh), disebabkan banyaknya pemakaian kata tersebut (larangan, pada contoh di atas), pada makna ke duanya itu. Perubahan pahaman dengan sebab ini, dapat dijadikan dalil untuk menyimpulkan kata-kata tersebut (larangan) pada makna makruh, bukan haram.Pentj)] kepada makna makruh.

 

1. Pandangan Syaafi’ii

Sesuai dengan hadits ini, ia berkata, “Sunnah hukumnya untuk tidak terlalu meninggikan kuburan.”

2. Pandangan Sanadii

Setelah menukil fatwa Syaafi’ii itu dari Niisyaaburii, ia berkata, “Hadits ini adalah shahih.

Akan tetapi tidak diamalkan. Sebabnya adalah, para pengikut agama Islam, dari timur sampai ke barat, menuliskan sesuatu –seperti nama-  pada kuburan-kuburan mereka. Dan hal ini adalah yang diambil secara turun menurun oleh generasi masa datang dari generasi sebelumnya.”[77]

3. Pandangan Dzahabii

Ia berkata, Kakek Sabth bin Jauzii berwasiat supaya di atas kuburannya ditulis, “Wahai Tuhan Yang MaafNya Sangat Luas, Yang Mengampuni hamba yang banyak dosa! Manusia yang banyak dosa telah datang kepdaMu, dengan harapan mendapat pengampunanMu. Aku adalah tamuMu, dan tamu layak mendapatkan kebaikan penerimanya.”[78]

Tentang kepribadian Ibnu Jauzii, telah banyak dikatakannya, seperti: ustadz, ‘allaamah, imam, haafizh (menghafal ribuan hadits dengan perawinya, lihat jilid sebelumnya), mufassir, syaikhu al-Islaam dan Fakhru al-Iraaq (kebanggaan Iraq).[79]

 

 

 

4. Pandangan Nawawi

Ia (pensyarah kitab Shahiih Muslim) berkata, “Membangun bangunan di atas kuburan yang dikuburkan di tanah milik pribadinya, adalah makruh. Akan tetapi kalau di tanah wakaf, menjadi haram.”

Syaafi’ii juga berkata seperti itu, “Shahabat-shahabat kita (golongan) memakruhkan peninggian kuburan.”[80]

 

B. Hadits-hadits ini, tidak dalam rangka ingin menjelaskan hukum peninggian kuburan, atau pembuatan bangunan di atasnya. Karena pembuatannya itu adalah termasuk syi’ar Allah[81] dimana harus diagungkan. Kesyi’arannya tersebut bisa karena manusia yang dikubur di dalamnya itu adalah seorang nabi as dan wali, atau bisa karena pentingnya menjaga hak-hak dalam Islam. Misalnya, agar supaya kuburannya dapat diketahui dan tidak hilang, sebagaimana Nabi saww yang telah meletakkan tanda pada kuburan ‘Utsmaan bin Mazh’uun, dan Hadhrat Faathimah as yang telah meletakkan batu tanda di kuburan Sayyiduna Hamzah ra.

 

Bukti-bukti di bawah Ini adalah membuktikan kebenaran kami

1. Ibnu Maajah berkata, “Rasulullah saww menandai kubur Utsmaas bin Mazh’uun dengan batu.”[82] Dalam kelanjutan perkataan Ibnu Majah, Hisyami menyatakan, “Sanad hadits seperti ini adalah hasan.”[83]

Sanadi, dalam menjelaskan (mensyarahi) hadits ini berkata, “Nabi saww meletakkan batu di atas kubur itu agar kubur tersebut menjadi jelas.”

2. Telah diriwayatkan dari sebagian shahabat, “Ketika Utsmaan bin Mazh’uun meninggal, jenazahnya dikuburkan. Setelah itu Nabi saww memerintahkan seseorang untuk mengambilkan sebuah batu, akan tetapi orang tersebut tidak mampu mengangkatnya. Akhirnya Rasulullah saww sendiri bangkit dari duduknya dan menjinjing lengan bajunya. Sepertinya aku melihat putihnya lengan bagian bawah beliau. Beliau mengangkat batu itu dan meletakkannya di arah kepala kuburan dan kemudian beliau bersabda, “Aku meletakkan batu ini supaya ada alamat bagi kuburan saudaraku ini. Dan siapa saja dari keluargaku yang meninggal, maka akan kukuburkan di sampingnya.”

Ketika Marwaan bin Hakam, menjadi gubernur Madinah (pada pemerintahan Bani Umayyah), suatu hari ia melewati batu itu. Ia memerintahkan untuk mengangkat batu tersebut dan membuangnya jauh-jauh seraya berkata, “Aku bersumpah atas nama Allah bahwa tidak akan ada batu alamat –nisan- lagi di kuburan ‘Utsmaan bin Mazh’uun.”

Keluarga Bani Umayyah datang padanya dan berkata, “Kamu telah melakukan hal yang salah. Perintahkan seseorang untuk mengembalikan batu itu!”

Marwaan menjawab, “Aku bersumpah demi Allah bahwa batu yang telah kubuang, tidak akan pernah lagi kembali.”[84]

3. Ashbagh bin Nabaatah berkata, “Faathimah bin Nabi saww mendatangai kubur Sayyiduna Hamzah ra dan meletakkan tanda di atasnya supaya dapat dikenali.”[85]

Ia juga berkata, “Telah diletakkan batu-batu kecil di atas kuburan Nabi saww, Abu Bakar dan Umar.”[86]

 

Efek-efek Membangun Kuburan

1. Sebagai syi’ar Allah –agama- dan menggusur propaganda musuh-musuh Islam.

2. Bisa dibuat berteduh untuk orang-orang yang melakukan ziarah kubur dan membaca doa, shalat, membaca al-Quran, mengajar, ceramah atau ibadah-ibadah lainnya, dimana melakukan semua itu, di kuburan yang terhormat (seperti kubur Nabi saww, wali dan syahid) memiliki keafdhalan dan keutamaan dari tempat lain.

3. Mungkin hikmah terbesar dari mebangun bangunan makam di suatu kuburan mulia dan terhormat (seperti Nabi saww dan wali atau syahid) adalah mencipta contoh hasanah (contoh baik) pada yang melihat dan menziarahinya. Artinya, yang mati dan dimuliakan itu, akan selalu ada dalam ingatan yang melihat atau menziarahinya dimana karenanya akan menjadi pemicu baginya untuk mencontohnya dalam segala gerak-geriknya, seperti ilmunya, akhlaknya, keberaniannya dan semacamnya. Dengan menghilangkan pemuliaan ini, maka keteladanan baiknya juga akan dilupakan.

Dan secara mendasar, tujuan para Wahhabi dalam menentang pembangunan kuburan ini, sebenarnya, bukan karena keyakinan mereka terhadap hukum Islam yang mereka khayalkan itu. Akan tetapi karena memang mau menghilangkan contoh-contoh hasanah ini. Padahal manusia memerlukan simbol dan contoh dalam pendidikannya.


[1] Kasyfu al-Irtiyaab, hal. 286, yang menukil dari kitab Tathhiiru al-I’tiqaad.

[2] Zaadu al-Ma’aad, hal. 661; Kasyfu al-Irtiyaab, hal. 286.

[3] Kasyfu al-Irtiyaab, hal. 286.

[4] Al-Marhum al-Amiin ra  menukil jawaban dari ulama Madinah itu di kitab Kasyfu al-Irtiyaab-nya. Satu bagian dari padanya, sangat menarik perhatian. Yakni suatu kalimat yang datang dari pertanyaannya. Mereka –penanyanya- bertanya: “… seperti yang dilakukan orang-orang bodoh”. Kata-kata ini, juga ada di dalam jawabannya. Dengan kata lain, mereka –yang bertanya- menginginkan jawaban seperti yang ditulis dalam pertanyaannya. Lihat, Kasyfu al-Irtiyaab, hal. 288.

[5] Shahiih Muslim, jld. 3, hal. 611; Sunan Turmudzii, jld. 2, hal. 256.

[6] Tashhiif dalam bahasa biasanya, adalah merubah pengucapan kata dimana menyebabkan perubahan pada maknanya. Akan tetapi dalam istilah ilmu hadits, dikatakan kepada hadits yang sebagian sanad/perawinya atau matannya (bunyinya) berubah menjadi yang menyerupainya. Misalnya, Buraid (بريد) menjadi Yaziid (يزيد) atau Hariir bin ‘Abdullah Sajistaani (حرير بن عبد الله سجستاني) menjadi Jariir bin ‘Abdullah Bajali (جرير بن عبد الله بجلي) atau seperti matan yang berbunyi: “Sesungguh Nabi saww ihtajara (احتجر) di masjid.” Yakni ngamar –istirahat- di masjid dengan beralaskan tikar. Menjadi: “Ihtajama  (احتجم) di masjid” yang artinya berbekam. Dan terkadang Tashhiif terjadi pada makna sebuah hadits, seperti: “Kami adalah suatu kaum dari ‘Anzah dimana Nabi saww. pernah shalat diantara kami.” ‘Anzah yang dimaksudkan di hadits ini adalah tongkat yang dipakai orang tua dimana maksud hadits ini adalah “Kami suatu kaum yang lanjut usia.”, ditashhiif menjadi nama qabilah mereka hingga menjadi: “Kami adalah suatu kaum dari qabilah ‘Anzah ……” Lihat: ‘Ilmu al-Hadits Syaanah Chii, hal. 182.

[7] Tahdziibu al-Kamaal, jld. 30, hal. 471.

[8] Miizaanu al-I’tidaal, jld. 4, hal. 336. Yakni: Diriwayatkan kepada kami dari Sya’abi dari ‘Aisyah. Padalah Sya’abii adalah Tabi’iin (shahabatnya shahabat Nabi saww). Dan antara dia dan Wakii’ terdapat jedah waktu. Karena itu, tidak bisa dikatakan: “Wakii’ mengambil hadits dari Sya’abii secara langsung.” Karena tahun matinya Sya’abii adalah 105 H. dan lahirnya Wakii’ pada tahun 129 H. (Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 9, hal. 141)

[9] Tahdziibu al-Tahdziib, jld. 11, hal. 125; Taariikh Baghdaad, jld. 11, hal. 125.

[10] Miizaanu al-I’tidaal, jld. 2, hal. 169.

[11] Tahdziibu al-Tahdziib, jld. 11, hal. 218.

[12] Ibid, jld. 3, hal. 179. Abu Bakar berkata: Aku pernah mendengar Yahya yang berkata: Suatu kali Sufyaan meriwayatkan sebuah hadits dengan periwayatan seperti ini: “Telah diriwayatkan kepada kami dari Abu Sahl dari al-Sya’abii …” Aku berkata kepadanya: “Apakah yang kamu maksud dengan Sahl itu adalah Sahl bin Muhammad bin Saalim yang dhaif itu?” Sufyaan menjawabku: “Hai Yahya, aku tidak pernah melihat orang seperti kamu yang tidak dapat ditipu dengan penyembunyian.” Rujuk, Tahdziibu al-Tahdziib, jld. 4, hal. 100.

[13] Al-Jarhu wa al-Ta’diil, jld. 4, hal. 255.

[14] Tahdziibu al-Tahdziib, jld. 2, hal. 179; Taqriibu al-Tahdziib, jld. 1, hal. 316.

[15] Kasyfu al-Irtiyaab, hal. 293.

[16] Mizaanu al-I’tidaal, jld. 1, hal. 451; Tahdziibu al-Tahdziib, jld. 2, hal. 179.

[17] Tahdziib al-Tahdziib, jld. 4, hal. 317; Syarhu Nahji al-Balaghah, jld. 3, hal. 99. Dia adalah golongan orang-orang Utsmaan yang sering mengejek imam ‘Ali as. Salah satu dari dalil yang sangat jelas bagi penyelewengannya adalah apa-apa yang dikatakan Ibnu Hajar al-‘Asqalaanii di kitab Tahdziibu al-Tahdziib, telah dikatakan kepada Abu Waail: “Apakah kamu lebih menyintai ‘Ali atau Utsman?” Ia menjawab: “Aku menyintai ‘Ali, akan tetapi yang lebih kucintai adalah Utsman.” (Tahdziibu al-Tahdziib, jld. 4, hal. 317)

Rujuk juga, Majma’u al-Zawaaid, jld. 9, hal. 133; Ansaabu al-Asyraaf, jld. 6, hal. 102; Qaamuusu al-Rijaal, jld. 11, hal. 54.

[18] Yang dimaksud dengan Syaadz (sangat sedikit dan tidak sesuai dengan hukum yang berlaku secara umum. Hal ini berbeda dengan Nadiir yang bermakna sedikit tapi sesuai dengan hukum yang berlaku secara umum) adalah suatu riwayat yang hanya diriwayatkan oleh satu orang. Hadits yang seperti ini juga disebut dengan Hadits Gharib, yakni Hadits Asing atau Aneh. Dan kalau diriwayatkan oleh dua orang, maka disebut dengan Aziz atau Terhormat (Ilmu al-Hadits).

[19] Al-Qaamuus, jld. 3, hal. 162

[20] Kata kerja “Sawaaituhu” (samakanlah/ratakanlah ia) yang ada  pada hadits, dalam bahasa Arab memiliki dua penggunaan. Penggunaan pertama, kalau obyeknya terdiri dari dua obyek dimana obyek ke duanya diperantarai dengan huruf jar (huruf pembantu) seperti “sawwaa haadzaa bihaazdzaa” yang atinya “samakan/ratakan ini dengan yang itu”, maka “ratakan” disini adalah suatu sifat yang berdiri di atas dua obyek tersebut. Dan, tentu saja “ratakan” disini memili arti “samakan”, yakni, samakanlah keduanya. Penggunaan kedua, yaitu manakala hanya memiliki satu obyek saja. Dalam penggunaan ke dua ini ia merupakan sifat yang berdiri di atas satu obyek saja. Disini, tentu saja dalam bahasa Indonesianya memiliki arti “ratakan!”, bukan “samakan!” yang menuntut –setidaknya- dua obyek.

Dalam hadits di atas, telah dijelaskan tentang model kuburannya (yang memiiki model punuk onta atau punggung ikan) dan dalam kata perintah “samakan/ratakan!” tidak lagi memiliki obyek ke dua. Karena itu maknanya: “Ratakanlah bagian atas kuburan yang lebih tinggi dan memiliki model seperti punuk onta atau punggung ikan!”

Kalau yang dimaksudkan –dari ratakanlah- adalah meratakannya dengan bumi –seperti yang dipahami Wahhabi- maka hadits itu mesti berbunyi seperti ini: “Ratakanlah kuburan yang tinggi dan memiliki model dengan punuk onta atau punggung ikan itu dengan tanah/bumi!” Padahal dalam riwayat tersebut tidak menyebut obyek ke duanya, yaitu bumi atau tanah (al-ardh).

Dengan demikian maka kata perintah “samakanlah/ratakanlah” itu hanya bersangkutan dengan satu obyek saja, yaitu kuburan. Karena itu, hadits tersebut tidak dalam rangka membandingkan kuburan yang tinggi dengan tanah/bumi (dengan demikian, maknanya adalah meratakan bagian atasnya yang berbentuk itu, penj.).

Bukti yang lain dari meratakan bagian atasnya yang bermodel itu, adalah, kalau memang maksud hadits tersebut meratakan kuburan dengan tanah, maka mengapa banyak hadits yang menyuruh –mensunnahkan- untuk melebih tinggikan kuburan dari tanah seukuran satu jengkal, dan bukan meratakannya dengan tanah?!

[21] Turmudzii dalam kitab Sunannya, menuliskan hadits ini dalam bab “maa jaa-a fii taswiyati al-Qabri”, yakni “Hadits-hadits yang memerintahkan untuk meratakan  bagian atas kuburan”. Penjudulan ini sendiri, menunjukkan bahwa yang ia pahami dari hadits-hadits tersebut adalah meratakan bagian atasnya, bukan meratakannya dengan tanah. Karena kalau tidak, maka mestinya ia memberikan judul pada bab itu dengan “Perintah untuk menghancurkan kuburan”. Padahal para Wahhabi menjadikan riwayat Turmudzii ini sebagai dalil dilarangnya membangun atau meninggikan kuburan. Rujuk kasyfu al-Irtiyaab, hal 296.

[22] Al-Majmuu’, jld. 4, hal. 312; Qurthubi dalam Tafsirnya untuk surat Kahf, jld. 2, hal. 380, dimana ia berkata, “Dipahami dari hadits ini bahwa meratakan bagian atas dari kuburan –yang menonjol dan bagian atasnya berbentuk- adalah sunnah, dan membentuknya seperti berhala (seperti punggung ikan atau punuk onta) adaslah bid’ah.”

[23] Di dalam kitab-kitab Ilmu Kalam (akidah) dan Ilmu Rijal yang ada di Sunni, dapat dijumpai dengan banyak sekali kata-kata “Raafidhah” atau “Raafidhii” dimana makna bahasanya (bukan istilahnya) adalah “menolak”. Masalahnya, mengapa orang-orang Syi’ah dikatakan Raafidhi?

Sebagian orang dari golongan muta’ashshibiin (fanatik) –yang ingin menafikan keberakaran Syi’ah dan dalam rangka ingin menfitnahkan bahwa Syi’ah adalah kelompok yang baru muncul- memaksakan diri untuk selalu memojokkan orang-orang Syi’ah dengan mengatakan bahwa mereka adalah pengecam khalifah pertama dan ke dua. Mereka –para fanatikan ini- menginginkan dari Zaid bin Ali –yang sedang melakukan kebangkitan- untuk melepaskan diri dari mereka –Syi’ah.  Ketika Zaid menolak permintaan mereka, maka mereka mengatakan bahwa “dia –Zaid- telah menolak -rafadha”. Dari sejak itulah Syi’ah dijuluki dengan Raafidhah (menolak) karena Zaid bin Ali ketika melakukan kebangkitan telah melakukan “penolakan”.

Mereka menafsirkan Raafidhah seperti ini (maksudnya bahwa Syi’ah baru muncul bersamaan dengan kemunculan Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thaalib). Mereka lengah bahwa istilah Raafidhah itu, memiliki akar dalam sejarah bahasa Arab. Karena bagi setiap penentang pemerintahan, telah ditetapkan julukan sebagai Raafidhah. Istilah ini, telah ada dan terkenal di tengah-tengah bangsa Arab sejak sebelum kelahiran Zaid bin Ali (87-120 H). Mu’awiyah dalam suratnya, telah menjuluki para pembela Utsman dan penentang imam Ali as, seperti Marwaan bin Hakam, sebagai seorang Raafidhii. Ia dalam suratnya itu menulis seperti ini: “Telah datang kepadaku Marwaan bin Hakam sebagai Rafidhah pemerintahan Bashrah (pemerintahan Imam Ali as).” (kitab Waaqi’atu al-Siffiin, hal. 29).

Abu al-Jaaruud mengadu kepada imam Muhammad al-Baaqir as. dengan berkata, “Si Fulan itu menjuluki kita sebagai Raafidhah.” Beliau menjawab sambil menunjuk kepada dirinya sendiri: “Aku juga bagian dari kelompok ini –Raafidhah” (Bihaaru al-Anwaar, jld. 65, hal. 97, hadits ke: 32.

Imam Baaqir as syahid pada tahun 114 H dan kala itu Zaid belum melakukan kebangkitan.

Telah ditulis dalam catatan kaki kitab Aamaalii karya Sayyid Murtadhaa sebagai berikut: Ketika Abdu al-Maalik mendengar tentang puisi pujian Farazdaq (penyair terkenal) untuk imam Zainu al-‘Aabidiin as., ia bertanya kepada Farazdaq, “Apakah kamu juga seorang Raafidhah?” Farazdaq menjawab, “Kalau menyintai keluarga Rasul saww (ahlulbait) itu adalah Raafidhah, maka aku juga seorang Raafidhah.” (Amaalii, karya Sayyid Murtadha, jld. 1, hal. 68).

Dengan demikian, istilah Rafadha atau Raafidhii atau Raafidhah telah terkenal di jaman itu sebagai istilah yang digunakan dalam politik dan, sudah tentu jauh sebelum kebangkitan Zaid bin Ali (Farhang ‘Aqaaid wa Madzaahib Islaami, karya Ayatullah Ja’far Subhaani), atau bahkan sebelum agama Islam muncul, yaitu di jaman Nabi Musa as (Duraru al-Akhbaar, jld. 1, hal. 163, karya Ayatullah Thabasi).

[24] Irsyaadu al-Saarii, jld. 2, hal. 468. Ibnu Hajar ‘Asqalaani berkata: “Maksud dari hadits Abu al-Hayyaaj itu bukanlah meratakan kuburan dengan tanah. Akan tetapi memerintahkan untuk meratakan bagian atasnya walaupun gundukan kuburannya dibuat tinggi (Irsayaadu al-Saari, jld. 2, hal. 468).

[25] Sayyid Amiin dalam kitabnya Kasyfu al-Irtiyaab, hal. 306, juga mengisyaratkan tentang hal ini. Dalam hal ini, ada sebuah riwayat yang kalau benar adanya, maka dapat menjadi bukti bagi kenyataan di atas. Lihat juga, kitab Duraru al-Akhbaar, jld. 2, hal. 185, dan kitab Mu’aalimu al-Zulfaa, hal. 108. Dalam topik ini, banyak hadits yang memiliki makna seperti ini: Allah mengharamkan badan para nabi as. ke atas tanah. (Musnad Ahmad bin Hanbal, jld. 4, hal. 8)

[26] Kasyfu al-Irtiyaab, hal. 306-307.

[27] Masjid ini dibangun di abad kedua Hijriah.

[28] Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 2, hal. 545; Kasyfu al-Irtiyaab, hal. 307.

[29] Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 13, hal. 285. Ketika Ahmad bin Muhammad bin Ghaalib (yang terkenal dengan nama Ghulaam Khaliil) meninggal di tahun 275 Hijriah, karena ia terkenal dengan akhlak baiknya dan dicintai masyarakat, maka pasar-pasar waktu itu menjadi libur. Dan jenazahnya diletakkan di tabut yang sesuai dengan ketinggiannya (mewah) dan dibawa ke Bashrah (walau dia sedemikian terkenal dengan kebaikannya, akan tetapi ia tergolong pamalsu hadits). Ia dikuburkan di Bashrah dan diatasnya dibangun sebuah kubah (Lisaanu al-I’tidaal, jld. 1, hal. 272-274, karya Ibnu Hajar ‘Asqalaanii.)

[30] Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 16, hal. 251.

[31] Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 2, hal. 541. Untuk informasi lebih lanjut tentang rumah yang di dalamnya Nabi saww. dimakamkan dan begitu pula tentang bangunan kubahnya, maka rujuklah kitab Kasyfu al-Irtiyaab, hal. 314-322.

[32] Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 2, hal. 544.

[33] Ibid, hal. 547.

[34] Kasyfu al-Irtiyaab, hal. 319 dan 340.

[35] Terdapat problem terhadap kata-kata di atas. Kalau yang dimaksud dengan Ummu Habiibah adalah istri Nabi saww, maka mengapa –kuburannya- bisa tidak diketahui oleh ‘Aqiil, padahal ia sejaman dengan Ummu Habiibah.

[36] Husain bin Hajjaaj (262-392 H) adalah seorang penyair hebat di Iraq. Ia menulis puisi pujian terhadap Imam Ali as dan membacakannya di depan umum di makam beliau. Salah satu baitnya adalah:

Wahai pemilik kubah putih di tanah Najaf

Siapapun ziarah ke makammu meminta kesembuhan

Maka Tuhan pasti akan berikan padanya kesembuhan

[37] Wafiyaatu al-A’yaan, jld. 5, hal. 310.

[38] Pembahasan Qadim (tidak berawal) dan Haditsnya (bermula) al-Quran, pertama kali terjadi pada abad ke dua Hijriah. Pensifatan ini, sama sekali tidak ada di jaman Rasulullah saww dan di jaman para shahabatnya. Karena orang-orang ahlulhadits (yang hanya mencukupkan dengan lahiriah al-Quran dan hadits dengan menolak peran akal) yang telah mengambil posisi memerangi orang-orang yang mengatakan bahwa al-Quran itu adalah makhluk (bermula), maka mereka telah menjadikan masalah Qadimnya al-Quran ini sebagai bagian dari akidah yang harus diimani.

Asy’ari berkata, “Kami berpendapat bahwa al-Quran itu adalah Kalam Tuhan, bukan makhlukNya. Dan siapa saja yang berkata bahwa al-Quran itu adalah makhluk, maka ia telah kafir.” (Kitab Farhang ‘Aqaaid wa Madzaahib Islaamii, hal. 162-168).

[39] Taariikhu Baghdaadin, jld. 1, hal. 163.

[40] Ya’Quubi, Ibnu ‘Asaakir, Ibnu Rabbihi, Ibnu ‘Abdu al-Bir dalam Istii’aabnya, Ibnu Atsiir dalam al-Kaamilnya dan juga Ibnu Hajar ‘Asqalaani, semua meriwayatkan seperti ini:

Ketika tentara Ali bin Abi Thaalib dan tentara Thalhah sibuk berperang, Marwaan –salah satu panglima perangnya Thalhah- berkata, “Kalau hari ini aku tidak bisa membalaskan kematian Utsman dari pembunuhnya, maka kapan lagi aku bisa melakukannya?”

Ia sambil berkata seperti itu, melepaskan anak panah pada pemimpinnya sendiri, Thalhah. Panahnya mengenai lutut Thalhah dan telah memutus urat nadinya hingga darahnya mengucur deras. Darahnya mengucur terus hingga ia tewas karenanya.

Ibnu Sa’ad dalam kitab Thabaqaatnya berkata, Thalhah sendiri dalam masalah ini, di akhir hayatnya, tanpa tedeng aling-aling berkata, “Aku bersumpah, bahwa panah yang mengenai kakiku ini, bukan dari pasukan Ali.” (Naksye ‘Aisyah dar Islaam).

Allaamah ‘Askarii menukil perkataan imam Ali as yang sedang mengumpamakan Thalhah dengan perkataannya, “Dia seperti sapi yang mempersiapkan tanduknya untuk menyeruduk dan merobek perut siapa saja yang mendekatinya.” Nahju al-Balaaghah, Faidhu al-Islaam, hal. 106.

[41] Safar Nomeh Ibnu Bathuuthah, jld. 1, hal. 187.

[42] Al-Muntazhim, jld. 14, hal. 377. Zubair dan Thalhah telah mengkhianati baiatnya pada imam ‘Ali as. dan telah pula menyulut peperangan terhadap imam jamannya. Dan keduanya terbunuh pada peperangan itu atau karena efek dari perang tersebut.

[43] Taariikhu Baghdaadin, jld. 1, hal. 154.

[44] Al-Bidaayatu wa al-Nihaayatu, jld. 8, hal. 65.

[45] Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 6, hal. 274.

[46] Al-Muntazhim, jld. 16, hal. 100.

[47] Ibid, hal. 105.

[48] Duwalu al-Islaam, hal. 344.

[49] Al-Muntazhim, jld. 15, hal. 202. Muhammad bin Mahmuud yang terkenal dengan nama Ibnu Najjaar (578 – 643 H.) adalah seorang petualang terkenal dari umat Islam. Dalam kitabnya yang berjudul “Akhbaaru Madiinati al-Rasuul”, ia menulis, “Pada awalnya, di kuburan Baqii’, terdapat bangunan berkubah yang sangat tinggi dimana memiliki dua pintu dan setiap harinya salah satu pintunya itu dibuka untuk para penziarah yang datang.”

[50] Shahiih Muslim, jld. 3, hal. 63. Muslim sendiri dalam kitab shahihnya itu, di bab: “al-Nahii ‘an Tajshiishi al-Qabri wa al-Binaa’ ‘Alaihi” (Pelarangan Terhadap Meninggikan Kuburan dan Membangunnya), telah meriwayatkan hadits tersebut dengan tiga thariiq/jalur yang berakhir kepada Jaabir.

[51] Turmudzii dalam kita Sunannya, jld. 3, hal 208, bab: “Karaahiyyatu Tajshiishi al-Qubuuri wa al-Kitaabati ‘Alaihaa” (Kemakruhan Meninggikan Kuburan dan Menulisinya).

[52] Ibnu Maajah, jld. 1, hal. 473, dalam bab: “Maa Jaa-a Fii al-Nahii ‘An al-Binaa’ ‘Ala al-Qubuur wa Tajshiishiha wa al-Kitaabati ‘Alaiha” (Apa-apa Yang Telah Diriwayatkan Dalam Pelarangan Membangun Kuburan dan Menulisinya), telah meriwayatkan hadits tersebut dengan dua sanad/jalur dan dua matan/lafazh.

[53] Nasaai, jld. 4, hal. 78, dalam bab: “Al-Binaa-u ‘Ala al-Qabri” (Membangun Kuburan), telah meriwayatkan hadits tersebut dengan dua sanad dan dua matan.

[54] Abu Daawud, jld. 3, hal, 316, dalam bab: “Al-Binaa-u ‘ala al-Qabri” (Membangun Kuburan), meriwayatkan hadits tersebut dari Jaabir dengan dua sanad dan dua matan.

[55] Ahmad bin Hanbal, jld. 3, hal. 295, meriwayatkan riwayat tersebut seperti di atas itu.

[56] Shahiih Muslim, jld. 3, hal. 63.

[57] Ibid.

[58] Jamii’ Turmudzii, jld. 2, hal. 208.

[59] Sunan Ibnu Maajah, jld. 1, hal. 473.

[60] Sunan Nasaai, jld. 4, hal. 87.

[61] Tahdziibu al-Kamaal, jld. 18, hal. 348; Tahdziibu al-Tahdziib, jld. 6, hal 404; Miizaanu al-I’tidaal, jld. 2, hal. 659.

[62] Tahdziibu al-Kamaal, jld. 26, hal. 407.

[63] Al-Jaami’u al-Shahiih, jld. 5, hal. 756.

[64] Miizaanu al-I’tidaal, jld. 4, hal. 37; Tahdziibu al-Tahdziib, jld. 9, hal. 422.

[65] Tahdziibu al-Kamaal, jld. 7, hal. 56.

[66] Taariikhu Baghdaadin, jld. 8, hal. 199.

[67] Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 9, hal. 31.

[68] Tahdziibu al-Tahdziib, jld. 2, hal. 360.

[69] Tahdziibu al-Kamaal, jld. 25, hal. 196.

[70] Tahdziibu al-Tahdziib, jld. 9, hal. 143.

[71] Miizaanu al-I’tidaal, jld. 3, hal. 545.

[72] Ibid.

[73] Tahdziibu al-Kamaal, jld. 18, hal. 483.

[74] Lisaanu al-Miizaal, jld. 2, hal. 678; Miizaanu al-I’tidaal, jld. 2, hal. 61; al-Jarhu wa al-Ta’diil, jld. 6, hal. 38.

[75] Tahdziibu al-Kamaal, jld. 18, hal. 58.

[76] Banyak sekali hadits yang secara lafazh/kata mengandung pelarangan, akan tetapi memiliki maksud pemakruhan. Seperti, pelarangan Nabi saww. terhadap:

(a). Makan bawang putih mentah. (b). Buru-buru dalam melakukan shalat. (c). Melakukan hijamah (penyembuhan dengan mengeluarkan darah) ketika dalam keadaan berpuasa. (d). Membunuh semut dan lebah. (e). Menggunakan air yang banyak dalam berwudhu’nya wanita. (f). Berpuasa di hari sabtu. (g). Mengendarai binatang pemakan najis/kotoran (seperti onta yang suka makan kotoran manusia). (h). Menyambut pedagang di luar kota –untuk membeli barang-barang mereka dengan harga murah karena belum tahu harga sebenarnya di dalam kota. (i). Mengadu binatang. (j). Makan bawang merah/bombay mentah. (k). Menjual kelebihan air. (l). Imam yang sekaligus menjadi mu’adzdzin. (m). Membawa Qur an dalam perjalanan. (n). Menjadikan wanita yang bodoh sebagai perawat. (o). Kencing berdiri. Dan lain-lainnya yang banyak sekali -di hadits-hadits Ahlussunnah.  Akan tetapi, tidak ada satupun ulama –Sunni- yang berfatwa terhadap keharaman dari semua yang dilarang di atas. Karena itu, riwayat-riwayat yang melarang meninggikan kuburan, atau membangun bangunan makam di atasnya, atau duduk-duduk di atasnya, atau memberikannya kubah, atau menulisinya –nama yang mati- semua itu, memiliki maksud pemakruhan, bukan pengharaman.

[77] Sunan Nasaai, jld. 4, hal. 87.

[78] Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 31, hal. 370  dan 380.

[79] Ibid.

[80] Syarhu Shahiihi Muslim, jld. 3, hal. 62.

[81] Dalam Surat al-Haj, ayat: 32, difirmankan, “Barang siapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya yang demikian itu muncul dari ketakwaan hati.”

Sya’aair adalah jamak, dan kata tunggalnya adalah Sya’iiratun. Maknanya adalah “Tanda”. Almarhum Thabarsii dalam tafsirnya Majma’u al-Bayaan, jld. 4, hal. 83, berkata, “Yang dimaksudkan dengan sya’aair disini adalah pendidikan Tuhan dan tanda-tanda agamaNya.”

[82] Sunan Ibnu Maajah, jld. 1, hal. 498.

[83] Ibid.

[84] Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 3, hal. 894.

[85] Mushannaf ‘Abdu al-Razzaaq, jld. 3, hal. 574.

[86] Ibid.

 

One response to “Memperbaiki Kuburan dan Membangun Kubah

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s