Ziarah Kubur Nabi saww

Oleh: Najmu al-Din Thabasi

Pandangan Ibnu Taimiyyah Tentang Ziarah Kubur

Qastilaani[1] dan Ibnu Hajar dalam kitab al-Jawharu al-Munazhzham menukil pandangan Ibnu Taimiyyah. Dia (Ibnu Taimiyyah) melarang ziarah kubur Nabi saww dan mengharamkannya. Baik yang harus ditempuh dengan persiapan (Syaddu al-Rihaal)[2] karena jauhnya jarak perjalanan, atau tanpa persiapan seperti orang-orang yang tinggal di sekitar kubur beliau.

Ketika ziarah kubur Nabi saww saja sudah diharamkan, maka lebih utama –keharamannya- ziarah kepada kubur selain kubur beliau. Ia mengkhayal bahwa haramnya ziarah kubur itu adalah ijma’ (kesepakatan) ulama. Karena itu, yang memaksa pergi maka shalatnya tidak boleh diqashr[3].”

 

Menolak Pandangan Ibnu Taimiyyah

Empat Dalil Tentang Kebolehan Ziarah Secara Syariat

Al-Quran

Allah berfirman,

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

 “Kalau mereka yang menganiaya diri mereka sendiri itu –berdosa- datang kepadamu –Muhammad- dan memohon ampun kepada Allah dan Rasulpun memintakan ampun untuk mereka, maka mereka pasti mendapakan Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Pengasih.”[4]

Ziarah adalah menghadiri orang yang diziarahi, baik untuk meminta ampunan atau tidak. Ketika menziarahi Nabi saww dimasa hidup beliau, sudah terbukti kebenarannya, maka ia juga benar dilakukan dimasa wafat beliau. Karena Nabi saww memiliki kehidupan barzakhi[5] dan mendengar salam para penziarah serta amalan mereka disajikan kepada beliau.

 

Dalil Kehidupan Barzakh

Dalil-dalil yang mebuktikan kehidupan barzakhi Nabi saww adalah sebagai berikut:

 

a. Pandangan Samhuudi. Ia menukil dari Sabki, “Para ulama memahmi dari ayat ini sebagai universal. Yakni menghadiri Nabi saww dan meminta kepada beliau doa pengampunan. Artinya, hal itu tidak dikhususkan pada waktu ketika beliau saww masih hidup. Bahkan mencakupi ketika beliau saww sudah wafat. Karena itulah para ulama mensunnahkan pembacaan ayat di atas, di dekat kuburan Nabi saww.”[6]

b. Pandangan Qastilaani. Ia berkata, “Tidak ada satu haripun kecuali semua perbuatan umat beliau –yang dilakukan siang dan malam- disajikan kepada beliau dan beliaupun mengetahui semua perbuatan itu dengan masing-masing pelakunya. Karena itulah, di akhirat kelak, beliau saww adalah saksi terhadap perbuatan umat.”[7]

Ibnu Zar’ati ‘Iraaqi menukil dari Ibnu Mas’uud yang meriwayatkan bahwa Nabi saww bersabda, “Hidupku adalah kebaikan buat kalian semua. Karena kalian bisa berbicara denganku. Begitu pula aku bisa berbicara dengan kalian. Dan kematianku juga kebaikan buat kalian. Karena perbuatan kalian disajikan kepadaku. Dan ketika aku melihat perbuatan baik kalian, maka aku memuji Tuhan. Akan tetapi kalau aku melihat perbuatan buruk kalian, maka aku memohonkan ampunan kepada Tuhan untuk kalian.”[8]

c. Pandangan Muhammad bin Harb[9]. Ia dinukil dari Ibnu ‘Asaakir dan ulama-ulama dari berbagai madzhab, berkata, Aku mendatangi kota Madinah dan menziarahi kubur Nabi saww lalu aku duduk di hadapan kubur beliau saww. Sekonyong-konyong aku melihat satu orang desa yang datang ke kubur beliau saww dan melakukan ziarah. Setelah itu ia berkata, “Wahai paling afdhalnya rasul, Tuhan telah menurunkan al-Qur-an yang haq kepadamu dan berfirman, “Kalau orang-orang yang menganiaya diri mereka itu –berdosa- datang kepadamu –Muhammad- dan memohon ampun kepada Allah dan Rasulpun memintakan ampun untuk mereka, maka mereka pasti mendapakan Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Pengasih”. Dan aku telah menganiaya diriku sendiri. Karena itu aku datang agar engkau memintakan ampunan untukku.” Setelah itu terdengar suara dari arah kubur yang mengatakan “kamu telah diampuni.” Riwayat ini diriwayatkan oleh Samhuudi dengan dua jalur yang berakhir kepada Imam Ali bin Abi Thalib as.[10]

 

Hadits

Sangat banyak hadits yang telah diriwayatkan dari berbagai jalur (sanad) dan berbagai makna.

a. Rasulullah saww bersabda, “Barang siapa yang menziarahi kuburku, maka mensyafaatinya merupakan kemestian bagiku.”[11]

Hadits ini, memiliki 40 sumber di kitab-kitab Ahlusunnah. Dan pengarang kitab-kitab tersebut adalah para haafizh (setidaknya menghafal seratus ribu hadits lengkap dengan perawi-perawinya, lihat di jilid satu, penj.) dan imam hadits, seperti:

 

  1. ‘Ubaid bin Muhammad al-Warraaq Nisyaaburi (wafat 255 H)
  2. Ibnu Abi al-Dun-yaa Abu Bakr al-Quraysyii (wafat 281 H)
  3. Dulaabi Raazii dalam kitab al-Kun-ya wa al-Asmaa’ (wafat 310 H)
  4. Ibnu Khaziimati dalam kitab shahihnya (wafat 311 H)
  5. Abu Ja’far al-‘Uqailii (wafat 322 H)
  6. Abu Ahmad bin ‘Uddaa dalam kitabnya al-Kaamil (wafat 360 H)
  7. Daaru Quthnii dalam kitab Sunannya (wafat 385 H)
  8. Al-Maawardii dalam kitabnya al-Ahkaamu al-Sulthaniyyati (wafat 450 H)
  9. Ibnu ‘Asaakir dalam kitab Tarikhnya bab “Siapa Yang Menziarahi Kuburnya”[12] (wafat 571 H)
  10. Taqiyyu al-Diin Sabki dalam kitabnya Syifaa-u al-Saqaam[13] (wafat 756 H)

Allaamah Laknowi berkata, siapa yang berusaha melemahkan hadits “siapa yang menziarahiku maka wajib baginya surga.”, maka ia telah kehilangan akalnya. Dan barang siapa yang ingin mengetahui kerincian pembahasan ini, hendaklah merujuk ke tulisanku yang berjudul “Ziyaaratu al-Qabri al-Nabawi”.

Layak dikatakan bahwa perawi dari hadits “siapa yang menziarahi kuburku, maka mensyafaatinya merupakan kemestian bagiku”, dipercaya dan tidak diragukan sampai kepada Musa bin Hilaal. Tentang dirinya, dikatakan oleh Ibnu ‘Uddaa: Semoga tidak ada masalah dengannya, karena dia adalah salah satu dari Masyaayikh (tempat mengambil hadits, pentj.) dari Ahmad bin Hanbal, sedang Ahmad bin Hanbal hanya mengambil dari orang dipercaya (tsiqah)[14]. Orang yang mempermasalahkan hadits itu, juga menyatakan hal seperti yang dinyatakannya ini[15] (artinya, mengakui keshahihan hadits tersebut, pentj.).

Sabki membawa bukti-bukti tentang keshahihan sanad (perawi) hadits di atas, dan -setelah itu- mengatakan: Dengan semua penjelasan yang telah kami tulis ini, maka menjadi jelas bahwa kalaulah kita tetap mempermasalahkan keshahihan hadits ini, setidaknya, paling rendahnya derajat hadits tersebut adalah “Hasan’ (baik dan dapat diamalkan, pentj.).

Ia juga meneruskan, dengan semua dalil-dalil ini, atau bahkan dengan sedikit saja dari dalil-dalil itu, menjadi jelaslah kebohongan orang-orang yang telah mengatakan bahwa semua hadits-hadits tentang ziarah –kubur- itu adalah hadits-hadits palsu (maudhuu’). Apakah dia –Ibnu Taimiyyah dan golongannya yang mengharamkan ziarah kubur Rasulullah saww dan yang lainnya- tidak malu terhadap Allah dan RasulNya ketika mengatakan kata-kata yang tidak pernah dikatakan oleh orang-orang sebelumnya, baik awam atau alim atau bahkan ahlulhadits (yang melarang pembahasan akidah dengan akal, pentj.) sekalipun? Subhaanallah. Sejauh yang kami tahu –dari semua ahlurrijal- tak seorangpun yang mendustakan Musa bin Hilaal dan orang-orang yang menjadi perawi dari hadits ini. Sungguh mengherankan, bagaimana mungkin seorang yang mengaku muslim, mengijinkan dirinya sendiri untuk mengatakan bahwa hadits-hadits tentang ziarah ini adalah palsu??![16]

 

b. Rasulullah saww bersabda, “Barang siapa yang dengan niat berziarah, ia datang –ke kuburku- maka sudah semestinya aku menjadi pemberi syafaat kepadanya di hari kiamat kelak.”

Hadits ini memiliki 16 sumber dari kitab-kitab Ahlussunnah Waljama’ah yang diantaranya sebagai berikut:

 

  1. Thabraanii (wafat 360 H) dalam kitabnya al-Mu’jamu al-Kabiir.
  2. Haafizh bin al-Sakan al-Baghdaadii (wafat 353 H) dalam kitab al-Sunan al-Shahhaah.
  3. Daaru al-Quthnii (wafat 385 H) dalam kitabnya yang berjudul Amaalii.
  4. Abu Na’iim Ishfahaanii (wafat 430 H).
  5. Imam Ghazaalii yang bermadzhab al-Syaafi’ii (wafat 505 H) dalam kitabnya yang berjudul Ihyaa-u al-’Uluum.[17]

 

c. Rasulullah saww bersabda, “Barang siapa yang pergi haji, lalu ia menziarahiku setelah matiku, maka seperti telah menziarahiku dikala hidupku.”[18]

Hadits ini diwirayatkan dari Ibnu Umar secara Marfuu’. Hadits ini memiliki 25 sumber di kitab-kitab Ahlussunnah Waljama’ah. Sebagiannya adalah seperti berikut ini:

 

  1. Syaibaanii (wafat 303 H).
  2. Abu Ya’laa (wafat 307 H) dalam kitab Musnadnya.
  3. Baghwii (wafat 317 H).
  4. Ibnu ‘Uddaa (wafat 364 H) dalam kitabnya yang berjudul al-Kaamil.
  5. Baihaqii (wafat 458 H) dalam kitab Sunannya.
  6. Ibnu ‘Asaakir (wafat 571 H) dalam kitab Tariikhnya.

 

d. Rasulullah saww bersabda, “Barang siapa yang pergi haji, akan tetapi ia tidak menziarahiku, maka ia telah memutus hubungan denganku.”

Hampir semua haafizh[19] meriwayatkan hadits ini, seperti:

 

  1. Samhuudii (wafat 911 H) dalam kitabnya Wafaa-u al-Wafaa’.
  2. Daaru al-Quthnii (wafat 385 H). Ia dalam kitab haditsnya itu, meriwayatkan hadits-hadits yang tidak diriwayatkan oleh Malik dalam kitabnya yang berjudul al-Muwaththa’.
  3. Qastilaani (wafat 923 H) dalam kitabnya yang berjudul al-Mawaahibu al-Laduniyyatu.

 

e. Rasulullah saww bersabda, “Barang siapa yang memiliki kemampuan untuk menziarahiku, akan tetapi ia tidak datang menziarahiku, maka tidak ada uzur baginya.”[20]

 

Perbuatan Para Shahabat

  1. Umar bin Khaththaab, setelah kembali dari menaklukkan Syaam (Suria) dan memasuki kota Madinah, pertama kali yang dilakukannya adalah pergi ke masjid Nabi, lalu melakukan shalat dan setelah itu mengucap salam kepada Nabi saww.[21]
  2. Ibnu Umar bin Khaththaab setiap pulang dari bepergian jauh, selalu datang ke kubur Nabi saww dan mengucap, “salam padamu wahai Rasul, salam padamu wahai Abu Bakar, salam padamu wahai ayah.”[22]
  3. Ibnu Umar bin Khaththaab berdiri di samping kubur Nabi saww dan mengucap salam kepada beliau.[23]
  4. Ibnu ‘Aun berkata, seseorang bertanya kepada Naafi’: “Apakah Ibnu Umar mengucap salam ke kubur Nabi saww?” Naafi’ menjawab, “benar demikian. Aku melihatnya seratus kali atau lebih, datang ke kubur Nabi saww dan berdiri di sampingnya lalu mengatakan, salam atas Nabi saww”[24]
  5. Abu Haniifah meriwayatkan dari Ibnu Umar, “adalah sunnah mendatangi kubur Nabi saww dari arah kiblat lalu membaca: ….”

Ini semua, adalah contoh saja dari perbuatan para shahabat. Dan almarhum allaamah Amiinii, menukil lebih dari empat puluh pandangan ulama ahli fikih Sunni yang menyatakan kesunnahan ziarah pada kubur Nabi saww, dan mereka juga mengajari cara atau adab ziarah itu dalam kitab-kitab mereka.[25]

 

Akal

Akal menegaskan, menghormati orang yang dimuliakan Tuhan adalah kebaikan. Ziarah adalah suatu penghormatan. Ziarah kepada Nabi saww yang merupakan penghormatan pada beliau, juga termasuk syiar Tuhan yang jelas boleh dan bahkan baik. Karena perbuatan itu bertentangan dengan keinginan para musuh dan penentang.

 

Berdalil dengan Hadits Syaddu al-Rihaal

Ibnu Taimiyyah, dalam rangka melanjutkan tuduhannya kepada Syi’ah, berkata, “Mereka –Syi’ah- sebagaimana para jemaah haji yang menunaikan hajinya di Kabah, juga melakukan hal itu di pekuburan suci mereka (kuburan para imam-imam maksum dan para shalih). Sepertinya, ziarah kubur ini merupakan ciri khusus orang-orang Syi’ah Imamiyyah saja. Selain madzhab mereka, tidak ada yang melakukan perbuatan tersebut.”

Ibnu ‘Abdu al-Wahhaab juga mengkhayal bahwa ziarah kubur Nabi saww dan para orang shalih ini, adalah haram. Dan untuk keharamannya itu, ia berdalil dengan hadits. Ia berkata, “Ziarah nabi adalah sunnah. Akan tetapi bepergian untuk selain ke Masjid al-Haraam, Masjid al-Nabi saww dan Masjid al-Aqshaa, adalah tidak boleh.

Karena Nabi saww bersabda, “Jangan menyiapkan apapun untuk bepergian (dan jangan bepergian) kecuali untuk tiga tempat: al-Masjid al-Haraam, Masjidku dan Masjid al-Aqshaa!.”[26]

Karena itu berdasarkan hadits ini, ia mengharamkan bepergian yang disebabkan untuk ziarah.

 

Menolak Dalil Wahhabiah

Pengecualian dalam hadits itu adalah pengecualian yang tidak memiliki jenis yang dikecualikan darinya (mufarragh). Artinya, jenis atau golongan yang dikecualikan tidak disebut dalam haditsnya. Sesuai dengan kaidah bahasa Arab, sudah pasti ada kata yang tidak disebutkan dalam kalimat itu (taqdiir), akan tetapi dimaksudkan dalam makna, hingga hadits memiliki arti yang sempurna. Karena itu ada dua kemungkinan dalam memahami taqdiir itu (kata yang tidak diterakan akan tetapi dimaksudkan tersebut):

 

  1. Kata yang tidak disebutkan itu adalah “masjid”.
  2. Kata yang tidak disebutkan itu adalah “tempat”.

Kalau yang tidak disebutkan secara lahiriah itu adalah “masjid”, maka hadits itu akan bermaksa seperti ini: “Tidak boleh melakukan perjalanan –untuk melakukan shalat dan sebagainya- ke suatu masjid, kecuali kepada tiga masjid.”

Dengan demikian, pengecualian yang terbatas pada tiga masjid itu adalah pengecualian yang nisbi atau terbatas (pengecualian yang “Nisbi” adalah pengecualian dari golongan tertentu saja. Misalnya pengecualian di hadits yang kita bahas itu, adalah pengecualian dari jenis atau gologan masjid saja. Tidak termasuk tempat-tempat lainnya. Dan lawan dari pengecualian “nisbi” ini adalah pengecualian “Hakiki”. Yakni benar-benar mengecualikan dari semua tempat. Apapun saja, pentj.) dan tidak hakiki atau mutlak. Artinya, poros bagi pelarangan dan pembolehan Nabi saww itu bertumpu pada “masjid”. Karena itu, bepergian ke kubur Nabi saww tidak termasuk golongan larangan yang kemudian dikecualikan kepada tiga masjid itu. Yakni, secara obyek, tidak termasuk golongan yang dilarang.

Hadits itu, memiliki makna –seperti ini: “Seseorang tidak boleh bepergian ke suatu kota, hanya untuk shalat di masjidnya itu. Karena pahala shalat di masjid luar kota itu, tidak berbeda dengan pahala shalat di masjid yang ada di kotanya sendiri. Akan tetapi pahala shalat di tiga masjid yang dikecualikan itu, berbeda dan lebih besar, hingga layak untuk didatangi walau harus menempuh perjalanan (syaddu al-rihaal).”

Inilah arti pengecualian dari golongan yang dikecualikan. Jadi hadits di atas itu, membicarakan tentang bepergian ke suatu “masjid”, bukan ke tempat-tempat lainnya.

Akan tetapi kalau golongan yang darinya dikecualikan itu adalah “tempat”, maka penyimpulan Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya, bisa dibenarkan –dari sisi bahasa. Karena hadits itu akan bermakna seperti ini: “Tidak boleh bepergian ke tempat manapun kecuali ke tiga masjid.” Karena itu, pengecualian yang ada pada hadits tersebut adalah pengecualian hakiki (benar-benar hanya mengecualikan tiga tempat dari semua tempat, bukan hanya dari golongan tertentu saja seperti masjid, penj.).

Akan tetapi, kalau kata yang tidak disebutkan itu (taqdiir) adalah “tempat”, maka ia memiliki konsekuensi yang tidak bisa diterima (isykal atau masalah) dan tidak juga ada jalan keluarnya. Di kelanjutan bahasan ini, kami akan menerangkan masalah-masalah (problem) yang merupakan konsekwensi tersebut.

Karena itu, maka hanya taqdiir (masjid) pertamalah yang bisa diterima. Karena menaqdiirkan kata masjid (tidak menerakan kata masjid, tapi memaksudkannya, penj.), dan menjadikannya golongan yang darinya dikecualikan, adalah pahaman yang lebih cepat datangnya ke pemahaman pendengarnya secara umum. Dan lahiriah dari hadits itupun memaksudkan yang demikian. Hal itu, karena antara hukum dan obyek hukumnya, memiliki keserasian dan menjadi seirama. Beda halnya kalau yang ditaqdiirkan itu adalah “tempat”. Karena itulah, maka hadits tersebut tidak berhubungan sama sekali dengan bepergian ke tempat-tempat mulia lainnya (kubur Nabi saww, para imam dan orang-orang shalih) dan pekuburan-pekuburan serta tempat-tempat yang lain.

 

Kritikan-kritikan

Pertama. Qastilaani berkata, “Golongan yang darinya dikecualikan di hadits ini adalah ‘Mufarragh’ (tidak disebutkan). Dan mengambil kata “tempat” sebagai golongan yang darinya dikecualikan, menyebabkan haramnya bepergian ke semua tempat selain dari tiga tempat itu. Seperti bepergian ke kota dimana di sana ada orang shalihnya atau teman. Atau bepergian untuk menuntut ilmu, bisnis, rekreasi dan semacamnya.

Keharaman itu, karena pengecualian tiga tempat tersebut dari semua tempat -bukan dari golongan masjid saja. Taqdiir seperti itu, menjadikan pengecualian itu menjadi umum dan meliputi semua tempat tanpa kecuali. Akan tetapi kalau kata yang tidak disebutkan dalam hadits itu (taqdiir) adalah “masjid”, maka keharaman bepergiannya tidak akan meliputi semua tempat secara keseluruhan.”[27]

Kedua. Semua madzhab Islam sepakat (ijma’) bahwa hukum bepergian itu adalah halal, baik untuk bisnis, mencari ilmu, jihad, ziarah pada ulama atau bahkan untuk rekreasi. Karena itu, kalau kata yang tidak disebutkan dalam hadits itu (yakni golongan yang darinya dikecualikan) adalah “tempat”, maka bisa mengakibatkan haramnya bepergian dengan alasan-alasan di atas. Dan hal ini, bertentangan dengan ijma’ semua madzhab kaum muslimin.

Dengan demikian, dapat diyakini bahwa kata yang tidak disebutkan tapi dimaksudkan itu (taqdiir) adalah kata “masjid”. Jadi, maknanya:

“Tidak semestinya bepergian ke suatu masjid -di luar kota- kecuali ke tiga masjid.”

Karena itu, hadits tersebut tidak berhubungan dengan bepergian ke tempat-tempat ziarah, khususnya ziarah ke kubur Rasulullah saww dan, apalagi pengharamannya.

Ketiga. Bahkan, sekalipun kata yang tidak disebutkan itu adalah “masjid”, tetap tidak bisa diamalkan. Karena sesuai dengan kemungkinan pertama ini, maknanya adalah tidak boleh bepergian untuk mendatangi masjid kecuali kepada tiga masjid yang telah dikecualikan itu. Padahal, dalam riwayat dikatakan bahwa Nabi saww dan para shahabatnya, setiap hari sabtu, selalu mendatangi masjid Qubaa. Sementara jarak masjid Qubaa dengan kota Madinah sekitar 12 km, dan ia bukan dari tiga masjid yang dikecualikan itu. Dengan demikian, sesuai dengan hadits pertama, maka bepergian ke masjid Qubaa ini juga harus diharamkan. Dan kita tahu bahwa tidak seorangpun dari kaum muslim yang mengatakannya.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar yang mengatakan bahwa Nabi saww setiap hari Sabtu, selalu mendatangi masjid Qubaa, baik dengan berjalan kaki atau menunggang binatang. Dan dia sendiri juga melakukan hal yang sama.[28]

Keempat. Bilal mengadakan persiapan safar (syaddu al-rihaal), kemudian ia melakukan perjalanan untuk menziarahi Nabi saww. Ibnu ‘Asaakir meriwayatkan, “Ketika ‘Umar kembali dari Baitu al-Muaqaddas, dan melewati daerah yang bernama Jaabiyah, Bilaal meminta kepada ‘Umar untuk membiarkannya tinggal di Syaam (Suriah). ‘Umar mengabulkan permintaannya dan membiarkannya tetap tinggal di Syaam.”

Ibnu ‘Asaakir melanjutkan, “setelah itu –lama berselang- Bilaal bermimpi Rasulullah saww dan mengatakan: ‘Kebencian apa gerangan ini wahai Bilaal, apakah belum waktunya kamu menziarahiku?’ Bilaal bangun dalam keadaan sedih dan takut. Iapun segera menunggangi kudanya dan memicunya menuju kota Madinah. Sesampai di Madinah, ia langsung pergi ke kubur Nabi saww dan menangis sambil mengusap-usapkan pipinya –tabarruk- ke kubur beliau. Kala itu, Hasan as dan Husain as mendekatinya. Bilaalpun merangkul keduanya dan menciuminya. Imam Hasan as dan Husain as berkata kepadanya: ‘Kami rindu pada suara adzanmu.’

Ketika Bilaal mengucap ‘Allahu Akbar’ Madinah menjadi tergetar. Ketika mengucap ‘Asyhadu an laa ilaaha illallaah’ goncangan Madinah menjadi semakin dakhsyat. Dan ketika Bilaal mengucap ‘Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah’ para wanita yang tinggal di kemah-kemahpun keluar dan berteriak: ‘Nabi saww telah keluar dari kuburnya.’ Setelah Rasulullah wafat, Madinah tidak pernah menangis dan histeris seperti kala itu.”[29]

Haafizh ‘Abdu al-Ghanii dan yang lainnya berkata, “Bilaal, setelah wafat Nabi saww hanya sekali mengumandangkan adzan –pada waktu datang ke Madinah untuk menziarahi kubur Nabi saww.”[30]

Sabkii berkata, “Dasar kami untuk menghalalkan ziarah kubur Nabi saww, bukan mimpi Bilaal. Akan tetapi dasar kami adalah perbuatan Bilaal itu sendiri. Ia melakukan ziarah tersebut di jaman pemerintahan ‘Umar dimana pada waktu itu para shahabat besar masih hidup. Dan sudah tentu kejadian itu, tidak mungkin tertutup dari mereka. Sementara itu, tidak satupun dari mereka yang memprotes atau menyalahkan Bilaal. Dengan ini, mimpi Bilaal tersebut hanyalah sebagai penguat saja, bukan dasar dalilnya.[31]

Dalam kitab Futuuhu al-Syaam dikatakan, ketika ‘Umar melakukan perjanjian damai dengan masyarakat Baitu al-Muqaddas, Ka’bu al-Ahbaar datang padanya dan memeluk agama Islam. ‘Umar sangat senang dengan masuknya dia ke dalam agama Islam. Setelah itu ‘Umar berkata kepadanya: “Apakah kamu mau menyertaiku pergi ke kota Madinah dan menziarahi kubur Nabi saww untuk mengambil manfaat –barakah- darinya?” Ka’bu al-Ahbaar menerima tawarannya. Ketika ‘Umar sudah sampai di kota Madinah, pertama kali yang ia lakukan adalah masuk ke dalam masjid Madinah dan mengucap salam kepada –kubur- Nabi saww.[32]

Kelima. Telah diriwayatkan secara mustafiidh (yang riwayatnya melebihi 2 atau 3 jalur sanad, pentj.) tentang ‘Umar bin ‘Abdu al-‘Aziiz bahwa: Ia pernah mengirim orang dari Syaam (Suriah) ke kota Madinah –hanya- untuk mengucap salam kepada Nabi saww.[33]

 

Sikap Para Ulama terhadap Pikiran Ibnu Taimiyyah

1. Qastilaanii

Ia berkata, “Perkataan Ibnu Taimiyyah tentang pelarangannya terhadap ziarah Nabi saww adalah paling buruknya sesuatu yang telah diriwayatkan darinya.”[34]

2. Naabulusii

Ia berkata, “Hal ini adalah bukan awal petaka dari Ibnu Taimiyya dan para pengikutnya. Karena ia telah mendosakan orang yang melakukan perjalanan ke Baitu al-Muaqaddas. Begitu juga ia melarang orang untuk bertawassul (berperantara) kepada Allah melalui para nabi atau wali. Semua ini, adalah hal-hal yang menunjukkan tentang kegilaannya yang memalukan itu dimana telah menyebabkan semua ulama secara keras menentangnya. Seperti al-Hashnii yang telah menulis kitab secara mandiri dalam menentang Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya. Dalam kitabnya itu, ia dengan tegas telah mengafirkannya- Ibnu Taimiyyah.”[35]

3. Imam Ghazaalii

Ia berkata, “Kitab: Rahasia haji dan termasuk di dalamnya ziarah kubur Nabi saww, shahabat, taabi’iin, ulama dan para wali. Maka barang siapa –seperti Nabi saww- yang bisa ditabaruuki di masa hidupnya, ia juga bisa ditabarruki di masa wafatnya. Dan dibolehkan melakukan Syaddu al-Rihaal (mempersiapkan bekal untuk bepergian jauh –dan pergi. penj.) untuk tujuan tabarruk ini. Dan hadits yang mengatakan bahwa tidak boleh bepergian kecuali kepada tiga masjid itu, tidak bisa mencegahnya. Karena hadits itu adalah larangan bepergian untuk masjid yang selain dari yang tiga tersebut (Masjidu al-Haraam, Masjidu al-Nabii dan Masjidu al-Aqshaa, penj.).”[36]

4. ‘Uzzaamii

Ia yang bermadzhab Syaafi’ii berkata, “Orang ini –Ibnu Taimiyyah- sangat benari sekali sekalipun kepada Rasulullah saww dengan berkata: Melakukan perjalanan untuk menziarahi Nabi saww adalah dosa.”[37]

5. Haitsamii

Ia yang bermadzhab Syaafi’ii, setelah membuktikan kebolehan ziarah kubur Nabi saww dengan dalil-dalil, berkata: Kalau kalian mengajukan masalah dan mengatakan, “Bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa kebolehan ziarah kubur Nabi saww itu adalah ijma’ dan kesepakatan semua ulama, padahal Ibnu Taimiyyah (dari generasi akhir madzhab Hanbali) mengingkari kebolehan ziarah dan melarang perjalanan untuk ziarah? Sabkii juga telah menukil dari tulisan tangan Ibnu Taimiyyah sendiri yang telah mengajukan dalil panjang lebar tentang penolakannya terhadap kebolehan ziarah Nabi saww itu, dan bahkan dia mengira bahwa keharaman terhadap bepergian untuk ziarah itu adalah ijma’ dan kesepakatan ulama yang mana menyebabkan shalat dalam perjalan tersebut harus dilakukan secara penuh (tidak qashar). Begitu pula ia mengatakan bahwa semua hadits tentang ziarah itu adalah hadits-hadits palsu dimana pandangannya ini diikuti oleh orang-orang yang lebih akhir darinya?”

Untuk menjawab hal ini kami akan mengatakan, “Memangnya siapa Ibnu Taimiyyah itu hingga pandangannya mesti diperhatikan? Atau siapa dia hingga bisa dianggap tokoh yang bisa dijadikan tempat merujuk dalam masalah-masalah ke-Islaman dan bisa dijadikan penoda bagi ijma’ dan kesepakatan ulama yang telah ada? Sangat banyak ulama yang menelusuri pandangan-pandangan sesatnya dan dalil-dalil lemahnya dimana membuat gonjang-ganjing pandangan jahilnya serta khayal-khayalnya yang gila itu menjadi sangat jelas terbukti.”[38]

Kesimpulannya adalah hadits-hadits tentang hal ini –kebolehan ziarah dan bepergian karenanya- yang telah diriwayatkan oleh para haafizh (yang setidaknya hafal seratus ribu hadits lengkap dengan perawinya) dan para ulama hadits Ahlussunnah, adalah sampai ke derajat Istifaadhah (hadits shahih yang melebihi 2 atau 3 riwayat) dan bahkan sampai ke tingkat Mutawaatir.

Selain itu –bukti kebolehannya juga- adalah perbuatan shahabat, dan ziarahnya Bilaal serta bepergiannya untuk ziarah kubur Nabi saww itu dimana sudah tentu diketahui oleh para shahabat besar yang lainnya, baik dengan melihat atau mendengarnya, sementara tak satupun dari mereka yang memprotes dan menyalahkannya.

Begitu pula –sebagai bukti- adalah permintaan ‘Umar kepada Ka’bu al-Ahbaar –di Suriah- untuk menziarahi kubur Nabi saww –di Madinah- dimana tidak ada satu shahabatpun juga yang memprotes dan menyalahkannya.

Semua kejadian-kejadian itu, adalah paling kuatnya dalil bagi kebolehan ziarah kubur, terlebih kubur Rasulullah saww dimana bahkan selain menunjukkan kebolehannya, juga menunjukkan kepada keutamaan dan kesunnahannya. Karena pada sebagian riwayatnya berisikan perintah untuk melakukan ziarah kubur dimana semua ulama –Ahlussunnah- memahaminya sebagai kesunnahan. Bahkan sampai-sampai Ibnu Hazm menyimpulkannya sebagai hukum wajib. Yakni setidaknya, seorang muslim dalam sepanjang umurnya, harus menziarahi kubur Nabi saww walaupun hanya sekali.[39]

6. Syaikh Ahmad Qastilaanii

Ia berkata, “Ketahuilah bahwa ziarah kubur Nabi saww adalah paling besarnya cara bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan juga merupakan paling tingginya derajat ketaatan dan derajat capaian kesempurnaan. Dan kalau ada orang yang menentang hal ini, maka ia telah keluar dari agama Islam, serta telah menentang Tuhan dan RasulNya. Sebagian ulama besar juga telah menyatakan pernyataan ini. Dan mereka juga telah menukil perkataan aneh Ibnu Taimiyyah tentang bepergian untuk ziarah kubur itu.”[40]

7. Jawaban Dzahabii kepada Hasan bin Hasan

Suatu hari, Hasan bin Hasan melihat seseorang yang berdiri di depan makam kubur Nabi saww (bangunan kubur Nabi saww) dan mendoakan Nabi saww serta mengirimkan salam dan shalawat. Hasan melarang orang itu dengan alasan ilmunya dan dengan dalil sebuah hadits yang berbunyi, “Janganlah kalian jadikan rumahku sebagai tempat ibadah dan janganlah kalian jadikan rumah kalian sebagai kuburan. Dimana saja kalian berada, maka dari sanalah kalian kirimkan salam dan shalawat kepadaku. Karena salam dan shalawat kalian itu sampai kepadaku.”

Dzahabii menjawab: Riwayat ini adalah Mursal (Mursal adalah hadits yang sanadnya terputus di perawi akhirnya. Misalnya taabi’iin meriwayatkan langsung dari Nabi saww padahal tidak pernah melihat beliau, pentj.), dan karena itu, Hasan yang berdalil dengan riwayat tersebut adalah batil. Oleh sebab itu, siapa saja yang secara tawadhu’ mendatangi kubur Rasulullah saww dan mengucapkan salam dan shalawat untuk beliau, maka kebahagiaan baginya. Karena ia –dengan ziarahnya itu- telah menunjukkan ziarah dan pertemanan yang baik. Dan selain mengucap salam dan shalawat kepada Nabi saww serta shalat untuk beliau, ia juga melakukan ibadah yang lain. Karena itu, penziarah mendapatkan dua pahala. Pertama, pahala ziarah. Ke dua, pahala salam atau shalawat untuk Nabi saww serta shalat yang dihadiahkan untuk beliau.

Orang yang mengucap salam dan shalawat untuk Nabi saww dari kejauhan, ia hanya mendapatkan satu pahala. Memang, satu ucapan salam dan shalawat, akan dibalas Tuhan dengan sepuluh salam dan shalawat untuknya.

Dan barang siapa yang menziarahi Nabi saww dari dekat, akan tetapi tidak dengan adab yang benar atau menyembah kubur Nabi saww (atau Nabi saww), maka ia telah melakukan perbuatan yang dilarang [(Kalaulah hadits pelarangan menjadikan kubur Nabi saww yang mursal di atas itu bisa dijadikan dalil sebagaimana hadits shahih (dimana tetap tidak bisa), maka maknanya adalah bukan larangan untuk menziarahi Nabi saww dan menjadikan kuburan beliau tempat ibadah seperti berdoa dan shalat kepada Allah. Akan tetapi, larangan menjadikan kuburnya tempat menyembah beliau sendiri. Jadi, maksudnya adalah: “Jangan jadikan kuburku tempat menyembahku!”, bukan “Jangan jadikan kuburku tempat menyembah Allah!”. Karena pahaman seperti ini, selain tidak masuk akal, ia juga bertentangan dengan banyak ayat dan riwayat sebagaimana maklum. Seperti ayat yang memerintahkan orang yang telah melakukan dosa dan ingin mendapat istijabah dalam taubat dan pengampunan dosanya (QS: 4: 64). Pentj.)] . Memang, sekalipun ia telah melakukan keburukan, akan tetapi ia juga telah melakukan kebaikan –datang menziarahi Nabi saww- dimana membuatnya layak mendapat perhatian dan pengajaran terhadap ziarah yang benar[41], karena Allah Maha Pengasih.

Ketika seseorang bersedia mengemban kesusahan perjalanan yang dilakukannya untuk menziarahi Nabi saww, kemudian menyebut nama beliau sesampainya di tempat, lalu menciumi tembok kuburan sambil menangis, maka hal inilah yang menyebabkannya layak dikatakan teman Allah dan NabiNya. Dan pertemanan dengan Allah dan RasulNya adalah tolok ukur pemisah baginya dari neraka. Karena itu, maka ziarah ke kubur Nabi saww adalah paling afdhalnya sesuatu yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah.

Sekarang, kalau ziarah kubur para nabi dan para wali dilarang dengan alasan hadits “Jangan lakukan perjalanan selain kepada tiga masjid!” itu, maka kami akan berkata, “Kalaulah bepergian untuk ziarah kubur adalah dilarang, maka setidaknya melakukan perjalanan untuk Masjid Nabi saww sudah pasti dibolehkan dimana tidak ada perselisihan di dalamnya. Dan untuk menziarahi Nabi saww, sudah tentu terlebih dahulu harus masuk ke dalam Masjidunnabi.

Dan ketika masuk ke dalam masjid, maka sudah selayaknya melakukan shalat. Kemudian setelah itu membaca shalawat untuk pemilikinya –Nabi saww.”

8. Pendapat penulis catatan kaki terhadap kitab Dzahabi

Ia dalam catatan kaki kitab Sairu A’laami al-Nubalaa’, berkata, “Tujuan penulis dengan perkataannya itu adalah dalam rangka menolak pandangan Ibnu Taimiyyah yang berkata tentang tidak bolehnya mempersiapkan bepergian –dan perginya- untuk ziarah ke kubur Nabi saww.[42]

9. Zainu al-Diian al-Muraaghii

Ia berkata, “Setiap muslim harus meyakini bahwa menziarahi Nabi saww atau kubur beliau dapat mendekatkan diri kepada Allah swt., karena telah diriwayatkan dari berbagai hadits yang banyak sekali tentang hal ini. Allah berfirman,

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

Dan kalau orang-orang yang menganiaya diri itu –berdosa- datang kepadamu –Muhammad- lalu mereka meminta ampun kepada Allah dan Rasulpun memintakan ampunan untuk mereka, maka mereka akan mendapati Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Pengasih[43]

Dari sisi bahwa menghormati Nabi saww tidak bisa berhenti dengan wafatnya beliau, maka tidak bisa dikatakan bahwa, “Permintaan ampunan dari Nabi saww dan ziarah pada beliau, hanya dikhususkan pada waktu beliau masih hidup saja.”

Karena para ulama dan peneliti akan menjawab, “Di akhir ayat itu dikatakan bahwa mereka -yang mendekati Nabi saww dan meminta ampun itu- akan mendapatkan Tuhan Maha Penerima Taubat dan Maha Pengasih. Sementara kepenerimaan taubat ini memiliki tiga syarat:

 

  1. Datang ke Nabi saww;
  2. Meminta ampunan;
  3. Doa ampunan dari Nabi saww.

Dua bagian pertama, tidak memiliki masalah dan problem sama sekali. Karena datang dan meminta ampun, tergantung kepada perbuatan setiap orang yang bersangkutan. Akan tetapi bagian ke tiganya, adalah tergantung kepada Nabi saww. Di lain pihak, Nabi saww selalu memohonkan ampunan untuk setiap mukminin karena Tuhan dalam al-Quran telah memerintahkan beliau untuk itu dengan firmanNya: ‘Mintakanlah ampunan untuk dosamu dan dosa setiap mukmin dan mukminat!’[44]. Jadi, kalau ketiga hal itu sudah sempurna, yakni orang yang berdosa itu datang ke dekat Nabi saww, dan beliaupun memintakan ampunan untuknya, maka kala itulah Tuhan akan menjadi Maha Penerima Taubat dan Maha Pengasih.’.”[45] (Maksudnya: Karena Nabi saww, sesuai dengan ayat yang memerintahkan beliau supaya selalu memintakan ampunan untuk para mukminin itu, maka beliau pasti salalu memintakan ampunan untuk semua mukminin. Di sini belum ada kepastian terhadap penerimaan Tuhan atas permintaan beliau itu. Karenanya, maka tolok ukur kepastian pengampunan Tuhan di ayat tersebut, adalah dua syarat sebelumnya. Yaitu datang kepada Nabi saww dan meminta ampunan di sisi beliau, pentj.)

 

Ziarah Kubur dan Tempat-tempat Lainnya

Pembahasan yang telah lalu adalah pembahasan mengenai ziarah ke kubur Nabi saww. Akan tetapi ziarah ke kubur lainnya, maka dari sisi kebolehannya, sama dengan ziarah ke kubur Nabi saww, dimana beliaupun suka sekali pergi menziarahi kuburan dan memerintahkan umat muslimin untuk melakukannya. Beliau saww menziarahi kubur ibundanya, Aaminah bintu Wahab as. Dan kehidupan muslimin (siiratu al-muslimiin) sepanjang sejarahnya juga demikian, yakni menziarahi kuburan muslimin.

 

Hadits-hadits Ziarah

  1. Sulaimaan bin Buraidah meriwayatkan dari ayahnya yang meriwayatkan dari Nabi saww bahwasannya beliau bersabda, “Sebelum ini aku melarang kalian untuk menziarahi kubur. Ketahuilah, bahwa dari sekarang kalian harus menziarahi kuburan.”[46]

Syaikh al-Manshuur berkata, “Umumnya ulama memahami dari perintah Nabi saww untuk menziarahi kubur itu, sebagai kesunnahan (bukan wajib). Akan tetapi Ibnu Hazm berkata, “Perintah di hadits ini menunjukkan kewajiban. Karena itu, setiap muslimin dalam sepanjang umurnya, setidaknya harus menziarah kubur Nabi saww walau hanya sekali.”.”[47]

  1. Nabi saww bersabda, “Aku pernah melarang kalian semua untuk melakukan ziarah kubur. Setelah itu Muhammad telah diijinkan untuk melakukan ziarah kepada kubur ibunya. Karena itu, setelah ini, ziarahilah kuburan. Karena ziarah kubur mengingatkan kepada akhirat!”

Semua pengarang kitab hadits shahih, selain Bukhari, telah meriwayatkan hadits ini. Diriwayatkan dari Turmudzi, “Mayat mengambil manfaat dari yang menziarahinya. Seperti doa yang dikhususkan untuknya, al-Quran yang dibacakan untuknya, pahala sedekah yang diberikan padanya. Dan semua ini, adalah hikmah dari ziarah kubur itu.”[48]

  1. Nabi saww bersabda, “Kalian pernah kularang untuk menziarahi kubur. Akan tetapi setelah itu, sesuatu yang lain telah ditunjukkan padaku.”[49]
  2. Nabi saww bersabda, “Pergilah ke kuburan keluarga kalian dan ucapkanlah salam pada mereka. Karena mereka adalah pelajaran bagi kalian!”[50]
  3. Nabi saww pergi menziarahi pekuburan orang-orang syahid di daerah yang bernama Ra’su al-Haul dan bersabda kepada pekuburan itu, “Salam untuk kalian –yang berada di kuburan- atas kesabaran kalian terhadap apa-apa yang telah menimpa kalian. Kalian memiliki tempat yang baik.”

Setelah itu Abu Bakar, Umar dan ‘Utsmaan-pun datang. Ketika Mu’awiyyah juga datang, dan masyarakatpun telah berkumpul di tempat itu, Nabi saww di hadapan mereka semua mengulang ucapannya lagi dengan berkata, “Salam untuk kalian semua –yang ada di kuburan- atas kesabaran yang kalian lakukan.”[51]

  1. ‘Aisyah berkata, “Nabi saww pernah keluar rumah menjelang subuh untuk pergi menziarahi pekuburan Baqii’. Ketika sampai di sana, beliau berkata: ‘Salam untuk kalian wahai orang-orang yang telah menghuni rumah iman. Apa-apa yang telah dijanjikan buat kalian telah kalian dapatkan. Sementara kalian masih di antara kematian dan kebangkitan (barzakh). Kamipun, kalau dikehendaki Allah, akan menyusul kalian juga. Ya Allah, ampunilah orang-orang yang dikuburkan di Baqii’ al-Gharqad.’.”[52]
  2. Ibnu Mas’uud meriwayatkan dari Nabi saww yang bersabda, “Ketahuilah, setelah ini ziarahilah kuburan, karena membuat kalian tidak perduli kepada dunia, dan selalu mengingat akhirat!”[53]
  3. Anas meriwayatkan dari Nabi saww yang bersabda, “Sebelumnya, aku telah melarang kalian untuk melakukan ziarah kubur. Setelah ini, maka ziarahilah kuburan, karena ziarah kubur mengingatkan kalian kepada kematian!”[54]
  4. Nabi saww bersabda, “Aku pernah melarang kalian untuk melakukan ziarah kubur. Setelah ini, siapa saja dari kalian yang ingin menziarahi kubur tertentu, maka lakukanlah. Karena ziarah kubur melembutkan hati, menangiskan mata dan mengingatkan akan akhirat!”[55]
  5. Thalhah bin ‘Abdullah berkata, “Kami pergi dengan Rasulullah saww untuk menziarahi pekuburan syahid. Ketika kami sudah dekat dengan pekuburan itu, Nabi saww bersabda: ‘Kubur-kubur ini adalah saudara-saudara kita.’.”[56]
  6. ‘Aisyah meriwayatkan dari Nabi saww yang bersabda, “Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Tuhanmu memerintahkanmu untuk mendatangi pekuburan Baqii’ dan memintakan ampunan untuk mereka!”[57]

 

Perbuatan Para Shahabat dan Taabi’iin dalam Ziarah Kubur

Perbuatan Hadhrat Faathimah as

  1. Abu Ja’far as Bersabda, “Faathimah binti Rasul as selalu menziarahi kubur Hamzah ra. dan memperbaiki kuburnya serta meletakkan batu di atasnya sebagai tanda.”[58]
  2. Raziin meriwayatkan dari Abu Ja’far as yang bersabda, “Hadhrat Faathimah binti Rasul as selalu menziarahi pekuburan syahid dalam dua atau tiga hari sekali.”[59]
  3. Dalam riwayat yang lain, tentang ziarah hadhrat Faathimah as ini, telah diriwayatkan dari Abu Ja’far as dan imam Muhammad al-Baaqir as yang keduanya meriwayatkan dari Imam Ali bin Husain as dimana dikatakan juga, “Hadhrat Faathimah as juga melakukan shalat di sana –pekuburan para syahid- begitu pula berdoa dan menangis. Begitu seterusnya beliau as lakukan –ziarah setiap dua atau tiga hari sekali itu- sampai beliau wafat.”[60]
  4. Ali as Bersabda, “Hadhrat Faathimah as setiap minggu selalu menziarahi kubur pamannya Hamzah, dan melakukan shalat di sana serta menangis.”[61]

Perbuatan ‘Aisyah

  1. Ibnu Abi Maliikah berkata, “Aku melihat ‘Aisyah menziarahi kubur saudaranya yang bernama ‘Abdu al-Rahmaan, yang dikuburkan di tempat bernama Habsyaa di Makkah.”[62]
  2. Ubnu Abi Maliikah berkata, “Suatu hari ‘Aisyah pergi ke arah pekuburan untuk melakukan ziarah. Aku berkata kepadanya: ‘Tidakkah Nabi saww telah melarang ziarah kubur?’ Ia menjawab: ‘Benar demikian. Tapi setelah itu beliau saww menyuruh kita untuk melakukan ziarah kubur.”[63]

 

Perbuatan Imam Ali al-Sajjaad as

Imam Muhammad al-Baqir as pergi menziarahi kuburan ayahnya, Imam Ali al-Sajjaad as.[64]

 

Perbuatan Haasyim bin Muhammad al-‘Amri

Baihaqii meriwayatkan dari Haasyim bin Muhammad al-‘Amri –dari keturunan ‘Umar bin ‘Ali- yang berkata, “Di kota Madinah, antara terbitnya fajar shadiq dan terbitnya matahari, ayahku mengajakku pergi ziarah ke pekuburan syahid. Akupun pergi mengikutinya dari belakang sampai ke pekuburan. Lalu ayahku dengan suara yang keras mengucapkan, ‘Salam buat kalian semua atas kesabaran kalian. Betapa bagusnya tempat kalian.’

Ia berkata, “Ketika ayahku mengucap salam itu, aku mendengar jawaban dari arah pekuburan yang berkata: ‘Wa ‘alika al-salaam wahai Aba ‘Abdillah.’.”

Ayahku menoleh ke arahku dan berkata: ‘Apakah kamu yang menjawabku?’

Aku menjawab: ‘Tidak.’

Lalu ayahku menarikku berdekatan di sebelah kanannya dan ia mengulangi lagi salamnya. Dan iapun kembali mendengar jawaban yang sama. Ayahku mengulangi lagi untuk ketiga kalinya, dan iapun tetap mendengar jawaban itu. Karenanya, ayahku bersimpuh ke tanah dan melakukan sujud syukur.”[65]

Perbuatan Yahya ‘Ithaaf

Yahya ‘Ithaaf meriwayatkan dari bibinya yang termasuk wanita shalihah, ia berkata, “Aku menaiki kuda dan budakku menyertaiku, sampai ke kuburan Hamzah. Di sana aku melakukan shalat sebanyak yang aku mampu. Demi Tuhan aku bersumpah, bahwa waktu itu tidak ada seorangpun yang bisa memanggil atau menjawab panggilan. Budakkupun tetap berdiri di sampingku sambil memegangi kendali tungganganku. Ketika aku sudah selesai melakukan shalat, aku berdiri dan mengucapkan: ‘Assalamu ‘alaikum.’ Sambil mengarahkan tangan ke arah kubur Hamzah. Tahu-tahu seketika aku mendengar jawaban dari dalam kubur. Sebagitu jelasnya kesadaranku atas terciptanya diriku, sebegitu jelasnya pula aku mendengar jawaban tersebut. Karena itu semua bulu romaku berdiri. Setelah itu aku memanggil budakku untuk mendekatkan tungganganku dan aku menaikinya.”[66]

 

Perbuatan Harun al-Rasyiid

Dzahabii meriwayatkan dari seseorang, “Harun al-Rasyiid pergi menunaikan haji.

Setelah itu ia datang ke kota Madinah, dan berkata kepada Yahya bin Khaalid, “Bawakan orang yang tahu tempat-tempat ziarah di Madinah kepadaku agar dia menjelaskan kepadaku bagaimana turunnya malaikat Jibril as kepada Nabi saww dan begitu pula menerangkan bagaimana beliau saww menziarahi pekuburan para syahid. Lalu ia –Yahya bin Khaalid- mengirim orang kepadaku untuk datang padanya dan akupun mendatanginya. Kami bersepakat untuk bertemu lagi di malam berikutnya –untuk melakukan ziarah. Aku sesuai dengan waktu yang telah disepakati itu, keluar rumah dengan membawa lentera –dan pergi besama Harun dan Yahya.  Di setiap tempat suci (tempat ziarah) dan pekuburan syahid yang kulewati bersama mereka berdua, aku selalu membaca doa. Mereka juga mengikuti membaca doa dan shalat sampai terbit fajar dalam keadaan seperti itu.”[67]

 

Kuburan Yang Sudah Diziarahi

Sejarah kehidupan kaum muslimin sejak awal, selalu menziarahi kubur para shahabat, orang shalih dan orang mukmin. Begitu pula melakukan tawassul dan tabarruk. Di bawah ini, kami akan membawakan beberapa contoh, diantaranya:

 

1. Kubur Bilaal bin Hamaamah Habasyii

Ia adalah tukang adzannya Rasulullah saww dan wafat pada tahun 20 H di kota Damaskus (Suriah). Di nisannya ditulis nama dan tanggal wafatnya. Doa di tempat itu termasuk yang bisa mendapatkan istijabah (kabul). Banyak sekali para tokoh dan orang-orang shalih yang telah mengalami peristiwa itu (diterimanya doa) dengan menziarahi kubur Bilaal tersebut dan bertabarruk kepadanya.[68]

2. Kubur Salmaan ra (wafat 36 H)

Khathiib al-Baghdaadii berkata, “Kubur Salmaan, sampai sekarang ini jelas dan terkenal. Ia dimakamkan di kota Madaain (Iraq). Kuburannya dibangung dan selalu ada penjaganya (juru kunci). Aku berulang kali menziarahi kubur itu[69]. Ibnu Jauzii meriwayatkan dari Qalaansii dan Samanuun yang berkata: ‘Kami pernah menziarahi kubur Salmaan.’.”[70]

3. Kubur Ayyuub al-Anshaari wafat tahun 52 H di kota Roma

Haakim berkata, “Masyarakat menjaga kuburannya dan menjadikannya tempat ziarah. Ketika masyarakat mengalami paceklik, mereka bertawassul dengannya untuk meminta hujan kepada Allah.”[71]

4. Kubur kepala imam Husain as di Mesir

Ibnu Jubair (wafat tahun 614 H) berkata, “Kepala imam Husain as diletakkan di bejana perak dan dimakamkan. Di atasnya dibangun sebuah bangunan yang megah yang sulit disifati dengan kata-kata dan dimengerti dengan akal (baca: sangat mengherankan, pentj.). Pertama kali kami datang ke tempat suci itu, kami lihat di dinding bagian dalam masjid diletakkan batu yang sangat hitam dan berkilau hingga apapun yang diletakkan di hadapannya, maka dapat terlihat seperti melihat pada cermin India. Aku melihat penziarah kepala imam Husain as itu sangat ramai sekali hingga berjubel. Mata menjadi sangat terperangah melihat hal itu. Dan penziarah dengan bergilir tanpa henti bertabaruuk dengan kain yang diletakkan di atas kubur. Air mata mereka begitu berderai hingga bisa membuat hati menjadi hancur dan batu menjadi rapuh. Semoga Tuhan memberikan kami  barakah dari kubur suci itu.”[72]

5. Kubur ‘Umar bin ‘Abdu al-‘Aziiz Umawi (wafat 101 H)

Ia dikubur di Diir Sam’aan[73] dan menjadi tempat ziarah.[74]

6. Kubur imam Musa bin Ja’far as (syahid 183 H)

Beliau as dimakamkan di Kaazhimiyyah (Kaazhimain, Iraq). Khatiib berkata: “Aku mendengar dari Hasan bin Ibraahiim (tokoh madzhab Hanbali pada jamannya) yang berkata, ‘Setiap aku menghadapi problem, aku pergi menziarahi kubur Musa bin Ja’far as dan aku bertawassul dengannya. Tuhanpun selalu memudahkan urusanku setelah itu’.”[75]

7. Kubur Imam Jawaad as

Ibnu ‘Imaad berkata, “Abu Ja’far Muhammad Jawaad syahid di Baghdaad dan dimakamkan di dekat kakeknya Musa bin Ja’far as dimana masyarakat tak pernah henti menziarahi makam keduanya.”[76]

8. Kubur imam Ridha as

Muhammad bin Muammal berkata, “Aku bersama imam Ahlulhadits, Abu Bakar bin Khaziimah dan Abu ‘Alii Tsaqafii serta banyak orang lain dari para tokoh, pergi ke kota Thuus (Iran) untuk menziarahi kubur ‘Ali bin Musa al-Ridhaa as. Aku sangat terkejut melihat bagaimana Ibnu Khaziimah sebegitu tawadhuknya dan sebegitu hormatnya, ketika berada di tepian kubur beliau.”[77]

9. Kubur Muhammad bin Idriis al-Syaafi’ii

Ia adalah pemuka madzhab Syaafi’ii yang dikuburkan tahun 204 H di Qaraafah Shughraa di Mesir. Kuburnya berdekatan dengan daerah yang bernama Maqtham dan menjadi tempat ziarah.[78]

10. Kubur imam madzhab Hanbali, Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H)

Dzahabii berkata, “Makam dia di Baghdaad adalah tempat ziarah.”[79]

11. Kubur Dzi al-Nuun Mishri (wafat 246 H)

Ia dikuburkan di Qaraafah dan di atasnya dibangun sebuah bangunan.[80]

12. Kubur imam madzhab Hanafi, Abu Hanifah (wafat 150 H)

Kuburnya berada di A’dzamiyyah di Baghdaad dan menjadi tempat ziarah yang terkenal.[81] Telah dinukilkan dari imam Syaafi’ii yang berkata, “Aku setiap hari Sabtu selalu menziarahi Abu Haniifah.”

13. Kubur Ismaa’iil bin Yuusuf al-Dailamii

Mu’aafii berkata, “Masyarakat menziarahi kuburannya yang terletak di belakang kuburnya Ma’ruuf Karakhii. Di antara dua kubur itu, hanya terdapat beberapa kuburan saja. Aku sering sekali menziarahi kubur tersebut.”[82]

14. Kubur Mush’ab bin Zubair (wafat 157 H)

Ibnu Jauzii berkata: “Masyarakat menziarahi kuburnya yang berada di Maskan[83], seperti menziarahi kubur Imam Husain as.”[84]

15. Kubur Laits bin Sa’ad al-Hanafii (wafat 175 H)

Ia adalah penutan orang-orang Mesir. Dikuburkan di Qaraafah Shughraa dimana kuburnya menjadi tempat ziarah.[85]

16. Kubur Abu ‘Awwaanah

Kuburnya berada di dalam kota Isfaraain dan di atasnya dibangun sebuah bangunan (makam).[86]

17. Kubur Isfaraain

Ibnu ‘Asaakir berkata, “Abu ‘Awwaanah di kubur di Isfaraain di tempat dimana disana juga dikubur seorang alim yang ditabarruki oleh masyarakat.”[87]

Ibnu Shaffaar Isfaraaini berkata, “Ketika kakekku sampai ke kuburan Abu Ishaaq, demi menghormatinya, ia tidak langsung masuk ke dalamnya. Pertama kali yang ia lakukan adalah mencium tembok luar bangunan makamnya, lalu sejenak berdiri dalam keadaan menghormati dan mengagungkan –seperti orang yang memiliki amanat besar di tangannya. Kemudian setelah itu baru ia masuk melewati pintu makam. Ketika ia sudah sampai di kubur Abu ‘Awwaanah, ia menghormati dan mengagungkan serta diam di samping kuburnya dalam waktu yang lama.”[88]

Kubur Haafizh Abu al-Hasan al-‘Aamiri (wafat 403 H). Masyarakat bermalam-malam membaca al-Quran dan membaca doa di samping kuburnya. Dan para penyair dari segala arah membacakan kidungannya dan peringatan kematianpun dilaksanakan.[89]

Kubur al-Mu’tamid ‘Alallaah. Dia adalah Abu al-Qaasim Muhammad bin al-Mu’tadhid al-Lakhami al-Andalusii yang meinggal pada tahun 488 H. Beberapa penyair berkumpul mengelilingi kuburannya dan membacakan puisi-puisi pujian terhadapnya. Begitu juga untuk memperingati kematiaannya mereka mengidungkan puisi-puisi duka dan menangis untuknya.

Salah satu dari penyair itu bernama Abu Bahr. Ia dalam kasidahnya berkata, “Aku cium tanah kuburmu. Kutundukkan kepalaku untukmu. Kuburmu adalah tempat untuk membacakan kidungan-kidungan syair.”

Setelah ia selesai membacakan syairnya, ia mengambil tanah kuburnya –Muhammad- dan mengusap-usapkan ke seluruh badanya. Kemudian iapun melumuri pipinya dangan tanah kubur tersebut. Orang-orang yang ada di majlis tarhim (peringatan kematian) itu menangis karenanya.[90] Sementara itu, tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa mereka telah melakukan kesyirikan.

18. Kubur Nashr bin Ibraahiim Maqdisii

Dia adalah ulama besar madzhab Syaafi’ii yang meninggal pada tahun 490 H. dan dikuburkan di Baabu al-Shaghiir di Damaskus (Suriah). Kuburnya jalas dan menjadi tempat ziarah.[91]

19. Kubur Qaasim bin Fiirah al-Syaathii

Pengarang kitab Thabaqaath berkata, “Dia meninggal pada tahun 590 H. dan dikuburkan di Qaraafah. Kuburnya sangat terkenal dan aku sering menziarahinya.”[92]

20. Kubur Ahmad bin Ja’far Khazrajii Bastii (Wafat 601 H)

Pengarang kitab Nailu al-Ibtihaaj berkata, “Sampai saat ini masyarakat berjejalan menziarahi kuburnya untuk mendapatkan hajat-hajat mereka –tawassul dengannya kepada Allah- dan aku sendiri lebih dari 500 kali telah menziarahinya serta lebih dari 30 hari aku menginap di makamnya.”[93]

21. Kubur Sufyaan al-Tsaurii

Ibnu Hubbaan berkata, “Kuburnya terletak di pekuburan Bani Kulaib di Bashrah (Iraq). Aku pernah menziarahinya.”[94]

22. Kubur Malik Muzhaffar

Quthubu al-Diin berkata, “Kuburnya selalu diziarahi orang. Aku pernah menziarahinya di bulan Ramadhan tahun 659 H. dan sekaligus menulis biorgrafi tentangnya.”[95]

Contoh-contoh yang telah disebutkan di atas adalah topik-topik yang diringkas dari kitab-kitab biografi, sejarah dan hadits. Sesuai dengan kenyataan ini, dapat dipahami bahwa para shahabat Nabi saww dan para taabi’iin, melakukan ziarah kubur. Terkhusus sekali kubur Rasulullah saww dimana mereka benar-benar mengambil penting masalah ini. Begitu juga mereka melakukan perjalanan khusus untuk menziarahi kubur para imam-imam yang maksum, para shalih, wali serta ulama. Sementara itu tidak satupun yang pernah menyalahkan mereka.

Dengan semua bukti dan nash-nash ini, maka dalil apa yang bisa dipergunakan oleh Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya dalam mengharamkan ziarah kubur tersebut? Apakah orang-orang Syi’ah telah melakukan dosa karena telah melakukan ziarah sesuai dengan riwayat-riwayat mulia dan budaya Islam? Bukankah kuburan yang diziarahi kaum muslimin tidak hanya kuburan para imam-imam maksum Syi’ah? Apakah Ibnu Khaziimah dan temannya yang bernama Ibnu ‘Alii al-Tsaqafi adalah seorang Syi’ah? Apakah pemimpin madzhab Hanbaliah yang melakukan ziarah ke kubur Imam Musa as adalah seorang Syi’ah? Apakah Ibnu Habbaan yang menziarahi kubur Imam Ridhaa as adalah seorang Syi’ah? Apakah Muhammad bin Idriis (Imam Syaafi’ii) yang menziarahi kubur Abu Haniifah adalah seorang Syi’ah? Apakah ‘Aisyah yang menziarahi kubur saudaranya yang bernama ‘Abdu al-Rahmaan yang dikubur di Makkah, adalah seoarng Syi’ah dan pengikut Imam Ali as.?

 

Pandangan-pandangan Ahli Fikih Ahlussunnah

1. ‘Askalaanii

Ia meriwayatkan dari Anas yang berkata, “Nabi saww melewati seoarng wanita yang sedang menangis di samping sebuah kubur. Nabi saww bersabda kepadanya: ‘Bertahanlah, sabarlah!’[96]

Hadits ini telah dijadikan dasar bagi kebolehan menziarahi kubur. Baik penziarahnya itu seorang lelaki atau wanita. Dan baik yang diziarahinya itu adalah orang Islam atau kafir. Karena hadits ini tidak memiliki kerincian tersebut dan bahkan memutlakkan hukumnya.”[97]

2. Nawawi

Ia berkata, “Umumnya ulama, meyakini kebolehan ziarah kubur. Al-Maawardii berkata: ‘Tidak boleh menziarahi kubur seorang kafir.’ Padahal kata-kata ini tidak benar. Dalil yang dibawakan oleh al-Maawardii adalah ayat al-Quran yang berbunyi ‘Dan janganlah kamu berdiri di atas kuburnya!’ Dalil seperti ini –menggunakan ayat kepada ketidak bolehan tersebut- tidak sepi dari masalah sebagaimana tidak tertutup bagi semua pembaca.

Shahih Muslim meriwayatkan dari Nabi saww yang bersabda, ‘Aku pernah melarang kalian ziarah kubur. Akan tetapi dari sekarang ke depan, ziarahilah kuburan itu, karena dapat mengingatkan kepada akhirat!’

Sesuai dengan riwayat ini, kelemahan pendapat al-Maawardii dapat diketahui secara jelas. Karena itulah maka ziarah kubur itu adalah boleh dan sesuai dengan syariat.”

3. Pandangan Maalik

Ia pernah ditanya tentang ziarah kubur. Dalam menjawab ia berkata, “Nabi saw pernah melarangnya. Akan tetapi setelah itu beliau mengijinkannya. Dan kalau siapapun melakukan ziarah kubur dan tidak berkata apapun kecuali kebaikan, maka hal itu boleh dilakukan.”[98]

4. Samhuudii

Ia berkata, “Adalah merupakan ijma’ ulama bahwa hukum ziarah bagi seorang lelaki adalah sunnah sebagaimana yang diisyaratkan oleh al-Nawawii. Dan kelompok Zhaahiriyyah bahkan mewajibkannya bagi lelaki.”[99]

 

Ziarah Kubur Ibu Nabi saww

Shahih Muslim dan Nasaai meriwayatkan dari Abu Hurairah yang meriwayatkan tentang ziara kubur dengan berkata, Nabi saww menziarahi kubur ibunya dan menangis. Karena itu, siapapun yang ada di sekitar beliau pada waktu itu, ikut menangis. Setelah itu beliau bersabda: “Aku memohon kepada Tuhan agar aku bisa memintakan ampunan untuk ibuku, akan tetapi Dia Yang Maha Mulia, tidak mengijinkannya. Kemudian aku meminta ijin untuk menziarahi kuburnya, lalu Dia mengijinkanya. Karena itu, ziarahilah kuburan, karena mengingatkan kalian akan kematian.”[100]

 

Keimanan Kedua Orang Tua Nabi saww

Riwayat-riwayat dan bukti-bukti sejarah, semuanya menyaksikan keimanan dua orang tua Nabi saww dan mensucikan mereka dari kemusyrikan. Bagaimana mungkin keduanya itu bisa musyrik sementara mereka, sebelum terlahir, terestafetkan melalui sulbi-sulbi yang suci (dari syirik). Bagaimana mereka bisa dikatakan musyrik sementara ayat al-Quran dengan jelas berkata,

وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

Dan perpindahanmu –Muhammad- melalui orang-orang yang bersujud[101]” (QS: 26: 219) dimana jelas menerangkan kesucian mereka.

Riwayat-riwayat juga menerangkan ayat tersebut dan menjelaskan tentang kesucian kedua orang tua Nabi saww dimana sebagian contohnya adalah sebagai berikut:

 

  1. Suyuuthii meriwayatkan dari ‘Umar al-‘Adni dan Bazzaar dan Ibnu Abi Haatim dan Thabrani dan Ibnu Murdawaih dan begitu juga dari Baihaqi dalam kitabnya yang berjudul Dalaailu al-Nubuwwati yang diriwayatkan dari Mujaahid. Dikatakan bahwa: Ayat yang berbunyi, “Dan perpindahanmu melalui orang-orang yang bersujud.” Yakni –bibit Nabi saww- diestafetkan melalui sulbi seorang nabi ke sulbi nabi yang lainnya sampai terlahirkan ke dunia ini.”[102]
  2. Suyuuthii meriwayatkan dari Abu Haatim dan Ibnu Murdawaih dan Abu Naa’im dalam Dalaailu al-Nubuwwati yang meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas yang berkata, “Makna ayat itu adalah bahwasannya Nabi saww itu diestafetkan melalui sulbi-sulbi para nabi sampai beliau diahirkan oleh ibundanya.”[103]
  3. Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas yang berkata, Aku bertanya kepada Nabi saww: “Ayah dan ibuku kukorbankan untukmu (ucapan hormat dan cinta, penj.). Ketika Nabi Adam as berada di surga, Anda berada dimana?” Nabi saww tertawa hingga gigi bagian belakang beliau terlihat. Setelah itu beliau bersabda: “Ketika Nabi Adam as berada di surga, aku berada di sulbinya. Begitu pula ketika ia terlempar ke bumi. Aku pernah menaiki perahu ketika aku berada di sulbi ayahku, Nabi Nuh as. Aku juga pernah terlempar ke dalam api ketika ayahku nabi Ibraahiim dilempar ke dalam api. Sama sekali, ayah ibuku bukanlah orang penzina. Dan Tuhan selalu meletakkanku di sulbi dan rahim yang suci (dari kesyirikan). Akupun suci dan terpelihara. Tak ada dua golongan sekalipun –di dunia ini- kecuali aku berada di sulbi yang terbaik diantara keduanya. Tuhan, dengan alasan kenabian, telah mengambil janji dariku, dan dengan melalui Islam Ia menghidayahiku. Aku disebutkan dalam Tauraat dan Injiil. Tuhan mencahayai semua keberadaan baik di timur atau di barat dengan cahayaku. Dan Ia mengajarkan kitabNya kepadaku. Namaku di langit ditinggikanNya, dan Ia mengambil namaku dari pecahan NamaNya. Ia adalah Mahmuud (Terpuji) yang memiliki ‘Arsy dan aku adalah Muhammad (Pemuji). Ia telah menjanjikan padaku untuk mencintaiku di tepian telaga surga dan akan memberikan kepadaku al-Kautsar serta menjadikanku pemberi syafaat yang pertama. Syafaatku adalah paling awalnya syafaat yang akan diterimaNya. Aku diutus untuk paling utama umat manusia. Dan umatku adalah yang memuja Tuhan dan melakukan amar makruf dan nahi mungkar.”[104]

Hadits ini, jelas menerangkan tentang kesucian para orang tua Nabi saww, dan membersihkan mereka semua dari kemusyrikan. Karena musyrik itu adalah najis. Karena itulah Siti Aaminah bintu Wahab ra termasuk golongan wanita yang bertauhid, mukmin dan suci serta tidak pernah terkotori oleh kemusyrikan sedikitpun.

Karena itulah dapat diketahui bahwa riwayat yang bersumber dari Abu Hurairah itu adalah penghinaan terhadap kedua orang tua Nabi saww.[105]

Syaikh Manshuur dalam menjelaskan hadits ini mengatakan, “Tidak Islamnya ibu Nabi saww tidak bertentangan dengan masuknya beliau ke dalam surga. Karena beliau mengikuti agama fitrahnya. Dan jumhur ulama berpendapat bahwa orang-orang yang mengikuti agama fitrahnya (tauhid) –sebelum datangnya agam Islam- akan tetap mendapat keselamatan dari api neraka. Dan bahkan orang-orang kasyafpun telah menkasyaf bahwa kedua orang tua Nabi saww itu hidup setelah diutusnya Nabi saww menjadi rasul, dan keduanya beriman kepada risalah Nabi saww, karena itu, mereka masuk ke dalam surga.”[106]

Tafsir ayat yang sudah dijelaskan di atas itu, tidak terkhususkan kepada tafsir Syi’ah.[107] Mereka juga tidak hanya mencukupkan dengan menukil riwayat-riwayat saja. Akan tetapi bahkan mereka, para ulama Ahlussunnah itu –seperti Suyuuthii- menukil pula perkataan Ibnu Haatim, Ibnu Murdawaih, Abu Na’iim, Bazzaar, Thabraanii, Mujaahid dan Ibnu ‘Abbaas[108]. Karena itu, maka apa-apa yang dikatakan oleh Fakhru al-Raazii[109], yang mengatakan: “Tafsir riwayat pada ayat ini, hanyalah milik ajaran Syi’ah.”[110], tidak mengena sama sekali.

 

Catatan

Pembahasan di atas itu, seperti pembahasan tentang penolong dan pembela Rasulullah saww, yaitu hadhrat Abu Thaalib ra. Siapa saja yang tahu keberaniannya dalam membela Nabi saww, syair-syair dan pidato-pidatonya, maka ia akan meyakini keimanannya terhadap tauhid dan kenabian serta agama beliau. Akan tetapi fanatisme Bani Umayyah dan permusuhan mereka terhadap Imam Ali as, membuat kenyataan ini menjadi tertutup, hingga tidak bisa dikatakan: “Abu Thaalib meninggal dalam keadaan beriman.”

Ibnu Katsir dalam kalimat-kalimatnya yang sangat aneh berkata, “Dari yang telah diterangkan sebelumnya dapat diketahui bahwa Abu Thaalib adalah komandan dari para pelindung Nabi saww. Ia mendebat (menghujjah) semua musuh-musuh hingga mereka melepaskan Nabi saww dan para pengikutnya dari kejahatan mereka. Ia juga menguntai kata-kata indah (puisi) sebagai pujian terhadap Nabi saww dan para shahabatnya, begitu pula tentang cinta dan kasihnya terhadap beliau. Ia sering mendatangi musuh dan membuat mereka tidak berdaya dengan kefasihan sastra Arabnya yang merupakan cirri khusus dari keluarga ‘Abdu al-Muthallib. Dalam semua keadaan itu, Abu Thaalib tahu juga bahwa Rasulullah saww adalah manusia yang jujur, al-amiin, baik dan berada dalam jalan yang benar. Akan tetapi, dengan semua itu, dalam hatinya ia tidak beriman kepada Rasulullah saww.!!!”[111]

Fanatisme (kefanatikan terhadap diri, suku dan madzhad) Ibnu Katsir benar-benar dapat dilihat dengan nyata. Seakan-akan ia berada di dalam hati Abu Thaalib ra. dan mengerti pandangan mata dari para pengkhianat serta dapat mencium apa-apa yang tersembunyi di dalam hati manusia.

Ia mengakui dengan berkata, “Abu Thaabli ra membenarkan apapun yang dikatakan Nabi saww.” Akan tetapi setelah itu ia berkata, “Dalam hatinya tidak beriman kepada Rasulullah saww.” Memang, orang seperti dia ini, harus mengatakan kata-kata seperti itu. Karena Abu Thaalib adalah ayah dari Imam Ali as. Coba Abu Thaalib ayah dari Mu’awiyah, maka ia akan memujanya melebihi Abu Sufyan dan sudah pasti akan menguntai kata-kata pujian palsu yang lebih banyak untuknya.


[1] Irsyaadu al-Saari, jld. 2, hal. 329.

[2] Kasyfu al-Irtiyaab, hal. 365.

[3] Qashr dalam shalat adalah melakukan shalat yang berjumlah empat rakaat menjadi dua rakaat karena musafir. Akan tetapi kalau bepergiannya itu untuk melakukan maksiat, maka hukum shalat musafir itu menjadi batal. Karenanya harus tetap shalat empat rakaat. Ibnu Taimiyyah, ketika mengharamkan ziarah kubur, maka hukum musafir diankat dari orang yang melakukan perjalanan untuk ziarah ini. (Pentj.)

[4] An-Nisa’ (4): 64.

[5] Dalil-dalil tentang kehidupan barzakhi Nabi saww telah dijelaskan di pembahasan yang telah lalu (lihat jilid pertama dari buku ini!).

[6] Kasyfu al-Irtiyaab, hal. 366.

[7] Al-Mawaahibu al-Daniyyati Bi al-Manahi al-Muhammadiyyati, jld. 3, hal. 410.

[8] Tharhu al-Tatsriib Fi Syarhi al-Taqriib, hal. 297.

[9] Dia adalah seorang Haafizh, faqih (mujtahid) dan terkenal dengan julukan Al-Khuulaani (wafat tahun 194 H). Penulis kitab-kitab hadits shahih, meriwayatkan darinya. Ibnu Mu’iin dan Muhammad bin ‘Auf al-Thaa-i i juga mentsiqahkannya (Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 9, hal. 58).

[10] Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 4, hal. 1326; al-Raudhu al-Faa-iq, jld. 2, hal. 380; Kasyfu al-Irtiyaab, hal. 257 dan 366; al-Mawaahibu al-Laduniyyatu, jld. 3, hal. 405; Mughni al-Muhtaaj, jld. 1, hal. 512; Kunuuzu al-Haqaa-iq, jld. 2, hal. 108; Nailu al-Authaar, jld. 5, hal. 108; Begitu pula Maraaghii menghukumi kebolehan ziarah Nabi saww dari ayat ini, dan berkata, “Ziarah bisa menyebabkan dekatnya seseorang kepada Allah. Hal ini telah diriwayatkan dalam berbagai bentuk periwayatan. Salah satu buktinya riwayat ‘Utbaa –Muhammad bin ‘Abdullah ‘Umar- yang diambil oleh Ibnu ‘Ubainah dimana kedua orang ini adalah ulama madzhab Syaafi’ii yang mengatakan: Seorang Arab pedesaan datang kepada Nabi saww dan meminta beliau untuk memohonkan ampunan untuknya. Ia membacakan puisi pujian terhadap Nabi saww:

Wahai paling mulianya manusia yang dimakamkan di tempat ini

Yang bau wanginya menyeruak, melesat dan mengharumi kota ini

Jiwaku sajian debu-debu kuburmu, gudang kemulian dan kasihmu

Setelah itu ia mengucapkan istighfar dan pergi. Dalam keadaan itu, kantukku menguasai diriku. Dalam tidur aku melihat Nabi saww dan berkata: ‘Carilah orang Arab pedesaan tadi itu dan katakan padanya bahwa Tuhan telah mengampuninya!’ Karena itu aku mencari orang tersebut. Akan tetapi aku tidak mendapatkanya.” Orang Arab pedesaan ini, dengan fitrahnya yang polos dan murni, datang ke kubur Nabi saww dan meminta beliau untuk memohonkan ampunan bagi dirinya. Apakah Ibnu Taimiyyah tidak menyadari bahwa menziarahi kubur orang-orang besar dan wali Tuhan itu adalah hal yang fitrah? Atau mungkin fitrah dia itu telah dikotori oleh kebekuan, permusuhan dan kebencian, seperti yang dikatakan oleh Sabki: Telah dikotori oleh hawa nafsunya??!

[11] Al-Ghadiir, jld. 5, hal. 93; Sunanu al-Daar Qathnii, jld. 2, hal. 278; al-Ahkaamu al-Sulthaaniyyati, jld. 2, hal. 109; al-Kaamilu Fi al-Dhu’afaa-i, jld. 6, hal. 351; al-Du’afaa-u al-Kabiir, jld. 4, hal. 170; al-Syifaa’ Bita’riifi Huquuqi al-Mushthafaa, jld. 5, hal. 194; Mukhtasharu Taariikhi Damisyq, jld. 2, hal. 406; al-Targhiibu wa al-Tarhiibu, jld. 2, hal. 224; Syifaa-u al-Suqqaam, jld. 2; Kanzu al-‘Ummaal, jld. 15, hal. 651; Nailu al-Authaar, jld. 5, hal. 108.

[12] Bagian ini telah dihilangkan oleh Ibnu Badraan dalam kitabnya yang berjudul al-Tahdziib.

[13] Lihat, al-Ghadiir, jld. 5, hal. 167.

[14] Al-Kaamilu Fi al-Dhu’afaa’, jld. 6, hal. 351.

[15] Al-Ghadiir, jld. 5, hal. 169.

[16] Syafaa-u al-Saqaam, hal. 8. Taqiyyu al-Diin Sabkii adalah bermadzhab Syaafi’ii, pengarang kitab Syafaa-u al-Saqaam dan wafat pada tahun 728 .. Karena itu, ia sejaman dengan Ibnu Taimiyyah (yang lahir pada tahun 661 H, pentj.). Ia dalam kitab Syifaa-u al-Saqaam itu mengkritisi kitab Sunannya Ibnu Taimiyyah, dan dengan dalil-dalilnya yang kuat, telah mematahkan semua dalil-dalil Ibnu Taimiyyah. Syifaa-u al-Saqaam, adalah paling bagusnya kitab dalam topik ini –menolak ajaran Ibnu Taimiyyah yang menjadi ikutan Wahhabiah.

[17] Al-Mu’jamu al-Kabiir, jld. 12, hal. 225; Ihyaa-u al-‘Uluum, jld. 1, hal. 231; Mukhtasharu Tariikhi Damasyq, jld. 3, hal. 406; Syifaa-u al-Saqaam, hal. 16; Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 4, hal. 1340; Mughni al-Muhtaaj, jld. 1, hal. 512; Al-Mawaahibu al-Laduniyyatu, jld. 4, hal. 571.

[18] Al-Ghadiir, jdl. 5, hal. 246 yang merujuk ke kitab: Al-Mu’jamu al-Kabiir, jld. 12, hal. 310; Sunanu al-Daari al-Quthnii, jld. 2, hal. 278. Hadits ini dinukil secara Marfuu’. Dan hadits Marfuu’ adalah hadits yang satu atau lebih dari perawinya tidak disebutkan. Akan tetapi memang dinyatakan secara jelas kalau Marfuu’ (sengaja tidak disebutkan semuanya, penj.). Seperti: dari Kulaini, dari Ali bin Ibrahim, dari ayahnya, rafa’ahu (secara marfuu’) dari Imam Shadiq as berkata: “Ini dan itu.” misalnya.

Marfuu’ juga berarti suatu hadits yang pada akhirnya dinisbahkan atau dihubungkan kepada orang maksum, baik secara Maqthuu’ (yang diriwayatkan dari taabi’iin, baik berupa perkataan atau perbuatan mereka, penj.) atau Mursal (yang diriwayatkan dari maksum as sementara ujung perawinya tidak sejaman dengan maksum dan tidak menyebutkan satu perantaranya, penj.). Hadits Marfuu’ ini di kalangan Ahulussunnah waljama’ah, disebut juga dengan hadits shahih.

[19] Nailu al-Authaar, jld. 5, hal. 108; Syafaa-u al-Saqaam, hal. 27; Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 4, hal. 1342; al-Mawaahibu al-Laduniyyatu, jld. 3, hal. 404; Kasyfu al-Khafaa’, jld. 2, hal. 244; Kitaabu al-Majruuhiin, jld. 3, hal. 73; Mushannifu ‘Abdu al-Rahmaan, jld. 3, hal. 569; al-Ghadiir, jld. 5, hal. 100.

[20] Majma’u al-Anhar Fi Syarhi al-Abhar, jld. 1, hal. 157; Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 4, hal. 1340. Riwayat lainnya yang serupa, juga diriwayatkan oleh almarhum Amiin dalam kitab Kasyfu al-Irtiyaab-nya (hal. 366-368).

[21] Syifaa-u al-Saqaam, hal. 44.

[22] Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 4, hal. 1340.

[23] Ibid. Dalam sebagian riwayat dikatakan “Kemudian ia mengucap shalawat kepada Nabi saww”

Ibnu A’tsam dalam kitab al-Futuuh, jld. 5, hal. 18, berkata: Suatu malam imam Husain bin Ali as mendatangi kubur kakeknya Rasulullah saww dan berkata: “Salam padamu wahai Rasulullah. Aku adalah Husain anak Fathimah as. Aku adalah dari sulbimu dan anak dari putrimu. Aku adalah cucumu yang merupakan anak dari orang yang telah engkau pilih menjadi khalifahmu untuk umat ini. Karena itu, maka jadilah saksi wahai Rasulullah, bahwa umat ini telah menyia-nyiakan aku dan tidak melindungiku. Ini adalah keluhku padamu hingga aku menjumpaimu.” Pada malam ke dua, ia –Imam Husain as- datang lagi ke kubur Nabi saww dan melakukan shalat dua rokaat. Ketika selesai melakukan shalatnya, ia membaca doa ini: “Ya Allah, ini adalah  kubur NabiMu Muhammad saww, dan aku adalah cucunya. Telah menimpaku suatu masalah yang Engkau sendiri mengetahuinya. Aku menyukai perbuatan baik dan membenci perbuatan buruk. Aku memohon padaMu wahai Yang Maha Perkasa dan Pemberi, demi kebenaran kubur ini dan demi yang dimakamkan di dalamnya, agar apa yang akan aku lakukan sesuai dengan RidhaMu.” Contoh doa seperti di atas ini, juga dilakukan oleh Imam Ridha as.

[24] Ibid (atau jld. 4, hal. 183, dalam cetakan yang lain. Penj.)

[25] Al-Ghadiir, jld. 5, hal. 109.

[26] Al-Bukhaarii, jld. 2, hal. 136; Shahih Muslim, jld. 4, hal. 126; Ihya-u al-‘Uluum, karya Ghazali, jld. 2, hal. 247. Muhammad bin ‘Abdu al-Wahhaab berkata, “Ziarah Nabi saww adalah sunnah akan tetapi bepergiannya harus diniatkan untuk shalat di Masjidunnabi itu –bukan unuk ziarah.”

[27] Irsyaadu al-Saarii, jld. 2, hal. 332.

[28] Ibid; Shahih Bukhari, jld. 2, hal. 137. Shalatnya Nabi saww –yang didahului dengan menempuh perjalanan itu- tidak hanya dilakukan terhadap masjid Qubaa. Samhuudii, dalam kitabnya yang berjudul Wafaa-u al-Wafaa’ menyebutkan masjid-masjid yang di dalamnya Nabi saww pernah melakukan shalat. Kebanyakan masjid-masjid itu, masih ada sampai pada masanya, yakni abad ke 9 dan awal abad ke 10 Hijriah. Karena ia menyebutkan semua masjid-masjid itu. Sangat disayangkan, bahwa banyak sekali peninggalan-peninggalan sejarah Islam yang tersisa, hancur di tangan para Wahhabi. Ia –Samhuudi- menukil dari Baghwii yang bermadzhab Syaafi’ii bahwa ia berkata: “Kalau seseorang bernadzar untuk melakukan shalat di salah satu masjid yang Nabi saww pernah melakukan shalat di dalamnya, maka shalatnya menjadi wajib dan ia-pun wajib mengamalkan nadzarnya, sebagaimana kalau bernadzar untuk melakukan shalat di tiga masjid itu (yang dikecualikan dalam hadits di atas).”

Setelah itu, Samhuudii menyebutkan masjid-masjid yang dimaksudkan: 1. Masjid al-Jum’at dimana pertama kalinya Rasulullah saww mendirikan shalat Jum’at. 2. Masjid al-Fadhiih yang mana sekarang dikenal dengan masjid Syamsun. Rasulullah saww sewaktu mengepung suku Bani al-Nadhiir, melakukan shalat di masjid itu. 3. Masjid Banii Zhafar. 4. Masjid al-Ijaabatu. 5. Masjid al-Fathu. 6. Masjid Banii al-Haraam. 7. Masjid Qiblataian. 8. Masjid al-Suqyaa. 9. Masjib al-Dzubaab yang juga dikenal dengan masjid al-Raayatu.

Semua masjid-masjid itu, masih ada di kota Madinah sampai pada masa Samhuudi. Karena itu ia menyebutkannya. Selain itu, iapun menyebutkan posisi geografi semua masjid Madinah tersebut. Sementara masjid-masjid yang sudah tidak ada pada masa Samhuudi adalah sebagai berikut: 1. Masjid Banii Judailati. 2. Masjid Banii ‘Ubaid yang juga dikenal dengan masjid al-Khirbatu. 3. Masjid Banii Ghaffaar. 4. Masjid Banii Diinaar. 5. Masjid Banii ‘Uddaa. Di bagian akhir Samhuudii menyebutkan sebanyak 39 masjid.

Para Wahhabi, ketika menguasai Makkah dan Madinah, merusak sebagian besar masjid-masjid itu. Dan bahkan melarang mendatangi (ziarah) dan menabarrukinya. Kebanyakan dari masjid-masjid itu dijadikan kandang binatang –na’udzu billah. Dan sebagian lainnya dijadikan tempat dibangunnya perpustakaan umum. Banyak sekali orang yang tidak perhatian terhadap hukum masjid (seperti orang haid atau junub tidak boleh memasuki masjid, penj.) telah memasuki masjid yang telah dijadikan perpustakaan itu. Orang-orang seperti Wahhabi yang tidak punya malu ini, bagaimana mendakwa dirinya sebagai muslim dan pembela Islam, sementara mereka menghancurkan masjid-masjid itu dan menguasainya serta merubahnya dari posisi masjid (sebagai kandang atau perpustakaan, penj.)? Apakah merampas wakaf itu tidak haram? Apakah hal itu bukan merupakan penghinaan terhadap masjid dan Rasulullah saww? Salah satu dari penghinaan mereka –Wahhabi- telah menghancurkan masjid al-Thaaif.

Untuk masalah-masalah seperti ini, bisa dilihat di kitab-kitab: (1) Al-Tawassul bi al-Nabii saww karnya Abu Haamid bin Marzuuq. (2) Al-Duraru al-Sunniyyatu, karya Sayyid Ahmad bin Zainii Dahlaan. (3) Syafaa-u al-Saqaam, karya Sabkii. (4) Tathhiiru al-Fuaad, karya Syaikh Muhammad Muthii’ii. (5) Al-Minhatu al-Wahbiyyatu, karya Husain Hamlii. (6) Al-Bashaa-ir, karya Hamadullah al-Daajwaa. (7) Al-Tabarruk, karya Ayatullah Ahmad Miyaanijii, hal. 219-228.

 

[29] Usdu al-Ghaabati, jld. 1, hal. 208; Tahdziibu al-Tahdziib, jld. 2, hal. 408; Syafaa-u al-Saqaam, hal. 85.

[30] Ada bukti sejarah bahwa Bilaal, setelah wafatnya Nabi saww mengumandangkan adzan sebanyak tiga kali. Dua kali di Madinah dan sekali di Syaam (Suriah). Rujuk kitab Qaamuusu al-Rijaal, jld. 2, hal. 398.

[31] Taariikhu al-Islaam (‘Ahdu Khulafaa’), jld. 3, hal. 205; Wafaa-u al-Wafaa’ jld. 4, hal. 1357.

[32] Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 4, hal. 1358.

[33] Tahdziibu al-Mathaalib, jld. 21, hal. 408.

[34] Irsyaadu al-Saarii, jld. 2, hal. 329.

[35] Al-Hadhratu al-Insiyyatu Fi al-Rihlati al-Qudsiyyati, hal. 129.

[36] Ihyaa-u al-‘Uluum, jld. 2, hal. 247. Imam Ghazaalii (wafat tahun 505 H.) menambahkan: “Barang siapapun yang ingin melakukan perjalanan untuk menziarahi Nabi saww maka di tengah jalan ia harus mengucap salam dan shalawat pada beliau. Dan ketika pandangannya sudah bisa melihat pohon-pohon dan tembok-tembok Madinah, hendaknya membaca: ‘Ya Tuhan, ini adalah haramMu (tempat suci). Jadikanlah ia jempatan dan keamanan bagiku dari api nerakaMu dan buruknya hisab.’ Setelah ziarah Nabi saww hendaknya mendatangi pekuburan Baqii’ untuk menziarahi Hasan bin Ali dan setelah itu hendaknya shalat di Masjid Faathimah.” (Ihyaa-u al-‘Uluum, jld. 1, hal. 305-396.).

[37] Furqaanu al-Qur aan, hal 133; al-Ghadiir, jld. 5, hal. 154. ‘Abdu al-Rahmaan al-Jaziirii, penulis kitab al-Fiqhu ‘Alaa al-Madzaahibi al-Arba’ati, menulis: “Ziarah kubur Nabi saww adalah paling afdhalnya kesunnahan dan telah diriwayatkan melalui banyak riwayat. Setelah itu ia menukil cara-cara atau tatakrama ziarah (Wahhaabiyat, Mabaanii Fikrii wa Kornomeh ‘Amalii, hal. 122).

[38] Al-Ghadiir, jld. 5, hal. 116; Kasyfu al-Irtiyaab, hal. 372; al-Jawaahiru al-Munazhzham Fi Ziyaarati al-Qabri al-Mukarram, hal. 12.

Catatan: Pengarang kitab Kasyfu al-Irtiyaab menukil suatu hal dari Muhammad al-Barsii yang dengan kata-kata keras telah menentang pandangan Ibnu Taimiyyah, dengan berkata: Telah berkata al-Syaikhu al-Imaamu al-Habru al-Himaamu, sanad dari para ahli hadits, al-Syaikh Muhammad al-Barsii dalam kitabnya Ittihaafu Ahli al-Irfaan bi Ru’yati al-Anbiyaa’ wa al-Malaaikati wa al-Jaanni: “Ibnu Taimiyyah telah berani-beraninya –semoga Tuhan mengadilinya- berkata bahwa hukum bepergian untuk ziarah Nabi saww adalah haram. Dan bahwa shalat di tengah perjalanannya itu mesti dilakukan secara penuh (karena musafir haram tidak membuat shalat menjadi qashar, penj.) karena musafirnya adalah haram. Karena itu ia telah jatuh –dari kehormatan- di mata para ulama dan masyarakat Islam, hingga jadi sindiran di masyarakat awam, apalagi di kalangan ulama. (Kasyfu al-Irtiyaab, hal. 371-372).

[39] Al-Taaju al-Jaami’ li al-Ushuul, jld. 2, hal. 382.

[40] Al-Mawahib Al-Dininyyah, jld. 3, hal. 403 dan 406

[41] Tidak seperti Wahhabi (yang kita lihat di musim haji misalnya, penj.) yang begitu melihat orang mendekati kubur Nabi saww dan mengusapnya –dan apalagi menciumnya- maka langsung dihardik, dihina, dikatakan kafir atau syirik, serta memukulinya.

[42] Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 4, hal. 484.

[43] Al-Nisaa’: 64.

[44] Surat Muhammad: 19.

[45] Al-Mawaahibu al-Laduniyyatu bi al-Manahi al-Muhammadiyyati, jld. 3, hal. 405.

[46] Shahih Muslim, jld. 3, hal. 65; Sunan Nasaai, jld. 4, hal. 89; Mustadraku al-Shahihain karya Muslim, jld. 1, hal. 530, hadits ke: 1385.

Catatan: Nabi saww pernah melarang ziarah kubur untuk sementara. Dan setelah itu beliau menyuruhnya. Kemungkinan pertama adalah karena di awal-awal Islam, kuburan dipenuhi oleh orang-orang kafir yang telah mati sebelumnya. Karena itu, pelarangan beliau tersebut dimaksudkan untuk memahamkan kepada muslimin bahwa tidak ada kompromi antara Islam dan kafir (baca: dalam keyakinan, bukan dalam kehidupan sosial, penj.). Kemungkinan ke dua, adalah dikhawatirkan di awal-awal masa keIslaman itu (baca: belum lengkapnya ajaran Nabi saww) muslimin tidak melakukan ziarah sesuai dengan agama Islam (baca: sesuai dengan ajaran kafir musyrik, penj.). Karena itu, dengan berkembangnya agama Islam dan semakin sempurnanya ajarannya, mereka meninggalkan cara-cara ziarah yang batil itu. Hingga pada akhirnya, Nabi saww mengeluarkan perintah terhadap ziarah kubur tersebut. (Oyine-e Wahhaabiyyat, hal. 107).

[47] Al-Taaju al-Jaami’i Li al-Ushuul, jld. 1, hal. 381; Jaami’u al-Ushuul, jld. 11, hal. 438.

[48] Ibid.

[49] Musnad Ahmad bin Hanbal, jld. 2, hal. 337; Mausuu’atu Athraafi al-Hadiits, jld. 10, hal. 181.

[50] Akhbaaru Makkati, jld. 2, hal. 52.

[51] Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 3, hal. 932.

[52] Ibid, hal. 883; Shahih Muslim, jld. 3, hal. 63; Sunan Nasaai dan Sunanu al-Kubraa, jld. 4, hal. 132. Dalam riwayat ini berbunyi: “Ya Allah, ampunilah orang-orang yang dikuburkan di Baqii’ al-Gharqad.” Gharqad adalah nama pohon yang banyak tumbuh di Baqii’. Karena itu Baqii’ dikenal dengan Baqii’u al-Gharqad. Samhuudi dalam Wafaa-u al-Wafaa’ (jld. 2, hal. 84) berkata: “Ketika ‘Utsmaan bin Mazh’uun dikuburkan di sana, pohon itu dipotong. Dia adalah orang pertama yang dikuburkan di sana. Setelah Ibrahim putra Nabi saww meninggal, Nabi saww memerintahkan untuk dikuburkan di sisi ‘Utsmaan bin Mazh’uun. Karenanya, setelah itu, masyarakat pada menguburkan keluarganya yang meninggal di tempat tersebut: Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 2, hal. 84.

[53] Sunan Ibnu Maajah, jld. 1, hal. 501; Mustadrak Haakim, jld, 1, hal. 531; Akhbaaru Makkati, jld. 2, hal. 53.

[54] Mustadrak Haakim, jld. 1, hal. 531, hadits ke: 1388.

[55] Ibid, hal. 533, hadits ke: 1394; Majma’u al-Zawaa-id, jld. 2, hal. 58.

[56] Sunan Abu Daaud, jld. 3, hal. 216; al-Sunanu al-Kubraa, jld. 4, hal. 127. Telah diriwayatkan dari ‘Ithaaf: “Nabi saww menziarahi pekuburan para syahid yang ada di Uhud.” (Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 2, hal. 932).

[57] Al-Sunanu al-Kubraa, jld. 4, hal. 132.

[58] Mushannif ‘Abdu al-Razzaaq, jld. 3, hal. 572; al-Sunanu al-Kubraa, jld. 4, hal. 131; Mustadrak al-Haakim, jld. 1, hal. 533; Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 2, hal. 932; al-Ghadiir, jld. 5, hal. 167.

[59] Ibid; Syarhu Nahju al-Balaaghah, jld. 15, hal. 40, Ziarah al-Nabii saww pada kuburan syuhada Uhud, setiap tahunnya. Begitu pula ziarah Faathimah as dan Sa’d bin Abi Waqqaash.

[60] Ibid.

[61] Ibid.

[62] Mushannaf ‘Abdu al-Razzaaq, jld. 3, hal. 570.

[63] Sunanu al-Kubraa, jld. 4, hal. 131.

[64] Taariikh Damesyq, jld. 57, hal. 220.

[65] Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 3, hal. 933.

[66] Ibid, hal. 932.

[67] Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 9, hal. 464. Almarhum Ahmadi Miyaanijii dalam kitabnya yang berjudul Tabarruk telah menuliskan hadits di atas lengkap dengan semua sumbernya.

[68] Rihlatu Ibni Jubair, hal. 229; al-Ghadiir, jld. 5, hal. 184.

[69] Taariikh Baghdaad, jld. 12, hal. 241.

[70] Al-Muntazham, jld. 12, hal. 241.

[71] Mustadrak Haakim, jld. 3, hal. 518; Shafwatu al-Shafwah, jld. 1, hal. 470; Rihlatu Ibni Baithuuthah, jld. 1, hal. 187.

[72] Safar Naameh Ibnu Jubair, hal. 1. Muhammad bin Ahmad bin Jubair al-Andaluusii adalah pengelana dunia yang terkenal di akhir-akhir abad ke enam. Ia tiga kali berkelana, dan daerah Timur telah tiga kali dikunjunginya. Salah satu dari perjalanannya dilakukan pada tahun 578 H dan berakhir pada tahun 581 H. Lihat, Wahhabiyyat Mabaanii Fikrii Kaarnaaneh ‘Amalii -menukil dari beberapa ulama- jld. 5, hal. 319.

[73] Diir Sam’aan terletak di daerah sekitaran Damaskus. Lihat, Mu’jamu al-Buldaan, jld. 2, hal. 586.

[74] Taariikhu al-Islaam, hal. 26; Tadzkiratu al-Huffaazh, jld. 1, hal. 121.

[75] Taariikhu al-Islaam, jld. 1, hal. 120; al-Bidaayatu wa al-Nihaayatu, jld. 5, hal. 88.

[76] Syadzaraatu al-Dzahab, jld. 3, hal. 97.

[77] Wafiyaatu al-A’yaan, jld. 4, hal. 165; Tahdziibu al-Tahdziib, jld. 7, hal. 339.

[78] Ibid. Dzahabi berkata tentang Maalik: “Secara meyakinkan ia dikubur di pekuburan Baqii’ (Madinah, Saudi) dan kuburnya menjadi tempat ziarah.” (Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 8, hal. 132).

[79] Mizaanu al-I’tidaal, jld. 1, hal. 114. Khatiib berkata: “Telah dinukil dari Abu al-Farj al-Hindibaaii yang berkata: ‘Aku adalah orang yang suka menziarahi kubur Ahmad bin Hanbal. Setelah itu aku berhenti melakukannya. Suatu malam, dalam tidurku aku bermimpi ada suara yang mengatakan: Mengapa kamu berhenti menziarahinya? (Taariikh Baghdaad, jld. 4, hal. 423.)

[80] Wafiyaatu al-A’yaan, jld. 1, hal. 318.

[81] Taariikh Baghdaad, jld. 1, hal. 123. Catatan: Kebanyakan dari yang kami bawakan di sini sebagai contoh dari tempat-tempat ziarah itu adalah dari bab “debat” (mengajukan dalil yang asas kebenarannya berdasar pada apa-apa yang diterima dan diyakini oleh lawan bicaranya, penj.). Karena itu sebenarnya, kami tidak mengimani kebanyakan dari contoh-contoh tersebut.

[82] Shafwatu al-Shafwati, jld. 2, hal. 413.

[83] Maskan adalah sebuah tempat di dekat Aunaa dan berada di atas sungai Dajiil di pinggiran Diir Jaatsliiq.  Pada tahun 72 H terjadi peperangan antara ‘Abdu al-Malik bin Marwaan dengan Mush’ab bin al-Zubair di tempat itu dimana berakhir dengan terbubuhnya Mush’ab. Kuburnya di sana sangat terkenal. (Mu’jamu al-Buldaan, jld. 5, hal. 127).

[84] Al-Muntazhim, jld. 15, hal. 14. Komentar kami (penulis buku ini): Mana bisa dibandingkan antara langit dan bumi? Apa bisa dibandingkan antara pertumpahan darah muslimin yang diakibatkan oleh ketamakan akan kekuasaan atas Iraq –Mush’ab- dangan Imam Husain as yang berkedudukan sebagai Penghulu Pemuda Surga?

[85] Al-Jawaahiru al-Mudhiiah, jld. 2, hal. 720, hadits ke: 1131. Ibnu Jubair adalah pengelana terkenal. Ia menyebutkan bahwa Qaraafah di Mesir adalah salah satu dari keajaiban dunia. Sesuai dengan pernyataannya, di sana, banyak dikuburkan nabi-nabi dan keluarga mereka serta shahabat-shabat mereka. Sebagian dari mereka adalah: (1) Ruubil bin Ya’quub bin Ishaaq. (2) Aasiah istri Fir’aun. (3) Dua orang dari putra Imam Shadiq as. (4) Qaasim bin Muhammad bin Ja’far al-Shaadiq. (5) Anak Qaasim yang bernama ‘Abdullah. (6) Yahya bin Qaasim. (7) ‘Ali bin ‘Abdullah Qaasim. (8) ‘Iisaa bin ‘Abdullah. Dia banyak sekali menyebutkan kuburan putra-putra Imam Ali as yang berada disana.

[86] Tadzkiratu al-Huffaazh, jld. 3, hal. 780, hadits ke: 772.

[87] Wafiyaatu al-A’yaan, jld. 6, hal. 394; Ansaabu Sam’aanii, jld. 3, hal. 484. Ia berkata: “Aku menziarahi kubur Abu ‘Awwaanah.” (Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 14, hal. 419.).

[88] Ibid.

[89] Al-Bidaayatu wa al-Nihaayatu, jld. 11, hal. 375. Dia adalah penguasa Andaluus menggantikan ayahnya. Dia berperang dengan penguasa Eropa dan melenyapkan sebagian mereka. Akan tetapi karena adanya fitnah di Andalus sendiri, maka ia ditangkap dan kemudian dihukum mati. (Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 19, hal. 63).

[90] Al-Mawaahibu al-Laduniyyatu, jld. 3, hal. 390; Syadzaraatu al-Dzahab, jld. 5, hal. 388.

[91] Al-Mawaahibu al-Laduniyyatu, jld. 3, hal. 396; Syadzaraatu al-Dzahab, jld. 2, hal. 397; Al-‘Ibar, jld. 2, hal. 363.

[92] Thabaqaatu al-Qurraa’, jld. 2, hal. 22.

[93] Nailu al-Ibtihaaj, hal. 62.

[94] Al-Nujuumu al-Zaahiratu, jld. 7, hal. 80.

[95] Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 16, hal. 92 dan jld. 17, hal. 193. Dzahabi menulis bahwa tokoh ulama Hanbaliah yang bernama al-Tamiimii, menziarahi kubur Baaqilaani setiap hari Jum’at.

 

[96] Abu Daawud dalam kitab Sunannya meriwayatkan kelanjutan hadits di atas sebagaimana berikut ini: Wanita itu tidak mengenali Nabi saw., karenanya ia protes kepada beliau dan berkata: “Apa hubunganmu dengan tangisku?” Pada saat itu satu wanita yang ada disamping wanita tersebut berkata kepadanya: “Apakah kamu mengenalnya? Ia adalah Rasulullah saww” Wanita pertama tadi, karena ingin mengurangi salahnya, mendatani rumah Nabi saww dan berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah, maafkanlah aku. Aku tidak menganal Anda.” Rasulullah saww bersabda: “Sabar dalam menghadapi musibah itu adalah baik.”

[97] Irsyaadu al-Saarii, jld. 3, hal. 400.

[98] Ibid.

[99] Wafaa-u al-Wafaa’, jld. 4, hal. 1362.

[100] Shahih Muslim, jld. 3, hal. 65; Sunan Nasaai, jld. 4, hal. 90; Mushannaf ‘Abdu al-Razzaaq, jld. 3, hal. 572; Sunan al-Kubraa, jld. 4, hal. 128.

[101] Maksudnya adalah pengestafetan bibit Nabi saww, itu dari sulbi-sulbi yang bersujud alias beriman kepada Allah, pentj.

[102] Al-Durru al-Mantsuur, jld. 5, hal. 98.

[103] Ibid.

[104] Ibid.

[105] Abu Hurairah berkata, “Ketika Nabi saww menziarahi kubur ibunya, beliau menangis dan orang-orang yang berada di sekitarnyapun ikut menangis.”

Abu Hurairah menjadi muslim setelah perang Khaibar. Dan kira-kira setahun setelah Islamnya itu Nabi saww meninggalkan dunia fana ini. Walaupun perkenalannya dengan Nabi saww paling pendek masanya dibanding shahabat yang lainnya, akan tetapi ia jauh lebih banyak dari shahabat-shahabat lain dalam meriwayatkan hadits (hadits yang langsung dari Nabi saww, penj.). Riwayat dia sendiri saja melebihi semua riwayat yang diriwayatkan oleh Imam Ali as dengan ditambah riwayat-riwayat yang diriwayatkan oleh ketiga khalifah sebelumnya (Abu Bakar, Umar dan Utsman).

Dzahabi dalam kitabnya, jld. 2, hal. 632, berkata, “Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sebanyak 5374 hadits. Sedang semua hadits Shahih Bukhari adalah 7000 hadits. Dan kalau hadits-hadits pengulangannya disisihkan, maka semuanya akan menjadi 3000 – 4000 hadits dimana sepersepuluhnya diriwayatkan melalui Abu Hurairah. Segolongan orang, dianataranya ‘Aisyah, telah mencercanya dengan mengatakan telah membuat hadits-hadits palsu.”

Dzahabi dalam kitabnya , jld. 2, hal. 615, berkata, “Kalau Mu’awiyah memberikan sesuatu kepadanya, maka ia mulai berbicara. Tapi kalau tidak memberikannya sesuatu, ia diam seribu bahasa.”

Ibnu Katsiir dalam kitabnya al-Bidaayah, jld. 8, hal. 114, berkata, Abu Hurairah pernah mendatangi ‘Aisyah. ‘Aisyah berkata kepadanya: “Benarkah kamu menukil banyak sekali hadits dari Nabi saww?” Abu Hurairah menjawab, “Aku bukan orang yang disibukkan dengan cermin, celak dan minyak.” (sindiran untuk ‘Aisyah).

Dzahabi dalam Sairu al-Nubalaa’, jld. 2, berkata, Ketika Imam Hasan as mau dikuburkan di rumah Nabi saww –disamping beliau- terjadi keributan yang dahsyat (karena dilarang oleh ‘Aisyah dan Marwan serta pengikut keduanya, pentj.). Dikatakan bahwa Ibnu Rubaah berkata kepada Marwan, “Kamu bukan gubernur Madinah, apa urusanmu, biarkan saja ia –Imam Hasan as- dikuburkan disini.” Ketika Imam Hasan as sudah mau dikuburkan di sisi Nabi saww, Abu Hurairah berkata kepada Marwan, “Kamu ini ikut campur urusan orang, biarkan saja ia dikubur disini. Kamu melarang penguburan ini karena ingin mendapatkan perhatian dari Mu’aawiyah.” Marwan dengan penuh amarah menjawab Abu Hurairah dengan berkata: “Hai Abu Hurairah, orang-orang berkata bahwa kamu banyak sekali meriwayatkan hadits dari Nabi saww, padahal kamu masuk Islam beberapa hari sebelum wafatnya beliau.” (walhasil, pada akhirnya, Imam Hasan as tidak bisa dikuburkan di sisi kakeknya Rasulullah saww, penj.)

Dalam kitab ‘Aqdu al-Fariid, jld. 1, hal. 46 dan Sairu A’laami al-Nubalaa’, jld. 2, hal. 512, dituliskan, Ketika ‘Umar menurunkan jabatan Abu Hurairah sebagai gubernur Bahrain, ‘Umar berkata kepadanya, “Hai musuh Tuhan dan kitabNya, berani-beraninya kamu mencuri harta Tuhan -baitulmaal?” Kemudian ‘Umar mengambil sepotong kayu dan memukulnya.”

[106] Al-Taaju al-Jaami’ Li al-Ushuul, jld. 1, hal. 382. Agama fitrah dikatakan pada orang-orang yang mengikuti fitrah tauhidnya di masa-masa dimana Allah belum mengirimkan rasulNya dan/atau ajaran beliau belum sampai kepadanya dengan jelas, sementara agama sebelumnya sudah bercampur. Karena itu pendapat ulama mengatakan bahwa orang-orang yang hidup pada masa-masa itu, asal tetap mengikuti fitrah tauhidnya, akan mendapat keselamatan.

[107] Zamakhsyari berkata, Ayat yang berbunyi: “Dan perpindahanmu melalui orang-orang yang bersujud.” menunjukkan kemukminan dan ketauhidan dari ayah-ayah dan ibu-ibu Nabi saww. Seluruh orang-orang tua laki dan perempuan beliau adalah orang-orang yang bersujud –kepada Allah- dan suci –dari kesyirikan. Lihat juga kitab Abu Thaalib dan Keturunannya, karya Sayyid ‘Ali Khaan, hal. 216. Dan kitab Muniyyatu al-Raaghib, hal. 56, karya Almarhum Ayatullah Thabasi.

[108] Al-Miizaan, jld. 15, hal. 367.

[109] Tafsiir al-Kabiir, jld. 24, hal. 173.

[110] Sebagai tambahan terhadap dalil-dalil Syi’ah tentang kesucian –dari syirik- para orang tua Nabi saww dapat dikatakan, Ayat di atas memiliki beberapa makna yang dapat dimungkinkan:

1. Menerangkan tentang apa-apa yang dikerjakan oleh Nabi saww di tengah malam (seperti ibadah atau berkeliling di tengah malam untuk memeriksa kegiatan kaum muslimin).

2. Nabi saww dengan penglihatannya sendiri, dapat melihat orang-orang yang shalat dibelangknya dan memeriksanya. Karena Nabi saww dalam suatu riwayat bersabda: “Sempurnakanlah rukuk dan sujud kalian. Karena aku dapat melihat kalian walau dengan membelakangi.”

[111] Al-Bidaayatu wa al-Nihaaytu, jld. 11, hal. 124.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s